Situs Klandungan


A.16

BHAKTI SITUS KLANDUNGAN

Sigeg-Sigeg Reruntuhan Balekambang (Abad XII Masehi)

KONDISI SITUS

Entah telah berapa lama situs arkeologis Klandungan, yang oleh warga Dusun Klandungan Desa Landungsari Kabupaten Malang ini tidak dijamah orang. Ilalang dan semak belukar menyelimuti bata-bata kuno dan balok-balok batu padas yang menggunung di bawah pohon nangka renta dan di areal sekitarnya (kurang lebih 20 x15 m) — yang permukaan tanahnya lebih tinggi (+ 2 m) dari areal persawahan di sekelilingnya. Dengan sekilas pandang saja, muncul kesan bahwa situs ini sangat kurang mendapat perhatian atau tidak terawat, baik oleh warga kampungnya sendiri ataupun institusi pemerintah pengampunya. Bahkan, ironisnya warga yang tinggal tak jauh darinya banyak yang tak tahu keberadaannya. Alih-alih keberadaannya kalah tenar dengan Punden Mbah Sentono, yang berjarak sekitar 750 m di sebelah baratnya, yang oleh warga setempat diyakini sebagai “sing mbabad atau sing mbedah krawang” kampung Klandungan.

Pada sekitar setengah dasawarsa lalu — ketika penulis mengunjunginya, serakan bata-bata kuno tersebut masih tampak. Baik yang terkonsentrasi di bawah pohon nangka, di tanah datar sekitarnya maupun di tanggul tanah sekelilingnya. Oleh karena itu, pada tanggal 6 Februari 2016 (pukul 7.30 sd 13.30 WIB) penulis bersama dengan empat orang dari Komunitas Peduli Pusaka Budaya “Mbah Sinto” melakukan bhakti situs, meski baru sebatas membersihkan semak belukar di sekitar pohon nangka dan sisi baratnya — yang diprakirakan merupakan posisi tangga menuju areal dalam situs.

Upaya ini selain sebagai ikhtiar untuk turut melestarikannya, juga dimaksudkan untuk menyiapkan areal kunjungan “Jelajah-Sinau Pusaka Budaya II” yang hendak dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2016. Selain itu sebagai “picu awal” bagi warga kampung setempat untuk meneruskan upaya pembersihan situs dan menjaga kelestariannya.

LATAR SEJARAH

Situs yang oleh warga setempat dinamai “Bale Kambang” ini adalah jejak arkelogis yang masih tersisa, terkait dengan desa kuno “Wurandungan”, yang kini berubah sebutan menjadi “Klandungan (Wurandungan–》wu-kandungan — 》 kandungan — 》 klandungan) ” dan “Landungsari”. Nama “Wurandungan” telah disebut dalam prasasti tembaga (tamraprasasti) Ukir Negara ( Pamotoh) bertarikh Saka 1120 (1198 M) lempeng I sisi belakang (verso) baris 1. Wurandungan dinyatakan sebagai salah sebuah desa yang memperoleh anugerah (inugraha) dari Deh (Dyah) Limpa yang berkedudukan di Gasek (kini nama dusun di Desa Karangbesuki), berupa tanah perdikan seluas 4 jong. Lokasi tanah perdikan itu disebutkan berada di timur pasar (wetaning pasar).

Jika identifikasi itu benar, berarti Situs Klandungan terbilang tua, yang telah ada sebelum abad XII M. Pada akhir abad itu, sebagian tanah (seluas 4 jong) di desa kuno ini ditetapkan sebagai tanah perdikan (sima). Jika menilik kedekatan jaraknya dengan situs megalitik di Punden Watugong, bisa jadi permukiman di Klandungan telah dirintis keberadaannya sejak akhir Prasejarah. Pada sisi lain, situs ini terus berlanjut hingga memasuki Masa Singhasari dan Majapahit.

Menilik usianya, situs Klandungan penting bagi Kota dan Kabupaten Malang, khususnya terkait dengan sejarah permukiman di kedua daerah itu. Desa kuno Wurandungan adalah salah sebuah desa di kawasan pusat budaya Masa Hindu-Buddha pada daratan antara DAS Brantas dan Metro.

POSISI GEOGRAFIS

Situs Klandungan (Bale Kambang) berada tidak jauh, tepatnya pada jarak sekitar 500 m sebelah utara Punden Watu Gong. Situs ini terletak di sisi barat dan selatan Kali Braholo dan sisi utara Kali Metro. Pada jarak sekitar 300 meter di sebelah tenggaranya terdapat titik pertemuan (tempuran) Kali Braholo dan Kali Metro. Kedua sungai ini pada masa lalu disakralkan. Nama “metro” amat mungkin berasal dari “amreta (tirtha amreta = air kehidupan, air keabadian). Adapun kata “braholo” adalah bahasa Jawa untuk: berhala. Nama ini mengindikasikan tentang adanya bangunan-bangunan keagamaan (candi, patirthan, dll) di sepanjang alirannya, seperti Yoni di Jurang Cendono, Reruntuhan Candi di Sengkaling, Punden Sentono di Klandungan, dsb.

Sebutan “Bale Kambang” terhadapnya mengindikasikan adanya areal perairan, yang di bagian tengahnya terdapat tanah menyembul di atas permukaan air padamana bangunan (bale) didirikan. Reruntuhan bangunan berteras dari bata kuno dan balok batu padas yang telah dibicarakan di atas bisa diasosiasikan dengan “bale” tersebut. Unsur sebutan “kambang (mengambang)” terhadapnya mengindikasikan konon terdapat genangan air di sekeliling tanah tinggi padamana bale itu didirikan. Kini genangan air itu telah mengering. Walau demikian, saluran-saluran air yang hingga kini cukup banyak terdapat di sekitar situs memberi ilustrasi tentang kemungkinan adanya genangan air tersebut di masa lalu.

POTENSI DAN PROSPEK

Dalam kondisi sekarang belum tergambar jelas bentuk rinci dan fungsi bangunan yang jejak tinggalannya berada di situs Bale Kambang dan sekitarnya. Jika penamaan warga setempat dijadikan referensi untuk memprakirakan bentuk arsitekturnya, boleh jadi reruntuhan arkeologis ini bukan bangunan suci, melainkan bangunan provan yang berwujud balai (bale). Sedangkan fungsinya belum dapat diidentifikasikan secara akurat.

Menyadari akan ketuaan usianya dan arti pentingnya bagi sejarah permukiman, cukup alasan untuk kelak dilakukan ekskavasi terhadapnya. Tujuannya bukan sekedar untuk mengetahui bentuk bangunannya, namun juga untuk mendapatkan data artektual penyerta. Banyak dan luasnya persebaran bata kuno dan balok batu padas memberi harapan untuk bukan saja dapat menemukan bangunan bale tersebut namun diharapkan dapat pula menemukan pagar keliling dan material penguat tanggul.

Perihal artefak penyerta, ketika kami melakukan “bhakti situs” sempat didapati fragmen terra cotta berupa potongan bagian bibir wadah air berpelipit. Selain itu, juga terdapat pecahan semacam alas penggerus (lemper). Bahkan, menurut informasi warga, di situs ini beberapa kali ditemukan benda-benda berbahan emas.

Pada tulisan ini belum banyak yang bisa dipaparkan baik mengenai bentuk arsitektur, ragam artefak penyerta dan fungsinya masing-masing, karena riset arkeoligis yang seksama dalam bentuk ekskavasi belum dilakukan. Besar harapan kami, ke depan Pemkab Malang dapat memprakarsai penelitian itu. Sejalan itu, warga dan desa setempat perlu mengambil posisi sebagai ujung tombak dalam pengamanan, pemeliharaan dan pemanfaatan situs.
Semoga.

Dwi Cahyono

Sengkaling, 6 Feb 2016

 

 


Like it? Share with your friends!