SUDHAMALA

Sudhamala adalah susastra Jawa dalam bentuk kidung berbahasa Jawa Tengahan. Suatu karya sastra gubahan terhadap wiracarita Mahabharata. Penggubahannya dalam wujud susastra tekstual maupun transformasinya menjadi susastra visual dalam bentuk relief candi dan susastra lakon dalam bentuk seni pertunjukan wayang kulit bermula pada Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV M.). Susastra yang berlatar agama Hindu Siwa ini popularitasnya berlanjut hingga ke Masa Akhir Majapahit (Abad XVM), bahkan tradisinya mampu menembus lintas masa dalam bentuk lakon ruwat dalam pertujukan wayang kulit di Jawa dan Bali hingga kini. Jika di Jawa lakon ruwat didominasi oleh cerita Bethoto Kolo — sehingga maksud dari pementasannya dinamai “murwo kolo” (peniada petaka), maka alih-alih masyarakat Bali konsisten untuk melakonkan cerita Sudhamala dalam wayang sapuleger, yang dipentaskan siang hari juga untuk kepentingan ruwat atau untuk mengakhiri (sudha) petaka (mala).

Kisah ini diawali dengan kutukan Dewa Siwa terhadap sakti (istri)nya, yakni Dewi Uma, lantaran Uma telah berbuat serong terhadap suaminya (clor ring lakine). Akibat kutukan (sapata) ini:
(a) Uma berubah wujud, dari perempuan cantik menjadi raksasi (demonis) yang diberi sebutan Ra Nini atau disebut juga Dewi Durga (Bhagawati),
(b) lokasi tinggalnya didegradasikan dari alam kedewataan (kaindran di Kailasa) ke pekuburan (ksetea Gandhamayu) di alam kehidupan manusia.
Sapata terhadapnya bisa berakhir, yakni kembali ke wujud cantik dan berciri dewani serta kembali tinggal di kaindran, apabila mendapat “penebusan dosa” dengan pengorbanan si bungsu dan sekaligus seorang dari si kembar Pandawa Lima, yakni Sadewa.

Atas jasa Sadewa dalam meruwat Ra Nini itu, maka Uma memberinya dua anugerah:
(a) nama “Sudhamala”, yang artinya peniada petaka;
(b) sebuah mata panah, yang nantinya digunakan untuk membinasakan sekaligus untuk mengembalikam ke wujud aslinya (sebagai widyadara) terhadap Kalantaka, yakni salah seorang dari raksasa kembar yang membantu keluaga Hastina.

Dalam cerita ini, sesuai dengan arti nama pemberian Uma itu, Sadewa berhasil meruwat tiga orang, yang masing-masing mengalami derita atau terkena musibah:
(1) Dewi Uma dalam wujud kutukannya sebagai raksasi Ra Nini,
(2) seorang dari widyadara kembar dalan wujud kutukannya sebagai raksasa Kalantaka,
(3) bhagawan Tambrapetra dari wanasrama Prangalas yang menjadi mertuanya atas derita kebutaannya.

Inti pesan yang terkandung dalam cerita Sudhamala adalah ruwat, sehingga dapat difahami bila cerita ini dipilih sebagai relief cerita dalam bangunan suci candi (pendharmaan) ataupun digunakan sebagai lakon dalam wayang peruwatan. Tema ruwat relevan dengan fungsi candi sebagai bangunan suci untuk membersihkan arwah dari dosa atau ikatan duniawi untuk dapat mencapai moksa.

Susastra tekstual Kidung Sudhamala ditransformasikan menjadi susastra visual dalam bentuk relief candi di batur Candi Tigawangi, relief lepas di halaman ke-3 Candi Sukuh –menurut P. Van Stein Callenfels berasal dari dinding patirthan di dekat Candi Sukuh, dan ada indikator di Pendapa Teras II Candi Penataran. Adegan kunci (key scene) dari serangkaian adegannya berupa pengorbanan Sadewa pada tengah malam di ksetra Gandamayu. Digambarkan dalam relief ini, Ra Nini mengayunkan pedang besar (kadga) ke arah leher Sadewa yang berada dalam kondisi tangan terikat di pohon randu alas. Bersamaan itu juru dyah Semar menaburkan beras kuning dan membacakan mantra. Sebelum mata pedang mengenai leher Sadewa, serta merta hadir seekor domba, sehingga ayunan pedang tersebut mengena ke leher domba. Dalam peristiwa ini, di satu sisi Sadewa terhindar dari kebinasaan dan pada sisi lain raksasi Ra Nini (Durga) teruwatkan, yakni kembali ke wujud dewaninya sebagai Dewi Uma yang cantik dan ksetra (kuburan) Gandhamayu berubah menjadi taman surgawi yang indah.

Dalam sejumlah hal, kisah ini memiliki persamaan dengan kisah kenabian yang berkenaan dengan ritus korban dalam agama Islam, yang secara periodik dilaksanakan pada Hari Raya Qurban (Idul Adha), yaitu:

(a) keengganan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anak tunggalnya, yakni Nabi Ismail, memiliki kesamaan dengan keengganan Kunti untuk mengorbankan anak bungsunya bernama Sadewa, namun akhirnya keduanya merelakan pengorban anak tersebut;

(b) pencegahan terhadap praktek pengorbanan manusia/human sacrafice dengan menggantikan menjadi pengorbanan binatang/animal sacrafice, mengingat bahwa pengorbanan manusia meski dalam ritus tetaplah tidak humanis;

(c) pengorbanan/sacrafice merupakan bentuk uji ketulusan dan ketaatan, yang secara simbolis merupakan wujud penebusan guna pembersihan diri terhadap dosa/kesalahan manusia.

 

Persamaan antara keduanya dilatari oleh dua kemungkinan:

(a) difusi dari mitologi Islami terhadap cerita sakral Sudhamala, ataukah

(b) indipenden invention, yaitu persamaan tanpa adanya saling pengaruh.

 

Terlepas dari kemungkinan mana yang benar, yang pasti tradisi ruwat yang ditandai dengan pengorbanan domba atau kambing — utamanya wedus kendit — dan pementasan lakon Sudhamala (di Jawa acap diganti dengan lakon Bethoro Kolo) memiliki akar historis panjang, setidaknya sejak Masa Majapahit atau pada pra-pengaruh Islam. Selain menyiratkan tentang makna kerelaan untuk berkorban, tradisi ini juga menjunjung tinggi aspek humanustik — utamanya dalam mereaksi human sacrafice, dan menegaskan perlunya purifikasi (pencucian, pembersihan) terhadap kesalahan, petaka ataupun dosa.

Semoga pesan-pesan tersirat itu bermanfaat bagi pencerahan batin kita.
Dwi Cahyono

Sengkaling, 8 September 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*