Candi Dadi


13051656_989673961115817_5073814058687915754_n

CANDI DADI : Mahavedi yang Memahkotai Puncak Tertinggi Walikukun

KAWASAN ARKEOLOGIS BUKIT WALIKUKUN

Sub-area Selatan Tulungagung seakan bentangkan perbukitan panjang, yang membentuk garis poros alamiah barat-tmur. Diawali dengan :

(1) Gunung Budheg (Cikrak) pada posisi ujung barat. Jejak-jejak arkelogisnya berupa kompleks Goa Pasir di lereng utara serta Watu Joli pada puncaknya, yang masuk dalam wilayah Desa Tanggung.

(2) Perbukitan Walikukun jejak-jejak arkeologisnya antara lain berupa :

(a) Goa Selomangleng dan altar monolith di bagian atasnya pada lereng sisi barat, yang masuk dalam wilayah Desa Sanggrahan.

(b) Beberapa situs di punggung bukit, berturur-turut dari barat ke timur terdapat reruntuhan bangunan (warga setempat menyebut “candi”) seperti Candi Butho, Urung, Gemali, Bubrah, dan sebuah Yoni dengan cerat berpahatkan naga – Lingga telah hilang, yang disebut oleh warga dengan “Candi Naga”.

(c) Candi Dadi ditempatkan di puncak bukit yang tertinggi;

(d) Pada punggungan bukit di sebelah timur Candi Dadi terdapat reruntuhan, yang memperlihatkan tempat penambangan batu dan pembuatan/perbengkelan balok-balok batu,

(e) Pada bukit Tumpak Lesung terdapat deretan tangga batu, altar serta tinggalan lain yang masih tertutup ilalang dan semak belukar, dan diantaranya oleh warga disebut adanya bongkah batu berlobang menyerupai “lesung batu”.

(f) Pada lembah di sebelah timurnya terdapat Sumber Omben dan bata-bata kuno serta fragmen-fragmen gerabah.

(3) Bukit Sodo, padamana terdapat kompleks Goa Pasir, dengan berbagai tinggalan arkeologis eks karsyan (ka-rsi-an) di Desa Junjung.

Selain itu terdapat kompleks pertapaan, yang oleh warga disebut “Goa Banyu Urip” di lereng bawah hingga lembah sisi utara pada Desa Wajak Kidul. Situs lain yang tidak terlampau jauh jarak darinya antara lain Candi Gayatri (Boyolangu), Candi Sanggrahan (Cungkup) beserta watu cencang gajah (tiang pengikat tali untuk gajah) dan umpak-umpak besar, Candi Mirigambar serta Candi Tuban (yang telah dimusnahkan tahun 1967an), Candii Ampel (Joho), Situs Bethak, situs Islam Demuk, dsb.

Dalam bentang perbukitan inilah (Walikukun), Candi Dadi berada pada posisi relatif di tengahnya. Ditempatkan di puncak bukit yang tertinggi. Ada beberapa jalur yang dapat ditempuh untuk menuju ke Candi Dadi:

(1) dari arah barat, yaitu dari Situs Selomangleng di Desa Sanggrahan,

(2) dari arah utara, baik lewat situs Goa Banyu Urip Desa Wajak Kidul melintasi lokasi Candi Butho, Urung, Gemali dan Bubrah, maupun lewat Dusun Kedung Njalin di Desa Junjung, serta

(3) dari arah timur, yaitu dari situs Goa Pasir di Dusun Pasir Desa Junjung melewati Sumber Omben, Tumpak Lesung dan areal perbekelan balok batu.

Jika menilik bebatuan pada lereng utara, barat maupun timur, yang didominasi oleh batuan jenis breksi vulkanik, tergambar bahwa Bukit Walikukun adalah eks gunung berapi purba yang bersatus sebagai “gunung api yang telah mati”. Lobang kepundannya terlihat pada posisi puncak bukit tertinggi, padamana terdapat Candi Dadi. Aliran lava utama tergambar melintasi celah terjal.(curah) di sisi utara Candi Dadi, yang menperlihatkan adanya batuan breksi vulkanik, yang konon terbentuk dari magma beku luar. Dengan demikian, ketika candi ini dibangun pada masa Majapahit tepat berada pada eks kaldera purba yang kala itu telah mengering.

Dengan mencermati banyaknya dan perebaran jejak arkeologis yang berhasil diketemukan, tergambar bahwa perbukitan Walikukun adalah kawasan arkeologis yang luas. Tinggalan yang ada berupa bangunan peribadatan dan sisa permukiman semi-permanen dari para pemangku bangunan suci bersangkutan. Sayang sekali, sejauh ini eksplorasi jejak-jejak arkeologis di kawasan ini masih belum optimal dilakukan, baik lantaran arealnya yang luas maupun medan gunung yang sukar dan ditumbuhi oleh ilalang tebal serta semak belukar. Boleh jadi, jumlah tinggalan arkeologis yang ada jauh lebih banyak daripada yang telah berhasil didapati. Masing-masing puncak bukit dan lereng dan lembah-lembah antaranya berpotensi memiliki jejak budaya masa lampau.

IDENTIFIKASI BENTUK DAN FUNGSI CANDI DADI

Secara arsitektural Candi Dadi bisa dibilang relatif utuh dan karenanya memiliki komponen lengkap, yang berwujud sebuah teras tunggal berbangun bujur sangkar (14 x 14 m) dengan tinggi sekitar 3 m. Bangunan teras tersebut terdiri atas perbingkaian bawah dan atas mengapit batang. Kenampakkan atas memperlihatkan beberapa bangun tersusun dari bawah ke atas sbb.:

(a) bangun terluar berbentuk segi empat sama sisi, disusul

(b) bangun segi enam belas,

(c) bangun segi delapan, dan pada titik sentum terdapat

(d) bangun bundar (silindris).

Tidak terdapat tanda-tanda bahwa bangunan teras tunggal ini memiliki satu atau lebih tangga.

Bangun segi empat sama sisi (bujur sangkar), segi enam belas dan segi delapan beserta bangun bundar di titik sentrum perlihatkan formula kosmologis, yaitu penjuru mata angin dan axis (titik sentrum) sbb: 4 + 1, (2 x 2 x 4) + 1 dan (2 x 40) + 1. Formula demikian acapkali tampil pada tata bangun mandala. Selain itu juga memiliki makna simbolis terkait dengan konsepsi religis di dalam agama Hindu ataupun Buddha.

Secara religis, di dalam agama Hindu, bangun segi delapan (heksagonal) dapat dihubungkan konsep “lokapala” atau dinamai pula “hastadikpalaka”, yakni delapan dewa penjaga penjuru mata angin. Formula 8 + 1 bisa direlasikan dengan konsep “nawasanga”. Adapun formula 4 + 1 boleh juga dipertalikan dengan sistem “tatagata” dalam.Mahayana Buddhisme terkait dengan letak para patheon (dyanibuddha, dyanibodhisattwa maupun manusibuddha pada penjuru mata angin dan titik sentrum.

Pendapat lain menyatakan bahwa bangunan ini tidak lengkap atau hanya sebagian dari seluruhnya. Jika lengkap maka membentuk stupa. Berarti terdapat beberapa komponen diatas teras yang kini telah tiada, yaitu:

(a) kubah (anda),

(b) yasti, dan

(c) payung bersusun (catra).

Tangga boleh jadi memang tidak ada, sebagaimana pada Stupa Sumberawan. Menurut pendapat ini, Candi Dadi dilukiskan sebagai stupa tunggal berukuran besar di puncak tertinggi pada perbukitan Walikukun.

Identifikasi Candi Dadi sebagai stupa memiliki beberapa segi kelemahan, yaitu tidak/belum diketemukan adanya balok-balok batu lengkung penyusun kubah (anda). Selain itu sukar dipahami adanya bangun kubah l, yasti dan catra diatas lobang silindris yang besar dan dalam. Jika bukan stupa, Candi Dadi diidentifikasikan sebagai apa?

Arkeolog Universitas Indonesia, yakni Agus Aris Munandar, pernah mengidentifikasikan Candi Dadi dengan “vedi” berukuran amat besar (mahavedi). Vedi adalah tempat umtuk mempersembahkan sesajian (offering). Pendapat ini selaras dengan unsur nama bukit padamana candi ini berada, yaitu bukit Walikukun. Unsur nama “wali” dapat dipertukarkan menjadi.”balu” (konsonan W bertukar dengan B) Kata “bali” bersinonim arti dengan “banten”, yang menunjuk kepada sesajian yang dipersembahkan kepada dewata atau arwah nenek moyang (ancestors) yang diperdewa atau unsur kekuatan alam luar biasa (supernatural forces) yang juga diperdewa. Dengan demikian, nama bukit “Walukukun” bukan saja menggambarkan habitat tanaman keras yang bernama “Walikukun”, namun sekalugus untuk mengabadikan kegiatan religis di tempat ini pada masa lalu berupa persembahan sesajian kepada dewata yang bersemayam di puncak gunung ini.

Persembahan korban ke dalam lobang silindris di bagian tengah Candi Dadi dalam fungsinya sebagai mahavedi mengingatkan kita kepada pelarungan sesajian ke dalam kaldera Bromo pada ritus tahunan Kasada dalam budaya sub-etnik Tengger. Kesan demikian kian menguat manakala cermati bahwa Candi Dadi dibangun tepat di atas lobang kepundan (kaldera) Gunung Walikukun yang telah mengering. Lobang silindris itu secara simbolik representasikan lobang kepundan dan kaldera, yang dalam.konteks Ritus Kasada menjadi tempat untuk melarung sesajian (banten). Adapun maksud persembahan sesajian ke dalam mahavedi di puncak Walikukun boleh jadi untuk meredam ugra (murka) dari eks vulkan purba ini agar tidak meletus kembali.

Menurut konsepsi religis Hindu ataupun Buddhis, pesenayaman para dewa berada di puncak Gunung Meru. Dalam agama Hindu, raja dari sekalian dewa adalah Dewa Indra, sehingga istana (kadatwan) dewata.yang dipimpin oleh Dewa Indra itu dinamai ‘Kaindran (ka-Indra-an)” Dalam konsepsi ini, Candi Dadi yang berada di puncak tertinggi Walikukun diidentikkan dengan Kaindran. Pada tempat inilah dewata bersinggasana.

Bangun persegi delapan yang mengelilingi bangun bundar di permukaan atas Candi Dadi secara simbolik menggambarkan delapan kelopak bunga teratai merah merekah (padma). Candi Dadi dengan demikian adalah suatu pedestal, yang di permukaan atasnya terdapat padmasana bagi kehadiran dewata yang dipuja di Candi Dadi ini.

Puncak Gunung Walikukun beserta Candi Dadi yang memahkotainya dapat pula diibaratkan dengan swarga (nirwana) Perjalan jauh dan mendaki kearahnya ibarat perjalan suci (yatra) ke puncak Gunung Himalaya (Meru) untuk mencapai nirwana atau sorga (swargarohana), sebagaimana digambarkan dalam bagian (parwa) terakhir kitab Wiracatita Mahabarata yang bertajuk “Swargarohana parwa” Meminjam istilah ini, perjalan suci (yatra) menuju ke Candi Dadi yang merupakan simbol swarga dengan demikian tepat untuk diistilahi dengan “Swagarohanayatra”.

KONSERVASI DAN FUNGSIONALISASI TINGGALAN BUDAYA DI BIKIT WALIKUKUN

Candi Dadi yang berada di puncak tertinggi perbukitan Walikukun adalah tinggalan arkeologi kategori terpencil. Jauh dari permukiman, berada di perbukitan yang tak mudah dijangkau sembarang orang dan terbatas jumlah juru piaranya. Dalam kondisi riilnya demikian, candi yang berasal dari Masa Keemasan Majapahit ini kurang optimal pelestariannya. Kondisi yang lebih terlantar menimpai situs-situs lain yang ada disekitarnya. Balok-balok batu tidak sedikit yang terbongkar dari strukturnya, beberapa bagiannya tertimbun tanah, ditumbuhi ilalang tinggi dan tebal maupun semak belukar yang diselingi tumbuhan duri rendet dan sejumlah pohon tegakan.

Dalam kondisinya demikian, tinggalan arkeologis di sub-area selatan Tulungagung yang ada kini hanyalah sebagian dari yang sesungguhnya ada Selebihnya masih belum diketemukan. Yang telah ditemukan itupun kondisinya relatif terlantar. Ia hadir sebagai benda yang telah kehilangan fungsi dari fungsinya semula, sementara fungsi-fungsi baru yang dicobalekatkan kepadanya masih belum melembaga. Padahal, ada semacam perbanding sejajar antara kelestarian-keberfungsian. Lantaran telah tidak difungsikan, maka cenderung diabaikan dan karenanya terancam kelestariannya. Dengan perkataan lain, pelestarian terhadap Candi Dadi dan tinggalan arkeologi-sejarah lain di sekitarnya mustilah dilakukan secara simultan dengan pemfungsiannya kini dan mendatang.

Ada beragam fungsi relevan untuk mendayagunakan tinggalan budaya masa lalu di perbukitan Walikukun. Selain fungsi religi — sebagaimana fungsinya semula, fungsi edukatif dan rekreatif tepat pula dikenakan padanya. Dalam fungsi religisnya, Candi Dadi dan situs keagamaan masa Hindu-Buddha itu layak dijadikan tujuan wisata peziarahan (pilgryme) dan areal ritus. Bukan hanya bagi umat Hindu, namun juga bagi penganut Buddhis dan penganut keyakinan lain.

Relasi religis antara Candi Dadi dengan keagamaan Hindu ditunjukkan oleh kedekatan jarak dan kemungkinan kait prosesual dengan candi-candi di sekitarnya (Candi Butho, Urung, Gemali, Bubrah, Nogo, dsb) yang konon menjadi “satra (tempat ibadah singgahan)” sebelum mencapai tujuan utama (Candi Dadi). Salah satu candi tersebut, yakni Candi Nogo — yang memiliki tinggalan berupa Yoni, jelas merupakan candi Hindu. Adapun relasinya dengan Buddhis diindikatori oleh pernah diketemukannya fragmen kepala arca Dhyani Buddha di dekat Candi Dadi. Perihal itu lebih diperkuat oleh adanya situs-situs lain di lembah bukit Walikukun, Sodo dan Cikrak (Budheg) yang berlatar agama Hindu, Buddha maupun Rsi.

Tergambar bahwa sub-area selatan Tulungagung konon merupakan sentra kegiatan dari beragam agama. Nuansa budaya kebhinekaan dan ketoleransian pernah hadir dan memberikan contoh teladannya disini. Dalam kesemuanya itu, Candi Dadi yang letaknya paling tinggi dan sekaligus menjadi titik puncak prosesi keagamaan di kawasan ini seakan jadi simpul kebhinekaan yang berlangsung di areal bawah Bukit Walikukun dan sekitarnya.

Semoga teladan arif dari tinggalan arkeologis ini menginspirasi kita semua untuk berdampingan dalam damai manakala menjalani derap kehidupan sosial-budaya yang beragam pada ruang dan waktu yang relatif sama. Salam budaya bhumiputra, “Nuswantarajayati”. Nuwun.

Sengkaling, 10 Juni 2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!