Tengger


01

KEBUL DAPUR TENGGER :
WANITA DI BALIK RITUS ‘PUJAN KASANGA’

Minggu, 1 Mei 2016, bertepatan dengan tibanya pujan kasanga, yakni satu diantara empat pujan pada ritus adat Tengger — selain Pujan Karo, Pujan Kapat, Pujan Kawalu dan Pujan Kasada. Pujan adalah ritual pada tingkat warga di satu areal (desa atau dusun), yang diselenggarakan di tempat kediaman Dukun Tengger.

Dengan kaidah sosial pedesaan, yakni kegotongroyongan (kebersamaan), sedari pagi warga Dusun Ngadas di Desa Ngadas bergiliran datang ke rumah Dukun membawa ubo rampe bagi penyelenggaraan Pujan Kasongo, dan selanjutnya dimasak oleh beberapa ibu — yang masih berkerabat dengan Dukun — untuk persiapan hajatan pada malam harinya.

Para wanita desa, dengan koordinasi istri Dukun, memasak aneka penganan di areal dapur pada rumah tinggal Dukun. Dalam kesibukan ini, tungku perapian (pawonan) menjadi sentra aktifitas. Kendati kini kompor gas telah masuk di desa terujung dalam wilayah Kabupaten Malang pada lereng selatan Gunung Tengger ini, namun pawonan tetap difungsikan sebagai perangkat memasak yang utama, utamanya ketika berlangsung hajatan.

Dengan cekatan, berkat adat kebiasaan, para ibu muda dan tengah baya yang seluruhnya tampil dengan busana khas Tengger terlibat aktif di dapur. Asap membumbung dari kayu bakar yang mendidihkan adonan masakan khas Tengger, melewati tiang-tiang (soko), usuk dan reng serta celah genting yang menghitam lantaran jelaga. Kebul dapur adalah petanda kehidupan, suatu indexial bahwa geliat sosio-budaya tengah berlangsung. Sementara, cercah sinar mentari menerangi ruang dapur lewat cendala di sisi utara dan barat serta celah-celah antar dinding papan dapur.

Pada kehidupan sosial Tengger, wanita adalah komponen sosial aktif. Bukan saja sebagai pebhakti bagi suami dan anak-anak, namun sekaligus sebagai pekerja ladang dan pengemban fungsi sosio-religis — sebagaimana tercermin ketika berlangsung perhelatan adat ini.

Desa adat Tengger Ngadas adalah satu diantara empat atau lima desa adat Tengger yang masih tersisa di wilayah Kabupaten Malang, yang kendati semenjak tahun akhir 1980 dan utamanya memasuki tahun 2000-an banyak mengalami perubahan sebagai pengaruh dari ngare (kawasan ngarai), namun adat istiadat Tengger terbilang masih berakar kuat hingga kini.

Oleh karena itu, layak bagi Kabupaten Malang untuk memprospekkannya sebagai desa wisata — lebih khusus lagi wisata desa adat yang unik, menarik dan penting, bahkan cukup alasan untuk dipredikatinya sebagai ‘TENGGER MULA’. Semoga ke depan Ngadas bukan saja medapatkan kemajuan dalam kewisataannya, namun simultan dengan itu eko-budayanya musti dijamin kelestariannya. Sebagai wisata etnogtrafis, perubahan drastis eko-budayanya bakal menjadikan karakter desa adatnya kian sirna, dan pada akhirnya menyirnakan pula minat wisatawan untuk berkunjung kemari.

Berbagai ritus adat, bukan saja ritus besar seperti Kasada, Karo dan Unan-unan yang masih bertahan hidup di Ngadas, namun ritus-ritus lain yang lebih kecil — seperti upacara entas-entas, pujan, mayu deso, barikan, sunatan (khitanan), pernikahan (walagara), tugel kuncung, brokohan bayi upacara wiwit (mula taman), dan petik (panen), tradisi petekan, maupun beragam ritus kecil lain — secara konsisten masih diselenggarakan. Baik di tingkat warga (komuntas) ataupun pada tingkat keluarga.

Dalam beragam perhelatan adat tersebut, para wanita memainkan peran yang penting ‘di balik layar’. Wanita Tengger adalah contoh perempuan tradisional yang mengemban beragam fungsi. Tak terbatas pada fungsinya di tingkat keluarga, namun juga di tingkat sosial, bahkan sebagai pelaku fungsi ekonomik yang penting. Kendati mereka tak memahami konsep dan teori ‘jender’, namun prinsip-pinsip ini secara tradisional telah berlaku di warga sub-etnik Tengger — walau dalam sejumlah hal berbeda dengan konsepsi jender dari Barat.

Viva wanita Tengger !!!
Kalian adalah contoh teladan. Para perempuan yang kedati aktif, rajin dan pekerja keras, namun tak lantas tergelincir tinggalkan kebhaktiannya terhadap keluarga maupun masyarakatnya — itulah sebagian konsepsi jender “ala Tengger”.

Salam budaya anak negeri,
‘Tenggerjayati”.
Nuwun.

Sengkaling, 2 Mei 2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!