A.10

RELIEF “TIBAN” PADA CERITA PARTAYAJNYA DI CANDI JAGO:

Akar Tradisi Magi-Imitatif Ikhtiar Minta Hujan

“Banyak jalan menuju Roma”, dalam arti beragam cara untuk mencapai tujuan. Peribahasa klasik ini sengaja dipakai untuk menggambarkan ragam upaya untuk ‘mendatangkan hujan di puncak musim kemarau’. Salah satu cara, yang bersifat magis, dalam tradisi budaya pada sejumlah tempat di Nusantara adalah ritus magis yang antara lain dinamai “tiban”.

Ada beberapa sebutan baginya. Selain “tiban” yang acap dipakai di tlatah budaya Mataraman, terdapat pula sebutan “[h]ujung” atau “ujung-ujungan” di Jawa Timur. Folklore ini berupa pertarungan dua orang dengan jalan mencambukkan secara bergantian cemeti ke tubuh lawan, dengan iringan musik yang bersahaja. Bahan cemeti bisa berupa untaian lidi daun aren atau bisa juga batang rotan. Di Bali, tepatnya di Desa Adat Tengenan-Pegringsingan”, cemeti itu berupa daun pandan berduri, sehingga dinamai “perang pandan”. Lebih ke arah timur lagi, yakni di masyarakat etnik Sasak (Lombok), terdapat tradisi “prisean” untuk menyebut permainan tradisional demikian.

Pada susastera Jawa Kuna diperoleh sebutan “prang pupul”, sebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakretagama (87.1-2). Pemberitaannya dalam konteks festival bulan Caitra di Kadatwan Majapahit. Dengan demikan, kata “prang” pada konteks permainan ini adalah permainan untuk bertanding, serupa dengan “perang pandan” di Bali Timur. Kata “pupul” atau kata jadiannya “amupul, pinupul, kapupulan”, secara harafiah antara lain berarti: mengumpulkan atau menghimpunkan (Zoetmulder, 1995:881). Pada perkataan “prang pupul”, permainan ini bisa jadi menunjuk pada pertarungan untuk “mendatangkan” sesuatu. Slamet Mulyana (2006:399) malah mengartikannya dengan perang pukul. Jika benar demikian, pertanyaannya adalah pertandingan adu pukul tersebut menggunakan alat memukul apa dan untuk mendatangkan apa?

Boleh jadi alat pukul yang dipakai adalah batang kecil. Bukan berupa tongkat kayu, melainkan potongan batang rotan (bahasa Jawa Baru “menjalin”). Hal ini mengingatkan kita pada permainan “[h]ujung”, yang dimaksudkan untuk mendatangkan hujan. Pengartian ini ditopang oleh data ikonografis yang berupa detail pahatan pada relief cerita Patayajna di teras ke-2 sisi utara Candi Jajaghu (Jago). Konteks kisahnya adalah perjalanan Parta (nama muda dari Arjuna) menuju ke Gunung Indrakila untuk bertapa. Dalam perjalanan di siang hari itu, Partha beserta dua punakawan (pengiring ksatria)-nya dihadang hujan lebat. Hujan digambarkan dalam bentuk garis-garis vertikal bersejajarar agak miring. Arjuna berpayungkan daun pisang, sedangkan kedua punakawannya basah kuyup tanpa payung.

Pada detail relief itu, di ujung atas garis-garis hujan tampak pahatan kecil berupa dua raksasa tengah bertarung dengan menggunakan tongkat pemukul. Pada bagian atas tongkat pukulnya dipahatkan pancaran kilat (petir). Adegan ini mengingatkan kita pada permainan ujung atau tiban, yakni ritus magi untuk mendatangkan hujan.

Ritus magis dalam permainan hujung (tiban) masuk dalam kategori “magi-imitatif atau simpatetik magis”, yaitu tindakan simulatif yang secara simbolik menyerupakan (imitatif) suatu tindakan atau kejadian dengan yang sesungguhnya. Dalam ritus magi terdapat suatu logika, yang dinamai “magilogika” — istilah ini diadaptasi dari “mitologika” Levi Strauss. Tongkat pemukul yang mengenai tubuh menyebakan kulit terkoyak, dan akibatnya meneteslah darah. Jika pemukul tersebut berupa cambuk, lecutannya mengeluarkan bunyi “jeder”. Hal ini mengimitatifkan peristiwa alam, berupa sambaran petir yang menyebabkan robeknya langit dan akibatnya teteslah hujan. Pada prinsip “keserupaan” ini, suara lecutan cambuk menyerupakan suara kilat. Adapun robeknya kulit yang terkena sabetan cemeti mengibaratkan robeknya langit lantaran sambaran petir. Darah yang menetes dari kulit yang sobek karena sabetan cambuk ibaratkan tetesan air (hujan) akibat robeknya langit karena tersambar petir. Lewat ritus magi-imitatif ini, hujan diharap bakal turun.

Pada lingkungan sosio-budaya Jawa, magi-simpatetik berbentuk tiban (ujung) diselenggarakan untuk mendatangkan hujan pada puncak musim kemarau atau jelang masa tanam. Yang menarik, tradisi ini menjadi menu acara rutin pada penghujung rangkaian ritus Karo pada sub-etnik Tengger, tak terkecuali sub-etnik Tengger di Desa Ngadas, yang hanya berjarak belasan kilo dari Candi Jago. Permainan tradisional ujung-ujungan di Tengger berlangsung lintas generasi. Bahkan, pada tiga dasawarsa lalu dan sebelumnya, tiban (ujung) marak dilakukan di lingkungan agraris pada penjuru daerah di Jawa, utamanya di puncak kemarau atau jelang masa tanam.

Paparan diatas memberi gambaran interpretatif bahwa tradisi tiban (ujung) memiliki akar sejarah panjang, setidaknya telah ada sejak masa Majapahit. Relief di Candi Jago yang dipahat pada medio abad XIV Masehi dan perkataan “prang pupul” dalam Kakawin Nagarakretagama yang rampung disurat oleh rakawi Prapanca tahun 1365 Masehi menjadi pembukti akan ketuaan tradisi tiban (ujung). Permainan rakyat di lingkungan petani ini sengaja dilakukan sebagai ikhtiar magis untuk mendatangkan hujan, khususnya di penghujung musim kemarau jelang memasuki masa tanam.

Upaya itu bukanlah satu-satunya ikhtiar magis untuk menurunkan hujan. Upaya simpatetik magik lainnya berupa memandikan nekara pada Pura Panataransasih di Pejeng. memandikan arca Bhima di Desa Tambak Watu pada lereng utara-timur Arjuna, memandikan kucing dalam ritus “manten kucing” di Tulungagung, menancapkan lombok merah pada ujung sapu lidi yang ditaruh di tanah dalam posisi terbalik, dsb. Selain itu, umat muslim menempuh upaya religis berupa Sholat Istiqo’, sedangkan Lembaga Klimatoligi dan Geofisika melakukan rekayasa alam dengan menebarkan garam di angkasa.

Masing-masing upaya memiliki dasar logika dan dasar keyakinannya sendiri-sendiri. Yang terang, ragam upaya itu adalah ekspresi budidaya untuk mendatangkan hujan dengan cara tertentu yang dipandang mujarab sesuai dengan sosio-budaya dan kognisinya. Upaya manusia itu sesungguhnya bukan hanya untuk kepentingan manusia, namun hasilnya bermanfaat pula bagi tanaman dan binatang. Oleh karenanya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bahkan, untuk itu mereka merelakan darahnya menetes, yang dalam ritus tiban(ujung) dimaksudkan demi turunnya hujan yang amat dinanti-nantikan.

Sekilas ritus tiban (ujung) terkesan kurang manusiawi, karena dilakukan dengan saling melukai tubuh dalam bentuk pertarungan simulatif. Namun, semua itu justru dilakukan atas dasar kerelaan dan ketulusan untuk berkorban, yakni kesediaan untuk dilukai. Pertandingan ini sama sekali terbebas dari perkelahian yang sebenarnya, sebab dilakukan dengan rasa persaudaraan atas dasar kebersamaan untuk memohon hujan turun. Sayang sekali tradisi purba ini kian langka dijumpai, baik di Jawa Tengah ataupun di Jawa Timur, utamanya di kawasan Pegunungan Kendeng Selatan dan Daerah Tapal Kuda yang langka air, yang konon menjadi basis tradisi tiban (ujung).

Demikianlah sekelumit “refleksi budaya di puncak kemarau” ini. Semoga dapat membuka kesadaran kita bahwa turunnya hujan adalah sesuatu yang penting, dan karenanya diharapkan kehadirannya. Namun, pada saat hujan turun kelak, perlu adanya kesiagaan, mengingat bukan tidak mungkin bakal disertai dengan air bah (banjir). Turunnya hujan di suatu waktu (pada kemarau panjang) adalah peristiwa yang diharapkan, namun di waktu lain (pada penghujan berkepanjangan) malah menjadi peristiwa yang tidak diharapkan kehadirannya. Kondisi kontras sebagaimana itu dalam beberapa dasawarsa terakhir menjadi realitas tahunan di negeri ini.

Dwi Cahyono

Sengkaling, 25 Oktober 2015

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.