A.21

RIANG BOCAH DIKALA PESONA PURNAMA

(ORASI BUDAYA ‘Mbulan Ndadari ri Badut’)

 Yo …. pro konco dolanan ing njobo
Padhang mbulan padhange koyo rino
Rembulane sing awe-awe
Ngelikake ojo podho turu sore

Tembang dolanan bocah Jawa berjudul ‘Padhang Mbulan’ ini memberi gambaran masa silam mengenai nuansa alam, manakala gelap malam memperoleh terang ‘seterang-terangnya’ dari cahaya Kiranadewi. Kala itu, Sang Dewi Malam memasuki hari ke-14, yakni purnama yang perdana (purnama kasidi), sebagai titik kulminasi di dalam paro bulan terang (sukla paksa).

Lantaran sosok kehadirannya yang berbangun bulat penuh, maka Sang Candradewi mendapat sebutan ‘mbulane sak tledok (rembulannya sebesar tampah)’. Wujudnya yang bulat sempurna mengingatkan kepada dadar endok (telor ceplok), sehingga Sang Induja (rembulan) pun diberi julukan ‘mbulan ndadari’. Jika beruntung saat itu langit tanpa mendung (tanpo pedhut), maka tampaklah bahwa di seputaran bola cahaya malam tersebut suatu cincin sinar (halo, aureole), yang karenanya dinamai ‘mbulan kalangan’.

Keindahan bulan purnama merupakan ‘momentum waktu malam’ yang demikian ditunggu-tunggu oleh siapapun, tidak terkecuali oleh para bocah. Rembulan bagaikan dara cantik yang dirindu hadir di sisinya. Lantaran pesona keindahannya itulah, maka kecantikan (sulistyaning rupa) Ken Dedes diibaratkan dengan kecantikan Sang Hyang Sasadara (bulan). Begitu pula, terhadap sang kekasih, dilantun syair pujian ‘………. di wajahmu kulihat bulan, menerangi hati gelap rawan ……’.

Demikianlah, tatkala lampu listrik belum mendominasi terang malam, kuat serta meratanya jangkauan cahaya bulan menjadikannya sebagai Sang Ratu Malam (Ratuning Wengi), sehingga bintang-bintang pun cemburu berat terhadap kecantikannya. Cahaya lampu senthir, obor, blencong, damar cempluk, bahkan terang lampu gaspom (petromax) tunduk-takluk pada kehebatan sinar rembulan. Benderang malam oleh sinar bulan purnama, membuat suasana malam bagai terang di siang hari (padhang mbulan padhange koyo rino).

Begitu diharap, demikian disayangnya, maka bisa difahami apabila orang takut akan kehilangan bulan. Terbukti, ketika terjadi blendrong (gerhana bulan), bergegaslah para penghuni bhumi untuk mengejar dan memaksa si rahu (raksasa) yang hendak menelan bulat-bulat bola bulan (ngun-tal wulan) untuk memuntahkannya kembali, agar purnama senantiasa terjaga sepanjang masa.

Daya pesona terang bulan diibaratkan dengan jutaan tangan yang melambai-lambai (mbulane sing awe-awe), yang memiliki daya magi untuk mengajak para penghuni rumah agar menuju pelataran, dan tak bergegas tidur sore (turu sore-sore), guna menyerap sari keindahan malam. Manusia usia muda maupun tua, bocah hingga orang dewasa, lelaki ataupun wanita, bahkan makhuk berjenis binatang dan tumbuhan pun tergoda untuk berbuat sesuatu manakala alam mayapada bermandikan sinar bulan. Keindahan purnama juga turut menginspirasi ‘Raja Dang Dut’ Rhoma Irama untuk menggubah lagu ‘Puranama’, dengan petikan syair :

He ….. malam bulan purnama bermandikan cahaya.
Diombak yang tenang sinarnya rembulan bak berlian bertaburan.
He ….. malam bulan purnama bermandikan cahaya.
Bagi yang bercinta di malam purnama bertambah bahagia.

Maka, syukurilah terangnya bulan sebagai nikmat Tuhan.
Sebagaimana itu, dua insan yang tengah dilanda asmara terlelap memadu kasih, kucing-kucing pun asyik asanggama (kucing gandik), tetumbuhan meliuk-liukkan batang-rantingnya mengikuti irama hembusan bayu, adapun permukaan samudera dipersolek oleh lapis tipis cahaya keperakan. Ketika itu pada suatu mandala di lembah Ardi Pawitra (Gunung Penanggungan), sang rakawi tergelitik untuk menuangkan imajinya tentang Inu Kretapati dan Candrakirana yang berkasih mesra di tepian Telaga Pager sembari memetik dawai-dawai wina. Barangkali, nelayanlah yang ketika itu bersedih hati, lantaran di terang malam ikan-ikan ternyata lebih suka memilih untuk menyelam ke dasar laut guna melampiaskan suka citanya, sehingga tebaran jalanya tak lagi mampu menjangkau hewan tangkapan.

Diantara para penikmat pesona bulan purnama itu, anak-anak adalah yang paling berbahagia. Tak seperti malam-malam hari lainnya, bapa-ibu mereka memberi keleluasaan untuk keluar rumah guna bercanda-ria dengan memainkan aneka dolanan (permainan). Sederet dara cilik menerobos ‘gerbang tangan’ sembari dendangkan tembang dolanan bocah ‘Jamuran’, yang menggambarkan ‘permintaan untuk berpura-pura menjadi jamur (daden-daden jamur)’ :

Jamuran … yo gegethok
Jamur opa, yo gegethok
Jamur gajih bejijih sak oro-oro.
Siro bade jamur opo?

Sementara, sekelompok anak yang lain duduk-duduk dengan menelonjorkan kakinya sambil menyanyikan tembang Jawa, yang menyiratkan pesan ‘ayo makaryo (mari bekerja)’

Sluku sluku bathok, bathoke ela elo,
Si romo menyang Solo, leh olehe panyung mutho,
Mak jenthit lolobah, wong mati ora obah,
Yen obah medeni bocah, yen urip goleko duwit.

Itulah sebagian dari nyanyian bocah Jawa, yang oleh musisi Gombloh dalam lagu ‘Lestari Alamku’ atau judul aslinya ‘Berita Cuaca’ yang dilansir tahun 1982, disyairkan dengan:

Lestari alamku, lestari desaku.
Dimana Tuhanku menitipkan aku.
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama.
Nyanyikan pujaan untuk Nusa.
Damai saudaraku suburlah bumiku.
…………….

Tidak ketinggalan, mereka pun memainkan dolanan egrang, enthik, sepatu bathok, jelungan atau damparan sekalipun. Padahal, lazimnya permainan ini dimainkan di siang hari. Namun ketika itu, terbuka kemungkinan untuk dimainkannya di waktu malam, karena suasana malam tak jauh berbeda dengan terang siang. Bagi anak-anak yang berusia lebih muda, maka Bunda mereka mendongengkan cerita, sebagaimana digambarkan pada syair lagu almarhum Gombloh berikutnya ‘……. Ku ingat ibuku dongengkan cerita, kisah tentang jaya Nusantara Lama’.

Bagi anak-anak di masa lalu, bulan purnama adalah bagaikan ‘Sinterklas’, yang datang untuk menyapa mereka dan memberinya hadiah keriangan, walau hanya semalam. Oleh karenanya, kehadiran kembali bulan purnama di bulan-bulan berikutnya adalah jeda waktu tunggu yang musti dengan sabar dinantikannya. Karenanya, bersabarlah menanti, tidak perlu takut, sebab bulan punama atau ‘ulan andung-andung’ bakal hadir tiap bulan pada setiap tahun, sebagaimana tergambar pada lagu Banyuwangen karya Putra Indro Wilis, dengan petikan syait lagu :

Ulan andung-andung
Yoro metua saben ulan saben tahun.
Sinare condro dewi ala emak
Kepilu padhang mendem gyadung bakalan wurung.
……………

Tak ada tempat yang tak mempesona manakala bulan purnama tiba. Bahkan areal pekuburan sekalipun. Panorama yang antara lain dikalimatkan dengan ‘terang bulan terang di kali’ atau ‘padhang mbulan padhang ring candi’ adalah nuansa alam yang mempesona. Kali, candi dan kuburan, yang ketika di luar terang purnama terasa mencekam, menjadi tampak indah. Batu-batu candi yang setengah basah oleh guyuran hujan sore tadi menjadi berkilat serupa pualam, sehingga menjelma jadi ‘monumen suci ber-prabha’; yang menggugah dharmma bhakti bagi Kang Murbheng Dumadi.

Pada kesyahduan malam sebagaimana itu, kita semua (para peduli budaya) berkumpul di sini, pada pelataran Candi Badut — mahakarya Raja Gajayana beserta rakyat nagari Kanjuruhan – di malam terang ‘Mbulan Ndadari’, Kamis 24 Maret 2016, untuk tulus persembahkan dharma-seni bagi keagungan peradaban negeri.

Salam budaya, ‘Nuswantarajayati’.
Rahayu, rahayu, rahayu.

Sengkaling, 23 Maret 2016

Dwi Cahyono


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.