Ariadi Idul Fitri


Serba-serbi Lebaran Ke-1

 SIKLUS “PURIFIKASI” TAHUNAN ARIADI IDUL FITRI

 01. ucapan-lebaran-bahasa-daerah

Mircea Aliade menengarai adanya pola “siklis” dalam perjalanan mikro maupun makro-kosmos selama kurun waktu tertentu (a.l. tahunan, lima tahunan, dasawarsa, dsb) menurut konsepsi religis pada berbagai ritus keagamaan. Pola siklis yang demikian, tak terkecuali terdapat dalam ritus Islami, yang dalam konteks perjalanan hidup manusia (mikrokosmos, bhuana alit) dalam kurun waktu satu tahun berjalan dikenal dengan sebutan “Idul Fitri”.

Momentum “kemenangan” manusia (manusajayati) dalam menghadapi hawa nafsu (nepsu, kama), yang dikonsepsikan secara religis sebagai “berdampak buruk” dan karenanya mendegradasi kualitas hidup manusia ini, jatuh di setiap tanggal 1 Syawal menurut pertanggalan bulan (lunar system) pada setiap tahunnya. Sebagai suatu kemenangan, maka patut untuk dirayakannya, seperti yang tergambar pada sebutan “rioyo (riadin, ariadi, riyadi)” dalam arti: hari raya. Sejalan dengan itu, dalam ketatanegaraan Republik Indonslesia, Idul Fitri pun ditetapkan sebagai hari besar dan sekaligus hari libur nasional.

Hari yang diposisikan sebagai “hari yang besar” tersebut dalam bahasa Jawa Baru dinamai “bodo”. Suatu istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yakni “badha“, yang berarti: besar — bukan dari kata “bakdo” atau “ba’dal” yang berarti: sesudah. Para pemangku agama dan budaya Islam di Nusantara mengenal adanya dua bodo/rioyo, yaitu: (1) bodo terkait dengan Idul Fitri, dan (2) bodo terkait dengan Idul Adha. Yang terakhir dinamai “bodo besar” — suatu sebutan perulangan dua kata yang sama arti. Selain itu pada sejumlah daerah di Jawa terdapat satu tambahan khusus lagi, yang berdasarkan kuliner spesifik sajiannya dinamai dengan “Bodo Kupat”.

Dampak degradatif lantaran hawa nafsu tersebut dikiaskan sebagai “kotor (reget, rusuh, lethek)”. Sebaliknya, kemenangan manusia terhadapnya dikiaskan sebagai suatu keberhasilan untuk dapat mengembalikan diri pada kondisi “bersih (fitri, resik), sebagaimana kodrat (fitroh) manusia pada mula kelahirannya yang berada dalam kondisi bersih — bandingkan dengan teori S. Freud mengenai “kertas putih (tabularasa)”. Untuk membersihkannya dilakukan upaya religis “pensucian/pembersihan diri (purifiksi)” yang berdurasi panjang (sebulan penuh, sewulan muput)” selama bulan Ramadlon.

Ada dua upaya pokok dalam prosesi ritus purifikasi, yaitu: (1) menjalankan puasa (poso, siam, saum) di bulan Ramadhan dalam bingkai relasional manusia-Illahi (vertikal), dan (2) saling bermaafan sesama manusia di bulan Syawal dalam bingkai relasional antar sesama manusia (horisontal). Upaya pertama lebih merupakan ritus di tingkat perorangan, adapun upaya kedua — termasuk di dalamnya ‘zakat fitrah” dan sholat jamaah Idul Fitri — melibatkan kolektifitas.

Tak tanggung-tanggung, selama satu bulan plus sebulan yang berikutnya, dilakukan ritus purifikasi secara vertikal sekaligus horisontal. Oleh karena itu, jika kemenangan dapat diraihmya, berarti manusia bersangkutan berhasil kembali ke kondisi prima, yakni “mansia yang bersih, lahir maupun batinnya”. Perkataan “minal aidin wal faidzin”, yang familier diartikan sebagai permohonan maaf lahir dan batin, adalah wahana purifikatif, yakni upaya untuk mengembalikan dirinya sebagai “manusia yang bersih” atau “manusia yang putih”.

Ariadi Idul Fitri adalah pula suatu wahana religis untuk transformatif, yakni pengubahan dari kondisi: kotor (rusuh, reget, suker) — bersih (resik). Atau dalam kaitan dengan simbolsasi warna, ritus ini mentransformasikan dari kondisi: keruh (lethek) — putih, jenih. Dalam hal demikian, puasa Ramadhan dan Idul Fitri adalah upaya purifikatif, yakni ritus “penjernihan, pembersihan, atau pemutihan”. Kata kembali “fitri” dalam konteks ini dengan jelas menggambarkan transformasi tersebut.

Upaya transformatif itu mustilah diselenggarakan secara berulang (perodik), mengingat dari waktu ke waktu manusia berpotensi “mengotori dirinya sendiri” antara lain lantaran ketidakberdayaannya dalam mengatasi dampak buruk dari hawa nafsu. Dalam kaitan itu, Mircea Aliade menyebut adanya upaya berulang yang berpola siklis untuk mengembalikan ke kondisi ideal, kondisi prima di awal lingkar waktu, yang dia istilahi dengan kondisi “cosmic”.

Semoga di hari yang fitri ini (Rabo, 6 Juli 2016 M/1437 H) ini, kita masuk ke dalam golongan manusia yang “memperoleh kemengan”, sehingga menjadi “manusia yang bersih”. Amin ya robbal’alamin.
Nuwun.

Dalam bus Malang-Tulungagung, jelang tengah malam 5-7-2016.

 Dwi Cahyono


 Serba-serbi Lebaran ke-2
(Pangeling-eling Musik Islami)

 BEDUG DALAM BUDAYA NUSANTARA
Riwayatmu Dulu, Keberadaanmu Kini

02. bedug-purworejo-696x464

Sebuah diantara tiga ikon Idul Fitri, baik dalam wujud dua atau tiga dimensi, adalah bedug. Dua lainnya berupa ketupat (kupat) dan masjid (sigit). Logo ucapan lebaran, baliho besar melintang jalan, bahkan pada sejumlah kantor, pertokoan besar (mall), hotel, restoran dan fasiltas publik lainnya, ikon bedug acapkali ditampilkan secara eksklusif. Bedug menjadi suatu waditra (music instrument) yang dimaknai secara khusus di lingkungan budaya Melayu dalam nuansa Islami.

Mengapa pilihan ikonik itu jatuh pada bedug? Hal itu tak lepas pada keberadaan dan fungsi bedung di tempat peribadatan Islam dan fungsi bedug dalam kaitan dengan waktu-waktu penyelenggaraan ritus dalam agama Islam. Pada sejumlah masjid lama, waditra jenis membraphone yang berupa bedug dan/atau waditra silophone yang berupa kenthongan dalam berbagai bentuk dan ukuran ditabuh sebagai petanda waktu (time signal) memasuki waktu-waktu ibadah. Mula-mula ditabuh kenthongan dan disusul dengan bedug “thong, thong, thong ….. duk, duk, dug …..”. Pada menara masjid tua, seperti Menara Kudus, bedug gantung yang berukuran kecil dan kenthongan hadir bersamaan, yang ditabuh berurutan sebagai petanda waktu sholat. Penempatan pada tubuh menara menegaskan akan fungsinya sebagai alat komunikasi bunyi.

Bedug sebagai petanda bunyi untuk memasuki waktu ibadah dalam ritual Islam telah dipakai sejah akhir abad XVI di situs Islam Banten Lama. Namun demikian bukan berarti bahwa bedug baru ada pada Masa Pertumbuhan Islam. Kidung Malat yang berasal dari medio abad XV menyebut adanya “tegteg”, yakni waditra serupa bedug besar. Lantaran besarnya, maka ketika membran dipukul mengeluarkan bunyi.”teg, teg, teg ….”, suatu penyebutan secara onomatopae.

Demikian pula kenthongan (kulkul), juga telah hadir bersamaan waktu atau sedikit lebih tua daripada tegteg. Bersama dengan bunyi gentha besar (ganta), ketiganya dijadikan petanda waktu. Bunyinya dijadikan sebagai petunjuk waktu, yang diistilahi dengan “tabuh”. Selain itu, teteg dan kulkul ada kalanya dibunyikan untuk maksud mengundang hadir khalayak agar berkumpul di suatu tempat padamana waditra ini ditempatkan (parubungan) — bandingkan dengan Bale Kulkul di Bali. Adapun bunyi kenthongan secara beruntun cepat (titir) menjadi petanda akan adanya bencana atau petaka.

Pada sekitar bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal, bedug ditabuh dalam kaitan dengan ritus puasa dan Idul Fitri, yakni sehari jelang memasuki waktu puasa dan Idul Fitri, dini hari untuk bangunkan sahur, setelah sholat tarwih dan pasca sholat Id. Dalam durasi waktu cukup panjang (30-60 menit) bedug dibunyikan secara berirama oleh dua orang atau lebih secara bergantian dengan sepasang tongkat pemukul (stick), atau bisa juga bersamaan secara harmonis pada dua sisi membran yang berbeda. Selain stick yang berujung membulat dipukulkan pada membran (rentang kulit kerbau atau sapi), ada kalanya dipukulkan pada pasak kayu penguat rentang membran di ujung resonator, yang dinamai dengan “kothekan”.

Masyarakat Jawa di Mataraman menamai penabuhan bedug yang demikian dengan “tidur” — suatu penyebutan “onomatopae”, yaitu sebutan berdasarkan bunyi yang dihasilkan “dur, dur, dur ….” oleh waditra bersangkutan. Sebagaimana halnya itu, sebutan “bedug” juga merupakann nomatopae, yang didasarkan pada bunyinya “dug, dug, dug, ………”. Fenomena onomatopae juga tergambar pada sebutan “budug”, yakni bunyi “dug, dug, dug …..” ketika waditra ini dibunyikan. Bagi anak-anak dan remaja, bahkan orang dewasa, sesi menabuh bedug merupakan suasana keriangan tersendiri. Demikian pula bagi mereka yang mendengarkanya. Dahulu hampir tidak ada orang yang komplain lantaran kebisingan suara bedug yang bertalu-talu itu.

Bedug dalam ukuran kecil (jidor) maupun sedang acap tampil dalam absambel musik Islami, yakni terbang-jidor (bandingkan dengan tanjidor di DKI) dan jemblungan. Terkadang pula menjadi salah satu komponen dalam asambel musik gamelan Jawa yang komplit. Pada pihak lain, bedug dalam berbagai ukuran (panjang dan diameternya), ragam bentuk tabung resonatornya, bermembran tunggal atau ganda, maupun cara penempatannya (digantung atau ditumpangkan pada tataban), yang terang bedung kedapatan tidak sedikit di masjid atau surau (langgar, modolah) di penjuru Nusantara. Demikianlah, cukup alasan untuk menyatakan bahwa berdasarkan bentuk, fungsi dan keberadaannya, cukup alasan untuk menyatakan bahwa bedug merupakan ikon yang Islami dalam kaitannya dengan Ariadi Idul Fitri, meski kini fungsi praktisnya ke arah itu kian berkurang.

Akankah pada suatu waktu bedug dan kenthongan (besar-lurus dari batang kayu atau kecil bungkuk dari bonggol bambu ori) bakal sekedar “menjadi cerita masa lampau” bahwa konon di Nusantara pernah terdapat suatu waditra bernama “tegteg, budug, jidor, atau sejenisnya yang memiliki akar sejarah yang panjang serta memasyarakat. Kala itu, bisa jadi bedug tinggal merupakan benda koleksi museum dan mendapat predikat “almarhum bedug”.

Semoga tulisan ringkas dan bersahaja tentang serba-serbi lebaran ini membuahkan makna.
Salam budaya bhumiputra,
“Nuswantarajayati”.

7 Juli 2016

Dwi Cahyono


Serba-serbi Lebaran 3
(Ngiras Pantes Wisata Kuliner)

 

 PASUGATAN NON-BISCUIT FABRIKAN DI PERHELATAN ARIADI IDUL FITRI

Yang Pernah Ada dan Yang Masih Ada

 03. 750xauto-ini-dia-jajanan-yang-selalu-ada-di-saat-lebaran-150711p.png

Ada tiga hal pokok yang hampir senantiasa mengisi perhelatan Ariadi Idul Fitri : (1) sungkeman dan silaturrohmi untuk bermaafan (ziarah, sejarah, anjangsana), (2) menyantap pengananan seperti jajanan, makanan, dan minuman (pasogatan), (3) pembagian derma uang dan/atau barang (zakat) khususnya buat anak-anak dan keluarga kurang mampu — ada fenomena kedatangan anak-anak, yaitu untuk mendapat pemberian uang (istiah Malangan “galak-gampil”). Demikianlah, salah satu keinginan dalam kunjungan lebaran adalah untuk menyantap makanan, jajanan dan minuman yang tidak saban hari dapat dijumpai apabila bukan ketika lebaran tiba. Urgensi penganan (jajanan dan minuman) pada perhelatan lebaran (rioyo) antara lain tergambar pada sindiran dalam parikan ludruk “rioyo gak nggoreng kopi, ngadep mejo gak nok jajane”.

Jenis penganan itu diharapkan merupakan menu khusus, yang secara spesifik dihadirkan pada saat Ariadi Idul Fitri. Sayang sekali, keinginan yang demikian tak musti kesampaian. Fenomena pada dua hingga tiga dasawarsa terakhir menunjukkan bahwa hampir terdapat keseragam jajanan yang dihidangkan di masing-masing keluarga, yang cenderung berupa aneka biskuit dan aneka sirup fabrikan. Kalaupun ada perbedaan, hanya pada rasa dan komponen bahan, merk, tingkatan harga (kemahalan) serta kemasannya. Untuk wilayah Jawa Tengah dan Timur, makanan khas seperti kupat, lonthong, lepet, dan/atau lodho-ayam tak dihadirkan di hari ke-1 sd 6 lebaran, melainkan di ujung pekan dalam perhelatan tambahan yang dinamai “Bodo Kupat” — bandingkan dengan di DKI dan sekitarnya, yang telah disajikan di hari pertama lebaran.

Terdapat tidak sedikit penganan lama khas lebaran yang kini mulai langka didapati sebagai pasugatan Aneka krupuk (opak), kripik dan kue kering khas lebaran, seperti aneka opak (gambir, gulung, gadung, arangginang, kuping gajah, puli, omah tawon/matahari, cekeremes, dsb), aneka kripik (mlinjo, pisang, telo/pohong, dsb), aneka biji-bijian (kacang tanah, kacang kapri, koro benguk, trembesi, kwaci, dsb), ciput (keciput), marning, ampyang, uler-uleran, kue dolar, kue panpanan, klanthe (sebutan Lampung “klanting”), enting-enting kacang, sagon, alen-aken, geti, enting-enting kacang dan klopo, manco, peli kipu — empat jenis yang terakhir khas Trenggalek, dsb. kian langka dihidangkan. Hal ini bukan hanya terjadi di lingkungan perkotaan, namun merambah hingga ke pelosok pedesaan.

Demikian pula aneka jajanan/kue basah, seperti jenang, jadah, wajik dan wajik klethik, madumongso, tape ketan ireng (ketan hitam), cucur, bikang, nogosari, mendut, kue lapis, dsb, meski ada yang masih menyajikan, namun jumlahnya telah jauh berkurang. Yang lebih langka lagi ditemui adalah aneka manisan, seperti manisan buah (bligo, pisang, pepaya, cerme, dsb). Minuman khas seperti sinom, beras kecur, limon, stroop, badeg, bandrek, dsb. tergusur oleh dominasi aneka sirup, teh botol, aqua gelas dan lain-lain yang juga serba fabrikan.

Kelangkaanya itu bukan semata lantaran bahannya tak lagi bisa didapatkan, namun para ibu tak mau diribetkan dan berkorban banyak waktu untuk membuat jajanan sendiri, yang terkadang biayanya lebih mahal apabila dibandingkan dengan harga biskuit fabrikan yang dijual di toko, pasar dan kios dadakan jelang lebaran. Wal hasil, yang panen keuntungan di saat lebaran adalah pabrik-pabrik jajanan dan minuman kemasan. Sementara para pedagang jajan mentahan di pasar dan produsen rumahan tak lagi meraup kesempatan seperti dulu.

Biskutisasi dan sirupisasi fabrikan kini melanda penjuru wilayah serta meminggirkan jajanan lokal dan khas, yang sejatinya hanya hadir pada momentum khusus seperti Ariadi Idul Fitri. Semoga tulisan ini menginspirasi untuk menyajikan makanan, jajanan dan minuman khas/lokal di Ariadi Idul Fitri mendatang, kerena itu semua adalah khasanah kekayaan dan unikum kuliner Nusantara. Nuwun.

Catatan: mohon diinformasikan aneka jajanan khas/likal lebaran yang belum disebut, karena jujur penulis tak cukup faham tentang kulinerisasi.

8 Juli 2016

Dwi Cahyono


 Serba-serbi Lebaran 4

 

 BODO KUPAT DALAM KONTEKS BUDAYA JAWA

Sebuah Lebaran Tambahan di Penghujung Pekan Idul Fitri

 04. m.juara.in

Sesuai penamaannya “Rioyo Kupat (Hari Raya Ketupat)”, unsur pokok dari rioyo ini adalah menu kuliner khusus, yaitu penganan berupa ketupat (kupat). Yang dimaksud dengan ketupat adalah makanan pengganti nasi, yang terbuat dari beras yang dimasak ke dalam ayaman daun kelapa muda (janur) berbangun bujur sangkar, empat persegi panjang ataupun jajaran genjang. Ada beberapa sebutan ketupat berdasarkan bentuknya, antara lain kupat biasa, kupat luar, dan kupat kodok.

Pada wilayah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, waktu penyelenggaraan jatuh di hari ke-7 dalam pekan Ariadi (hari raya, lebaran) Idul Fitri. Hal ini berbeda dengan waktu penyajian ketupat pada perhelatan Idul Fitri di DKI dan sekitarnya maupun pada wilayah tinggal etnik Melayu lain, yaitu di hari pertama pekan Idul Fitri. Perbedaan lainnya adalah bukan hanya dihidangkan untuk para tamu dan disampaikan ke kerabat dan/atau tetangga dekat (ater-ater), namun ada sejumlah keluarga yang membawanya ke masjid atau surau untuk dikenduri bersama (genduren).

Sebagai suatu panganan khas, sebenarnya kupat bukan hanya hadir pada konteks Lebaran Idul Fitri,.namun hadir sebagai unsur penganan alternasi selain nasi untuk menu makanan tertentu, seperti soto (Sulawesi: coto dan konro), kethoprak, kupat sayur, kupat tahun dsb., yang terkadang digantikan dengan lonthong atau sompil. Namun penyajiannya secara serempak di perhelatan Idul Fitri menjadikan ketupat sebagai kuliner khasnya. Bahkan ketupat menjadi ikon lebaran selain bedug dan masjid. Selain dalam fungsi itu, ketupat dan ubo rampe lain acapkali kedapatan digantungkan di atas pintu hingga kurun waktu panjang sebagai media penolak bahaya gaib (magi protectoric) untuk rumah tinggal.

Kendati ketupat dijadikan ikon Islami dalam konteks peristiwa Idulfitri, namun bukan berarti baru hadir di Nusantara sejak adanya pengaruh agama dan budaya Islam (abad XV-XVI M), namun jauh lebih awal. Terbukti oleh adanya sebutan “kupat” atau kata jadiannya “khupat-kupatan, akupat, atau pakupat” dalam Kakawin Kresnayana (13.2, 31.13), Kakawin Subadra Wiwaha (27.8), Kidung Sri Tanjung (36.f) dan “kupatay” dalam Kakawin Ramayana (26.25). Hal ini menjadi petunjuk bahwa sebagai penganan kupat telah hadir semenjak Masa-Hindu Buddha — embrionya telah ada pada abad IX dan lebih marak lagi abad XIV-XV M.

Oleh karena itu, pendapat yang mengasalkannya dari bahasa Arab hanya terjebak pada keserupaan kata dan kurang pada tempatnya. Bahan makanan dari beras dan pembungusnya dari janur memberi petunjuk bahwa tradisi “kupatan” adalah berlatar budaya Melayu. Mulanya, kupat adalah penganan yang disajikan di sembarang waktu untuk menu makanan tertentu, yang kemudian dijadikan sebagai menu khusus ketika lebaran tiba. Selain kupat, pada moment waktu ini hadir pula penganan lain seperti sompil dan lepet.

Diantara berbagai daerah di Jawa Timur yang mentradisikan Bodo Kupat, Tenggalek boleh dibilang yang paling kental. Bahkan, Rioyo Kupat di Kecamatan Durenan jauh lebih marak ketimbang hari ke-1 sd ke-6 pekan Idul Fitri. Silaturohmi antar tetangga, kerabat di daerah yang sama maupun kehadiran kerabat jauh dari luar kota justru berlangsung di hari ke-7 pekan Idul Fitri ini. Sejak satu hingga dua dasawarsa terakhir tradisi kupatan yang demikian meluas hingga ke kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Trenggalek, bahkan merambah pula ke beberapa kecamatan di Kabupaten Tulungagung.

Demikianlah, tradisi “Kupatan” yang hadir pada Rioyo Kupat dalam konteks Rioyo Idul Fitri adalah perkembangan lokal (local development) di lingkungan para pemangku budaya Islam, khususnya di wilayah Jawa Timur. Semoga tulisan ini membuahkan makna. Salam budaya bhumiputra,
“Nuswantarajayati”.

Sengkaling, 10.Juli 2016.

Dwi Cahyono

Catatan:
mohon informasi tambahan untuk mengayakan dan memperdalam telaah yang sumir ini.
Nuwun


 Serba-serbi Lebaran ke-5 (Habis)

 

 MUDIK, TRADISI SOSIO-BUDAYA KAUM PERANTAU

Mobilitas Kembali ke Titik Pangkal

05. Inilah Awal Mula Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

Istilah “mudik” yang dipakai untuk menyebut mobitas sosial periodik (tahunan) dari daerah rantau ke daerah asal sebenarnya dipinjam dari kategorisasi dua aliran sungai, yaitu: (1) udik, dan (2) hilir. Kata “udik” bersinonim arti dengan “hulu”. Salah satu kata jadian untuk kata dasar “udik” adalah “ma+udik = “modik”, dan kemudian diucap sebagai “mudik”, yang berarti: mobilitas (perjalanan menuju) ke arah udik. Ketika transportasi air via aliran sungai terkalahkan oleh transportasi darat, istlah “mudik” yang semula digunakan untuk transportasi air tetaplah dipakai namun dalam konteks transportasi darat.

Secara lebih spesifik, istilah itu pada akhirnya digunakan dalam konteks keperantauan, yaitu perjalanan pulang para perantau ke daerah asalnya. Lebih khusus lagi, perjalanan dari suatu kota besar dimana perantau tinggal ke kota/daerah yang lebih kecil atau ke kampung halaman padamana perantau berasal. Selain itu secara dikotomis kata “udik” diartikannya sebagai: kampung, desa, daerah pedalaman atau daerah seberang yang belum/kurang berkembang, sebagai dikotomi dari kota atau kota besar. Hal ini antara lain tergambar dalam sebutan “orang udik”, yang mengkonotasikan orang kampung (wong ndeso). Dalam konteks demikian, istilah “mudik” diaritkan dengan: pulang kampung.

Bagi para perantau yang untuk kurun waktu lama meninggalkan daerahnya, kembali ke daerah asal walau untuk sementara waktu (mudik) adalah keinginan kuat, kerinduan atau bahkan impian. Berbagai daya upaya dilakukan untuk dapat mudik. Syukur bila dapat dijalankan setiap tahun di suatu moment waktu. Tak peduli jarak tempuh yang amat jauh, tak berkeberatan ongkos/biaya yang tidak sedikit dan lebih mahal dari hari-hari biasa, tidak mengapa harus kecapekan dan menghadapi beragam kesulitan dalam proses kemudikannya, demi keinginan, kerinduan ataupun impian itu banyak orang yang mengupayakan diri untuk dapat mudik.

Bagai kaum muslim perantau, momentum itu adalah hari raya (lebaran, rioyo, bodo), utamanya Hari Raya Idul Fitri — tidak sedikit pula yang menempatkan Hari Raya Idul Adha sebagai momentum untuk mudik, atau sebagian yang lebih kecil lainnya menjadikan perhelatan Maulud Nabi (Muludan) sebagai momentum mudik. Bagi penganut agama lain, hari besar keagaman dari agama yang dianut juga diposisikan sebagai momentum waktu untuk mudik, seperti Hari Natal bagi umat Kristiani, Galungan dan Nyepi bagi umat Hindu, Waisyak bagi umat Buddha, ataupun Imlek bagi umat Kong Hu Chu. Dengan perkataan lain, setiap pemangku agama mempunyai momentum waktu mudiknya sendiri-sendiri.

Mudik secara periodik, tiap tahun misalnya, merupakan siklus waktu, menjadi pola yang berulang dari waktu ke waktu, atau bahkan menjelma sebagai tradisi sosio-budaya yang diberi alasan religis. Demikianlah, terjadi transformasi dalam ruang, yaitu mobiitas sosial horisontal: daerah rantau –》daerah asal. Arah pergerakan mudik dapat digambarkan sebagai “kembali ke titik pangkal”. Titik pangkal itulah yang diistilahi dengan “udik” atau semacam areal hulu dan tuk (mata air) pada aliran sungai.

Titik pangkal tak hanya dirupakan sebagai daerah asal, namun juga dimaknai sebagai titik pangkal ganeologis. Oleh karena itu, ziarah ke makam leluhur, silaturomi ke keluarga luas, penelusuran sejarah keluarga bahkan sejarah kampung, reuni keluarga (kekerabatan) dan kesahabatan menjadi tema sentral yang mengisi kegiatan mudik.

Dalam kesempatan itu, para perantau seakan memperoleh ajang untuk mengekspresikan atau lebih fulgar lagi “pamer” sukses. Ironisnya, ada diantaranya yang melakukan “kamuflase sukses” — kepada khalayak di daerah asalnya. Ada pula yang mempamalikan mudik apabila tidak/belum sukses di rantaun Selain itu, aspek memorial dan romantika masa lalu memberi nuansa pada perhelatan mudik. Semuanya itu diposisikan sebagai urgen dan utama pada momentum Lebaran Idul Fitri. Demi hal yang kala itu dipandang penting, jutaaan kaum perantau warga negara Indonesia dan warga negara-negara jiran berbudaya Melayu melakukan mudik. Bagi mereka yang tidak merantau, tradisi mudik dirasa tak berlaku padanya.

Semoga tulisan ringkas ini dapat memberi tambahan pengetahuan. Salam budaya. Nuwun.

Sengkaling, 10 Juli 2016.

 Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!