KEKAYAAN SEJARAH CELAKET

KILAS SEJARAH FRATERAN,
KONTRIBUSINYA BAGI PENDIDIKAN DI MALANG

Salah satu khasanah kesejarahan pada kawasan Celaket di Kota Malang adalah sejarah pendidikan. Dua diantaranya adalah sekolah swasta, yang bernaung dibawah Lembaga Pendidikan Katolik, yaitu Frateran dan Cor Jesu. Gedung sekolah yang berada di koridor Celaket, yang usianya hampir mencapai satu abad ini, hingga kini masih eksis. Bukan hanya dalam hal kegiatan kependidikannya yang terus berlangsung melintas masa, namun bangunannya – yang masuk dalam kategori ‘seni-bangun Indis’ – terbilang sebagai culture heritage yang lestari semata atas upaya sendiri.

A. Sebuah Lembaga Pendidikan pada Masa Kolonial

Antara tahun 1914 – 1939 di Kota Malang setidak-tidaknya terdapat tiga buah sekolah yang bernaung di bawah Fraterscholen, yaitu:

(1) Legere School der Fraters van O.L. Vrouw van’t Heilig Hart di Celaket,

(2) Internaat voor Jongens der Fraters van O.L. Vrouw van’t Heilig Hart di Celaket, maupun

(3) R.K. Muloschool “St. Franciscus Xaverius” Oro-Oro Dowo.

Sebagaimana halnya para Frater, para Suster pun ikut mendirikan lembaga pendidikan, yang lokasinya tidak jauh dari Gedung Frateran. Semula gedung ini digunakan sebagai lembaga pendidikan guru (Kloosterschool Zuster Ursulinen) Santo Agustinus, yang semenjak 15 Juli 1951 berganti nama menjadi SMA Cor Jesu. Lembaga pendidikan yang dikelola oleh para frater dan suster di Malang itu merupakan sekolah non-pemerintah, yang bernaung di bawah institusi keagamaan Katolik. Sejalan dengan itu, institusi Protestan tidak ketinggalan untuk turut bergerak di lapangan pendidikan. Bahkan di Kota Malang terdapat tidak kurang dari tujuh sekolah yang dikelola oleh institusi Protestan.

01

Gedung sekolah dan biara bagi para Frater “Bunda Hati Kudus” di Claket (kini Jln. Jaksa Agung Suprapto No. 20, di seberang timur Bantas) adalah contoh arstektur Indis di Kota Malang yang tergolong sebagai heritage yang masih lestari. Seni bangun artistik yang tergolong sebagai arsitektur kolonial modern ini adalah karya arsitek swasta pada biro arsitek NV. Architecten-ingenieursbureaw Hulswit en Fermont te Welteureden en Ed. Cuypers dari Batavia, telah dibangun pada tahun 1926. Turut pula berjasa dalam proses pendirian lembaga pendidikan Katolik di Gemeente Malang adalah uskup Mgr. Staal, yang pada 8 Februari 1900 menyatakan keinginan untuk mendirikan sekolah dan biara di Malang.

02

Setelah berdiri, biara dan sekolah Frateran ditempatkan di bawah “Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Propinsi Indonesia”, yang didirikan oleh Frater Mgr. Andreas Ignatius Schaepman dan diresmikan di Utrect pada 13 Agustus 1873. Pada Masa Clash I, tepatnya tahun 1947, sebagaimana nasib ratusan bangunan Indis lainnya di Malang, gedung Frateran yang strategis letaknya itu tak luput dari pembakaran oleh para pejuang RI guna menghidari pengambilalihan bangunan oleh pasukan Belanda yang hendak memasuki Kota Malang.

B. Keberlanjutan sebagai Lambaga Pendidikan pada Masa Kemerdekaan

SMP Katolik Frateran di Koridor Celaket (kini Jl, Jaksa Agung Suprapto No. 21) adalah satu dari 22 sekolah yang berada di bawah asuhan dari Yayasan Mardi Wiyata. Sekolah, yang semula bernama ‘HCS (Holland Chinese School)’. Lembaga ini berdiri secara resmi pada tahun 1948, tepatnya 29 Desember 1948. Sekolah yang pada awalnya hanya menerima murid laki-laki ini semula berlokasi di seberang sungai Brantas (kini SMUK Frateran Malang) hingga tahun 1990. Kini sekolah yang dulu lebih dikenal dengan sebutan “SMP Celaket” ini menempati gedung tertua milik Frater BHK di Malang, tepatnya Jalan Jaksa Agung Suprapto 21, yang juga merupakan biara induk dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia.

03

Pada tahun 2003 ‘SMP Katolik Celaket 21’ secara resmi berubah nama menjadi ‘SMP Katolik Frateran Celaket 21’. Sekolah yang rata-rata tiap tahun memiliki total sembilan kelas ini merupakan satu sekolah tertua yang dirintis oleh para frater Bunda Hati Kudus dan merupakan satu dari sekian sekolah lain yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya Palembang (Sumsel), Kediri, Malang, Surabaya (Jawa), Ndao, Maumere, Podor (NTT), Sumba dan Nunukan (Kalimantan Utara). Yayasan Mardi Wiyata adalah yayasan pendidikan yang didirikan oleh Kongregasi Frater BHK, sebagai wahana pengabdian para frater bagi kaum muda khususnya.

Dalam kurun waktu yang tidak singkat, tentu banyak hal yang patut untuk dicatat berkenaan dengan perubahan dan perkembangan, prestasi serta hambatan. Ketika didirikan sekolah ini bernama HCS, yang setara dengan Sekolah Dasar, dan khusus menerima murid laki-laki. Baru pada tahun 1975 sejoleh ini menerima murid perempuan. Maka, berkembanglah sekolah ini menjadi besar yang lulusannya layak berbangga. Pada era tahun 1990-an, sekolah-sekolah katolik mulai mendapat saingan dari sekolah-sekolah lain yang berkembang dengan pesat. SMP Celaket menyadari hal ini sebagai cambuk untuk memacu prestasi, agar dapat bertahan dan berkembang serta menunjukkan jati dirinya di tengah persaingan itu.

C. Kelestarian Seni-bangun Frateran Malang

Sesuai dengan fungsinya sebagai sekolah dan sekaligus biara, gedung berlantai dua yang berbentuk landam kuda (seperti huruf “U”) ini dilengkapi dengan asrama bagi para Frater, kapel, dapur dan ruang makan, perpustakaan, kantor, beranda, dsb. Pada bagian tengah halaman gedung yang luas dan asri didirikan patung Yesus Kristus menghadap ke arah timur, yaitu ke arah kapel yang terletak di lantai dua sisi timur. Pintu dan cendela kapel dilengkapi dengan kaca fresco warna-warni, sehingga berkas cahaya yang masuk ke dalam ruangan menjadi temaram indah.

04

Dinding sisi luar Gedung Frateran dibuat bergaris-garis menyerupai tatanan bata merah seperti halnya kebanyakan bangunan di Eropa pada jamannya. Lantai bangunan dari tegel warna dan tegel hias, yang sebagaian besar darinya masih terpasang. Demikian pula, mebelair, lukisan dan perangkat rumah lama lainnya juga masih terawat dengan baik. Seperti kebanyakan bangunan Indis di Kota Malang yang dibangun anatara tahun 1920 – 1930-an, atap Gedung Frateran juga memiliki bentuk yang menonjol. Salah satu ciri menonjok, yang tampak pada fasadenya adalah dinding bangunan yang berbentuk bata ekspose.

05

Bangunan sekolah yang sangat artistik ini, kini bukan saja menjadi kekayaan biara, namun juga menjadi milik masyarakat, yang masuk dalam kategori Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi. Gedung yang berciri khas, dengan cat bata merah ini didirikan pada tanggal 12 September 1928 dan diberkati oleh Mgr. Clemens v. d. Pas (Prefek. Apost. Malang) pada tanggal 10 Februari 1929. Semoga tetap lestari dan kontributif, kini hingga mendatang

23 Juli 2016

Dwi Cahyono


Kekayaan Sejarah CELAKET 2
(Festival “Kampoeng Tjelaket”)

 

JEMBATAN CELAKET,
JEMBATAN KONSTRKUSI BETON TERTUA DI KOTA MALANG

A. Jembatan Cagar Budaya

Salah sebuah heritage jenis ‘Cultural Heritage (Pusaka Budaya)’ di Kota Malang, yang berupa bangunan jembatan, adalah Jembatan Celaket. Keberadaannya amatlah penting bagi pemekaran wilayah Kota Malang, mengingat bahwa Sub-area Tengah Kota Malang dibelah oleh aliran Brantas yang lebar dan curam. Kondisi fisografis yang demikian menjadikan jembatan sebagai prasarana sekaligus ‘solusi kunci’ untuk hubungkan dua areal yang terpisah oleh sungai atau antar seberang. Jembatan berkonstrusi beton pada periode awal yang dibangun di wilayah Kota Malang adalah Buk Gludug dan Jembatan Celaket, yang mula-mula berkonstruksi kayu dan kemudian direvitalisasi menjadi jembatan berkonstruksi beton yang terbilang modern pada jamannya di paro kedua abad XIX.

Jembatan Celaket (Claket Berg) menghubungkan dua koridor jalan utama, yaitu Claket Straat dan Kayoe Tangan Straat, yang merupakan ‘akeses utama’ menuju ke Alon-Alon Kothak dan ke arah sebaliknya, yakni ke wilayah pusat Karesidenan Pasoeroean (sebelum berubah menjadi Karesidenan Malang) dan Seorabaia.

Jembatan ini berada pada posisi yang stretegis, karena berada dekat dengan Benteng (Loji) Belanda Pertama di Malang – dibangun tahun 1767, yang konon terletak di areal RSUD Saiful Anwar. Terlebih rumah-rumah tinggal warga Belanda dan Eropa lainnya awal yang dibangun pada medio abad XIX, yakni sekitar 60 tahun setelah VOC mendirikan Loji Pertama di Malang, Rumah-rumah tinggal itu dibangun di koridor Claket dan koridor Oro-Oro Dowo sisi timur, tidak jauh dari lokasi Loji Pertama, Untuk menghubungkan dua areal yang berseberangan oleh lintas Brantas itu, yaitu areal Celaket dan Oro-oro Dowo, diperlukan akses jalan, dengan membangun jembatan yang memadai, yang berkonstruksi beton sebagai pengganti konstrusi kayu.

Sayang sekali hingga sejauh ini belum diperoleh kepastian tahun pembangunan dan arsitek yang didaulat untuk membangunnya. Namun demikian, menilik bentuk, geostrategis dan fungsi pokoknya, tak diragukan bahwa Jembatan Celaket adalah karya Pusaka Budaya sejak Masa Kolonial. Yang terang pasca medio abad XIX, yakni setelah Kompeni Belanda mengubah pola tinggalnya dari “permukiman di dalam benteng (loji)” menjadi “pola pemukiman di luar benteng”.

Masa pembangunannya sedikit lebih awal dari Buk Gluduk yang lebih sulit dalam pengerjaannya, lantaran lebih panjang bentangan dalam melintas aliran Bratas. Jembatan beton berikutnya yang melintas brantas adalah ‘jembatan kembar’, yakni Jembatan Spleendi dan Jembatan Kahurupan, dan disusul kemudian Jembatan Kedungluncing (Jl. Muharto).

Menilik usianya yang lebih dari satu abad dari sekarang, sudah barang tentu Jembatan Claket merupakan Bangunan Cagar Budaya, yang kelestarian bentuk dan fungsinya dilindungi oleh Undang-Udang Nomor 11 Tahun 210 tentang ‘Cagar Budaya’. Jembatan ini sekaligus merupakan monument tertua di Gemeente Malang dalam hal jembatan. Sebagai suatu Cagar Budaya, karakter bentuknya mustilah dipertahankan, tanpa harus menambahkan komponen-komponen baru sebagai ‘aksesoris’ yang menghilangkan atau menjadi penghalang pandang bagi bentuk aslinya. Kedati berusia tua, namun jembatan ini memiliki kekuatan yang sejauh ini masih layak guna.

B. Problem Pelestarian Jembatan Claket

Problema pelestaraian terkait dengan Jembatan Claket bukan pada faktor kerusakan dan kerawanan konstruksinya, alih-alih justru penambahan komponen baru yang tidak menjadi kebutuhan bagi pelestariannya, yaitu pembangunan ‘vergola bernuansa warna hijau’ pada sepanjang bentang jembatan. Deretan tiang-tiang vergola besi penyangga atap lengkung vergola yang juga terbuat dari besi, yang ditumpangkan di permukaan jembatan, menempel pada pagar kuno jembatan yang berbentuk khas (baca ‘unik’), Dengan demikian, ada dua dampak yang ditimbulkannya, yaitu: (1) menjadi penghalang pandang karakter bentuk asli pagar jembatan dan mengubah keseluruhan tampak pandang jembatan; dan (2) menambah beban yang musti disangga oleh konstrusi jembatan yang telah berusia lebih dari satu abad (jembatan tua),

06

Problem ini tak bakal ada apabila ‘vergola hijau’ itu tidak dibangun pada tahun 2015 dengan topangan anggaram APBD Kota Malang sebesar Rp. 900.000,-. Lagi pula, keberadaan vergola tersebut menjadi ‘mubazir’, karena dalam bentuk barunya ini Jembatan Claket yang arkhais dan anggun berubah menjadi jembatan yang aneh bentuknya. Tidak diperoleh kejelasan rinci mengenai dasar pertimbangan, baik desain bentuk dan fungsi pergola. Oleh kerena itu, dapatlah difahami apabila konon pembangunannya sempat menjadi polemik antara pihak Eksekutif dan Legislatif di Kota Malang pada penghujung tahun 2015, terlebih ketika muncul usulan dari pihak Eksekutuf untuk memperoleh tambahan anggaran (APBD 2016) sebesar Rp, 2,5 Milyar, dengan alasan untuk memperkuat konstrusi jembatan – lantaran ada penambahan beban jembatan atas pembangunan vergola.

C. Solusi Bijak bagi Pelestarian Jembatan Claket

Ada baiknya, demi kelestarian Jembatan Claket, vergola hijau tersebut dibongkar, agar nuansa arkhais dari ‘jembatan heritage’ ini kembali ke bentuknya semula. Tidak perlu ada rasa malu untuk membongkar apa yang telah dibangun – meskipun ada aspek kerugian di dalamnya – demi maksud yang lebih baik, yakni pelestarian Bangunan Cagar Budaya. Material bangunan bongkaran, yang berbahan logam, dapat dimanfaatkan untuk membuat vergola di tempat lain yang lebih tepat dan lebih bermanfaat. Apabila problem ini ditolelir, dilhawatirkan bakal muncul vergola-vergola lain di Buk Gluduk, Jembatan Spleendit, Jembatan Kahurupan, Jembatan Kedungluncing, dsb.

07

Demikianlah, dibutuhkan adanya kearifan dalam menangani Bangunan-bangunan Cagar Budaya. Pandangan bahwa ‘yang usang (tua) tidak menarik, yang baru jauh lebih menarik’ tidaklah tepat untuk segala hal, utamanya terhadap Bangunan Cagar Budaya. Dalam hal ini, prinsip Kelestarian mustinya lebih dikedepankan dalam mengelolaan Cagar Budaya. Kasus ‘Jembatan Heritage Claket’ adalah contoh kasus untuk pembelajaran bersama, bukan hanya bagi warga masyarakat, namun tak terkecuali pula bagi Pemerintah Daerah.

Salam bijak bestari,
‘Malang Kota Pusaka (Heritage City)’.
Semoga membuahkan makna.
Nuwun.

23 Juli 2016

Dwi Cahyono


Kekayaan Sejarah CELAKET 3

KAMPOENG TJELAKET MELINTAS MASA

Metamorfosa dari Desa Pertanian menjadi Areal Tengah Kota Malang

A. P e n g a n t a r

Ada empat koridor jalan utama di Kota Malang yang tergolong sebagai ‘koridor jalan arkhais (kuno)’, antara lain Tjelaket, Kayoetangan, Boldy dan Ijen Boulevard. Nama ‘Tjelaket Strrat’ yang sekarang berubah nama menjadi ‘Jl. Jaksa Agung Suprapto’ diambil dari nama sebuah desa kuno di wilayah Gemeente Malang, yaitu Tjelaket, yang terdiri atas dua kampung: (a) Tjelaket Koelon, dan (b) Tjelaket Wetan.

Kedua kampung ini di dalam sistem Pemerintahan Kota Malang berubah nama menjadi ‘Kelurahan Rampal Claket’. Sebagai nama, Tjelaket melekat pada nama jalan, nama sekolahan (SMP Celaket di Gedung Frateran), nama rumah sakit (RSU Tjelaket, kini ‘RSUD Saiful Anwar’), Asrama Polisi Jalan Tjelaket (kini Polresta Kota Malang’), dsb. Pendek kata, konon nama ‘Tjelaket’ amat familier dengan warga, bukan hanya pada warga Malangraya, namun juga bagi warga di daerah-daerah lain, bahkan warga mancanegara. Mengapa dinamai dengan ‘Tjelaket’?

B. Toponimi Kuno ‘Celaket’

Nama-nama tempat (desa, kampung, bahkan kota/kabupaten) di Jawa banyak meminjam nama tumbuhan, atau hal yang berhubungan dengan tanaman. Fenomena demikian tidak terkecuali berlaku di Malang. Banyak desa/kampung di Malang mempunyai unsur nama yang dipinjam dari nama-nama tumbuhan atau berkaitan dengan tanaman. Misalnya, mana ‘Sukun, Blimbing, Glintung, Tunggulwulung, Lokjati, Loksuruh, Lowokwaru, Pakis, Pakisaji (Pakis-haji), Turen’, dan banyak lagi. Celaket adalah salah sebuah diantaranya, yang berasal dari kata ‘calaket atau caleket’.

Secara harafiah kosa kata Jawa Kuna ‘calaket atau caleket’ berarti pedas atau masam. Istilah ini antara lain disebut dalam kakawin Ramayana (6.45) dengan kalimat ‘…. kamalagi calaket kukap gintungan’. Kata-kata yang menyertainya adalah nama-nama sejumlah tanaman, yaitu kamalagi (kini ‘kemlagi’ atau asam), kukap (sejenis pohon sukun atau Artocarpusinsica), dan gintungan (kini ‘glintung’, sejenis pohon atau Schleicheratrijuga). Dalam arti pedas, istilah ini menunjuk kepada sejenis tanaman cabai, merica, dsb. Apabila asam rasanya, maka dapat menunjuk pada sejenis pohon asam.

Untuk kemungkinan terakhir, mengingatkan kita pada deretan pohon asam Jawa yang tinggi-besar di kanan-kiri koridor Celaket hingga tahun 1980-an, yang sebagian diantaranya kini masih tertinggal. Kata jadian ‘macalaket, cumalaket, dan nyalaket’ dalam arti pedas atau tajam disebut dalam kitab Arjunawiwaha (34.3), Partayajna (38.10), Tantri Kamandaka (110.20) dan Nawaruci (68.8). Dalam kitab Nawaruci kata jadian ‘cumalaket’ disebut bersama dengan tanaman kunir dan apu (kapur), yakni ramuan penawar upas (bisa) dan racun.

Asam Jawa konon adalah salah satu jenis tanam keras yang ditaman di sepanjang jalan di wiayah Kota Malang, selain trembesi, nenitri, cemara, dsb. Desa kuno ‘Tjeleket’, yang nama kunonya amat boleh jadi adalah ‘Tjalaket’. Dinamai demikian lantaran keberadaan pohon-pohon asam di sepanjang jalan kuno yang kini dinamai dengan nama pahlawan nasional ‘Jl. Jaksa Agung Suprapto’. Penggantian nama jalan, apa lagi bila ditambah dengan penebangan pohon-pohon peneduh pada sepanjang jalan ini, berdampak hilangnya ‘lamd mark’ setempat, yaitu pohon asam Jawa.

Wilayah desa kuno Tjelaket meliputi pula apa yang kini dinamai Kelurahan Samaan. Bentang selatan desa ini dengan demikian hingga mencapai DAS Brantas. Bentang timurnya meliputi areal rumah sakit, sehingga rumah sakit – sebelumnya merupakan loji (benteng) Belanda yang perdana di Malang – konon disebut dengan ‘Roemah Sakit Tjelaket’, Demikian pula loji tersebut dinamai ‘Loji Tjelaket’. Makam Samaan boleh jadi konon termasuk areal barat dari desa kuno Tjelaket. Dalam perkembangannya, khususnya semenjak terbentuknya Kotapraja (Gemeente) Malang tahun 1914, wilayah luas dari desa kuno Tjelaket dimekarkan menjadi beberapa desa, yaitu Tjelaket, Samaan dan Klojen Lor.

C. Kilas Sejarah Kampung Tua Celaket

Kampung Celaket adalah salah sebuah ‘Kampung Tua’ di Kota Malang. Sebagai kampung tua, Celaket telah menempuh perjalanan sejarah panjang, semenjak Jaman Prasejarah hingga sekarang. Bahkan, dalam beberapa momentum historis di Malang ataupun di Jawa, kesejarahan Celaket dapat dibilang sebagai ‘pemula sejarah’. Data arkeologis yang sampai kepada kita menunjukkan bahwa daerah Celaket, yang terletak di seberang utara aliran Brantas, telah digunakan sebagai areal permukiman Jaman Prasejarah, setidaknya semenjak Masa Bercocok Tanam. Pada situs Punden Mbah Tugu di Celaket Gang I-E, yang berjarak ± 500 m pada utara aliran Brantas, dijumpai menhir, lumpang batu (stone mortar) dari monolith tanpa ditarah dan bejana batu.

08

Disamping itu di halaman sekolah SMU Cor Jessu pernah ditemukan sebuah periuk berisi lembaran-lembaran tipis emas (swarnapatra) bertulis nama-nama dewata Hindu. Sayang sekali, pada tahun 1928 artefak dari masa Hindu-Buddha ini direlokasikan ke Museum Batavia (kini ’Museum Nasional’ di Jakarta). Tinggalan lainnya berupa sebuah umpak besar, lumpang batu tanpa ditarah, dan sejumlah arung (saluran air bawah tanah) di sepanjang DAS Brantas.

09

Tinggalan arkeologis itu menjadi pembukti bahwasa pada jaman Prasejarah daerah Celaket telah dihuni oleh warga masyarakat yang berbasis ekonomi agraris dan berlatar religi pemuja arwah nenek moyang (ancestors worship). Lumpang batu itu menjadi petunjuk pencaharian agraris, dan menhir digunakan sebagai media pemujaan kepada arwah nenek moyang. Latar keagamaannya berubah menjadi Hindu sekte Saiwa pada Masa Hindu-Buddha, sebagaimana terbukti dari inskripsi pendek (sort inscription) pada swarnapatra yang memuat nama-nama dewata Hindu tersebut. Sebagai suatu areal permukiman, desa kuno Tjelaket tentu dilengkapi dengan pasar (pkan) desa, yang jejaknya masih tertinggal – meski kini hanya berupa ‘pasar krempyeng’. Peran pasar desa ini surut, utamanya setelah dibangunnya Pasar Samaan yang jauh lebih besar.

Pada permualaan abad X Masehi, Celaket berada di lingkungan dalam (watek i jro) atau setidaknya terletak pada pinggiran pusat pemerintahan (kadatwan) Mataram ketika Pu Sindok merelokasi pusat pemerintahan (kadatwan)-nya dari Pohpitu di sekitar Blora ke Tamwlang di bantaran utara aliran Brantas. Toponimi arkhais ‘Tamwlang’, yang menurut linggo-prasasti Turyyan bertarikh 929 Masehi menjadi kadatwan Pu Sindok (Sri Isana) itu, kini mengalami sedikit perubahan penyebutan menjadi ‘Tembalangan (Tamwlang-Tamblang-Tambalang+an-Tembalangan)’, yakni nama kampung di Kelurahan Samaan. Apabila benar demikian, berarti Celaket-Samaan ikut menjadi saksi atas mula sejarah Isanavamsa dalam pemerintahan kerajaan Mataram yang berpusat di wilayah Jawa Timur.

Peran strategis Celaket kembali terjadi pada mula Sejarah Kolonial di daerah Malang. Loji perdana Kompeni Belanda didirikan di utara Bantas pada tahun 1767, dan untuk kurun waktu lebih dari setengah abad (1767-1821) dijadikan sebagai ‘rumah benteng (castile)’ bagi para serdadu Belanda. Ketika Kompeni Belanda mulai mengembangkan pola permukimam ‘luar loji (luar benteng)’, rumah tinggal orang-orang Belanda pada periode permulaan didirikan di sekitar Loji Utara, yakni berada di sekitar Kampung Celaket serta di Klojen (Ka-loji-an) Lor. Setelah pusat garnizoen direlokasikan dari Loji Utara ke Rampal, eks loji ini dijadikan rumah sakit militer (militair ziekenhuis), sehingga bisa dibilang sebagai ‘embrio’ bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kota Malang (kini dinamai ‘RSUD Saiful Anwar’).
Cikal bakal permukiman Indis itu diperluas dalam Bouwplan I (Mei 1917 sd Februari 1918), dengan mengembangkan kawasan perumahan Indis yang dinamai ‘Oranjebuurt’, yang areal-nya Kampung Tjelaket Wetan.

Permukiman Uranjebuurt serta perluasannya ke arah Celaket dan Lowokwaru yang dibangun pada Bouuwplan tahap IV dilengkapi dengan fasilitas publik, seperti sekolahan, rumah sakit, tempat ibadah, dsb. Lagere School der Fraters van O.L. (kini ‘SMU Frateran’) yang dikelola oleh komunitas Frater dan R.K. MULOschool KekCor Jessu (kini ‘SMU Cor Jessu’) yang dikelola oleh komunitas Zusters Ursulin, yang keduanya berada di Celaket, merupakan fasilitas publik di bidang pendidikan pada Masa Kolonial, yang terus berfungsi hingga kini. Demikian pula Lavalete dan Militair Ziekenhuis (kini berubah menjadi RSUD) adalah dua rumah sakit yang berfungsi lintas masa. Posisi Celaket semakin penting pada paro kedua abad ke-19, tatkala pemerintah Hindia-Belanda menjadikan koridor Celaket hingga Kayu Tangan sebagai ‘jalan poros’ menuju ke sentra Malang, yaitu jalan utama yang menghubungkan Alon-Alon Kotak dengan kota-kota utama di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya dan Pasuruan. Urgensi koridor Celaket berlanjut hingga kini dan untuk waktu mendatang.

D. Urgensi Festival Budaya Kampung Celaket

Kilas sejarah di atas memberi kita gambaran mengenai historistas Celaket sebagai sebuah ‘kampung tua’ atau ‘kampung bersejarah’. Pada lintas masa, Celaket menjadi ajang kegiatan lintas budaya, baik budaya Prasejarah, Hindu, Kristiani maupun Islam. Celaket dengan demikian merupakan potret ‘kampung multikultural’ di Kota Malang. Oleh sebab itu, cukup alasan untuk menyatakan Celaket sebagai ‘kampung budaya lintas masa’. Dalam jatidirinya sebagai ‘kampung tua, kampung bersejarah, dan sekaligus kampung budaya’, Celaket adalah kawasan heritage yang perlu mendapatkan prioritas dalam konservasi budaya dan ekologi sekitarnya. Festival Budaya Kampung Celaket adalah wahana untuk melestarikan, membina, mengembangkan dan mendayagunakan aset budaya lokal di suatu daerah. Kendatipun kini desa kuno yang konon merupakan desa agraris itu telah bermetamorfosis menjadi keluaran yang berada di tengah Kota Malang, namun nuansa kampung yang berciri gotong royong, persaudaraan, toleran atas keragaman budaya dan keyakinan warganya semestinya tidak turut sirna seiring dengan penghapusan status administratf kampung/desa.

Gagasan festival datang dari warga Celaket sendiri, dilakukan dengan ikhtiar warga di tingkat kampung, dan dijaga kesinambangunannya dengan segala daya upaya internal warga Celaket bermitra dengan berbagai pihak yang peduli. Pihak penggagas, pelaksana maupun pemelihara kesimbungan perhelatan budaya kampung memang semestinya berasal dari dan dilakukan oleh warga sendiri (bottom up), dengan sesedikit mungkin bergantung terhadap pendanaan pemerintah. Upaya warga Kampung Celaket dengan ‘Festival Kampung Celaket’-nya bisa dijadikan contoh teladan bagi kampung-kampung lainnya, bahwa festival budaya tidak musti dilaksanakan setingkat desa, namun terbuka kemungkinan kendati hanya di tingkat kampung.

Perlu disadari bahwa justru kampung adalah inti kekuatan dari desa/kelurahan. Karakter lokal acap melekat pada sosio-kultural kampung. Demikian pula, mikro historis berpangkal pada sejarah kampung. Oleh sebab itu, kendatipun dalam sistem Pemerintahan Kota keberadaan kampung telah dihapus, namun khasanah sosial-budaya kampung dan memori masyarakat terhadap kampung pantang untuk dihapuskan.

Semoga tulisan ringkas ini membuahkan makna. Salam budaya ‘viva Japung di Kampoeng Tjelaket’ tahun 2016. Semoga berkelanjutan ke tahun-tahun mendatang. Nuwun.

Sengkaling, 22 Juli 2016

Dwi Cahyono