Mandala Badut


A.17

TAMAN PUSAKA BUDAYA MANDALA BADUT: Spirit “Bola Api Budaya” Kanjuruhan

Bagai “bola api budaya” yang menggelinding lintas waktu, tak tanggung-tanggung, dalam tiga minggu berturutan (7, 14 dan 21 Februari 2016) dihelat ragam kegiatan seni-budaya di situs Candi Badut. Situs arkeologis tinggalan Kerajaan Kanjuruhan (medio abad VIII M) ini, yang semula sepi dari pemberitaan, sontak hadir meluas di ruang berita publik. Minimal, lewat aktifitas yang murni diusung oleh para peduli budaya, warga Malangraya menjadi tahu bahwa ternyata di wilayahnya terdapat monumen peradaban yang menjadi “Tonggak Waktu Mula Sejarah-Peradaban Sakarida (Timur) Jawa”, yang pada konteks kekinian tepat untuk dijadikan “ajang ekspresi: berseni-budaya.

Pada tanggal 7 Februari 2016, para pegiat Sejarah-Budaya menghelat “Jelajah-Sinau Pusaka Budaya II”, bertajuk “Lacak Jejak Peradaban Kanjuruhan”, dengan khalayak peserta siswa, mahasiswa dan umum. Obyek-obyek kunjungan diancangkan meliputi:

(1) Candi Badut,

(2) Yoni, artefak lain dan sisa struktur candi di Karangbesuki,

(3) Candi Gasek,

(4).Cungkup Watu Gong,

(5) Situs Wurandungan, dan

(6) Situs Karuman –lantaran hujan, obyek kunjungan (2) dan (5) tak jadi dikunjungi.

Berselang satu minggu (14 Feb 2016), di situs Candi Badut kembali dihelat kegiatan budaya, yakni gelar ragam seni (tari, rupa, teatrikal dan musik minimalis pengiring) bertajuk “Malang Art Perform” sebagai rangkaian dari perhelatan seni-budaya luas (di dalam dan di luar negeri) bertema “Ring of Performance, Performatif Nusantara”.

Keterlibatan para fotografer dan media berita bukan saja menjadikan kedua perhelatan itu publis, namun lebih dari itu menjadi “pemantik” untuk menghelat kegiatan seni-budaya lanjutan seminggu berikutnya (21 Feb 2016). Buah karya fotografis yang mengabadikan momen-momen artistik gelar seni musik, tari, resitasi cerita, wayang minimalis hingga permainan tradisional yang dikontribusikan oleh para pelaku seni di Malangraya, Tulungagung dan Surabaya, menjadikan perhelatan ini marak di media sosial.

Pantikan dari ketiga perhelatan itu bahkan melahirkan “bola api budaya” yang kian membesar. Pada penghujung waktu kegiatan “Laku Budaya” (pk 12-15 Wib, tgl 21 Deb 2016) walau dengan setengah spontanitas dilaksanakan “jagongan budaya” di suatu padepokan seni yang bertetangga dekat dengan Candi Badut. Salah sebuah produknya adalah kesepakatan untuk menghelat agenda bulanan bertajuk “Mbulan Ndadari ring Badut”. Gelar perdana diancangkan pada momen purnama (mbulan ndadari, mbulan kalangan, atau purnama kasidi) di bulan Maret 2016 mendatang.

Bola api budaya yang menggelinding cepat di Situs Badut itu terbilang fenomenal dalam beberapa hal. Pertama, merupakan proses yang dikreasi dan dihela bersama oleh lintas komunitas peduli budaya meski tanpa difasilitasi oleh institusi pemerintah setempat. Prosesnya terbilang berlangsung cepat (sekitar satu bulan) dengan tidak terlampau banyak rapat-rapat koordinasi. Peran media sosial sebagai media komunikasi antar voluntair penyelenggara, antar pelaku seni pengisi kegiatan maupun dengan publik calon audience (pemirsa) terbukti memiliki pengaruh dan peran besar. Hal itu ditopang oleh kian terpetakannya “kantong kantong pelaku dan peminat seni-budaya” di Malangraya dan Jawa Timur, sehingga memudahkan untuk dapat menjejaringkan.

Sebenarnya, kegiatan seni-budaya yang menjadikan candi atau situs lain sebagai ajang ekspresi telah berlangsung cukup lama — setidaknya intensif pada satu dasawarsa terakhir — dan telah dilangsungkan di sejumlah daerah. Bahkan, sejak masa Wali Kota Malang Soesamto dan diulang lagi pada era Wali Kota Peni Suparto, telah mengancangkan perhelatan seni di Candi Badut, tak terkecuali pada momentum bulan purnama. Uniknya, gagasan dan uji pelaksaan kegiatan seni-budaya di Candi Badut kala itu justru berasal dari Pemkot Malang. Padahal, secara administratif situs Candi Badut masuk dalam wilayah Kec. Dau Kab. Malang.

Namun sayang, perhelatan itu hanya “sekali berarti, setelah itu mati”, atau dengan kata lain tak berkelanjutan. Oleh sebab itu, sengaja para “deklarator Badut” tetapkan “Mbulan Ndadari” sebagai agenda bulanan sebagai buah komitmennya. Apa yang telah dan akan dilakukan tersebut diharapkan bakal menjadi “restarting” yang lebih memililiki vitalitas dan berkesinambungan lintas bulan, baik dengan atau tanpa kesertaan aktif dari institusi pemerintah.

Kedepan, Situs Candi Badut diharapkan dapat menjadi “panggung terbuka” — dalam arti “panggung beratap langit” dan “panggung bersama bagi ragam kegiatan seni-budaya”. Tentu, dengan senantiasa mengingat akan statusnya sebagai cagar budaya, sehingga kegiatan yang diselenggarakan padanya musti mengindahkan prinsip pelestarian cagar budaya. Selain itu, jenis dan bentuk sajian seni-budayanya seyogyanya bermakna, dalam maksud menyampaikan pesan, membelajarkan dan memberi pencerahan budaya kepada publik.

Ketika Kota dan Kab. Malang sebagai “daerah budaya” tak kunjung memiliki gedung kesenian, situs Candi Badut dan situs-situs lain dapat didayagunakan sebagai ajang ekspresi seni-budaya yang tepatguna. Dengan memberi “isi kegiatan” demikian, maka candi tak hanya mengemban fungsi kelampauan, namun kontributif pula bagi era sekarang dan mendatang. Terlebih lagi posisi situs Candi Badut terbilang dekat dengan pusat Kota Malang, padamana wisatawan dan mahasiswa/pelajar dari manca daerah maupun manca negara beraglomerasi disini.

Geostategis Situs Candi Badut dari sektor pariwisata maupun pembelajaran budaya semestinya menjadikan modal budaya lokal untuk dikalkulasikan sebagai magnit wisata budaya dan wahana pembelajaran atau semacam “laboratorium” seni-budaya bagi berbagai pihak. Situs Candi Badut telah semestinya menjadi Cagar Budaya Jatim, yang kedepan dikemas menjadi “Taman Pusaka Budaya” yang berarea lebih luas daripada kondisi riil “keterjepitan”nya oleh permukiman dan anasir budaya baru.

Semoga upaya para relawan budaya untuk “memakmurkan Candi Badut” itu tak sekedar “rubuh-rubuh gedang”. Semoga pula kelak virus budayanya berendemik ke situs-situs lain, setidaknya di kawasan Malangraya. Gunging panuwun kagem dhamma bhakti poro mitro “bhakta buddhaya”.
Salam budaya,
“Nuswantara Jayati”

Sengkaling, 23-2-2016

Dwi Cahyono

 


Like it? Share with your friends!