Filosofi Endog


A.20

TELOR DALAM LINTAS TRADISI : Filosofi Budaya Endog

Salah sebuah ubo-rampe (pelengkap) dalam ritus di sejumlah tradisi keagamaan adalah telor. Dalam rangkaian ritus Kristiani yang disebut “Paskah”, salah sebuah ubo-rampe yang dihadirkan berupa telor, yang karenanya dinamai dengan “Telor Paskah”. Suatu ubo-rampe ritus yang amat difavoritkan oleh anak-anak.

Pada tradisi keagamaan lain, misalnya pada ritus keagamaan di Jawa, telor juga acap hadir sebagai ubo-rampe pada set sesajian (offering)-nya. Telor ayam kampung mentahan adalah salah satu unsur sesajian, yang di tempatkan di dalam takir (wadah kecil dari daun pisang). Dalam Ubo-rampe tradisi “wiwit”, yakni mula tanam (miwiti tandur) pada tradisi memetri sawah dalam budaya agraris di Jawa, telor adalah benda simbolik yang penting, yang berkorelasi dengan pengharapan akan kelahiran/pertumbuhan tanaman”.

Bagi anak-anak, mengambil telor di dalam sejumlah takir yang diletakkan di galengan (pematang) sawah sambil berkoar “gaok….. gaok …..” adalah suatu keasyikan tersendiri. Namun, perlu seksama untuk memilih takir, sebab tak semua takir diisi telor. Dengan meminjam perilaku burung gagak, yang suka mencuri dan memakan telor dari unggas lain, perilaku anak-anak tersebut diistilahi “nggagaki”. Sebagaimana halnya dengan Telor Paskah, endog sajroning takir (telor di dalam takir) tersebut juga favorit anak.

Telor merupakan “bakal yang bakalan menjadi sesuatu”, dan karenanya dinamai “wiji dadi”. Dalam konsepsi ini, telor diposisikan sebagai awal-mula kejadian atau bakal kehidupan. Perihal ini mengingatkan kita pada “cok bakal”, yakni campuran (cok, ubo-rampe) pada sesajian, yang salah satu diantaranya adalah telor. Sesuai dengan unsur namanya, yakni “bakal”, sesajian ini dikontekskan dengan tahap awal untuk membuat atau menjadikan sesuatu, seperti pendirian rumah, awal hajatan, dsb. Telor adalah simbol tentang “calon (bakal)”, yang lantaran kegiatan itu maka akan (bakal) menghasilkan sesuatu.

Konsepsi telor (anda) sebagai pangkal dari segala yang ada juga terdapat dalam motologi Hindu. Antara lain termuat di dalam suatu Purana tentang “Telor Brahma (Brahmanda –》Brahma + anda”, sebagai pangkal kejadian dari segala makhluk hidup, termasuk juga manusia (manusa, yang kini disebut “manusia”). Manusia pertama (Manu), berasal dari Telor Brahma. Selain itu, ada konsepsi “Telor Kosmik”, yang diperkatakan dengan “……..+ anda”, seperti Telor Dunia (Bhuwananda –》bhuwana + anda), bagian-bagian yang terintegrasi ( Sakalanda –》 sakala+anda), Tujuh Telor (Saptanda –》sapta+anda), Tiga Telor Dunia (Tribhumenda –》tri-bhumi+ anda). Begitu pula, terdapat perkataan lainnya yang mengkombinasikan nama-nama dewata + anda, seperti “Siwanda –》 Siwa+anda, Wisnwanda –》Wisnu+ anda, dan Yamanda –》Yama+anda.

Oleh karena itu, jika ada tebakan guyonan tentang “manakah yang lebih tua, telor ataukah ayam?”, mengacu pada mitologi tentang “telor asali” yang disuratkan dalam pustaka-pustaka suci Purana itu, maka jawabnya adalah: telor. Atau bisa juga dijawab secara “siklis”, yakni telor-ayam-telor, dsb. Bangun telor yang membulat lambangkan siklisme, yakni perputaran dari ujung ke pangkal, lantas dari pangkal menuju ujung lagi, dan seterusnya hingga kesekian kali melingkar.

Telor adalah cikal-bakal makhluk hidup untuk jenis unggas dan reptil. Namun uniknya, dalam susastra kuno berjudul “Samodramantana’ atau “Amretamantana” dikisahkan; karena makhluk manusia bernama Winata dan Kadru tak dapat melahirkan anak — lantaran gabuk (mandul, stiril), maka untuk memenuhi permintaan kedua istrinya yang mandul itu, Bhagawan Viyasa (Byasa) memberi tiga butir telor pada Winata dan seratus butir buat Kadru untuk dierami hingga kelak menetas menjadi anak-anaknya.

Meski telor merupakan biji awal bagi segala kejadian/ kelahiran, namun tidaklah semua telor bakal menetas menjadi makhluk hidup. Ada apa yang disebut dengan “ndok bhuthuk”, yang meski telah dierami atau diproses lanjut hingga durasi waktu tertentu, namun terbukti ada yang gagal lahir. Diantara tiga butir telor yang dierami oleh Winata, lantaran kurang sabar menanti saat menetas, maka hanya sebuah yang menetas sempurna menjadi makhluk dengan utuh sempurna, yaitu Sang Garuda (Garudeya). Dua lainya, yang sebuah tak jadi apa-apa –》hanya berupa kilatan sinar, dan sebuah lainnya melahirkan manusia setengah tubuh. Hal ini berbeda dengan telor-telor Kadru, seratus seluruhnya menetas menjadi ular. Tergambar bahwa tidak serta merta telor menjadi makhluk hidup. Untuk itu dibutuhkan kesabaran menunggu hingga tiba waktu dan diperlukan ketaatan untuk memenuhi kaidah penetasan.

Begitu pula, tidak semua jutaan sel telor wanita menghasilkan jutaan anak dalam persenggamaan. Hanya beberapa diantaranya saja — yang semata karena “kehendak Illahi” — berhasil dibuahi oleh sperma pria dan kelak menurunkan anak. Wiji dadi (telor) hanya akan menjadi sesuatu bila melalui proses waktu dan dengan cara yang tepat.

Telor wanita bukan “barang obralan”, sebab jika demikian hanya hadirkan keturunan asal-asalan. Di balik telor adalah bibit (biji, semaian). Namun, hasil akhir dari penyemaian itu amat pula dipengaruhi oleh bobot (kualita) dan perlengkapan (bebet)-nya. Telor sebagai penyambung generasi musti dijaga dan dipelihara dengan seksama, sebagaimana keseksamaan ular untuk menjaga telor-telornya, atau seperti tergambar pada kemarahan burung ketika telornya dicuri oleh babi-babi dalam game cartoon “Angrybirth”.

Makna telor sebagai pangkal atau cikal-cikal sesuatu juga tergambar dalam nama. Pada legenda-sejarah Singhasari yang ditutursuatkan dalam Pararaton, bunda dari “cikal bakal raja-raja Singhasari” Ken Angrok juga memiliki unsur nama telor, yaitu Ken Ndok (endok, ndok = telor). Sebutan “Ndok” pada dirinya adalah gambaran mengenai “titik pangkal”, yang lewat garis anaknya (Angrok) kelak lahir raja-raja di Singhasari dan Majapahit.

Begitu pula nama cikal bakal atau pendiri vamsa (dinasti) baru di Jawa Timur dalam wadah kepemerintahan Kerajaan Mataram, juga berunsur nama telor, yaitu Pu Sindok –》boleh jadi dapat dipenggal menjadi si Ndok. Tokoh yang bernama gelar (Sri Isana) ini adalah pula titik pangkal dari para raja dalam Isanavamsa. Oleh karena itu, dalam Prasasti Pucangan (1041/1042 M) sengaja raja Airlangga mensilsilahkan dirinya dengan berpangkalkan kepada Pu Si-Ndok.

Pecahnya telor bukan hanya bermakna petaka atau kerugian — sebagaimana tergambar dalam lagu dang dut berbahasa Madura “ancor pesekna tolor (hancur uangnya telur)”. Pecahnya telor juga bermakna ikrar, janji suci untuk pengharapan abadi. Telor yang telah terlanjur pecah atau dipecah, tak bakal mungkin untuk diutuhkan kembali, seperti ikrar yang lantas batalkan. Midak wiji dadi (menginjak telor) pada ritus perkawinan Jawa juga bermaka ikrar nikah yang berimpikasi pada janji untuk mengabadikan lembaga keluarga (abadining bebraryan).

Demikian juga membanting telor (mbanting hantiga –》 kini “tigan”/hantlu –》kini “tlur” atau “telur”) merupakan sebuah ikrar. Suatu maklumat resmi untuk mengubah status desa/tanah biasa menjadi perdikan (sima, swatantra) dalam Ritus Sima pada Masa Hindu-Buddha.

Demikianlah sekelumit makna telor, utamanya dalam tradisi ritual Jawa. Semoga menambah perbendaharaan pengetahuan kita dan syukur bila berhasil menjadi referensi bijak kita di dalam bertindak.

Salam budaya,
“Nuswantarajayati”.
Rahayu.

 Sengkaling, 25-3-2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!