Pra-Festival Singhanagara

 MENYIBAK BINATANG MITOLOGIS
“SINGA-BERSAYAP” DALAM SENI-PAHAT BALI DAN JAWA KUNA

 13533170_1055248534511460_5376507196313714565_n

Salah sebuah tema dalam seni pahat di Bali, yang hadir baik dalam bentuk patung dan ukir kayu ataupun batu, adalah “singa bersayap”. Ragam hias ini tidak hanya kedapatan dalam seni-bangun sakral, namun juga pada arsitektur profan. Ada kalanya berfungsi simbolik religio-magis, namun tak jarang hadir sebagai perangkat praktis seperti umpak (pelandas tiang) di lingkungan rumah tinggal (griya, puri, umah).

Jika menilik sebarannya yang demikian meluas dan juga lintas masa, tentunya singa bersayap dipandang penting dan familier pada masyarakat Bali. Meski tak sebanyak di Bali, namun seni pahat berbentuk singa bersayap juga didapati di percandian Jawa, misalnya pada teras ke-3 candi induk Penataran. Pada masa yang lebih muda, unsur singa-bersayap juga hadir pada lambang Kasultanan Kutai Kartanegara, yang dinamai “Lembuswana”.

Singa tanpa sayap lebih banyak dan telah lama hadir dalam seni-bangun sakral Hindu ataupun Buddhis di Jawa. Baik sebagai makhluk penjaga pintu candi dan gapura (singha dwarapala), penyangga perbingkaian atas candi, penghias pipi tangga (balustrade) maupun sebagai ragam hias pada bingkai-bingkai persegi panjang pada kaki candi, pelipit persegi, dsb.

Ada pula gambaran unik, dimana dua singa yang bertemu muka membentuk sebuah mukha-kala, seperti terdapat di batur Candi Jabung dan pada fragmen arsitektural di candi Jajaghu (Jago) pada medio abad ke-14. Malang adalah suatu daerah, dimana semenjak Masa Hindu-Buddha figur singa banyak tampil dalam seni-pahat, utamanya pada Candi Kidal dan Jago.

Hal ini menjadi petunjuk bahwa embrio dari mukha-kala adalah figur kirti-mukha (muka singa). Sekaligus memberi gambaran tentang pengaruh budaya Helena (Yunani) pada seni pahat India dan kemudian secara berantai meluas pengaruhnya ke Nusantara (Jawa, Sunda, Bali, Kalimantan Timur, dsb.) Cakupan waktu pengaruhnya tak hanya sebatas pada Masa Hindu-Buddha, namun merambah hingga Masa Awal (pertumbuhan) Budaya Islam di Jawa, dimana seni pahat berfigur singa hadir pada cungkup makam, gapura dan pagar masjid-makam. Pahatan singa juga hadir pada gandik dari beberapa jenis dapur keris.

Demikianlah, kendati Jawa dan Bali bukanlah habitat binatang singa, namun ide dan wujud figuratif singa riil hadir, tersebar luas dan lintas masa. Singa ada ditampilkan secara naturalis sebagai binatang, namun tidak sedikit yang dibungkus dengan mitos menjadi binatang mitologis. Dalam wujud demikan, unsur anatomis singa dipadu dengan anatomi binatang-binatang lain, seperti unggas (paksi), gajah (gaja, liman), harimau (mong, dadak, gogor), lembu, kala, dll. Oleh karena itu, singa tampil menjadi figur yang unik dan bukan lagi binatang duniawi, melainkan makhluk mitologis surgawi (kahyangan).

Hubungan Nusantara-India turut membawa masuk konsepsi singa India ke Nusantara, meski secara fisiografis terdapat perbedaan dalam hal detail bentuk. Pada masa yang lebih kemudian, turut masuk konsepsi singa dari Cina. Lagi-lagi, bentuknya diadaptasi dengan figur harimau, lantaran secara kasat mata memang seniman pemahat Nusantara tak pernah melihat singa secara langsung.

Semoga memberi sedikit pencerahan.
Mohon masukan informasi tambahan.
Matur sembah nuwun.
Salam budaya bhumiputra, “Nuswantarajayati”.

Terminal Arjosari, 28 Juni 2016
Edisi menunggu hujan reda (kejenggeng).

Dwi Cahyono