Banyak predikat diberikan kepada Kota Malang, antara lain “Kota Indah, Kota Bunga, Kota Pendidikan, Kota Wisata” dan banyak lagi. Sebagai daerah yang telah meniti perjalanan panjang sejarahnya dan berperan penting bukan saja pada panggung sejarah lokal namun juga di panggung sejarah nasional lintas masa, maka predikat “Kota Bersejarah” kiranya layak juga disematkan padanya. Begitu pula, sebagai sentra peradaban masa lalu hingga masa kini, predikat “Kota Budaya” cukup pula alasan disandang olehnya. Dalam kaitan itu, pertanyaannya “ikon kota seperti apa yang tepat untuk mewadahi beragam predikat itu?”.

Sejauh ini, Tugu di Alon-Alon Bunder dan Ijen Boulevard acap dicuatkan sebagai ikon Kota Malang. Keduanya merupakan ikon fisis, yang berupa landmark kota. Ikon ini telah populer, baik di kalangan warga Kota Malang ataupun warga daerah lain, bahkan pada warga negara manca. Oleh karenanya, kedua landmark ini cukup alasan untuk dijadikan ikon Kota Malang. Orang luar bisa dibilang belum ke Kota Malang apabila belum menyinggahi kompleks Alon-Alon Bunder dan Jalan Besar Ijen, atau belum menyantap bakwan Malang.

Namun terhadap keduanya, perlu dipikirkan makna, keteladanan dan momentum historis apa yang terkandung didalamnya. Oleh karena, suatu ikon tak cukup sekedar memperhitungkan ketenaran, namun perlu pula mempertimbangkan pesan yang disampaikan dan relevansinya dengan predikat-predikat yang disandang oleh Kota Malang. Apakah Tugu Alon-Alon Bunder dan Ijen Boulevard mempresentasikan momentum historis Kota Malang? Apakah keduanya adalah penyampai pesan dan memuat nilai bermakna bagi khalayak yang menyinggahinya? Apakah juga relevan dengan sederet predikat yang disandang Kota Malang?

Tanpa harus menganulir kedua ikon itu, tidak ada kelirunya alternatifkan ikon lain. Yang bukan saja telah dikenal oleh khalayak luas, namun juga memiliki makna, menjadi cermin teladan, menandai momentum historis, memuat pesan positif, dan bisa mewadahi beragam predikat yang disandang oleh Kota Malang. Wujudnya, tidak musti landmark dan berupa fisis arsitektural, namun bisa juga tokoh tertentu, utamanya tokoh sejarah daerah — sesuai dengan predikat Kota Malang sebagai “Kota Bersejarah” dan “Kota Budaya”.

Ken Dedes beserta latar sejarahnya, arca perwujudannya, makna simbolik yang dikandungnya dan pesan yang dapat ditransformasikan daripadanya, sangat mungkin dialternatifkan sebagai Ikon Kota Malang. Wujudnya figuratif dan pesan yang terkadung dalam kepribadiannya demikian humanis. Ken Dedes juga telah dikenal luas. Bukan saja oleh masyarakat Malang Raya, namun juga oleh warga Indonesia, dan bahkan oleh sebagian warga negara manca.

Arca perwujudan (de potrait beelden) Ken Dedes yang bentuk Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi (Prajnaparamita) relevan dengan predikat Kota Malang sebagai “Kota Pelajar” atau “Kota Pendidikan”. Terkait dengan keterdidikan Ken Dedes, susastra Pararaton menggambarkannya sebagai seseorang yang mendapat karma amamadangi, yakni perilaku yang tercerahkan lantaran matang dalam ilmu. Hal itu bisa dimengerti, mengingat bahwa ayahnya (Pu Purwa) adalah seorang rokhaniawan Mahayana Buddhisme (bhujangga budhastapaka) di Mandala Buddhis Panawijyan (kini “Polowijen”, sebuah kelurahan di Kec. Blimbing).

Penggambarannya dalam Pararaton sebagai wanita cantik, yang kecantikannya diibaratkkan mampu mengalahkan keindahan hyang sasadara (rembulan) sesuai dengan predikat “Kota Indah”. Ken Dedes bukan saja cantik secara ragawi (wadag), namun juga elok kepribadinnya (innter beauty). Oleh karenanya cukup alasan untuk mendapat sebutan “stri nareswari (wanita utama)”.

Unsur bunga, tepatnya teratai merah merekah (padma), pada arca perwujudannya hadir dalam bentuk singhasana (asana) serta menjadi salah sebuah atributnya, padamana pustaka ditopangkan di atasnya. Diantara beragam bunga yang tumbuh dan berkembang di Kota Malang, teratai sebagai simbol kesucian dan kebersihan, hadir sebagai bungai yang khas di daerah ini. Oleh karenanya, predikat Kota Malang “Kota Bunga” relavan juga dengan wujud ikonik Ken Dedes. Ken Dedes adalah bunga, yakni “bunga desa” Panawijen yang oleh Pararaton dilukiskan sebagai sangat masyur di kawasan timur Gunung Kawi hingga Tumapel.

Unsur nama “Dedes” secara harafiah berarti musang (luwak), yakni binatang yang mampu menyebarkan aroma harum. Unsur nama “harum (dedes)” ini diberikan kepada Ken Dedes sebagai parameswari dari pendiri atau cikal bakal (vamsakreta) Singhasari, yakni Ken Angrok. Bukan semata harum bau tubuhnya, namun harum pula namanya. Kita sesungguhnya tak mengetahui siapa nama diri (gabhopatinama)nya. Yang kita tahu hanyalah julukannya, yakni “wanita harum (Ken Dedes)”. Bahkan, harum hingga dua periode, yakni pada periode Singhasari maupun Majapahit. Hal itu sangat wajar. Selain sebagai orang terkemuka, yang diindikatori honorifix prefix “ken” – kependekan rakryan, Dedes sekaligus adalah ibu dari sekalian raja. Seakan Dedes adalah “si rahim emas (golden germ)”, dalam arti siapapun yang terlahir darinya, terlepas siapa ayahnya, bakal menjadi raja.

Secara ganeologis Ken Dedes bukan hanya menurunkan raja-raja Tumapel (Singhasari), namun sekaligus para raja di kemaharajaan Majapahit. Oleh karena itu, cukuplah alasan bila Dedes dinyatakan sebagai “ibu sekalian para raja”. Posisi ganeologinya yang demikian seperti diramalkan oleh Dang Hyang Lohgawe dan bobotoh (penjudi) Bango Samparan, ketika diminta Angrok untuk memaknai pertanda khusus yang dimiliknya, yakni “murup rahsya¬ (bersinar kemaluan, wawadi, vulva)”-nya. Menurut keduanya, wanita dengan pertanda demikian memiliki potensi kebesaran. Siapapun yang menikahinya, kelak dia dan anak keturunannya menjadi orang/raja besar. Vulva bersinar (prabharahsya) itu adalah waranugraha dewata akan potensi internal kebesarannya.

Ken Dedes, oleh kerenanya layak untuk dipertimbangakan dan dijadikan “ikon perempuan humanis” dan sekaligus “ikon budaya” Kota Malang, atau lebih luas lagi bagi kawasan Malang Raya.

Kepribadiannya yang menawan, yakni sosok :

  1. wanita utama,
  2. wanita cantik luar-dalam,
  3. wanita dengan perilaku tercerahkan,
  4. wanita berilmu,
  5. wanita berpotensi besar,

tepat kiranya dijadikan teladan oleh warga Malang maupun warga daerah lain.

Paparan simbolik Ken Dedes dalam Pararaton memuat pesan bermakna. Bukan saja bagi warga Masa Hindu-Buddha, namun juga bagi manusia yang hidup pada masa sesudahnya. Nilai-nilai universal yang terkandung dalam diri Ken Dedes seperti keutamaan (nareswari), kecerahan perilaku (karma amamadangi), kecantikan luar-dalam (listu-hayu), keharuman (dedes), keberilmuan (prajnapa-ramita), maupun [potensi] kebesaran (adimutyaning stri) yang dimiliki Ken Dedes bisa ditransformasikan lintas masa, tak terkecuali bagi kehidupan sekarang.

Ken Dedes dengan citra kepribadian sebagaimana itu, bisa dijadikan contoh teladan, orang model, atau panutan. Bukan saja oleh kaum hawa, namun nilai-nilai universal yang terkandung di dalam kepribadiannya tepat pula dimiliki oleh kaum hawa.

Lewat saresehan bertajuk “Bedah Sejarah Ken Dedes” (8 Oktober 2011) dan kirap budaya “Ken Dedes – past end future” (15 Oktober 2011), keteladanan Ken Dedes diperkenalkan, dipahamkan dan ditransformasikan kepada khalayak luas.

Bedah sejarah Ken Dedes diharapkan mampu meluruskan interpretasi keji yang tak berdasar dari kalangan awam, yang memberikan label negatif terhadap Dedes sebagai peselingkuh. Dedes musti didudukkan secara proporsional. Kepribadiannya perlu disingkapkan. Melalui upaya ini diharap khasanah pengetahuan sejarah warga Malang terhadap tokoh sejarah daerahnya kian memadai. Sementara, kelangkaan untuk dapatkan contoh teladan bisa mempertimbangkan Dedes sebagai sang teladan (patuladan) yang relevan dengan karakter sosio-budayanya.

Pada sisi lain, perhelatan budaya ini bisa diisikan ke dalam agenda wisata daerah kategori wisata budaya, sesuai dengan predikat “Kota Wisata, Kota Bersejarah, dan Kota Budaya”. Kelak diharapkan acara menjadi agenda tahunan, yang lebih variatif butir acaranya, lebih luas khalayak sasarannya, dan lebih kontributif manfaatnya. Lebih luas dari itu, rintisan ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi daerah lain agar mengeksplorasi sejarah daerahnya untuk menemukan tokoh sejarah daerah yang layak menjadi contoh teladan bagi warga daerah.

 

Dwi Cahyono

Sengkaling, 04 September 2011

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.