Ritus Gerhana


A.18

RELIEF BLENDRONG SITUS PATIRTHAN BELAHAN: Makna serta Akar Mite dan Ritus Gerhana

GERHANA, PERISTIWA ALAM LUAR BIASA

Setiap saat berlangsung ragam peristiwa alam. Diantara tak terhitung jumlah dan bentuk peristiwa alam itu, terdapat peristiwa alam kategori “peristiwa alam yang luar biasa”. Keluarbiasaannya bukan hanya karena kedahsyatannya, namun juga lantaran “ketidakbiasaan” atau “penyimpangan dari kelaziman”nya. Seringnya, matahari dan bulan beredar pada lingkar orbitnya masing-masing, sehingga kedua benda angkasa ini tidak berada pada titik pertemuan di suatu waktu dalam garis pandang. Namun, pada waktu tertentu di satu atau lebih tempat, keduanya berada dalam suatu titik pertemuan.

Dalam kondisi demikian, pada beberapa saat bola bulan menutupi sebagian atau seluruh bola matahari di siang hari atau sebaliknya bola matahari menutupi bundar bulan purnama di malam hari, sehingga suasana alam yang semestinya terang menjadi gelap. Fenomena alamiah bulan menutupi matahari dinamai dengan “gerhana matahari (suryagrahana)”, dan sebaliknya matahari menutupi bulan disebut dengan “gerhana bulan (candragrahana)”. Ada kalanya posisi ketertutupan matahari oleh bulan dan sebaliknya tergambar “menutup sepenuhnya”, sehingga muncul sebutan “gerhana matahari/bulan total”.

Kamis pagi, 9 Maret 2016, pada sejumlah tempat di Indonesia, utamanya di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Halmahera tampak pandang adanya gerhana matahari total. Lantaran kelangkaannya, ketidaklazimannya maupun tampak drastisnya pada perubahan suasana alam dari terang ke gelap, menjadikan fenomena alamiah ini sebagai “peristiwa alam yang luar biasa”.

Keluarbiasaannya yang demikian menjadikan gerhana matahari/bulan sebagai obyek amatan yang menarik minat khalayak. Bahkan, sebagian warga masyarakat memahami, memaknai dan meyakininya sebagai “penyimpang dari keteraturan tata alam (disorder cosmic)” atatu “. Peristiwa ini menjadi latar bagi “mite gerhana” dan penyelenggaraan “ritus gerhana”. Mite dan ritus gerhana dijumpai di berbagai wilayah budaya (culture area), tak terkecuali pada tradisi budaya Jawa dalam lintas masa.

TRADISI MITOLOGIS DAN RITUS GERHANA

Selain penamaan “gerhana (grahan)”, kebahasaan Jawa juga mengenal sebutan “blendrong”. Dalam tradisi Jawa, secara mitologis gerhana bulan/matahari difahami sebagai terjadi lantaran bulan/matahari (candra/surya) tengah ditelan (diuntal) oleh raksasa (rahu). Sebagai masyarakat yang religis, peristiwa alam yang luar biasa itu dimaknai sebagai “kondisi alam yang krisis (natural crysis)”, yang terjadi lantaran matahari/ bulan nyaris “ditelan” oleh rahu.

Peristiwa dan saat gerhana adalah “peristiwa dan waktu krisis”. Bukan hanya manusia yang terpengaruh gerhana, binatang pun menjadi belingsatan dan mengalami disorientasi lantaran adanya perubahan alam itu. Oleh karena itu, berbagai daya upaya dilakukan untuk dapat mengembalilan kondisi alam yang kritis itu ke dalam kondisi normal atau teratur (order) seperti sediakala.

Konon manakala terjadi gerhana, orang-orang dewasa keluar rumah untuk mengejar (ngoyak) rahu sembari menabuh bebunyian (tatabuan) dengan riuh rendah, yang antara lain membunyikan kentongan, lesung kayu, bedug, hanyiru (tampah), tumbu, dll. Anak-anak pun tak ketinggalan untuk menyertai. Uniknya, meski hanya dari dalam rumah, mereka ikut membuat bebunyian dengan cara memukulkan permukaan kedua kuku ibu jari berulang-ulang. Tujuannya untuk menakuti rahu, sehingga bulan/matahari yang nyaris ditelan (diuntal)nya untuk dimuntahkan kembali.

Gelap gulita sesaat ketika terjadi gerhana disikapi sebagai suasana yang mencekam, menakutkan dan penuh bahaya. Oleh karena itu, perempuan dan anak mengurung diri di dalam rumah dengan mengunci rapat-rapat pintu dan jendela rumahnya. Bahkan para wanita hamil diminta untuk bersembunyi di dalam kolong dipan atau setidaknya menggigit kereweng. Sebelum mengunci rumah, sejumlah perangkat rumah tangga yang bermata tajam, seperti cangkul, sabit, parang, dsb dilemparkan ke halaman rumah. Ekspresi ketakutan antara lain tercermin pada kekhawatiran bila bulan/matahari ditelan total dan selamanya oleh Rahu, sehingga semesta berada dalam kegelapan abadi.

Sementara, penganut “agama besar” menempuh upaya religis. Umat Muslim misalnya, melaksanakan Sholat Gerhana. Kendati ritual yang dilakukan berlainan oleh umat beda agama, namun intinya sama, yakni memohon perlindungan Illahi agar mendapat keselamatan atau terhindar dari marabahaya akibat gerhana.

Secara strukturalis, pemaham, keyakinan dan upaya religis tersebut dapat digambarkan sebagai dinamik dan transformatif dari:

(a) mula-mula makrokosmis berada dalam kondisi teratur (cosmic order, normal), lalu terjadi

(b) ketidakteraturan (cosmic disorder, chaos), yang untuk itu dilakukan upaya untuk

(c) memulihkan tata alam raya ke dalam keteraturannya (reorder, cosmos).

 Butir (c) adalah ikhtiar transformatif untuk mengembalikan atau memulihlan kondisi (b) menjadi kondisi (a).

AKAR MITE DAN RITUS GERHANA

Bilamana mite dan ritus gerhana bermula dalam tradisi budaya Jawa? Tidak mudah untuk menyatakan tarikh mutlak (absolud dating) mengenai awal kemunculannya. Walau demikian, bukan berarti tak bisa memprakirakan kurun waktunya. Salah satu sumber data yang dapat didayagunakan adalah sumber data artefaktual, yang berupa relief pada jaladwara (pancuran air) di halaman depan-kanan Patirthan Belahan (Sumber Tetek).

Houtrelief yang dipahatkan pada lempeng batu andesit ini diprakirakan semula ditempatkan pada relung tengah atas dinding patirthan sisi belakang, sebagai salah satu pancuran air selain pancuran air pada arca Dewi Sri dan Laksmi di sepasang relung kanan-kiri bawah dansejumlah jaladwara berbentuk makara di dinding sisi kanan. Waktu penempatannya pada relung atas — bersama dengan arca pancuran Sri dan Laksmi — diprakirakan pada medio abad ke-11M. Berarti lebih muda dari pada masa awal pembangunan dan renovasinya yang pertama.

Sangat boleh jadi, dalam bentuk bersahaja patirthan ini telah ada sebelum tahun 929 M, yakni pada masa pemerintahan Raja Wawa. Menurut informasi dalam Prasasti Cunggrang (929 M) yang memuat kalimat “umahawya pancuran i pawitra”, Pu Sindok (Raja Isana) memerintah untuk mermperbaiki (umahawya) pancuran air yang berada di Pawitra (G. Penanggung) sebagai karya persembahannya kepada ayah mertuanya ( raja Bawa = Wawa) dan fasilitas aquatik bagi para Rsi yang tinggal semi-permanen pada Karyan Pawitra yang berada tidak jauh dari patirthan Belahan. Wawa adalah ayah (yayah) dari putri parameswari Pu Kbi.
Para ahli mengeksplanasikan hautrief pancuran di atas sebagai “candrasangkala memet”. Raksasa (rahu) yang tengah menelan benda bulat besar (candra, atau bisa juga surya) yang dikitari oleh relief tiga orang tokoh berjenggot, berwajah ketuaan dan bertubuh kegemukkan itu sebagai Rsi, sehingga dapat dikalimatkan dengan “Candra-Rsi-Rahu” — penulis membaca dengan “surya-rsi-rahu”. Jika kalimat itu diangkakan menjadi “1 (candra, surya) – 7 (Rssi, yang utama adalah “saptarsi”), dan 9 (rahu). Bila dibaca urut dari belakang, maka menunjuk keada tarikh Saka 971 (1049 M).

Tahun 1049 M adalah momentum historis terkait dengan tiga hal: (1) tahun kemangkatan raja Mataram yang terakhir, Airlangga, (2) berakhirnya atau penghujung sejarah panjang kerajaan Mataram (akhir abad VII sd 1049 M), dan (3) pangkal pembagian wilayah kerajaan Mataram di Jawa dan kemudian dipecah (disintegrasi) menjadi kerajaan Jenggala dan Kadiri/Pangjalu yang keduanya terlibat perang saudara berkepanjangan. Nama “Belahan” baik sebagai nama situs maupun nama lokasi (desa) situs berkesuaian dengan pembelahan wilayah kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan tersebut.

Ketiga momentum peristiwa yang terjadi pada dan sejak tahun 1049 M. bisa diibaratkan sebagai suasana kegelapan politik sebagaimana gelapmya dunia ketika terjadi gerhana total. Dalam konsepsi kosmologi Jawa, tentang keselarasan mikro dan makro-kosmos, kegelapan di alam raya (makro-kosmis) selaras dengan kegelapan di alam hidup manusia (mikro-kosmos).

Kemungkinan lain yang beralasan adalah relief pancuran ini memuat informasi dokumentatif, yaitu mendokumentasikan peristiwa alam yang luar biasa berupa gerhana matahari total yang terjadi pada tahun 1049 M. Dengan jelas relief itu menggambarkan rahu yang tengah menelan sang surya dan bergegas dikejar oleh para Rsi dengan terbang mengitarinya.

Dalam beberapa hal, gambaran kisah pada relief ini menyerupai mite Jawa tentang gerhana (blendrong). Jika benar demikian, berarti terdapat akar mite dan ritus gerhana, yang setidaknya telah ada di Jawa pada tahun 1049 M dan jejaknya — meski terbatas khalayak pemangkunya — masih tersisa hingga kini.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya.

Terminal Bungurasih, Kamis dini pagi 9 maret 2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!