Heritage Performing Art


Formula 2 in 1

HERITAGE PERFORMING ART DAN AJAR PUSAKA BUDAYA DI TAMAN-TAMAN KOTA MALANG

“Mengisi Taman Kota dengan Kegiatan Bermakna”

 

Wisata-Malang-Tugu-Malang

 A. Revitalisasi dan Refungsionalisasi Taman Kota

Kota Malang adalah Kota Bersejarah (Historical City), dan karenanya sekaligus merupakan Daerah Berbudaya (Cultural City). Sebagai suatu daerah yang dalam lintas masa menjadi Pusat Peradaban (Civilization Center), dapatlah dipahami jika monumen-monumen – sebagai tinggalan budaya masa lampau – didapati tersebar di perjuru wilayahnya, baik yang berasal dari Jaman Prasejarah, Masa Hindu-Buddha, Masa Perkembangan Islam, Masa Kolonial maupun Masa Kemerdekaan RI. Demikan banyak, beragam, dan pentinnya peninggalan budaya masa lalu (heritage) di wilayah Kota Malang tersebut, maka cukup alasan untuk memilih dan menempatkan Kota Malang sebagai salah satu dari tidak banyak daerah-daerah di Indonesia yang masuk dalam kategori ‘Kota Pusaka (Heritage City)’.

Kota Malang sebagai suatu wilayah yang sejak masa Hindia-Belanda, khususnya pada awal tahun 1920 hingga akhir tahun 1930-an, dikembangkan dengan mendasarkan pada desain perancangan atau penataan kewilayahan (bouwplan) rancangan planolog handal pada jamannya, yaitu Thomas Karsten, maka tergambar bahwa dalam perjalanan sejarah kotanya suatu perkembangan kota yang bertahap dan berkelanjutan (sistematis) di sub-sub area kota. Demikianlah. Malang merupakan sedikit dari kota-kota kuno di Hindia-Belanda yang memiliki ‘paleo-planologi’ sebagai rujukan tenis, ekologis dan kultural dalam mengembangkan permukiman dan infrastruktur kota yang diformulasikan selaras dengan kaidah peradaban. Walhasil, kota Malang hadir sebagai ‘Kota yang Berperadaban (Civilization City)’.

Peradaban kotanya dikembangkan selaras dengan karakter lingkungan fisis-alamiahnya yang berada di lingkung gunung dengan panorama yang elok dan udara yang sejuk-nyaman. Malang karenanya terjelma menjadi sebuah ‘Kota Indah (Beatiful City)’ dan sekaligus ‘Kota Sehat (Healty City)’, karena di berbagai penjuru wilayahnya dilengkapi dengan ‘paru-paru kota’ – yang berwujud sebagai hutan (boss, forest) atau tanam (plein, park) kota. Dengan demikian, semenjak lama Kota Malang telah merupakan ‘Kota Taman (Park City)’. Sejak Masa Kolonial hingga Masa Kemerdekaan di sejumlah taman kota itu ditempatkan monumen dan bangunan serta beragam fasiltas publik, sehingga timbul kesan adanya monumen, bangunan dan fasilitas publik yang terintegrasi secara harmonis dengan taman-taman kota.

Dalam dua hingga tiga tahun terakhir (2014-2016), satu per satu taman kota yang pada masa sebelumnya kurang optimal dalam pemeliharaan dilakukan restorasi dan renovasi dalam rangka revitalisasi, sehingga hadir taman-taman kota yang lebih tertata, estetik dan fungsional, antara lain Taman Ijen Boulevard, Taman Kunang-Kunang di Jalan Jakarta, Taman Merbabu, Taman Ken Dedes di Arjosari, Taman Slamet, Taman Stasiun Kota Baru di Jalan Sriwijaya, Taman Simpang Balapan, Taman Sumbing di ujung timur Jalan Sumbing, Alon-alon Bunder, Alon-alon Kotak di Jalan Merdeka, serta [dalam proses pengerjaan] Taman Hutan Malabar. Selain itu, pada pinggiran wilayah Kota Malang terdapat sebuah monument purbakala, yaitu Candi Badut beserta taman sekelilingnya. Dalam hal terakhir, yakni fungsional, taman-tanam kota tersebut dibuat untuk bisa dimanfaatkan untuk beragam kemungkinan fungsi, baik fungsi rekreatif maupun edukatif.

B. Geliat Seni-Budaya Malangraya

Tidaklah berlebihan bila Kota Malang menyandang predikat sebagai ‘Kota Seni’. Hal ini bukan hanya tergambar pada banyaknya sanggar, komunitas dan kantong-tantong wilayah kegiatan seni-budaya namun juga pada frekuensi pementasan dan kegiatan yang dihadirkan olehnya. Sebagai daerah yang multi-kultural – yang merupakan impak dari masyarakatnya yang multi-etnik dan perjalanan panjang sejarahnya dalam posisi sebagai sentra budaya – serta maupun sebagai wilayah yang menjadi sentra pendidikan, geliat seni-budaya di Kota Malang telah berlangsung lama, walau perjalannya tergambar fluktuatif dari waktu ke waktu. Ada kalanya kwalita dan kwantita sajian seni-budaya tersebut terbilang tinggi, namun ada kalanya pula pada beberapa tahun mengalami degradasi atau dekadensi.

Pada sekitar setengah dasawarsa terakhir geliat seni-budaya di Kota Malang dan bahkan di Malangraya memperlihatkan grafik yang ‘meningkat signifikan’. Komunitas-komunitas peduli dan pencita sejarah dan seni-budaya bermuculan, yang dengan inisiatif dan pendanaan sendiri melakukan aktifitas di kelompoknya masing-masing. Sejalan dengan itu, komunitas, sanggar maupun kantong-kantong wilayah seni-budaya yang berbasis pada kampung-kampung mengalami pertumbuhan dan pengembangan. Perhelatan seni-budaya bukan hanya berlangsung mingguan, namun nyaris terjadi harian. Bahkan, di dalam sehari bisa terjadi pementasan seni-budaya di dua atau lebih tempat. Boleh dibilang pada akhir-akhir ini seni-budaya di Kota Malang mengalami kesemarakan.

12295505_10209533049631544_5782815678889581457_n-horz

 12512426_10204464522212322_8302486829214725583_n-horz

Sayang sekali kesemarakan seni-budaya di Kota Malang di satu sisi ini tidak ditopang oleh tersedianya sarana eskpresi seni dalam bentuk Gedung Kesenian milik Pemerintah Kota Malang yang memadai, sehingga cafe, sanggar, rumah tinggal, panggung esidental, kampus bahkan ruang terbuka (open space) pun jadi pilihan – diantara tidak banyak pilihan – untuk dijadikan sebagai ajang pementasan atau penyelenggaraan kegiatan seni-budaya. Tak ada akar, maka rotan pun jadi. Namun, tidak asal ‘akar’ sebagai pengganti rotan. Akar yang ada itu dikemas sedemikian rupa, sehingga menjadi ‘semacam rotan’ dengan keunikannya sendiri dan agar memiliki ketepatgunaan bagi kebutuhan pubik. Cafe, sanggar, rumah tinggal, panggung esidental di tempat tertentu, kampus ataupun ruang terbuka dijadikan ajang pementasan seni-budaya guna mensiasati ketiadaan gedung kesenian di Kota Malang. Prinsipnya, walau tidak terdapat gedung kesenian yang memadai milik Pemerintah Kota Malang dan mudah diakses oleh para pelaku seni, namun geliat seni-budaya tak boleh berhenti karenanya.

C. Heritage Performing Art di Taman Kota dan Ajar Pusaka-Budaya

Begitulah ruang-ruang terbuka, semisal taman-kota dan ereal di sekitar monumen, yang diantaranya merupakan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (culture heritage), menjadi ajang/pentas (stage) seni-budaya. Justru hal inilah yang membidani lahirnya konsep ‘Heritaga Performing Art’, yaitu pementasan seni pertunjukan dengan latar atau pada areal sekitar Pusaka alam dan/atau Pusaka Budaya. Perhelatan seni-budaya yang diselenggarakan di areal Taman Kota, dengan demikian dapat disebut ‘Perhelatan Seni Taman Kota’. Diantara taman-taman kota yang terdapat di Kota Malang adalah taman kota kuno (ancient park), yang setidaknya telah ada pada paroh pertama abad ke-20. Misalnya ‘Alon-Alon Kembar’ (: Alon-Alon Kotak dan Alon-Alon Bunder), Taman Merbabu, Taman Slamet, Taman/Hutan Malabar, Taman Ijen Boulevard, dan Taman Buring.

13770318_1068892869813693_4109058287636699556_n

 13062066_521117988061162_2480685537235178394_n

13055374_521118091394485_208671128581212071_n

Sejumlah taman kota itu, yang apabila menilik usianya, bisa dimasukkan dalam kategori ‘pusaka alam’. Pementasan seni pertunjukan di taman kota kuno itu oleh karenanya dapat dibilang sebagai ‘Heritage Performing Art’. Taman-taman lainnya seperti Taman Ken Dedes, Taman Kunang-Kunang, Taman Simpang Balapan dan Taman Sriwijaya (Stasiun Kota Baru), walaupun baru dibuat pada Pasca Kemerdekaan bahkan ada yang baru dibangun tahun 1989-an, namun kini usianya memasuki puluhan tahun, yakni lebih dari seperempat abad. Taman-taman kota itu ada yang dilengkapi dengan monument, yang merupakan monument khas bagi Kota Malang, seperti Monument Tugu di Alon-Alon Bunder, Monument Prajanaparamita di Taman Ken Dedes, Monument Hamid Rusdi di Taman Simpang Balapan, Monument Singa di Taman Sriwijaya (Stasiun Kota Baru Utara), Monument Melati dan TRIP di Taman Ijen Boulevard, dsb. Selain itu di sekitar taman kota terdapat sejumlah bangunan dan fasilitas publik yang merupakan produk budaya masa lampau, utamanya dari Masa Kolonial, sehingga dapat dikatakan ‘memiliki latar bangunan dan kawasan heritage’.

 Malang Bangkit 02

 13697129_1068892849813695_8005570356406123902_n

13226901_1134438663244416_1063506570586809399_n

13245248_10208372770470569_3172169127706372431_n

Monumen pada taman kota dan bangunan/fasiltas publik yang berupa bangunan cagar budaya tersebut bukan hanya dapat dijadikan latar (setting) bagi pementasan seni pertunjukan (perfoming art) namun bisa juga dimanfaatkan sebagai obyek dalam pembelajaran sejarah, lewat kegiatan ‘Ajar Pusaka Budaya’. Kedua kegiatan ini, yakni Heritage Performing Art dan Ajar Pusaka Budaya, dapat dilaksanakan secara berantai pada siang dan berlanjut malam hari atau sama-sama dilaksanakan di siang hari. Pada formula terakhir suatu sajian seni pertunjukan kecil disisipkan pasca eksplanasi suatu situs atau bangunan heritage. Oleh karena itu, ada baiknya taman kota yang dipilih sebagai ajang atau pentas bagi heritage performing art adalah taman kota yang dilengkapi dengan monumen sejarah dan bangunan/fasilitas publik yang bersejarah, sehingga serupa dengan mutiara kata ‘dalam satu kayuh, dua-tiga pulau terlam-paui’. Formula demikian diterapkan pula pada perhelatan bulanan ‘Mbulan Ndadari’ di situs Candi Badut.

Pada tahun anggaran 2017 mendatang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang mengacakan untuk menghelat 30 (tiga puluh) event di taman-taman kota, yaitu di Alon-Alon Kembar (Alon-alon Kotak dan Alon-Alon Bunder), Taman Kunang-Kunang, Taman Ken Dedes, Taman Sriwijaya (Stasiun Kota Baru), Taman Slamet dan Taman Merbabu serta Situs Candi Badut. Semoga menjadi kenyataan.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya,
‘Nuswantarajayati’.
Nuwun.

21 Juli 2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!