FESTIVAL DAWAI NUSANTARA (FDN) II

Wahana Revitalisasi Etno-musikologi Nusantara

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Waditra Berdawai

Musik dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:

(1) musik yang terjadi karena alat musik (music instrument) tertentu, dan

(2) musik yang terjadi karena suara manusia (Dungga, I:1952:7).

Pada kelompok pertama, alat musik (waditra) merupakan sumber bunyi musikal. Terdapat beragam jenis dan bentuk waditra, yang dapat dikategorisasikan berdasarkan cara terjadinya bunyi, yaitu kategori:

(a) chrodophone,

(b) aerophone,

(c) membraphone, dan

(d) ideophone.

01

Demikianlah, salah satu kategori waditra adalah ‘chrodophone’, yakni instrumen musik yang dilengkapi dengan dawai (chrod) sebagai komponen pada alat musik padamana bunyi musikal berasal. Bunyi musikal hadir apabila dawai tersebut dipetik, digesek, atau pada waktu tertentu digesek dan pada waktu yang lain dipetik. Selain itu, meski tidak banyak, ada pula yang dimainkan dengan cara memukul dawai dengan menggunakan tongkat (stick) kecil. Untuk selanjutnya, dalam tulisan ini waditra kategori itu disebut dengan ‘waditra berdawai’.

Waditra berdawai ada yang memiliki dawai sebuah dan ada pula yang lebih dari satu. Selain dawai, komponen lainnya pada waditra ini adalah resonator. Dengan menilik keletakan dawai pada resonator, waditra berdawai dapat dibedakan menjadi:

(a) waditra berdawai sederhana, ditandai oleh tempat resonator yang terpisah dari keletakan dawai-dawainya; dan

(b) waditra berdawai terpadu, dengan jumlah dawai sebuah atau lebih, dimana letak resonator menjadi satu dengan tempat dawainya.

Kedua jenis waditra berdawai tersebut pernah terdapat di masa lampau, bahkan diantaranya masih kedapatan dalam khasanah musik Nusantara hingga kini, baik dalam wujud:

(a) waditra berdawai tradisonal,

(b) waditra berdawai modern, ataupun

(c) waditra berdawai tradisianal yang dimodernisasikan.

 02

Beragam waditra berdawai itulah yang telah pernah dihelat dalam ‘”Festival Dawai Nusantara (FDN”) di Kota Malang pada tahun 2015. Pada tahun ini, tepatnya tanggal 12-14 Agustus 2016, kembali bakal dihelat FDN untuk kali ke-2, yang juga bertempat di Kota Malang.

B. Unikum dan Urgensi Festival Dawai Nusantara

Festival Dawai Nusantara (FDN) merupakan suatu festival seni-budaya yang tematik, Tema sentralnya terletak pada ‘waditra pokok’ yang dimainkan oleh para musisi (etnomusikolog), yaitu waditra berdawai. Tentu dalam sajian-sajian musikal dari masing-masing performer bukan melulu digunakan waditra berdawai, namun terbuka kemungkinan untuk memadukan waditra berdawai dengan waditra-waditra lain yang tak berdawai dalam suatu ansambel musik.

03

Unsur nama perhelatan yang mempergunakan kata ‘Nusantara’ menjadi petunjuk bahwasanya asal daerah dari musisi dan/atau waditra yang dimainkan adalah dari berbagai daerah atau dari beragam masyarakat etnis dalam wilayah Nusantara. Festival ini dengan demikian mejadi ‘ajang perjumpaan’ berbagai jenis, bentuk dan kemasan musik etnik dari seantero Nusantara. Kebhinekaan musikal bakal hadir dalam perhelatan ini. Tema yang spesifik di satu pihak dan sajian musikal yang beragam di pihak lain menjadikan perhelatan ini menjadi wahana ekpersi dan apresasi musikal yang unik, dalam arti tidak terdapat atau setidak berbeda dengan festival serupa di tempat pada pada waktu yang berbeda.

Waditra berdawai adalah salah sebuah khasanah musik Nusantara, yang berkembang lintas masa, lintas area dan sekaligus lintas etnis. Terlepas dari perbedaan dalam hal jenis, bentuk, komposisi musikal maupun fungsinya, wadita ini didapati di berbagai daerah di Nusantara. Pada lingkungan masyarakat etinik, waditra berdawai bahkan merupakan waditra khas yang memiliki akar sejarah panjang. Sape pada etnik Dayak misalnya; kecapi pada etnik Sunda; siter, celempung dan rebab pada etnik Jawa; gambus, mandolin dan biola pada etnik Melayu, sasando pada beragam etnik di Nusatenggara Timur, gitar pada sejumlah etnik di Maluku, Sulawesi Utara dan Sumatra Utara, dsb. Oleh karena itu, dapat difahami bila terdapat ragam waditra berdawai yang malahan dapat disebut sebagai ‘waditra tradisonal’ dan musik yang dihasilkan olehnya masuk dalam jenis musik tradisi. Nusantara dengan demikian cukup alasan untuk dinyatakan sebagai ‘untaian mutiara musik dawai’.

04

Dalam hal demikian, FDN menjadi penting artinya (urgen), dan sekaligus merepresentasikan kebinekaan musikal khas Nusantara. Uragensinya lebih terasa lagi apabila mengingat bahwa perhelatan seni-budaya bertema khusus ‘musik dawai’ terbilang langka. Sejauh ini, fesitaval demikian masih dua kali diselenggarakan, yaitu di tahun lalu (2015) dan direncanakan pada tanggal 12-14 Agustus di tahun ini (2016).

Yang menarik untuk dicermati adalah FDN ke-1 dan ke-2 berturut dihelat di Malang, sehingga boleh dibilang bahwa Malang adalah daerah yang membidani lahirnya FDN dan menggawangi upaya untuk merevitalisasikan etnomusikologi yang berbasis pada waditra atau musik berdawai Nusantara. Semoga upaya ini kian membiak, dengan hadirnya festival-festival musik dawai di berbagai tempat, yang masing-masing dapat mengambil spesifikasi waditra berdawai tertentu. Misalnya, dalam bentuk parade kecapi, sitar dan celempung; konser sasando, ansambel ragam waditra dawai-gesek, dsb.

C. Revitalisasi Etnomusikologi Nusantara

Musik etnik, yakni musik yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat enik, yang bahkan menjadi ciri khas (karakter) musikal pada etnik bersangkutan. Dalam hiruk-pikuk dinamika perkembangan musik pada era sekarang, musik etnik hanyalah salah sebuah diantara banyak pilihan jenis dan bentuk musik, yang acap menjadi pilihan yang tidak banyak dipilih, khususnya oleh faksi muda di perkotaan. Kalaupun ada yang masih menampilkannya, namun kini musik etnik diposisikan tak lebih terhormat dan tidak lebih banyak peminatnya daripada musik non-etnik, Malahan, realita menunjukkan bahwa pada tidak sedikit daerah di berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia, musik-etnik cenderung ditempatkan sebagai ‘musik pinggiran’. Perjalanan panjang sejarah musik etnik, akar tradisi musik-etnik pada masyarakat, maupun keadiluhungan dari musik-etnik dalam khasanah musik Nusantara tak cukup menjadi bahan pertimbangan oleh warga etnik bersangkutan sekalipun untuk menjadikan musik-etnik sebagai musik anak negeri yang tumbuh subur dan marak di bhumi Nusantara.

05

Syukurlah, meskipun tidak sangat banyak, ternyata masih ada perorangan, kelompok, bahkan komunitas yang peduli, yang mencintai, dan karenanya mereka berbuat nyata untuk lestarikan, revitalisasikan, memasyarakatkan, dan menempatkan musik-etnik pada posisi terhormat dalam permusikan Nusantara. FDN adalah salah satu wujud upaya demikian. Dengan FDN terkuaklah bukti bahwa kini pun pelestari musik-etnik tak sebatas pada generasi tengah baya ke atas, tidak hanya bercokol di pedesaan, tidak menjadikannya sebagaii musik pinggiran, dan tidak kalah pentingnya adalah dengan wahana ini terlahir karya-karya musikal yang menunjukkan bahwasanya musik-etnik tidak kalah adiluhungnya dengan musik-musik non-etnik dari luar Nusantara.

 06

Saat ini, yang pada satu hingga dua dasawarsa terakhir memperlihatkan gejala dimana tidak sedikit orang — tidak terkecuali generasi muda di perkotaan — menaruh kepedulian dan membangun kecintaannya terhadap hal-hal yang berkenaan sejarah, tradisi dan budaya lokal, pergerakan bersama untuk melestarikan, merevitalisasikan dan memasyarakatkan musik-etnik tengah berada di saat yang tepat, yakni suatu pergerakan dalam kerangka ‘back to native culture’.

07

Semoga FDN menjadi picu bagi upaya-upaya lain ke arah revitalisasi musik-etnik Nusantara. Lebih luas daripadai itu, upaya tersebut diharapkan dapat disinergikan dengan upaya-upaya serupa ke arah revitalisasi tari-etnik, teater-etnik, seni rupa-etnik, dan ke-etnikan pada cabang-cabang seni lainnya ataupun unsur-unsur budaya lain selain unsur kesenian. Anasir seni-budaya Nusantara yang kuat (vital) adalah prasyarat bagi terwujudnyaketahanan budaya bangsa..

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya bhumiputra,
‘Nusantarajayati’.

Sengkaling, 4 Agustus 2016 (Pra-FDN II)