A.12A

TEMUAN RERUNTUHAN CANDI DI MENDALAN WANGI :

Penguat Bukti Sakralitas Rabut Katu

 

RELIGIO-EKOLOGIS
Dalam dua setengah bulan terakhir, dua peristiwa temuan reruntuhan candi terjadi di lembah Gunung Kawi. Ditambah dengan penemuan inskripsi-inskripsi pendek (short inscriptions) di Situs Kedaton pada waktu hampir bersamaan, data budaya masa lampau yang berhasil diketemukan ini kian menguatkan bukti bahwa Kawi adalah gunung suci (holy mountain) seperti yang dikosmogonikan dalam kitab Tantupanggelaran.

Sebagaimana telah diberitakan dalam berbagai media, termasuk artikel penulis di media sosial, pada akhir Agustus 2015 ditemukan arca Dewi Durga Mahisasuramardini dan sebuah fragmen arca serta bata-bata kuno di Desa Jatiguwi Lor Kec. Sumber Pucung pada lembah selatan Gunung Kawi. Menyusul kemudian pada tanggal 30 Oktober 2015 ditemukan arca Ganesya diantara reruntuhan bata-bata kuno di Dusun Sekarputih Desa Mendalan Wangi Kec. Wagir pada lembah sisi timur Kawi, tepatnya di kaki timur rabut (bukit suci) Katu pada lembah Kali Dem — anak sungai ‘suci’ Metro (toponimi ‘metro’ berasal dari ‘a-mreta’ artinya: air atau tirtha kehidupan/keabadian).

Bentang ekologis padamana reruntuhan candi di Mendalan Wangi ditemukan menarik untuk dicermati. Oleh karena, topografi tanahnya membukit (geneng) dan diapit oleh dua kali kecil di sisi utara (lalu bekok ke selatan) serta kali kecil lain di sisi selatan. Keduanya bertemu, kemudian memasok air ke kali yang lebih besar bernama “Kali Dem”. Aliran Kali Dem bermuara di Sungai Metro pada Dusun Darungan, yakni salah Satu dusun di Desa Mendalan Wangi. Baik di India maupun daerah-daerah lain di Jawa, Sumatra dan Bali, pada masa Hindu-Buddha areal apitan dua sungai/kali dikonsepsikan sebagai area suci, sehingga cocok untuk mendirikan bangunan suci semisal candi.

Unsur nama “mendalan’ pada toponimi “Mendalan Wangi” perlu dicermati. Asal kata “mendalan” adalah “mandala-an”. Kata “mandala” adalah istlah Jawa Kuna, serapan dari bahasa Sanskreta, yang antara lain berarti: lingkaran suci, areal suci padamana ritus-ritus keagamaan diselenggarakan (Zoetmulder, 1995:642). Areal suci dimaksud adalah bentang lahan dimana candi ini diketemukan. Dengan demikian, desa ini dinamai “Mendalan Wangi’ lantaran disini terdapat suatu mandala. Nama ini dapat dikomparasikan dengan Mendalan di Malang Barat, yang di wilayahnya dijumpai candi Hindu bernama “Candi Bocok” dan candi Buddhis yang dinamai “Candi Sapto” serta dapat pula ditambahkan reruntuhan candi di sekitarnya pada Dusun Siman Desa Gogor Pradah Kec. Kepung Kab. Kediri.

Paparan temuan diatas menberi kita gambaran tentang adanya pertimbangan religio-ekologis untuk memilih lembah Kawi — temasuk lembah Katu — dan DAS Metro beserta anak sungainya sebagai areal untuk mendirikan candi. Dalam kaitan dengan bukit suci Katu, candi Mendalan Wangi bukan saja ditempatkan di kaki Bukit Katu, namun sekaligus dikiblatkan (diorientasikan) ke puncaknya. Bukit ini disebut di dalam kitab gancaran Pararaton dengan sebuatan “rabut (bukit suci)”. Diberitakan bahwa sekitar Rabut Katu banyak didapati burung, sehingga menjadi tempat pilihan bagi para pemikat untuk medapatkan tangkapan. Hingga beberapa dasawarsa lalu, masih banyak aneka burung kedapatan di daeah ini.

 

PAPARAN TEMUAN
Sebenarnya bata-bata kuno telah didapati pada awal tahun 2015 ketika lahan di timur kandang ayam mulai digali untuk bahan pembuatan genting — industri rakyat pembuatan bata dan genting di Desa Mendalan Wangi tumbuh dan berkembang sejak tahun 1990an. Pada awal penggalian tanah di areal ini pernah ditemukan struktur bata berbangun persegi panjang, menyerupai kolam. Kendati demikian, penggalian tanah milik keluarga kepala desa Mendalan Wangi bernama “Saroni” — kepala desa termuda di Kab. Malang ketika dilantik — tersebut terus berlanjut hingga ditemukannya arca Ganesya di awal minggu ini. Akibatnya, banyak bata-bata kuno yang terbongkar pada areal gali sekitar 10 X 8 m dengan kedalaman 3-4 m dari muka tanah asal.

Arca ganesya tersebut berukuran relatif kecil.(T= 43, L asana = dan Tbl asana = m), terbuat dari batu padas berpasir. Ditemukan diantara reruntuhan bata pada lapisan tanah sedalam 1,5 m dari muka tanah asal. Kendati beberapa bagiannya telah rompal, pecah dan aus, namun secara keseluruhan boleh dibilang relatif utuh dan karenanya dapat diidentifikasikan detail ikonografisnya.

Ganesya adalah putra bungsu Dewa Siwa dalam wujud antropomorfis , yakni manusia setengah gajah. Bertangan empat (catur bhyuja), dengan rincian: tangan kedewatan (bagian belakang) kanan membawa aksamala (tasbih) dan kiri-belakang memegang camara (kebut lalat). Tangan depan- kanan bermudra “bumisparsa”, dan lengan tanan kiri-depan patah — jika utuh memegang mangkok, padamana belalai mengarahkan lekukan. Posisi kakinya duduk di singgasana yang berbentuk bunga teratai merah merekah (padmasana), menyerupai cara duduk bayi (footbaby). Punggung Ganesya menempel sandaran (stella). Di sekeliling kepalanya terdapat bulatan (sirascakra) sebagai petanda kesuciannya. Aksesoris yang dikenakan berupa kalung (hara), tali kasta (upawita), jamang, kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana), serta unsur aksesoris lain yang tak jelas lantaran aus.

Pada hari Kamis, 4 November 2015, diketemukan patahan bagian atas Lingga dari batu andesit keras (T = 13, D bagian silindris = 11 cm). Bagian yang tampak berupa bagian silindris (Siwabhaga) dan sebagian dari bagian segi delapan (Wisnubhaga). Yang belum ditemukan adalah bagian segi empat (Brahmabhaga). Lingga sebagai simbol Siwa lazimnya menancap pada Yoni sebagai simbol Dewi Uma atau Parwati, yang masih belum ditemukan. Oleh karena dalam candi Hindu-Saiwa patung Lingga-Yoni adalah simbol dewata utama (istadewata), maka bahannya dibedakan dari arca-arca lain, yaitu batu kali (andesit) — arca-arca lain hanya dari batu padas bepasir.

Selain itu Jumat, 6 November 2015, ditemukan fragmen arca Nandi (wahana Siwa) dari batu padas berpasir dengan ukuran agak kecil (P = 30, T= 15 dan L= 13 cm). Patung lainnya adalah sebuah kepala naga (T= 15, P = 20 dan L= 18 cm) dari terra cotta. Menilik bahannya dan perbandingan dengan candi lain, yaitu Candi Kidal dan Candi Sawentar, ada kemungkinan patung ini merupakan bagian dari bangunan candi, yang ditempatkan di ujung pipi tangga. Jika benar demikian, mustinya berjumlah sepasang.

Temuan lainnya berupa bata-bata kuno berukuran besar (P = 37, L = 23 dan Tbl = 9 cm), yang sebagian diantaranya dilengkapi dengan pelipit persegi. Apabila menilik keberadaannya pada lapisan tanah tergali, bata-bata kuno ini berada pada kedalaman sekitar 60 cm hingga 2 m dari muka tanah asal. Kecuali di sisi timur areal gali, ada indikasi bata-bata kuno ini telah mengalami keruntuhan sebelum tertutup oleh lapisan tanah dari masa kemudian.

 

REKONSTRUKSI DAN EKSPLANASI

 

Tidak diragukan bahwa temuan tersebut diatas adalah reruntuan bangunan suci, yang berupa candi Hindu sekte Saiwa. Petunjuk kearah itu berupa arca-arca dewata dari Siva Family, yang berupa Lingga (simbol Siwa), Ganesya (putra Siwa) dan Nandi (wahana Siwa). Apabila menilik pantheon candi Hindu-Siwa yang terdiri atas:

(1) Arca Lingga-Yoni atau Siwa Mahakala di bilik utama (garbagreha),

(2) Arca Durga Mahisasuramardini di relung utara,

(3) Arca Ganesya di relung belakang,

(4) Arca Rsi Agastya atau Siwa Mahaguru di relung selatan, serta

(5) Arca Siwa Mahkala dan Nandiswara, berarti masih ada beberapa arca yang belum diketemukan, yaitu arca Durga, Agastya, Mahakala dan Nandiswara. Yang telah didapat barulahLingga sebagai pengisi bilik utama dan Ganesya di relung belakang.

Mengingat bahwa arca Ganesya konon ditempakan pada relung belakang, maka boleh jadi bagian dari bangunan candi yang telah tergali adalah sisi belakang hingga tengah. Separuh candi induk bagian depan dan tangga candi diperkirakan masih berada di dalam tanah yang kini belum tergali. Jika prakiraan ini benar, berarti candi induk menghadap ke timur dan orientasi ke barat, yakni ke puncak Rabut Katu yang disakralkan oleh para pemangku candi ini.

Selain candi induk, di areal ini pernah terdapat candi perwara. Hal ini diindikatori oleh adanya arca Nandi. Pada umumnya arca Nandi ditempatkan di candi perwara, yang terletak di muka candi induk. Boleh jadi pula, reruntuhkan candi perwara itu masih berada di dalam tanah yang belum tergali.

Komponen bangunan lainnya adalah patirthan. Jika benar informasi warga bahwa di sebelah belakang-kiri candi induk pernah terdapat struktur bata berbangun persegi panjang yang bentuknya menyerupai kolam, berarti kompleks candi ini konon dilengkapi dengan patirthan, yang asal airnya dari rembesan akar-akar pohon. Sumber air pemasok patirthan tersebut mengering seiring dengan matinya pepohonan di sekitar patirthan. Pada umumnya candi dilengkapi dengan patirthan (beji), tak terkecuali di kompleks candi ini.

Reruntuhan candi di Mendalan Wangi dapat dikategorikan sebagai “candi bukur”, yang khalayak penyungsungnya adalah warga desa padamana candi ini berada. Hal ini dapat dibandingkan dengan pura desa di Bali. Candi bukur serupa juga didapati di Dusun Genengan Desa Parangargo. Kedua candi ini berorientasi ke puncak Rabut Katu.

Pada puncak Katu juga terdapat reruntuhan candi berukuran lebih besar, yang merupakan candi utama di kawasan Katu. Candi tersebut diprakirakan tempat pendharman Ken Angrok, yang menurut keterangan dalam Kakawin Nagarakretagama (1365 M) maupun prasasti Mula-Malurung (1255 M) didharmakan di candi megah Kagenengan. Jika benar demikian, berarti candi Hindu di puncak Katu adalah pendharman Ken Angrok, yakni bagi cikal bakal (vamsakreta atau vamdakara) bagi kedinastian Singhasari dan Majapahit. Candi ini pernah dipugar atas perintah raja Hayam Wuruk, bahkan pernah diziarahi oleh Hayam Wuruk dan rombongannya. Menilik arah kedatangan dari rombongan pylgrime itu, yani dari arah timur, bisa jadi pendakian ke puncak Katu dilakukan dengan mendaki lereng timur, entah melewati daerah Mendalan Wangi ataukah Parangargo.

Apabila benar bahwa Candi Kagenengan terletak di puncak Katu, berarti di salah satu areal sekeliling Katu pernah terdapat reruntuhan bangunan suci Buddhis, seperti diberitakan oleh Kakawin Negarakretagama. Jejak budaya masa lalu, yang berupa artefak megalitik dan arca-arca Hindu, kedapatan di Desa Bakalan Krajan. Selain itu, menilik unsur namanya, yakni “Kemulan”, yang berasal dari “kamulan (ka-mula-an)”, boleh jadi jejak budaya Masa Hindu-Buddha juga kedapatan di desa yang berada di sekitar Bukit Katu ini.

Persebaran tinggalan Hindu dan Buddhis di sekeliling Rabut Katu sebagaimana terpapar diatas menguatkan bukti atas sakralitas Bukit Katu, yang seakan menjadi titik sentrum bagi bangunan-bangunan keagamaan Masa Hindu-Buddha. Bahkan, bukit yang diberi nama menurut nama pohon ini seolah ‘dimahkotai” dengan candi Hindu pendharmman bagi Ken Angrok. Sayang sekali pohon katu luar biasa besar, yang sebelum dasawarsa terakhir tampak jelas dari kejauhan menjadi semacam ‘landmark’ bagi Bukit Katu telah ditebang guna pembangunan cungkup di reruntuhan candi itu.

Selain itu diperoleh gambaran tentang keberadaan bangunan-bangunan suci di DAS Metro dan anak-anak sungainya. Hal ini mengukuhkan tesis mengenai kesucian Sungai Metro, yang ber-tuk (bermata air) di lereng Panderman, yakni anak gunung ‘suci’ Kawi. Pada sisi lain kita dapati bukti bahwa sekeliling Katu konon merupakan kawasan permukiman dan sekaligus aglomerasi budaya pada masa Hindu-Buddha.

 

URGENSI TEMUAN
Sekecil apapun tinggalan masa lampau yang sampai kepada kita adalah sumber informasi yang amat berharga. Sejalan dengan pemikiran ini, tinggalan yang didapat di Desa Mendalan Wangi adalah sumber informasi Masa Hindu-Buddha mengenai suatu bangunan suci (baca ‘candi’) berlatar agama Hindu-Saiwa di kaki timur Rabut Katu. Dengan adanya temuan ini, diperoleh bukti yang tak terbantahkan bahwa Mendalan Wangi adalah desa kuno yang konon warganya menganut agama Hindu.

Oleh karena itu cukup alasan untuk menyatakan bahwa warga Hindu di Darungan, yakni salah satu dusun di Desa Mendalan Wangi, memiliki akar sejarah yang setidaknya bisa diasalkan pada Masa Majapahit. Dusun ini memiliki warga yang sebagian besar adalah memeluk agama Hindu. Bahkan disini terdapat Pura “Mergo Moksa”, pura terbesar di wilayah Kecamatan Wagir, yang dibangun pada tahun 1979.

Menilik arti pentingnya temuan di Mendalan Wangi tersebut, seharusnya dilakukan upaya penyelamatan terhadap arca dan jejak bangunan candi, baik yang telah diketemukan ataupun yang berpotensi terdapat di dalam tanah yang belum tergali. Proses penemuan dan perlakuan yang telah diberikan terhadap temuan ini bisa dijadikan catatan pembelajaran untuk hal serupa di tempat lain, yakni:

(1) pemahaman dan kesadaran warga desa terhadap pusaka budaya (cultural heritage) perlu ditingkatkan, agar tidak terulang keterlambatan dalam menyikapi keberadaan tinggalan masa lalu ketika melakukan penggalian tanah;

(2) adanya keguyupan untuk menyelamatkan temuan arkeologis, seperti dicontohkan oleh penjagaan bersama dari aparat Polsek dan Koramil Wagir serta aparat dan warga Desa Mendalan Wangi;

(3) tergambar minat khalayak, baik warga lintas desa, insan pers maupun anggota komunitas peduli untuk menyaksikan dan memberitakan temuan arkelogis.

Hal yang acap terjadi adalah justru keterlambatan dari Disbudpar dan BPCB setempat untuk terjun ke lapangan setelah pelaporan penemuan disampaikan kepada institusi berwenang ini. Dalam hal itu, perlu kiranya dibentuk semacam “Unit Reaksi Cepat Konservasi (URCK)” pada kedua institusi tersebut untuk wajib sesegera mungkin melakukan peninjauan lapangan begitu memperoleh informasi tentang adanya penemuan tinggalan sejarah, arkeologi ataupun unsur tradisi yang langka dan penting.

Demikianlah paparan singkat dari hasil peninjauan lapangan yang penulis lakukan pada hari Jumat, 6 November 2015. Semoga aparat yang berwewenang dan berkompeten bertindak secara proporsional dan profesional untuk menyelamatkannya. Tak lupa, terimakasih atas informasi dini yang diberikan kepada saya dari berbsgai pihak untuk meninjau temuan maupun memaparkan hasil peninjauan ini.

Dwi Cahyono

Sengkaling, 7 November 2015

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.