Connect with us

TOKOH

KEN DEDES

Avatar

Published

on

Banyak predikat diberikan kepada Kota Malang, antara lain “Kota Indah, Kota Bunga, Kota Pendidikan, Kota Wisata” dan banyak lagi. Sebagai daerah yang telah meniti perjalanan panjang sejarahnya dan berperan penting bukan saja pada panggung sejarah lokal namun juga di panggung sejarah nasional lintas masa, maka predikat “Kota Bersejarah” kiranya layak juga disematkan padanya. Begitu pula, sebagai sentra peradaban masa lalu hingga masa kini, predikat “Kota Budaya” cukup pula alasan disandang olehnya. Dalam kaitan itu, pertanyaannya “ikon kota seperti apa yang tepat untuk mewadahi beragam predikat itu?”.

Sejauh ini, Tugu di Alon-Alon Bunder dan Ijen Boulevard acap dicuatkan sebagai ikon Kota Malang. Keduanya merupakan ikon fisis, yang berupa landmark kota. Ikon ini telah populer, baik di kalangan warga Kota Malang ataupun warga daerah lain, bahkan pada warga negara manca. Oleh karenanya, kedua landmark ini cukup alasan untuk dijadikan ikon Kota Malang. Orang luar bisa dibilang belum ke Kota Malang apabila belum menyinggahi kompleks Alon-Alon Bunder dan Jalan Besar Ijen, atau belum menyantap bakwan Malang.

Namun terhadap keduanya, perlu dipikirkan makna, keteladanan dan momentum historis apa yang terkandung didalamnya. Oleh karena, suatu ikon tak cukup sekedar memperhitungkan ketenaran, namun perlu pula mempertimbangkan pesan yang disampaikan dan relevansinya dengan predikat-predikat yang disandang oleh Kota Malang. Apakah Tugu Alon-Alon Bunder dan Ijen Boulevard mempresentasikan momentum historis Kota Malang? Apakah keduanya adalah penyampai pesan dan memuat nilai bermakna bagi khalayak yang menyinggahinya? Apakah juga relevan dengan sederet predikat yang disandang Kota Malang?

Tanpa harus menganulir kedua ikon itu, tidak ada kelirunya alternatifkan ikon lain. Yang bukan saja telah dikenal oleh khalayak luas, namun juga memiliki makna, menjadi cermin teladan, menandai momentum historis, memuat pesan positif, dan bisa mewadahi beragam predikat yang disandang oleh Kota Malang. Wujudnya, tidak musti landmark dan berupa fisis arsitektural, namun bisa juga tokoh tertentu, utamanya tokoh sejarah daerah — sesuai dengan predikat Kota Malang sebagai “Kota Bersejarah” dan “Kota Budaya”.

Ken Dedes beserta latar sejarahnya, arca perwujudannya, makna simbolik yang dikandungnya dan pesan yang dapat ditransformasikan daripadanya, sangat mungkin dialternatifkan sebagai Ikon Kota Malang. Wujudnya figuratif dan pesan yang terkadung dalam kepribadiannya demikian humanis. Ken Dedes juga telah dikenal luas. Bukan saja oleh masyarakat Malang Raya, namun juga oleh warga Indonesia, dan bahkan oleh sebagian warga negara manca.

Arca perwujudan (de potrait beelden) Ken Dedes yang bentuk Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi (Prajnaparamita) relevan dengan predikat Kota Malang sebagai “Kota Pelajar” atau “Kota Pendidikan”. Terkait dengan keterdidikan Ken Dedes, susastra Pararaton menggambarkannya sebagai seseorang yang mendapat karma amamadangi, yakni perilaku yang tercerahkan lantaran matang dalam ilmu. Hal itu bisa dimengerti, mengingat bahwa ayahnya (Pu Purwa) adalah seorang rokhaniawan Mahayana Buddhisme (bhujangga budhastapaka) di Mandala Buddhis Panawijyan (kini “Polowijen”, sebuah kelurahan di Kec. Blimbing).

Penggambarannya dalam Pararaton sebagai wanita cantik, yang kecantikannya diibaratkkan mampu mengalahkan keindahan hyang sasadara (rembulan) sesuai dengan predikat “Kota Indah”. Ken Dedes bukan saja cantik secara ragawi (wadag), namun juga elok kepribadinnya (innter beauty). Oleh karenanya cukup alasan untuk mendapat sebutan “stri nareswari (wanita utama)”.

Unsur bunga, tepatnya teratai merah merekah (padma), pada arca perwujudannya hadir dalam bentuk singhasana (asana) serta menjadi salah sebuah atributnya, padamana pustaka ditopangkan di atasnya. Diantara beragam bunga yang tumbuh dan berkembang di Kota Malang, teratai sebagai simbol kesucian dan kebersihan, hadir sebagai bungai yang khas di daerah ini. Oleh karenanya, predikat Kota Malang “Kota Bunga” relavan juga dengan wujud ikonik Ken Dedes. Ken Dedes adalah bunga, yakni “bunga desa” Panawijen yang oleh Pararaton dilukiskan sebagai sangat masyur di kawasan timur Gunung Kawi hingga Tumapel.

Unsur nama “Dedes” secara harafiah berarti musang (luwak), yakni binatang yang mampu menyebarkan aroma harum. Unsur nama “harum (dedes)” ini diberikan kepada Ken Dedes sebagai parameswari dari pendiri atau cikal bakal (vamsakreta) Singhasari, yakni Ken Angrok. Bukan semata harum bau tubuhnya, namun harum pula namanya. Kita sesungguhnya tak mengetahui siapa nama diri (gabhopatinama)nya. Yang kita tahu hanyalah julukannya, yakni “wanita harum (Ken Dedes)”. Bahkan, harum hingga dua periode, yakni pada periode Singhasari maupun Majapahit. Hal itu sangat wajar. Selain sebagai orang terkemuka, yang diindikatori honorifix prefix “ken” – kependekan rakryan, Dedes sekaligus adalah ibu dari sekalian raja. Seakan Dedes adalah “si rahim emas (golden germ)”, dalam arti siapapun yang terlahir darinya, terlepas siapa ayahnya, bakal menjadi raja.

Secara ganeologis Ken Dedes bukan hanya menurunkan raja-raja Tumapel (Singhasari), namun sekaligus para raja di kemaharajaan Majapahit. Oleh karena itu, cukuplah alasan bila Dedes dinyatakan sebagai “ibu sekalian para raja”. Posisi ganeologinya yang demikian seperti diramalkan oleh Dang Hyang Lohgawe dan bobotoh (penjudi) Bango Samparan, ketika diminta Angrok untuk memaknai pertanda khusus yang dimiliknya, yakni “murup rahsya¬ (bersinar kemaluan, wawadi, vulva)”-nya. Menurut keduanya, wanita dengan pertanda demikian memiliki potensi kebesaran. Siapapun yang menikahinya, kelak dia dan anak keturunannya menjadi orang/raja besar. Vulva bersinar (prabharahsya) itu adalah waranugraha dewata akan potensi internal kebesarannya.

Ken Dedes, oleh kerenanya layak untuk dipertimbangakan dan dijadikan “ikon perempuan humanis” dan sekaligus “ikon budaya” Kota Malang, atau lebih luas lagi bagi kawasan Malang Raya.

Kepribadiannya yang menawan, yakni sosok :

  1. wanita utama,
  2. wanita cantik luar-dalam,
  3. wanita dengan perilaku tercerahkan,
  4. wanita berilmu,
  5. wanita berpotensi besar,

tepat kiranya dijadikan teladan oleh warga Malang maupun warga daerah lain.

Paparan simbolik Ken Dedes dalam Pararaton memuat pesan bermakna. Bukan saja bagi warga Masa Hindu-Buddha, namun juga bagi manusia yang hidup pada masa sesudahnya. Nilai-nilai universal yang terkandung dalam diri Ken Dedes seperti keutamaan (nareswari), kecerahan perilaku (karma amamadangi), kecantikan luar-dalam (listu-hayu), keharuman (dedes), keberilmuan (prajnapa-ramita), maupun [potensi] kebesaran (adimutyaning stri) yang dimiliki Ken Dedes bisa ditransformasikan lintas masa, tak terkecuali bagi kehidupan sekarang.

Ken Dedes dengan citra kepribadian sebagaimana itu, bisa dijadikan contoh teladan, orang model, atau panutan. Bukan saja oleh kaum hawa, namun nilai-nilai universal yang terkandung di dalam kepribadiannya tepat pula dimiliki oleh kaum hawa.

Lewat saresehan bertajuk “Bedah Sejarah Ken Dedes” (8 Oktober 2011) dan kirap budaya “Ken Dedes – past end future” (15 Oktober 2011), keteladanan Ken Dedes diperkenalkan, dipahamkan dan ditransformasikan kepada khalayak luas.

Bedah sejarah Ken Dedes diharapkan mampu meluruskan interpretasi keji yang tak berdasar dari kalangan awam, yang memberikan label negatif terhadap Dedes sebagai peselingkuh. Dedes musti didudukkan secara proporsional. Kepribadiannya perlu disingkapkan. Melalui upaya ini diharap khasanah pengetahuan sejarah warga Malang terhadap tokoh sejarah daerahnya kian memadai. Sementara, kelangkaan untuk dapatkan contoh teladan bisa mempertimbangkan Dedes sebagai sang teladan (patuladan) yang relevan dengan karakter sosio-budayanya.

Pada sisi lain, perhelatan budaya ini bisa diisikan ke dalam agenda wisata daerah kategori wisata budaya, sesuai dengan predikat “Kota Wisata, Kota Bersejarah, dan Kota Budaya”. Kelak diharapkan acara menjadi agenda tahunan, yang lebih variatif butir acaranya, lebih luas khalayak sasarannya, dan lebih kontributif manfaatnya. Lebih luas dari itu, rintisan ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi daerah lain agar mengeksplorasi sejarah daerahnya untuk menemukan tokoh sejarah daerah yang layak menjadi contoh teladan bagi warga daerah.

 

Dwi Cahyono

Sengkaling, 04 September 2011

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOKOH

PSIKO-HISTORIS KPRIBADIAN KEN ANGROK

Avatar

Published

on

 

PSIKO-HISTORIS KPRIBADIAN KEN ANGROK :
Studi Kasus Adat Pengasuhan Anak Masa Lampau

Oleh:
M. Dwi Cahyono (Univ. Negeri Malang)

A. P e n g a n t a r

Pelaku sejarah yang hendak ditelisik adalah Ken Angrok. Seorang tokoh sejarah Jawa, yang perjalanan hidupnya oleh Pararaton dikisahkan dengan ‘unik’, yang antara lain ditandai oleh beberapa kali mengalami alih pengasuhan di luar didikan orang tuanya. Angrok tumbuh berkembang di luar lingkungan keluarga batih. Bahkan, bisa dibilang didewasakan di jalanan, sebagai anak jalanan Silih berganti pengasuhan, sejak balita hingga dewasa di luar keluarga, berdampak pada kepribadiannya, yakni menjadi pribadi dengan kepribadian terbelah .

Studi ini dilakukan dengan mengkolaborasikan dua bidang ilmu, yaitu sejarah dan psi-kologi, atau dapat disebut ‘studi psiko-historis’. Oleh karena Sejarah mengkaji tentang peristiwa masa lalu yang mencakup banyak aspek kehidupan, maka tak terelakkan memerlukan ilmu bantu, baik ilmu bantu yang berkenaan dengan sumber-sumber data yang didayagunakan maupun aspek khusus yang dikajinya. Telaah ini fokus kepada aspek kepribadian seseorang, sebagai produk dari proses pendidikannya. Oleh karena itu Psikologi relavan dijadikan ilmu bantu pada tahap analisa data. Konsep dan teori psikologi, khususnya psikologi kepribadian, dipandang sebagai perangkat analisis yang tepatguna untuk itu..

Semoga diperoleh contoh teladan dalam kasus khusus pada sejarah pendidikan Ken Angrok. Baik untuk ditiru atau sebaliknya untuk dihindari bagi penyelenggaraan pendidikan di masa kini. Lebih khusus lagi kajian ini menyuguhkan suatu kisah sukses anak jalanan yang ‘dipaksa’ melewati liku perjalanan hidup yang tak gampang, bahkan tragis, untuk menggapai cita. Hal itu penting untuk diketengahkan, mengingat bahwa subyek didik tanpa terkecuali adalah anak-anak yang kurang beruntung, yang terpaksa menjalani hidupnya sebagai anak jalanan, yang dari tahun ke tahun jumlahnya makin meningkat dan tantangan yang dihadapi semakin sulit. Ke depan para peserta seminar dapat melakukan kajian serupa terhadap tokoh-tokoh sejarah lain, karena secara metodologis tidak terlampau sulit. Dengan demikian maka jejak pendidikan masa lalu bisa diungkapkan, dan selanjutnya dimanfaatkan guna mengemas model pendidikan yang tepat guna dengan sosio-budaya sendiri.

B. Pararaton, Sumber Data Balada Sejarah Angrok

Fenomena anak jalanan (anjal), khususnya mengenai proses pendidikannya, diperoleh contoh kasusnya pada diri Ken Angrok. Pararaton memaparkan dengan rinci etape perjalan-an hidupnya, sejak dari kelahiran hingga kemangkatannya. Dari keseluruhan isinya, hampir separonya mengkisahkan secara ‘cair’ perjanalan hidup Angrok. Oleh karena itu bisa dibilang separo awal darinya sebagian besar menceritakan ‘balada ken Angrok’, ditambah kisah para raja Singhasari penggantinnya secara lebih ringkas. Separoh lainnya, yang memaparkan seca-ra kronikal dalam bentuk informasi ringkas-padat (kort en bundeg) tentang sederet peristiwa menurut urutan tahun kejadian pada masa Majapahit sejak pemerintahan Wijaya hingga tahun Saka 1403 (1481 M).

Menilik gaya penyajian yang berlainan itu, bisa jadi susastra ini adalah bundel berisi dua susastra berbeda, yang masing-masing memiliki judul sendiri. Susastra per-tama yang banyak mengkisahkan perjalanan hidup Angrok mempunyai judul ‘katuturanira ken Angrok (tutur mengenai ken Angrok)’ , sedangkan susastra kedua yang berwujud kronik kejadian yang berlangsung pada masa pemerintahan para raja (ratu) di Majapahit itulah yang sesungguhnya berjudul ‘Pararaton’ .
Walaupun Pararaton hadir dalam bentuk susastra, yang tentu tidak terbebas dari kisah rekaan dan baru disurat ± 250 tahun pasca kehidupan Angrok , namun sejauh telah didapat-kan ia merupakan sumber data terlengkap tentang Angrok. Pararaton sungguh roman sejarah ken Angrok. Sumber data lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama (1365 M.) dan prasasti Mula-Malurung (1255 M.), hanya menginformasikan sekilas perihal dirinya .

Setidaknya, di dalam Pararaton tersirat gambaran sosio-kultural Jawa abad XVI M, manakala susatra ini di-tulis – sebagai literalisasi terhadap tutur (tradisi lisan) mengenai balada Angrok. Jadi, sumber yang digunakan untuk penulisannya adalah tutur, tepatnya tutur sejarah masa Singhasari. Se-bagimana sifat tutur pada umumnya, terdapat bias dari peristiwa yang sesungguhnya (fakta). Bagian yang berupa bias fakta masa lalu itulah yang merupakan ‘kisah rekaan’, yang kehadir-annya memang diperlukan guna menguatkan aspek dramatik susastra. Peristiwa-peristiwa di dalam Pararaton tidak selalu dikisahkan secara lugas, namun acap berbalut mitos dan simbol, dan karenanya diperlukan pemahaman dengan menggunakan ‘pendekatan religis dan analisis simbolik’. Dengan cara ini, bagian yang berupa kisah rekaan itu menjadi bermakna sebagai sumber data sejarah .

Angrok tidak hanya dikisahkan secara mitis sebagai ‘putra’ dari tiga istadewata (dewa utama) dalam Agama Hindu (Trimurti) , namun juga diprofilkan secara humanis sebagai ma-nusia biasa, dengan kelebihan dan kekurangannya. Yang terkadang berperilaku kurang baik (asubhakarma), namun tak jarang pula berperilaku baik (subhakarma). Sifat dan perila-kunya yang demikian itu diberikan alasan oleh Paparaton melalui paparan mengenai proses pendidikannya, yang beberapa kali mengalami ‘alih pengasuhan’. Tidak seluruh pengasuhnya adalah pribadi-pribadi dengan latar belakang baik. Dampak psikologisnya, Angrok terbentuk menjadi pribadi dengan ‘kepribadian terbelah (split personality), sebagai produk dari proses pendidikan yang dijalaninya – seiring pertumbuhan dan perkembangan kejiwanya di jalanan sebagai anak jalanan. Menilik penuturan Pararaton yang demikian, susastra ini tepat dijadi-kan sumber data sejarah guna mengungkap pendidikan informal anak jalanan pada masa lalu.

C. Serangkaian Alih-Asuh dalam Pendidikan Ken Angrok

Tragis telah menimpa Angrok begitu dilahirkan. Ni Ndok yang merasa malu lantaran melahirkan anak diluar hubungan dengan suami resminya, yaitu Gajapara dari Desa Camara, terpaksa bertindak keji dengan membuang orok hasil perkawinan rokhaniahnya dengan Bhat-tara Brahma ke pabajangan (kuburan bayi). Beruntunglah pencuri (wong amaling) bernama Lembong menemukannya secara tidak sengaja, ketika kesasar ke kuburan Desa Pangkur pada malam hari. Tangisan dan pancaran sinar (prabha) dari arah pabajangan menarik perhatian Lembong untuk menelisiknya. Ternyata. orok Angrok itulah muasalnya. Lembong memba-wanya pulang, dan menjadikan sebagai anak angkat. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton yang mengkisahkan perihal hal itu adalah sebagai berikut.

Selanjutnya ada seorang pencuri bernama Lembong tersesat di kuburan anak-anak itu. Melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis. Setelah didekati oleh Lembong, nyatalah yang menyala itu adalah anak yang menangis tadi. Diambil dan dibawa pulang, diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembong lah yang memberitahukan itu, de-ngan menyebut-sebut anak yang didapatinya di kuburan anak-anak, yang tampak ber-nyala pada waktu malam hari. Lalu ken Endok datang kepadanya. Sunguh-sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata ken Endok ‘Kakak Lembong, kiraanya tuan tidak tahu ten-tang anak yang tuan dapat itu. Itu anak saya kakak. Jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: ‘Dewa Brahma bertemu dengan saya. Janganlah tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian per-samaannya’. Lembong beserta keluarga semakin cinta dan senang. Lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habis-lah harta benda ken Endok dan harta benda Lembong. Habis dibuat taruhan oleh ken Angrok (Mardiwarsito, 1965: 48-49).

Inilah alih asuh perdana yang dialami balita Angrok, dari ibu kandungnya ke keluar-ga pencuri. Kepribadian dasar (basic personality) terbentuk manakala seseorang berusia anak anak . Keribadian dasar Angrok dengan demikian terbentuk di lingkungan keluarga pencuri Lembong. Kendati Ken Endok mengetahui penemu banyi yang ia buang, namun pengasuh-annya diserahkan pada Lembong di Desa Camara, lantaran telah menjadikannya anak angkat. Semenjak remaja kecil Angrok telah dilibatkan oleh Lembong dalam pencurian. Kenakalan menghinggapi Angrok pada usia amat muda, yaitu terlibat dalam perjudian. Harta benda ayah angkat dan ibu kandungnya habis dibuat taruhan olehnya. Kenakalannya tak berhenti hingga disitu. Ketika Anrok menjadi penggembala sepasang kerbau milik yang diperatuan di Lebak, binatang ternak yang digembalkannya hilang – tak ada keterangan dalam Pararaton, apakah hilang lantaran dicuri atau dijual olehnya. Padahalah, sepasang kerbau itu dihargai sebanyak delapan ribu oleh pemiliknya. Atas kejadian itu, Angrok dimarahi oleh ken Endok maupun Lembong.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, ken Endok dan Lembong menjalani hidup sebagai budak tanggungan kepada yang dipertuan di Lebak, asalkan Angrok tidak pergi daripadanya. Namun, tak dihiraukan olehnya. Angrok meninggalkan keduanya . Mula-mula mencari perlindungan di Kapundungan. Namun tiada yang menaruh belas kasihan kepadanya. Pada tahap ini, Angrok menjalini hidup menggelandang di jalanan – bisa jadi acapkali berada di arena judi di Karuman, hingga nantinya bertemu dan dijadikan anak angkat oleh penjudi Bango Samparan dari Karuman (kini Dusun Karuman Desa Tlogomas). Seperti kata pepa-tah ‘lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya’, alih asuh selanjutnya berlangsung dari keluarga pencuri (wong amaling) ke keluarga penjudi (bobotoh). Sesuai suara dari langit (angrengö ujar saking akasa), yang didengar ketika berziarah ke tempat keramat Rabut Jalu (kemungkinan kini Gunung Wukir di Batu), Bango Samparan bersua dengan anak dengan ciri-ciri seperti diisyaratkan oleh Hyang. Anak inilah yang menu-rut suara gaib itu bakal membantu lunasi hutangnya atas kekalahannya berjudi dengan bandar judi (malandang) di Karuman. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton sebagai berikut.

Ada seorang penjudi permainan saji berasal dari Karuman bernama Bango Samparan. Kalah bertaruh dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih, tak dapat membayar uang. Bango Samparan pergi dari Karuman, berziarah ke tempat keramat Rabut Jalu. Mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi: ‘Kami mempunyai anak yang akan bisa menyelesaikan hutangmu, ia bernama ken Angrok’. Maka pergi-lah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya berjumpa seorang anak. Dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguh itu ken Angrok. Dibawanya pulang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Ia lalu ke tempat berjudi. Bandar judi ditemui Bango Samparan, dilawan berjudi. Kalah-bandar judi itu, kembali kekalahan Bango Samparan. Memang betul petunjuk Hyang. Bango Samparan pulang, ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan beristri dua orang bersaudara. Genuk Buntu nama istri tuanya, dan Tirtaja nama istri mudanya. Nama anak-anak dari istri muda ialah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya Panji Kunal dan Panji Kanengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. La-ma ia berada di Karuman. Tak bisa sehati dengan semua para Panji itu (Mardiwarsito, 1965: 49-50).

Angrok senantiasa dibawa Bango Samparan ke arena perjudian. Diyakini bahwa ber-kat dialah Bango Samparan mendapatkan kemenangan. Angrok kian piawi dalam berjudi dan memiliki kepekaan dalam ‘gambling’. Kepekaan ini nantinya berguna ketika harus mengam-bil keputusan politik, yang dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menang ataukah kalah. Sayang sekali harmoni antara dirinya [sebagai anak angkat] dan para Panji yang merupakan anak kandung Bango Samparan tidak terwujud. Bisa difahami bahwa terjadi kompetisi antara anak kandung dan anak angkat perebutkan perhatian orang tua. Yang acap terkalahkn adalah anak angkat. Kondisi demikian juga menimpai Angrok, sehingga dia meninggalkan Karuman menuju ke Kapundungan. Di tempat ini ken Angrok bertemu dengan seorang anak gembala bernama tuan Tita – putera tuan Sahaja, kepala desa Segenggeng (kini Desa Segenggeng, di Pakisaji).

Keduanya bersahabat karib, tak pernah berpisah. Angrok tinggal di kediaman tuan Sahaja, yang terbilang keluarga berada di desanya. Pada fase ini Angrok mengalami alih asuh kali ketiga, dan sekaligus memasuki masa pembelajaran yang sesungguhnya, yaitu menjalani srama Brahmacari[n] menurut konsepsi ‘catursrama’ di dalam agama Hindu dan Buddhis . Bersama teman sepergaulannya (tuan Tita), pergilah mereka ke guru Janggan di Sagenggeng. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton mengenai ini adalah sebagai berikut “……………… mereka ingin tahu tentang bentuk huruf-huruf. Pergilah ke seorang guru di Segenggeng, amat ingin menjadi murid, minta diajar susastra. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk huruf-huruf dan penggunaan pengetahuan tentang huruf-huruf hidup dan huruf-huruf mati, semua perubahan huruf, juga daftar tentang sengkalan, perinci-an hari-tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari-enam, hari-lima, hari-tujuh, hari-tiga, hari-dua, hari-sembilan, nama-nama minggu. Ken Angok dan tuan Tita kedua-duanya pandai diajar pengetahuan oleh guru’ (Mardiwarsito, 1965:50).

Selama diterima diantara murid-murid (amarajaka) dari guru Janggan di Sagenggeng, disampaikan sejumlah bahan ajar, antara lain baca-tulis. Angrok dan tuan Tita belajar menge-nai bentuk-bentuk aksara (rupaning aksara), penggunaan huruf vokal dan konsonan (swara-wyanjanasastra), serta perubahan huruf (sawredining aksara). Baca-tulis adalah pengetahuan dasar, hal pertama dan utama yang musti dikuasai siswa. Dengan kemampuan dasar ini orang dapat mempelajari susastra. Tak kalah pentignya pengetahuan tentang petangan (perhitungan waktu). Diantaranya pentarihan dengan candrasangkala atau rupacandra, perhitungan waktu (titi masa) menurut tarih Saka, nama-nama hari menurut kelipatan hari-enam (sadwara), hari-lima (pancawara), hari-tujuh (saptawara), hari-tiga (triwara), hari-dua (dwiwara) dan hari-sembilan (sangawara). Selain itu dipelajari perihal wuku. Hal lain yang ditekankan untuk dipatuhi adalah kedisiplinan.

Ada contoh menarik yang dilakukan oleh guru Janggan untuk membiasakan muridnya agar taat disiplin, yakni memetik buah jambu tepat waktu, bila telah benar-benar masak. Tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambilnya, bila belum masak. Janggang menekankan: ‘jika susah masak jambu itu, petiklah’. Masih terkait dengan buah jambu, guru Janggan mengajarkan pentingnya menjaga dengan baik buah yang dalam proses pematangan. Namun, terkadang muncul keinginan kuat untuk memetiknya meski belum matang. Keingan demikian bertabrakan dengan disiplin yang ditekankan oleh Janggan. Terkait itu,

Pararaton menggambaran keinginan kuat yang tak terpenuhi, sehingga beralih hadir pada kondisi bawah sadar. Gambaran itu terkisah pada diri Angrok, dengan penceritaan sebagai berikut. Ken Angrok sangat ingin melihat buah jambu itu, sangat dikenang-kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba, waktu orang tidur sedang nyenyak-nyenyaknya, ken Angrok pun tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun-ubun ken Angrok, berbondong-bondong tak ada putusnya, semalam-malaman makan buah jambu sang guru. …………. Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambu dan dijaga semalam-an. Ken Angrok tidur lagi diatas balai-balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru meli-hat kelelawar penuh sesak berbondong-bondong keluar dari ubun-ubun ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru…….. (Mardiwarsito, 1965:50). Secara simbolik, kelelawar yang berbondong keluar dari ubun-ubun Angrok menggambarkan keinginan kuat, yang hadir kala orang dalam kondisi bawah sadar, sewaktu tidur. Keinginan berasal dari fikiran. Oleh karenanya, kelelawar itu digambarkan keluar dari ubun-ubun.

Dasar Angrok berkepribadian terbelah. Baru saja menamatkan pembelajarannya pada guru Janggan, kembali ia terlibat kenakalan. Bahkan kali ini berwujud tindak kejahatan. Ber-sama tuan Tita, ia telah berusia dewasa awal mendirikan pondok di ladang Sanja, di sebelah timur Sagenggeng. Semula keduanya menjadi gembala, kemudian alih profesi menjadi begal. Mereka menghadang pelintas jalan. Bukan hanya merampok, namun Anrok juga melakukan perkosaan. Ada gadis cantik, anak penyadap enau, ikut pergi ke dalam hutan Kapundungan. Dia disergap dan disenggamai di hutan (asanggama ring halas) Adiyuga. Makin lama makin rusuh perbuatan Angrok. Kejahatannya diberitahukan hingga ke negara Daha. Penguasa dae-rah pendudukan, yakni akuwu Tunggul Ametung, diperintahkan untuk melenyapkannya.

Untuk menghindari penangkapan, Angrok meninggalkan Sagenggeng menuju Rabut Gorontol, lantas ke Wajang, dan selanjutnya ke Ladang Sukamanggala. Di tempat ini Angrok merampas barang (anawala) pemikat burung pitpit. Kemudian menuju ke Rabut Katu (kini Bukit Katu di Wagir). Wilayah pelariannya hingga memasuki Jun-watu (kini Dusun Junwatu Desa Junrejo di Kota Batu). Untuk waktu lama tinggallah Angrok di Lulumbang. Di tempat ini Angrok kembali melakukan perampasan barang terhadap pelintas jalan. Selanjutnya pergi ke Kapundungan dan melakukan pencurian gagal di Pamalanten. Lepas dari kepungan warga, Angrok menuju ke seberang timur sungai hingga di Nagamangsa. Menghindari kejaran war-ga, Angrok lari ke Oran. Oleh karena terus dikejar dan diburu, maka mengungsi Angrok ke Kapundungan dan seterusnya bersembunyi di hutan Patangtangan, lantas ke Ano dan hutan Terwag. Kerusuhan yang ditimbulkannya makin menjadi. Lantaran kelaparan, beberapa kali Angrok mencuri nasi yang dikirim kepala lingkungan daerah Luki untuk penggembala lembunya. Seperginya dari Luki, Angrok kembali ke Lulumbang, selanjutnya ke Banjar Kocapet. Demikianlah tualang panjang Angrok, ketika malang melintang meniti dunia kejahatan.

Bertolak belakang dengan fase sebelumnya, yang ditandai oleh perbuatan baik dalam bentuk pembelajaran (brahmacarin), pada fase ini Angrok terlibat dalam serangkaian tindak kejahatan, seperti pencurian, pembegalan dan perkosaan. Angrok menjadi bromocorah, yang membuat onar dan rusuh di Malang Raya bagian selatan, timur dan barat. Tindakannya bukan saja meresahkan, menimbulkan rasa takut dan menelan korban pihak lain, tapi juga mengan-cam keselamatannya sendiri. Pemerintah kerajaan Pangjalu (Daha) terpicu untuk menetapkan Angrok sebagai TO (Target Operasi). Tunggul Ametung sebagai pejabat Kadiri/Pangjalu pa-da daerah pendudukan di kawasan timur G. Kawi diperintahkan untuk menangkap, bahkan melenyapkannya. Beberapakali Angrok nyaris tertangkap. Seperti ketika ketahuan mencuri di Kapalandangan dan Luki. Namun keberuntungan menyertai dirinya. Pertolongan dewata, ke-cerdikan untuk lolos dari kejaran warga dalam kasus pencurian di Pamalanten , perlindungan yang dipertuan di Kapundungan dengan siasat ‘mengaku anak’ ketika nyaris ketahuan dalam pengungsiannya , serta belas kasih kepala lingkungan di Luki pada Angrok yang menderita kelaparan merupakan faktor internal dan eksternal atas keselamatannya.

Dalam waktu singkat Angrok dirumorkan sebagai begal yang garang. Pada fase ini, Angrok berlatih dan belajar menjadi penjahat tangguh. Pengalaman, kemampuan dan penga-ruhnya memposisikan dirinya sebagai pimpinan para begal (benggol). Walau acap bertindak kejam, namun uniknya ketika menjumpai kepala lingkungan (mandaleng) dari Turiantapada bernama Pu Palot yang ketakutan lantaran khawatir kemalaman ketika melintasi hutan belan-tara dan kepergok pembegal, dengan tulus ken Angrok menawarkan jasa untuk mengantarnya pulang. Tanpa terlebih dulu bertanya siapa gerangan yang tawarkan jasa baik itu, spontan Pu Palot yang ketika itu pulang dari Kebalon (kini Dusun Kebalon Desa Cemorokandang) menu-ju Turyantapada dengan membawa bahan emas seberat lima tahil pun menerima tawarannya. Setibanya di rumah barulah ditanyakan jatidiri orang yang mengantarnya pulang, dan dijawab oleh pengantar bahwa dialah ken Angrok. Atas jasa baiknya itu, maka Angrok dijadikan anak angkat. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton perihal ini sebagai berikut.

Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada bernama mpu Palot. Ia seorang tukang emas yang baru berguru kepada tetua (buyut) di Kebalon, yang seakan sudah berbadan kepandaian membuat barang-barang emas dengan sesempurna-sempurnya ………. Mpu Palot pulang dari Kebalon membawa bahan emas seberat lima tahil, ber-henti di Desa Lulumbang , takut pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang yang kabarkan melakukan perampasan paksa (anawala) di jalan bernama ken Angrok. Mpu Palot tak melihat orang lain, ia berjumpa dengan ken Angrok di tempatnya beris-tirahat. Kata ken Angrok pada mpu Palot: ‘Wahai akan pergi kemanakah tuanku ini’. Kata mpu menjawabnya: ‘saya sedang bepergian dari Kebalon buyung, akan pulang ke Turyantapada. Saya takut di jalan, memikir-pikir ada orang yang melakukan pe-rampasan barang di jalan bernama ken Angrok’. Tersenyumlah ken Angrok. Kata ken Angrok ‘Nah tuan, anaknda ini akan mengantarkan tuan pulang. Anaknda nanti yang akan melawan bila sampai terjadi perjumpaan dengan orang bernama ken Angrok itu. Laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan kawatir’ (Mardiwarsito, 1965).

Mpu Palot merasa berhutang budi pada Angrok. Setiba di Turyantapada, Angrok dia-jari ilmu kepandaian membuat barang-barang emas. Lekas pandailah Angrok, tak kalah mahir dengan dirinya. Angrok diaku anak oleh mpu Palot. Itulah sebabnya, maka asrama (srama) Turyantapada dinamai ‘daerah Bapa’. Begitu pula, Angrok mengaku ayah kepada mpu Palot. Karena masih ada kekuarang pada diri mpu Palot dalam membuat barang-barang emas, maka Angrok disuruh untuk menyempurnakan kepadaiannya pada buyut di Kebalon. Pada fase ini, Angrok kembali menjalani alih asuh. Pengasuhnya adalah ayah angkatnya di Turyantapada, yang berprofesi perajin emas. Daripadanya Angrok mendapat ketrampilan dasar pembuatan kriya emas. Ajar trampil ini tidak berhenti pada diri mpu Palot, namun dibutuhkan pelatihan lanjut dengan menyempurnakannya kepada ahlinya, yaitu buyut di Kebalon.

Mula-mula warga Kebalon tidak menaruh kepercayaan kepada Angrok. Stigma ‘orang berperilaku hitam’ memicu resistensi terhadap dirinya. Angrok marah padanya, melontarkan sumpah serapah, bahkan menikam seseorang dan kemudian lari menuju buyut Kebalon untuk mencari perlindungan. Kendati demikian, para pertapa, guru-hyang hingga para punta tidak bisa menerima perbutannya. Mereka semua keluar, membawa pukul dari perunggu, bersama-sama mengejar dan memukuli Angrok untuk membunuhnya. Dalam keadaan terjepit, kembali hadir pertolongan dewa. Terdengar suara dari angkasa: ‘Jangan kamu bunuh orang itu wahai para pertapa. Anak itu adalah anakku. Masih jauh tugasnya di alam tengah ini’. Demi mende-ngar suara gaib itu, ditolonglah Angrok, bangun seperti sedia kala. Setelah menyempurnakan ketrampilannya Angrok meninggalkan Kebalon menuju ke lingkungan Bapa di Turyantapada. Sempurnalah kepandaian Angrok dalam membuat barang-barang dari emas.
Tidaklah gampang menghapus black label yang dilekatkan pada diri seseorang. Keha-diran Angrok di Tugaran (kini Dusun Tegaron Desa Lesanpuro) tidak mendapat sambutan.

Pararaton menuturkan ‘…… Buyut di Tugaran tidak menaruh belas kasihan’ Menaggapi sikap demikian, Angrok yang temperamental mengekspresikan kemarahannya. Diganggulah orang Tugaran oleh Angrok. Arca penjaga pintu gerbangnya (gopala) didukung, lalu diletakkan di lingkungan Bapa. Anak gadis buyut Tugaran disenggamai di ladang kacang. Anehnya, justru lantaran itu benih kacang Tugaran mengkilat, besar dan gurih. Mendapat penolakan disini, Angrok kembali ke lingkungan Bapa. Tak berapa lama datanglah utusan kerajaan Daha untuk memburu, menangkap dan melenyapkannya. Bagi kerajaan Daha, Angrok diposisikan peru-suh, yang dijadikan TO. Bergegas Angrok meninggalkan Turyantapada menuju G. Pustaka, lalu ke Limbehan. Kepala Desa Limbehan menaruh belas kasih dan perlindungan kepadanya..

Akhirnya Angrok mengadakan ziarah ke tempat keramat rabut Gunung Panitikan. Di tempat inilah dipertoleh petunjuk dewata untuk pergi ziarah ke rabut gunung Lejar pada hari Rebo Wage wuku Wariga, tempat-waktu ketika para dewa bermusyawarah untuk menentukan pemimpin yang mampu mengukuhkan Nusa Jawa. Tendengar suara tujuh nada dan dirasakan guntur, petir, gempa, taufan maupun hujan yang bukan pada musimnya. Tidak henti-hentinya pancaran sinar dan dentum gemuruh. Menjawab pertanyaan para dewa mengenai siapa yang pantas menjadi raja di Jawa, Dewa Siwa menyatakan: ‘Ketahuilah dewa-dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang bakal perkokoh Tanah Jawa’. Pada pantauan dalam persembuyiannya, Angrok mendengar dan melihat kesepakatan para dewa bahwa orang yang dimaksud adalah dirinya. Pada tempat ini pulalah Angrok men-dapatkan petunjuk untuk ‘mengaku ayah kepada seorang brahamana bernama Dang Hyang Lohgawe, yang baru datang dari Jambudwipa (India) dengan mengendarai tiga batang rumput kekatang ke Taloka (kini Desa Talok di Turen)’.

Kedatangan Lohgawe adalah untuk mencari ken Angrok, dengan ciri fisiografis: pan-jang tangannya melampaui lutut, tangan kanan bergambarkan cakra dan yang kiri bergambar sangka. Gambaran demikian telihat oleh Lohgawe ketika bersamadi untuk memuja penjelma-an (awatara) Wisnu. Dalam samadimya diperoleh petunjuk: ‘….. hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tidak ada di sini, aku telah menjelma pada orang di Jawa , hendaknya kamu mengikuti aku, nama saya ken Angrok. Carilah aku di tempat perjudian’. Tak lama kemudian Angrok didapati pada arena judi di Taloka, dengan ciri khusus sebagaimana itu. Dipeluklah Angrok oleh Lohgawe, seraya berkata: ‘… kamu saya aku anak buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh kemana saja kamu pergi (…. isunaku anak sira kaki, isun rowang duk anastapa, isun wong saparanira)’.

Alih asuh yang kelak mengubah haluan hidup Angrok terjadi ketika berjumpa dengan Lohgawe. Rokhaniawan Hindu sekte Waisnawa asal Jambudwipa ini bukan hanya menjadi ayah angkatnya, namun sekaligus adalah pengasuh kemana saja Angrok pergi; guru dalam bidang kerokhanian, politik dan pemerintahan; serta mediator yang mampu menjembatani ken Angrok dan Tunggul Ametung. Sebagai rokhawinawan asing yang dihormati, Lohgawe pu-nya wibawa dan pengaruh untuk dapat memagangkan Angrok dalam birokrasi pemerintahan di Tumapel. Padahal sebelumnya, Angrok adalah ‘biang kerok kerusuhan’, yang menjadi TO kerajaan Kadiri. Pararaton menuturkan peristiwa ini sebagai berikut.

Ken Angrok pergi dari Taloka menuju ke Tumapel. Ikut pula brahama itu. Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba kepada akuwu, kepala daerah di Tumapel, yang bernama Tunggul Ametung. Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba-hambanya. Kata Tunggul Ametung: ‘Selamatlah tuan brahmana, dimana tinggal asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan’. Menjawab dang hyang Lohgawe: ‘Tuan sang akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saya ini sa-ngat ingin menghamba kepada sang akuwu dan anak pungut saya ini juga ingin meng-hamba kepada sang akuwu’. Menjawablah Tunggul Ametung: ‘Nah, senanglah saya kalau tuan dang hyang dapat bertempat tinggal dengan tentram pada anaknda ini …….. (Mardiwarsito, 1965:56).

Angrok berkesempatan pelajari bidang khusus, yang belum diperoleh pada tualang terdahulu. Bekal ini kelak berguna ketika melakukan suksesi pemerintahan dan membebaskan wilayah Jenggala di timur G. Kawi dari pendudukan Panjalu/ Kadiri – yang menurut prasasti Hantang (1135 M) sejak paro pertama abad XII M. menjadi daerah pendudukan Pangjalu. Sasaran bidik pertama adalah akuwu Tunggul Ametung, pejabat Pangjalu di daerah pendudukan.

Kendati pada kali pertama posisi Angrok hanya sebagai prajurit bhayangkari, namun kesempatan ini benar-benar dimanfaatkannya dengan mencermati celah peluang untuk meniti jenjang politik. Diam-diam Angrok menghimpun kekuatan dari berbagai latar, khususnya de-ngan yang memiliki jalin hubungan dengannya dalam petualangannya terdahulu , antara lain para penjudi, perampok, pencuri, perajin, rokhaniawan serta oposan di kantong-kantong per-lawanan Jenggala. Secara internal. Angrok menanamkan pengaruh pada punggawa Tumapel, yang berpotensi untuk diajakserta menumbangkan akuwu Tunggulametung. Biaya politiknya memanglah mahal. Sejumlah nyawa melayang, seperti pandai senjata handal mpu Gandring, pejabat birokrasi Kbo Hijo, akuwu Tunggulametung, bahkan akhirnya dirinya sendiri.

D. Introspeksi Historis Pengasuhan Ken Angrok

Secara harafiah kata ‘asuh’ berarti: menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, atau membimbing (membantu, melatih, dsb) agar dapat berdiri sendiri. Kata jadian ‘pengasuhan’ menujuk kepada proses, cara, perbuatan mengasuh (KBBI, 2002:73). Di dalam bahasa Jawa Kuna, kata ‘wong’ juga diartikan pembantu, yang bersinonim dengan among, winong ataupun amwang (Zoetmulder, 1995:1458). Pengasuhan anak adalah suatu proses, cara atau perbuatan mengasuh anak. Dalam arti luas, pengasuhan tidak hanya terbatas kepada anak kecil, namun bisa juga kepada remaja, bahkan dewasa. Begitu pula, pengasuh tidak senantiasa orang tua kandung, namun bisa siapa saja yang secara intens bertindak nyata mengasuh seseorang atau sekelompok orang. Dalam hal tertentu, orang tua kandung bisa kurang intens, bahkan abai, mengasuh anak. Pengasuhan dialihkan pada pihak lain, sehingga muncul sebutan ‘alih asuh’, seperti pengasuhan oleh anggota keluarga batih, pembatu rumahtangga (pawongan), lembaga pengasuhan dsb. Ketika usia anak makin bertambah, sebagian pengasuhan dilaksanakan oleh lembaga pendidikan, baik pendidikan formal, non-formal ataupun informal.

Dalam sosio-budaya Jawa ada berbagai pihak yang bertindak sebagai pengasuh, meski ia bukan orang tua kandung, seperti juru dyah, emban, pawongan, inang, induk semang, punokawan, kadeyan, dsb. Ada beragam bentuk dan cara pengasuhan. Selain pendidikan ber-asrama (wanasrama, mandala kadewagurwan, karsyan atau mondok), terdapat juga model pendidikan/ pembelajaran among (momong), magang (nyantrik), mengabdi (ngenger, nyuwi-to), menjalani-merasakan-memaknai (laku), dsb. Pendikan dalam arti luas meliputi asah, asih dan asuh . Masa belajar tidak terbatas pada usia muda, namun setidaknya dilakukan dalam dua diantara empat tahap kehidupan (catursrama), yaitu srama bramacarin dan wanapras-ta . Dengan perkataan lain, konsepsi ‘long life education’ sesunggunya telah berlaku dalam pendidikan tradisional di Jawa sejak lama, dan dalam sejumlah hal berlanjut hingga kini.

Dalam bentuk yang lebih ekstrim negatif, kadang orang tua melepaskan pengasuhan untuk anaknya. Pada kasus pembuangan anak, orang tua ‘putus pengasuhan’ terhadap anak kandungnya sendiri. Ken Angrok adalah salah seorang yang menjadi ‘korban kekejian’ orang tuanya. Begitu lahir, ia dibuang oleh ibu kandungnya (ken Ndok) ke pabajangan. Pengasuhan terhadap anak terbuang tergantung pada siapa yang menemukannya dalam kondisi hidup. Tak jarang ia harus menjalani hidup sebagai anak jalanan. Hidup sebagai anak jalanan tentu bukan pilihan, melainkan kondisi keterpaksaan. Peristiwa pembuangan bayi, yang pada dasawarsa terakhir marak terjadi, tidak terkecuali didapati contoh kasusnya pada diri Angrok. Beberapa kali Angrok mengalami alih asuh, bahkan menggelandang sebagai anak jalanan. Ken Angrok menperoleh materi asuh, cara pengasuhan, lingkungan pengasuhan dan maksud asuhan yang bukan saja beraneka namun terkadang bertolak belakang. Pada beberapa fase terjadi alih asuh yang salah salah asuh pada dirinya. Dampak psikologisnya, Angrok tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan kepribadian terbelah . Rincian ringkas alih asuh itu sebagai beriku.

Pertama, alih asuh dari ibu kandung (ken Endok) yang tinggal di Pangkur ke keluarga pencuri Lembong yang tinggal di tetangga desanya di Camara. Angrok dijadikan anak angkat oleh keluaga Lembong s.d. remaja kecil (seusia anak gembala). Walau masih remaja kecil Angrok telah dilibatkan dalam tindak pencurian, dan mulai terlibat dalam perjudian yang menguras harta benda ibu kandung maupun orang tua angkatnya. Untuk beberapa lama, ken Angrok yang meninggalkan rumah (broken home) keluarga Lembong dan menjalani hidup sebagai anak jalanan, hingga akhirnya bertemu dengan Bango Samparan pada arena judi di Karuman.

Kedua, alih asuh dari pencuri Lembong ke penjudi Bango Samparan di Karuman, tak jauh dari rumah tinggal ken Endok maupun Bango Samparan. Angrok dijadikan anak angkat oleh Bango Samparan bersama isti tuanya (Genuk Buntu). Terjadi disharmoni antara Angrok dengan anak-anak kandung Bango Samparan. Dalam usia remaja kecil, Angrok terbiasa dibawa Bango Samparan ke arena judi. Angrok meninggalkan keluarga Bango Samparan, dan kembali hidup di jalanan hing-ga akhirnya bertemu tuan Tita (putera tuan Sahaja, kepala desa Segenggeng). Sempat tinggal di kediaman tuan Sahaja sampai tiba masa pembelajaran pada Guru Janggan di Sagenggeng.

Ketiga, alih asuh dan sekaligus masa pembelajaran (srama Brahmacari) kepada guru Janggan. Bersama tuan Tita, Angrok belajar baca-tulis, susastra, pengitungan waktu dan kedisiplinan. Berlangsung dari remaja kecil hingga dewasa awal.

Keempat, pembelajaran bersama teman sepergaulan. Mula-mula Angrok dan tuan Tita menjadi gembala ternak, kemudian alih profesi yang menjurus pada tindak kejahatan. Angrok terlibat petualangan panjang sebagai bromocorah, dan melakukan pembegal-an, pencurian, perkosaan dan perjudian. Angrok menjadi TO untuk ditangkap bahkan dilenyapkan lantaran kerusuhan yang dilakukan, sehingga terpaksa berpindah-pindah tempat untuk selamatkan diri.

Kelima, dijadikan anak angkat mpu Palot di Turyantapada. Memperoleh pelatihan ke-trampilan dasar pembuatan barang-barang emas, lantas menyempurnakan keahliannya pada buyut di Kebalon.

Keenam, menjadi anak angkat dan sekaligus anak asuh dari brahmana Lohgawe. Da-rinya Angrok mendapat pendidikan rokhani, politik dan pemerintahan. Bagi Angrok, Lohgawe bukan hanya ayah angkat, namun sekaligus teman di dalam duka, pengasuh, konsultan dan mediator antara dirinya dengan Tunggul Ametung.

Ketujuh, pembelajaran di lingkungan birokrasi pemerintahan Tumapel. Angrok meng-awali karir sebagai prajurit bhayangkari. Selain bidang kemiliteran, ada pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang didapatkan dalam pembelajaran ini, yang belum di-perolehnya pada tualangnya terdahulu, utamanya bidang pemerintahan dan politik.

Ibarat kertas putih – sebagaimana digagas John Locke dalam teorinya ‘Tabularasa’ , pengalaman yang diperoleh Angrok dari masing-masing fase pengasuhan diatas dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya berpengaruh terhadap kepribadian, perilaku sosial, etika sosial dan kecerdasannya. Setidaknya Angrok mengalami tujuh kali alih asuh, sejak balita hing-ga penobatannya menjadi raja Tumapel. Tiap etape pengasuhan melibatkan pengasuh, materi asuh, cara pengasuhan maupun produk asuhan yang berlainan. Oleh sebab itu dapat difahami bila kepribadian Angrok – sebagai buah dari proses pendidikan dalam serangkaian alih asuh itu – menjadi tidak tunggal warna (monochrome) namun ragam warna (poly-chrome). Potret kepribadian demikian adalah gambaran yang humanistik untuk seorang manusia, sehingga kita tak bisa mengatakan Angrok sebagai orang yang ‘hitam-tam’, namun bukan pula ‘putih-tih’.Hitam-putih mewarnai kepribadiannya sebagai manusia biasa, yang memiliki kelebihan dan kekuarangan, kebaikan dan keburukan.

Pararaton tak menggambarkan Angrok sebagai seseorang yang haus kekuasaan, yang menghalalkan apappun cara untuk mencapai cita serta tanpa tahu balas budi. Terhadap orang-orang yang ‘dijadikan korban’ seperti Pu Gandring dan Kbo Hijo maupun yang berjasa dalam perjalanan hidupnya seperti Bango Samparan dan Lohgawe, Angrok mengangkat dirinya atau sanak keturunannya sebagai punggawa di kedaton Tumapel serta anugerahkan hak istimewa dengan mengubah satus desanya dari desa biasa menjadi sima (perdikan) dan disertai dengan pembangunan tempat peribadatan. Ada kebijakan dan kebajikan di dalam dirinya. Pararaton menyatakan bahwa Angrok berjanji untuk kelak membalas budi ketika mendapat sukses, dan benar-benar memenuhi janjinya setelah sukses itu didapat, seperti pada kutipan teks berikut.

● …. katanya (Angrok): ‘Aku mengharap, semoga aku menjadi orang, aku akan mem-balas budi kepada Guru [Janggan] ….’.
● …….. Kata ken Angrok: ‘Kalau kelak saya menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini’.
● …. ia (dang hyang Lohgawe) diangkat menjadi pendeta istana.

Adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, se-mua dipanggil, diberi perlindungan serta diberi balasan atas budi jasanya. Misalnya, Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala desa lingkungan Turyantapada dan anak-anak pandai besi di Lululmbang yang bernama mpu Gandring. Seratus pan-dai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa dan dibebaskan dari kewajiban dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya. Adapun anak Kbo Hijo, disamakan haknya dengan anak mpu Gandring. Anak laki-laki dang hyang Lohgawe bernama Wangbang Sadang, yang terlahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dinikahkan dengan anak bapa Bango Samparan yang bernama Cucu Puranti. Demikianlah inti keutamaan sang Amurwabhumi.

E. P e n u t u p (Prospeksi Historis)

Kisah Angrok dalam Pararaton merupakan referensi masa lalu tentang ‘cerita sukses seorang yang tumbuh besar di jalan (baca ‘anak jalanan’)’ . Walau perjalan hidupnya sering menyerempet bahaya, bahkan terlibat sejumlah tindak kejahatan – sebagai konsekuensi logis kehidupan jalanan, namun berkat ketekunan dalam belajar, keuletan dalam berusaha, kecer-dikan dalam memecahkan persoalan, kecermatan menangkap peluang maupun kepiawiannya di dalam menjalin dan memelihara hubungan, akhirnya Angrok mampu pemposisikan dirinya sebagai mula dinasti (vamsakreta) dari Rajasavamsa di kerajaan Tumapel, dan sekaligus seorang integrator bhumi Jawa dengan me-reintegrasi-kan eks wilayah kerajaan Panjalu-Jenggala (Cahyono, 2006: 4-10). Sudah barang tentu, uluran tangan Illahi (Dewata) adalah juga faktor penentu. Dalam beberapa kali kejadian, tatkala Angrok dalam kondisi tertepet dan nyaris ke-lihalangan daya, seperti pada pengepungan di Pamalanten dan pengeroyokan di Kebalon, lagi lagi uluran ‘tangan Dewata’ menjadi penyelamatnya. Angrok disosokkan secara kontroversial dalam Pararaton. Kendati ia putera Bhahama maupun Siwa, dan sekaligus awatara Wisnu, namun perjalanan hidupnya tidaklah mulus, dibutuhkan perjuangan hidup disertai keuletan, ketekunan, kecermatan, semangat bekerja keras dan keketahanan diri.

Tentu tidak semua anak jalanan seberuntung Angrok. Proses pendidikan anak jalanan [sebagaimana dilakoni Angrok], acapkali berlangsung tanpa rencana. Tergantung pada siapa dia berjumpa orang yang berkenan menjadikannya anak angkat, setidaknya bersedia menjadi pengasuh, pendidik informal, teman sepembelajaran, dsb. Sebagai subyek belajar, ia dituntut untuk lebih aktif dan selektif dalam: (a) mendapatkan sendiri bahan ajar, bahkan pengajarnya; (b) menyerap pengetahuan, ketrampilan, kiat dan nilai-nilai. Jadi, bukan sekedar mengharap kucuran dari pihak lain, melainkan aktif mencari dan menyongsong kesempatan belajar bagi dirinya. Sebagai pendidik, semestinya guru tak hanya berkutat di lingkungan pendidikan for-mal tempatnya bekerja, namun juga mengkontribusikan fungsi dirinya bagi orang-orang yang kurang beruntung sebagaimana ‘anak jalanan’ itu, untuk dapat memperoleh pendidikan layak.

Semoga tulisan ini membuah kegunaan.
Viva Historia.

Sengkaling, 29 September 2016

DAFTAR PUSTAKA

Berg, C.C, 1951, ‘De Evolutie der Javaanse Geschiedscrijving’, MKWAL, XIV (2), hal. 5-26.

Brandes, J.L.A, 1896, ‘Pararaton of het boek der koningen van Tumapel en van Majapahit uitgegeven en toegelicht’, dalam VBG XLIX, 1896

Cahyono, M. Dwi, 2002, ‘Ken Angrok Pemersatu Bhumi Jawa’, Modul Sekolah Demokrasi. Malang: Averoes Community.

Cahyono, M. Dwi, 2013, Wanwacarita, Kesejarahan Desa-desa Kuno di Kota Malang. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kota Malang.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2002, Pemimpin Redaksi: Hasan Almwi. Jakarta: Balai Pustaka.

Sedyawati, Edi, 1985, ‘Pengaruh India pada Kesenian Jawa: Suatu Tinjauan Proses Akultura si’, Pengaruh India, Islam dan Barat dalam Proses Pembentukan Kebudayaan Jawa. Editor: Soedarsono. Javanologi, Dirjen Kebudayaan Depdikbud. Hal. 1-12.

Sejarah Nasional Indonesia (SNI), Jilid II, 2010, Ketua Tim Redaksi: Bambang Soebadio. Jakarta: Balai Pustaka

Subadio, Haryati, 1982/1983, ‘Seniman dan Seni di Indonesia’, Analisis Kebudayaan Th. II No. 2, 1982/1983. Hal. 5-9.
Mardiwarsito, 1965, Pararaton (Teks dan Terdjemahan). Jogdjakarta: Prapantja.

Mulyana, Slamet, 2006, Tafsir Serah Negara Kretagama. Yogyakarta: LKiS.

Teeuw, A, 1988, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya dan Girimukti Pusaka.

Zoetmulder, P.J., 1995, Kamus Jawa Kuna – Indonesia. Penterjemah: Darusuprapto dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Continue Reading

TOKOH

SANG MAESTRO PENAPUK

Avatar

Published

on

Inmemoriam

 

SANG MAESTRO PENAPUK DI PADEPOKAN WAYANG TOPENG GLAGAHDOWO

Ibarat permainan sepak.bola, terdapat “trio penapuk (pemain wayang topeng)” yang hingga tahun1990~an dan awal 2000~an menjadi “penjaga gawang terakhir” Padepokan Wayang Topeng.tua Malang gagrak ‘Semeru-Tengger’ di Desa Glagahdowo Kecamatan Tumpang, yakni seniman rakyat pedesaan almarhum mbah: (1) Gimun, (2) Rasimun, dan (3) Jakimin. Konon mbah Jakimin piawi dalam melakonkan tokoh peran travesti. (more…)

Continue Reading

TOKOH

CITRA DIRI KUSUMAWARDDHANI

Avatar

Published

on

PENGGAL SEJARAH PARA RAJA

Sejarah sebagai “kisah para pembesar masa lampau” menjadikan historiografi dipenuhi oleh deret panjang kisah para raja, keluarga istana dan para pembesar kerajaan. Mereka ditampilkan sebagai aktor-aktor utama di panggung Sejarah Nusantara Lama. Prasasti, susastra kuno, arca perwujudan, penddharman, dsb tak terelakkan menjadi “media rekam’ kehidupan lingkungan dalam keraton. Kisah sejarah “luar keraton”, kalaupun ada, tak sebanyak “sejarah dalam keraton”.

Prasasti sebagai maklumat resmi (charter) kerajaan jelas bersifat “istana sentris”. Begitu pula halnya dengan sebagian besar susastra kuno. Misalnya, sesuai dengan namanya, yakni “Pararaton — para-ratu-an”, didalamnya memuat banyak hal mengenai raja-raja di kerajaan Singhasari dan Majapahit. Demikian pula kakawin Nagarakretagama, yang hadir menyerupai sebuah reportase sejarah kepemerintahan semasa Hayam Wuruk. Adapun penddharman adalah bangunan suci, padamana arwah raja atau pejabat tinggi kerajaan dipuja dengan media puja-luar (arcana) yang berupa arca perwujudan.

Oleh karena itu, bisa difahami bila “catatan” sejarah para elit tersedia cukup berlimpah di dalamnya. Sementara data sejarah kerakyatan musti dikais dari siratan-siratan berita dalam beragam sumber informasi masa lalu, yang nota bene terbatas jumlahnya. Maka akibatnya, historiografi Nusantara Lama cenderung hadir sebagai sejarah yang bersifat “keraton sentris”.

Tulisan ini adalah salah satu contoh tentang historiografi tentang elit sejarah, dengan mengangkat Kusumawarddhani sebagai aktor sejarahnya. Latar kesejarahan darinya adalah Era Keemasan Majapahit. Dikatakan demikian karena ia adalah:

(a) putri mahkota Maharaja Hayam Wuruk,

(b) stri (istri) Wikramawarddhana, yakni raja pengganti Hayam Wuruk, dan

(c) pernah melewatkan masa hidupnya sebagai battrara di (bhra i = bhre) negara vasal Kabalan semasa pemerintahan Hayam Wuruk.

Kendati tulisan ini banyak membicarakan tentang Kabalan sebagai nagari (negara vasal), namun telisik terhadapnya dilakukan surut ke belakang, yang akan membawa kita kepada Kabalon sebagai thani (desa) dari para udahagi (sentra perajin) logam mulia (mas) semasa Singhasari. Surut lebih ke belakang membawa pembaca kepada posisi gografis Kabalon di dalam lingkungan watak/watek Tugaran semenjak masa pemerintahan Sri Isana (Pu Sindok) di kerajaan Mataram yang berpusat di Timur Jawa (Sakarida Dwipajawa) pada abad X M.

KABALAN, DARI DESA MENJADI NAGARI

Salah sebuah desa di sub-area timur Kota Malang adalah Desa Cemorokandang Kecamatan Kedungkandang. Pada desa yang berada di kaki Gunung Buring — dalam Peta Rupa Bumi tahun1811, tertulis nama untuknya “Gunung Malang” — tersebut terdapat sebuah Dusun bernama “Kebalon”. Nama ini acapkali disalahlokasikan dengan Kampung Kebalen. Padahal, keduanya berbeda, baik lokasi maupun latar sejarahnya.

Nama itu mengingatkan kita kepada toponimi “Kabalon” yang disebut dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton ( akhir abad XV) dan “Kabalan” yang diberitakan dalam Kakawin Nagarakretagama (1365 M) dan beberapa prasasti yang sejaman. Keserupaan nama dari ketiganya (Kabalan, Kabalon dan Kebalon) memberi kita gambaran bahwa keberadaan permukiman kuno ini telah dan tengah berlangsung dalam kurun waktu amat pajang. Dalam meniti perjalanan panjang sejarahnya, penamaannya mengalami perubahan dari : Kabalan (abad XIII) –》 Kabalon (abad XV) –》 Kebalon (kini).

Sejauh telah diketemukan sumber data tentangnya, gambaran mengenai Kabalon sebagai suatu desa kuno (thani) didapati dalam kitab Pararaton. Susastra yang paro pertamanya berjudul “Katuturanira Ken Angrok” ini memberitakan Kabalon sebagai suatu permukiman yang basis perekonomiannya “bi-ekonomik”, yakni agraris dan kerajinan. Kala itu para perajin (undagi) emas di Kabalon terbilang piawi dalam membuat barang-barang kerajinan emas, sehingga diibaratkan oleh Pararaton sebagai “yang seakan-akan sudah berbadankan kepandaian membuat barang emas dengan sempurna-sempurnanya (pangawaking dharmmakancanasiddhi)”. Mereka adalah para perajin emas yang terhandal di kawasan timur Gunung Kawi.

Oleh karena itu, bisa difahami bila kepala lingkungan tetua (tuha) dari Turyantapada — kini bernama “Turen” di Malang Selatan — bernama Pu Palot jauh-jauh memesan barang kerajinan emas dari pande mas handal di Kabalon. Lantaran itu pula, Pu Palot menyarankan kepada “anak asuhnya”, yakni, Ken Angrok, agar setamat mempelajari ketrampilan dasar merajin emas padanya selanjutnya mematangkan keahliannya kepada hyang buyut, yakni perajin emas di Kabalon. Selain itu Pararaton menyebut Kabalon sebagai permukiman para pertapa, yang diistilahi dengan “tempat orang-orang yang menepi (panapen)”. Sebagian warga Kabalon adalah para pertapa, guru hyang dan punta. Tergambar bahwa pada masa akhir pemerintahan kerajaan Kadiri atau jelang hadirnya Kerajaan Tumapel (akhir abad XII sd awal abad XIII) kondisi Kabalon masih relatif sepi.

Lokasi Kabalon terbilang strategis, karena berada pada DAS Amprong yang subur untuk pertanian dan sekaligus dekat dengan pusat watak Tugaran. Nama “Tugaran” kini masih dikenal , namun sedikit berubah penyebutan menjadi “Tegaron”, yakni nama suatu dusun di Desa Lesanpuro. Watak Tugaran mulai hadir pada masa pemerintahan Pu Sindok (Sri Isana) pada era kerajaan Mataram, yaitu satu diantara tiga buah watak di kawasan timur Gunung Kawi — selain watak Hujung dan Kanuruhan. Kala itu, Kabalon menjadi semacam daerah penyangga (hinterland) bagi pusat watak Tugaran. Produk kerajinan emas di Kabalon dipasokkan guna memenuhi kebutuhan akan aksesoris dari logam mulia terhadap warga kota kaya di pusat pemerintahan watak Tugaran.

Paparan diatas memberi cukup gambaran bahwa sub-area timur Kota Malang yang berada di lereng dan lembah Gunung Malang (Buring) telah sejak abad X M berkembang menjadi areal perkotaan dengan sistem sosio-budaya yang teratur dan terbilang maju pada jamannya. Kondisinya itulah yang menjadi faktor internal untuk memilih Kabalon sebagai pusat pemerintahan (kadatwan) dari kerajaan vasal (nagari) Majapahit era pemerintahan Hayam Wuruk. Ada dua vasal Majapahit di kawasan timur Gunung Kawi (baca “Malangraya”), yaitu: (1) Nagari Kabalan, dan (2) Nagari Tumapel.

Demikianlah, pada medio abad XIV itu, Kabalon yang semula hanya merupakan desa pertanian dan sekaligus desa perajin berkembang signifikan menjadi pusat nagari, dengan sebutan “Nagari Kabalan”. Puncuk pimpinan di nagari ini, yang berpangkat “bhattara”, karenanya dinamai dengan “Bhattara i Kabalan” atau disebut lebih singkat dengan ” Bhre Kabalan (Bhre = bhra+i)”. Adapun pucuk pimpinan di Nagari Tumapel disebut “Bhattara i Tumapel” atau diakronimkam menjadi “Bhre Tumapel”.

GANEOLOGIS DAN POSISI PERAN BIROKRATIS

Menurut Nagarakretagama (pupuh 7.4) untuk kali pertama Bhre Kabalan dijabat oleh Dyah Kusumawarddhani. Siapakah dia?

Dalam “politik-kekeluargaan” masa lampau pada sistem pemerintahan kerajaan, jabatan-jabatan tinggi dan strategis dalam birokrasi pemerintahan diberikan kepada anggota keluarga besar (extended family) Sang Raja. Jabatan demikian antara lain adalah penguasa negara vasal (nagari). Dengan demikian penòyadangan jabatan Bhattara di Nagari Kabalan oleh Dyah Kusumawarddhani dilatari oleh latar ganeologis dirinya sebagai anggota keluarga kerajaan Majapahit, yang kala itu diperintah oleh Hayam Wuruk. Jika benar demikian, bagaimana hubungan ganeologis antara dirinya dengan Hayam Wuruk?

Kusumawarddhani adalah putri tertua dari Maharaja Hayam Wuruk dalam perkawinannya dengan Indudewi — Pararaton menyebut Indudewi dengan “Padhukasori”. Kata “sori” mengingatkan kita pada tokoh cerita dalam Lakon Panji, yaitu Sori dan Tekes, sebagai gambaran dari Panji yang bertopi tekes dan istrinya (sori). Dalam posisi ganeologis yang demikian, ia adalah putri mahkota, yang secara ganeo-politis berhak atas tahta Majapahit sebagai pengganti Hayam Wuruk. Dengan demikian cukup alasan bahwa ketika masa pemerintahan ayahnya (Hayam Wuruk) ia diposisikan sebagai penguasa vasal di Nagari Kabalan, atau semacam rajamuda (yuvaraja, rajakumari) di kemarajaan Majapahit pada era keemasan (golden periode).

Bilamana Nagari Kabalan mulai dibentuk? Pada sumber-sumber data tekstual terdahulu pra-pemerintahan Hayam Wuruk) tidak diperoleh informasi tentang keberadaan Nagari Kabalan. Oleh karena itu, diprakirakan Nagari Kabalan baru dibentuk semasa pemerintahan Hayam Wuruk, sebagai pemekaran administrasi pemerintahan di wilayah Timur Gunung Kawi dari yang semula hanya sebuah nagari, yakni Nagari Tumapel, menjadi dua nagari (Tumapel dan Kabalan).

Bisa jadi pembentukkannya adalah pasca kunjungan Hayam Wuruk dan rombongan ke kawasan Timur Gunung Kawi dalam rangkaian lawatan (tour de’ inspecition) tahun 1359 M ke Nagari Lamajang (kuni “Lumajang”) beserta daerah-daerah lain di DTK (Daerah Tapal Kuda). Dalam lawatan ke daerah-daerah kekuasaan Majapahit itu — Kakawin Nagarakretagama mengistilahi paparan tentang kegiatan itu dengan “desawarnana”, lebih dari sepekan Hayam Wuruk berada di kawasan Timur Gunung Kawi.

Berdasarkan pengamatannya langsung ketika “turba (turun ke bawah)” di kawasan yang kini dinamai “Malangraya”, perkembangan signifikan di kawasan ini patut untuk dipertimbangkan dengan melakukan pemekaran administrasi pemerintahan daerahnya, dari satu menjadi dua nagari, yakni Tumapel dan Kabalan. Jika benar demikian, berarti pendirian Nagari Kabalan beserta penempatan Putri Mahkota (Kusumawarddhani) sebagai Bhattara di Kabalan terjadi tidak lama setelah tahun 1359 M, atau pada awal tahun 1360-an. Pada paro pertama abad XV, menurut keterangan dalam prasasti Waringinpitu (1447 M), Kabalan adalah satu diantata 12 nagari yang berada dibawah kekuasaan (vasal) Majapahit selain Tumapel, Dhaha, Jagaraga, Kahuripan, Tanjungpura, Pajang, Kembangjenar, Wengker, Kaling (Kalinggapura), Singhapura dan Matahun.

Sesuai dengan keserupaan nama : Kabalon-Kabalan-Kebalon, cukup alasan untuk melokasikan kadatwan Nagari Kabalan di Dusun Kebalon dan sekitarnya, pada kaki Gunung Buring sub-area timur Kota Malang. Sayang sekali, hingga sejauh ini di Dusun Kebalon maupun Desa Cemorokandang belum berhasil dijumpai tinggalan arkroligis yang signifikan, yang memberi cukup bukti bahwa di sini dalam kurun waktu panjang pernah terdapat desa permukiman para petani, perajin dan pertapa yang kemudian menjadi kadatwan Nagari Kabalan.

Temuan yang berhasil didapati baru berupa Lingga — atau bisa jadi adalah “batu sima”, warga sekitar hanya menyebutnya dengan “tugu” — di tanah tegal belakang rumah warga Dusun Kebalon. Separuh ke bawah artefak ini masih terpendam tanah, sehingga belum dapat diketahui bentuk-benda atau bangunan padamana benda ini ditancapkan atau diletakan dipermukaannya.

Selain itu, masih di wilayah Desa Cemorokandang, terdapat temuan berupa dua buah lumpang batu (stone mortar), umpak, dan beberapa balok batu andesit pada tepi alitan Kali Amprong, yang pada lokasi ini Kali Amprong yang mengalir utara-selatan bertemu dengan anak sungainya yang berasal dari arah timur. Tak jauh darinya, yaitu pada suatu tanah di halaman samping rumah warga dijumpai tidak sedikit fragmen gerabah dan keramik. Demikan pula pada sekitar mulut jalan beraspal kecil (Jl. Untung Surapati) menuju situs didapati sebuah lumpang batu (kini dijadikan “vas bunga”) di depan rumah Riyanto warga RT 05 RW 04, yang temukan ketika (tahun 2009) menggali saptick tank pada kedalaman sekitar 3 m.

Jejak budaya masa lalu lain di Desa Cemorokandang berupa toponimi “sentono”, yang oleh warga setempat digunakan untuk menamui bentang lahan berbangun bundar dengan permukaan tanah lebih tinggi dari muka tanah sekitarnya (sitinggil = sitlli inggil). Diantara rimbun beberapa pohon klampok berbatang amat besar (D = 4,21 m) dan tinggi terdapat makam yang sayang tidak diketahui jatidiri tokoh yang dimakamkannya. Secara etimoligis, kata “sentono” berasal dari “astana (istana)”, sehingga mengundang tanya: apakah bukan tidak mungkin dilokasi inilah konon istana (kadatwan) Nagari Kabalan terletak, mengingat lazimnya kedaton ditempatkan di siti inggil.

Kendati temuan arkeologis yang didapat di Kebalon dan sekitarnya belum seberapa banyak — lantaran belum pernah dilakukan ekskavasi arkeologis dan survei permukaan secara seksama, namun jejak arkeoligis dan toponimi “Kebalon” ataupun “Sentono” cukup memberi bukti bahwa tempat ini konon pernah dijadikan ajang kegiatan sosial-budaya masa lampau, yang sangat boleh jadi terkait dengan Thani Kabalon ataupun Nagari Kabalan. Kedepan diharap dapat diketemukan jejak-jejak budaya masa lalu di tempat ini, sehingga misteri sejarah Kabalon/Kabalan kian tersingkapkan.

JATIDIRI BHRE KABALAN KUSUMAWARDDHANI

Tak banyak data masa lalu yang secara langsung atau tidak langsung mengungkap jatidiri Kusumawarddhani. Walau demikian, sumber data tekstual, yakni prasasti dan susastra, memberi sedikit gambaran tentang fisiografis, kepribadian dan kepiawaian seninya. Selain itu diperoleh informasi mengenai latar perkawinannya.

Suami Kusumawarddhani adalah Wikramawarddhana, yang berdasarkan daerah kekuasaan (apanage)-nya, maka disebut juga dengan “Bhre Mataram”. Tokoh yang juga dikenal dengan sebutan “Bhre Hyang Wkasingsuka ini adalah putra Bhre Pajang. Perkawinan antara Bhre Kabalan (Kusumawarddhani) dengan Bhre Mataram (Wikramawarddhana) adalah pernikahan di lingkungan kerabat raja, atau bisa juga dinyatakan sebagai bentuk perkawinan politik. Keduanya berada di dalam lingkungan keluarga luas, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan raja-raja Majapahit.

Perkawinan-politik keduanya dibicarakan pula di dalam Prasasti Waringin Pitu, yang disurat atas perintah dari raja Wikrammawarddhana. Sumber data epigrafis bertarikh Saka 1369 (22 Nopember 1447) ini melukiskan fisiografis Kusumawarddhani sebagai “putri yang rupawan, bibirnya kemerahan bagai manik-manik, tubuhnya semampai, menimbulkan kepuasan bagi yang memandangnya”. Serupa itu, Nagarakretagama (pupuh 7.4) menyatakannya sebagai “seorang wanita yang sangat cantik, amat rupawan, jelita mata, lengkung lampai [alisnya]”.

Sebagai seorang permaisuri, Kusumawarddhani yang memiliki nama kelahiran (garbhopatinama) Mahamisi atau Dhyah Savitri ini oleh Kakawin Nagarakretagama (pupuh 7.4) dinyatakan sebagai “sorang istri yang bhakti kepada suami, pandai bercumbu dan merayu”. Baktinya terhadap suami antara lain tergambar dalam suksesi pemerintahan di Majapahit sepeninggal raja Hayam Wuruk.

Sebenarnya, ditilik dari garis ayah, Kusumawarddhani berhak atas tahta Majapahit, lantaran posisinya sebagai putri mahkota. Pada Masa Hindu-Buddha tak ada kata “tabu” bagi perempuan untuk memegang tampuk pimpinan sebagai raja (rajya) di pemerintahan pusat. Ratu Simha di kerajaan “Ho Ling”, Sanggramawijaya di kerajaan Mataram — meski sesaat, Tribhuwanatunggadewi dan Suhita di Majapahit adalah contoh faktual mengenai itu.

Namun demikian, demi bhaktinya kepada suami, ia menghibahkan tahta kepada Wikramawarddhana, dan lebih memilih untuk “berperan di balik layar”. Ia menjejaki Pramodawarddhani (putri mahkota Samaratungga) yang menghibahkan tahta Mataram kepada suaminya (Rakai Pikatan), Dhyah Kbi (putri mahkota Raja Wawa) kepada Pu Sindok/Isana, para putri Kretanegara kepada Raden Wijaya, ataupun penyerahan tahta kerajaan dari Gunapriyadharmapadni/ Mahendradatta kepada adiknya (Dhammawangsa Tguh) — lantaran ia lebih memilih untuk menyertai suami (Udayana) menjadi raja di Balidwipamandala. Bhakti dan kesediaan untuk berbagi menjadi dasar pertimbangannya untuk tidak mengambil posisi sebagai raja pasca kemangkatan ayahandanya.

Sebagaimana halnya dengan leluhurnya, yakni Ken Dedes dan Gayatri/Rajapadni, kitab Nagarakretagama juga menggambarkannya sebagai wanita yang cantik. Secara fisiografis, kecantikan dua leluhurnya itu tergambar pada arca perwujudannya, yang berwujud Panjnaparamita. Berbeda dengannya, belum didapati arca yang dapat diidentlfikasikan sebagai penggambaran fisiogragis Kusumawarddhani. Terkait itu, menurut hemat kami, arca besar dan artistik dari Situs Jebuk di Tulungagung (kini koleksi Museum Nasional) yang menggambarkan Dewa-Dewi dengan gestur mesra dapat diidentifikasikan sebagai arca pasangan Kusumawarddhani dan Wikramawarddhana. Hal ini mengingat bahwa dalam kakawin Nagarakretagama Kusumawarddhani dicitrakan sebagai istri yang pandai bercumbu-rayu.

Selain itu Kusumawarddhani dikabarkan sebagai “seorang penari yang piawi, sekaligus pengidung yang bersuara merdu”. Tidak mengherankan apabila ia mahir di dalam berkesenian, karena “darah seni mengalir ke dalam dirinya”. Ayahnya, yakni Hayam Wuruk, oleh Pararaton maupun Nagarakretagama dikabarkan sebagai handal dalam berseni-drama — tak terkecuali dalam menainkan peran travesti, memainkan wayang (mendalang), dan sudah barang tentu menari serta bermusik.

Dalam posisinya sebagai penguasa kerajaan vasal, wanita yang memegang jabatan bhattara di nagari Kabalan di satu pihak dan sebagai seniwati pada pihak lain, dapat dibayangkan bahwa selama masa pemerintahannya di wilayah Timur Gunung Kawi, bidang seni-budaya mendapat porsi perhatian yang kuat. Kala itu, Kusumawarddhani adalah seorang “maecenas seni” di kawasan yang kini disebut “Malangraya”.

Keberadaan Nagari Kabalan tidak hanya berhenti pada masa pemerintahan Kusumawarrddhani, namun berlanjut hingga setidaknya akhir abad XV. Hal itu terbukti dari pemberitaan prasasti Pamintihan (1473 M), yang disurat atas perintah raja Dhyah Suraprabhawa. Dalam prasasti yang dikeluarkan 26 tahun pasca prasasti Waringin Pitu (1447 M) ini, Kabalan disebut berada dalam perbatasan (tpi siring) dengan desa Pamintihan. Lokasi Kabalan berada di utara-timur Pamintihan, yang kini menjadi dusun bernama “Kebalon” di Kelurahan Cemorokandang. Selain itu, Pamintihan juga berbatasan dengan Tugaran, yang kini menjadi dusun bernama “Tegaron” di Desa Lesanpuro.

Menilik posisinya itu, boleh jadi letak Pamintihan pada areal yang kini dinamai “Kelurahan Madyopuro” — termasuk di dalamnya Kampung Ngadipuro, dan bisa jadi meluas hingga ke Desa Sekarpuro. Berbeda dengan toponimi “Kabalan/Kebalon” yang kini berubah penyebutan sedikit menjadi “Kebalon” dan toponimi “Tugaran” yang kini berubah sedikit menjadi “Tegaron”, untuk toponimi “Pamintihan” kini tidak lagi didapati jejak toponimisnya.

Kendati demikian, bukan berarti tak terdapat jejak masa lalu di Madyopuro. Selain makam kuno, yakni makam Ki Ageng Gribig (Gribik “yunior” dari Era Kasultanan Mataram) dan makam Gribik “senior” di Gang Sate dari Masa Kewalian, pada desa ini masih didapati delapan buah punden yang sayang sekali belum pernah diteliti dengan seksama. Namun yang urgen, diantaranya terdapat artefak berupa Lingga — atau boleh jadi “batu sima”. Jika benar demikian, ada indikator bahwa pada Masa Hindu-Buddha areal ini pernah menyandang status sebagai desa perdikan (swatantra, sima), yang konon bernama “Pamintihan”. Desa sima Pamintihan yang dilokasikan di Madyopuro berada pada posisi tengah (madyo), yang diapit oleh Kabalan disebelah utara-timurnya dan Tugaran disebelah selatannya.

Mencermati perjalanan panjang (lima abad, X-XV M) tentang Kabalan, Tugaran dan Pamintihan sebagaimana terpapar diatas, tergambar bahwa kawasan di lereng dan lembah sisi barat dari Gunung Malang (kini “Gunung Buring”) yang dialiri oleh Kali Amprong konon pernah tumbuh berkembang pusat pemerintahan setingkat watak/watek dengan nama “Tugaran” yang dipimpin oleh Rakai Tugaran dan setingkat nagari bernama “Kabalan” yang dipimpin oleh Bhre Kabalan. Salah seorang bhattara di Kabalan tersebut adalah Kusumawarddhani. Baik Kabalan ataupun Tugaran kini menciut, hanya tinggal berupa dusun, yang namanya kian dilupa orang, terlebih lagi kesejarahannya.

Demikianlah ulasan singkat mengenai citradiri dari Kusumawarddhani beserta kesejarahan Nagari Kabalan. Tersirat di dalam telaah ini “peran seorang wanita Jawa” pada masa keemasan (goden periode) Majapahit di kawasan Timur Gunung Kawi (baca “Malangraya”).

Semoga membuahkan makna dan memberi guna.
Salam budaya,
“Nuswantarajayati”.

Tulungagung-Malang,
10-12 Maret 2016

Dwi Cahyono

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019