maxresdefault

PANGERAN SABRANG DALAM TARIAN PANJI GAGRAK MALANG

PEMAKNAAN KONOTATIF TARI GREBEG SABRANG

Sekitar dua bulan lalu di Kota Malang digelar tari kolosal “Grebeg Sabrang”, yang melibatkan siswa lintas sekolah. Perhelatan seni yang diinspirasi hasil riset dosen tari Univ. Negeri Malang ini sempat menyentuh sensitifitas sebagian seniman Malang terkait dengan spirit lokal (daerah, region). Perihal ini kiranya bermuasal pada dikotomi antara Jawa dan Luar Jawa (Sabrang).

Sensitifitas timbul karena pada sesi-sesi tari topeng Malang terdapat apa yang disebut dengan “Grebeg Jowo”. Pertanyaan yang ketika itu muncul adalah mengapa bukan tarian Grebeg Jowo — yang lebih berkonotasi lokal — yang lebih didahulukan untuk dijadikan tarian masal. Namun sebaliknya, justru tarian yang diperani oleh pangeran sabrang (raja, patih, dan pejabat tinggi lain) yang perilakunya berbeda dengan perilaku orang Jawa yang mendapat prioritlas.

CAKUPAN ARTI “SABRANG” DALAM CERITA PANJI

Sebenarnya, bukan hanya para pangeran dari luar Jawa saja yang bisa disebut sebagai ‘Pangeran Sabrang” dalam Cerita Panji. Para Panji (Ksatria/Pangeran Jawa) pun dalam konteks tertentu bisa juga dijuluki “Pangeran Sabrang”, yaitu ketika mereka tengah mengemban tugas atau melakukan ekspansi politik dan militer keluar Jawa dalam lingkup Nusantara atau bahkan keluar wilayah Nusantara (Champa, India, Thai, dsb).

Sebutan “Kelono” atau “Klono” terhadap Panji, antara lain “Klono Sewandono”, menggambarkan tentang pengelanaan para Panji ke tempat-tempat jauh di seberang laut. Misalnya, pengelanaan Panji ke Bali dalam lakon “Bedhahing Bali”. Demikian pula, dalam prasasti Pabanyolan (Gubug Klakah) dari masa Akhir Majahit dikisahkan tualang Panji hingga ke India maupun Indo-Cina untuk mencarikan obat/tabib bagi ibunya. Hal serupa juga dijumpai dalam varian-varian Cerita Panji.

Latar sejarah pengelanaan para Panji tersebut dapat dirujukkan pada doktrin politik Singhasari “Cakrawalamandala Nusantara” maupun “Hamukti Palapa” pada Masa Majapahit. Salah seorang tokoh sejarah masa Singhasari hingga masa awal Majapahit menyandang predikat “sabrang”, yaitu Kbo Anabrang, yang menjadi pimpinan pasukan pada Expedisi Pamalayu semasa pemerintahan Kretanegara (tahun 1275 Masehi). Bahkan, predikat serupa disandang oleh sultan pada era Kasultanan Demak, yaitu Adipati Unus, yang mendapat julukan “Pangeran Sabrang Lor”.

TARI GREBEG JAWA SEBAGAI PENGIMBANG GREBEG SABRANG

Pada konteks pengartian terpapar diatas, mustinya tak usah “pobia” terhadap sebutan “sabrang” dalam perkataan “Grebeg Sabrang”, dengan pertimbangan bahwa:

(a) sebutan “Pangeran Sabrang” bukan melulu untuk pangeran luar Jawa, namun disandangkan pula kepada ksatria Jawa (Panji),

(b) konteks peristiwa pengelanaan Panji ke negeri seberang atau sebaliknya kehadiran pangeran luar Jawa ke bhumi Jawa berada dalam konsep integrasi Nusantara terkait dengan doktrin politik Cakrawalamandala Nusantara dan Sumpah Palapa, serta diplomasi politik-kebudayaan dari kerajaan di Nusantara dengan negeri lain dalam bingkai ” kemitraan yang bersejajar (mitrekasatata)”.

Akar masalah yang menyentuh sensitifitas lokal sebagaimana dipaparkan di awal tulisan ini adalah pilihan jenis tari grebeg mana yang didahulukan. Pada kasus tersebut, timbul semacam ketersinggungan lokal apabila tari Grebeg Sabrang didahulukan daripada Grebeg Jawa. Namun, kini ibarat pepatah “nasi sudah menjadi bubur”, hal itu telah nyata berlalu. Oleh karena itu, sebagai pengimbang (balanching), maka pada tahun depan (2017) ada baiknya dihelat pula tarian kolosal “Grebeg Jawa”, sehingga para siswa memiliki dua jenis tarian grebeg dalam tarian Panji Gagrag Malang sekaligus, yaitu Grebeg Jawa dan Grebeg Sabrang.

Esensinya bukan sekedar pernah digelar tari kolosal Grebeg Jawa dan Grebeg Sabrang dalam rangka Hari Jadi Kota Malang — yang ditarikan oleh perwakilan pelajar dari berbagai sekolah, namun yang lebih urgen adalah konsistensinya untuk melatihkan tarian ini atau tarian lokal Malang lain di sekolah. Apalah artinya jika sekali digelar secara masal, tapi tanpa disertai dengan penyinambungan dalam pembelajaran seni secara intensif di sekolah. Seperti pepatah “sekali berati, setelah itu mati”. Atau seakan menjadi “proyek kesenian” tahunan atas nama sosialisasi kesenian lokal (daerah).

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya bhumiputra,
“Nuswantarajayati”.
Nuwun.

10 Juni 2016

Dwi Cahyono