Madyopuro

A.22

MADYOPURO, ‘PASANG-SURUT’ KESEJARAHANMU

(Orasi budaya ‘Bedah Sejarah Kampung’)

  • DAERAH APITAN PUSAT WATAK DAN NAGARi

Unik buat dicermati, empat toponimi pada sub-area timur Malang mempunyai unsur nama ‘pura’, seperti:

  1.  Kelurahan Madyopuro – beserta Kampung ‘Ngadipuro’ di dalamnya,
  2.  Kelurahan Lesanpuro, dan
  3. Desa Sekarpuro.

Ketiganya berdekatan, yang mengingatkan kita kepada konsep ‘panyatur desa (kata ‘catur’ berarti: empat)’ pada Masa Hindu-Buddha. Unsur nama ‘madyo (madya)’ menjadi petunjuk bahwa lokasinya berada ‘di tengah (center)’ dari suatu kesatuan yang terdiri atas lima atau sembilan desa (visayapumpunan). Tentu bukan serba kebetulan apabila keempat toponimi tersebut berunsur nama ‘pura’, sebab bukan tidak mungkin ada latar kultural-historis atas penamaannya.

Secara harafiah, kata ‘pura’ yang berasal dari Bahasa Sanskreta dialihbahasakan menjadi: benteng, kota, ibukota, istana (tempat tinggal raja), apartemen wanita (Zoetmulder, 1995: 882). Dalam arti demikian, timbul pertanyaan: apakah pada masa lalu sub-area ini pernah menjadi pusat kota? Adakah data pembukti atas keberadaannya di masa lampau sebagai pusat kota? Untuk menjawab pertanyan-pertanyaan itu, beragam sumber data, baik tekstual, arte-faktual, oral maupun ekofaktual yang ada didayagunakan sebagai sumber informasi untuk menyingkapkan posisi strategisnya di masa lalu sebagai suatu pusat kota.

Salah satu jejak sejarah tersebut berkenaan dengan Lesanpuro – yang bertengga dekat dengan Madyopuro. Data epigrafis dari prasasti-prsasti semasa pemerintahan Pu Sindok (Sri Isana) pada paro pertama abad X memberitakan tentang adanya watak/watek bernama ‘Tugaran’, yakni satu diantara tiga watak di kawasan Malangraya selain watak Kanuruhan dan Hujung. Sesuai dengan toponiminya, cukuplah alasan untuk melokasikan pusat watak Tugaran yang diperintah oleh Rakai Tugaran di Kampung Tegaron (Tugaran Tegaron) di sisi barat Kali Amprong pada lembah barat Gunung Malang (kini ‘Gunung Buring’) dalam wilayah Kelurahan Lesanpuro sekarang.

Selain berdekatan dengan pusat watak Tugaran, Madyopuro juga dekat dengan pusat nagari Kabalan, yakni satu diantara dua kerajaan bawahan Majapahit di kawasan Malangraya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk dan Wikramawarddhana (abad XIV-XV). Keberadaan nagari Kabalan diberitakan baik dalam Kakawin Nagarakretagama (1356 Masehi) maupun Prasasti Waringin Pitu (1447 M.). Salah seorang penguasa di nagari Kabalan adalah putri mahkota Hayam Wuruk, dengan nama kelahiran (garbhopatinama) Kusumawarddhani atau Mahamahisi alias Dyah Savitri. Berdasarkan nama nagari yang diperintahnya, maka ia diberi nama gelar (abhisekanama) ‘Bhattara i (Bhre) Kabalan’. Kadatwan (kedaton atau keraton) nagari Kabalan beralasan untuk dilokasikan di suatu kampung di dalam wilayah Kelurahan Cemoro Kandang, yang berada di sisi timur Kali Amprong pada lereng barat dari Gunung Malang, yakni Kampung Kebalon. Sebelum dijadikan pusat pemerintahan nagari, Kabalan adalah desa para perajin (undagi) emas terhandal di antero timur Gunung Kawi, yang oleh susastra prosa (gancaran) Pararaton dinamai ‘Kabalon’.

  • DESA SIMA PAMINTIHAN, SOSOK LAMA MADYOPURO

Ada kemungkinan nama ‘Madyopuro’ baru dipergunakan pasca Hindu-Buddha (setelah abad XVI). Apabila benar demikian, nama arkhais (kuno) dari tempat yang sekarang lebih populer sebagai ‘Madyopuro’ tersebut adalah ‘Pamintihan’. Petunjuk ke arah itu didapatkan di dalam prasasti bertarikh 1473 M, yang ditulis atas perintah raja Majapahit bernama Suraprabhawa. Prasasti ini menginformasikan mengenai penetapan Pamintihan sebagai ‘desa perdikan (sima, swatantra)’. Anugerah (waranugraha) status ‘sima’ tersebut diberikan kepada Arya Surrung. Menilik gelarnya, yakni ‘arya (pada masa kemudian disebut ‘haryo’ atau’ario’), tentu Surrung adalah seorang yang terhormat, terpandang, mulia, ningrat (Zoetmulder, 1995:5).

Cukup alasan untuk melokasikan Pamintihan di tempat yang kini bernama ‘Madyopuro’. Hal itu tergambar pada letak ‘desa-desa perbatasan (parwatasan sekaligus wanwa tpi siring)’ dari desa sima Pamintihan sebagaimana diberitakan oleh Prasasti Pamintihan, yaitu Kabalan yang berada di sebelah timur-utaranya dan Tugaran di sebelah selatan lokasi Pamintihan. Apabila Tugaran diidentifikasikan dengan Kampung Tegaron di Kelurahan Lesanpuro sekarang, dan Kabalan diidentifikasikan dengan Kampung Kebalon di Kelurahan Cemoro Kandang, maka tergambar bahwa tempat yang diapit oleh keduanya menurut garis arah utara-selatan adalah apa yang kini dinamai Kelurahan Madyopuro.

Jika benar demikian, berarti pada jelang akhir Masa Hindu-Buddha tempat yang kini bernama ‘Madyopuro’ pernah menyandang status perdikan (sima). Suatu status yang menggambarkan bahwa tempat ini konon adalah desa maju, yang dipandang cukup layak untuk bisa mengelola rumah tangga atau pungutan pajak dari warga di desanya secara mandiri (swatantra). Berarti pula, sebagai suatu desa, Pamintihan (kini ‘Madyopuro’) telah ada jauh sebelum akhir abad XV, yang tumbuh dan berkembang sebagai desa maju pada jamannya. Jejak kekunoannya itu antara lain tergambar pada adanya delapan buah punden di wilayah Madyopuro, dan di salah sebuah diantaranya dijumpai artefak yang bentuknya menyerupai Lingga, atau jika dicermati lebih menyerupai ‘lingga patok’ atau disebut juga ‘batu sima’, yaitu benda yang berbentuk silindris di bagian atas dan persegi empat di bagian bawahnya, yang konon digunakan sebagai petanda suatu desa/derah perdikan, yang ditancapkan di tanah dalam prosesi ‘manusuk sima’.

Dapat difahami jika Pamintihan mampu tumbuh-berkembang sebagai desa maju pada jaman-nya berkat keberhasilannya untuk mengembangkan ekonomi agrarisnya, yang menjadi basis perekonomiannya. Keberadaan Kali Amprong yang mengalir pada sisi timur Pamintihan dan beberapa sumber air serta adanya endapan tanah aluvial di lembah sisi barat Gunung Malang menjadikan bentang lahan di Pamintihan yang kondusif untuk dibudidayakan sebagai areal pertanian yang luas dan subur. Jejak ekonomi agraris di Madyopuro itu sendiri terbilang masih belum terlalu lama menghilang. Pada dua hingga tiga dasawarsa lalu, sebelum areal perumahan yang luas di sub-area timur Kota Malang dikembangkan, Madyopuro dan desa-desa lain di sekitarnya masih tampil dalam wajah rural (pedesaan)nya yang agraris.

Faktor lain yang juga merupakan unsur internal bagi perkembangannya menjadi desa maju pada jamannya adalah posisi Pamintihan yang berada pada jalur tansportasi darat purba, yang menghubungan sub-area utara dan selatan di Malangraya. Jalur darat yang menghubungkan kawasan di lembah dan lereng barat Gunung Malang ke arah selatan, tergambar pada kitab Pararaton, yang menceritakan tentang perjalanan Pu Palot dari sentra undahagi logam di Kabalon (kini ‘Kebalon’ di Cemorokandang) ke Turyantapada (kini ‘Turen’), yang tentu melintasi wilayah Pamintihan. Sub-area timur Kota Malang, yang meski terletak di seberang timur aliran dua sungai (Bantas dan Bango), namun pada masa lalu tidaklah terpencil, sebab jalur poros purba justru melintasi sub-area ini.

  • TEMPAT MULA ISLAMISASI MALANGRAYA

Banyak tempat di pedalaman Jawa yang proses Islamisasinya baru berlangsung belakangan, yaitu sekitar abad XVII-XVIII. Namun, tidak demikian halnya dengan kawasan Malangraya. Islamisasi justru telah terjadi semenjak Masa Kewalian (abad XV). Dalam hal ini, Madyopuro adalah tempat awalnya. Siapakah pesiar Islam pada peride awal itu? Beliau adalah Gribik, tepatnya ‘Gribik Senior’. Sengaja unsur sebutan ‘senior’ ini digunakan untuk membedakannya dengan ‘Ki Ageng Gribik’, yang dalam hal ini dapat diistilahi ‘Gribik Yunior’, yang melakukan Islamisasi lanjutan pada Masa Kasultanan Mataram semasa pemerintahan Sultan Agung.

Sumber data mengenai ‘Gribig Senior’ didapati dalam bentuk oral dan artefaktual. Tradisi lisan yang dikumpulkan oleh Th. G. Th, Pigeaud (dalam ‘Literatuur of Java’, 1867-1880) antara lain memuat informasi berkenaan dengan ‘Gribik’ atau ‘Gibik’ atau ‘Ngibik’ dan ‘Sengguruh’. Toponimi Gribik masih dikenal hingga kini, sebagai salah sebuah Kampung di Kelurahan Madyopuro. Dalam oral tradition ini, Gribik dikisahkan sebagai murid dari Syeh Manganti (toponimi ‘Manganti’ masih dijumpai di wilayah Gresik Timur, yang kini menjadi ‘Menganti’), yakni paman dari Sunan Giri. Penempatan Gribik di kawasan timur Gunung Kawi ini untuk dua maksud. Pertama, untuk melakukan ‘siar Islam’ ke kawasan timur Kawi, yang dalam kurun waktu panjang menjadi basis pengembangan agama serta budaya Hindu dan Buddha. Kedua, secara politis untuk mengontrol ‘kantong kerajaan Hindu terakhir’ Sengguruh di Malang Selatan yang terbilang kokoh, dan sekaligus ‘meratakan jalan’ sebagai penyiapan bagi ekspansi Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Sultan Trenggono (1545M) di kawasan Malangraya sekarang.

Pesiar Islam perdana di Malangraya itu disebut ‘Gribik’, sangat mungkin didasarkan pada tempat keberadaannya, yaitu di suatu tempat yang bernama ‘Gribik’. Jadi, Gribik bukanlah nama diri, melainkan nama sebutan baginya. Beliau melakukan misi religis dan misi politis dengan mendirikan ‘surau’ di Gribik, dan setelah meninggal jasadnya di makamkan di tempat ini. Pertanyaannya ‘dimanakah lokasi makamnya, apakah pada kompleks makam Ki Ageng Gribik?’. Pada kompleks makam itu memang dijumpai cungkup (sebagai cungkup baru) yang di dalamnya terdapat nisan-jirat ‘tokoh Gribik’. Namun demikian, tokoh tersebut lebih tepat untuk diidentifikasikan sebagai ‘Gribik Yunior’, yang nama gelarnya ‘Ki Ageng’, yakni nama gelar tipikal Kasultanan Mataram.

Jika demikian, lantas di lokasi mana atau makam manakah yang dapat diidentifikasi sebagai makam ‘Gribik Senior’? Dalam hal ini, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, ada salah sebuah makam pada kompleks makam ini yang bisa jadi merupakan makamnya, namun sejauh ini belum dapat dipastikan makam yang mana, mengingat terdapat beberapa buah makam tua yang belum diketahui jatidiri tokoh yang dimakamkannya. Kedua, perlu dicari pada lokasi makam lain di Kampung Gribik. Perlu diketahui, terdapat kompleks makam tua lainnya di Madyopuro, yaitu di sub-areal selatan dari kelurahan ini – yang bertetangga dekat dengan wilayah Lesanpuro, tepatnya di ujung timur dari ‘Gang Sate’, yang berada dekat dengan DAS Amprong dan lereng Gunung Malang. Pada sisi depan kompleks makam ini didapati sebuah makam tua dinaungi pohon tua, yang oleh warga setempat dan para pezirah dari luar daerah diyakini sebagai ‘Makam Gribik’. Pada kemungkinan ini, makam tersebut dapat diidentifikasi sebagai ‘Makam Gribik Senior’.

  • REFLEKSI DINAMIK KESEJARAHAN MADYOPURO

Sebagai suatu permukiman, Madyopuro telah menempuh perjalanan sejarah panjang. Setidak tidaknya sejak Masa Hindu-Buddha hingga sekarang. Madyopuro yang konon adalah sebuah desa agraris pada ‘apitan’ dua pusat pemerintahan, yaitu pusat Watak Tugaran dan kadatwan Nagari Kabalan. Jelang Masa Akhir Majapahit (penghujung abad XV), Madyopuro yang kala itu bernama ‘Pamintihan’ ditetapkan sebagai ‘Desa Sima’. Urgensinya kian menguat pada Era Pertumbuhan Islam (paro pertama abad XV), manakala ‘Gribik Senior’ melakukan siar Islam, yang sekaligus merupakan tempat mula dari siar Islam di Malangraya. Pada Masa Kasultanan Mataram semasa pemerintahan Sultan Agung, yakni pasca penaklukan terhadap Kadipaten Malang yang diperintah oleh Ronggo Tohjiwo sebagaimana dikisahkan pada ‘Babad Malang’ atau ‘Babad Kutho Bedah’, Madyopuro – nama pengganti bagi Pamintihan – dipilih sebagai pusat pemerintahan Kadipaten Malang dibawah panji kekuasaan Mataram, dengan Ki Ageng Gribig sebagai Sang Adipati-nya dalam wilayah Mancanagara Wetan Kasultanan Mataram.

Ada suatu masa (adad XV-XVII) dimana terjadi ‘pasang naik’ peradaban di Madyopuro yang tercermin pada statusnya sebagai desa perdikan masa Hindu-Buddha, sebagai tempat mula siar Islam di Malangraya hingga menjadi pusat Kadipeten Malang.

Namun pada masa yang lain, utamanya semenjak abad XIX, terjadi ‘masa surut (dekadensi) posisi peran’ Madyopuro, yakni ketika terjadi perubahan sistem pemerintahan dari ‘kadipaten’ ke ‘katumenggungan’, yang disertai dengan relokasi pusat pemerintahan dari semula di daerah Madyoporo pada Era Kadipaten Malang ke arah barat melintasi aliran Kali Bango dan Brantas di daerah Tumenggunggan pada Era Katumenggungan Malang. Sejak itu, Madyopuro dan desa-desa lain di sekitarnya ‘mengecil posisi perannya’, hanya menjadi desa Pertanian bernama ‘Desa Madyopuro’, dan kemudian berganti menjadi ‘Kelurahan Madyopuro’, yang terbilang sepi dibadingkan dengan tiga sub-area lain di Kota Malang (sub-area tengah, barat, dan utara).

Picu perkembangan Madyopuro berlangsung sejak tahun 1980-an, ketika dibangun kompleks perumahan luas di Sawojajar (I dan kemudian II), di bukit Buring, dan anak-pinaknya pada tahun-tahun berikutnya. Kini Madyopuro tengah berada di etape terakhir untuk bermetamorfosis dari areal bernuansa rual (pedesaan) ke urban (perkotaan). Potret Madyopuro sebagai kampung/desa pertanian bernuansa rural nyaris menjadi ‘cerita masa lalu’, yang secara memorial kini (2015, 2016) dituangkan dalam Perhelatan Budaya Kampung bertajuk ‘NGIJABI’. Semoga orasi budaya ini membuahkan makna. Salam budaya, ‘Nuswantarajayati’. Rahayu.

Sengkaling, 29-3-2016

Dwi Cahyono

Total
9
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*