Jembatan Celaket


A.07

JEMBATAN HERITAGE CELAKET BERUBAH KEASLIAN

Salah sebuah heritage jenis cultural heritage (pusaka budaya) di Kota Malang adalah jembatan. Sub-area tengah Kota Malang yang dibelah oleh aliran Brantas yang lebar dan curam, menjadikan jembatan sebagai prasarana bagi solusi kunci untuk menghubungkan areal antar seberang. Jembatan awal yang dibangun adalah Buk Gludug dan Jembatan Celaket, yang amat boleh jadi sebelum dikonstruksikan menjadi jembatan beton terbuat dari kayu (baca ‘jembatan kayu’).

Sayang sekali, belum diperoleh tarikh mutlak (absolud dating) bilamana konstruksi jembatan beton pada keduanya dibangun. Yang terang pasca medio abad ke-19, yakni setelah Kompeni Belanda mengubah pola tinggalnya dari “permukiman dalam benteng (loji)” menjadi “pemukiman luar benteng”. Kedua jembatan menyeberang aliran Brantas ini besar kemungkinan telah dikonstruksi sebagai jembatan beton sebelum memasuki abad ke-20, sebagai prasarana penunjang utama bagi dua jalan poros, yaitu Celaket-Kayutangan dan Rampal-Boldy. Pada perempat pertama abad ke-20 menyusul dibangun tiga jembatan beton melintas Brantas, yaitu jembatan Spleendit, Kahuripan dan Kota Lama (jl. Muharto).

Menilik usianya yang telah sekitar satu seperempat abad dan karakter bentuk arsitektural dari Jembatan Celaket, cukup alasan untuk mengkategorikan jembatan monumental ini sebagai “pusaka budaya”. Yang dengan demikian perlu untuk dilindungi keberadaannya dan kesinambungannya lintas masa, dalam arti dilindungi keawetan, keberfungsian dan keaslian bentuknya. Pengubahan bentuk terhadapnya sama hanya mengingkari tugas-kewajiban untuk melestarikan pusaka budaya. Tugas dan kewajiban untuk mengkonservasikannya berada di pundak bersama, yakni warga masyarakat dan sudah barang tentu Pemerintah Kota Malang.

Bagaimana sikap dan tindakan Pemkot Malang terhadap Jembatan Celaket terkait dengan konservasi terhadapnya sebagai heritage? Hal itu dengan jelas tergambar pada pembangunan pergola bernuansa warna ‘simbolis-politis” hijau pada tahun lalu dengan dana Rp 900 juta, dan ngotot untuk dilanjutkan di tahun ini (2015) dengan dana APBD sebesar Rp 2,5 miliar. Pihak DPRD Kota Malang yang berkeberatan terhadap pembangunan pergola itu lebih melihat dari segi teknis, yakni menambah beban terhadap jembatan tua ini. Keberatannya mestinya juga diperkuat dari segi pelestarian pusaka budaya, yakni keberadaan pergola menghilang-pandangkan bentuk asli pilar dan pagar jembatan. Apakah bentuk akhaisnya itu dipandang “usang dan karenanya tidak menarik”? sehingga perwajahannya perlu digantikan dengan pergola?

Dalam sejumlah contoh kasus, antara lain renovasi — bukan “restorasi” — Hutan Kota Malabar, Alon-Alon Kotak (jl. Merdeka) maupun Jembatan Claket, lagi-lagi Pemkot Malang, khususnya DKP pimpinan Erik S. Santoso, tidak bervisi konservasi heritage, baik terhadap pusaka budaya ataupun pusaka alam. Kasus yang demikian belum terhitung “pembiaran penghancuran” bangunan heritage kategori rumah tinggal — bahkan untuk kawasan “steril bagi renovasi” di Ijen Boulevard sekalipun.

Atas dasar pertimbangan di atas, maka saya (M. Dwi Cahyono) menyerukan agar pembangunan pergola pada Jembatann Celaket dibongkar dan tidak perlu lagi untuk dilanjutkan. Penguatan jembatan diperlukan, sedangkan pergola mubazir diadakan dan justru menghilangkan/menutupi kenampakan bentuk aslinya sebagai heritage. Pembagunannya tidak didasari oleh FS; yang semestinya mempertimbangkan segi pelestarian heritage.

Jika visi pembangunan Pemkot Malang tidak mengarah pada pelestarian heritage, maka predikat yang telah terlanjur diberikan oleh BPPI sebagai salah satu kota dalam “Jaringan Kota-Kota Pusaka” kiranya untuk sementara waktu “dicabut”, hingga komitmen Pemkot Malang terhadap khasanah heritagenya betul-betul teruji. Padahal, maksud utama pemberian predikat itu adalah sebagai pengingat dan pembuka kesadaran bagi masyarakat dan Pemkot Malang untuk melestarikan dan mengelola dengan bijak pusaka alam, pusaka budaya maupun pusaka saujananya.

Salam “keprihatinan” bagi Pemkot Malang, utamanya DKP. Semoga kasus buruk Pergola Jembatan Claket menjadi wahana penyadaran akan urgensi pelestarian pusaka saujana (alam dan budaya) di Kota Malang. Jika pembangunan pergola tersebut ditolelir, boleh jadi bakal muncul pergola-pergola hijau lainnya di Jembatan Spleendit dan Kahuripan yang merupakan jembatan heritage.

Dwi Cahyono

04 Oktober 2015

 


Like it? Share with your friends!