A.06A

ARCA CAMUNDI, MEDIA RELIGIUS-MAGIS TANTRIS RAJA KRETANEGARA

Artefak yang kini dalam kondisi rekonstruktif-integratif, yakni mereintegrasikan (penyatuan kembali) suatu artefak yang sebelumnya pecah berkeping-keping ini telah beberapa kali mengalami relokalisasi:

(1) mula-mula berada di situs Ardimulyo — suatu desa di utara Candi Singosari,

(2) lalu dibawa ke halaman sisi barat candi Singosari, dan

(3) atas alasan keamanan/keselamatan maka diboyong untuk menyemarakkan Museum.Trowulan (Pusat Informasi Majapahit), dan Malang pun kehilangan aset budaya masa lalunya lantaran ketika relokasi dilakukan Kab. Malang belum memiliki museum.

 

Artefak asal Ardimulyo ini dikerjakan bhimuka ( dua sisi), yaitu:

(a) sisi recto/depan yang dipahat menjadi satu set arca-relief Siva Family, dan

(b) sisi verso (belakang) yang dipahat menjadi prasasti cukup pendek (short inscription) bertarikh 1292 M — tahun terakhir kehidupan Maharaja Kretanegara dan sekaligus tahun keruntuhan Singhasari. Artefak yang berupa pahatan arca di sisi depan dan prasasti di sisi belakang seperti itu beberapa buah didapati di Jawa Timur, sejak masa Balitung, Sindok, Singhasari dan Mahapahit. Prasasti Bulul (asal Bunulrejo) yang dipahatkan di sandaran (stellla) belakang arca Ganesya adalah salah sebuah contoh representatif tentang itu.

 

Arca-relief di sisi muka (recto) berupa satu set arca dewata dari Siva Family, yang terdiri atas:

(1) arca Siwa Bhairawa di posisi bawah kanan, merupakan personifikasi Siwa dalam sifatnya yang ugra/saura (ganas);

(2).arca Dewi Camundi pada posisi tengah bawah, mempersonifikasikan aspek dari sakti (istri) Siwa dalam sifatnya yang juga saura;

(3) arca Ganesya pada posisi kiri bawah, mempersonifikasikan putra bungsu Siwa-Parwati/Uma;

(4) arca fragmentaris yang menggambarkan seorang dewi mengendarai ikan pada posisi kanan atas –》 Prof. Hariani Santiko mengidentifikasi sebagai Dewi Varahi, sedangkan P.H. Pot mengidentikasikan sebagai Yuktatriveni;

(5) sebuah arca-relief lain disisi kiri atas yang telah amat rusak, sehingga sulit diidentifikasikan. Namun demikian arca-relief yang rusak ini dapat diprakirakan sebagai salah seorang dewi (selain Vaeahi dan beberapa lainnya), yang menjadi dewi-dewi pengiring Camundi.

 

Ada beberapa indikator penting dari arca-relief Camundi ini:

(1) ditempatkan pada posisi tengah bawah, sehingga berkesan menjadi sentrum dari satu set arca berjumlah lima ini;

(2) berukuran paling besar, melebihi keempat relief-arca lain yang mengapitnya;

(3) namanya disebut juga dalam prasasti yang dipahatkan disisi belakang.

Indikator-indikator itu menjadi alasan untuk menyatakan bahwa Camundi dalam konteks ini adalah yang utama, lebih utama daripada Bhairawa dan Ganesya. Dengan perkataan lain, Dewi Camundi dijadikan sebagai istadewata (dewa utama), yang dipuja dalam suatu ritus Tantra. Pertanyaan yang terkait adalah: mengapa fokus pemujaan justru terhadap perempuan (dewi) dan bukan kepada Sang Dewa?

Jawab atas pertanyaan tersebut terkait erat dengan konsepsi religio-magis dalam Tantrayana, baik Hindu-Tantris ataupun Buddha-Tantra, baik sub-sekte kanan (right hand) ataupun kiri (left hand). Sebutan lain bagi Tantrayana adalah ” Sakta” sehingga dinamai pula dengan “Saktisme”. Secara harafiah, sakti berarti istri atau wanita. Sesuai dengan sebutannya, sekte Tantra memfokuskan pemujaan kepada sakti (istri dewata), yang dilandasi keyakinan bahwa pusat kekuatan gaib (energi, yoni, sakti) adalah pada perempuan. Oleh karena itu, muncul pameo yang superlatif bahwa” tanpa sakti (istri)nya, para dewa bagaikan bangkai” — dalam arti tanpa daya.

Relasi antara Camundi dengan Tantrayana diperkuat oleh asana (singgasana) Dewi Camundi, yang berupa mayat dalam posisi terlentang. Selain itu, aksesoris kepala (tengkorak) banyak menghiasi busana dan asana arca Bhairawa, Ganesya maupun Camundi. Baik mayat ataupun kepala pada ketiga arca tersebut adalah gambaran simbolik dari tempat ritus Tantra, khususnya Tantrayana Kiri, yang berupa lapangan mayat (ksrtra). Boleh jadi, relief-arca dan prasasti Camundi konon ditempatkan di ksetra Ardhimulya, sebagai tempat ritus Tantrayana Hindu sekte Saiwa, bersama dengan ritus Bhairawapuja.

Tarikh 1292 M dan nama “Camundi” dalan prasasti pada sisi verso (belakang) dan adanya relief-arca Camundi di sisi recto (depan) memberi petunjuk bahwa pada sekitar tahun 1292, yakni masa akhir Singhasari, Tantrayana Hindu sekte Siwa, termasuk sub-sekte kiri, tumbuh berkembang di lingkungan pusat (watekni jro) kerajaan Singhasari. Arca Parwati yang berukuran paling besar dan diapit oleh sepasang dewa wariwara, Bhairawa – Ganesya, serta Skanda/Kaetikeya – Agastya yang diletakkan tegak lurus dengan bilik utama (garbhagreha) Candi Singhasari merupakan pembukti tambahan tentang Tantrayana-Hindu pada masa Singhasari. Untuk sekte Tantrayana Buddhis, adanya arca Prajnaparamita di situs Candi Putri (timur Masjid Bungkuk di Ds. Pagentan) adalah pembukti baginya. Terkesan bahwa bangunan suci untuk ritus Tantrayana Hindu berada di sub-area utara kadatwan Singhasari, yakni di Ardhimulyo dan Candi Singhasari itu sendiri, sedang Tantrayana Buddhis di sub-area selatan pada Desa Pagentan sekarang.

Yang menarik, arca-relief dan prasasti ini dipahat dan di surat pada tahun 1292, yang nota bene merupakan masa akhir kehidupan Kretanegara dan sekaligus tonggak waktu runtuh-nya Singhasari. Pertanyaannya adalah apakah artefak ini terkait dengan peristiwa serangan Jayakatwang dari Glang-glang/ Kadiri terhadap Singhasari? Yang perlu dicermati adalah keterangan dalam kitab gancaran Pararaton yang melukiskan bahwa ketika serangan itu terjadi, raja Kretanegara tengah bermabukan (madha). Sesungguhnya, madha adalah cairan atau bahan lain yang membuat pelaku upacara (bhakra) berada dalam kondisi trance, yakni satu diantara lima “ma” dalam pencamakarapuja.

Ritus Tantra yang dilakukan oleh Kretanegara di suatu Ksetra pada wilayah Ardhimulyo itu dimaksudkan agar kerajaan dan para pasukannya mendapatkan anugerah kekuatan religius–magis dari Dewi Camundi ataupun Dewa Bhairawa, sebagai tambahan kekuatan supranatural yang penting dalam rangka menghadapi serangan Jayaktwang. Oleh karena itu, artefak ini menjadi saksi kunci atas keruntuhan Singhasari, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengembalikannya dari Museum Trowulan ke Museum Singhasari.

 

Dwi Cahyono
Sengkaling, 19 September 2015