Istana Kuning


Unjuk kenal sejarah Arsitektur Daerah

LATAR SEJARAH ISTANA KUNING KASULTANAN KOTARINGIN DI PANGKALANBUN

01

Pada tahun 1986 terjadi petaka, keraton Kutaringin terbakar. Lantas di lokasi istana terbakar yang dibangun pada tahun 1806, yakni semasa pemerintahan Sultan Kutaringin ke-9, dibangun ulang istana baru dan rampung tahun 2001. Kendati apa yang kita jumpai sekarang merupakan karya arsitektur baru, namun istana baru ini dibuat dengan mendasarkan pada bentuk keraton terbakar itu. Dengan demikian maka Kabupaten Pangkalanbun — nama arkhaisnya “Pangkalan Buun”, tetap memiliki dan terbukti konsisten pertahankan aset sejarah dan budaya daerah yang berupa arsitektur istana pada era Kasultanan Kutaringin.

02Nama “Kutaringin” merupakan perubahan sebutan dari nama sebelumnya (Masa Hindu-Buddha), yakni “Kutawaringin”. Di dalam bahasa Jawa Baru pun, kata “waringin” pada bahasa yang lebih tua acap mengalami pemendekan dengan melesapkan suku kata “wa” di muka, sehingga sebutan terhadapnya menjadi “ringin”. Dari sumber data tektual (prasasti dan susastra) berhasil diketahui bahwa Kutawaringin adalah salah sebuah kerajaan (nagari) di nusa (pulau) Tanjungnagara (Kalimantan). Teks awal yang memberitakannya adalah kitab Calon Arang, yang memiliki konteks kisah masa pemerintahan Airlangga (XI M). Dinyatakan oleh susastra ini bahwa Kutawaringin adalah satu diantara dua nagari di Kalimantan — selain “Kute (sebutan lain “Kutai”); dan bersama dengan sejumlah wilayah atau kerajaan lain di Nusantara, Kutawaringin dinaungkan di bawah kuasa perlindungan kerajaan Mataram.

03Pada masa Singhasari — utamanya pemerintahan Kertanegara — dan Masa Keemasan Majapahit, Kutawaringin juga ditempatkan dalam wilayah kekuasaannya. Kutawaringin dinyatakan tunduk bhakti kepada dua kerajaan besar di Jawa itu dalam konteks politik integrasi Nusantara, yakni doktrin “Cakrawalamandala Nusantara” dan “Hamukti Palapa”. Pada pasca Masa Hindu-Buddha, sama halnya dengan kerajaan-kerajaan lain di antero Nusantara, jenis sistem pemerintahan di Kutawaringin berubah dari “kerajaan” menjadi “kasultanan”. Kala itu Kutawaringin menjadi ajang perebutan kekuasaan politik dari sejumlah kasultanan di Nusantara, yakni Mataram semasa pemerintahan Sultan Agung dan Kasultanan Banjar. Disamping itu, Kasultanan Kutawaringin tak luput dari incaran penguasaan VOC.

04Demikianlah, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Kutawaringin merupakan kerajaan tertua di Kalimantan setelah Kerajaan Kutai pada Muara Kaman di Kalimantan Timur. Terhitung semenjak Era Kerajaan hingga pemerintahan Sultan ke-9 di Era Kasultanan, pusat pemerintahan berada lebih ke Hulu daripada Pangkalanbun, yaitu di Kotawaringin. Pada awal abad ke-19 pusat pemerintahan direlokasi ke arah hilir, agar lebih memiliki akses ke laut. Tepatnya di bentang area tertinggi di wilayah Pangkalanbun, pada DAS Sungai Purut — tak jauh dari pertemuan (tempuran) Sungai Purut dan Buun padamana terletak pangkalan (dermaga). Asal muasal sebutan “Pangkalanbun” sangat boleh jadi terkait dengan kenampakan geografis ini.

05Semenjak itu, istana yang berada di hulu (Kec. Kotawaringin Lama Kab. Kotawatingin Barat) oleh karenanya disebut dengan “Istana Lama”. Adapun sebutan untuk istana yang berada di hilir (Kab. Pangkalanbun) adalah “Istana Kuning”. Terkait dengan sebutan terakhir, pertanyaannya adalah “Mengapa unsur sebutan “kuning” dipergunakan, padahal nuansa kuning tidak hadir dominan pada arsitektur keratonnya?

06Berbeda dengan istana-istana kasultanan di culture area Melayu yang cenderung mencuatkan warna kuning, pada istana yang bernama “Istana Kuning” ini warna kuning tidak hadir pada dinding sisi luar dan dalam arsitektur istana, gazebo, pagar, gapura dan tiang bendera. Namun demikian, nuansa “kuning” — sebagai simbol identitas kebangsawanan ataupun kekuasaan eksekutif, menyemat pada hal lain, seperti aksesoris istana, beras kuning dalam ritus, janur kuning sebagai pembungkus pemangan (ketupat), nasi kuning, busana dan aksesoris, dsb.

07Bersama dengan tempat kediaman Pangeran Mangkubumi, yang tak jauh dari lokasi Istana Kuning, dua ikon untuk Kasultanan Kotaringin ini merupakan aset kultural yang penting di Pangkalanbun. Walau merupakan bangunan baru, rumah betang dapat juga dimasukkan sebagai unsur pemerkaya sajian arsitektur tradisi di daerah ini. Sementara rumah-rumah tinggal berbahan kayu dan berkonstruksi panggung khas Melayu kini telah langka bisa dijumpai di areal pusat Kabupaten Pangkalanbun. Sosio-kultural pada areal ini kini justru didominasi oleh orang-orang Jawa dan Madura. Sementara pengaruh politik dan budaya Banjar, yang konon dominan di Kasultanan Kotawaringin, kini jejaknya kian berkurang.

08Semoga ke depan Pangkalanbun sebagai suatu daerah yang tengah berkembang senantiasa mampu dan mau untuk mengekplorasi, mengkonservasi dan menjadikan khasanah budaya daerahnya yang menyejarah tersebut untuk membangun sosok kota yang beridentitas, berkaraker serta bermakna bagi khalayak.

Salam budaya bhumiputra ,
Nuswantarajayati”.

Pangkalanbun, 31 Juli 2016

09

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!