SRI TANJUNG DI JABUNG

Kemungkinan Relasinya dengan Muasal Banyuwangi

 13450968_1050165495019764_4671122719470065746_n

Dengan iringan tembang bocah “mana dimana anak kambing saya ….” — mana dimana asal kisah Sri Tanjung– tibalah kami di situs Candi Jabung (Paiton Kab. Probolinggo) dari perjalanan budaya pergi-pulang ke/dari Banyuwangi-Malang.

Bagai episose “lingsir bagaskara ri Sajabung”, kami melacak jejak relief cerita “Sri Tanjung” ketika matahari mulai beringsut dari titik kulminasi (awal sore). Adakah keberadaan puluhan relief yang memahatkan secara rinci cerita ini menjadi penguat bukti akan relasinya dengan legenda mengenai asal muasal daerah “Banyuwangi”? Jika ada, berarti terjadi transfomasi dari susastra oral — susastra literal dalam bentuk naskah Kidung Sri Tanjung –》relief cerita Sri Tanjung. Tranformasi literalisasi dan visualisasi terjadi pada medio hingga akhir abad XIV Masehi.

Diantara empat candi yang muat relief cerita Sri Tanjung, yaitu C. Jabung, Pendapa Teras II Penataran di Blitar, Gapura Padhuraksa Bajangratu di Trowulan Iab. Mojokerto dan C. Surawana di Kab. Kediri, boleh dibilang bahwa yang paling rinci atau yang paling banyak memiliki panil relief Sri Tanjung adalah C. Jabung, yang dipahatkan di kaki candi (basement).

Candi Jabung berada di DTK (Daerah Tapal Kuda, tepatnya di Paiton, yang berada di sub-area paling timur Kab. Probolinggo. Sekaligus bertetangga dengan Banyuwangi, yakni daerah yang memiliki legenda “Asal-Usul” serupa dengan kisah Sri Tanjung. Bahkan, diyakni bahwa kisah Sri Tanjung berelasi dengan “Sumur Sri Tanjung” atau Tirtha Gandha/ Tirta Arum yang berada di Kel. Temenggungan pada areal belakang Pendopo Kabupaten (eks Pendopo Katumenggungan) Banyuwangi.

Salam budaya Bhumiputra, “Nuswantarajayati”.
Nuwun

Dwi Cahyono

 


 

SRI TANJUNG, WANITA PENGENDARA IKAN

Telisik Relasi Cerita Sri Tanjung dengan Muasal Banyuwangi

A.33A

Key scene (kunci adegan) dalam serangkaian peristiwa pada relief cerita mengenai “kesetian Sri Tanjung” adalah seorang perempuan tengah mengendarai ikan yang menyeberangi perairan. Ada kemungkinan perairan itu adalah muara sungai, dengan habitat pandan laut dan bakau. Hal ini tergambar dalam detail relief, yang melukiskan lingkungan ke-air-an padamana Sidapaksa duduk sembari menyesali perbuatannya membunuh istrinya yang ternyata tak bersalah.

Apabila benar demikian, latar geografis dari cerita ini adalah permukiman di tepian laut, sehingga timbul pertanyaan :

“apakah Banyuwangi, khususnya Kampung Temenggungan pada Selat Bali yang mempunyai sumber air tawar dan diyakini berbau wangi (tirtha ganda, tirtha arum, banyu wangi, atau disebut ‘sumur Sri Tanjung’), tepat bila dilokasikan sebagai latar geografis dari cerita Sri Tanjung?”

Jika tepat, berarti klaim bahwa Banyuwangi sebagai lokasi asal cerita ini memiliki cukup alasan.

Dinamai “temenggungan” karena semenjak tahun 1774 kampung di sisi utara Alon-Alon Sri Tanjung ini konon dijadikan sebagai Pusat Pemerintahan Katumenggungan Banyuwangi. Adapun sumber air berbau wangi yang dilegendakan berasal dari darah Sri Tanjung itu adalah sumber air tawar yang konon dibutuhkan warga sekitar maupun awak kapal. Keberadaan sumber air tawar di tepian laut (Selat Bali) itulah yang menjadi pertimbangan bagi kapal-kapal untuk transit guna mengambil air bersih sebelum melanjutkan perjalanannya ke/dari produsen rempah-rempah di Infonesia Timur.

Siapakah jatidiri perempuan yang dipahatkan mengendarai ikan itu? Ia adalah arwah Sri Tanjung yang tengah menuju ke alam arwah, pasca dibunuh oleh sang suami (Sidapaksa) lantaran terbakangan un sakwasangka bahwa istrinya mencoba berlaku serong seperti dihasutkan oleh raja Sulakrama terhadap dirinya. Dunia tempat hidup manusia dan alam arwah dikonsepsikan sebagai dipisahkan oleh perairan. Pada relief ini, ikan yang dikendarainya adalah suatu gambaran mengenai “kendaraan arwah”.

Hal itu mengingatkan kita kepada konsep “perahu arwah”, yang telah hadir semenjak Jaman Prasejarah. Tersirat cara pandang kebaharian dalam cerita ini. Terlebih jika ikan yang menjadi kendaraan arwah tersebut diidentifikasikan sebagai “lumba-lumba”, yakni ikan yang acapkali disebut sebagai sang mesias (penolong, penyelamat) manusia ketika terjadi musibah di perairan laut.

Menurut kategorisasi Th.G.Th. Pigeaud, cerita Sri Tanjung masuk dalam “The Mynor Panji”. Lokasi Candi Sajabung (Jabung) di Paiton Kabupaten Propolinggo, yang lokasinya dekat dengan Selat Madura. Daerah Paiton dan Banyuwangi yang sama-sama berada di “Kawasan Tapal Kuda (DTK)” menjadi indikator bahwa kala itu (medio abad XIV, ketika Candi Jabung dibangun) cerita Sri Tanjung yang memiliki kemiripan dengan kisah “banyu wangi” merupakan oral story yang populer di kawasan DTK.

A.33B

Atas dasar popularitas dan kesesuaian isi pesan dari cerita ini dengan fungsi Candi Jabung sebagai pendharmman, maka relief Sri Tanjung dipertimbangkan untuk dipilih sebagai tema sentral bagi relief di kaki Candi Jabung. Perihal keberadaan air tawar itu, pada konteks relief cerita ini diindikatori oleh adanya panil yang gambarkan dua pria bertopi “tekes”, dimana salah seorang diantaranya tengah menimba air.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya bhumiputra,
“Banyuwangi Jenggirat Tangi”.
Suwun.

20 Juni 2016

Dwi Cahyono