Connect with us

JAMAN KUNO

Sejarah Tjelaket

Avatar

Published

on

KEKAYAAN SEJARAH CELAKET

KILAS SEJARAH FRATERAN,
KONTRIBUSINYA BAGI PENDIDIKAN DI MALANG

Salah satu khasanah kesejarahan pada kawasan Celaket di Kota Malang adalah sejarah pendidikan. Dua diantaranya adalah sekolah swasta, yang bernaung dibawah Lembaga Pendidikan Katolik, yaitu Frateran dan Cor Jesu. Gedung sekolah yang berada di koridor Celaket, yang usianya hampir mencapai satu abad ini, hingga kini masih eksis. Bukan hanya dalam hal kegiatan kependidikannya yang terus berlangsung melintas masa, namun bangunannya – yang masuk dalam kategori ‘seni-bangun Indis’ – terbilang sebagai culture heritage yang lestari semata atas upaya sendiri.

A. Sebuah Lembaga Pendidikan pada Masa Kolonial

Antara tahun 1914 – 1939 di Kota Malang setidak-tidaknya terdapat tiga buah sekolah yang bernaung di bawah Fraterscholen, yaitu:

(1) Legere School der Fraters van O.L. Vrouw van’t Heilig Hart di Celaket,

(2) Internaat voor Jongens der Fraters van O.L. Vrouw van’t Heilig Hart di Celaket, maupun

(3) R.K. Muloschool “St. Franciscus Xaverius” Oro-Oro Dowo.

Sebagaimana halnya para Frater, para Suster pun ikut mendirikan lembaga pendidikan, yang lokasinya tidak jauh dari Gedung Frateran. Semula gedung ini digunakan sebagai lembaga pendidikan guru (Kloosterschool Zuster Ursulinen) Santo Agustinus, yang semenjak 15 Juli 1951 berganti nama menjadi SMA Cor Jesu. Lembaga pendidikan yang dikelola oleh para frater dan suster di Malang itu merupakan sekolah non-pemerintah, yang bernaung di bawah institusi keagamaan Katolik. Sejalan dengan itu, institusi Protestan tidak ketinggalan untuk turut bergerak di lapangan pendidikan. Bahkan di Kota Malang terdapat tidak kurang dari tujuh sekolah yang dikelola oleh institusi Protestan.

01

Gedung sekolah dan biara bagi para Frater “Bunda Hati Kudus” di Claket (kini Jln. Jaksa Agung Suprapto No. 20, di seberang timur Bantas) adalah contoh arstektur Indis di Kota Malang yang tergolong sebagai heritage yang masih lestari. Seni bangun artistik yang tergolong sebagai arsitektur kolonial modern ini adalah karya arsitek swasta pada biro arsitek NV. Architecten-ingenieursbureaw Hulswit en Fermont te Welteureden en Ed. Cuypers dari Batavia, telah dibangun pada tahun 1926. Turut pula berjasa dalam proses pendirian lembaga pendidikan Katolik di Gemeente Malang adalah uskup Mgr. Staal, yang pada 8 Februari 1900 menyatakan keinginan untuk mendirikan sekolah dan biara di Malang.

02

Setelah berdiri, biara dan sekolah Frateran ditempatkan di bawah “Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Propinsi Indonesia”, yang didirikan oleh Frater Mgr. Andreas Ignatius Schaepman dan diresmikan di Utrect pada 13 Agustus 1873. Pada Masa Clash I, tepatnya tahun 1947, sebagaimana nasib ratusan bangunan Indis lainnya di Malang, gedung Frateran yang strategis letaknya itu tak luput dari pembakaran oleh para pejuang RI guna menghidari pengambilalihan bangunan oleh pasukan Belanda yang hendak memasuki Kota Malang.

B. Keberlanjutan sebagai Lambaga Pendidikan pada Masa Kemerdekaan

SMP Katolik Frateran di Koridor Celaket (kini Jl, Jaksa Agung Suprapto No. 21) adalah satu dari 22 sekolah yang berada di bawah asuhan dari Yayasan Mardi Wiyata. Sekolah, yang semula bernama ‘HCS (Holland Chinese School)’. Lembaga ini berdiri secara resmi pada tahun 1948, tepatnya 29 Desember 1948. Sekolah yang pada awalnya hanya menerima murid laki-laki ini semula berlokasi di seberang sungai Brantas (kini SMUK Frateran Malang) hingga tahun 1990. Kini sekolah yang dulu lebih dikenal dengan sebutan “SMP Celaket” ini menempati gedung tertua milik Frater BHK di Malang, tepatnya Jalan Jaksa Agung Suprapto 21, yang juga merupakan biara induk dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia.

03

Pada tahun 2003 ‘SMP Katolik Celaket 21’ secara resmi berubah nama menjadi ‘SMP Katolik Frateran Celaket 21’. Sekolah yang rata-rata tiap tahun memiliki total sembilan kelas ini merupakan satu sekolah tertua yang dirintis oleh para frater Bunda Hati Kudus dan merupakan satu dari sekian sekolah lain yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya Palembang (Sumsel), Kediri, Malang, Surabaya (Jawa), Ndao, Maumere, Podor (NTT), Sumba dan Nunukan (Kalimantan Utara). Yayasan Mardi Wiyata adalah yayasan pendidikan yang didirikan oleh Kongregasi Frater BHK, sebagai wahana pengabdian para frater bagi kaum muda khususnya.

Dalam kurun waktu yang tidak singkat, tentu banyak hal yang patut untuk dicatat berkenaan dengan perubahan dan perkembangan, prestasi serta hambatan. Ketika didirikan sekolah ini bernama HCS, yang setara dengan Sekolah Dasar, dan khusus menerima murid laki-laki. Baru pada tahun 1975 sejoleh ini menerima murid perempuan. Maka, berkembanglah sekolah ini menjadi besar yang lulusannya layak berbangga. Pada era tahun 1990-an, sekolah-sekolah katolik mulai mendapat saingan dari sekolah-sekolah lain yang berkembang dengan pesat. SMP Celaket menyadari hal ini sebagai cambuk untuk memacu prestasi, agar dapat bertahan dan berkembang serta menunjukkan jati dirinya di tengah persaingan itu.

C. Kelestarian Seni-bangun Frateran Malang

Sesuai dengan fungsinya sebagai sekolah dan sekaligus biara, gedung berlantai dua yang berbentuk landam kuda (seperti huruf “U”) ini dilengkapi dengan asrama bagi para Frater, kapel, dapur dan ruang makan, perpustakaan, kantor, beranda, dsb. Pada bagian tengah halaman gedung yang luas dan asri didirikan patung Yesus Kristus menghadap ke arah timur, yaitu ke arah kapel yang terletak di lantai dua sisi timur. Pintu dan cendela kapel dilengkapi dengan kaca fresco warna-warni, sehingga berkas cahaya yang masuk ke dalam ruangan menjadi temaram indah.

04

Dinding sisi luar Gedung Frateran dibuat bergaris-garis menyerupai tatanan bata merah seperti halnya kebanyakan bangunan di Eropa pada jamannya. Lantai bangunan dari tegel warna dan tegel hias, yang sebagaian besar darinya masih terpasang. Demikian pula, mebelair, lukisan dan perangkat rumah lama lainnya juga masih terawat dengan baik. Seperti kebanyakan bangunan Indis di Kota Malang yang dibangun anatara tahun 1920 – 1930-an, atap Gedung Frateran juga memiliki bentuk yang menonjol. Salah satu ciri menonjok, yang tampak pada fasadenya adalah dinding bangunan yang berbentuk bata ekspose.

05

Bangunan sekolah yang sangat artistik ini, kini bukan saja menjadi kekayaan biara, namun juga menjadi milik masyarakat, yang masuk dalam kategori Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi. Gedung yang berciri khas, dengan cat bata merah ini didirikan pada tanggal 12 September 1928 dan diberkati oleh Mgr. Clemens v. d. Pas (Prefek. Apost. Malang) pada tanggal 10 Februari 1929. Semoga tetap lestari dan kontributif, kini hingga mendatang

23 Juli 2016

Dwi Cahyono


Kekayaan Sejarah CELAKET 2
(Festival “Kampoeng Tjelaket”)

 

JEMBATAN CELAKET,
JEMBATAN KONSTRKUSI BETON TERTUA DI KOTA MALANG

A. Jembatan Cagar Budaya

Salah sebuah heritage jenis ‘Cultural Heritage (Pusaka Budaya)’ di Kota Malang, yang berupa bangunan jembatan, adalah Jembatan Celaket. Keberadaannya amatlah penting bagi pemekaran wilayah Kota Malang, mengingat bahwa Sub-area Tengah Kota Malang dibelah oleh aliran Brantas yang lebar dan curam. Kondisi fisografis yang demikian menjadikan jembatan sebagai prasarana sekaligus ‘solusi kunci’ untuk hubungkan dua areal yang terpisah oleh sungai atau antar seberang. Jembatan berkonstrusi beton pada periode awal yang dibangun di wilayah Kota Malang adalah Buk Gludug dan Jembatan Celaket, yang mula-mula berkonstruksi kayu dan kemudian direvitalisasi menjadi jembatan berkonstruksi beton yang terbilang modern pada jamannya di paro kedua abad XIX.

Jembatan Celaket (Claket Berg) menghubungkan dua koridor jalan utama, yaitu Claket Straat dan Kayoe Tangan Straat, yang merupakan ‘akeses utama’ menuju ke Alon-Alon Kothak dan ke arah sebaliknya, yakni ke wilayah pusat Karesidenan Pasoeroean (sebelum berubah menjadi Karesidenan Malang) dan Seorabaia.

Jembatan ini berada pada posisi yang stretegis, karena berada dekat dengan Benteng (Loji) Belanda Pertama di Malang – dibangun tahun 1767, yang konon terletak di areal RSUD Saiful Anwar. Terlebih rumah-rumah tinggal warga Belanda dan Eropa lainnya awal yang dibangun pada medio abad XIX, yakni sekitar 60 tahun setelah VOC mendirikan Loji Pertama di Malang, Rumah-rumah tinggal itu dibangun di koridor Claket dan koridor Oro-Oro Dowo sisi timur, tidak jauh dari lokasi Loji Pertama, Untuk menghubungkan dua areal yang berseberangan oleh lintas Brantas itu, yaitu areal Celaket dan Oro-oro Dowo, diperlukan akses jalan, dengan membangun jembatan yang memadai, yang berkonstruksi beton sebagai pengganti konstrusi kayu.

Sayang sekali hingga sejauh ini belum diperoleh kepastian tahun pembangunan dan arsitek yang didaulat untuk membangunnya. Namun demikian, menilik bentuk, geostrategis dan fungsi pokoknya, tak diragukan bahwa Jembatan Celaket adalah karya Pusaka Budaya sejak Masa Kolonial. Yang terang pasca medio abad XIX, yakni setelah Kompeni Belanda mengubah pola tinggalnya dari “permukiman di dalam benteng (loji)” menjadi “pola pemukiman di luar benteng”.

Masa pembangunannya sedikit lebih awal dari Buk Gluduk yang lebih sulit dalam pengerjaannya, lantaran lebih panjang bentangan dalam melintas aliran Bratas. Jembatan beton berikutnya yang melintas brantas adalah ‘jembatan kembar’, yakni Jembatan Spleendi dan Jembatan Kahurupan, dan disusul kemudian Jembatan Kedungluncing (Jl. Muharto).

Menilik usianya yang lebih dari satu abad dari sekarang, sudah barang tentu Jembatan Claket merupakan Bangunan Cagar Budaya, yang kelestarian bentuk dan fungsinya dilindungi oleh Undang-Udang Nomor 11 Tahun 210 tentang ‘Cagar Budaya’. Jembatan ini sekaligus merupakan monument tertua di Gemeente Malang dalam hal jembatan. Sebagai suatu Cagar Budaya, karakter bentuknya mustilah dipertahankan, tanpa harus menambahkan komponen-komponen baru sebagai ‘aksesoris’ yang menghilangkan atau menjadi penghalang pandang bagi bentuk aslinya. Kedati berusia tua, namun jembatan ini memiliki kekuatan yang sejauh ini masih layak guna.

B. Problem Pelestarian Jembatan Claket

Problema pelestaraian terkait dengan Jembatan Claket bukan pada faktor kerusakan dan kerawanan konstruksinya, alih-alih justru penambahan komponen baru yang tidak menjadi kebutuhan bagi pelestariannya, yaitu pembangunan ‘vergola bernuansa warna hijau’ pada sepanjang bentang jembatan. Deretan tiang-tiang vergola besi penyangga atap lengkung vergola yang juga terbuat dari besi, yang ditumpangkan di permukaan jembatan, menempel pada pagar kuno jembatan yang berbentuk khas (baca ‘unik’), Dengan demikian, ada dua dampak yang ditimbulkannya, yaitu: (1) menjadi penghalang pandang karakter bentuk asli pagar jembatan dan mengubah keseluruhan tampak pandang jembatan; dan (2) menambah beban yang musti disangga oleh konstrusi jembatan yang telah berusia lebih dari satu abad (jembatan tua),

06

Problem ini tak bakal ada apabila ‘vergola hijau’ itu tidak dibangun pada tahun 2015 dengan topangan anggaram APBD Kota Malang sebesar Rp. 900.000,-. Lagi pula, keberadaan vergola tersebut menjadi ‘mubazir’, karena dalam bentuk barunya ini Jembatan Claket yang arkhais dan anggun berubah menjadi jembatan yang aneh bentuknya. Tidak diperoleh kejelasan rinci mengenai dasar pertimbangan, baik desain bentuk dan fungsi pergola. Oleh kerena itu, dapatlah difahami apabila konon pembangunannya sempat menjadi polemik antara pihak Eksekutif dan Legislatif di Kota Malang pada penghujung tahun 2015, terlebih ketika muncul usulan dari pihak Eksekutuf untuk memperoleh tambahan anggaran (APBD 2016) sebesar Rp, 2,5 Milyar, dengan alasan untuk memperkuat konstrusi jembatan – lantaran ada penambahan beban jembatan atas pembangunan vergola.

C. Solusi Bijak bagi Pelestarian Jembatan Claket

Ada baiknya, demi kelestarian Jembatan Claket, vergola hijau tersebut dibongkar, agar nuansa arkhais dari ‘jembatan heritage’ ini kembali ke bentuknya semula. Tidak perlu ada rasa malu untuk membongkar apa yang telah dibangun – meskipun ada aspek kerugian di dalamnya – demi maksud yang lebih baik, yakni pelestarian Bangunan Cagar Budaya. Material bangunan bongkaran, yang berbahan logam, dapat dimanfaatkan untuk membuat vergola di tempat lain yang lebih tepat dan lebih bermanfaat. Apabila problem ini ditolelir, dilhawatirkan bakal muncul vergola-vergola lain di Buk Gluduk, Jembatan Spleendit, Jembatan Kahurupan, Jembatan Kedungluncing, dsb.

07

Demikianlah, dibutuhkan adanya kearifan dalam menangani Bangunan-bangunan Cagar Budaya. Pandangan bahwa ‘yang usang (tua) tidak menarik, yang baru jauh lebih menarik’ tidaklah tepat untuk segala hal, utamanya terhadap Bangunan Cagar Budaya. Dalam hal ini, prinsip Kelestarian mustinya lebih dikedepankan dalam mengelolaan Cagar Budaya. Kasus ‘Jembatan Heritage Claket’ adalah contoh kasus untuk pembelajaran bersama, bukan hanya bagi warga masyarakat, namun tak terkecuali pula bagi Pemerintah Daerah.

Salam bijak bestari,
‘Malang Kota Pusaka (Heritage City)’.
Semoga membuahkan makna.
Nuwun.

23 Juli 2016

Dwi Cahyono


Kekayaan Sejarah CELAKET 3

KAMPOENG TJELAKET MELINTAS MASA

Metamorfosa dari Desa Pertanian menjadi Areal Tengah Kota Malang

A. P e n g a n t a r

Ada empat koridor jalan utama di Kota Malang yang tergolong sebagai ‘koridor jalan arkhais (kuno)’, antara lain Tjelaket, Kayoetangan, Boldy dan Ijen Boulevard. Nama ‘Tjelaket Strrat’ yang sekarang berubah nama menjadi ‘Jl. Jaksa Agung Suprapto’ diambil dari nama sebuah desa kuno di wilayah Gemeente Malang, yaitu Tjelaket, yang terdiri atas dua kampung: (a) Tjelaket Koelon, dan (b) Tjelaket Wetan.

Kedua kampung ini di dalam sistem Pemerintahan Kota Malang berubah nama menjadi ‘Kelurahan Rampal Claket’. Sebagai nama, Tjelaket melekat pada nama jalan, nama sekolahan (SMP Celaket di Gedung Frateran), nama rumah sakit (RSU Tjelaket, kini ‘RSUD Saiful Anwar’), Asrama Polisi Jalan Tjelaket (kini Polresta Kota Malang’), dsb. Pendek kata, konon nama ‘Tjelaket’ amat familier dengan warga, bukan hanya pada warga Malangraya, namun juga bagi warga di daerah-daerah lain, bahkan warga mancanegara. Mengapa dinamai dengan ‘Tjelaket’?

B. Toponimi Kuno ‘Celaket’

Nama-nama tempat (desa, kampung, bahkan kota/kabupaten) di Jawa banyak meminjam nama tumbuhan, atau hal yang berhubungan dengan tanaman. Fenomena demikian tidak terkecuali berlaku di Malang. Banyak desa/kampung di Malang mempunyai unsur nama yang dipinjam dari nama-nama tumbuhan atau berkaitan dengan tanaman. Misalnya, mana ‘Sukun, Blimbing, Glintung, Tunggulwulung, Lokjati, Loksuruh, Lowokwaru, Pakis, Pakisaji (Pakis-haji), Turen’, dan banyak lagi. Celaket adalah salah sebuah diantaranya, yang berasal dari kata ‘calaket atau caleket’.

Secara harafiah kosa kata Jawa Kuna ‘calaket atau caleket’ berarti pedas atau masam. Istilah ini antara lain disebut dalam kakawin Ramayana (6.45) dengan kalimat ‘…. kamalagi calaket kukap gintungan’. Kata-kata yang menyertainya adalah nama-nama sejumlah tanaman, yaitu kamalagi (kini ‘kemlagi’ atau asam), kukap (sejenis pohon sukun atau Artocarpusinsica), dan gintungan (kini ‘glintung’, sejenis pohon atau Schleicheratrijuga). Dalam arti pedas, istilah ini menunjuk kepada sejenis tanaman cabai, merica, dsb. Apabila asam rasanya, maka dapat menunjuk pada sejenis pohon asam.

Untuk kemungkinan terakhir, mengingatkan kita pada deretan pohon asam Jawa yang tinggi-besar di kanan-kiri koridor Celaket hingga tahun 1980-an, yang sebagian diantaranya kini masih tertinggal. Kata jadian ‘macalaket, cumalaket, dan nyalaket’ dalam arti pedas atau tajam disebut dalam kitab Arjunawiwaha (34.3), Partayajna (38.10), Tantri Kamandaka (110.20) dan Nawaruci (68.8). Dalam kitab Nawaruci kata jadian ‘cumalaket’ disebut bersama dengan tanaman kunir dan apu (kapur), yakni ramuan penawar upas (bisa) dan racun.

Asam Jawa konon adalah salah satu jenis tanam keras yang ditaman di sepanjang jalan di wiayah Kota Malang, selain trembesi, nenitri, cemara, dsb. Desa kuno ‘Tjeleket’, yang nama kunonya amat boleh jadi adalah ‘Tjalaket’. Dinamai demikian lantaran keberadaan pohon-pohon asam di sepanjang jalan kuno yang kini dinamai dengan nama pahlawan nasional ‘Jl. Jaksa Agung Suprapto’. Penggantian nama jalan, apa lagi bila ditambah dengan penebangan pohon-pohon peneduh pada sepanjang jalan ini, berdampak hilangnya ‘lamd mark’ setempat, yaitu pohon asam Jawa.

Wilayah desa kuno Tjelaket meliputi pula apa yang kini dinamai Kelurahan Samaan. Bentang selatan desa ini dengan demikian hingga mencapai DAS Brantas. Bentang timurnya meliputi areal rumah sakit, sehingga rumah sakit – sebelumnya merupakan loji (benteng) Belanda yang perdana di Malang – konon disebut dengan ‘Roemah Sakit Tjelaket’, Demikian pula loji tersebut dinamai ‘Loji Tjelaket’. Makam Samaan boleh jadi konon termasuk areal barat dari desa kuno Tjelaket. Dalam perkembangannya, khususnya semenjak terbentuknya Kotapraja (Gemeente) Malang tahun 1914, wilayah luas dari desa kuno Tjelaket dimekarkan menjadi beberapa desa, yaitu Tjelaket, Samaan dan Klojen Lor.

C. Kilas Sejarah Kampung Tua Celaket

Kampung Celaket adalah salah sebuah ‘Kampung Tua’ di Kota Malang. Sebagai kampung tua, Celaket telah menempuh perjalanan sejarah panjang, semenjak Jaman Prasejarah hingga sekarang. Bahkan, dalam beberapa momentum historis di Malang ataupun di Jawa, kesejarahan Celaket dapat dibilang sebagai ‘pemula sejarah’. Data arkeologis yang sampai kepada kita menunjukkan bahwa daerah Celaket, yang terletak di seberang utara aliran Brantas, telah digunakan sebagai areal permukiman Jaman Prasejarah, setidaknya semenjak Masa Bercocok Tanam. Pada situs Punden Mbah Tugu di Celaket Gang I-E, yang berjarak ± 500 m pada utara aliran Brantas, dijumpai menhir, lumpang batu (stone mortar) dari monolith tanpa ditarah dan bejana batu.

08

Disamping itu di halaman sekolah SMU Cor Jessu pernah ditemukan sebuah periuk berisi lembaran-lembaran tipis emas (swarnapatra) bertulis nama-nama dewata Hindu. Sayang sekali, pada tahun 1928 artefak dari masa Hindu-Buddha ini direlokasikan ke Museum Batavia (kini ’Museum Nasional’ di Jakarta). Tinggalan lainnya berupa sebuah umpak besar, lumpang batu tanpa ditarah, dan sejumlah arung (saluran air bawah tanah) di sepanjang DAS Brantas.

09

Tinggalan arkeologis itu menjadi pembukti bahwasa pada jaman Prasejarah daerah Celaket telah dihuni oleh warga masyarakat yang berbasis ekonomi agraris dan berlatar religi pemuja arwah nenek moyang (ancestors worship). Lumpang batu itu menjadi petunjuk pencaharian agraris, dan menhir digunakan sebagai media pemujaan kepada arwah nenek moyang. Latar keagamaannya berubah menjadi Hindu sekte Saiwa pada Masa Hindu-Buddha, sebagaimana terbukti dari inskripsi pendek (sort inscription) pada swarnapatra yang memuat nama-nama dewata Hindu tersebut. Sebagai suatu areal permukiman, desa kuno Tjelaket tentu dilengkapi dengan pasar (pkan) desa, yang jejaknya masih tertinggal – meski kini hanya berupa ‘pasar krempyeng’. Peran pasar desa ini surut, utamanya setelah dibangunnya Pasar Samaan yang jauh lebih besar.

Pada permualaan abad X Masehi, Celaket berada di lingkungan dalam (watek i jro) atau setidaknya terletak pada pinggiran pusat pemerintahan (kadatwan) Mataram ketika Pu Sindok merelokasi pusat pemerintahan (kadatwan)-nya dari Pohpitu di sekitar Blora ke Tamwlang di bantaran utara aliran Brantas. Toponimi arkhais ‘Tamwlang’, yang menurut linggo-prasasti Turyyan bertarikh 929 Masehi menjadi kadatwan Pu Sindok (Sri Isana) itu, kini mengalami sedikit perubahan penyebutan menjadi ‘Tembalangan (Tamwlang-Tamblang-Tambalang+an-Tembalangan)’, yakni nama kampung di Kelurahan Samaan. Apabila benar demikian, berarti Celaket-Samaan ikut menjadi saksi atas mula sejarah Isanavamsa dalam pemerintahan kerajaan Mataram yang berpusat di wilayah Jawa Timur.

Peran strategis Celaket kembali terjadi pada mula Sejarah Kolonial di daerah Malang. Loji perdana Kompeni Belanda didirikan di utara Bantas pada tahun 1767, dan untuk kurun waktu lebih dari setengah abad (1767-1821) dijadikan sebagai ‘rumah benteng (castile)’ bagi para serdadu Belanda. Ketika Kompeni Belanda mulai mengembangkan pola permukimam ‘luar loji (luar benteng)’, rumah tinggal orang-orang Belanda pada periode permulaan didirikan di sekitar Loji Utara, yakni berada di sekitar Kampung Celaket serta di Klojen (Ka-loji-an) Lor. Setelah pusat garnizoen direlokasikan dari Loji Utara ke Rampal, eks loji ini dijadikan rumah sakit militer (militair ziekenhuis), sehingga bisa dibilang sebagai ‘embrio’ bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kota Malang (kini dinamai ‘RSUD Saiful Anwar’).
Cikal bakal permukiman Indis itu diperluas dalam Bouwplan I (Mei 1917 sd Februari 1918), dengan mengembangkan kawasan perumahan Indis yang dinamai ‘Oranjebuurt’, yang areal-nya Kampung Tjelaket Wetan.

Permukiman Uranjebuurt serta perluasannya ke arah Celaket dan Lowokwaru yang dibangun pada Bouuwplan tahap IV dilengkapi dengan fasilitas publik, seperti sekolahan, rumah sakit, tempat ibadah, dsb. Lagere School der Fraters van O.L. (kini ‘SMU Frateran’) yang dikelola oleh komunitas Frater dan R.K. MULOschool KekCor Jessu (kini ‘SMU Cor Jessu’) yang dikelola oleh komunitas Zusters Ursulin, yang keduanya berada di Celaket, merupakan fasilitas publik di bidang pendidikan pada Masa Kolonial, yang terus berfungsi hingga kini. Demikian pula Lavalete dan Militair Ziekenhuis (kini berubah menjadi RSUD) adalah dua rumah sakit yang berfungsi lintas masa. Posisi Celaket semakin penting pada paro kedua abad ke-19, tatkala pemerintah Hindia-Belanda menjadikan koridor Celaket hingga Kayu Tangan sebagai ‘jalan poros’ menuju ke sentra Malang, yaitu jalan utama yang menghubungkan Alon-Alon Kotak dengan kota-kota utama di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya dan Pasuruan. Urgensi koridor Celaket berlanjut hingga kini dan untuk waktu mendatang.

D. Urgensi Festival Budaya Kampung Celaket

Kilas sejarah di atas memberi kita gambaran mengenai historistas Celaket sebagai sebuah ‘kampung tua’ atau ‘kampung bersejarah’. Pada lintas masa, Celaket menjadi ajang kegiatan lintas budaya, baik budaya Prasejarah, Hindu, Kristiani maupun Islam. Celaket dengan demikian merupakan potret ‘kampung multikultural’ di Kota Malang. Oleh sebab itu, cukup alasan untuk menyatakan Celaket sebagai ‘kampung budaya lintas masa’. Dalam jatidirinya sebagai ‘kampung tua, kampung bersejarah, dan sekaligus kampung budaya’, Celaket adalah kawasan heritage yang perlu mendapatkan prioritas dalam konservasi budaya dan ekologi sekitarnya. Festival Budaya Kampung Celaket adalah wahana untuk melestarikan, membina, mengembangkan dan mendayagunakan aset budaya lokal di suatu daerah. Kendatipun kini desa kuno yang konon merupakan desa agraris itu telah bermetamorfosis menjadi keluaran yang berada di tengah Kota Malang, namun nuansa kampung yang berciri gotong royong, persaudaraan, toleran atas keragaman budaya dan keyakinan warganya semestinya tidak turut sirna seiring dengan penghapusan status administratf kampung/desa.

Gagasan festival datang dari warga Celaket sendiri, dilakukan dengan ikhtiar warga di tingkat kampung, dan dijaga kesinambangunannya dengan segala daya upaya internal warga Celaket bermitra dengan berbagai pihak yang peduli. Pihak penggagas, pelaksana maupun pemelihara kesimbungan perhelatan budaya kampung memang semestinya berasal dari dan dilakukan oleh warga sendiri (bottom up), dengan sesedikit mungkin bergantung terhadap pendanaan pemerintah. Upaya warga Kampung Celaket dengan ‘Festival Kampung Celaket’-nya bisa dijadikan contoh teladan bagi kampung-kampung lainnya, bahwa festival budaya tidak musti dilaksanakan setingkat desa, namun terbuka kemungkinan kendati hanya di tingkat kampung.

Perlu disadari bahwa justru kampung adalah inti kekuatan dari desa/kelurahan. Karakter lokal acap melekat pada sosio-kultural kampung. Demikian pula, mikro historis berpangkal pada sejarah kampung. Oleh sebab itu, kendatipun dalam sistem Pemerintahan Kota keberadaan kampung telah dihapus, namun khasanah sosial-budaya kampung dan memori masyarakat terhadap kampung pantang untuk dihapuskan.

Semoga tulisan ringkas ini membuahkan makna. Salam budaya ‘viva Japung di Kampoeng Tjelaket’ tahun 2016. Semoga berkelanjutan ke tahun-tahun mendatang. Nuwun.

Sengkaling, 22 Juli 2016

Dwi Cahyono

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JAMAN KUNO

KRITIS-HISTORIS TRADISI LISAN KESEJARAHAN ISLAM DAERAH BATU

Avatar

Published

on

A. Islamisasi Sub-Area Utara Brantas

Sumber data sejarah yang berkenaan dengan kesejarahan Islam di daerah Batu tidak cukup banyak. Selain sejumlah situs makam Islam kuno, sumber data tentang itu kedapatan dalam bentuk tradisi lisan (oral tradition), yaitu legenda lokal, yang beberapa diantaranya diliteralisasikan. Dua diantaranya yang cukup dikenal adalah legenda : (a) Mbah Mbatu dan Pangeran Rohjoyo, terkait dengan babat Desa Bumiaji; serta (b) legenda Bambang Selo Utomo, terkait dengan babat Desa Punten. Kisah legenda mengenai para “pembuka (sing babat, sing bedah Krawang)” untuk desa-desa lain di daerah Batu tak sepopuler dengannya. Terkait dengan sumber data oral tersebut, untuk mengeluarkan fakta daripadanya perlu dilakukan secara berhati-hati, yakni dengan memilah mana yang merupakan fakta dan mana yang rekaan (fiksi). Dengan kata lain, perlu adanya kritis-historis, agar bisa mensarikan informasi historis daripadanya. Kondisi sumber data yang demikian tersebut menyebabkan rekonstruksi historis terhadap Sejarah Islam di daerah Batu hanya dapat dilakukan dalam skala terbatas. Bahkan, banyak bersifat interpretatif dan berupa hipotesa, sehingga ke depan perlu dilacak bukti penguatnya.

Sumber data tradisi yang berkembaug di Bumiaji menyatakan bahwa Mbah Batu, dengan varian sebutannya “Mbah Mbatu, Mbah Wastu, Mbah Stu dan Mbah Tuwo”, yang dimakamkan di Dusun Banaran Desa Bumiaji. Selain Mbah Batu, pada cukup makam ini terdapat tokoh bernama diri “Abu Nggonaim” — varian sebutannya “Abu Ghonaim”.Sayang sekali belum jelas benar hubungan antara keduanya. Menulik namanya “Abu Ghonaim”, jelas bahwa Beliau adalah orang Islam. Hal ini tampak pada jejak artefaktualnya, yang berupa makam muslim, lengkap dengan jirat, nisan dan cungkupnya. Nama sebuatan lain untuk dirinya adalah Pangeran Rohjoyo, yang dinyatakan sebagai bangsawan (pangeran) asal Mataram. Mbah Batu yang dalam legenda setempat diidentifikasi sebagai seorang perempuan acapkali dinyatakan bukan saja sebagai pembuka (sing babad) Desa Bumiaji, namun sekaligus sebagai orang yang mbabat daerah Batu secara keseluruhan. Suatu pendapat yang ‘musti dikritisi’, agar posisi historis Mbah Batu dalam sejarah daerah Batu menjadi lebih proporsional. Beberapa waktu berselang di kalangan awam sejarah, berkembang pemikiran bahwa sejarah Batu bermula dari Mbah Batu.

Nama Abu Nggonaim juga disebut-sebut dalam ‘Babad Desa Punten’, sebagaimana bisa dibaca di dalam “Layang Ronggo Sejati”. Teks ini menyerupai cerita tutur yang diliteralisasikan secara bebas pada beberapa tahun terakhir. Menurut sumber ini, orang yang pertama kali hadir di Desa Punten adalah Bambang Selo Utama alias Purbo Sentono, istrin\ (Rara Ninik Wuryaningsih), dan gurunya (Kyai Abu Nggonaim). Menurut layang itu, peristiwa tersebut berlangsung sekitar abad XV. Bambang Selo Utama adalah pembuka (sing babat) hutan belantara kawasan berlembah, bergunung dan berjurang, yang dinamai dengan “Punten”. Tempat ini berada jauh di sebelah timur Mataram. Kepergiannya ke mari terkait dengan rasa malu Bambang Selo Utomo, sebab ketika ia diwisuda menjadi senopati di kasultanan Mataram serta ditunangkan dengan Ninik Wuryoningsih atas keberhasilannya dalam sayembara membuat gamparan (beliak) “Ukiran Bungkul Kencono” guna meredakan pagebluk (wabah penyakit) yang melanda Mataram, tanpa disadarinya ia kentut di hadapan para pejabat Istana (Tim Sejarah Desa, 2008).

Bambang Selo Utomo adalah seorang murid Abu Nggonaim (nama lain dari Mbah Batu). Dengan demikian, dia adalah satu generasi di bawah Mbah Batu. Dalam Layang Ronggo Sejati dinyatakan bahwa Abu Nggonaim mempunyai pesantren besar. Sayang tidak dinyatakan secara eksplisit dimanakah lokasi pesantrennya. Mengingat Mbah Batu acap dihubungkan dengan “sing mbabad” Desa Bumiaji, maka pertanyaannya adalah “apakah lokasi pesantrennya berada di desa Bumiaji?”. Apabila benar demikian berarti kala itu didaerah Utara Brantas telah terdapat pesantren besar yang dikelola oleh Abu Nggonaim. Namun, sejauh ini belum dijumpai data artefaktual yang mengarah lepada kesimpulan demikian.

Perkataan “sing babad” atau ‘sing mbedah krawang’ dalam kedua legenda lokal itu perlu didudukkan secara proposional. Bukan menurut arti harafiahnya, melainkan secara interpretatif. Secara harfiah kata “babad atau mbabad” adalah pembukaan suatu areal dengan jalan menebangi pepohonan yang tumbuh tempat ini. Sedangkan perkataan “sing bedah krawang” berarti pembuat sesuatu menjadi koyak (bedah), sehingga sesuatu itu berlobang terang (krawang). Arti dari kedua istilah itu menunjuk kepada orang tertentu di masa lampau, yang mengawali pembukaan suatu area menjadi permukiman baru. Areal permukiman itu merupakan embrio bagi terbentuknya desa atau daerah. Sebelum kejadian itu, areal ini masih berwujud hutan belantara, yang belum berpenghuni. Pengertian seperti itu tidak sesuai dengan realitas historisnya, kerena jauh sebelum kehadirannya, baik di Bumiaji maupun di Punten telah ada orang-orang yang hadir, bermukim dan berkegiatan budaya. Dengan demikian, Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo bukan orang yang kali pertama hadir, bukan pula yang mengawali terbentuknya permukiman di Bumiaji dan di Punten.

Informasi dari sumber data lisan ini patut dikritisi, mengingat bahwa sumber data tekstual (prasasti dan susastra) maupun sumber data arfektual menyodorkan gam-baran yang berlainan. Data artefaktual maupun tekstual menunjukkan bahwa wilayah Batu telah menjadi daerah hunian atau tempat bagi berlangsungnya aktifitas social-budaya sejak Masa becocok Tanam pada Jaman Prasejarah. Bahkan pada amasa Hindu-Budhha, yakni pada masa kerajaan Kanjuruhan, Mataram, Singhasari dan Majapahit, Batu telah menyadi areal hunian. Beberapa desa di wilayah Batu, seperti Sangguran, Batwan, dan Deseng Batu telah menyandang status “Desa Perdikan (Sima)” Tempat dan perangkat keagamaan yang berlatar agama Hindu juga didapati di berbagai tempat di wilayah daerah Batu, tidak terkecuali di desa-desa tetangga dari Bumiaji, seperti Tulungrejo, Gunungsari, Pandanrejo, Songgokerto, dsb. Oleh sebab itu tidaklah tepat jika Mbah Batu yang hidup pada masa perkembangan Islam, tepatnya di era Kasultanan Mataram, dinyatakan sebagai “pembuka perdana (sing mbabat) daerah Batu”. Masa hidup Mbah Batu adalah pada skeitar abad XIX, atau paling tua abad XVIII. Demikian pula dengan Bambang Selo Utomo, tidak tepat jika dinyatakan bahwa masa hidupnya pada sekeitar abad XV, sebab konteks waktu peristiwa yang dikisahkan adalah masa Mataram. Mereka berdua dengan demikian hidup pada Periode Perkembangan Islam. Oleh karena itu, lebih tepat bila Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo dinyatakan sebagai tokoh yang berjasa mengawali siar Islam, khususnya di sub-area Batu Utara, baik di Desa Bumiaji maupun Punten.

Jejak budaya pra-Islam didapati pada areal makam Mbah Batu. Hal ini menjadi petunjuk bahwasanya sebelum lokasi ini dijadikan komplek makam Islam, lebih dulu menjadi situs Hindu. Demikian halnya yang terdapat di Punten, yang kedapatan adanya watu dakon di Dusun Gempol, lumpang batu (stone mortar) di Dusun Poyan (Lo Dengkol), susunan batu temugelang (enclosure) di dukuh Krajan (punden Gadung Melati), punden berumpak di punden Mbah Gamping, batu-batu besar di punden Purwosenjoto dan mbah Gimbal, serta empat buah Lingga dan struktur bangunan berlatar Hindu pada Punden Gadung Melati. Dengan demikian, ada petunjuk bahwa Punten telah menjadi hunian semenjak zaman Prasejarah dan berlanjut hingga masa Hindu-Buddha. Jejak-jejak budaya itu berada pada sepanjang aliran Sungai Brantas, yang membelah Desa Punten dan sekitar sumber air (Banyuning, Ngesong I dan II). Adanya jejak budaya masa Hindu-Buddha di Punten sebenarnya telah dinyatakan di dalam Layang Ronggo sejati, bahwa di tempat padamana Bambang Selo Utomo, istri dan gurunya berhenti, kemudian membuka areal permukiman kedapatan jejak budaya berupa reruntuhan candi.

B. Islammisasi Sub-Area Selatan Brantas

Paparan di atas memberi petunjuk bahwa Islamisasi di Utara Brantas setidaknya berkat jasa dari Mbah Mbatu dan Bambang Selo Utomo. Pada sub-area di Selatan bangawan Brantas, legenda local menyebut adanya sejumlah nama yang berjasa mengislamkan sejumlah desa di wilayah ini, diantaranya adalah : (1) Mbah Mas di Besul, (2) Mbah Macan Kopek di Sisir, (3) Mbah Bener di Temas, (4) Eyang Jugo di Junggo, (5) Mbah Masayu Sinto Mataram di Ngaglik, maupun (6) Mbah Gadung Mlati di Punten. Disamping itu terdapat sejumlah makam Islam kuno, seperti makam dan masjid kuno (sebelum kini direnovasi total) di Macari, dan makam lama Pesanggrahan. Beberapa makam tua itu, utamanya makam tokoh-tokoh legendaris di Banaran, Besul dan Ngaglik memiliki indikasi ditempatkan di atas atau berada berdampingan dengan situs yang usianya lebih tua (masa pra-Islam), sehingga dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai adanya kesinambungan sakralitas suatu tempat. Artinya, tempat yang dulu dipandang sebagai “sakral” oleh pemangku budaya lama, pada pemangku budaya berikutnya tetap dipandang sakral. Jejak budaya yang ada itu berasal dari masa yang berbeda atau lintas masa.

Terdapat sejumlah orang yang dalam legenda lokal dinyatakan sebagai berjasa dalam siar Islam pada awal perkembangan Islam di daerah Batu. Pada sub-wilayah di Batu Utara, Mbah Batu dan Abu Ghonaim serta Bambang Selo Utomo (alias Mbah Gadung Melati) adalah orang-orang yang berjasa dalam mengislamkan Desa Bumiaji dan Desa Punten. Sedangkan di sub-wilayah selatan Brantas, tampil Mbah Mas untuk warga di kampung Besul, Mbah Macan Kopek untuk warga Sisir, Mbah Bener untuk Temas, Eyang Jugo untuk Junggo, dan Mbah Masayu Sinto Mataram untuk Ngaglik.

Mereka disebut dengan tambahan kata sebut “mbah” atau “eyang” sebelum nama dirinya. Hal ini menguatkan gambaran tentang ketuaan dirinya. Kendati demikian. tidaklaj mudah untuk menyatakan secara pasti bilamana masa hidupnya. Apakah mereka hidup se jaman, ataukah satu lebih awal dari yang lain? Suatu pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya, kecuali yang berkenaan hubungan antara Bambang Selo Utomo dan Mbah Batu (Abu Nggonaim), yang nama dan kisahnya dinyatakan sebagai murid-guru. Prakiraan waktu yang bisa diperoleh darinya adalah sekitar abad XVII hingga permulaan abad XIX.

Pengaruh Islam dari sentra Islam di Giri terhadap Gribik pada penhujung abad XV maupun penaklukan kerajaan Sengguruh oleh kasultanan Demak tahun 1545 Masehi tidak berdampak bagi tersebarnya Islam ke Batu, sebab letaknya cukup jauh darinya. Selain itu, kitab Pararaton (ditulis akhir abad XVI atau awal abad XVII) memberi gambaran bahwa kala itu masyarakat Malangraya masih cukup kuat menganut ajaran pra-Islam. Gambaran yang demikian sangat mungkin berlaku di daerah Batu. Pada sisi lain legenda lokal terkait dnegan para pesiar Islam di Batu, seperti legenda tentang Pangeran Rohjoyo di Bumiaji, Babad Desa Punten, dan adanya unsur nama ‘Mataram” di dalam sebutan ‘Masayu Sinto Mataram” memberi indikasi tentang adanya pengaruh Islam di Batu dalam hubungannya dengan Kasultanan Mataram. Pemakaian nama gelar ‘pangeran’ oleh Rohjoyo memperlihatkan bahwa masa hidupnya adalah periode Mataram, sebab pada masa Hindu-Buddha gelar (honorifx prefix) “pangeran” belum dikenal. Bila benar bahwa mereka hidup semasa dengan kasultanan Mataram, pertayaannya adalah “mungkinkah konteks peristiwanya bisa dihubungkan dengan Mataramisasi yang tengah berlangsung di Jawa Timur?”.

Para pengikut Trunojoyo, Untung Surapati serta Pangeran Diponegoro yang selamat dari pertempuran melawan koalisi Kompeni Belanda (VOC) dan penguasa kasultanan Mataram tinggal bersembunyi dan menetap di Malangraya. Pada sejumlah tempat di Malang Barat, Tengah maupun Selatan, mereka dikisahkan sebagai tokoh yang berjasa dalam mensiarkan Islam di tempat-tempat keberadaannya. Terkait dengan itu, perlu difikirkan tentang kemungkinan bahwa diantara tokoh-tokoh penyebar Islam di daerah Batu itu berasal dari mereka, khususnya mereka yang selamat dari gempuran pasukan Kompeni Belanda (VOC) pimpinan Kapten Francois Tack terhadap benteng Trunojoyo terakhir di bukit Selo Kurung (daerah Ngantang). Jarak antara Batu-Ngantang yang tak terlampau jauh menjadi famtor yang layak dipertimbangkan untuk kemungkinan pengungsiannya ke daerah Batu. Selain itu, dengan didudukinya pusat wilayah Malang oleh Kompeni Belanda pada tahun 1767, bukan tidak mungkin para pejuang yang bergabung dengan anak cucu Untung Surapati melarikan diri ke arah barat dan timur, yaitu ke Batu dan Tumpang – Poncokusumo, karena daerah ini diperhitungkan olehnya sebagai tempat yang aman. Bukan pula tidak mungkin bahwa terdapat eks lasykar Diponegoro yang memasuki dan kemudian tinggal di Batu. Contoh serupa dijumpai di Singosari bahwa mbah Hamimuddin yang dilegendakan sevagai menjadi pendiri Pondok Bungkuk adalah eks lasykar Diponegoro yang menetap di sini setelah menikah dengan wanita setempat pada tahun 1930.

Sejauh ini, jika berbicara mengenai Islamisasi di daerah Batu, nama “Mbah Mbatu” yang senantiasa disebut untuk kali pertama. Nama tersebut bukanlah nama dirinya, sebab legenda lokal mengemukakan bahwa nama dirinya adalah ‘Abu Gonaim”. Unsur sebutan “mbah” adalah kata sebut, yang menggambarkan ketuanya, yakni seseorang yang hidup pada masa silam. Sedangkan unsur nama “Mbatu” dan “Batu” menunjuk kepada tempat ia tinggal. Sebagai nama desa, semenjak masa Hindu-Buddha, khususnya pada masa Majapahit, nama “Batu” telah dikenal luas. Apabila memperhitungkan penyebutannya di dalam prasasti Jiu II (1486 M), maka amat beralasan untuk menyatakan bahwa “desa di (deseng = desa ing)” Batu yang disebut di dalamnya itu terletak pada seberang utara Brantas, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Bumiaji.

Nama “Mbah Batu” beserta varian sebutannya, yaitu ‘Mbah Mbatu” atau “Mbah Wastu”, adalah sebutan bagi seorang yang berasal dari Desa Batu. yakni ketika Batu masih berupa sebuah desa. Tafsir demikian sesuai dengan lokasi makamnya, yaitu di dukuh Banaran Desa Bumiaji. Di desa kuno Batu itulah beliau tinggal dan melakukan siar Islam. Salah seorang santrinya berasal dari desa tetangga, yaitu di Desa Punten, dengan nama Bambang Selo Utomo. Desa kuno Batu, yang kini menjadi Desa Bumiaji, adalah desa cikal-bakal yang sebagian besar warganya beragama Islam. Nama “Bumiaji”, baik sebagai nama desa maupun nama kecamatan baru digunakan lebih kemudian. Nama ini menjadi pengganti bagi nama “Desa Batu” yang arkhais. Banyak orang lupa atau tak mengetahui bahwasanya semula Batu adalah nama desa. Sepengetahuannya, Batu adalah nama kecamatan dan akhirnya (sejak tahun 2001) menjadi nama kota.

Suatu pendapat yang menyatakan bahwa nama “Bumiaji” berasal dari dua kata, yaitu bumi (tanah) dan aji (berharga). Menurut pendapat ini sebutan tersebut menunjuk kepada keberhargaan tanahnya, yaitu tanah yang subur, tanah yang berharga. Pendapat lainnya menyatakan bahwa nama “Bumiaji” merupakan pergeseran dari nama kunu “Bhumihaji”, suatu peristilahan yang terbentuk dari dua kata, yaitu kata “bhumi´(tanah, daratan, bumi)” dan “haji (raja, keluarga raja, pangeran) (Zoetmulder,1995:141, 327)”. Penggantian sebutan dari “Desa Batu” menjadi “Desa Bhumihaji”, dan kemudian menjadi “Bhumihaji” bisa jadi terkait dengan keberadaannya pada masa lalu, yaitu sebagai daerah yang pernah memperoleh anugerah status perdikan (sima) dari raja (haji), baik dari raja Hayam Wuruk ataupun Sri Girindrawarddhana. Terlepas dari pendapat mana yang benar, di balik nama “Bumiaji” terkandung makna keberhargaan, baik karena kesuburan tanah beserta hasil buminya, atau lantaran status istimewa yang pernah disandang pada masa lalunya sebagai desa perdikan (Cahyono, 2008:264).

C. Sejarah Islam Batu dalam Konteks Historis Jawa

Beberapa pemuka masyarakat setempat mengisahkan bahwa Abu Ghonaim atau disebut juga ‘Kyai Gubug Angin’ adalah eks laksykar Pangeran Diponegeoro. Jika benar demikian, berarti kehadirannya ke Batu baru sekitar tahun 1830-an. Abu Ghonaim berasal dari wilayah Jawa Tengah, yang datang ke Jawa Timur dan akhirnya menetap di Batu sebagai pengikut Diponegoro yang setia. BeliaU dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya di Jawa Tengah untuk hijrah ke kaki Gunung Panderman guna menghindari pengejaran dan penangkapan oleh serdadu Belanda (Kompeni). Akhirnya, banyak warga sekitarnya yang berguru, menuntut ilmu serta belajar agama Islam kepada Mbah Wastu.

Suryo Kusuma yang berjejuluk ‘Mbah Banter’ juga dilegandakan sebagai salah seorang eks lasykar Diponegoro, yang berjasa menjadi pembuka (sing mbabad) Desa Sisir — nantinya menjadi Kepala Desa Sisir, dan seterusnya diganti oleh tujuh keturunnya. Serupa dengan legenda itu, warga Temas meyakini bahwasanya sing mbabat Deso Temas adalah Mbah Bener, yang juga eks lasykar Diponegoro. Apabila benar demikian, berarti kehairannya bersamaan waktu dengan kedatangan Abu Ghonaim di Bumiaji. Nama dirinya adalah ‘Raden Mas Wiryo Kusumo’, dengan nama julukan ‘Singojoyo”. Sebelum menetap di Batu, ia pernah singgah tak begitu lama di Daerah Ponorogo, sehingga ada pendapat bahwa muasalnya dari Ponorogo. Pendapat lain mengatakan asalnya dari Buntaran, pada wilayah Mataram di Jawa Tengah. Singojoyo bermaksud menata dusun Temas dan memperbaiki akhlak masyarakat saat itu. Oleh karena ucapan dan arahannya diyakini membawa kebenaran (bener), maka julukannya adalah “Mbah Bener”. Pendapat lainnya menyatakan bahwa sebelum Mbah Bener datang ke Temas, telah ada seorang pengembara wanita yang datang lebih dulu, yang disebut Nyai Sendang Tuwo.

Terdapat pengembara lain berjejuluk ‘Den Mas’. Sebutan ‘Mas’ merupakan akronim dari ‘Mas’ud Jaelani’, yang kini dikenal dengan “Mbah Mas”. Pusaranya berada di RT 5 RW 6 Dusun Besul Kelurahan Temas. Perihal tokoh yang bernama Masayu Sinto Mataram, legenda lokal di Desa Ngaglik menuturkan bahwa ia adalah seorang wanita yang tinggal di desa ini bersama suaminya. Menilik unsur namanya ‘…….. Mataram’, tergambar dengan jelas bahwa ia atau suaminya bertalian dengan Kasultanan Mataram. Mulanya Beliau membuka hutan (babat alas) dan menghuni sebuah gubuk, satu-satunya dimiliki dan dibangun di posisi paling atas, sehingga disebuti dengan ‘rumah angglik-angglik’, dan sampai saat ini masyarakat menyebutnya dengan ‘Ngaglik’.

Tokoh sejarah lainnya yang hidup pada masa perkembangan Islam di Batu adalah Matsari. Nama Jawa ini diadaptasi dari bahasa Arab “Muhammad Asy’ari”. Ia berjasa mendirikan sebuah tempat pendidikan berupa pesantren, yang pada akhirnya nama dirinya dijadikan nama sebuah Dusun “Macari”. Dahulu orang sering menyebutnya dengan Dusun “Pesantren”. Disamping itu. terdapat tokoh yang dilegendakan sebagai membuka (bedah krawang) Dusun Srebet, yaitu Mbah Ageng Maimunah Mayangsari, yang pusaranta berada di Jl. Cempaka Gg. Pesarean.

Demikianlah kilas sejarah Islam di daerah Batu. Meski historiografi ini hanya sumirm jauh dari detail – lantaran keterbatasan sumber data yang sampai kepada kita, namun apa yang telah terpapar diatas seolah menjadi ‘secercah sinar untuk menerangi remang sejarah Islam di daerah Batu. Lewat “Ekspedisi Panatagama”, yang diusung oleh Malang Post pada Edisi Ramadhan tahun 2019 ini, kesejarahan Islam di Malangraya, tidak terkecuali pada daerah Batu dicoba untuk terangi. Semoga membuahkan kefaedahan, Nuwun.

Sengkaling, 2 Juni 2019, Griya Ajar CITRALEKHA

Continue Reading

JAMAN KUNO

SWAYAMBARA, Ilustrasi Susastra Jawa Kuna tentang Pemberian Kesempatan bagi Perempuan untuk Tentukan Pilihan Sendiri

Avatar

Published

on

A. Makna Istilah Konseptual “Swayambara”
Dalam bahasa Indonesia terdapat kosa kata “sayembara”, yang berarti : perlombaan dengan memperebutkan hadiah (KBBI, 2002:1005). Kata jadian “menyayembarakan” menunjuk kapada : memperlombakan. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Jawa Baru “sayemboro”, yang juga berarti : perlombaan untuk perebutkan hadiah (Mangunsuwito, 213:430). Begitulah, sayembara (bahasa Jawa “sayemboro”) acapkali diartikan sebagai perlombaan, uji ketrampilan atau ketangkasan yang diikuti oleh sejumlah orang untuk memperbutkan hadiah. Akhir-akhir ini sebutan “sayembara” lebih jarang dipakai daripada kata “lomba atau perlombaan”. Istilah lain yang disinonimartikan dengannya adalah “festival, kejuaraan, pertandingan, kontes” atau juga “kongkros’.
Dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terdapat kata yang amat dekat dengan itu, yaitu “swayambara” — diserap dari bahasa Sanakreta, yang secara harafiah berarti : pilihan sendiri, atau pemilihan suami oleh seorang putri dalam suatu pertemuan umum para peminang (Zoetmulder, 1995: 1172). Swayambara adalah suatu pesta, seperti tergambar dalam kata “kaswayambaran”, yang  menunjuk pada pesta swayambara. Istilah ini telah kedapatan di dalam kitab Udyogaparwa (78, 141, dan 144), kakawin Ramayana (2.49), serta Sumanasantaka (15.9, 23.2 dan 5). Tempat untuk penyelenggaraan swayambara dinamai “swayambarasabha’ , dimana penulisannya acap didahukui oleh kata “ring (di)”, seperti tergambar dalam kalimat “byaktanaku mamenanga ring swayambarasabha (Sumanasantaka l 23.5)”.
Dalam swayambara, yang dipentingkan adalah pemberian hak atau kesempatan dari seseorang terhadap orang lain. Misalnya, dari orang tua kepada anak perempuannya untuk menentukan pilihan sendiri calon suaminya. Unsur sebutan “swaya” atau “swa” menunjuk pada kemandirian atau otonomitas seseorang dalam menentukan pilihannya — termasuk otonomitas perempuan dalam memilih dan menentukan calin suaminya.  Oleh karena itu, tidaklah mutlak bahwa dahulu colon suami bagi anak perempuan ditentukan sepenuhnya oleh orang tua dengan model “kawin paksa” atau “perjodohan paksa”. Memang, ada kalanya dilakulan penjofohan paksa, sehingga sang putri memilih untuk “kawin lari” dengan kekasih, seperti tergambar di dalam kakawin Kresnayana, Gatotkacasraya maupun kidung Panji Margasmara. 
Justru, konon pada kalangan bangsawan dalam masa Hindu-Buddha ada pemberian kesempatan kepada seorang putri untuk memilih-menentukan sendiri suaminya, sebagaimana dikisahkan oleh sejumlah susastra lama. Ayah seorang wanita bangsawan, yakni raja di suatu kerajaan adakan swayambara untuk anak perempuannya jelang pernikahannya, sepwrti tergambar pada kalimat “bangku gumayawaken kaswayambarangku (ayahku membuatkan sayembara untukku)”.  Dalam perhektan ini, para ksatria dari berbagai negeri datang dan turut serta sebagai peminang untuk turun berlaga di dlam suatu pertandingan untuk memperebutkan sang putri raja. 
Bentuk kegiatan sayembara (sayemboro) dan swayambara memiliki kemripan, yaitu berupa lomba, uji atau adu ketangkasan, ketrampilan ataupun kepiawian dari sejumlah orang. Namun, dalam konteks swayambara yang pokok adalah pemberian tentukan piluhannya sebdiri. Adapun lomba, adu, uji atau kontestasi hanyalah ikhtiar, cara (metode, teknik) dan instrumen di dalam kerangka “penentukan pillihan secara mandiri (otonom)”  Adapun pada sayembara, penekanan makna adalah pada lombanya, yang berarti lebih bersifat instrumentalis. Swayambara dengan demikian merupakan jamiman bagi perempuan untuk menentukan pilihan sendiri dalan hal calon suaminya. 


B. Aneka Kisah Kuno tentang Swayambara
Dalam susastra tekstual, visusal ataupun oral, kisah-kisa lama mengenai swayambara cukup banyak didapati. Hal ini memberi kita petunjuk bahwa konon pernikahan untuk seorang putri raja, yang didahului dengan penyelenggaraan swayambara, merupakan “model pra-pernikahan” di kalangan bangsawan. Pada kesempatan itu, sang putri secara langsung melihat, menimbang dan akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada salah seorang pria yang tampil sebagai “sang juara atau pemenang lomba” untuk mendapatkan dirinya. Ketangguhan, kehandalan, ketangkasan, ketrampilan, kepiawian, ataupun kesaktian lebih darinya dibanding para peserta swayambara lain adalah parameter pilihan sang putri bagi calon suaminya. Bagi para peserta swayambara, upaya total untuk dapat tampil sebagai pemenang, tak sekedar prasyarat guna mendapatkan sang putri, namun lebih dari itu sebagai pembukti superlatif, adu gengsi, adu unggul, dan kejayaan negerinya.  
Swayambara merupakan pemberian kesempatan oleh seorang ayah kepada putrinya yang tengah memasuki fase berkeluarga (greahastasrama), yakni untuk mendapatkan “pria terpilih” sebagai calon suaminya. Menentukan suami tidak seperti “beli kucing dalam karung” , namun suatu pilihan bijak-tepat diserrtai dengan bukti empiris. Dalam hal ini, swayambara adalah suatu media uji, atau semacam “feed and proper test” pada masa kini dalam bentuk seleksi untuk mendapatkan pilihan tepat. Ketika swayabara berlangsung, sang putri srbagai penseleksi menyaksikan sendiri secara langsung alternasi-alternasi pilihannya tatkala berlaga dalam suatu lomba. Pada sisi lain, para peserta swayambara dapat seara fair mengukur kemampuan dirinya dibanding para paserta lain. 
Wiracarita Ramayana mengkisahkan bahwa Sru Rama dari kerajaan Kosala tampil sebagai “sang juara” dalam lomba “merentang busur panah (gandewo) pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa” di istana Mithila (kadatwan Wideha) yang diperintah oleh raja Janaka sebagai ayah angkat Sita. Atas kemenangannya itu, Rama terpilih sebagai suami Sita. Swayambara sebagai media uji untuk mendapatkan putri juga terkisah dalam wiracarita Mahabharata, yaitu swayembara guna mendapatkan Dewi Draupadi (Dropadi, Drupadi), yakni puteri Drupada, raja pada kerajaan Pancala  
Swayambara mendapatkan Draupadi dikisahkan secara unik dalam kitab Mahabharata. Kesertaan  ksatria Pandawa dalam swayambhara itu terjadi ketika mereka mengunjungi Pancala dengan menyamar sebagai Brahmana. Swayambara diikuti para kesatria terkemuka dari penjuru Bharatawarsha (India Kuno), temasuk Karna dan Salya. Karna berhasil memanah tepat sasaran, namun Draupadi menolaknya, dengan alasan ia tak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan sangat kesal. Kemudian Arjuna tampil dan panahnya mengenai sasaran dengan tepat. Sesuai dengan ketentuan, Arjuna berhak mendapatkan Dropadi. Namun peserta lain menggerutu, karena pemenangnya adalah seorang brahmana, karena peserta swayambara memginginkan swayambara hanya diikuti oleh ksatria, sehingga terjadi keributan. Arjuna dan Bhima bertarung menghadapi ksatria peserta swayambara, sedangkan Yudistira, Sakula dan Sahadewa pulang untuk menjaga Kunti. Kresna yang turut hadir dalam swayambara itu tahu siapa sebenarnya para brahmana tetsebut, dan mengatakan kepada peserta bahwa brahmana pemenang lomba lah yang berhak mebdapatkan Dropadi. 
Setelah keributan usai, Arjuna dan Bhima pulang dengan membawa Dropadi. Arjuna dan Bhima menghadap dan mengatakan kepada ibu Kunti bahwa mereka membawa hasil meminta-minta (sesuai akitifitas Brahmana). Kunti menyuruh bagi rata apa yang mereka peroleh. Namun, ia terkejut ketika tahu bahwa yang diperoleh bukan hanya hasil minta-minta melainkan juga seorang wanita. Kunti tak mau berdusta, maka Dropadi pun menjadi istri dari Panca Pandawa.
Kitab Mahabharatta juga mengkisahkan tentang swayembara di Kerajaan Giyantipura, yang diikuti oleh Bhisma (Dewabrata). Bhisma turut  bukan untuk dirinya, melainkan buat adik tirinya, yaitu Wichitrawirya — putra Santanu dan Satyawati, yang kala itu belum nikah. Acara dilaksanakan oleh raja Darmahumbara untuk mencari calon suami bagi Amba, Ambika maupun Ambalika. Swayambara berupa perang tanding antara putra-putra bangsawan atau para pangeran. Pemenangnya dianggap pantas mendapatkan ketiga putrinya. Peserta datang dari berbagai kerajaan di Hindustan dan sekitarnya. Mereka cemas dan takut menanggung malu jika gagal, terkebih lagi ketika melihat Bhisma turut hadir. Bhisma dikenal sangat sakti dan pandai gunakan segala macam senjata. Selain itu, kesetiaan dan keteguhan hatinya membuat semua orang segan kepadanya  Semula banyak yang sangka bahwa Bhisma datang untuk menyaksikan swayanbara, karena semua tahu bahwa Bhisma bersumpah tidak akan pernah menikah. Padahal, Bhisma ikut demi adik tiriya. Ketiga putri Darmahumbara yang memilih calon suami itu sama sekali tidak hiraukan kehadiran Bhisma, pemuda tua yang tidak menarik. Bhisma yang merasa diejek dan dipermainkan menjadi berang. Para ksatria yang hadir ditantangnya. 
Satu persatu mereka berperang tanding melawan Bhisma, dan kalah semuanya  Segera setelah itu Bhisma menyambar ketiga putri jelita tersebut untuk dilarikan dengan keretanya menuju ke Hastinapura. Belum jauh dari arena sayembara, Bhisma dihadang Citramuka, raja Swantipura, yang menantangnya bertarung nemperebutkan Amba, putri tertua, karena ia telah menjalin kasih dengannya. Citramuka takluk dan menyerah. Ketika Bhisma mengangkat senjata dan hendak membunuhnya, Amba pun mencegahnya. Atas permintaan itu, Bhisma urung membunuhnya. Kemudian Bhisma tinggalkan Citramuka, lanjut perjalanan ke Hastinapura bersama ketiga putri Giyantipura untuk dihadiahkan pada adik tirinya. 
Kisah tentang swayambara juga didapati dalam kakawin Sumanasantaka, puisi epik abad XIII Masehu karya pu Monagna di kerajaan Kadiri. Susastra ini adalah gubahan ke dalam bahasa Jawa Kuna terhadap mahākāvya Raghuvaṃśa berbahasa Sanskreta karya Kalidasa mengenai Pangeran Aja dan Putri Indumati. Dikisahkan bahwa Harini dilahirkan di Widarbha sebagai Indumati, puteri raja di Krethakesika. Sang puteri adalah kesayangan seluruh peghuni keraton dan menyenangkan setiap orang. Ketika ia mencapai usia 12 tahun, sang raja jatuh sakit, kemudian meninggal. Sang Ratu mengikuti suaminya ke alam baka. Penggantinya adalah Bhoja, kakak Indumati  Di bawah pemerintahan raja muda ini , negara menikmati kemakmuran besar. 
Beberapa tahun kemudian tiba saat Indumati dinikahkan. Ia diberitahu kakaknya mengenai rencana untuk adakan swayambara. Raja-raja tetangga menerima undangan, tak terkecuali raja Raghu di Ayodhya. Raghu mengijinkan putranya, yakni Aja, untuk ikut swayambara. Aja berangkat dengan iringan besar. Ketika sampai di sungai Narmada, rombongan diserang oleh gajah yang muncul dari dalam air. Aja menyerang dengan panahnya. Seketika ituvpula gajah menjelma menjadi widyadara Priyambada, putera raja Citraratha.  Wujudnya sebagai gajah  akibat kutukan Ki Patangga. ia menerima ramalan bahwa dirinya akan lepas dari kutukan setelah menerima anak panah pangeran Aja. Sebagai tanda terima kasihnya ia memberikan anak panah  sakti Sangmohana. Rombongan lanjut perjalanan, dan akhirnya sampai di Widarbha. Ketika raja Bhoga mendengar bahwa Aja telah datang, meteka disongsong dan diantarkan ke penginapan. Swayambara dilaksanakan pada esok harinya.
Kota penuh dengan orang-orang dalam suasana pesta swayambara. Diantara mereka terdapat raja Magadha, para pemimpin Awangga dan Awanti, Anupa, Susena, Hemanggada, Pandya, serta Aja. Masing masing duduk di balenya sendiri.Rakyat sepanjang jalan mendengar ramalan bahwa kecil kemungkinan yang akan terpilih adalah pangeran Aja. Sang puteri tiba ditengah-tengah tempat pertemuan. Undangan terpesona akan kecantikannya yang luar biasa. Aja pun terkesan, tapi tak ungkap perasaannya. Di muka bale Angganatha, putri Indumati agak menjauh dan tidak mendekat. Ia bersandar pada lengan Jayawaspa. Sang  putri tidak memberi respon pada sang pelamar. Alih-alih Indumati mendekati Aja, dan dalam hati ia menjatuhkan pilihan antaran kekuatan ajaib dimana mereka berdua saling tertarik. Indumati mengambil kalung manikam dari lehernya, dan kemudian meletakkannya pada leher Aja sebagai tanda pilihannya. Bagi para pelamar lainnya inilah bukti terakhir kekelahan mereka, dan meluaplah rasa marah dan dongkopnya.
Kedua kekasih itu meninggalkan pagelaran bersama-sama dalam satu tandu dan segera upacara pernikahan dimulai dengan segala upakaranya. Di sebuah dusun di pegunungan, Aja diberitahu oleh para tetua bahwa raja-raja yang ditolak oleh Indumati akan menculik mereka berdua. Dengan hati-hati rombongan Aja siap bertempur. Satu persatu menyerang Aja, namun seluruhnya dapat dilumpuhkan. Para dewa dan penghuni sorga menyaksikan dari atas. Akan tetapi, ketika Aja hendak memakai anak panahnya yang bernama Rudra, para dewa merasa gelisah. Atas nama mereka, Narada mendekati Aja untuk tidak memakai senjata dasyat itu. Narada menganjurkan agar Aja menggunakan senjata yang baru diterimannya dari Priyambada, yaitu panah Sangmohana. Lalu Aja beserta rombongan meneruskan perjalanan, yang tak terasa telah atu bulan meninggalkan Widarbha. Akhirnya mereka tiba di Ayodhya. Raja Raghu dan permaisurinya sangat senang terhadap dengan Indumati, sang menantu. Tak lama kemudian raja Raghu mengundurkan diri, dan menetapkan agar putrannya naik tahta. Raghu beserta abdinya pergi ke hutan untuk mendirikan patapaan. Beberapa waktu berselang  ia meninggal dunia. Indumati melahirkan putra, yang diberi nama Dasaratha. 


C. Menang- Kalah dalam Swayambara
Kisah-kisah terpapar diatas hanya beberapa dari banyak kisah dalam susastra ltekstual masa lalu perihal swayambara. Tergambar bahwasanya swayambara dilselengkarakan oleh ayah atau bisa juga oleh kakak — yang menjadi penguasa di suatu kerajaan untuk anak atau adik wanitanya. Adapun peserta swayambara adalah para kastria atau pangeran muda, yang kedertaannya untuk mendapatkan calon istri– kecuali Bhisma yang turut swayembara untuk saudara tirinya. Kisah unik didapati dalam kitab Mahabharata, dimana Dropadi yang didapat sebagai buah kemenangan di dalam suatu swatambara tidak dijadikan istri oleh seseorang yang menjadi pemenang suatu swayambara, melainkan dijadikan istri bersama kelima anggota keluarga Pandawa (Pendowo Limo).
Terdapat beragam media uji dalam swayambara. Selain perang tanding, uji kepiawian berperang atau bahkan kesaktian seperti pada swayamhara untuk Amba-Ambika-Ambalika, ada pula media uji berupa merentang busur panah (gandewa) sakti seperti pada swayambara untuk Sita, uji ketepatan mengenai sasaran dalan menanah seperti pada swayambara untuk Dropadi, atau cukup dengan sang putri kalungkan manikam ke leher pria pilihannya seperti pada seayambara untuk Indumati. Pada contoh kasus swayambara untuk Dewi Sita, Dropadi maupun untuk tiga bersaudari Amba-Ambika-Ambalika, uji dalam swayambara itu lebih menyerupa lomba, yakni adu kesaktian, ketangkasan, kepiawian atau kehadalan. Adapun dalam swayambara untuk Indumati, terlihat hak prerogatif sang putri untuk tentukan sendiri salah seorang peserta sebagai proa terpilih untuk dijadikan suami. Meskipun swayambara untuk Dropadi menggunakan uji tepat sasaran dalam memanah, namun Karna yang tampil sebagai pemenang ternyats tidak secara otomatis menjadi pria terpilih sebagai calon suami, sebab ia hanya anak seorang sais.   Alih-alih Dropadi menjatuhkan pilihannys kepada Arjuna, yang baru tampil setelah Karna sebagai seorang pemanah handal yang anak panahnya tepat mengenai sasaran. 
Dalam suatu swayambara, terkadang pihak yang kalah tidak “legowo” menerima kekalahannya. Kakawin Sumanasantaka mengkisahkan bahwa raja-raja yang ditolak oleh Indumati di dalam swayambhawara akan menculik mereka berdua (Aja – Indumati). Satu persatu menyerang Aja, namun seluruhnya dapat dilumpuhkan. Tidak mudah untuk menerima kekalahan. Padahal, menang – kalah merupakan konsekuensi logis  dalam  swayambhara. Sebagaimana arti istilah dari “swayambhara”, yakni memilih sendiri, sang putri (misal Indumati) memiliki hak prerogatif untuk tentukan sendiri pulihannya. Indumati jatuhkan pilihan pada Aja, namun ara pederta lain tak bisa menerima ketdakterpilihannya itu. Demikianlah, swayambhara yang memuat rivalitas terkadang membawa ekses, yaitu tidak legowonya pihak yang kalah.


Sangkaling, 24 Mei 2019Griya Ajar CITRALEKHA

Continue Reading

JAMAN KUNO

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA

Avatar

Published

on

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA : Koco Brenggolo Kasus Hukum pada Kisah Pencurian Ken Angrok

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paparan Kisah Pencurian oleh Ken Angrok

Tulisan ini mengangkat beberapa kisah tentang pencurian yang dilakukan oleh atau dituduhkan kepada Ken Angrok. Walau tak semua kisahnya secara eksplisit berkenaan dengan korupsi sebagaimana modus korupsu sekarang. namun terdapat siratan-siratan pesan yang berkenaan dengan “fenomena pencurian”. Kisah-kisah itu dapat dijadikan contoh kasus, mengingat bahwa pada dasarnya korupsi adalah suatu varian dari sikap tdan perilaku “maling (pencurian)”.

Sebagai seorang manusia biasa, “fase pencuri” pernah dilalui oleh Ken Angrok, sebagai suatu “episode gelap” dalam balada (perjanan pajang kehidupannya) — tentu selain “episode terang” yang berisi kebaikan- kebaikannya. Pencurian adalah bagian dari kemanusiaan manusia, yaitu sisi gelap kehidupan manusia Dapat difahami bila Angrok terlibat dalam sejumlah tindakkan pencurian, mengingat bahwa ayah angkatnya yang pertama, yakni Lembong, adalah pencuri ulung. Hingga usia remaja kecil, Ken Angrok dibesarkan d lingkungan keluarga pencuri ini. Dikisahkan oleh Pararaton “… Lambat-laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong …. ” (Marduwarsito, 1965:48-49).

1. Contoh Kasus Pertama

Menurut pengkisahan di dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton, ketika Angrok masih seusia “rare sapangangon (anak gembala)” , ia bekerja pada yang dipertuan (tuha) Desa Lebak sebagai
penggembala sepasang kerbau miliknya. Angrok sempat dituduh — meskipun belum terbukti akan kebenarannya — melakukan penggelapan atas kerbau yang digembalakan. Akibat tuduhan buta itu, Angrok kecil terpaksa meninggalkan rumah, sedangkan ayah angkatnya (Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok) terpaksa menanggung beban baya atas hilangan ternak gembalaa itu.

2. Contoh Kasus Kedua

Kisah pencurian lain yang dilakukan Ken Angrok terbilang “unik”. Kejadiannya ketika Angrok dan tuan Tita — putra tuan Sahaja, kepala desa di Sagenggeng — menjadi murid (sisya) dari guru Jangan di Sagenggeng. Kala itu pohon jambu di halaman rumah Janggan tengah berbuah lebat dan nyaris masak total. Angrok berkeinginan kuat (bahasa Jawa Baru disebut “kemecer”) untuk mencicipi. Namun, Janggan yang disiplin ketat melarang keras mengambil sebelum jambu-jambunya masak benar. Meski kemecer, sebagai murid yangi taat kepada guru, dalam kondisi sadar Angrok menekan keinginannya sedemikian rupa unuk tak memetik barang sebuahpun.

Yang ada dalam kondisi “sadar” dan yang terjadi ketika berada “dibawah sadar’ bisa saja berbeda. Dalam kisah ini, keinginan kuat yang ditekan- tekan menyeruak pada alam bawah sadarnya. Tengah malam ketika Angrok tertidur, keluar amat bsnyak kelelawar-kelelawar (tepatnya codot) dari ubun-ubunnya, yang lantas menyerbu buah jambu milik Janggan. Setelah kenyang menyantap buah jambu, rombongan kelelawar kembali ke diri Angrok juga lewat ubun-ubunnya manakala ia masih tertidur lelap.

Pagi harinya, betapa terkejut hati Janggan demi melihat sisa jambu berserakan — biasanya codot hanya memakan bagian ujung jambu, di bagian yang telah matang dan enak, separo dibawahnya dibuang — pertanda ada pesta pora semalaman. Kejadian yang demikian belum pernah sekalipun berlangsung sebelumnya. Oleh sebab itu muncul syakwasangka bahwa pencuri jambunya adalah murid barunya, yakni Angrok. Tentu saja Angrok tak mengakui tuduhan itu, sebab semalaman ia lelap tidur. Namun Janggan tetap menjatuhkan sangsi kepadanya. Angrok dilarang untuk tidur di dalam pondok — tipe pondok kuni tanpa dinding penutup,. Oleh karena itu, Angrok tidur di atas tumpukan jerami kering untuk pembuatan atap.

Janggan baru menyadari kesalahan tuduhannya di tengah malam berikutnya. Pada tengah malam secara diam-diam guru Janggan ke luar rumah memantau jejadian guna mencari bukti bagi tuduhannya. Janggan heran tatkala melihat sesuatu yang bernyala (bercahaya terang) dari tumpukan jerami kering, yang dukiranya tengah terbakar. Rupa-rupanya, yang bernyala itu adalah sosok Angrok. Lebih heran lagi ketika saksikan kelawar berduyun- duyun keluar dari ubun-ubun Angrok menyerbu buah jambunys. Bukan sosok fisik dari Angrok yang mencuri jambu, namun “keinginannya” yang berwujud codot tatkala berada di alam bawah sadar (tidur)”. Dengan fakta ini, Janggan persilahkan Angrok pada malam berikutnya untuk tidur kembali di dalam pondok, bahkan kelak diizinkan makan jambu sepuas-puasnya ketika telah benar-benar masak.

3. Contoh Kasus Ketiga

Peristiwa pencurian lainnya yang dilakukan oleh Angrok adalah ketika ia dalam persembunyian di Desa Luki guna menghindari kejaran tentara Akuwu Tunggul Ametung. Dalam kondisi amat lapar, terpaksa Angrok mencuri dan menyantap makanan kiriman (dalam istilah kini “ransum”) yang dikirim oleh istri petani dalam tabung bambu kepada suaminya yang tengah bekerja di sawah. Tidak seperti biasa, ketika pak tani hendak menyantap makanan kiriman yang ditaruh di pondok ladang didapati habis isinya. Nampaknya, diam-diam ada yang mencuri dan memakannya. Kejadian berulang di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, pak tani pun melakukan pengawasan untuk bisa menangkap basah pelaku pencurian. Akhirya berhasil, Ken Angrok tertangkap basah sebagai pencurinya. Namun uniknya, pak tani tidak memberi sangsi kepada si pencuri, sebaliknya justru meminta istrinya agar hari berikutnya membawa makan dua porsi dengan maksud yang seporsi diberikan buat Angrok yang memang kelaparan dan terpaksa mencuri makanan milik orang lain.

4. Contoh Kasus Keempat

Pencurian lain dilakukan oleh Ken Angrok di Desa Pamalanten. Lantaran ketahuan, maka Angrok melarikan diri dan dikejar warga. Menyadari dirinya terpepet dan takut tertangkap karena di mukanya mengalir sungai, maka Angrok pun memanjat pohon kelapa. Warga mengetahui dan mengepungnya di bawah pohon .Angrok yang telah berada di penghujung atas pohon kelapa diultimatum untuk turun, bila tidak mau maka pohon kelapa bakal ditebang. Mendengar ada ancaman ini, maka Angrok pun ketakutan, dan memohon Dewata untuk menolongnya. Meski Dewata beri perlindungan dengan meminta warga untuk tidak menangkap Angrok yang diakui sebagai “anakNya”, namun warga tetap bersikeras untuk menebang pohon kelapa. Ken Angrok tak kurang akal, diambilnya dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan semacam “media luncur” agar dapat menyeberangi sungai.

Sebenarnya masih ada kisah-kusah pencurian lain dalam kitab Pararaton, yang agar tak terlalu panjang, maka tidak seluruhnya dipaparkan pada tulisan ini. Misalnya, kisah “pencurian terhadap perempuan” yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung yang “membawa lari Ken Dedes untuk dinikahi” ketika ayahnya (pu Purwa) tengah tak ada di rumah. Lantaran pelakunya adalah “sang Akuwu”, pejabat tinggi di Tumapel, maka tindak pencurian (kawin lari) ini tidak tersentuh hukum.

B. Kasus Hukum Kisah Pencurian dalan Pararaton

Pada contoh kasus pertama, jika pun benar bahwa Angrok menggelapkan (dengan menjual secara diam-diam) sepasang kerbau milik tuha Desa …………. yang digembalakannya, pelaku kejahatan ini masih “dibawah umur”, sebab kala itu Angrok masih seusia “anak gembala”, yaitu remaja kecil. Selain itu, kurang cukup bukti untuk menetapkan bocah Angrok sebagai pelaku. Bisa jadi, lenyapnya sepasang kerbau itu dicuri orang, mengingat penggembalanya adalah anak kecil. Meski demikian, secara sepihak pemilik kerbau menuntut ganti rugi kepada orang tua Angrok, yang dalam hal ini adalah ayah angkatnya (“si pencuri” Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok). Terpaksa kedua orang tuanya beri ganti rugi meski amat berat untuk ukuran ekonomi mereka. Lantaran tuduhan itu, si kecil Angrok yang ketakutan terpaksa lari dari rumah dan menggelandang hingga akhirnya ditemukan dan diambil anak angkat oleh “si penjudi (bobotoh)” Bangosamparan.

Pada contoh kasus kedua tergambar bahwa pangkal tindak kejahatan, termasuk pencurian, adalah “pikiran”. Hal ini tergambar pada kekelawar-kelelawar pencuri jambu yang keluar dari ubun-ubun Ken Angrok. Selain itu, diperoleh ilustrasi bahwa tindak pencurian bisa terjadi manakala ada “iming-iming kuat” untuk mencuri. Pohon jambu yang tengah berbuah lebat dan nyaris matang adalah suatu kondisi yang “menggiurkan” bagi Ken Angrok untuk menyantap buah-buah jambunya. Meski ada keinginan kuat, namun lantaran terdapat aturan ketat dan tegas, dimana posisi seseorang musti patuh, maka keinginan yang tak sesuai dengan aturan itu mustilah ditekan sedemikian rupa hingga tak jadi dilakukan.

Dalam kisah ini, betapa pun Ken Angrok tergiur untuk memakan jambu miilik guru Janggan, lantaran sang Guru melarang keras untuk memetiknya sebelum benar-benar masak, maka dalam “alam sadarnya” Angrok tidak berani mengambil jambu. Namun, ketika ia berada “dibawah sadar (tertidur)”, tindakkan tersebut dilakukannya. Tindak kejahatan pencurian bisa berada dalam “tarik-ulur” antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang. Sebagai anak muda, Angrok bisa kendalikan alam sadarnya, namun alam bawah sadarnya ternya beda sikap dan tindakan.

Pada kasus ini, mulanya Janggan melakukan “syakwasangka”, yakni penuduhan yang kurang cukup bukti terhadap Angrok yang disabgkakan sebagai pelaku pencurian jambu, bahkan dijatuhi sangsi dengan dilarang tidur di dalam pondok. Namun, sebagai orang bijak (guru), Janggan pun mencari bukti untuk tuduhannya yang ia sadari kurang cukup bukti. Setelah melakukan telisik diam-diam pada tengah malam, diketahui sendiri (diperoleh fakta) bahwa pelaku pencurian bukan sosok fisik Angrok, melainkan non-fisiknya, yakni pikirannya, keinginannya. Baginya, pikiran tak bisa dikenai sangsi. Oleh karena itu, Janggan mencabut sangsi yang telah dijatuhkan sehari sebelumnya kepada Angrok, dengan persilahkan muridnya ini kembali boleh bermalam di dalam pondok. Bahkan, ketika jambu-jambuu telah benar-benar masak, Angrok diberi kesempatan untuk memakannya sepuas-puasnya.

Pada contoh kasus ketiga, tindak pencurian bisa dilakukan ketika seseorang di dalam kondisi terpepet, tak ada pilihan. Tindakkan Angrok mencuri ransum milik petani dilakukan karena ia tak kuasa menahan rasa lapar sebagai orang yang dalam persembunyian dari pengejaran. Pencuri makanan tentulah orang lapar. Angrok tertangkap basah ketika tengah mencuri ransum berkat pemantauan cermat dari petani terhadap pelaku tindak kejahatan. Petani yang memahami bahwa pelaku pencurian itu adalah orang yang terpaksa karena kondisi sulit (dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “kesrajat”), maka ia tidak menjatuhkan sangsi kepada Angrok yang menjadi pelaku pencurian terhadap makanannya. Bahkan sebaliknya, pada hari-hari berikutnya Angrok mendapat bantuan makan darinya. Dengan memenuhi kebutan mendesak dari pelaku kejahatan, maka pelaku terhindar dari tindakkan mengulangi kejahatannya.

Pada contoh kasus ke empat tergambar bahwa pada suatu waktu pelaku tindak kejahatan harus melarikan diri agar terhindar dari penangkapan. Namun, ibarat “sepanda-pandainys tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, Angkrok pun terpepet dalam pengejaran, karena pelariannya terhalang alran sungai. Ketika terdesak demikian, kadang pelaku kejahatan melakukan tindakan naif, seperti ketika Angrok memanjat pohon kelapa, yang tindakannya ini ketahuan warga yang mengejarnya. Ketika pengejarnya mengultimatum untuk memotong pohon kelapa yang fipanjati Angrok untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, tak terelakkan bahwa orang pemberani sekaliber Angrok pun ternyata ketakutan juga. Bahkan, Angrok memohon agar Dewata memberi perlindungan keselamatan. Hal lain yang tergambar dalam contoh kasus ini, dalam kondisi paling terpepet, masih saja ada akal pelaku kejahatan untuk dapat lolos dari penangkapan. Langkah cerdik Angrok dalam hal ini adalah segera mengambil dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan media bantu luncur guna menyeberangi sungai untuk terhindar dari pengejaran dan penangkapan.

C. Refleksi Historis atas Tindak Korupsi

Tindak pencurian, yang antara lain berwujud “korupsi” terdapat kapanpun dan dimabapun. Dalam sejarah Nusantara, sebagian etape hidup Angrok oleh Paparaton dikisahkan sebagai ‘pencuri (maling,)”. Berdarkan studi kasus dengan menelaah beberapa penggal mudahnya, diperoleh catatan-catatan sejarah penting untuk direnungi bersama, yaitu sebagai berikut:
1. Tindak kejahatan, termasuk pencurian dalam wujud korupsi berpangkal pada “pikiran yang korup”. Oleh karena itu, pemberantasan terhadap korupsi mencukup pula pemberantasan terhadap pikiran korup, yang perlu dilakukan dengan pembinaan mebtakuta.

2. Kondisi yang menggiurkan, termasuk adanya celah (kesempatan), menyediakan peluang untuk melakukab tindak jejahatan korupsi di waktu yang perhitungkan “aman” oleh pelaku untuk ttidak ketahuan (tertangkap).

3. Tindak kejahatan pencurian, termasuk juga korupsi, bisa terjadi lantaran si pelaku dalam kondisi terpepet, terlebih bila ia merasa tidak ada pilihan lain. Dalam kasus demikian, pemberian “kecukupan” dapat menghindarkan orang dari tindak kejahatan korupsi — meski tak ada jaminan untuk itu.

4. Terhadap tindak pencurian, termasuk juga korupsi, perlu menghindarkan terhadap tuduhan buta, syakwasangja, dan keburu jatuhkan sangsi padahal sesungguhnya kurang cukup bukti. Oleh karena itu, fajta-fakta hukum perlu menjadi unsur pembukti untuk menetapkan seseorang sebagai pencuri ataupun koruptor. Demikian pula tingkat sangsi atas perbuatannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seseorang diposisikan sebagai “salah tuduh” dan “terdera sangsi padahal dirinya bukan pelaku sesungguhnya atas suatu kejahatan”.

5. Walaupun jelas-jelas terbukti sebagai pelaku pencurian ataupun koruptor, sentiasa pelaku berupaya melarikan diri dan terhindar dari penangkapan. Jikalau terdesaj, maka terkadang dilakukan tindakan penyelamatan diri yang terkesan naif. Kalaupun sebelumnya pelaku merasa sebagai orang kuat, pemberani dan nyaris tak tersentuh hukum, namun ketika ada bukti kuat atas pelsku kejahatan dan berada dalam posisi amat terdesak, maka muncul rasa pengakuan atas ketidak berdayaannya untuk bisa lolos dari jerat hukum. Bahkan untuk itu. Ia memohon pertolongan dari pihak lain.

6. Dalam kasus tertentu atas tindak pencurian ataupun korupsi, bisa jadi ada “orang kuat” yang mampu mengkondidokan dirinya sebagai nyaris tak tersentuh oleh hukum meski terbukti jelas tindakkannya.

Demikian beberapa catatan yang disarikan dari contoh-contoh kasus hustoris di atas untuk ditransformasikan guna menelaah fenomena korupsi di masa sekarang. Semoga telaah yang mirip dengan “parodi historis” ini dapat memberi keteladanan untuk terhindar dari tindak kejahatan pencurian, termasuk varian wujudnya yang berupa tindakkan korupsi. Amin. Nuwun.

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019