Siva Family


13094296_1025945460775101_5081331184865979050_n

KELUARGA SIWA DALAM SEBUAH SENI-ARCA MASA SINGHASARI

PENGANTAR

Dalam dunia fotografi dikenal apa yang disebut dengan “foto keluarga”. Pada masa lampau, ketika pra-fotografi, visualisasi viguratif terhadap anggota keluarga antara lain diekspresikan dalam bentuk seni pahat, yang berwujud arca. Oleh karena itu, arca merupakan artefak masa lalu yang dapat difungsikan sebagai sumber data jenis artefaktual untuk menyingkap sosio-budaya masa silam di suatu tempat.

Dalam seni-arca (ikonografi) Masa Hindu-Buddha, keluarga yang divisualisasikan dalam bentuk arca bisa berupa arca-arca dewata. Ada arca dewa tunggal, pasangan dewi-dewi ataupun dewa utama beserta dewata lainnya dalam satu bidang pahat. Sesuai dengan yang tokoh dipahatkan, yakni dewata, maka sudah barang tentu fungsi semula adalah sebagai media dalam ritus pemujaan.

DESKRIPSI IKONIGRAFIS

Salah sebuah patung diantara sekumpulan arca pada sisi barat halaman Candi Singhasari, yang terbesar ukurannya dan tepat berada di garis sumbu dengan pintu masuk menuju ke bilik utama (garbagrha) candi, adalah “arca Parwati”. Arca dari batu andesit (batu kali) ini dalam posisi berdiri diatas pedestal berbentuk Yoni besar — lengkap dengan cerat dan binatang mitologis penyangga cerat.

Penyebutan “arca Parwati” untuk arca itu mendasarkan pada identifikasi terhadap arca dewi, yang pahatkan pada posisi tengah — menempel di sandaran arca (stella), yakni Arca Dewi Parwati atau Dewi Uma. Sebenarnya, selain Arca Dewi Parwati, pada sisi kanan-kirinya — pada sandaran arca yang sama — terdapat pahatan dewa-dewa lainnya, yaitu sebagai berikut :

(1) Sepasang pahatan/arca Dewa Pariwara, yakni dua atau lebih dewa/i pengiring dewa/i utama (istadewata), yang pada arca ini diposisikan bediri tegak lurus (samabhangga) di kanan-kiri kaki Dewi Parwati.

(2) Arca Bhairawa dalam ukuran kecil, pada posisi samping kiri atas arca Dewi Parwati. Digambarkan berada di atas rekahan bunga teratai (padma). Aspek Dewa Siwa dengan ciri demonis bernama “Bhairawa” ini dipahatkan lengkap dengan kendaraan (wahana)nya, yang berupa srigala. Laksana khas untuk Siwa, yakni trisula, dibawa dengan tangan kanannya.

(3) Arca Kartikeya (Skanda), yakni putra sulung pasangan Siwa-Parwati, yang berarti adalah kakak Ganesya. Arca dalam ukuran kecil bertangan dua belas — sepuluh tangan belakang masing-masing membawa aneka senjata — dan berwahana burung onta ini juga diposisikan di samping kiri arca Parwati, tepatnya di atas arca Bhairawa. Penggambarannya juga di atas kelopak padma.

(4) Arca Ganesya, yakni putra bungsu dari pasangan Siwa-Parwati, atau adik dari Dewa Kartikeya (Skanda). Arca berwujud antrophomorfis — manusia setengah binatang, yakni manusia-gajah — berukuran kecil ini diposisikan pada samping kanan atas arca Parwarti. Penggambarannya juga di atas padma.

(5) Kendati arca ini dalam kondisi rompal, namun masih perlihatkan indiikator berupa perut buncit dan jenggot lebat. Boleh jadi meupakan arca Agastya, yakni seorang diantara tujuh Rsi utama (Sapta Rsi) sebagai murid (sisya) dari Dewa Siwa. Dewata yang berperut buncil ini karenanya dinamai “Rsi Kumbhayoni”, yakni Rsi yang perutnya menyerupai jambangan (kumbha). Namun tak seperti lazimnya, Agasya yang acap digambarkan dengan posisi berdiri samabhangga itu pada arca ini justru diposisikan bersila.

Berdasarkan identifikasi pada masing-masing arca di atas, maka cukuplah alasan untuk menyebutnya dengan “arca keluarga Siwa (Siva Family Schlupture)”. Arca besar yang berdiri tegak diatas pedestal berbentuk Yoni besar itu bisa ditarikhkan dari Masa Singhasari atas indikatornya yang berupa sepasang teratai tumbuh menjulur ke atas dari bonggolnya, yang dipahatkan pada sandaran arca bagian bawah pada kanan-kiri dewa pariwara.

LATAR RELIGIS

Uniknya, pada personifikasi Siva Family dalam wujud seni arca ini, Dewi Parwati yang merupakan istri (sakti) dari Dewa Siwa justru diposisikan di tengah dan dalam ukuran paling besar. Demikian besar dan tingginya hingga bagian kepala arca terpaksa dibuat dari batuan lain yang lantas disatukan dengan sebagian besar bagian arca yang berada dibawahnya. Tergambar dalam penampakan (visualisasi) ini bahwa fokus pemujaan menurut konsep “puja luar (arcana)” adalah Dewi Parwati. Atau dengan perkataan lain, Dewi Parwati adalah dewata utama (istadewata) dalam pemujaan ini.

Jika benar demikian, berarti aliran Tantrayana Hindu atau Cakta (Saktisme) yang melatari pemujaan tesebut, karena di dalam ritus Cakta (Saktisme, Tantra) terdapat keyakinan bahwa pusat kekuatan berada pada diri perempuan. Dengan demikian; maka pemujaan difokuskan kepada Dewi, bukan terhadap Dewa.

Hal serupa juga tergambar pada Arca Camundi dari Masa Singhasari, yang konon ditemukan di Desa Ardimulyo Kecamatan Singsosari. Pada masa bersamaan, Saktisme atau Tantrisme juga berlangung dalam Mahayana Buddhisme, sebagaimana terbukti pada pemujaan arca Prajnaparamita sebagai Aditara.

Arca Prajnaparamita pernah diketemukan pada reruntuhan Candi Putri di Desa Pagentan Kec. Singosari — sempat dikoleksi di Museum Leiden dalam waktu lama, sebelum dikembalikan lagi ke Indonesia (kini koleksi Musium Nasional). Ternyata, arca serupa, namun dalam kondisi telah aus dan rompal , juga didapati di halaman sisi barat Candi Singhasari.

PENUTUP

Demikianlah kupasan ringkas tentang salah satu arca yang berada di halaman Candi Singhasari. Kendati arca ini terbilang besar, namun acap kurang terperhatikan. Kalaupun ada yang memperhatikan, barangkali kurang memahaminya. Semoga tulisan ini bisa sedikit membantu dalam mencerahkannya.

Utamanya untuk menunjukkan adanya sebagian bukti masa lampau bahwa fokus pemujaan bukan semata tertuju kepada Dewa (unsur maskulin). Dalam aliran (sekte) Tantra atau Cakta (Saktisme), baik pada Tantrayana Hindu ataupun Buddhis, justru unsur feminin dalam wujud Dewi lah yang dijadikan fokus pemujaan atau diposisikan sebagai dewa utama (istadewara) dalam pemujaan (dewapuja).

Salam budaya,
“Singhasarijayat”.
Nuwun.

Sengkaling, 9-5-2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!