Hari ini (Senin, 20 September 2015) Pemerintah Kabupaten Malang memberangkatkan tim “Ekspedisi Mata Air” oleh RADAR MALANG untuk melacak, mendata dan [seharusnya juga] memetakan (maping) mata air yang tersebar di penjuru Malang Raya. Pemetaan itu hendaknya meliputi:

(a) peta potensi,

(b) peta persebaran, maupun

(c) peta pemasalahan rinci dan akurat.

Keseluruhannya itu merupakan data base yang penting, bukan saja untuk mendayagunakan/ memanfaatkan secara optimal aset aquatik bagi beragam kebutuhan makhuk hidup (manusia, hewan dan tanaman), namun tak kalah pentingnya adalah menemukan formula solusi untuk melestarikan dan merevitalisasikan keberadaan sumber daya air.

Waktu pelaksanaan ekspedisi di bulan ini dan bulan mendatang adalah waktu tepat, ketika di puncak musim kemarau, ketika debit air berada di titik nadir — tinggal sedikit atau bahkan mengering, ketika para petani menangis lantaran tanaman budidayanya mati kekeringan, ketika warga desa perbukitan menitikkan air mata karena sumur dan sumber airnya kering kerontang. Pada saat demikian, problema riil ketersediaan air menjadi gamblang untuk dilihat, sehingga ke depan orientasi bukan hanya tertuju kepada pemanfaatan air melainkan dimbangi dengan menjaga kesinambungan atau kelestarian air lintas musim.

Mata air merupakan khasanah lingkungan. Bukan sekedar kekayaan alam/daerah, yang bebas untuk dikuras habis, melainkan komponen ekosistem yang tak boleh tidak dipertahankan keberadaannya, dan apabila memungkinkan dikuat (direvitalisasi)kan sumber daya airya serta dikondisikan hadirnya mata-mata air baru atau di”hidup”kan kembali mata air yang telah/nyaris mati.

Sejarah mencatat bahwa mata air adalah hal urgen, dan karenanya disakralkan. Prasasti Tuk Mas di lereng Merbabu pada sekitar abad VII, yang merupakan prasasti tertua di Jawa Tengah, menyuratkan keberadaan suatu mata air jenih, yang mengalirkan luapan airnya membentuk aliran sungai yang bagai aliran Sungai Gangga melalui bebatuan dan pasir. Mata air itu diibaratkan sebagai mata air (tuk) emas — sebagaimana sebutan bagi prasasti ini, yakni “Tukmas”.

Demikian pula prasasti Cunggrang (929 M), yakni prasasti tertua dari kerjaan Mataram yang berpusat di Jawa Timur era Dinasti Isana, juga membicarakan tentang sumber air, tepatnya ‘perbaikan pancuran di Pawitra (umahawya pancuran i Pawitra)”. Sangat boleh jadi, sumber air dimaksud adalah patirthan Belahan (Sumber Tetek) yang berada di lereng bawah utara-timur G. Penanggungan (nama arkhais: “Pawitra”). Sumber air ini bukan hanya penting bagi komunitas keagamaan (mandala) di Pawitra, yang lokasinya berdekatan dengan patirthan, namun juga bagi pemukim di wanua (desa) Cunggrang dan sekitarnya, yang menggantungkan pasokan air bersih dari sungai yang asal air(tuk)nya dari patirthan ini.

Kedua prasasti itu menjadi contoh representatif bahwa lembaran baru sejarah daerah dibuka dengan penyadaran akan urgensi sumber air sebagai titik “mula kehidupan”. Oleh karena itu, secara simbolik-religius, organ-organ tubuh yang berkenaan dengan air, seperti mulut, payudara, pusar dan kelamin (phallus, vulva) konon dikonsepsikan sebagai organ organ tubuh yang memiliki “mana (kekuatan gaib)”. Sesungguhnya, rasionalnya adalah dari organ tubuh itu cairan dikeluarkan atau dimasukkan untuk menjadikan kehidupan berlangsung. Demikian urgensinya air, maka dua prasyarat utama agar dewata berkenan hadir di tempat pemujaan adalah air (tirtha) dan api (agni).

Salah satu kalkulasi dalam memilih lokasi tinggal, semenjak Jaman Prasejarah hingga beberapa dasawarsa terakhir, adalah keberadaan atau kedekatan jaraknya dengan air (sumber air, genangan air, sungai, dsb). Oleh karena itu, dapat difahami bila aglomerasi (titik pemusatan) permukiman kuno berada di sekitar sumber atau genangan air atau pada Daerah Aliran Sungai (DAS) setempat. Kecenderungan demikian kian menguat di daerah berdataran tinggi semisal Malang Raya atau di daerah langka air seperti pada areal Pegunungan Kapur (Kendeng) Selatan Malang.

Secara tradisional, sesungguhnya warga desa bersahaja menyadari benar akan arti penting memelihara kebersihan, menjaga konsistensi debit air dan memanfaatkan air secara bijak. Ketika air sukar didapat, maka timbul kehati-hatian untuk tidak boros menggunakan air. Kehematannya lebih kuat dibanding kondisi padamana air berlimpah dan mudah didapat — termasuk ketika distribusi air dipermudah oleh pipanisasi, penggunaan teknologi pompa dan adanya lembaga jasa keairan. Penghargaan ataupun kepeduliannya terhadap sumber air secara eko-religius acap hadir kuat pada momentum bersih desa atau sedekah bumi. Kala itu sumber air di lingkungannya dijadikan tempat templum untuk melaksanakan ritus.

Guna meminimalkan kesembronoan orang terhadap sumber air, konon sumber air “di-gendruwo-kan” dengan menanami pohon beringin, aren, bambu, bulu, lo dsb, yang dimitoskan sebagair tempat persemayaman makhluk halus. Meludahi, apalagi mengencingi dan memberaki sumber air dirumorkan bakal mendatangkan sakit bagi pelaku (sumbing, nggondangi, dsb). Ketika alam fikir mitis-religis-magis masih membingkai kehidupan manusia, upaya seperti itu mujarab. Namun, ketika alam fikir rasional-sekularis menggantikannya, maka perlu dicari formula pengganti yang lebih tepat dengan jiwa jaman.

Mata air adalah muasal dari sungai, merupakan titik pangkal kehidupan. Jika air di titik pangkal mengering; maka jejaring keairan akan terhenti. Ketika mata-mata air itu mengering, maka pengganti darinya adalah air mata. Bahkan, pada akhirnya air mata pun berhenti mengalir, ketika cairan tubuh telah tak lagi tersisa lantaran tiada pasokan air dari alam ke dalam tubuh seiring dengan mengeringnya air alamiah. Mata air dan susunan kata baliknya, yaitu “air mata”, adalah kondisi berkebalikkan dan sekaligus sebab-akibat, bahwa lantaran air tidak keluar dari bumi, maka titiklah air dari sudut pelupuk mata.

Semoga tulisan ini menjadi pemantik sikap dan perilaku bijak terhadap air. Diharapkan pula, masyarakat kita menjadi “masyarakat keairan (hydrolic society)” dan budaya kita pun komit terhadap kelestarian air sebagai suatu “hydrolic culture”. Terhadap “Ekspedisi Sumber Air”, semoga tidak sekedar mencacah sumber-sumber air yang berpotensi untuk dieksploitasi dan selanjutnya diperdagangkan agar memberikan impact finansial bagi daerah, namun menjadi bahan penyadaran bagi Pemerintah Daerah bahwa dirinya berada pada posisi ujung tombak konservasi dan revitalisasi sumbar daya air. Jangan titikkan air matamu para pemangku mata air. Gung gung megung banyu sumbermu.

Dwi Cahyono

Sengkaling, 19 September 2015

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.