A.15

MALANG KOTA SINGHA

Unsur nama dan ikonografi singha (singa) memiliki akar yang panjang di Bhumi Arema. Unsur nama “singha” termaktub dalam nama kemaharajaan di Malang abad XIII (1222-1292 M). Tempat yang dijadikan sebagai ibukota kerajaan (kadatwan) ini, yang berlokasi di SINGOsari sekarang, sebelumnya merupakan tanah lungguh (apanage) dari NaraSINGHAmurti — pasangan sepemerintahan dari Wisnuwarddhana, yang semula bernama “SINGHAnagara”.

Dalam ikografi, relief singa tampil di empat pojok batur (soubasement) candi Kidal. Relief singa juga tampil di pipi tangga teras II candi Jajaghu. Selain itu, pada candi ini juga terdapat relief antrophomorfis berbentuk manusia (wanita) setengah singa (narasingha) dan relief sepasang singa bertemu muka (bhimuka) yang menghasilkan gambaran sebuah kepala kala — relief bhimukasingha ekakala ini serupa dengan yang dipahatkan di batur C. Jabung Probolinggo. Arca singa juga kedapatan di Merjosari.

Pada masa Kolonial Belanda, unsur lambang berupa sepasang singa juga tampil dalam dua kemasan lambang Kotapraja (gementee) Malang.

Makna ikonografis singa adalah “makhluk penjaga”, yang acap ditempatkan di sekitar gerbang kota atau dalam bentuk relief pada ambang pintu bagian atas pintu gerbang — yang dinamai “kirtimukha (muka singa). Singha juga menjadi simbol “pelindung/penguasa (raja) atau ksatria”. Kini, singa menjadi ikon dari AREMA.

Maka, jadilah Singa-singa Arema sebagai penjaga dan pelindung Prasadha Malang Raya. Kebetulan, Ultah Arema berbareng juga dengan perbintangan Leo. VIVA MALANG KOTA SINGHA.

Dwi Cahyono

30 November 2015


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.