A.14A

KUNCUNG-BAWUK, SAPAAN LAMA ANAK-ANAK JAWA

Ketika sahabat keturunan Jawa-Suriname yang kini tinggal di Nederland, yaitu Kaboel Karso dan Tine Moestar, singgah di Malang pada akhir Agustus 2015 lalu, ada hal kecil yang membuat ku terkejut. Kepada anak kecilku, Jnaneswari (Anes), Tine Moestar menyapanya dengan “wuk”. Sedangkan saya sendiri menyapanya dengan “nduk”, sebab sapaan “wuk” kini tidak lagi lazim digunakan di Jawa.

Demi mendengar sapaan itu, saya pun bergegas tanya: apakah di lingkungan keturunan Jawa-Suriname sapaan ‘wuk’ untuk anak perempuan masih biasa digunakan?”. Jawabnya singkat “masih”. Saya lanjut bertanya: tahukah anda apa kepanjangan dari suku kata “wuk’ dan apakah artinya? Jawabnya: tidak.

Sapaan “wuk” merupakan akronimisasi untuk kata “bawuk”, yang konon di Jawa biasa dipergunakan untuk menyapa anak perempuan. Sedangkan untuk anak laki-laki terdapat sapaan lain, yaitu “kuncung” atau acap diakronimkan “cung” — pada dialek sub-etnik Madura menjadi “cong”, sehingga varian penyebutannya adalah “kacung” atau “kacong”. Sapaan “bawuk-kuncung” ini penah familier, yang lantas digantikan oleh sebutan “genduk” atau “nduk” dan “thole” atau “le”.

Kata “bawuk” adalah istilah dalam bahasa Jawa Baru, yang secara harafiah berarti: warna kelabu kotor. Dalam bahasa Jawa Kuna terdapat istlah “wuk”, yang salah satu alternasi artinya adalah: cairan yang berbau busuk. Istilah “wukan” malahan menunjuk pada telur busuk. Acapkali terjadi konsonan “b” bertukar dengan “w”, sehingga sebutan “bawuk” bisa bertukar sebutan menjadi “wawuk”.

Istilah itu kadang digunakan untuk menyebut kemaluan wanita (vulva). Misalnya, bila posisi duduk dari anak perempuan sembarangan, maka bisa menyebabkan kemaluannya kelihatan, dan dikatakan dengan “wawuke ketok (wawuk-nya kelihatan)”. Pengartian demikian juga tergambar pada sebutan Sumo “Bawuk” kepada pelaku ajaran sesat di Kediri beberapa tahun lalu, yang melakukan banyak tindakan perkosaan terhadap para wanita.

Dalam arti diatas, apa yang berwarna kelabu kotor dan berbau tidak enak (busuk) itu diasosiasikan dengan vulva. Oleh karena itu dapatlah difahami bila terdapat perkataan “yek …. wawuke mambu (hi … wawuk-nya bau)”, suatu sebutan yang menunjuk pada vulva yang terkena penyakit keputihan.

Adapun kata “kuncung” digunakan untuk menyebut: rambut yang menyerupai jambul di atas dahi. Model cukuran rambut demikian acap dikenakan pada anak laki-laki. Bahkan, pria dewasa pun — utamanya tentara — kini kadang bercukur kuncung. Ujung kuncung melancip ke depan. Atau terkadang disisir ke arah atas, menyerupai “kucung Semar”. Model sisiran rambut demikian kini tengah trend. Namun bukan untuk anak laki-laki, melainkan justru pada pria dewasa.

Dalam bahasa Jawa Kuna juga terdapat kata “cung”, seperti.pada akronim untuk “kuncung” atau “kacung”. Kata “cung” adalah sebutan unuk sejenis terung. Salah satu jenis terung dengan bentuk bulat kecil dan memanjang dalam bahasa Jawa Baru dinamai “terong kopek”. Pada suatu syair lagu dinyatakan bahwa “terong kopek jare lanang (terong kopek dikatakan laki-laki)”.. Dinyatakan demikian lantaran bentuknya menyerupai kemaluan pria (phallus). Hal lain yang menarik, akhir-akhir ini terdapat sebuah lagu dangdut berjudul “Terong-terongan”, yang mengasosiasikan sebutan ini pada phallus. Dengan demikian, sebutan “kuncung dan “kacung” atau akronim darinya menjadi “cung” ataun”cong” acap dilekatkan pada anak laki-laki.

Dahulu pernah pula terdapat julukan “kacung kampret” untuk menyebut anak laki-laki kurus (ngampret). Terkadang pula kata “kacung” digunakan untuk menyebut pesuruh pria — berusia anak-anak hingga remaja. Sebutan demikian dikonotasikan rendah bagi orang yang disebutkan.

Sebagaimnana halnya pada “kuncung” , yang digunakan untuk meyebut suatu model cukuran rambut anak laki-laki, sebutan “bawuk” pun juga digunakan untuk menyebut cukuran rambut untuk anak perempuan. Pada model cukuran bawuk, rambut yang disisakan atau tidak dicukur lebih banyak dan lebih tebal jika dibandingkan kuncung, dan ujungnya tidak melancip. Model cukuran ini juga dinamai “gombak”, yang mengingatkan pada rambut lebat pada vulva. Model cukur gombak atau bawuk seperti ini pada beberapa dasawarsa lalu banyak dikenakan pada anak-anak perempuan.

Pada relief Hariti di Candi Mendut, anak-anak pria asuhan Dewi Kesuburan Anak ini digambarkan dengan model rambut kuncung. Demikian pula pada relief di kaki candi sisi selatan Candi Jawi. Serupa itu juga terdapat pada patung anak pria yang dituntun oleh Men Brayut pada seni arca di Bali.

Menilik model cukuran yang demikian, tergambar bahwa cukuran rambut dengan memotong habis sebagian besar rambut di batok kepala telah dikenal pada masa Hindu-Buddha. Bahkan, pada sejumlah relief dan arca dijumpai gambaran pria berkepala plontos (gundul). Misalnya pada arca Buddha “gundul” Mahaksobhya atau Jokodolog di Taman Simpang (Taman Hapsari) Surabaya dan arca serupa yang lebih kecil koleksi Museum Pu Purwa di Kota Malang. Oleh karena itu, cukup alasan untuk mengatakan bahwa perangkat pencukur rambut, setidaknya yang berupa pisau cukur, telah dikenal pada masa itu.

Pada relief di Candi Jawi tersebut model rambut untuk anak perempuan tidak berbentuk gombak atau bawuk, melainkan diikat sebuah di belakang batok kepala. Nampaknya, model cukuran gombak (bawuk) pada anak perempuan baru berkembang pada masa yang lebih muda. Pada masa sekarang model cukuran rambut gombak atau bawuk tengah tren. Hanya saja, uniknya tidak dikenakan pada anak perempuan, melainkan justru pada pria dewasa, yang terkadang dengan arah sisiran rambut ke atas seperti pada cara bersisir “kuncung Semar”.

Kini telah jarang ditemui anak laki bercukur kuncung dan anak perempuan bercukur gombak atau bawuk. Begitu pula, sebutan “kacung” telah digantikan oleh “thole” atau cukup disebut “le” — akronim dari “konthol-e”, suatu istilah yang juga menunjuk pada phalus. Sebutan “bawuk” atau “wawuk” dengan akronim “wuk” kini digantikan oleh “genduk” dengan akronim “ndok”. Istilah ini bersinonim dengan “genuk” atau akronim “nuk”. Kata “genuk” menunjuk pada jambangan kecil tanpa bibir dari tanah liat untuk menyimpan beras, yang mensimbolkan perempuan.

Sebutan “bawuk” dan “kuncung” kini ambang dilupa oleh warga masyarakat Jawa. Padahal, pada beberapa dasawarsa lalu masih terdapat serial kartun “Bawuk-Kuncung” di media cetak. Begitu pula, kala itu terdapat majalah anak-anak bertitel “Si Kuncung”. Demikianlah, ketika di Jawa sebutan “bawuk” dan akronimnya “wuk” telah ditinggalkan, justru pada warga keturunan Jawa di Surinane sebutan “wuk” masih lazim dipergunakan. Seolah peristilahan Jawa di Suriname menjadi kamus istlah Jawa lama, yang di Jawa sendiri istilah itu boleh jadi telah tidak atau nyaris tidak dikenal lagi..

Dwi Cahyono

Sengkaling, 29 Nopember 2015

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.