Phalus Bhima


A.09

MAKNA FERTILITAS SIMBOL PHALUS PADA IKONOGRAFI DAN SUSASTRA LAKON : Bhima Sahabat Petani

Kongres Sungai Indonesia (KSI) Pertama pada bulan Agustus 2015 lalu diselenggarakan di Kabupaten Banjarnegara — salah satu daerah di Jawa Tengah yang berada di DAS Kali Serayu. Lembah sekitar alirannya beserta anak-anak sungainya merupakan areal pertanian yang luas dan subur. Vulkan Dieng dan Kali Serayu adalah dua unsur fisis-alamiah yang memberi berkah kesuburan (fertility) bagi Banjarnegara untuk tampil sebagai lumbung pangan regional bahkan nasional.

Kali Serayu, mulai dari tuk (mata air) hingga batang sungainya, dibalut dengan mite tentang Bhima. Tuk Kali Serayu yang berwujud sebuah patirthan di lereng atas Dieng pun diberi sebutan “Tuk Bhimo Lukar”. Kata “lukar” berarti lepas busana (telanjang). Dalam kontek ini terkandung kisah bahwa Kali Serayu berasal dari air kencingnya Bhima.

Kisah tersebut bergayut dengan salah satu diantara puluhan lakon wayang pedesaan dengan tokoh peran utama Bhima (aneka lakon Bhima) yang diinventarisasikan oleh J.L. Moens tahun 1930-an di daerah Gunung Kidul dan Nganjuk. Kumpulan lakon Bhima yang kini menjadi naskah koleksi Perpustakaan Univ. Leiden ini pernah dipublikasikan oleh Th. G. Th. Pigeud dalam buku berseri “Literature of Java” (1980). Lakon Bhima terkait dengan Serayu adalah “Lampahan Bimo ing Lepen Serayu” (LOr. 12 577 No. 23). Dalam lakon yang juga disebut “Bimo Ngluku” ini dceritakan tentang pertandingan membuat sungai — yakni Lepen Serayu — antara Kurawa dan Pandawa, yang dimenangkan oleh Pandawa. Bhima (Wijasena) menggalinya dengan “meluku (membajak)” mempergunakan phalusnya. Agar tegak dan kencang (ereksi kuat), widyadhari Supraba nan cantik diminta untuk duduk di batang phalusnya.

Kebutuhan air untuk irigasi bagi persawahan maupun air bersih bagi keluarga yang bermukim di DAS Serayu dipasok oleh air Kali Serayu. Tergambar jelas bahwa dalam kisah ini phalus Bhima berelasi dengan pertanian lewat Kali Serayu yang dibuat olehnya. Relasi pertanian dan Bhima juga tergambar pada “Lampahan Bimo Tulak” hasil diinventarisasi Moens (LOr. 12.577 No. 10), yang mengkisahkan jasa Bimo dalam memberantas hama yang menyerang persawahan padi yang baru dibuka di areal hutan Suwelagiri. Caranya pada tengah malam Werkudoro (Bimo) diikuti saudara-saudaranya keluar rumah tanpa berbusana (telanjang) sambil membaca mantra dan membawa Serat Kalimasada untuk mengitari persawahan yang diserang hama wereng — sebagai wujud anak-anak prabu Kalagumarang dari nagari Nganjuk. Ujung penis (phalus) Bimo memancarkan sinar kehijauan — mengingatkan pada cahaya phospor, yang memiliki daya absorbsi luar biasa kuat untuk menyedot wereng-wereng di persawahan itu hingga habis total.

Pada lakon tersebut, keluarga Pandawa yang terusir dari istananya karena kalah dalam berjudi dadu melanjutkan kehidupannya dengan membuka hutan untuk dijadikan sebagai areal persawahan padi (ekstensifikasi pertanian). Kisah ini pada masyarakat petani di wilayah selatan Jawa Tengah dinamai lakon “Pendowo Tani”, suatu lakon wayang kulit yang acap dipentaskan dalam upacara “bersih deso”.

Tema agraris juga hadir dalam “Lampahan Bimo Madamel” yang juga diinvetarisasi oleh Moens (LOr. 12.577 No. 13), yang mengkisahkan bahwa di nagari Jodipati Arya Wetkudara (Bimo) diperintahkan oleh Dewa di Suralaya agar ia dan sanak keluarganya menanam padi ketan gondil, agar kelak keturunannya dapat menjadi Raja Jawa. Serupa dengan lakon “Bimo Tulak”, dalam lakon ini anak prabu Kalawintaka dari nagari Nganjuk yang bernama iying-iying sebagai hama padi berkeinginan untuk memangsa padi ketan gondil itu. Dengan bantuan Batara Lidra, Bimo dan anak istrinya membasmi hama pada malam Selasa Kliwon dengan perangkat berupa sesajian, senjata (gada, keris), dupa serta pembacaan mantra oleh Bima.

Pada lakon “Bimo ing Lepen Serayu” dan Bimo Tulak” maupun tutur teteng “Tuk Bimo Lukar” tersebut, salah satu dari kehandalan Bhima adalah pada phalusnya, baik sebagai muasal dari sungai ataupun penyirna hama tanaman padi. Lakon lain yang juga berkenaan dengan phalus Bima adalah “Lampahan Bimo Kecep”. Hanya saja, dalam lakon ini phalusnya digunakan tidak senonoh beserta akibatnya. Dikisahkan bahwa dalam tapa tidurnya di Pucang Sewu, Arya Bimo digoda oleh Dewi Uma. Bima merasa tertarik kepada Dewi Uma, dan keduanya lupa diri. Demi mengetahui tindak tak senonoh dari istrinya itu, Batara Guru menghampirinya dengan membawa pusaka Kyai Cis Jaludara, yang menyebabkan terpotongnya phalus Bimo, dan phalus terpotong itu berubah menjadi senjata Angking Gobel, yang nantinya berguna untuk membasmi hama padi Ginjah Klepon. Akibat senggama itu, Uma hamil dan melahirkan anak yang dinamai “Bimadari,” yang kelak menolong Bima dalam perang Bharatayuddha.

Pada tinggalan ikonografis, baik arca ataupun relief candi, maupun susastra tekstual dan lakon, figur Bhima acap diberi citra maskulin. Namun anehnya, dalam lakon ” Bimo Dipun Lamar” dan “Arjuna Nyusu Bimo Kopek”, ia diberi muatan feminin. Unsur maskulin dan feminin hadir dalam diri Bhima. Citra maskulin dari Bhima hanya tergambar pada tubuhnya yang kekar, berbulu di beberapa organ tubuhnya dan keperkasaannya, lebih dari itu dipersonifikasikan dengan menonjolkan simbol maskulinnya yang berupa phalus, yang sengaja dibuat tidak proposional — lebih besar dari ukuran normal. Meski phalusnya berbalut cawat kotak poleng bang bintuku (jlamprang), namun cenderung digambarkan menonjol. Pada sejumlah arca, sebagian dari phalusnya sengaja diperlihatkan, bahkan ada yang tampil telanjang. Misalnya, arca perwujudan raja Astasura Ratnabhumibanten berupa Bhima-Bhairawa di Pura Kbo Edan, phalusnya digambarkan terayun keluar dari cawatnya ke arah kiri sebagai efek dari gerak dinamis tariannya.

Fenomena phalus Bhima (dalam bahasa Jawa Baru [maaf] juga disebut “konthol Bhimo” — hadir bersamaan waktu dengan kian menguatnya kultus terhadap phalus (phalisme), sebagai bentuk naturalis dari Lingga. Dalam cerita “Dewadaru Mahatmya”, Lingga dinyatakan sebagai phalus Siwa. Jika Bhima adalah salah satu sebutan dari delapan nama Siwa seperti dinyatakan dalam Bhrahmanda-purana, yaitu Rudra, Bhawa, Sarwa, Isa, Pasupati, Bhima, Ugra dan Mahadewa, berarti phalus Bhima identik dengan phalus Siwa, yang tiada lain adalah Lingga.

Kultus terhadap phalus (phalisme) utamanya menguat pada masa Akhir Majapahit di daerah pinggiran (luar keraton), di lereng-lereng gunung serta pada pedesaan agraris. Patung phalus lengkap dengan penis bell (empat butiran sekitar ujung penis) didapati di sejumlah situs, antara lain di Candi Sukuh dan Cetho serta tempat lain — misal dengan sebutan “reco gathak” di situs Ngujang (Tulungagung) dan Kacuk (Kota Malang). Kata “gathak” dan “kacuk” bersinonim arti dengan istilah “phalus” dan “konthol” tsb. Arca phalus dan vulva yang mendekati naturalis juga terdapat di Pura Pusering Jagad. Selain itu terdapt arca tokoh telanjang, dengan phalus difungsikan sebagai lobang pancuran air (jaladwara) di situs Reco Warak (Kab. Blitar).

Begitu dekatnya tokoh mitos Bhima dengan masyarakat, hingga latar geografis kisah kehidupan Bhima dan keluarga besarnya dalam pandangan budaya petani Lawu dilokasikan terjadi di lereng barat Gunung Lawu. Pada kawasan ini, arca dan relief Bhima kedapatan beberapa buah, seperti di candi Sukuh dan Cetho maupun di punden Plagatan dan Nglurah. Bahkan, upacara bersih desa di Pancot diwarnai oleh lakon “Bhimaya Kumara” –lakon ini juga termaktub dalam prasasti Wukajana (908 M) dari raja Balitung, mengkisahkan Bhima berhasil memecah kepala Kicaka hingga otaknya berhamburan keluar. Terkait dengan kisah itu, manakala upacara bersih desa di Desa Pancot (lereng Barat Lawu, dekat Punden Nglurah) disajikan penganan bubur sungsum, yang mensimbolkan kekalahan Kicaka di tangan Bhima. Selain itu para warga sekitar bukit Sukuh pun pantang menyebut putra Bhima dengan “Gatutkaca”, karenanya menggunakan sapaan “Tetuka”.

Selain tokoh Bhima, terdapat pula sejumlah arca berbentuk manusia atau binatang dengan phalus yang kelewat besar dan pajang. Dalam cerita tutur, phalus Bhima juga dinyatakan seperti ular yang panjang. Arca figuratif dengan phalus amat besar atau kadang besar-panjang terdapat di Candi Sukuh, situs Gaprang (Kab. Blitar) — berupa raksasa/i dengan phalus dan vulva yang sangat besar, situs Jatimulyo (Tulungagung), dsb. Terkadang phalus itu digambarkan dalam proses menyatu dengan vulva, sebagai simbolisasi dari coitus, bermakna kekuatan tertinggi dan kesuburan (fertility), seperti pada relief lantai di gapura I Candi Sukuh dan di halaman Cetho. Bahkan, ada pula relief yang menampilkan coitus secara naturalis, seperti terdapat di candi perwara Tegawangi, candi induk Penataran, dsb.

Bersamaan dengan fenomena phalisme tersebut, terdapat pula gambaran vulva naturalis, seperti relief lantai pada gapura I candi Sukuh, ujung aras cerat Yoni di Candi Tegawangi, Pura Pusering Jagad, dsb. Jika phalus adalah simbol lingga Siwa, maka vulva adalah simbol Yoni dewi Uma (Parwati). Pertemuan phalus-vulva sama halnya penyatuan Lingga-Yoni atau dipersonifikasi dalam bentuk koitus. Dalam konteks religi, koitus adalah wahana penyatuan antara Jiwa Manusia dan Jiwa Kosmis, dan karenanya menjadi perantara untuk mencapai “kepuasan jiwa”.

Gambar phalus dan kalimat yang berhubungan dengannya juga tampil dalam data epigrafis. Sejauh telah diketahui ada empat prasasti yang menyebut “Bhima”, yaitu prasasti Wukajana (908 M) yang antara lain memuat perkataan “bimmaya kumara”, serta prasasti pendek (short inschriptions) pada arca Bhima seperti prasasti Tamiajeng, Benfosari dan Nglawang.

Ada pula prasasti pendek yang walaupun tidak memuat nama “Bhima”, yang menarik disertai gambar gurisan berbentuk phalus dalam posisi berdiri tegak, yaitu prasasti Samirana. Memuat kalimat “ri saka 1370 nir wiku bakitri lmah”. Menurut M.M..Soekarto KA (1983), phalus yang tegak berdiri menggambarkan “uddhawareta” (uddhawa = tegak atau ereksi, dan reta = air mani). Dengan kata lain menggambarkan kondisi mastrubasi atau puncak kenikmatan. Boleh jadi, kata “uddhawa” dalam bahasa Jawa Baru menjadi “mudo –》ma-udwa”, yaitu bertelanjang, yang dijadikan upaya magis untuk mengusir makhluk halus. Selain itu terdapat prasasti Palemaran, yang pada baris ke-8 memuat gambar gurisan berupa lingga (phalus) diantara perkataan “sakawarsa” dan tarikh 1371. Konteks keletakan prasasti ini adalah patirthan di bukit (wukir) Damalung.

Phalus bukan sekedar simbol maskulinitas, namun juga media salam ritus kesuburan, sekaligus piranti mengusir kekuatan gaib yang bersifat jahat. Tokoh Bhima beserta phalus-nya, oleh karenanya acap menjadi media “peredam murka alam”, seperti tampak pada arca Bhima pada situs Arcapada (tepian lereng pasir Semeru), situs C. Gambar Wetan pada tepi “Kali Lahar” Kelud (Kali Bladak), dsb. Phalus ataupun vulva merupakan organ tubuh tertentu, yang dikonsepsikan memiliki kekuatan gaib (mana), baik terkait dengan kesuburan ataupun protektor (pelindung, penolak bahaya gaib). Integrasi phalus-vulva sebagai simbolisasi coitus bermaknakan kekuatan tertinggi, merupakan bentuk naturalis perihal penyatuan Lingga-Yoni, Siwa dan Saktinya.

Konsep kesuburan yang menjadi makna simbolik phalus maupun integrasi phalus-vulva dan relief adegan coitus relevan dengan sosio-kultural agraris, dimana “kesuburan”menjadi aspek penting sosio-ekonomi agraris warga daerah pedalaman Jawa. Bhima bukan hanya diposisikan sebagai ksatria dalam wiracarita Mahabharata, namun sekaligus adalah perwujudan “dewa lokal” yang dikultuskan oleh petani luar keraton. Kedekatan para petani dengan Bhima bukan hanya diindikatori oleh banyaknya arca Bhima dan relief cerita Bhima pada masa Keemasan hingga Akhir Majapahit, namun juga mentradisi dalam seni pertunjukan, utamanya wayang kulit. Beragam lakon Bhima. Diinventarisasi oleh J..L Moens pada tahun 1930an dari dalang-dalang desa di Gunung Kidul dan Nganjuk.

Beberapa lakon itu diantaranya berkenaan dengan phalus Bhima, kisah pertanian, usur kesuburan tanaman dan pemberantasan hama. Yang unik, menarik dan penting untuk dicontoh, di kawasan selatan Yogya dan Solo, lakon-lakon Bhima dalam kontek budaya agraris menjadi menu kisah terpilih pada pentas wayang kulit dalam ritus Bersih Desa di desa-desa pertanian. Demikianlah, phalus yang ditampilkan pada relief candi dan seni arca Masa Hindu-Buddha jauh dari maksud pornografi. Bila ada yang tergesa melontarkan “tuduhan porno” terhadap paparan diatas, justru orang itulah yang kognisinya dikuasai kepornoan.

Khasanah budaya masa lalu yang berkenaan dengan Bhima tersebut merupakan media bagi ritus kesuburan, yakni ritus yang penting pada kaum tani. Pesan yang tersirat didalamnya adalah bahwa phalus bukanlah piranti kemaksiatan dan kejahatan seksual, melainkan unsur mikro kosmos yang disimbolisasi dan digunakan sebagai perangkat upacara kesuburan, baik kesuburan anak maupun kesuburan tanaman dan hewan ternak. Phalisme sama sekali tidak mengajarkan paham kebebasan seksual (ngumbar howo napsu), alih-alih justru menekankan perlunya pengendalian nafsu agar tidak salah penggunaan. Phalus Bhima dalam konteks ini bisa dijadikan media penyampai pesan bahwa berkat phalusnya lah air keluar, sungai terbentuk, hama tanaman disirnakan, dan kesuburan dihadirkan. Bhima oleh karenanya layak mendapat predikat sebagai “sahabat kaum tani”.

Semoga tulisan ini membuahkan makna.

Dwi Cahyono

Sengkaling, 16 0ktober 2015


Like it? Share with your friends!