Connect with us

VIDEO

WADITRA BERDAWAI

Avatar

Published

on

RELIEF CANDI JAJAGHU: Fakta Akar Historis Waditra Berdawi di Malangraya

 

A.29a

Dua buah panil relief cerita Kunjarakarna pada teras I Candi Jajaghu. Memvisualkan perhelatan seni sakral, yang berturut dari muka ke belakang memperlihatkan: (a) pengidung himne pijian, (b) peniup seruling, (c, d) pemetik wina beragam bentuk, dan (e) pemetik celempung.

 

Susastra Kunjarakarnadhammakatana pupuh XXXIII.1-4 dan 6 memuat kisah mengenai ritus dewapuja di Boddhicitta, yakni pemujaan terhadap Dhyani Boddhisattwa Wairocana sebagai istadewata . Dalam ritus ini, para gandharwa unjuk kepiawian dalam menyanyi dan memainkan ragam waditra, seperti kala, sangka, bheri, mredangga, gong, murawa, padahi, bonjing, mahasara dan munda. Sementara itu, para apasara dan dewa-dewi di langit memperlihatkan keandalannya dalam menari (nretta) dengan gerakkan yang lemah gemulai. Ada pula yang memainkan waditra dengan suara kencang, atau menyanyi dengan suara merdu. Para kinara mulai menyajikan lawakan (abanda garya). Tak terbilang dewa dewi di langit bernyanyi (angidung) sebagai himne-himne pujian dengan iringan kangsi dan wina. Acara pun diakhiri dengan pementasan tari (anretta) (Teeuw, 1981:144).

A.29b

Relief di Candi Jajaghu yang memvisualkan upcara puja di Boddhicitta, yang berupa himne pujian dengan iringan ansambel musik yang didominasi oleh waditra berdawai.

 

A.29c

Relief di Candi Jajaghu yang memvisualkan perjalanan pulang para pelaku seni pasaca perhelatan seni sakral di Boddhicitta. Para musisi membawa waditra telah mereka mainkan masing-masing.

 

Sejauh diketemukan dan berhasil diidentifikasikan, satu-satunya candi yang memvisualkan relief cerita Kunjarakarna adalah Candi Jajaghu (Jago). Diantara deret panjang panil-panil relief cerita yang dipahatkan di sekelilling teras I, ada yang memvisualkan ritus dewapuja di Budhicitta. Namun demikian, gambarannya tak sama persis dengan yang termaktub dalam teks tersebut (pupuh XXXIII.1-4dan 6). Hanya terdapat dua panil relief yang memvisualkan adegan ini, yaitu:

(a) ketika ritus dewapuja berlangsung, dan

(b) kepulangan para pelaku seni pasca menyemarakkan ritus dewapuja.

 Gambaran mengenai kesemarakan perhelatan seni sakral pada relief cerita itu tak sedetail dan sesemarak yang tertera dalam susastra tekstual Kunjarakarna. Hanya digambarkan seorang penyanyi (pangidung) yang tengah menyanyikan himne pujian dengan iringan seruling (kangsi atau bangsi), dua jenis wina serta sebuah celempung. Apa yang divisualkan ke dalam relief cerita ini — dengan beberapa modifikasi — adalah pupuh XXXIII.6, yang memvisualkan tentang dewi-dewi di langit yang menyanyikan himne pujian dengan iringan wadutra kangsi dan wina.

 Pada viasualisasi ini para dewi hanya diwakili oleh seseorang pengidung, sedangkan waditra pengiringnya diperluas dari dua buah menjadi empat buah. Waditra berdawai yang di dalam susastra hanya dinyatakan sebuah, yakni wina, dalam relief cerita ini diperkaya menjadi tiga buah, dengan rician:

(a) dua jenis wina, dan

(b) sebuah celempung.

 Sebuah wina bentuknya menyerupai perkembangan bar-zither. Menilik konstruksinya dan adanya sebuah resonator tambahan yang bentuknya menyerupai separoh buah labu di ujung tangkainya, mengingatkan kepada tuila di India (Deva, 1979: 87). Adapun sebuah wina lainnya adalah perkembangan dari bin asal India Utara, yakni waditra berdawai jenis wina dengan resonator tambahan yang bentuknya menyerupai buah labu dengan posisi mengarah ke samping atas sebelah kiri kepala wina dan pada samping kanan pinggang wina. Waditra berdawai ini juga merupakan perkembangan lebih dari bar-zither.

 A.29d

Detail relief yang menggambarkan seorang peniup seruling (kangsi atau bangsi), yakni salah satu waditra dalam ansambel musik pengiring himne pujian.

 

 A.29e

Detail relief yang menggambarkan pemain wina. Konstruksi dan resonator tambahannya menyerupai tuila asal India.

 

A.29f

Detail relief menggambarkan pemain wina. Menilik bentuknya, waditra ini merupakan perkembangan dari bin asal India utara.

Panil relief selanjutnya menggambarkan iringin-iringan para pelaku seni tersebut, manakala mereka pulang pasca menyemarakkan ritus dewapuja di Boddhicita. Para musisi membawa waditra yang telah dimainkan masing-masing, yaitu seluring (bangsi) vertikal, dua macam wina dan celempung. Cara membawa waditra-waditra ini perlihatkan keserupaan dengan cara membawanya pada masa sekarang. Khususnya mengenai cara membawa celempung, yang dipanggulkan pada pundak kirinya. Hal ini mengingatkan kita pada cara membawa kecapi (siter) oleh pengamen kecapi berkeliling (ambarang).

 A.29g

Detail relief yang menggambarkan seorang musisi membawa pulang wina (menyerupi bentuk tuilan) pasca perhelatan seni sakral di Boddhcitta.

 

A.29h

Detail relief menggambarkan seorang musisi membawa pulang wina (menyerupai bentuk bin) pasca perhelatan seni sakral di Boddhicitta. Tergambar bahwa bentuk resonatornya menyerupai bentuk busur panah.

 

A.29i

Detail relief menggambarkan seoang musisi membawa pulang celempung dengan jalan memanggulnya di pundak kiri.

 

Candi Jago merupakan pendharman bagi arwah raja Singhasari, yakni Wisnuwarddhana, dengan arca perwujudan berbentuk Amogopasha. Candi ini pernah mengalami renovasi signifikan pada medio abad XIV semasa Keemasan Majapahit. Terkait itu, ada kemungkinan relief-relief yang dipahatkan di teras I-III maupun tubuh candi Jajaghu adalah seni-pahat yang berasal dari abad XIV Masehi. Waditra berdawai yang divisualkan pada relief cerita Kunjarakarna di teras I tersebut, dengan demikian amat mungkin merupakan representasi khasanah waditra yang terdapat di Jawa, dan lebih khusus lagi di kawasan Malangraya, pada Masa Kemasan Majapahit. Atau dengan kata lain, waditra berdawai — yang dalam konteks relief tertelaah ini berupa dua jenis wina dan sebuah celempung sudah dikenal atau telah memiliki akar historis di kawasan timur Gunung Kawi (Malangraya), setidaknya semenjak pertengahan abad XIV Masehi.

Memang, Malang bukanlah satu-satu daerah di Jawa yang mempunyai jejak historis dan arkeologis perihal wadtra berdawai, namun dapat dikatakan bahwa daerah ini ‘memiliki akar historis waditra dawai’ pada Masa Hindu-Buddha, yakni jauh sebelum Masa Kolonial. Oleh karena itu, cukuplah alasan untuk menyatakan bahwa Festival Dawai Nusantara (FDN) ke-1 (tahun 2015) dan ke-2 (tahun 2016) dilangsungkan di Kota Malang, yakni di suatu daerah yang memiliki akar historis pajang dalam hal waditra berdawai.

Semoga tulisan ringkas ini memberikan kemanfaatan, khususnya bagi para peminat paleo-musikologi. Salam budaya bhumiputra ‘Nuswantarajayati’. Nuwun.

Sengkaling, 12 Juni 2016

Dwi Cahyono

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Patembayan Citralekha © 2019