Connect with us

JAMAN KUNO

Benteng Tabanio

Avatar

Published

on

BENTENG TABANIO DI TANAH LAUT KALSEL DALAM PERBANDINGAN LINTAS MASA

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Perbentengan Nusantara Era Kerajaan

Pada dasarnya manusia senantiasa hidup berkelompok dengan membentuk sistem sosial secara berpindah-pindah atau menetap di suatu tempat. Setelah terjadi perubahan pola hidup dari berpindah-pindah (nomaden dan semi-nomaden) menjadi menetap (sedentair), mulailah terfikir untuk membangun fasiltas pertahanan guna melindungi kelompoknya dari ancaman, gangguan bahkan serangan yang datang dari kelompok lain atau dari binatang buas. Dengan pemikiran itu dibuatlah bangunan atau daerah pertahanan, yang lazimnya disebut ‘benteng’ (Hughes, 1979:9-11). Kata ‘benteng’ memiliki arti harafiah sebagai bangunan tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh, bisa juga menunjuk kepada dinding (tembok) untuk menahan serangan (KBBI, 2002:135). Dalam ‘Ensilopedi Indononesia’, benteng didefinisikan sebagai lokasi militer atau bangunan yang didirikan secara khusus, diperkuat, dan tertutup untuk melindungi sebuah instalasi, daerah atau sepasukan tentara dari serangan musuh atau untuk menguasai suatu daerah. Terkadang benteng diasosiasikan dengan kegiatan militer (Novita, 1996). Kehadiran benteng dengan demikian tidak lepas dari kebutuhan naluriah manusia akan rasa aman. Pertahanan kota antara lain dilakukan dengan mendirikan tembok, parit maupun benteng pertahanan terakhir. Bahkan, kaum pedagang Eropa selalu berusaha untuk memperbesar gudang-gudang kecil tidak bersenjata menjadi benteng, yang tak hanya mampu menahan api namun juga serangan bersenjata (Reid, 1992:83, 140).

Semenjak terbentuknya sistem sosial yang pertama, perbentengan bersahaja telah hadir dalam bentuk tanggul tanah berpola melingkar tanpa atau dengan disertai tatanan batu-batu kerakal guna melindungi permukiman atau tempat yang dianggap penting. Bagian luar dari benteng dapat dilengkapi ataupun tanpa disertai parit keliling. Benteng seperti ini tergambar pada megalithic settlement. Dibalik tradisi ‘lompat batu’ pada living megalith di Pulau Nias tergambar suatu model pertahanan kuno yang berupa pagar keliling berukuran cukup tinggi terbuat dari tatatan batu kerakal. Untuk melintasinya dibutuhkan kemampun khusus, yakni melompat tinggi melintasi pagar batu tersebut. Benteng purba yang berbentuk tanggul tanah antara lain dijumpai di Way Sekampung daerah Lampung dan di Lahat (Triwuryani, 2006; Indriyastuti, 2006). Benteng yang demikian lazim disebut ‘benteng alam’. Benteng-keraton buton, yang meskipun dibuat dari batu, namun denahnya mengikuti benteng alam yang telah ada (Riyanto, 2002).

Bentuk benteng menjadi kian kompleks dan fungsinya kian beragam ketika memasuki Masa Hindu-Buddha. Bentuk benteng pada masa ini bukan tidak mungkin mendapat pengaruh dari perbentengan India, yang telah berkembang lebih awal dan lebih maju. Pada India Raya benteng telah dikenal semenjak masa Pra-Aria, terbukti dengan diketemukannya jejak benteng purba di situs Mohenjodaro, Harappa, Chanhudaro, dsb. Benteng-benteng itu lantas dihancurkan oleh kawanan komunitas semi-nomaden, yang dikenal dengan sebutan ‘bangsa Aria’. Dalam pustaka suci Veddha, sebutan untuk bangsa Aria adalah ‘Puramdhara’, yang artinya penghancur benteng. Dalam Bahasa Jawa Kuna ataupun Jawa Tengahan juga dijumpai istilah ‘pura’ dan ‘puri’, kosakata serapan dari Bahasa Sansekreta, yang secara harafiah berarti benteng, istana, kerajaan, kota, ibu kota, tempat tinggal raja, atau apartemen wanita (Zoetmulder, 1995:882). Dengan demikian, tidaklah benar bila dikatakan bahwa arsitektur benteng di Nusantara baru hadir pada Masa Kolonial, sebagai buah dari difusi budaya Eropa yang mengenal arsitektur benteng dengan sebutan ‘castile’.

Situs Ratuboko (IX Masehi) misalnya, dengan jelas memperlihatkan model pertahanan yang diperlengkapi dengan tanggul terjal berlapis balok-balok batu, pagar keliling dua lapis, parit, pos jaga dan pemantauan gerak lawan maupun lorong penyelamatan. Ratuboko adalah kompleks vihara (abhayagirivihara), keraton dan sekaligus benteng di atas bukit, yang pernah dipakai oleh Balaputradewa untuk mempertahankan kedudukannya dalam menghadapi serangan dari kakak tiri (Pramodhawarddhani) dan iparnya (Rakai Pikatan). Dalam prasasti Siwagreha (778 S = 896 M) Ratuboko digambarkan sebagi tempat pengungsian (SNI, 2010: 158). Adapun yang dimaksud adalah tempat pengungsian dari Balaputradewa. Struktur dan bentuk benteng yang areal bagian belakang dan kirinya dibatasi oleh aliran sungai ini jauh lebih kokoh, lebih kompleks dan lebih maju daripada benteng yang berusia sedikit lebih tua, yaitu benteng Kerajaan Ho-ling, yang dalam kronik Dinasti Tang (618-908 M) pada masa pemerintahan Chen-kuan (627-649 M) diberitakan bahwa pusat kerajaan dikeliling oleh pagar keliling yang terbuat dari tonggak-tonggak kayu (Groneveld, 1960). Benteng kerajaan sebenarnya juga terdapat di pusat kerajaan Sriwijaya, yang menurut catatan perjalanan dari I-Tsing dikelilingi oleh benteng. Namun sayang tidak disertai deskrisi mengenai bentuk dan bahan bangunan yang digunakan. Kemungkinan berupa balok-balok kayu atau bambu yang ditutupi semak-semak.

Sumber data epigrafi tak terkecuali memberitakan tentang benteng. Misalnya, Prasasti Cane (1021 M.) yang ditulis atas perintah dari raja Airlangga (Brandes, OJO LVIII, 1913) memberitakan bahwa penduduk desa (wanwa) Cane memperoleh anugerah status perdikan (sima) berkat jasanya menjadi ‘benteng’ di sebelah barat kerajaan. Mereka memperlihatkan ketulusan hati dalam mempersembahkan bhakti kepada raja, tiada gentar pertaruhkan jiwa raga dalam peperangan agar Sri Maharaja memperoleh kemenangan. Bisa jadi di desa Cane terdapat benteng, dalam posisi sebagai ujung tombak untuk menghadapi serangan dari arah barat, mengingat bahwa lawan utama [yaitu Wurawari] berlokasi di sebelah barat kerajaan (SNI, 2010:205). Kala itu keraton (kadatwan) Airlangga berada di Wwatan Mas pada lereng utara Gunung Penanggungan. Jejaknya arkeologisnya didapati di situs Jedong pada Dusun Wotanmas Desa Jedong Kec. Ngoro Kab. Mojokerto. Menilik dua pintu gerbang menghadap ke barat beserta pagar batu berukuran tinggi serta tebal, tanggul terjal berlapis balok-balok batu, kolam depan di sisi barat situs maupun posisi topografisnya yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, hal itu menggambarkan arsitektur benteng-keraton. Pada tahun 1032 M. Wwatan Mas ditinggalkan lantaran serangan musuh, selanjutnya dibangun kadatwan baru di Kahuripan. Kendati demikian, eks kadatwan Airlangga ini terus dimanfaatkan hingga masa keemasan Majapahit – terbukti oleh adanya kronogram bertarikh Saka 1307 (1385 M) pada ambang pintu bagian atas gapura I. Kadatwan Wwatan Mas didukung oleh benteng, yang ditempatkan di bagian baratnya, yakni benteng Kuto Giring.

Pada waktu yang lebih kemudian, tepatnya pada tahun 1271 M, hadir perbentengan di Canggu Lor, yang menurut keterangan kitab Pararaton (hal. 26) dibangun atas perintah dari raja Wisnuwarddhana. Canggu Lor merupakan tempat yang stategis, sebab terletak di jelang percabangan bangawan Bantas – bercabang menjadi tiga sungai, yaitu kali Mas, Porong dan sebuah kali lainnya yang telah mati. Pembangunan benteng Canggu Lor ada hubungannya dengan serangan atas Mahibit, dimana Mahibit diperkirakan juga berlokasi di tepi Brantas, dekat Terung (SNI, 2010:433), Disamping itu, sangat boleh jadi dibuat untuk melengkapi, melindungi, serta mendukung otoritas operasional pelabuhan transito pada aliran Brantas di Canggu Lor yang strategis (Mulyana, 2006:106-107). Jika benar demikian, berarti telah ada konsepsi paduan ‘pelabuhan-benteng’ sejak masa Hindu-Buddha, yang nantinya [pada Masa Perkembangan Islam] marak dilakukan. Pada contoh ini tempat yang berada di percabangan sungai dikalkulasi sebagai titik strategis.

Jejak benteng (istilah lokal ‘biting’) lainnya berkaitan dengan nagari Lamajang, yang dijumpai di situs Biting pada Kelurahan Kutorenon Kec. Sukadana Kab. Lumajang, Bentuk benteng mengikuti empat aliran sungai, yaitu sungai: Bondoyudo di sisi utara, Winong di sisi timur, Cangkring di sisi selatan dan Peloso di sisi barat. Sungai-sungai itu dimanfaatkan sebagai barier alam, semacam parit keliling pelindung benteng (Abbas, 2012:142). Benteng Kutorenon dilengkapi dengan enam buah menara intai, yang mengingatkan kepada bastion dari castile Eropa atau pada baluari dari benteng-keraton Ngayogyakartahadiningrat. Boleh jadi benteng ini adalah benteng purba masa Majapahit yang mengalami renovasi pada Masa Perkembangan Islam. Toponimi ‘Kutorenon’ dapat diidentifikasikan dengan ‘Arnon’ yang disebut dalam kakawin Nagarakretagama (pupuh 21) terkait dengan tour de inspection raja Hayamwuruk dan dalam Babad Tanah Jawi. Selain itu Nagarakretagama (pupuh 48.2) juga memberitakan bahwa raja ke-2 kerajaan Majapahit, yakni Jayanagara, memimpin serangang untuk memadamkan perlawanan para oposan di daerah Lamajang Tigang Juru (Lumajang, Blambangan dan Panarukan) pada daerah kekuasaan Wiraraja dengan menggempur benteng keraton Arnon di Lamajang (kini bernama ‘Lumajang’) yang ditinggali oleh Aryya Wiraraja dan kota-benteng Pajarakan yang diperintah Aryya Nambi pada tahun Saka 1238 (1316 M).

Perbentengan menjadi model pertahanan kuno yang kian marak pada masa kasultanan dalam Masa Perkembangan Islam. Keraton dikemas sedemikian rupa menjadi permukiman dalam lindungan tembok benteng, sehingga muncul sebutan ‘benteng keraton’. Secara teknologis dan arsitektural, meski benteng keraton merupakan benteng dari penguasa pribumi, namun dalam sejumlah hal mendapat pengaruh dari perbentengan Eropa (Abbas, 2012:140), misalnya dilengkapi dengan menara intai yang pada perbentengan Eropa dinamai ‘bastion’ atau ‘baluarti’ ataupun ‘pangingukan’ dalam istilah Jawa.

B. Perbentengan Nusantara Era Kasultanan

Salah satu benteng keraton, yang sejauh diketahui merupakan benteng keraton tertua dari Masa Perkembangan Islam, terletak di Banten Lama. Menurut catatan Tome Pires, pada abad XVI Banten merupakan pelabuhan pengekspor lada, beras, bahan makanan lain. Lada adalah komoditi yang penting kala itu, yang banyak dicari pedagang. Lada banyak tumbuh di Sumatra, Malaka dan Jawa Barat. Kasultanan Banten menerima lada dari Bengkulu dan Lampung, bahkan memegang monopoli atasnya, lantaran merupakan daerah kekuasaannya. Gambaran awal dari pelabuhan Banten adalah di bagian pantai kayu-kayu dipancangkan ke dalam dasar laut untuk pertahanan, dan sepanjang Kota Banten ditanami dua deretan kayu-kayu besi di dasar laut. Kota Banten dikeliling air, sehingga orang dapat melayari seluruh kota melalui jalan-jalan air yang berupa sungai dan perairan pantai (Untoro, 2006:36, 88).

Kota Banten dikelilingi oleh tembok batu. Pada setiap sudut kota dan di tepi Banten ditempatkan alat anti serangan musuh (meriam). Pertahanan kota ditempatkan di tepi pantai, berupa sebuah benteng yang dibuat dari batu dan bata, yang kemudian diberi pelapis luar (mantelsteen) dari batu karang. Pagar benteng yang demikian sebagai pengganti bagi pagar lama yang pada mulanya hanya berupa jajaran balok-balok kayu. Pagar benteng seperti itu mengingatkan kita pada benteng-keraton Banjar, yang dalam gambar grafis karya litotograf Belanda bernama C.M. Meling (tahun 1843) dari kayu melingkari keraton, serta dilengkapi dengan pintu gerbang yang dapat dibuka tutup berupa jembatan kecil di belakang pendapa besar (Hermanu 2010:27-28). Perkuatan terhadap pagar benteng di Kota Banten itu dipicu oleh pembangunan benteng VOC [bernama Speelwijck] ketika Kompeni Belanda berusaha memperkuat kedudukannya. Keduanya berjarak dekat, hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Cibanten. Keberadaan tembok keliling berbentuk zigzag untuk melindungi kota Banten juga tergambarkan dalam peta-peta kuno abad XVII.

Benteng penguasa pribumi yang terbilang besar dari masa yang lebih kemudian antara lain adalah benteng Kuto Besak, benteng Kasultanan Palembang yang dibangun atas prakarsa Sultan Mahmud Badaruddin I atas biaya sendiri. Pembangunannya memakan waktu hingga 17 tahun. Gambaran mengenai kebesaran benteng yang diresmikan penggunaannya pada Senin 21-2-1797 ini diberikan oleh van Rijn van Alkemende ‘benteng ini adalah salah satu yang terbesar di kepulauan Hindia dan tidak dapat dikalahkan musuh dari pedalaman’. Ketangguhannya teruji tatkala menghadapi serangan pasukan Inggris (1812) dan serangan pasukan Kompeni Belanda pada Perang Menteng (Perang Palembang) babak I dan II (1819 dan 1821) kala pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Benteng ini memenuhi syarat pertahanan, lantaran dilindungi oleh tembok batu setinggi 9,99 m (30 kaki) dan tebal 1,99 m (6 kaki), dilengkapi ‘parit keliling’ yang berupa aliran empat buah sungai (Tengkuruk di sisi timur, Musi di selatan, Sekanak di barat, Kapuran di utara), bastion di setiap sudut benteng, serta didukung persenjataan yang maju pada jamannya (meriam dan senapan). Sebenarnya, benteng Koto Besak yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Palembang ini hanya sebuah diantara sejumlah benteng dalam sistem perbentengan di aliran Musi. Lokasinya relatif di pedalaman. Lebih hilir darinya ditempatkan benteng Sungsang di muara Musi, benteng Upang, Tambakbaya, Martapura, Manguntana dan benteng di Pulau Kembaru, yang secara khusus difungsikan sebagai penghambat laju serangan musuh yang akan menyerang keraton-benteng Kuto Besak (Utomo, 1993:39-48).

C. Perbentengan Nusantara Era Kolonial

Kebanyakan situs benteng di Indonesia adalah tinggalan benteng dari bangsa-bangsa Eropa, utamanya Kompeni Belanda. Bagi penjajah atau penguasa pendatang, benteng amat vital untuk melindungi pasukannya maupun kepentingan ekonominya dari serangan penguasa dan warga terjajah. Sebagai salah sebuah kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara, pusat dagang antar benua dan regional, markas besar atau pusat administrasi VOC di Asia, tempat kedudukan Gubernur Jendral beserta pemerintahannya, pusat pertemuan serta tempat VOC mengirim atau menerima armada-armadanya dari/ke Eropa sengaja didesain dalam bentuk kastil yang sangat besar di muara Kali Ciliwung lengkap dengan tembok keliling dan selalu memiliki peralatan, persediaan, dan persenjataan yang baik.

Kastil Batavia adalah benteng berbentuk segi empat dengan bastion-bastion (menara pengawas) di tiap sudutnya dan pada sisi luarnya dilengkapi dengan parit. Peta pada Arsip Nasional Den Haag No. Inv. Vel. 1192 tahun 1795 menggambarkan bahwa Kota Batavia yang sejak dulu amat sibuk itu dikelilingi tembok, sehingga terjamin keamanannya (Bruijn, 2002:4, 21). Ada sebagian bastion yang mulanya dibuat dari kayu, kemudian diganti dengan batu. VOC pusatkan sistem pertahanan dan pengamanannya di bagian utara Kota Batavia, lantaran daerah itu merupakan kawasan niaga atau pusat perdagangan. Untuk lebih mendukung keamanannya, di Batavia dan daerah sekitarnya dibangun 16 benteng, seperti benteng (fort) Sterreschans, Waterkansteel, Dieren, Kastil Batavia, Ancol, Jacarta, Noordwijk, Rijswijk Angke, Vifhoek, Buitenwacht, Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan tembok keliling kota. Pulau-pulau itu dijadikan basis pertahanan dan tempat perbaikan kapal-kapal VOC (Novita, 1996:32-36).

Benteng Belanda yang berasal dari masa lebih akhir, yang dibangun tahun 1808 adalah Benteng Lodewijk di Pulau Manari – warga setempat menamai ‘Pulau Kiper’ – di wilayah Pulo Mengare Kel. Tanjung Widoro Kec. Bungah Kab. Gresik, lepas muara Sungai Cemara [sebagai bekas aliran lama Bengawan Solo]. Muara sungai ini konon merupakan pelabuhan kuno bernama ‘Jaratan’. Sebutan ‘Jaratan’ kini beralih menjadi ‘Kramat’, dimana keduanya bersinonim arti. Kramat adalah sebuah diantara tiga buah dusun di Desa Tanjung Widoro di wilayah Pulo Mengare (Cahyono, 2008:61). Keberadaan pelabuhan Jaratan diberitakan oleh Tome Pires bahwa pada permulaan abad XVI terdapat dua pelabuhan laut di Gresik sebagai pelabuhan yang paling kaya dan paling penting di seluruh Jawa, yaitu pelabuhan Gresik dan pelabuhan Jaratan. Untuk menghalang-halangi perdagangan gelap yang sering terjadi di situ Kompeni Belanda dan Susuhunan Mataram membuat perjanjian untuk membangun ‘rumah penjagaan’ (tahun 1734) di pulau kecil, yang berjarak kurang dari 1 km di utara pelabuhan Jaratan. Rumah penjagaan itu adalah semacam benteng, yang memiliki kewibawaan untuk memaksa kapal/perahu barang yang hilir mudik untuk melapor dan membayar cukai. Warga setempat menamai pulau itu dengan ‘Pulau Kiper’, yang berasal dari kata ‘keeper (penjaga atau tempat penjagaan)’. Benteng Lodewijk yang dibangun tiga perempat abad sesudahnya bisa jadi didirikan di lokasi ‘rumah penjagaan’ tersebut.

Pembangunannya Benteng Lodewijk atas perintah Gubernur Jendral Daendels terkait rencana pembangunan dua benteng, yaitu di Merak dan di P. Manari. Menurut manuskrip kartografi koleksi Arsip Nasional Nomor E83, benteng Lodewijk berdenah empat persegi panjang, dengan bastion di keempat sudutnya. Pintu masuk berada di sisi selatan, sedangkan parit keliling tak terlihat. Untuk benteng di suatu pulau, yang dikelilingi oleh perairan, parit keliling tidak dibutuhkan sebagai barier. Sumber Belanda maupun Inggris menyatakan bahwa ukuran benteng cukup besar (mampu menampung 800 prajurit) dan dipersenjatai dengan 102 pucuk meriam. Masa penggunaannya tidak lama (hanya ± 50 tahun). Benteng Lodewijk dihancurkan sendiri oleh Belanda tahun 1857, selanjutnya dibuat pusat pertahanan baru di Surabaya (Abbas, 2006: 71-79). Menilik letaknya, benteng Lodewijk masuk dalam kategori benteng di suatu pulau.

Ketika penjajah Belanda berhasil memantapkan posisi kekuasaannya di tanah jajahan, benteng bukan lagi sekedar pelindung diri, melainkan dimanfaatkan pula untuk mendukung operasi militer, termasuk upaya pemadaman perlawanan yang dilakukan oleh penguasa atau pimpinan masyarakat di suatu daerah. Untuk menghadapi perlawanan dahsyat serta luas dari Pangeran Diponegoro (1825-1830) beserta koalisinya, mulai tahun 1827 Kompeni Belanda berhasil mengetahui bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkan serdadunya, yakni dengan menerapkan ‘benteng stelsel (sistem benteng)’. Dengan strategi ini, satuan-satuan-bergerak kecil dapat beroperasi secara sendirian, terlepas dari jaringan pos-pos berbenteng yang strategis yang selalu berkembang, serta dapat mengawasi penduduk setempat secara permanen. Gerombolan-gerombolan pemberontak dipaksa bertempur sebelum mereka sempat tumbuh dalam jumlah yang besar. Mereka juga dicegah untuk tinggal lama di setiap daerah. Strategi perang ini terbukti jitu, dimana pasca tahun 1827 Diponegoro dan pasukannya terus dikejar-kejar dan terjepit (Ricklefs, 2005:256), atau dengan perkataan lain mampu memecah basis kekuatan dan mempersempit ruang gerak lawan.

D. Benteng Tabanio di Tanah Laut

02

Benteng Tabanio merupakan benteng Belanda, yang dibangun di sekitar muara Sungai Tabanio. Menilik letaknya, benteng ini termasuk dalam kategori benteng di muara sungai. Dengan demikian, Benteng Tabanio secara relative dating masuk dalam Periode Kolonial, Kendati masuk dalam Periode Kolonial, namun bukan berarti bahwa peristiwa historis yang terkandung didalamnya dihapus dari Sejarah Banjar atau dari Sejarah Regional Kalimantan Selatan – lebih khusus lagi pada Sejarah Daerah Tanah Laut. Dasar pertimbangannya adalah sekecil apapun data artefaktual yang dieksplorasi di situs benteng Tabanio dan data tekstual yang diperoleh dalam sumber data arsip dan susastra memberi manfaat bagi pengisian detail-detail Sejarah Banjar, dan sudah barang tentu bagi Sejarah Daerah Plehari.

Terkandung di dalamnya semangat sejarah (historical spirit), yang bukan ditekankan pada zenosentrisme atau aspek penjajahan (klonialisme), melainkan kepada aspek heroisme terkait dengan Perang Banjar guna menentang kolonialisme atas negeri leluhurnya. Spirit historis lainnya yang terkandung adalah dinamika. Kendati bahwa latar keagamaan penjajah (warga Negeri Belanda) berlainan dengan keyakinan mayoritas warga Banjar, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran bangsa dan budaya Eropa di kawasan Banjar memicu terjadinya sejumlah perubahan di Kalimantan Selatan dan di Tanah Laut khususnya. Buah perubahan tersebut dirasa sampai beberapa dasawarsa lalu, bahkan hingga kini. Diantaranya adalah budidaya lada, pembangunan pabrik gula dan dermaga beserta dampak ekonominya, arsitektur kota bergaya Indis dsb. Bolehlah dikata bahwa geliat ekonomi dan pembentukan wajah kota Tanah Laut bermula pada periode kolonial ini.

03

Gambaran detail tentang arsitektur diperoleh dari data litografi serta temuan artefaktual hasil ekskavasi tahun 2011, 2012, 2013 dan 2014 (Tahap I, II, III, dan IV) di situs benteng Tabanio, yang berada di Desa Tabanio di Kec. Takisung Kab. Tanah Laut Prop. Kalimantan Selatan. Dalam sebutan berlogat Belanda, namanya adalah ‘Tabenieuw, atau Taboenieuw, atau Tabanieuw’. Nama ‘Tabanio’ juga digunakan untuk menamai sungai yang mengalir di daerah ini. Sekilas gambaran utuh tentangnya diperoleh dalam sketsa (litografi) karya W.A. van Rees tahun 1855 — meski hanya sebatas tampak depan dan salah sebuah sisi samping darinya. Pada sketsa ini benteng Tabanio tergambar dibangun di tepi sungai kecil (Sungai Tabanio), dan sekaligus di sekitar muara sungai. Topografi tempat berdirinya benteng relatif sama dengan muka tanah sekitarnya.

04

Masing-masing sudut benteng diperlengkapi dengan bastion yang berbangun bundar. Pintu gerbang menghadap ke laut. Tembok benteng terbilang cukup tinggi, yakni setinggi tubuh gapura. Pada bagian tertentu didirikan bangunan tanpa dinding pada permukaan tanah yang ditinggikan, hampir setinggi tembok benteng. Denah benteng empat persegi panjang, atau mungkin berbangun bujur sangkar. Sebuah tiang bendera beserta benderanya tampak tinggi menjulang, sehingga tampak jelas dari luar benteng. Perahu dengan penggerak sebuah dayung kecil dan sebuah perahu dayung yang lebih besar melintas di seberang pantai.

Benteng Tabanio di bangun pada sekitar tahun 1779, terkait dengan perjanjian antara Kesultanan Banjar semasa pemerintahan Pangeran Nata Dilaga dan VOC tanggal 6 Juli 1779, dimana VOC mendapatkan konsesi berupa monopoli atas perdagangan di Banjar serta berhak membangun sebuah benteng. Picu bagi kehadiran VOC di Tabanio adalah potensi perkebunan lada, perikanan dan tambang emas Pelaihari. Sebenarnya, ada sejumlah benteng di Tanah Banjar, selain Benteng Tabanio terdapat benteng Pengaron, benteng Gunung Lawak dan pos-pos Belanda yang berada di istana Martapura. Di dalam suatu serangan ketika Perang Banjar yang dipimpin oleh kawan-kawan seperjuangan Antasari, tokoh pejuang Kiai Demang Leman serta Haji Buyasin dan Kiai Langlang dari Tanah Laut berhasil merebut salah sebuah benteng Belanda di Tabanio pada Agustus 1859.

Ditilik dari pemilik atau penggunanya, banteng Tabanio bisa disebut sebagai ‘benteng kolonial’, dalam arti fasilitas pertahanan untuk menjamin rasa aman para pemukim di dalam lingkungan tembok benteng terhadap kemungkinan serangan dari luar benteng, sekaligus sarana penunjang kepentingan Kompeni Belanda lainnya, tak terkecuali kepentingan ekonomi kolonial. Terhadap kehadiran benteng kolonial dapat diberlakukan hukum ‘cause and effect (sebab-akibat)’, yakni lantaran hadir benteng kolonial beserta para pemukim yang tinggal di dalamnya dan kepentingan darinya, maka pada sisi lain mengundang reaksi dari pihak lain yang berbeda kepentingan dengannya. Eskalasi reaksi yang timbul itu bisa menjelma dalam bentuk perlawanan fisik atau peperangan, yang dikenal sebagai perang melawan penjajahan. Reaksi demikian pernah terjadi di Tanah Banjar, dalam konteks Perang Banjar.Perang Banjar (1859 – 1905) antara lain dilatari oleh suksesi pemerintahan.

Belanda telah lama mencampuri urusan internal istana Banjar, yang menyulut kebencian terhadap Belanda. Puncaknya ketika terjadi kericuhan pergantian tahta pasca mangkatnya Sultan Adam (tahun 1857). Belanda mengangkat Pangeran Tahmjidilah (1778-1802), tetapi rakyat tak mau menerimanya, lantaran menurutnya Pangeran Hidayat lah yang lebih berhak atas tahta dan lebih disenangi rakyat. Kendati demikian, kekuasaan Sultan Tahmidillah terus berlangsung. Sultan memiliki tiga orang putra, yaitu Pangeran Rahmad, Abdullah dan Amir. Kembali terjadi perebutan tahta di Kasultanan Banjar. Dalam kericuhan ini, Pangeran Nata Dilaga – salah seorang saudara Sultan Tahmidillah, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Abdullah atas bantuan Belanda. Pangeran Nata diangkat oleh Belanda menjadi sultan, dengan gelar ‘Sultan Tahmidillah II’. Tampilnya Sultan Tahmidillah II mendapat tantangan dan perlawanan dari Pangeran Amir, yaitu salah seorang putera Sultan Tahmidillah I yang selamat dari pembunuhan tersebut. Sultan Tahmidillah II sepenuhnya dibantu oleh Belanda. Akhirnya Pangeran Amir dapat ditangkap oleh Belanda dan selanjutnya dibuang ke Ceylon. Kemenangan Sultan Tahmidillah II harus dibayar mahal kepada Belanda, karena kasultanan banjar harus menyerahkan daerah Pegatan, Pasir, Kutai, Bulungan dan Kotawaringin.

Pangeran Amir mempunyai seorang putera bernama Antasari, yang lahir tahun 1809. Sejak kecil ia tidak senang hidup di istana yang penuh intrik dan dominasi oleh kekuasaan Belanda, sebaliknya memilih hidup di tengah-tengah rakyat dan banyak belajar agama pada para ulama serta hidup dengan berdagang.dan bertani. Pada tahun 1859 berkobar pertempuran antara rakyat Banjar melawan Belanda dibawah pimpinan Antasari. Rakyat Banjar, para pejuang, alim ulama maupun bangsawan dengan suara bulat mengangkat Antasari menjadi ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’ tanggal 14 Maret 1862 (13 Ramadhan 1278 H). Dalam posisinya sebagai pewaris tahta kasultanan, pemimpin rakyat maupun panglima perang, beliau memulai perjuangan rakyat Banjar dengan seruan ‘hidup untuk Allah, mati untuk Allah’. Mengingat Kompeni Belanda memiliki kekuatan militer besar dan tangguh, maka Antasari menghimpun semua potensi rakyat, diantaranya Pangeran Hidayatullah yang menjabat mangkubumi. Dua minggu sebelum pecah Perang Banjar (28 April 1859) Antasari mengajak Pangeran Hidayatullah untuk bersama melawan Belanda. Tokoh-tokoh lain yang ikut terlibat antara lain Kiai Demang Leman (bergelar ‘Kiai Adipati Mangku Negara’) yang menjabat lalawangan atau kepala distrik Riam Kanan, Haji Nasrun, Haji Buyasin dan Kiai Langlang dari Tanah Laut, serta Tumenggung Suropati.

Pertempuran meluas ke Tanah Laut, Barito, Hulu Kapuas dan Kahayan. Pada akhir April 1859 pasukan Antasari menyerbu pos-pos Belanda di Martapura dan Pangaron, sedangkan Kiai Demang Leman, Haji Buyasin, dan Kiai Langlang berhasil merebut Benteng Tabanio (Agustus 1859). Pada sisi lain, tatkala pertempuran sedang berlangsung, Belanda memecat Pangeran Hidayat sebagai mangkubumi lantaran ia menolak hentikan perlawanan. Selain itu, sejak tanggal 11 Juni 1860 jabatan sultan di Kasultanan Banjar kosong, karena pihak Belanda [yang diwakili oleh Andresen] menurunkan Sultan Tamjidillah II dari tahta. Dengan demikian, kasultanan Banjar dihapus dan dimasukkan ke dalam lingkup kekuasaan Kompeni Belanda.

Disamping faktor suksesi pemerintahan, Perang Banjar juga dilatari oleh keserakahan Kompeni Belanda dalam monopoli komoditi dagang, utamanya lada. Dalam penjanjian antara Kesultanan Banjar semasa pemerintahan Pangeran Nata Dilaga dan Kompeni Belanda (6 Juli 1779), VOC mendapatkan konsesi berupa monopoli atas perdagangan di Banjar serta berhak membangun sebuah benteng. Perjanjian ini dibuat sebagai balas jasa dari Pangeran Nata atas dukungan Belanda ketika membinasakan Pangeran Rahmad dan Abdullah serta penobatnya sebagai sultan.

Sebenarnya, lebih awal daripada itu (tahun 1635) pernah terdapat perjanjian serupa antara Kasultanan Banjar semasa pemerintahan Sultan Rachmatullah dan VOC, dimana VOC mendapat hak monopoli penjualan lada dan lain-lain hasil bumi. Setahun kemudian Kompeni Belanda mendirikan kantor dagangnya di Kota Banjarmasin. Dengan adanya kantor dagang dan hak monopoli tersebut, maka hasil bumi dari petani Banjar selalu diikat dan harus dijual kepada Belanda dengan harga yang ditentukan sendiri oleh VOC. Jika menjual kepada pihak lain, maka pelaku dikenai hukuman berat. Kembali terjadi perjanjian antara kasultanan Banjar semasa pemerintahan Sultan Mustainullah dan VOC (tahun 1660), dimana VOC mendapat hak untuk mengambil sendiri hasil bumi lada dan lain-lainnya dari Banjarmasin. Empat tahun kemudian (1664) dibuat perjanjian baru, dimana VOC diberi kesempatan mendirikan kantor dagang. Pada tahun 1666 atas permintaan Sultan kantor dagang itu ditutup, namun demikian hak pengiriman barang dagangan masih tetap berlaku (Hermanu, 2010:107-110).

Faktor lainnya adalah persepsi religis bahwa Kompeni Belanda adalah pihak ‘khafir’. Tentangan terhadap kekhafiran yang demikian terjadi pula di daerah-daerah lain di Indonesia. Apalagi sesuai dengan gelarnya, yakni ‘Khalifatul Mukminin’, Pangeran Antasari dalam posisi sebagai pemimpin umat Isam. Latar kehidupan Pangeran Antasari ketika muda, yang rajin belajar agama kepada para ulama, turut membentuk persepsi itu. Demikian pula bagi rakyat Banjar, perjuangan menentang praktik penjajahan Belanda sekaligus merupakan ‘penolakan terhadap kekafiran’.

Peristiwa historis terkait dengan Benteng Tabanio bukan saja mengekspresikan heroisme rakyat Banjar dalam menentang kolonialisme, namun sekaligus mampu membuahkan ‘rasa bangga’ karena perlawanan rakyat Banjar berhasil merebut Benteng Tabanio yang kala itu menjadi simbol supremasi kekuasaan Belanda. Telaah terhadap peristiwa historis di balik Benteng Tabanio sebagai palagan (ajang pertempuran) bisa juga diarahkan pada upaya untuk mendapat gambaran mengenai perlawanan dan pertahanan diri guna menghadapinya, sebab umum dan sebab khusus (casus bally) terjadinya serangan terhadap benteng Tabanio, maupun akibat yang ditimbulkannya. Butir-butir kajian itu tidak seluruhnya dapat dijawab semata menggunakan data arkeologi di situs benteng Tabanio, namun perlu pula dilengkapi dengan data tekstual, walau lantaran keterbatasan data yang didapatkan terpaksa tidak dapat dihadirkan jawaban rinci untuk semua satuan telaah tersebut.

Sengkaling, 8 Agustus 2016

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JAMAN KUNO

KRITIS-HISTORIS TRADISI LISAN KESEJARAHAN ISLAM DAERAH BATU

Avatar

Published

on

A. Islamisasi Sub-Area Utara Brantas

Sumber data sejarah yang berkenaan dengan kesejarahan Islam di daerah Batu tidak cukup banyak. Selain sejumlah situs makam Islam kuno, sumber data tentang itu kedapatan dalam bentuk tradisi lisan (oral tradition), yaitu legenda lokal, yang beberapa diantaranya diliteralisasikan. Dua diantaranya yang cukup dikenal adalah legenda : (a) Mbah Mbatu dan Pangeran Rohjoyo, terkait dengan babat Desa Bumiaji; serta (b) legenda Bambang Selo Utomo, terkait dengan babat Desa Punten. Kisah legenda mengenai para “pembuka (sing babat, sing bedah Krawang)” untuk desa-desa lain di daerah Batu tak sepopuler dengannya. Terkait dengan sumber data oral tersebut, untuk mengeluarkan fakta daripadanya perlu dilakukan secara berhati-hati, yakni dengan memilah mana yang merupakan fakta dan mana yang rekaan (fiksi). Dengan kata lain, perlu adanya kritis-historis, agar bisa mensarikan informasi historis daripadanya. Kondisi sumber data yang demikian tersebut menyebabkan rekonstruksi historis terhadap Sejarah Islam di daerah Batu hanya dapat dilakukan dalam skala terbatas. Bahkan, banyak bersifat interpretatif dan berupa hipotesa, sehingga ke depan perlu dilacak bukti penguatnya.

Sumber data tradisi yang berkembaug di Bumiaji menyatakan bahwa Mbah Batu, dengan varian sebutannya “Mbah Mbatu, Mbah Wastu, Mbah Stu dan Mbah Tuwo”, yang dimakamkan di Dusun Banaran Desa Bumiaji. Selain Mbah Batu, pada cukup makam ini terdapat tokoh bernama diri “Abu Nggonaim” — varian sebutannya “Abu Ghonaim”.Sayang sekali belum jelas benar hubungan antara keduanya. Menulik namanya “Abu Ghonaim”, jelas bahwa Beliau adalah orang Islam. Hal ini tampak pada jejak artefaktualnya, yang berupa makam muslim, lengkap dengan jirat, nisan dan cungkupnya. Nama sebuatan lain untuk dirinya adalah Pangeran Rohjoyo, yang dinyatakan sebagai bangsawan (pangeran) asal Mataram. Mbah Batu yang dalam legenda setempat diidentifikasi sebagai seorang perempuan acapkali dinyatakan bukan saja sebagai pembuka (sing babad) Desa Bumiaji, namun sekaligus sebagai orang yang mbabat daerah Batu secara keseluruhan. Suatu pendapat yang ‘musti dikritisi’, agar posisi historis Mbah Batu dalam sejarah daerah Batu menjadi lebih proporsional. Beberapa waktu berselang di kalangan awam sejarah, berkembang pemikiran bahwa sejarah Batu bermula dari Mbah Batu.

Nama Abu Nggonaim juga disebut-sebut dalam ‘Babad Desa Punten’, sebagaimana bisa dibaca di dalam “Layang Ronggo Sejati”. Teks ini menyerupai cerita tutur yang diliteralisasikan secara bebas pada beberapa tahun terakhir. Menurut sumber ini, orang yang pertama kali hadir di Desa Punten adalah Bambang Selo Utama alias Purbo Sentono, istrin\ (Rara Ninik Wuryaningsih), dan gurunya (Kyai Abu Nggonaim). Menurut layang itu, peristiwa tersebut berlangsung sekitar abad XV. Bambang Selo Utama adalah pembuka (sing babat) hutan belantara kawasan berlembah, bergunung dan berjurang, yang dinamai dengan “Punten”. Tempat ini berada jauh di sebelah timur Mataram. Kepergiannya ke mari terkait dengan rasa malu Bambang Selo Utomo, sebab ketika ia diwisuda menjadi senopati di kasultanan Mataram serta ditunangkan dengan Ninik Wuryoningsih atas keberhasilannya dalam sayembara membuat gamparan (beliak) “Ukiran Bungkul Kencono” guna meredakan pagebluk (wabah penyakit) yang melanda Mataram, tanpa disadarinya ia kentut di hadapan para pejabat Istana (Tim Sejarah Desa, 2008).

Bambang Selo Utomo adalah seorang murid Abu Nggonaim (nama lain dari Mbah Batu). Dengan demikian, dia adalah satu generasi di bawah Mbah Batu. Dalam Layang Ronggo Sejati dinyatakan bahwa Abu Nggonaim mempunyai pesantren besar. Sayang tidak dinyatakan secara eksplisit dimanakah lokasi pesantrennya. Mengingat Mbah Batu acap dihubungkan dengan “sing mbabad” Desa Bumiaji, maka pertanyaannya adalah “apakah lokasi pesantrennya berada di desa Bumiaji?”. Apabila benar demikian berarti kala itu didaerah Utara Brantas telah terdapat pesantren besar yang dikelola oleh Abu Nggonaim. Namun, sejauh ini belum dijumpai data artefaktual yang mengarah lepada kesimpulan demikian.

Perkataan “sing babad” atau ‘sing mbedah krawang’ dalam kedua legenda lokal itu perlu didudukkan secara proposional. Bukan menurut arti harafiahnya, melainkan secara interpretatif. Secara harfiah kata “babad atau mbabad” adalah pembukaan suatu areal dengan jalan menebangi pepohonan yang tumbuh tempat ini. Sedangkan perkataan “sing bedah krawang” berarti pembuat sesuatu menjadi koyak (bedah), sehingga sesuatu itu berlobang terang (krawang). Arti dari kedua istilah itu menunjuk kepada orang tertentu di masa lampau, yang mengawali pembukaan suatu area menjadi permukiman baru. Areal permukiman itu merupakan embrio bagi terbentuknya desa atau daerah. Sebelum kejadian itu, areal ini masih berwujud hutan belantara, yang belum berpenghuni. Pengertian seperti itu tidak sesuai dengan realitas historisnya, kerena jauh sebelum kehadirannya, baik di Bumiaji maupun di Punten telah ada orang-orang yang hadir, bermukim dan berkegiatan budaya. Dengan demikian, Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo bukan orang yang kali pertama hadir, bukan pula yang mengawali terbentuknya permukiman di Bumiaji dan di Punten.

Informasi dari sumber data lisan ini patut dikritisi, mengingat bahwa sumber data tekstual (prasasti dan susastra) maupun sumber data arfektual menyodorkan gam-baran yang berlainan. Data artefaktual maupun tekstual menunjukkan bahwa wilayah Batu telah menjadi daerah hunian atau tempat bagi berlangsungnya aktifitas social-budaya sejak Masa becocok Tanam pada Jaman Prasejarah. Bahkan pada amasa Hindu-Budhha, yakni pada masa kerajaan Kanjuruhan, Mataram, Singhasari dan Majapahit, Batu telah menyadi areal hunian. Beberapa desa di wilayah Batu, seperti Sangguran, Batwan, dan Deseng Batu telah menyandang status “Desa Perdikan (Sima)” Tempat dan perangkat keagamaan yang berlatar agama Hindu juga didapati di berbagai tempat di wilayah daerah Batu, tidak terkecuali di desa-desa tetangga dari Bumiaji, seperti Tulungrejo, Gunungsari, Pandanrejo, Songgokerto, dsb. Oleh sebab itu tidaklah tepat jika Mbah Batu yang hidup pada masa perkembangan Islam, tepatnya di era Kasultanan Mataram, dinyatakan sebagai “pembuka perdana (sing mbabat) daerah Batu”. Masa hidup Mbah Batu adalah pada skeitar abad XIX, atau paling tua abad XVIII. Demikian pula dengan Bambang Selo Utomo, tidak tepat jika dinyatakan bahwa masa hidupnya pada sekeitar abad XV, sebab konteks waktu peristiwa yang dikisahkan adalah masa Mataram. Mereka berdua dengan demikian hidup pada Periode Perkembangan Islam. Oleh karena itu, lebih tepat bila Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo dinyatakan sebagai tokoh yang berjasa mengawali siar Islam, khususnya di sub-area Batu Utara, baik di Desa Bumiaji maupun Punten.

Jejak budaya pra-Islam didapati pada areal makam Mbah Batu. Hal ini menjadi petunjuk bahwasanya sebelum lokasi ini dijadikan komplek makam Islam, lebih dulu menjadi situs Hindu. Demikian halnya yang terdapat di Punten, yang kedapatan adanya watu dakon di Dusun Gempol, lumpang batu (stone mortar) di Dusun Poyan (Lo Dengkol), susunan batu temugelang (enclosure) di dukuh Krajan (punden Gadung Melati), punden berumpak di punden Mbah Gamping, batu-batu besar di punden Purwosenjoto dan mbah Gimbal, serta empat buah Lingga dan struktur bangunan berlatar Hindu pada Punden Gadung Melati. Dengan demikian, ada petunjuk bahwa Punten telah menjadi hunian semenjak zaman Prasejarah dan berlanjut hingga masa Hindu-Buddha. Jejak-jejak budaya itu berada pada sepanjang aliran Sungai Brantas, yang membelah Desa Punten dan sekitar sumber air (Banyuning, Ngesong I dan II). Adanya jejak budaya masa Hindu-Buddha di Punten sebenarnya telah dinyatakan di dalam Layang Ronggo sejati, bahwa di tempat padamana Bambang Selo Utomo, istri dan gurunya berhenti, kemudian membuka areal permukiman kedapatan jejak budaya berupa reruntuhan candi.

B. Islammisasi Sub-Area Selatan Brantas

Paparan di atas memberi petunjuk bahwa Islamisasi di Utara Brantas setidaknya berkat jasa dari Mbah Mbatu dan Bambang Selo Utomo. Pada sub-area di Selatan bangawan Brantas, legenda local menyebut adanya sejumlah nama yang berjasa mengislamkan sejumlah desa di wilayah ini, diantaranya adalah : (1) Mbah Mas di Besul, (2) Mbah Macan Kopek di Sisir, (3) Mbah Bener di Temas, (4) Eyang Jugo di Junggo, (5) Mbah Masayu Sinto Mataram di Ngaglik, maupun (6) Mbah Gadung Mlati di Punten. Disamping itu terdapat sejumlah makam Islam kuno, seperti makam dan masjid kuno (sebelum kini direnovasi total) di Macari, dan makam lama Pesanggrahan. Beberapa makam tua itu, utamanya makam tokoh-tokoh legendaris di Banaran, Besul dan Ngaglik memiliki indikasi ditempatkan di atas atau berada berdampingan dengan situs yang usianya lebih tua (masa pra-Islam), sehingga dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai adanya kesinambungan sakralitas suatu tempat. Artinya, tempat yang dulu dipandang sebagai “sakral” oleh pemangku budaya lama, pada pemangku budaya berikutnya tetap dipandang sakral. Jejak budaya yang ada itu berasal dari masa yang berbeda atau lintas masa.

Terdapat sejumlah orang yang dalam legenda lokal dinyatakan sebagai berjasa dalam siar Islam pada awal perkembangan Islam di daerah Batu. Pada sub-wilayah di Batu Utara, Mbah Batu dan Abu Ghonaim serta Bambang Selo Utomo (alias Mbah Gadung Melati) adalah orang-orang yang berjasa dalam mengislamkan Desa Bumiaji dan Desa Punten. Sedangkan di sub-wilayah selatan Brantas, tampil Mbah Mas untuk warga di kampung Besul, Mbah Macan Kopek untuk warga Sisir, Mbah Bener untuk Temas, Eyang Jugo untuk Junggo, dan Mbah Masayu Sinto Mataram untuk Ngaglik.

Mereka disebut dengan tambahan kata sebut “mbah” atau “eyang” sebelum nama dirinya. Hal ini menguatkan gambaran tentang ketuaan dirinya. Kendati demikian. tidaklaj mudah untuk menyatakan secara pasti bilamana masa hidupnya. Apakah mereka hidup se jaman, ataukah satu lebih awal dari yang lain? Suatu pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya, kecuali yang berkenaan hubungan antara Bambang Selo Utomo dan Mbah Batu (Abu Nggonaim), yang nama dan kisahnya dinyatakan sebagai murid-guru. Prakiraan waktu yang bisa diperoleh darinya adalah sekitar abad XVII hingga permulaan abad XIX.

Pengaruh Islam dari sentra Islam di Giri terhadap Gribik pada penhujung abad XV maupun penaklukan kerajaan Sengguruh oleh kasultanan Demak tahun 1545 Masehi tidak berdampak bagi tersebarnya Islam ke Batu, sebab letaknya cukup jauh darinya. Selain itu, kitab Pararaton (ditulis akhir abad XVI atau awal abad XVII) memberi gambaran bahwa kala itu masyarakat Malangraya masih cukup kuat menganut ajaran pra-Islam. Gambaran yang demikian sangat mungkin berlaku di daerah Batu. Pada sisi lain legenda lokal terkait dnegan para pesiar Islam di Batu, seperti legenda tentang Pangeran Rohjoyo di Bumiaji, Babad Desa Punten, dan adanya unsur nama ‘Mataram” di dalam sebutan ‘Masayu Sinto Mataram” memberi indikasi tentang adanya pengaruh Islam di Batu dalam hubungannya dengan Kasultanan Mataram. Pemakaian nama gelar ‘pangeran’ oleh Rohjoyo memperlihatkan bahwa masa hidupnya adalah periode Mataram, sebab pada masa Hindu-Buddha gelar (honorifx prefix) “pangeran” belum dikenal. Bila benar bahwa mereka hidup semasa dengan kasultanan Mataram, pertayaannya adalah “mungkinkah konteks peristiwanya bisa dihubungkan dengan Mataramisasi yang tengah berlangsung di Jawa Timur?”.

Para pengikut Trunojoyo, Untung Surapati serta Pangeran Diponegoro yang selamat dari pertempuran melawan koalisi Kompeni Belanda (VOC) dan penguasa kasultanan Mataram tinggal bersembunyi dan menetap di Malangraya. Pada sejumlah tempat di Malang Barat, Tengah maupun Selatan, mereka dikisahkan sebagai tokoh yang berjasa dalam mensiarkan Islam di tempat-tempat keberadaannya. Terkait dengan itu, perlu difikirkan tentang kemungkinan bahwa diantara tokoh-tokoh penyebar Islam di daerah Batu itu berasal dari mereka, khususnya mereka yang selamat dari gempuran pasukan Kompeni Belanda (VOC) pimpinan Kapten Francois Tack terhadap benteng Trunojoyo terakhir di bukit Selo Kurung (daerah Ngantang). Jarak antara Batu-Ngantang yang tak terlampau jauh menjadi famtor yang layak dipertimbangkan untuk kemungkinan pengungsiannya ke daerah Batu. Selain itu, dengan didudukinya pusat wilayah Malang oleh Kompeni Belanda pada tahun 1767, bukan tidak mungkin para pejuang yang bergabung dengan anak cucu Untung Surapati melarikan diri ke arah barat dan timur, yaitu ke Batu dan Tumpang – Poncokusumo, karena daerah ini diperhitungkan olehnya sebagai tempat yang aman. Bukan pula tidak mungkin bahwa terdapat eks lasykar Diponegoro yang memasuki dan kemudian tinggal di Batu. Contoh serupa dijumpai di Singosari bahwa mbah Hamimuddin yang dilegendakan sevagai menjadi pendiri Pondok Bungkuk adalah eks lasykar Diponegoro yang menetap di sini setelah menikah dengan wanita setempat pada tahun 1930.

Sejauh ini, jika berbicara mengenai Islamisasi di daerah Batu, nama “Mbah Mbatu” yang senantiasa disebut untuk kali pertama. Nama tersebut bukanlah nama dirinya, sebab legenda lokal mengemukakan bahwa nama dirinya adalah ‘Abu Gonaim”. Unsur sebutan “mbah” adalah kata sebut, yang menggambarkan ketuanya, yakni seseorang yang hidup pada masa silam. Sedangkan unsur nama “Mbatu” dan “Batu” menunjuk kepada tempat ia tinggal. Sebagai nama desa, semenjak masa Hindu-Buddha, khususnya pada masa Majapahit, nama “Batu” telah dikenal luas. Apabila memperhitungkan penyebutannya di dalam prasasti Jiu II (1486 M), maka amat beralasan untuk menyatakan bahwa “desa di (deseng = desa ing)” Batu yang disebut di dalamnya itu terletak pada seberang utara Brantas, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Bumiaji.

Nama “Mbah Batu” beserta varian sebutannya, yaitu ‘Mbah Mbatu” atau “Mbah Wastu”, adalah sebutan bagi seorang yang berasal dari Desa Batu. yakni ketika Batu masih berupa sebuah desa. Tafsir demikian sesuai dengan lokasi makamnya, yaitu di dukuh Banaran Desa Bumiaji. Di desa kuno Batu itulah beliau tinggal dan melakukan siar Islam. Salah seorang santrinya berasal dari desa tetangga, yaitu di Desa Punten, dengan nama Bambang Selo Utomo. Desa kuno Batu, yang kini menjadi Desa Bumiaji, adalah desa cikal-bakal yang sebagian besar warganya beragama Islam. Nama “Bumiaji”, baik sebagai nama desa maupun nama kecamatan baru digunakan lebih kemudian. Nama ini menjadi pengganti bagi nama “Desa Batu” yang arkhais. Banyak orang lupa atau tak mengetahui bahwasanya semula Batu adalah nama desa. Sepengetahuannya, Batu adalah nama kecamatan dan akhirnya (sejak tahun 2001) menjadi nama kota.

Suatu pendapat yang menyatakan bahwa nama “Bumiaji” berasal dari dua kata, yaitu bumi (tanah) dan aji (berharga). Menurut pendapat ini sebutan tersebut menunjuk kepada keberhargaan tanahnya, yaitu tanah yang subur, tanah yang berharga. Pendapat lainnya menyatakan bahwa nama “Bumiaji” merupakan pergeseran dari nama kunu “Bhumihaji”, suatu peristilahan yang terbentuk dari dua kata, yaitu kata “bhumi´(tanah, daratan, bumi)” dan “haji (raja, keluarga raja, pangeran) (Zoetmulder,1995:141, 327)”. Penggantian sebutan dari “Desa Batu” menjadi “Desa Bhumihaji”, dan kemudian menjadi “Bhumihaji” bisa jadi terkait dengan keberadaannya pada masa lalu, yaitu sebagai daerah yang pernah memperoleh anugerah status perdikan (sima) dari raja (haji), baik dari raja Hayam Wuruk ataupun Sri Girindrawarddhana. Terlepas dari pendapat mana yang benar, di balik nama “Bumiaji” terkandung makna keberhargaan, baik karena kesuburan tanah beserta hasil buminya, atau lantaran status istimewa yang pernah disandang pada masa lalunya sebagai desa perdikan (Cahyono, 2008:264).

C. Sejarah Islam Batu dalam Konteks Historis Jawa

Beberapa pemuka masyarakat setempat mengisahkan bahwa Abu Ghonaim atau disebut juga ‘Kyai Gubug Angin’ adalah eks laksykar Pangeran Diponegeoro. Jika benar demikian, berarti kehadirannya ke Batu baru sekitar tahun 1830-an. Abu Ghonaim berasal dari wilayah Jawa Tengah, yang datang ke Jawa Timur dan akhirnya menetap di Batu sebagai pengikut Diponegoro yang setia. BeliaU dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya di Jawa Tengah untuk hijrah ke kaki Gunung Panderman guna menghindari pengejaran dan penangkapan oleh serdadu Belanda (Kompeni). Akhirnya, banyak warga sekitarnya yang berguru, menuntut ilmu serta belajar agama Islam kepada Mbah Wastu.

Suryo Kusuma yang berjejuluk ‘Mbah Banter’ juga dilegandakan sebagai salah seorang eks lasykar Diponegoro, yang berjasa menjadi pembuka (sing mbabad) Desa Sisir — nantinya menjadi Kepala Desa Sisir, dan seterusnya diganti oleh tujuh keturunnya. Serupa dengan legenda itu, warga Temas meyakini bahwasanya sing mbabat Deso Temas adalah Mbah Bener, yang juga eks lasykar Diponegoro. Apabila benar demikian, berarti kehairannya bersamaan waktu dengan kedatangan Abu Ghonaim di Bumiaji. Nama dirinya adalah ‘Raden Mas Wiryo Kusumo’, dengan nama julukan ‘Singojoyo”. Sebelum menetap di Batu, ia pernah singgah tak begitu lama di Daerah Ponorogo, sehingga ada pendapat bahwa muasalnya dari Ponorogo. Pendapat lain mengatakan asalnya dari Buntaran, pada wilayah Mataram di Jawa Tengah. Singojoyo bermaksud menata dusun Temas dan memperbaiki akhlak masyarakat saat itu. Oleh karena ucapan dan arahannya diyakini membawa kebenaran (bener), maka julukannya adalah “Mbah Bener”. Pendapat lainnya menyatakan bahwa sebelum Mbah Bener datang ke Temas, telah ada seorang pengembara wanita yang datang lebih dulu, yang disebut Nyai Sendang Tuwo.

Terdapat pengembara lain berjejuluk ‘Den Mas’. Sebutan ‘Mas’ merupakan akronim dari ‘Mas’ud Jaelani’, yang kini dikenal dengan “Mbah Mas”. Pusaranya berada di RT 5 RW 6 Dusun Besul Kelurahan Temas. Perihal tokoh yang bernama Masayu Sinto Mataram, legenda lokal di Desa Ngaglik menuturkan bahwa ia adalah seorang wanita yang tinggal di desa ini bersama suaminya. Menilik unsur namanya ‘…….. Mataram’, tergambar dengan jelas bahwa ia atau suaminya bertalian dengan Kasultanan Mataram. Mulanya Beliau membuka hutan (babat alas) dan menghuni sebuah gubuk, satu-satunya dimiliki dan dibangun di posisi paling atas, sehingga disebuti dengan ‘rumah angglik-angglik’, dan sampai saat ini masyarakat menyebutnya dengan ‘Ngaglik’.

Tokoh sejarah lainnya yang hidup pada masa perkembangan Islam di Batu adalah Matsari. Nama Jawa ini diadaptasi dari bahasa Arab “Muhammad Asy’ari”. Ia berjasa mendirikan sebuah tempat pendidikan berupa pesantren, yang pada akhirnya nama dirinya dijadikan nama sebuah Dusun “Macari”. Dahulu orang sering menyebutnya dengan Dusun “Pesantren”. Disamping itu. terdapat tokoh yang dilegendakan sebagai membuka (bedah krawang) Dusun Srebet, yaitu Mbah Ageng Maimunah Mayangsari, yang pusaranta berada di Jl. Cempaka Gg. Pesarean.

Demikianlah kilas sejarah Islam di daerah Batu. Meski historiografi ini hanya sumirm jauh dari detail – lantaran keterbatasan sumber data yang sampai kepada kita, namun apa yang telah terpapar diatas seolah menjadi ‘secercah sinar untuk menerangi remang sejarah Islam di daerah Batu. Lewat “Ekspedisi Panatagama”, yang diusung oleh Malang Post pada Edisi Ramadhan tahun 2019 ini, kesejarahan Islam di Malangraya, tidak terkecuali pada daerah Batu dicoba untuk terangi. Semoga membuahkan kefaedahan, Nuwun.

Sengkaling, 2 Juni 2019, Griya Ajar CITRALEKHA

Continue Reading

JAMAN KUNO

SWAYAMBARA, Ilustrasi Susastra Jawa Kuna tentang Pemberian Kesempatan bagi Perempuan untuk Tentukan Pilihan Sendiri

Avatar

Published

on

A. Makna Istilah Konseptual “Swayambara”
Dalam bahasa Indonesia terdapat kosa kata “sayembara”, yang berarti : perlombaan dengan memperebutkan hadiah (KBBI, 2002:1005). Kata jadian “menyayembarakan” menunjuk kapada : memperlombakan. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Jawa Baru “sayemboro”, yang juga berarti : perlombaan untuk perebutkan hadiah (Mangunsuwito, 213:430). Begitulah, sayembara (bahasa Jawa “sayemboro”) acapkali diartikan sebagai perlombaan, uji ketrampilan atau ketangkasan yang diikuti oleh sejumlah orang untuk memperbutkan hadiah. Akhir-akhir ini sebutan “sayembara” lebih jarang dipakai daripada kata “lomba atau perlombaan”. Istilah lain yang disinonimartikan dengannya adalah “festival, kejuaraan, pertandingan, kontes” atau juga “kongkros’.
Dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terdapat kata yang amat dekat dengan itu, yaitu “swayambara” — diserap dari bahasa Sanakreta, yang secara harafiah berarti : pilihan sendiri, atau pemilihan suami oleh seorang putri dalam suatu pertemuan umum para peminang (Zoetmulder, 1995: 1172). Swayambara adalah suatu pesta, seperti tergambar dalam kata “kaswayambaran”, yang  menunjuk pada pesta swayambara. Istilah ini telah kedapatan di dalam kitab Udyogaparwa (78, 141, dan 144), kakawin Ramayana (2.49), serta Sumanasantaka (15.9, 23.2 dan 5). Tempat untuk penyelenggaraan swayambara dinamai “swayambarasabha’ , dimana penulisannya acap didahukui oleh kata “ring (di)”, seperti tergambar dalam kalimat “byaktanaku mamenanga ring swayambarasabha (Sumanasantaka l 23.5)”.
Dalam swayambara, yang dipentingkan adalah pemberian hak atau kesempatan dari seseorang terhadap orang lain. Misalnya, dari orang tua kepada anak perempuannya untuk menentukan pilihan sendiri calon suaminya. Unsur sebutan “swaya” atau “swa” menunjuk pada kemandirian atau otonomitas seseorang dalam menentukan pilihannya — termasuk otonomitas perempuan dalam memilih dan menentukan calin suaminya.  Oleh karena itu, tidaklah mutlak bahwa dahulu colon suami bagi anak perempuan ditentukan sepenuhnya oleh orang tua dengan model “kawin paksa” atau “perjodohan paksa”. Memang, ada kalanya dilakulan penjofohan paksa, sehingga sang putri memilih untuk “kawin lari” dengan kekasih, seperti tergambar di dalam kakawin Kresnayana, Gatotkacasraya maupun kidung Panji Margasmara. 
Justru, konon pada kalangan bangsawan dalam masa Hindu-Buddha ada pemberian kesempatan kepada seorang putri untuk memilih-menentukan sendiri suaminya, sebagaimana dikisahkan oleh sejumlah susastra lama. Ayah seorang wanita bangsawan, yakni raja di suatu kerajaan adakan swayambara untuk anak perempuannya jelang pernikahannya, sepwrti tergambar pada kalimat “bangku gumayawaken kaswayambarangku (ayahku membuatkan sayembara untukku)”.  Dalam perhektan ini, para ksatria dari berbagai negeri datang dan turut serta sebagai peminang untuk turun berlaga di dlam suatu pertandingan untuk memperebutkan sang putri raja. 
Bentuk kegiatan sayembara (sayemboro) dan swayambara memiliki kemripan, yaitu berupa lomba, uji atau adu ketangkasan, ketrampilan ataupun kepiawian dari sejumlah orang. Namun, dalam konteks swayambara yang pokok adalah pemberian tentukan piluhannya sebdiri. Adapun lomba, adu, uji atau kontestasi hanyalah ikhtiar, cara (metode, teknik) dan instrumen di dalam kerangka “penentukan pillihan secara mandiri (otonom)”  Adapun pada sayembara, penekanan makna adalah pada lombanya, yang berarti lebih bersifat instrumentalis. Swayambara dengan demikian merupakan jamiman bagi perempuan untuk menentukan pilihan sendiri dalan hal calon suaminya. 


B. Aneka Kisah Kuno tentang Swayambara
Dalam susastra tekstual, visusal ataupun oral, kisah-kisa lama mengenai swayambara cukup banyak didapati. Hal ini memberi kita petunjuk bahwa konon pernikahan untuk seorang putri raja, yang didahului dengan penyelenggaraan swayambara, merupakan “model pra-pernikahan” di kalangan bangsawan. Pada kesempatan itu, sang putri secara langsung melihat, menimbang dan akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada salah seorang pria yang tampil sebagai “sang juara atau pemenang lomba” untuk mendapatkan dirinya. Ketangguhan, kehandalan, ketangkasan, ketrampilan, kepiawian, ataupun kesaktian lebih darinya dibanding para peserta swayambara lain adalah parameter pilihan sang putri bagi calon suaminya. Bagi para peserta swayambara, upaya total untuk dapat tampil sebagai pemenang, tak sekedar prasyarat guna mendapatkan sang putri, namun lebih dari itu sebagai pembukti superlatif, adu gengsi, adu unggul, dan kejayaan negerinya.  
Swayambara merupakan pemberian kesempatan oleh seorang ayah kepada putrinya yang tengah memasuki fase berkeluarga (greahastasrama), yakni untuk mendapatkan “pria terpilih” sebagai calon suaminya. Menentukan suami tidak seperti “beli kucing dalam karung” , namun suatu pilihan bijak-tepat diserrtai dengan bukti empiris. Dalam hal ini, swayambara adalah suatu media uji, atau semacam “feed and proper test” pada masa kini dalam bentuk seleksi untuk mendapatkan pilihan tepat. Ketika swayabara berlangsung, sang putri srbagai penseleksi menyaksikan sendiri secara langsung alternasi-alternasi pilihannya tatkala berlaga dalam suatu lomba. Pada sisi lain, para peserta swayambara dapat seara fair mengukur kemampuan dirinya dibanding para paserta lain. 
Wiracarita Ramayana mengkisahkan bahwa Sru Rama dari kerajaan Kosala tampil sebagai “sang juara” dalam lomba “merentang busur panah (gandewo) pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa” di istana Mithila (kadatwan Wideha) yang diperintah oleh raja Janaka sebagai ayah angkat Sita. Atas kemenangannya itu, Rama terpilih sebagai suami Sita. Swayambara sebagai media uji untuk mendapatkan putri juga terkisah dalam wiracarita Mahabharata, yaitu swayembara guna mendapatkan Dewi Draupadi (Dropadi, Drupadi), yakni puteri Drupada, raja pada kerajaan Pancala  
Swayambara mendapatkan Draupadi dikisahkan secara unik dalam kitab Mahabharata. Kesertaan  ksatria Pandawa dalam swayambhara itu terjadi ketika mereka mengunjungi Pancala dengan menyamar sebagai Brahmana. Swayambara diikuti para kesatria terkemuka dari penjuru Bharatawarsha (India Kuno), temasuk Karna dan Salya. Karna berhasil memanah tepat sasaran, namun Draupadi menolaknya, dengan alasan ia tak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan sangat kesal. Kemudian Arjuna tampil dan panahnya mengenai sasaran dengan tepat. Sesuai dengan ketentuan, Arjuna berhak mendapatkan Dropadi. Namun peserta lain menggerutu, karena pemenangnya adalah seorang brahmana, karena peserta swayambara memginginkan swayambara hanya diikuti oleh ksatria, sehingga terjadi keributan. Arjuna dan Bhima bertarung menghadapi ksatria peserta swayambara, sedangkan Yudistira, Sakula dan Sahadewa pulang untuk menjaga Kunti. Kresna yang turut hadir dalam swayambara itu tahu siapa sebenarnya para brahmana tetsebut, dan mengatakan kepada peserta bahwa brahmana pemenang lomba lah yang berhak mebdapatkan Dropadi. 
Setelah keributan usai, Arjuna dan Bhima pulang dengan membawa Dropadi. Arjuna dan Bhima menghadap dan mengatakan kepada ibu Kunti bahwa mereka membawa hasil meminta-minta (sesuai akitifitas Brahmana). Kunti menyuruh bagi rata apa yang mereka peroleh. Namun, ia terkejut ketika tahu bahwa yang diperoleh bukan hanya hasil minta-minta melainkan juga seorang wanita. Kunti tak mau berdusta, maka Dropadi pun menjadi istri dari Panca Pandawa.
Kitab Mahabharatta juga mengkisahkan tentang swayembara di Kerajaan Giyantipura, yang diikuti oleh Bhisma (Dewabrata). Bhisma turut  bukan untuk dirinya, melainkan buat adik tirinya, yaitu Wichitrawirya — putra Santanu dan Satyawati, yang kala itu belum nikah. Acara dilaksanakan oleh raja Darmahumbara untuk mencari calon suami bagi Amba, Ambika maupun Ambalika. Swayambara berupa perang tanding antara putra-putra bangsawan atau para pangeran. Pemenangnya dianggap pantas mendapatkan ketiga putrinya. Peserta datang dari berbagai kerajaan di Hindustan dan sekitarnya. Mereka cemas dan takut menanggung malu jika gagal, terkebih lagi ketika melihat Bhisma turut hadir. Bhisma dikenal sangat sakti dan pandai gunakan segala macam senjata. Selain itu, kesetiaan dan keteguhan hatinya membuat semua orang segan kepadanya  Semula banyak yang sangka bahwa Bhisma datang untuk menyaksikan swayanbara, karena semua tahu bahwa Bhisma bersumpah tidak akan pernah menikah. Padahal, Bhisma ikut demi adik tiriya. Ketiga putri Darmahumbara yang memilih calon suami itu sama sekali tidak hiraukan kehadiran Bhisma, pemuda tua yang tidak menarik. Bhisma yang merasa diejek dan dipermainkan menjadi berang. Para ksatria yang hadir ditantangnya. 
Satu persatu mereka berperang tanding melawan Bhisma, dan kalah semuanya  Segera setelah itu Bhisma menyambar ketiga putri jelita tersebut untuk dilarikan dengan keretanya menuju ke Hastinapura. Belum jauh dari arena sayembara, Bhisma dihadang Citramuka, raja Swantipura, yang menantangnya bertarung nemperebutkan Amba, putri tertua, karena ia telah menjalin kasih dengannya. Citramuka takluk dan menyerah. Ketika Bhisma mengangkat senjata dan hendak membunuhnya, Amba pun mencegahnya. Atas permintaan itu, Bhisma urung membunuhnya. Kemudian Bhisma tinggalkan Citramuka, lanjut perjalanan ke Hastinapura bersama ketiga putri Giyantipura untuk dihadiahkan pada adik tirinya. 
Kisah tentang swayambara juga didapati dalam kakawin Sumanasantaka, puisi epik abad XIII Masehu karya pu Monagna di kerajaan Kadiri. Susastra ini adalah gubahan ke dalam bahasa Jawa Kuna terhadap mahākāvya Raghuvaṃśa berbahasa Sanskreta karya Kalidasa mengenai Pangeran Aja dan Putri Indumati. Dikisahkan bahwa Harini dilahirkan di Widarbha sebagai Indumati, puteri raja di Krethakesika. Sang puteri adalah kesayangan seluruh peghuni keraton dan menyenangkan setiap orang. Ketika ia mencapai usia 12 tahun, sang raja jatuh sakit, kemudian meninggal. Sang Ratu mengikuti suaminya ke alam baka. Penggantinya adalah Bhoja, kakak Indumati  Di bawah pemerintahan raja muda ini , negara menikmati kemakmuran besar. 
Beberapa tahun kemudian tiba saat Indumati dinikahkan. Ia diberitahu kakaknya mengenai rencana untuk adakan swayambara. Raja-raja tetangga menerima undangan, tak terkecuali raja Raghu di Ayodhya. Raghu mengijinkan putranya, yakni Aja, untuk ikut swayambara. Aja berangkat dengan iringan besar. Ketika sampai di sungai Narmada, rombongan diserang oleh gajah yang muncul dari dalam air. Aja menyerang dengan panahnya. Seketika ituvpula gajah menjelma menjadi widyadara Priyambada, putera raja Citraratha.  Wujudnya sebagai gajah  akibat kutukan Ki Patangga. ia menerima ramalan bahwa dirinya akan lepas dari kutukan setelah menerima anak panah pangeran Aja. Sebagai tanda terima kasihnya ia memberikan anak panah  sakti Sangmohana. Rombongan lanjut perjalanan, dan akhirnya sampai di Widarbha. Ketika raja Bhoga mendengar bahwa Aja telah datang, meteka disongsong dan diantarkan ke penginapan. Swayambara dilaksanakan pada esok harinya.
Kota penuh dengan orang-orang dalam suasana pesta swayambara. Diantara mereka terdapat raja Magadha, para pemimpin Awangga dan Awanti, Anupa, Susena, Hemanggada, Pandya, serta Aja. Masing masing duduk di balenya sendiri.Rakyat sepanjang jalan mendengar ramalan bahwa kecil kemungkinan yang akan terpilih adalah pangeran Aja. Sang puteri tiba ditengah-tengah tempat pertemuan. Undangan terpesona akan kecantikannya yang luar biasa. Aja pun terkesan, tapi tak ungkap perasaannya. Di muka bale Angganatha, putri Indumati agak menjauh dan tidak mendekat. Ia bersandar pada lengan Jayawaspa. Sang  putri tidak memberi respon pada sang pelamar. Alih-alih Indumati mendekati Aja, dan dalam hati ia menjatuhkan pilihan antaran kekuatan ajaib dimana mereka berdua saling tertarik. Indumati mengambil kalung manikam dari lehernya, dan kemudian meletakkannya pada leher Aja sebagai tanda pilihannya. Bagi para pelamar lainnya inilah bukti terakhir kekelahan mereka, dan meluaplah rasa marah dan dongkopnya.
Kedua kekasih itu meninggalkan pagelaran bersama-sama dalam satu tandu dan segera upacara pernikahan dimulai dengan segala upakaranya. Di sebuah dusun di pegunungan, Aja diberitahu oleh para tetua bahwa raja-raja yang ditolak oleh Indumati akan menculik mereka berdua. Dengan hati-hati rombongan Aja siap bertempur. Satu persatu menyerang Aja, namun seluruhnya dapat dilumpuhkan. Para dewa dan penghuni sorga menyaksikan dari atas. Akan tetapi, ketika Aja hendak memakai anak panahnya yang bernama Rudra, para dewa merasa gelisah. Atas nama mereka, Narada mendekati Aja untuk tidak memakai senjata dasyat itu. Narada menganjurkan agar Aja menggunakan senjata yang baru diterimannya dari Priyambada, yaitu panah Sangmohana. Lalu Aja beserta rombongan meneruskan perjalanan, yang tak terasa telah atu bulan meninggalkan Widarbha. Akhirnya mereka tiba di Ayodhya. Raja Raghu dan permaisurinya sangat senang terhadap dengan Indumati, sang menantu. Tak lama kemudian raja Raghu mengundurkan diri, dan menetapkan agar putrannya naik tahta. Raghu beserta abdinya pergi ke hutan untuk mendirikan patapaan. Beberapa waktu berselang  ia meninggal dunia. Indumati melahirkan putra, yang diberi nama Dasaratha. 


C. Menang- Kalah dalam Swayambara
Kisah-kisah terpapar diatas hanya beberapa dari banyak kisah dalam susastra ltekstual masa lalu perihal swayambara. Tergambar bahwasanya swayambara dilselengkarakan oleh ayah atau bisa juga oleh kakak — yang menjadi penguasa di suatu kerajaan untuk anak atau adik wanitanya. Adapun peserta swayambara adalah para kastria atau pangeran muda, yang kedertaannya untuk mendapatkan calon istri– kecuali Bhisma yang turut swayembara untuk saudara tirinya. Kisah unik didapati dalam kitab Mahabharata, dimana Dropadi yang didapat sebagai buah kemenangan di dalam suatu swatambara tidak dijadikan istri oleh seseorang yang menjadi pemenang suatu swayambara, melainkan dijadikan istri bersama kelima anggota keluarga Pandawa (Pendowo Limo).
Terdapat beragam media uji dalam swayambara. Selain perang tanding, uji kepiawian berperang atau bahkan kesaktian seperti pada swayamhara untuk Amba-Ambika-Ambalika, ada pula media uji berupa merentang busur panah (gandewa) sakti seperti pada swayambara untuk Sita, uji ketepatan mengenai sasaran dalan menanah seperti pada swayambara untuk Dropadi, atau cukup dengan sang putri kalungkan manikam ke leher pria pilihannya seperti pada seayambara untuk Indumati. Pada contoh kasus swayambara untuk Dewi Sita, Dropadi maupun untuk tiga bersaudari Amba-Ambika-Ambalika, uji dalam swayambara itu lebih menyerupa lomba, yakni adu kesaktian, ketangkasan, kepiawian atau kehadalan. Adapun dalam swayambara untuk Indumati, terlihat hak prerogatif sang putri untuk tentukan sendiri salah seorang peserta sebagai proa terpilih untuk dijadikan suami. Meskipun swayambara untuk Dropadi menggunakan uji tepat sasaran dalam memanah, namun Karna yang tampil sebagai pemenang ternyats tidak secara otomatis menjadi pria terpilih sebagai calon suami, sebab ia hanya anak seorang sais.   Alih-alih Dropadi menjatuhkan pilihannys kepada Arjuna, yang baru tampil setelah Karna sebagai seorang pemanah handal yang anak panahnya tepat mengenai sasaran. 
Dalam suatu swayambara, terkadang pihak yang kalah tidak “legowo” menerima kekalahannya. Kakawin Sumanasantaka mengkisahkan bahwa raja-raja yang ditolak oleh Indumati di dalam swayambhawara akan menculik mereka berdua (Aja – Indumati). Satu persatu menyerang Aja, namun seluruhnya dapat dilumpuhkan. Tidak mudah untuk menerima kekalahan. Padahal, menang – kalah merupakan konsekuensi logis  dalam  swayambhara. Sebagaimana arti istilah dari “swayambhara”, yakni memilih sendiri, sang putri (misal Indumati) memiliki hak prerogatif untuk tentukan sendiri pulihannya. Indumati jatuhkan pilihan pada Aja, namun ara pederta lain tak bisa menerima ketdakterpilihannya itu. Demikianlah, swayambhara yang memuat rivalitas terkadang membawa ekses, yaitu tidak legowonya pihak yang kalah.


Sangkaling, 24 Mei 2019Griya Ajar CITRALEKHA

Continue Reading

JAMAN KUNO

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA

Avatar

Published

on

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA : Koco Brenggolo Kasus Hukum pada Kisah Pencurian Ken Angrok

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paparan Kisah Pencurian oleh Ken Angrok

Tulisan ini mengangkat beberapa kisah tentang pencurian yang dilakukan oleh atau dituduhkan kepada Ken Angrok. Walau tak semua kisahnya secara eksplisit berkenaan dengan korupsi sebagaimana modus korupsu sekarang. namun terdapat siratan-siratan pesan yang berkenaan dengan “fenomena pencurian”. Kisah-kisah itu dapat dijadikan contoh kasus, mengingat bahwa pada dasarnya korupsi adalah suatu varian dari sikap tdan perilaku “maling (pencurian)”.

Sebagai seorang manusia biasa, “fase pencuri” pernah dilalui oleh Ken Angrok, sebagai suatu “episode gelap” dalam balada (perjanan pajang kehidupannya) — tentu selain “episode terang” yang berisi kebaikan- kebaikannya. Pencurian adalah bagian dari kemanusiaan manusia, yaitu sisi gelap kehidupan manusia Dapat difahami bila Angrok terlibat dalam sejumlah tindakkan pencurian, mengingat bahwa ayah angkatnya yang pertama, yakni Lembong, adalah pencuri ulung. Hingga usia remaja kecil, Ken Angrok dibesarkan d lingkungan keluarga pencuri ini. Dikisahkan oleh Pararaton “… Lambat-laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong …. ” (Marduwarsito, 1965:48-49).

1. Contoh Kasus Pertama

Menurut pengkisahan di dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton, ketika Angrok masih seusia “rare sapangangon (anak gembala)” , ia bekerja pada yang dipertuan (tuha) Desa Lebak sebagai
penggembala sepasang kerbau miliknya. Angrok sempat dituduh — meskipun belum terbukti akan kebenarannya — melakukan penggelapan atas kerbau yang digembalakan. Akibat tuduhan buta itu, Angrok kecil terpaksa meninggalkan rumah, sedangkan ayah angkatnya (Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok) terpaksa menanggung beban baya atas hilangan ternak gembalaa itu.

2. Contoh Kasus Kedua

Kisah pencurian lain yang dilakukan Ken Angrok terbilang “unik”. Kejadiannya ketika Angrok dan tuan Tita — putra tuan Sahaja, kepala desa di Sagenggeng — menjadi murid (sisya) dari guru Jangan di Sagenggeng. Kala itu pohon jambu di halaman rumah Janggan tengah berbuah lebat dan nyaris masak total. Angrok berkeinginan kuat (bahasa Jawa Baru disebut “kemecer”) untuk mencicipi. Namun, Janggan yang disiplin ketat melarang keras mengambil sebelum jambu-jambunya masak benar. Meski kemecer, sebagai murid yangi taat kepada guru, dalam kondisi sadar Angrok menekan keinginannya sedemikian rupa unuk tak memetik barang sebuahpun.

Yang ada dalam kondisi “sadar” dan yang terjadi ketika berada “dibawah sadar’ bisa saja berbeda. Dalam kisah ini, keinginan kuat yang ditekan- tekan menyeruak pada alam bawah sadarnya. Tengah malam ketika Angrok tertidur, keluar amat bsnyak kelelawar-kelelawar (tepatnya codot) dari ubun-ubunnya, yang lantas menyerbu buah jambu milik Janggan. Setelah kenyang menyantap buah jambu, rombongan kelelawar kembali ke diri Angrok juga lewat ubun-ubunnya manakala ia masih tertidur lelap.

Pagi harinya, betapa terkejut hati Janggan demi melihat sisa jambu berserakan — biasanya codot hanya memakan bagian ujung jambu, di bagian yang telah matang dan enak, separo dibawahnya dibuang — pertanda ada pesta pora semalaman. Kejadian yang demikian belum pernah sekalipun berlangsung sebelumnya. Oleh sebab itu muncul syakwasangka bahwa pencuri jambunya adalah murid barunya, yakni Angrok. Tentu saja Angrok tak mengakui tuduhan itu, sebab semalaman ia lelap tidur. Namun Janggan tetap menjatuhkan sangsi kepadanya. Angrok dilarang untuk tidur di dalam pondok — tipe pondok kuni tanpa dinding penutup,. Oleh karena itu, Angrok tidur di atas tumpukan jerami kering untuk pembuatan atap.

Janggan baru menyadari kesalahan tuduhannya di tengah malam berikutnya. Pada tengah malam secara diam-diam guru Janggan ke luar rumah memantau jejadian guna mencari bukti bagi tuduhannya. Janggan heran tatkala melihat sesuatu yang bernyala (bercahaya terang) dari tumpukan jerami kering, yang dukiranya tengah terbakar. Rupa-rupanya, yang bernyala itu adalah sosok Angrok. Lebih heran lagi ketika saksikan kelawar berduyun- duyun keluar dari ubun-ubun Angrok menyerbu buah jambunys. Bukan sosok fisik dari Angrok yang mencuri jambu, namun “keinginannya” yang berwujud codot tatkala berada di alam bawah sadar (tidur)”. Dengan fakta ini, Janggan persilahkan Angrok pada malam berikutnya untuk tidur kembali di dalam pondok, bahkan kelak diizinkan makan jambu sepuas-puasnya ketika telah benar-benar masak.

3. Contoh Kasus Ketiga

Peristiwa pencurian lainnya yang dilakukan oleh Angrok adalah ketika ia dalam persembunyian di Desa Luki guna menghindari kejaran tentara Akuwu Tunggul Ametung. Dalam kondisi amat lapar, terpaksa Angrok mencuri dan menyantap makanan kiriman (dalam istilah kini “ransum”) yang dikirim oleh istri petani dalam tabung bambu kepada suaminya yang tengah bekerja di sawah. Tidak seperti biasa, ketika pak tani hendak menyantap makanan kiriman yang ditaruh di pondok ladang didapati habis isinya. Nampaknya, diam-diam ada yang mencuri dan memakannya. Kejadian berulang di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, pak tani pun melakukan pengawasan untuk bisa menangkap basah pelaku pencurian. Akhirya berhasil, Ken Angrok tertangkap basah sebagai pencurinya. Namun uniknya, pak tani tidak memberi sangsi kepada si pencuri, sebaliknya justru meminta istrinya agar hari berikutnya membawa makan dua porsi dengan maksud yang seporsi diberikan buat Angrok yang memang kelaparan dan terpaksa mencuri makanan milik orang lain.

4. Contoh Kasus Keempat

Pencurian lain dilakukan oleh Ken Angrok di Desa Pamalanten. Lantaran ketahuan, maka Angrok melarikan diri dan dikejar warga. Menyadari dirinya terpepet dan takut tertangkap karena di mukanya mengalir sungai, maka Angrok pun memanjat pohon kelapa. Warga mengetahui dan mengepungnya di bawah pohon .Angrok yang telah berada di penghujung atas pohon kelapa diultimatum untuk turun, bila tidak mau maka pohon kelapa bakal ditebang. Mendengar ada ancaman ini, maka Angrok pun ketakutan, dan memohon Dewata untuk menolongnya. Meski Dewata beri perlindungan dengan meminta warga untuk tidak menangkap Angrok yang diakui sebagai “anakNya”, namun warga tetap bersikeras untuk menebang pohon kelapa. Ken Angrok tak kurang akal, diambilnya dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan semacam “media luncur” agar dapat menyeberangi sungai.

Sebenarnya masih ada kisah-kusah pencurian lain dalam kitab Pararaton, yang agar tak terlalu panjang, maka tidak seluruhnya dipaparkan pada tulisan ini. Misalnya, kisah “pencurian terhadap perempuan” yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung yang “membawa lari Ken Dedes untuk dinikahi” ketika ayahnya (pu Purwa) tengah tak ada di rumah. Lantaran pelakunya adalah “sang Akuwu”, pejabat tinggi di Tumapel, maka tindak pencurian (kawin lari) ini tidak tersentuh hukum.

B. Kasus Hukum Kisah Pencurian dalan Pararaton

Pada contoh kasus pertama, jika pun benar bahwa Angrok menggelapkan (dengan menjual secara diam-diam) sepasang kerbau milik tuha Desa …………. yang digembalakannya, pelaku kejahatan ini masih “dibawah umur”, sebab kala itu Angrok masih seusia “anak gembala”, yaitu remaja kecil. Selain itu, kurang cukup bukti untuk menetapkan bocah Angrok sebagai pelaku. Bisa jadi, lenyapnya sepasang kerbau itu dicuri orang, mengingat penggembalanya adalah anak kecil. Meski demikian, secara sepihak pemilik kerbau menuntut ganti rugi kepada orang tua Angrok, yang dalam hal ini adalah ayah angkatnya (“si pencuri” Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok). Terpaksa kedua orang tuanya beri ganti rugi meski amat berat untuk ukuran ekonomi mereka. Lantaran tuduhan itu, si kecil Angrok yang ketakutan terpaksa lari dari rumah dan menggelandang hingga akhirnya ditemukan dan diambil anak angkat oleh “si penjudi (bobotoh)” Bangosamparan.

Pada contoh kasus kedua tergambar bahwa pangkal tindak kejahatan, termasuk pencurian, adalah “pikiran”. Hal ini tergambar pada kekelawar-kelelawar pencuri jambu yang keluar dari ubun-ubun Ken Angrok. Selain itu, diperoleh ilustrasi bahwa tindak pencurian bisa terjadi manakala ada “iming-iming kuat” untuk mencuri. Pohon jambu yang tengah berbuah lebat dan nyaris matang adalah suatu kondisi yang “menggiurkan” bagi Ken Angrok untuk menyantap buah-buah jambunya. Meski ada keinginan kuat, namun lantaran terdapat aturan ketat dan tegas, dimana posisi seseorang musti patuh, maka keinginan yang tak sesuai dengan aturan itu mustilah ditekan sedemikian rupa hingga tak jadi dilakukan.

Dalam kisah ini, betapa pun Ken Angrok tergiur untuk memakan jambu miilik guru Janggan, lantaran sang Guru melarang keras untuk memetiknya sebelum benar-benar masak, maka dalam “alam sadarnya” Angrok tidak berani mengambil jambu. Namun, ketika ia berada “dibawah sadar (tertidur)”, tindakkan tersebut dilakukannya. Tindak kejahatan pencurian bisa berada dalam “tarik-ulur” antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang. Sebagai anak muda, Angrok bisa kendalikan alam sadarnya, namun alam bawah sadarnya ternya beda sikap dan tindakan.

Pada kasus ini, mulanya Janggan melakukan “syakwasangka”, yakni penuduhan yang kurang cukup bukti terhadap Angrok yang disabgkakan sebagai pelaku pencurian jambu, bahkan dijatuhi sangsi dengan dilarang tidur di dalam pondok. Namun, sebagai orang bijak (guru), Janggan pun mencari bukti untuk tuduhannya yang ia sadari kurang cukup bukti. Setelah melakukan telisik diam-diam pada tengah malam, diketahui sendiri (diperoleh fakta) bahwa pelaku pencurian bukan sosok fisik Angrok, melainkan non-fisiknya, yakni pikirannya, keinginannya. Baginya, pikiran tak bisa dikenai sangsi. Oleh karena itu, Janggan mencabut sangsi yang telah dijatuhkan sehari sebelumnya kepada Angrok, dengan persilahkan muridnya ini kembali boleh bermalam di dalam pondok. Bahkan, ketika jambu-jambuu telah benar-benar masak, Angrok diberi kesempatan untuk memakannya sepuas-puasnya.

Pada contoh kasus ketiga, tindak pencurian bisa dilakukan ketika seseorang di dalam kondisi terpepet, tak ada pilihan. Tindakkan Angrok mencuri ransum milik petani dilakukan karena ia tak kuasa menahan rasa lapar sebagai orang yang dalam persembunyian dari pengejaran. Pencuri makanan tentulah orang lapar. Angrok tertangkap basah ketika tengah mencuri ransum berkat pemantauan cermat dari petani terhadap pelaku tindak kejahatan. Petani yang memahami bahwa pelaku pencurian itu adalah orang yang terpaksa karena kondisi sulit (dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “kesrajat”), maka ia tidak menjatuhkan sangsi kepada Angrok yang menjadi pelaku pencurian terhadap makanannya. Bahkan sebaliknya, pada hari-hari berikutnya Angrok mendapat bantuan makan darinya. Dengan memenuhi kebutan mendesak dari pelaku kejahatan, maka pelaku terhindar dari tindakkan mengulangi kejahatannya.

Pada contoh kasus ke empat tergambar bahwa pada suatu waktu pelaku tindak kejahatan harus melarikan diri agar terhindar dari penangkapan. Namun, ibarat “sepanda-pandainys tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, Angkrok pun terpepet dalam pengejaran, karena pelariannya terhalang alran sungai. Ketika terdesak demikian, kadang pelaku kejahatan melakukan tindakan naif, seperti ketika Angrok memanjat pohon kelapa, yang tindakannya ini ketahuan warga yang mengejarnya. Ketika pengejarnya mengultimatum untuk memotong pohon kelapa yang fipanjati Angrok untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, tak terelakkan bahwa orang pemberani sekaliber Angrok pun ternyata ketakutan juga. Bahkan, Angrok memohon agar Dewata memberi perlindungan keselamatan. Hal lain yang tergambar dalam contoh kasus ini, dalam kondisi paling terpepet, masih saja ada akal pelaku kejahatan untuk dapat lolos dari penangkapan. Langkah cerdik Angrok dalam hal ini adalah segera mengambil dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan media bantu luncur guna menyeberangi sungai untuk terhindar dari pengejaran dan penangkapan.

C. Refleksi Historis atas Tindak Korupsi

Tindak pencurian, yang antara lain berwujud “korupsi” terdapat kapanpun dan dimabapun. Dalam sejarah Nusantara, sebagian etape hidup Angrok oleh Paparaton dikisahkan sebagai ‘pencuri (maling,)”. Berdarkan studi kasus dengan menelaah beberapa penggal mudahnya, diperoleh catatan-catatan sejarah penting untuk direnungi bersama, yaitu sebagai berikut:
1. Tindak kejahatan, termasuk pencurian dalam wujud korupsi berpangkal pada “pikiran yang korup”. Oleh karena itu, pemberantasan terhadap korupsi mencukup pula pemberantasan terhadap pikiran korup, yang perlu dilakukan dengan pembinaan mebtakuta.

2. Kondisi yang menggiurkan, termasuk adanya celah (kesempatan), menyediakan peluang untuk melakukab tindak jejahatan korupsi di waktu yang perhitungkan “aman” oleh pelaku untuk ttidak ketahuan (tertangkap).

3. Tindak kejahatan pencurian, termasuk juga korupsi, bisa terjadi lantaran si pelaku dalam kondisi terpepet, terlebih bila ia merasa tidak ada pilihan lain. Dalam kasus demikian, pemberian “kecukupan” dapat menghindarkan orang dari tindak kejahatan korupsi — meski tak ada jaminan untuk itu.

4. Terhadap tindak pencurian, termasuk juga korupsi, perlu menghindarkan terhadap tuduhan buta, syakwasangja, dan keburu jatuhkan sangsi padahal sesungguhnya kurang cukup bukti. Oleh karena itu, fajta-fakta hukum perlu menjadi unsur pembukti untuk menetapkan seseorang sebagai pencuri ataupun koruptor. Demikian pula tingkat sangsi atas perbuatannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seseorang diposisikan sebagai “salah tuduh” dan “terdera sangsi padahal dirinya bukan pelaku sesungguhnya atas suatu kejahatan”.

5. Walaupun jelas-jelas terbukti sebagai pelaku pencurian ataupun koruptor, sentiasa pelaku berupaya melarikan diri dan terhindar dari penangkapan. Jikalau terdesaj, maka terkadang dilakukan tindakan penyelamatan diri yang terkesan naif. Kalaupun sebelumnya pelaku merasa sebagai orang kuat, pemberani dan nyaris tak tersentuh hukum, namun ketika ada bukti kuat atas pelsku kejahatan dan berada dalam posisi amat terdesak, maka muncul rasa pengakuan atas ketidak berdayaannya untuk bisa lolos dari jerat hukum. Bahkan untuk itu. Ia memohon pertolongan dari pihak lain.

6. Dalam kasus tertentu atas tindak pencurian ataupun korupsi, bisa jadi ada “orang kuat” yang mampu mengkondidokan dirinya sebagai nyaris tak tersentuh oleh hukum meski terbukti jelas tindakkannya.

Demikian beberapa catatan yang disarikan dari contoh-contoh kasus hustoris di atas untuk ditransformasikan guna menelaah fenomena korupsi di masa sekarang. Semoga telaah yang mirip dengan “parodi historis” ini dapat memberi keteladanan untuk terhindar dari tindak kejahatan pencurian, termasuk varian wujudnya yang berupa tindakkan korupsi. Amin. Nuwun.

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019