Nyantrik


cantrik_janaloka

NYANTRIK, SALAH SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN JAWA MASA LAMPAU

Mutiara kata klasik “banyak jalan menuju Roma”. Ada beragam cara untuk dapat mencapai tujuan, untuk bisa mewujudkan maksud. Dalam hal pembelajaran pun, ada beragam cara yang dapat ditempuhi untuk mendapat butir demi butir ilmu, pengetahuan maupun ketrampilan. Atau dengan perkataaan lain, banyak cara dalam belajar. Meski cara belajarnya itu baik, namun tak semuanya tepat guna. Oleh karena itu, belajarlah dengan baik dan sekaligus secara tepat guna. Tepat bagi yang melakukan pembelajaran, tepat dengan yang dipelajari, dan tepat pula dengan tujuan yang hendak direngkuh.

Terdapat sejumlah perkataan Jawa khas untuk mengistilahi upaya atau cara belajar, antara lain: ngangsu kawruh (menimba ilmu), magang, nyuwito, nyantrik, ngenger, ngawulo, dsb. Kata jadian “nyantrik” berkata dasar (lingga) “cantrik”. Dalam kamus bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, kata ini tidak ditemukan. Boleh jadi, baru muncul pada era bahasa Jawa Baru (abad XVII).

TIimbullah pertanyaan yang spekulatif: mungkinkah kata “cantrik” berasal dari “cantri”, yakni varian penyebutan untuk “santri”. Jika benar demikian, maka “nyantrik” bersinonim arti dengan “nyantri”. Istilah ini digunakan sebagai pengganti “janaloka” dari masa sebelumnya (Masa Hindu-Buddha), seperti pada penyebutan “…… ala Cantrik, Jonoloko” (periksa alinea di bawah).

Kata “cantrik” menunjuk pada murid. Adapun “nyantrik” mengarah kepada aktifitas dari seseorang untuk belajar kepada guru. Pada konteks “nyantrik”, keaktifan terletak pada siswa, sebagaimana tampak dalam perkataan “murid mencari guru”, bukan sebaliknya “guru mencari murid”. Belajar di tahap awal kehidupan adalah wajib bagi setiap manusia. Bukan karena paksa atau lantaran belajar tanpa “bea” — arti luas bea bukanlah sekadar dana, namun juga suatu upaya yang sungguh-sungguh.

Murid lah yang mendapatkan garis bawah sebagai pihak yang berinisiatif mencari guru tepat baginya guna menimba ilmu (ngangsu kawruh) yang ia butuhkan. Menemukan “guru sejati” adalah proses pencarian yang tak mudah. Tidak mudah pula untuk bisa belajar dari guru sejati. Begitu pula, tidaklah gampang untuk dapat mempelajari ilmu sejati. Untuk itulah maka dibutuhkan kesungguhan, keuletan, kerajinan, pendekatan yang tepat kepada guru, bahkan pemahaman terhadap cara ajar tertentu yang digunakan oleh sang guru.

Pada film persilatan China, proses nyantrik semacam itu acap diperoleh gambarannya. Tidak semua orang “tahan uji” belajar dengan cara nyantrik. Ia tinggal bersama guru di suatu tempat yang jauh dan terpencil, turut terlibat dalam kehidupan guru, bahkan terkadang menyertai kemana guru pergi, mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru yang meski pada awalnya tak memahami mengenai apa yang tersirat dalam tugasnya.

Dunia pewayangan dan legenda Jawa seringkali melukiskan pembelajaran dengan cara nyantrik. Para cantrik adalah kaum muda yang berkemauan teguh untuk belajar. Mereka itu dapat dibanding dengan para sisya (kini “siswa”) yang tengah menempuh salah satu dari empat tahap kehidupan manusia (catursrama), yakni brahmacari (brahma-acarya), adapun maksudnya adalah pembelajaran kepada guru (acarya, brahmana) di tempat pembelajaran, yang dinamai dengan “pajaran (pa-ajar-an), mandalakadewagurwan, atau karsyan”. Dalam prasasti dan susastra lama lokasinya digambarkan di tempat yang jauh, terpencil bahkan sunyi. Mereka tinggal di asrama (srama), yang acap berada di dalam hutan (wanasrama).

Salah seorang cantrik dalam pewayang Jawa dijuluki dengan “Cantrik Jonoloko”, unsur nama yang berasal dari istilah Sanskrit “janaloka”, yang berarti: kediaman putra-putra Brahma dan manusia yang saleh (Zoetmuder, 1995:411). Istilah ini antara lain didapati dalam susastra Uttara Kanda (44), Brahmandapurana (12), Agastyapurana (379), dan Bharattayudha (31.8). Dengan demikian, setidaknya telah dikenal di Jawa sejak abad X Masehi.

Demikianlah sekelumit info tentang model pembelajaran kuno “nyantrik”. Kini telah jauh berubah, bahkan nyaris tiada yang tersisa. Pajaran atau mandalakadewagurwan tak lagi berada ditempat yang sulit dijangkau. Bukan murid yang mencari guru ataupun peguron, namun sebaliknya, karena filosofi dalam “bisnis persekolahan” adalah banyak murid banyak pendapatan. Cara atau metode belajar pun dipermudah sedemikian rupa agar tak dijauhi siswa. Ajar trampil lebih diutamakan daripada ajar pahaman ataupun pendalaman ilmu pengetahuan.

Cantrik hanya menjadi cerita masa lalu. Oleh banyak orang dikatakan sebagai “out of date (ketinggalan jaman)” dan karenanya dianggap telah tidak relevan dengan kondisi masa kini, apalagi bagi masa mendatang.
Benarkah demikian adanya?

Salam budaya.
Nuwun.

Sengkaling, 9 Mei 2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!