Refleksi Sepanil Relief


TAK SEMUA BERTEMA SAKRAL, BOLEH JADI BERLATAR KULTURAL
Refleksi Sepanil Relief di Pura

  A.34

Meski hanya dengan sekilas pandang, namun telah timbul kesan “relief unik”, yakni relief provan pada bangunan sakral yang berupa Pura. Relief tersebut menggambarkan :

“Londo numpak sepeda” dan “Londo numpak jaran”, yang divisualkan secara “Bali Style Sclupture”. Lokasi pahatnya pada dinding batur sisi kanan Pura Maduwe Karang di Kubutambahan Singaraja.

Siapa jati “warga Belanda (Londo)” yang dipahatkan di Pura besar untuk wilayah Singaraja dan sekitarnya ini?

Beliau adalah Van der Tuuk, yang kendati bukan warga bhumiputra Bali, namun kecintaannya terhadap budaya Bali terbuktikan. Bangunan beserta koleksinya yang monumental ini, yakni “gedung pernaskahan” Kirtya — kata “kirti” dalam perkataan “kirtya” adalah istilah Sanskrit untuk: singa — adalah buah prakarsanya. Dipakai nama “kirtya” karena didirikan di suatu daerah eks “Negara Singa (Singhanagara)”, yang oleh warga setempat dikaitkan dengan tokoh sejarah Masa Singhasari, yakni Narasinghamurti. Beliau pulalah yang menyusun kaya kebahasaan “Kamus Bahasa Bali-Nederland”.

Jasa budayanya, kecintaannya yang total tethadap budaya Bali itulah yang kiranya menjadi pertimbangan untuk mengabadikan Van der Tuuk dalam bentuk relief pada batur Pura Maduwe Karang. Tersirat dalam konteks viasiual-art ini adalah penghormatan lembaga keagamaan terhadap kebudayaan, dengan memahatkan vigur pelestari budaya Bali bernama Van der Tuuk di tempat peribadatan yang berupa Pura.

Suatu pertimbangan dan penghargaan luhur terhadap dharmmabhuddhaya luhur yang terbukti nyata dikontribusikan oleh siapapun, tak terkecuali bagi warga negara manca. Suatu contoh teladan yang patut diteladani oleh warga daerah lain.

Salam budaya bhumiputra,

“Nuswantarajayati”.

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!