Connect with us

JAMAN KUNO

Pramuka

Avatar

Published

on

HBD “Pramuka Indonesia’, 14-8-2006

SIRATAN MAKNA LAMBANG ‘TUNAS KELAPA’ DAN NAMA ‘PRAJAMUDAKARANA’ DALAM JATIDIRI PRAMUKA INDONESIA

Oleh: M. Dwi Cahyono

Nama ‘Pramuka” dan lambang gerakan Pramuka ‘tunas kelapa’ telah begitu familer dalam diri manusia Indonesia. Bahkan semenjak masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Namun demikian, pernahkah dipertanyakan: mengapa Kepanduan Nasional Indonesia ini mengambil nama ‘Pramuka’ dan menjadikan ‘tunas kelapa’ sebagai lambangnya. Tulisan ini merupakan suatu telaah guna mengungkap makna di balik nama dan lambang itu. Tentulah pada tulisan ini adalah pemaknaan menurut pemahaman dari penulis, yang bisa jadi berbeda dengan pemaknaan yang konon dihayati oleh pemberi nama dan pembuat lambang itu, atau boleh jadi berlainan pula dengan pemaknaan para pembaca. Jikalaupun beda, tak apalah, setidaknya pemaknaan ini bisa dijadikan alternasi pemaknaan, yang siapa tahu menambah pemahaman kepada khalayak tentangnya.

A. Tunas Buah Kelapa sebagai ‘Muasal yang Bermakna’

Mengapakah ‘tunas kelapa’ dipilih sebagai simbol Kepanduan Nasional Indonesia?

01

Pohon kelapa yang tinggi-menjulang (nglercir) serta tegak-kokoh dalam menghadapi terpaan angin bermuasal dari tunas yang tumbuh-berkembang dari buah kelapa. Diameter batang pohon kelapa yang tinggi menjulang itu, sebenarnya terbilang tak besar. Namun demikian, mampu menyangga rimbunan dedaunan dan butiran-butiran buah di penghujung atasnya. Begitu pula, meski akarnya kecil-kecil dan tidak panjang menghujam dalam ke tanah – kategori ‘akar serabut’, namun dengan tangguh mampu menahan terpaan kencang angin laut ataupun angin gunung. Dari bagian cikal yang kecil pada buah yang juga kecil ukurannya, tahap demi tahap tumbuh-berkembang pohon kelapa yang tinggi menjulang. Dari semula buah yang sebuah jumlahnya, akhirnya menjadi sumber produsi banyak buah kelapa tatkala tanaman keras ini berada dalam usia produktif.

Buah kelapa tidak hanya dikonsumsi oleh pemilik pohon kelapa bersangkutan, namun didistribusikan serta didayagunakan oleh orang/pihak lain hingga ke luar daerah, bahkan ke pulau-pulau seberang. Buah kelapa karenanya dijadikan sebagai perumpaan untuk ‘mobilitas manusia’, khususnya bagi para perantau, yakni “seseorang bisa saja lahir dan tumbuh besar di suatu tempat (daerah), namun ketika telah tumbuh besar (dewasa) boleh jadi keberadaannya jauh dari tempat kelahirannya’. Daging buah kelapa bukanlah satu-satuya unsur yang bermanfaat darinya. Tempurung buah kelapa (bathok), sabut buah kepala (sepet), air buah kepala, nira kelapa (legen), batang pohon kepala (glugu), daun kelapa (blarak), manggar dan mayang kelapa, pelepah daun kelapa adalah unsur-unsur anatomi kelapa yang memberi manfaat. Bahkan, bluluk kepala dan daun kepala kering yang telah jatuh sekalipun tetap ada unsur manfaat padanya. Hulu-hilir kelapa memberi kemanfaatan bagi manusia, baik ketika kelapa itu masih berusia produktif atau manakala kelapa pada pasca-usia produktifnya.

Bagi Indonesia, yang merupakan negara agraris sekaligus Negera Kepulauan dengan banyak kawasan pantai, kepala (njiur, nyu, ampel, klopo) adalah tumbuhan ikonik yang acap dihubungkan dengannya. Perkataan maupun gambaran ‘nyiur melambai’ familier dengan negeri ini. Sesungguhnya, kelapa tidak melulu tumbuh di kawasan pesisiran. Di daerah-daerah pedalamam, kelapa juga kedapatan sebagai tanaman endemik. Desa/dusun dengan unsur nama ‘ampel (kelapa) dan klopo, antara lain ‘Ampel (Ngampel), Ampel Dento, Ampel Gading, dsb.’ terdapat di berbagai daerah. Begitu pula, penganan yang disedapkan dengan santan kelapa dan gula dari nira kelapa (gulo-klopo) menjadi ciri dominan dari kuliner Nusantara. Oleh sebab itu beragam bahan penyedap makanan diistilahi dengan ‘plapah (palapah –> palapa+h)’, dimana istilah ‘palapa’ dekat sekali dengan kata ‘kalapa’. Sumpah Mapatih Gajahmada dalam rangka integrasi Nusantara pun menggunakan kalimat sasanti ‘Hamukti Palapa’. Umbul-umbul berwarna merah-putih juga mendapat sebutan ‘umbul gulo-klopo’, dimana gula (gulo) direlasikan dengan warna merah dan kelapa (klopo) dengan warna putih.

Cikal dari buah kelapa merupakan muasa dari tanaman kelapa, dan dengan demikian muasal dari banyak kegunaan yang dikontribusikan oleh kelapa. Oleh karena itu, muasa dari segala yang ada dinamai ‘cikal bakal’, yakni cikal sebagai ‘bakal (permulaan)’ dari sesuatu. Sosok Pramuka – yang identik dengan usia atau generasi muda (kepemudaan) oleh karenanya tepat apabila disimbolkan dengan tunas yang tumbuh dari bagian cikal pada buah kelapa. Generasi muda yang ibarat tunas kelapa itu kelak diharapkan seperti pohon kelapa yang tumbuh berkembang sebagai pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan serta kontributif bagi beragam kemanfaatan hidup sebagaimana diteladankan oleh pohon kelapa ketika telah tumbuh dewasa.

02Pemilihan tunas kelapa sebagai lambang Pramuka terkait dengan peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Maret 1961, yang diperingati sebagai ‘Hari Tunas Gerakan Pramuka’. Ketika itu, Presiden Soekarno/ Mandataris MPRS mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan Indonesia di Istana Negara. Dalam pidatonya, Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi ‘Pramuka’. Kata ‘tunas’ tersebut divisualkan sebagai ‘Lambang Pramuka’, yang diwujudkan sebagai ‘Tunas Kelapa’. Anak-anak dan pemuda – yang menjadi sasaran utama Gerakan Pramuka – diibaratkan sebagai ‘tunas buah kelapa’, atau diistiahi sebagai ‘prajamuda’.

B. Prajamudakarana ‘Spiprit Keprajaan’ Generasi Muda Indonesia

Atas dasar pertimbangan apa ‘Prajamudakarana’ dijadikan nama sekaligus sasanti bagi Kepanduan Nasional Indonesia?

03Pramuka yang merupakan akronim dari perkataan ‘praja (PRA)-muda (MU)-karana(KA)’ dijadikan sebagai nama dan sekaligus sebagai sasanti bagi Kepanduan Nasional Indonesia. Sebagai sebuah perkataan, Prajamudakarana adalah istilah-istilah Sanskrit dan Jawa Baru atau Melayu, yaitu tiga kata berturutan yang diintegrasikan menjadi sebagai sebuah perkataan: (1) praja, (2) muda, dan (3) karana. Kata ‘praja’ secara harafiah antara lain berarti: anak cucu, orang-orang, sanak keluarga, suku bangsa, bangsa, rakyat (Zoetmulder, 1995: 838). Dalam konteks ini, alternatif arti darinya adalah orang atau warga bangsa tertentu – yang spesifikasinya dibatasi oleh kata ‘muda’. Kata ‘muda’ dalam konteks ini kiranya bukan diambil dari istilah ‘mudha’ dalam bahasa Sanskreta, yang justru berati: pandir, bodoh, tolol, tidak bijaksana, dungu (Zoetmulder, 1995: 676), namun dari kata ‘muda’ di dalam bahasa Jawa Baru yang berati: muda – seperti dalam Bahasa Melayu atau Indonesia yang antara lain menujuk pada orang yang: belum sampai setengah umur (KBBI, 2002:757). Adapun kata ‘karana’ merupakan istilah Sanskreta, yang secara harafiah antara lain berati: tindakan membuat, daya upaya. Pramuka diartikan sebagai: orang muda yang suka berdaya upaya (berkarya). Kearifan dengan demikian merupakan ciri khas dari pemuda yang menjadi anggota Pramuka, yaitu aktif berdaya upaya untuk kebaikan.

Sebagai suatu nama, sebenarnya sebutan ‘Pramuka’ baru digunakan di Indonesia pada 9 Maret 1961, sebutan bagi peleburan seluruh organisasi kepanduan di Indonesia. Sebelumnya, yang dipergunakan adalah ‘Pandu’, dan gerakannya dinamai ‘Gerakan Kepanduan Indonesia’. Kata ‘pandu’ sangat boleh jadi merupakan kata serapan dari istilah Belanda ‘Padvinders’. Di dalam Bahasa Inggris – sebagaimana dipakai oleh ‘Bapak Pandu Dunia’ Baden Powell – adalah istilah ‘Scout’. Sebutan ‘Padvinders’ pertama kali digunakan di Indonesia tahun 1912, sebutan embrio organisasi cabang Kepanduan Dunia di Hindia-Belanda, dengan nama “Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO)”. Kata ‘padvinders’ yang diikuti atau didahului oleh kata nama ‘Indonesische (Indonesia)’ pertama kali digunakan tahun 1923, sebagai nama Gerakan Kepanduan di Jakarta, yaitu ‘Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO)’. Lantas pada tahun 1926 untuk menamai leburan gerakan kepanduan di Bandung dan Jakarta, dengan nama ‘Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (NPO)’.

Kata ‘pandu’ juga terdapat sebagai kosa kata dalam Bahasa Indonseia, yang secara harafiah berarti: (1) petunjuk jalan, perintis jalan; (2) mualim (di kapal); (3) kapal petunjuk jalan (di pelabuhan); atau (4) anggota perkumpulan pemuda yang berpakaian khusus, bertujuan mendididik anggotanya agar menjadi orang yang berjiwa ksatria, gagah berani, dan suka menolong sesama makhluk (KBBI, 1992: 821). Pada arti 1-3, arti kata ‘pandu’ mengarah pada petunjuk atau perintis jalan; dan jika menunjuk kepada orang, yang bersangkutan mengemban tugas untuk membuat perjalanan kapal berada di jalan (lintasan) yang benar. Sedangkan dalam arti yang terakhir, organisasi atau gerakan kepanduan merupakan wahana pendidikan untuk membentuk pribadi yang baik, yakni berjiwa ksatria, gagah berani dan suka menolong.

04Hal ini sejalan dasadharma Pramuka, yang memuat tentang pengharapan untuk menjadikan anggota Pramuka sebagai pribadi baik, yang diindikatori oleh: (1) taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) cinta alam, dan kasih sayang sesama manusia; (3) patriot yang sopan dan kesatria; (4) patuh, dan suka bermusyawarah; (5) rela menolong dan tabah, (6) rajin, terampil dan gembira; (7) hemat, cermat dan bersahaja; (8) disiplin, berani dan setia; (9) bertanggung jawab dan dapat dipercaya; (10) suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Untuk membentuk pribadi demikan, Gerakan Pramuka berlandas prinsip-prinsip dasar: (a) iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) peduli terhadap bangsa, dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya; (c) peduli terhadap dirinya pribadi; serta (d) taat kepada Kode Kehormatan Pramuka. Sebagai pribadi yang baik, maka dalam menjalani hidupnya, anggota Pramuka hendaknya menjadi pandu bagi tanah airnya (Indonesia) sebagaimana tergambar di dalam ‘Syair lagu Hymne Pramuka’ : Kami Pramuka Indoesia // Manusia Pancasila // satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan // agar jaya, Indonesia, Indonesia // tanah air ku // kami jadi pandumu. Satya yang didharmakan dan dibaktikan oleh Pramuka tergambar dalam ‘tiga janji (trisatya)’nya, bahwa demi kehormatannya, anggota Pramuka berjanji untuk bersungguh-sunguh: (a) menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila; (b) menolong sesama hidup, dan mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat; (c) menepati dasadharma.

Sebagai kata jadian, ‘kepanduan’ menunjuk kepada gerakan untuk menjadikan anggota-anggotanya sebagai pribadi yang baik serta mampu berperan sebagai penunjuk atau perintis ke jalan kehidupan yang baik pula. Untuk misi itu, maka Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap anggota pramuka: (a) memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani; serta (b) menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia, dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggung-jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup, dan alam lingkungan

05Sesuai dengan resolusi Konferensi Kepanduan Sedunia pada tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark, organisasi yang menyelenggarakan kepanduan di suatu negara haruslah menyesuaikan pendidikannya dengan keadaan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Pada negara manapun di dunia, organisasi kepanduan harus membina, dan mengembangkan rasa persaudaraan, dan persahabatan antara sesama Pandu, dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/ agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa. Oleh karena itu, hendaknya kepanduan dipergunakan dimana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja.

Nama ‘Pandu’ juga didapati dalam wiracarita Mahabarata, yaitu sebagai nama [ketika usia muda] dari Yudhistira (Puntodewo), putera sulung (pambarep) diantara lima orang anak pada keluarga Pandawa, yang populer denga sebutan ‘Pendowo Limo’. Sebagai putra sulung, yang menjadi raja utama pada Kerajaan Amarta (Ngamerto), Pandu menampilkan citra diri baik, yang patut untuk diteladani dalam kapasitasnya sebagai pengemban amanah pucuk tertinggi pengelola kerajaan (kaprajan). Citra diri yang baik dari Pandu tergambar pula pada perkataan ‘Pandudewanata’, yakni Pandu yang bertindak sebagai nata (raja) yang memperoleh amanah dewata (dewa) untuk menjadi pemimpin, ibarat Dewa Indra sebagai raja dari sekalian para dewa. Sebagai nama, ‘pandu’ inilah yang pada periode awal kelahiran Pramuka dijadikan nama baginya, yakni penamaan yang mendapat inspirasi dari citra diri tokoh Pandu (Yudhistira muda). Kebijakan dan kearifan tokoh Pandu di dalam konteks ini hendaknya menjadi teladan bagi para anggota Pramuka Indonesia.

C. Kilas Sejarah Kepanduan

  1. Kilas Sejarah Kepaduan Dunia

06Kepanduan bukan hanya ada di Indonesia, melainkan terdapat di penjuru dunia. Sejarah kepaduan dimulai dari Lord Robert Baden Powell (1857-1941), yang dijuluki ‘Bapak Pandu Sedunia’. Perkenalan pertamanya pada kecakapan kepanduan adalah kecakapan memburu dan memasak hewan di hutan yang berdekatan. Masa liburan banyak dihabiskannya dengan melakukan ekspedisi pelayaran atau bermain kano dengan saudara-saudaranya. Setelah menamatkan sekolah di Charterhouse, Baden Powell bertugas di Angkatan Darat Inggris (1876-1910), yang menempatkannya di India dan Afrika.
Ketika menjalani profesi kemiliteran itu, dia berkesempatan untuk saling berlatih serta mengasah kemahiran kepanduannya dengan raja Zulu bernama Dinizulu pada awal 1880-an di provinsi Natal, Afrika Selatan, padamana resimennya ditempatkan. Pada tahun 1896 Baden-Powell ditugaskan ke Matabele di Rhodesia Selatan sebagai Kepala Staf. Disanalah untuk kali pertama ia bertemu dengan Frederick Russell Burnham, seorang Amerika yang membantu Inggris di Afrika Selatan, yang nantinya menjadi sahabat karibnya.

Keberadaannya di Afrika memberi pengalaman yang sangat penting, karena pada saat itu ia banyak mendapat inspirasi untuk membuat sistem pendidikan kepanduan. F. Russell Burnham mengajarinya woodcraft, suatu keahlian yang memberikan inspirasi untuk menyusun program/kurikulum dan kode kehormatan kepanduan. Suatu keahlian ini yang menjadi cikal bakal dari apa yang kini sering disebut ‘Ketrampilan Kepanduan’. Kala itu kali pertama Baden Powell mengenakan topi khasnya, bentuknya menyerupai topi koboi, sebagai pengenal dan hingga kini masih dikenakan oleh anggota kepanduan di seluruh dunia. Disitu pula dia menerima sangkakala (terompet) kudu, suatu waditra yang nantinya ditiup setiap pagi guna membangunkan peserta Perkemahan Kepanduan yang pertama di Kepulauan Brown Sea. Pada pengalamannya dalam bidang militer, setiap anggota pasukan mendapatkan ‘bedge penghargaan’ berbentuk jarum kompas yang dikombinasikan dengan ujung anak panah. Bedge ini bentuknya mirip dengan ‘fleur de lis’, yakni sebuah logo yang hingga kini dipergunakan sebagai Logo Organisasi Kepanduan di banyak negara di dunia. Baden-Powell, adiknya (Agnes Baden-Powell) dan istrinya (Olave St. Clair Soames) sangat aktif memberi bimbingan terhadap Gerakan Kepanduan dan Kepanduan Putri.

Beberapa buku bertema kepanduan ditulisnya. Mula-mula buku kecil berjudul “Aids to Scouting”, yang membicarakan tentang pengintaian dan pelatihan pandu di Afrika. Buku ini banyak dibaca oleh anak laki-laki. Sekembalinya ke Inggris, ia melihat ‘Aids to Scouting’ telah populer dan banyak dipergunakan oleh para guru untuk mendidik muridnya dan juga para pemuda yang aktif di dalam organisasi. Oleh karena itu ia diminta untuk menuliskan ulang buku ‘Aids to Scouting’ agar mudah dipahami oleh anak muda, utamanya anggota Boys’ Brigade – suatu orgaisasi kepemudaan besar dan bernuansa militer. Buku itu nanti diberi judul ‘Scouting for Boys (1908)’, mula-mula terbit dalam 6 (enam) jilid dan diperuntukkan bagi para pembaca remaja.

Pada tahun 1906 seorang keturunan Inggris-Kanada yang tinggal di Amerika Serikat bernama Ernest Thompson Seton mengirimkan ke Baden-Powell buku karyanya ‘The Birchbark Roll of the Woodcraft Indians’. Seton sering mengadakan pertemuan denganya, dan menyusun rencana untuk gerakan pemuda. Pertemuannya dengan Seton itu mendorongnya untuk menuliskan kembali bukunya ‘Aids to Scouting’ dengan versi baru, yang diberi judul ‘Boy’s Patrols’ sebagai buku petunjuk kepanduan bagi para muda ketika itu. Untuk menguji ide-idenya, Boden Powell mengadakan perkemahan untuk 21 pemuda dari berbagai lapisan masyarakat selama seminggu penuh di Kepulauan Brownsea, Inggris, dimulai tanggal 21 Agustus 1907. Metode organisasinya, yang sekarang dikenal dengan sistem patroli (patrol system), menjadi kunci pelatihan kepanduan yang dilakukannya. Sistem ini mengharuskan para pemuda untuk membentuk beberapa kelompok kecil dan kemudian menunjuk salah seorang di antara mereka untuk menjadi ketua kelompok tersebut. Setelah bukunya diterbitkan dan perkemahan yang dilakukannya berjalan dengan sukses, Baden-Powell pergi untuk sebuah tur yang direncanakan oleh Arthur Pearson untuk mempromosikan pemikirannya ke seluruh Inggris. Dari pemikirannya tersebut dibuatlah sebuah buku berjudul ‘Scouting for Boys (1908)’, yang dikenal sebagai buku panduan kepramukaan (Boy Scout Handbook). Mula-mula terbit dalam 6 (enam) jilid dan diperuntukkan bagi para pembaca remaja.

Buku ‘Scouting for Boys’ tidak sekadar merupakan penulisan ulang terhadap buku “Aids to Scouting” yang banyak berisi materi kemiliteran. Namun, di dalam buku ini aspek-aspek kemiliteran diperkecil dan digantikan dengan teknik-teknik non-militer – terutama teknik survival, seperti pioneering dan penjelajahan. Ia juga memasukkan prinsip edukasi yang inovatif, yang disebut dengan ‘Scout Method (metode kepramukaan)’. Baden Powell juga berkreasi dengan membuat game-game yang menarik, sebagai sarana pendidikan mental. Pada tahun yang sama, buku itu dicetak dalam bentuk satu buku utuh. Sampai saat ini, buku tersebut menempati peringkat ke empat dalam daftar buku bestseller dunia sepanjang masa. Berkat buku itu, mulanya Baden-Powell diminta menjadi pembina organisasi The Boys’ Brigade, yang didirikan oleh William A. Smith. Kemudian, karena popularitasnya semakin meningkat, dan tulisannya tentang mengenaI petualangan-petualangan di alam terbuka kian banyak serta diminati, maka banyak pemuda tergerak membentuk kelompok kepanduan dan Baden-Powell “kebanjiran order” untuk menjadi pembinanya. Mulai saat itulah suatu ‘Gerakan Kepanduan (Scout Movement)’ berkembang dengan pesat.

Tergambar bahwa Baden Powell dari pengalamannya dalam bidang militer lantas bergerak dengan mempelajari materi-materi lainnya, yang bisa menjadi bahan pelajaran dalam kepanduan. Selama menulis bukunya, ia menguji gagasannya melalui perjalanan berkemah, yang kemudian dianggap sebagai awal dari kegiatan kepanduan. Pada tahun 1908, untuk menguji idenya, ia mengumpulkan 21 orang pemuda dengan latar belakang bermacam-macam dan mengadakan perkemahan selama seminggu di Brownsea Island, Inggris. Metode yang diterapkannya dalam perkemahan itu adalah memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk mengatur kelompok mereka sendiri dengan membentuk kelompok kecil dan memilih salah satu anggota kelompok sebagai pemimpin.

Kanak-kanak remaja membentuk apa yang dinamai “Scout Troops” secara spontan, maka terbentuk gerakan kepandun yang berdiri tanpa sengaja. Mulanya di tingkat nasional, dan kemudian memasuki tingkat internasional. Gerakan pramuka berkembang seiring dengan Boys’ Brigade. Suatu pertemuan untuk semua pramuka pun diadakan di Crystal Palace London pada 1908, dalam mana Baden-Powell menemukan gerakan Pandu Puteri yang pertama. Pandu Puteri kemudian didirikan pada tahun 1910 di bawah pengawasan saudara perempuannya, yaitu Agnes Baden-Powell. Walau dia sebenarnya dapat menjadi Panglima Tertinggi dalam bidang kemiliteran, namun dengan menuruti nasihat raja Edward VII yang mengusulkan agar ia lebih banyak melayani negaranya dengan memajukan gerakan kepanduan maka Baden Powell memutuskan untuk berhenti dari tentara pada tahun 1910 dengan pangkat Letnan Jendral. Peristiwa penting terjadi pada Januari 1912, tatkala Baden Powell bertemu dengan calon isterinya yang usianya jauh lebih muda (23 dengan 55 tahun), yaitu Olave Soames di atas kapal penumpang (Arcadia) dalam perjalanan ke New York untuk memulai Lawatan Pramuka Dunia.

Baden-Powell dianugerahi gelar ‘Baronet’ pada tahun 1922, dan bergelar Baron Baden-Powell dari Gilwell dalam County Essex pada tahun 1929. Taman Gilwell merupakan tempat latihan Pemimpin Kepanduan Internasional. Baden-Powell dianugerahi ‘Order of Merit’ dalam sistem penghormatan Inggris pada tahun 1937 dan 28 gelar lainnya dari negara-negara asing. Dibawah usaha gigihnya itu maka pergerakan kepanduan dunia berkembang. Pada tahun 1922 telah tercatat lebih dari sejuta kepanduan di 32 negara; bahkan pada tahun 1939 meningkat tajam hingga melebihi 3,3 juta orang. Baden-Powell meninggal pada 8 Januari 1941, dimakamkan di pemakaman St. Peter, Nyeri, dekat Gunung Kenya. Pergerakan Kepanduan dan Kepanduan Puteri merayakan 22 Februari sebagai ‘Hari B-P’’, yakni tanggal lahir bersama Robert dan Olave Baden-Powell, sebagai peringatan terhadap jasa Ketua Pramuka dan Ketua Pandu Puteri Dunia tersebut.

  1. Kilas Sejarah Kepanduan Indonesia

07Sebagai organisasi dan gerakan, sesungguhnya kepanduan telah hadir di bumi Indonesia sejak Masa Kolonial. Embrio dari Organisasi Kepanduan dimulai oleh adanya cabang “Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO)” pada tahun 1912. Ketika pecah Perang Dunia I, Orgnasiasi Kepanduan ini memiliki kwartir besar sendiri, yang lalu berganti nama menjadi “Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV)’ pada tahun 1916. Selain Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh Kolonialis Belanda itu, ada pula Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia, yaitu ‘Javaansche Padvinders Organisatie (JPO)’, yang berdiri atas prakarsa dari S.P. Mangkunegara VII tahun 1916. Kendati embrio dalam bentuk Organisasi Kepanduan telah ada semenjak tahun 1912, namun sebagai suatu Gerakan Kepanduan, titik waktu mulanya baru tahun 1923, yang ditandai oleh berdirinya NPO di Bandung. Pada tahun yang sama di Jakarta didirikan ‘Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO)’. Tiga tahun kemudian (1926), kedua organisasi yang merupakan cikal-bakal kepanduan Indonesia ini meleburkan diri menjadi satu, dengan nama ‘Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (NPO)’.
Kenyataan sejarah tersebut menunjukkan bahwa pemuda memiliki “saham” besar dalam pergerakan kemerdekaan dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia.

Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu, tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat pula gejala adanya kemauan berorganisasi yang berbhinneka. Kepanduan itu tumbuh-berkembang senapas dengan Pergerakan Nasional, seperti diperlihatkan oleh adanya sejumlah organisasi kepanduan yang dimotori oleh organisasi pergerakan antara lain Padvinder Muhammadiyah yang pada 1920 berganti nama menjadi “Hizbul Wathan (HW)’, Nationale Padvinderij yang didirikan oleh Budi Utomo, Syarikat Islam Afdeling Padvinderij yang didirikan oleh Syarikat Islam – kemudian berganti nama menjadi “Syarikat Islam Afdeling Pandu (SIAP)”, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB), dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.

Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan di Indonesia itu tampak oleh mulai terbentuknya PAPI (Persaudaraan Antara Pandu Indonesia), yang merupakan federasi Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada 23 Mei 1928. Namun, federasi ini tidak mampu bertahan lama, karena adanya niat membangun fusi dari organisasi-organisasi kepanduan. Terbukti, pada tahun 1930 berdiri Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), yang dirintis oleh tokoh-tokoh dari Jong Java, dengan memfusikan Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij), dan PK-Pandu Kebangsaan). PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada April 1938.

Pada fenomena sebaliknya, dalam kurun waktu tahun 1928-1935 bermunculan gerakan kepanduan Indonesia, baik yang bernafaskan kebangsaan maupun keagamaan. Kepanduan yang bernafaskan ke-bangsaan antara lain Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Kepanduan yang bernapaskan keagamaan adalah Pandu Ansor, Al Wathoni, Hiszbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), dan Kepanduan Masehi Indonesia (KMI). Untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI membuat rencana “All Indonesian Jamboree”. Rencana ini mengalami beberapa perubahan, baik dalam hal waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan. Akhirya disepakati untuk menganti namanya menjadi “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” atau disingkat dengan ‘PERKINO’, dan dilaksanakan di Yogyakarta pada 19-23 Juli 1941.P

Pada Masa Pendudukan Jepang partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan, dilarang berdiri. Namun demikian, upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepanduan tetap menyala. Oleh karena itu, sebulan sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, beberapa tokoh kepanduan berkumpul di Yogyakarta. Mereka bersepakat: (a) membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, (b) membentuk sebuah wadah organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia, dan (c) segera mengadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia. Kongres dilaksanakan 27-29 Desember 1945 di Surakarta, dan berhasil membentuk ‘Pandu Rakyat Indonesia’. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan oleh “Janji Ikatan Sakti”. Pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepanduan, yang secara legal-formal ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/ Bag. A tertanggal 1 Febrauari 1947.

Beberapa tahun pasca Kemerdekaan RI adalah tahun-tahun sulit yang dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena terjadi serbuan Belanda. Bahkan, pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948, yakni ketika diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan. Beliau pun gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM). Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan RI merupakan pengabdian bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia. Pada waktu itu Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada 20-22 Januari 1950.

Kongres ini memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan pada golongan khusus untuk menghidupkan kembali bekas organisasinya masing-masing. Terbukalah kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia. Keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 mencabut pengakuan pemerintah No. 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 yang menyatakan bahwa Pandu Rakyat Indonesia adalah satu-satunya wadah kepanduan di Indonesia. Namun, sepuluh hari pasca keputusan Menteri Nomor 2334/ Kab. itu, wakil-wakil organisasi kepanduan menyelenggarakan konfersensi di Jakarta pada 16 September 1951. Konferensi memutuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi. Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepanduan sedunia. Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepanduan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi, yaitu: (a) PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia), dan (b) POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia. Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional di Ragunan, Jakarta pada 10-20 Agustus 1955.

Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepanduan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar diperoleh gambaran mengenai upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepanduan. Seminar diadakan di Tugu, Bogor pada Januari 1957, dan menghasilkan rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan kepanduan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian (November 1958), Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor dengan topik “Penasionalan Kepanduan”. Bila Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut ‘Desa Semanggi’ di Ciputat pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirim kontingen ke Jambore Dunia di MT. Makiling, Filipina.

08Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang ‘Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana’, Pasal 330. C. menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Penertiban terhadap kepanduan (Pasal 741) maupun pendidikan kepanduan agar diintensifkan, dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powell (Lampiran C Ayat 8). Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan para tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan Indonesia di Istana Negara. Dalam pidatonya Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur jadi satu menjadi apa yang dinamai ‘Pramuka’. Untuk itulah, Presiden menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh, dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa Achmadi. Panitia membutuhkan pengesahan, dan dilegalkan dengan Kepres RI No, 112 tertanggal tanggal 5 April 1961 tentang ‘Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka’ dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden dalam pidatonya pada tanggal 9 Maret 1961. Peristiwa tanggal 9 Maret 1961 ini diperingati sebagai ‘HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA’’.

Terdapat perbedaan sebutan atau tugas panitia yang termuat dalam pidato Presiden dan Keputusan Presiden tersebut. Masih pada bulan April itu juga, keluar Kepres RI No. 121 Tahun 1961 tertanggal 11 April 1961 tentang ‘Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka’, dengan anggota panitia mendapat penambahan: Sri Sultan (HB IX), Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah ‘Anggaran Dasar Gerakan Pramuka’ sebagai Lampiran Kepres R.I, No. 238 tentang ‘Gerakan Pramuka’ tertanggal 20 Mei 1961, yang menyatakan bahwasanya Gerakan Pramuka merupakan satu-satunya orgaisasi kepanduan yang mengemban tugas menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak Indonesia. Dalam ketentuan hukum yang lebih mutakhir, yakni UU No. 12 tentang “Gerakan Pramuka’ tertanggal 26 Oktober 2010 dinyatakan bahwa Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi pun juga diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan kepramukaan – suatu keputusan yang kembali kepada kebijakan pemerintah sebelum tahun 1961. Momentum 20 Mei 1961 ini disebut sebagai ‘HARI PERMULAAN TAHUN KERJA’. Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka dilaksanakan di Istana Olahraga Senayan Jakarta tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini disebut sebagai ‘HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA’.

Secara resmi ‘Gerakan Pramuka’ diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia tanggal 14 Agustus 1961. Bukan saja di Ibukota Jakarta, namun juga di tempat-tempat penting lainnya di Indonesia. Di Istana Negara Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar, yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden serta berkeliling Kota Jakarta. Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Momentum perkenalan pada 14 Agustus 1961 tersebut kemudian disebut “HARI PRAMUKA’, yang setiap tahunnya diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka. Pendirian gerakan ini sedikit-banyak diilhami oleh Kamsomol di Uni Soviet.

Ada empat penanggalan antara bulan Maret – Agustus dalam tahun 1961 yang berhubungan dengan Pramuka, yaitu: (1) tanggal 9 Maret 1961, yang diperingati sebagai ‘HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA’’; (2) tanggal 20 Mei 1961 yang disebut sebagai ‘HARI PERMULAAN TAHUN KERJA’; (3) tanggal 30 Juli 1961 yang disebut ‘HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA’; dan (4) tanggal 14 Agustus 1961 yang disebut “HARI PRAMUKA’. Tahun 1961, lebih dari seperempat abad yang lalu, merupakan tarikh yang penting terkait dengan proses kelahiran Pramuka Indonesia, sebagai formulasi atas Kepanduan Indonsia. Digahayu Pramuka Indonesia ke-55 pada 14 Agustus 2016. Salam Pramuka, Tepuk Pramuka.

Sengkaling, 16 Agustus 2016.lS

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JAMAN KUNO

SWAYAMBARA, Ilustrasi Susastra Jawa Kuna tentang Pemberian Kesempatan bagi Perempuan untuk Tentukan Pilihan Sendiri

Avatar

Published

on

A. Makna Istilah Konseptual “Swayambara”
Dalam bahasa Indonesia terdapat kosa kata “sayembara”, yang berarti : perlombaan dengan memperebutkan hadiah (KBBI, 2002:1005). Kata jadian “menyayembarakan” menunjuk kapada : memperlombakan. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Jawa Baru “sayemboro”, yang juga berarti : perlombaan untuk perebutkan hadiah (Mangunsuwito, 213:430). Begitulah, sayembara (bahasa Jawa “sayemboro”) acapkali diartikan sebagai perlombaan, uji ketrampilan atau ketangkasan yang diikuti oleh sejumlah orang untuk memperbutkan hadiah. Akhir-akhir ini sebutan “sayembara” lebih jarang dipakai daripada kata “lomba atau perlombaan”. Istilah lain yang disinonimartikan dengannya adalah “festival, kejuaraan, pertandingan, kontes” atau juga “kongkros’.
Dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terdapat kata yang amat dekat dengan itu, yaitu “swayambara” — diserap dari bahasa Sanakreta, yang secara harafiah berarti : pilihan sendiri, atau pemilihan suami oleh seorang putri dalam suatu pertemuan umum para peminang (Zoetmulder, 1995: 1172). Swayambara adalah suatu pesta, seperti tergambar dalam kata “kaswayambaran”, yang  menunjuk pada pesta swayambara. Istilah ini telah kedapatan di dalam kitab Udyogaparwa (78, 141, dan 144), kakawin Ramayana (2.49), serta Sumanasantaka (15.9, 23.2 dan 5). Tempat untuk penyelenggaraan swayambara dinamai “swayambarasabha’ , dimana penulisannya acap didahukui oleh kata “ring (di)”, seperti tergambar dalam kalimat “byaktanaku mamenanga ring swayambarasabha (Sumanasantaka l 23.5)”.
Dalam swayambara, yang dipentingkan adalah pemberian hak atau kesempatan dari seseorang terhadap orang lain. Misalnya, dari orang tua kepada anak perempuannya untuk menentukan pilihan sendiri calon suaminya. Unsur sebutan “swaya” atau “swa” menunjuk pada kemandirian atau otonomitas seseorang dalam menentukan pilihannya — termasuk otonomitas perempuan dalam memilih dan menentukan calin suaminya.  Oleh karena itu, tidaklah mutlak bahwa dahulu colon suami bagi anak perempuan ditentukan sepenuhnya oleh orang tua dengan model “kawin paksa” atau “perjodohan paksa”. Memang, ada kalanya dilakulan penjofohan paksa, sehingga sang putri memilih untuk “kawin lari” dengan kekasih, seperti tergambar di dalam kakawin Kresnayana, Gatotkacasraya maupun kidung Panji Margasmara. 
Justru, konon pada kalangan bangsawan dalam masa Hindu-Buddha ada pemberian kesempatan kepada seorang putri untuk memilih-menentukan sendiri suaminya, sebagaimana dikisahkan oleh sejumlah susastra lama. Ayah seorang wanita bangsawan, yakni raja di suatu kerajaan adakan swayambara untuk anak perempuannya jelang pernikahannya, sepwrti tergambar pada kalimat “bangku gumayawaken kaswayambarangku (ayahku membuatkan sayembara untukku)”.  Dalam perhektan ini, para ksatria dari berbagai negeri datang dan turut serta sebagai peminang untuk turun berlaga di dlam suatu pertandingan untuk memperebutkan sang putri raja. 
Bentuk kegiatan sayembara (sayemboro) dan swayambara memiliki kemripan, yaitu berupa lomba, uji atau adu ketangkasan, ketrampilan ataupun kepiawian dari sejumlah orang. Namun, dalam konteks swayambara yang pokok adalah pemberian tentukan piluhannya sebdiri. Adapun lomba, adu, uji atau kontestasi hanyalah ikhtiar, cara (metode, teknik) dan instrumen di dalam kerangka “penentukan pillihan secara mandiri (otonom)”  Adapun pada sayembara, penekanan makna adalah pada lombanya, yang berarti lebih bersifat instrumentalis. Swayambara dengan demikian merupakan jamiman bagi perempuan untuk menentukan pilihan sendiri dalan hal calon suaminya. 


B. Aneka Kisah Kuno tentang Swayambara
Dalam susastra tekstual, visusal ataupun oral, kisah-kisa lama mengenai swayambara cukup banyak didapati. Hal ini memberi kita petunjuk bahwa konon pernikahan untuk seorang putri raja, yang didahului dengan penyelenggaraan swayambara, merupakan “model pra-pernikahan” di kalangan bangsawan. Pada kesempatan itu, sang putri secara langsung melihat, menimbang dan akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada salah seorang pria yang tampil sebagai “sang juara atau pemenang lomba” untuk mendapatkan dirinya. Ketangguhan, kehandalan, ketangkasan, ketrampilan, kepiawian, ataupun kesaktian lebih darinya dibanding para peserta swayambara lain adalah parameter pilihan sang putri bagi calon suaminya. Bagi para peserta swayambara, upaya total untuk dapat tampil sebagai pemenang, tak sekedar prasyarat guna mendapatkan sang putri, namun lebih dari itu sebagai pembukti superlatif, adu gengsi, adu unggul, dan kejayaan negerinya.  
Swayambara merupakan pemberian kesempatan oleh seorang ayah kepada putrinya yang tengah memasuki fase berkeluarga (greahastasrama), yakni untuk mendapatkan “pria terpilih” sebagai calon suaminya. Menentukan suami tidak seperti “beli kucing dalam karung” , namun suatu pilihan bijak-tepat diserrtai dengan bukti empiris. Dalam hal ini, swayambara adalah suatu media uji, atau semacam “feed and proper test” pada masa kini dalam bentuk seleksi untuk mendapatkan pilihan tepat. Ketika swayabara berlangsung, sang putri srbagai penseleksi menyaksikan sendiri secara langsung alternasi-alternasi pilihannya tatkala berlaga dalam suatu lomba. Pada sisi lain, para peserta swayambara dapat seara fair mengukur kemampuan dirinya dibanding para paserta lain. 
Wiracarita Ramayana mengkisahkan bahwa Sru Rama dari kerajaan Kosala tampil sebagai “sang juara” dalam lomba “merentang busur panah (gandewo) pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa” di istana Mithila (kadatwan Wideha) yang diperintah oleh raja Janaka sebagai ayah angkat Sita. Atas kemenangannya itu, Rama terpilih sebagai suami Sita. Swayambara sebagai media uji untuk mendapatkan putri juga terkisah dalam wiracarita Mahabharata, yaitu swayembara guna mendapatkan Dewi Draupadi (Dropadi, Drupadi), yakni puteri Drupada, raja pada kerajaan Pancala  
Swayambara mendapatkan Draupadi dikisahkan secara unik dalam kitab Mahabharata. Kesertaan  ksatria Pandawa dalam swayambhara itu terjadi ketika mereka mengunjungi Pancala dengan menyamar sebagai Brahmana. Swayambara diikuti para kesatria terkemuka dari penjuru Bharatawarsha (India Kuno), temasuk Karna dan Salya. Karna berhasil memanah tepat sasaran, namun Draupadi menolaknya, dengan alasan ia tak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan sangat kesal. Kemudian Arjuna tampil dan panahnya mengenai sasaran dengan tepat. Sesuai dengan ketentuan, Arjuna berhak mendapatkan Dropadi. Namun peserta lain menggerutu, karena pemenangnya adalah seorang brahmana, karena peserta swayambara memginginkan swayambara hanya diikuti oleh ksatria, sehingga terjadi keributan. Arjuna dan Bhima bertarung menghadapi ksatria peserta swayambara, sedangkan Yudistira, Sakula dan Sahadewa pulang untuk menjaga Kunti. Kresna yang turut hadir dalam swayambara itu tahu siapa sebenarnya para brahmana tetsebut, dan mengatakan kepada peserta bahwa brahmana pemenang lomba lah yang berhak mebdapatkan Dropadi. 
Setelah keributan usai, Arjuna dan Bhima pulang dengan membawa Dropadi. Arjuna dan Bhima menghadap dan mengatakan kepada ibu Kunti bahwa mereka membawa hasil meminta-minta (sesuai akitifitas Brahmana). Kunti menyuruh bagi rata apa yang mereka peroleh. Namun, ia terkejut ketika tahu bahwa yang diperoleh bukan hanya hasil minta-minta melainkan juga seorang wanita. Kunti tak mau berdusta, maka Dropadi pun menjadi istri dari Panca Pandawa.
Kitab Mahabharatta juga mengkisahkan tentang swayembara di Kerajaan Giyantipura, yang diikuti oleh Bhisma (Dewabrata). Bhisma turut  bukan untuk dirinya, melainkan buat adik tirinya, yaitu Wichitrawirya — putra Santanu dan Satyawati, yang kala itu belum nikah. Acara dilaksanakan oleh raja Darmahumbara untuk mencari calon suami bagi Amba, Ambika maupun Ambalika. Swayambara berupa perang tanding antara putra-putra bangsawan atau para pangeran. Pemenangnya dianggap pantas mendapatkan ketiga putrinya. Peserta datang dari berbagai kerajaan di Hindustan dan sekitarnya. Mereka cemas dan takut menanggung malu jika gagal, terkebih lagi ketika melihat Bhisma turut hadir. Bhisma dikenal sangat sakti dan pandai gunakan segala macam senjata. Selain itu, kesetiaan dan keteguhan hatinya membuat semua orang segan kepadanya  Semula banyak yang sangka bahwa Bhisma datang untuk menyaksikan swayanbara, karena semua tahu bahwa Bhisma bersumpah tidak akan pernah menikah. Padahal, Bhisma ikut demi adik tiriya. Ketiga putri Darmahumbara yang memilih calon suami itu sama sekali tidak hiraukan kehadiran Bhisma, pemuda tua yang tidak menarik. Bhisma yang merasa diejek dan dipermainkan menjadi berang. Para ksatria yang hadir ditantangnya. 
Satu persatu mereka berperang tanding melawan Bhisma, dan kalah semuanya  Segera setelah itu Bhisma menyambar ketiga putri jelita tersebut untuk dilarikan dengan keretanya menuju ke Hastinapura. Belum jauh dari arena sayembara, Bhisma dihadang Citramuka, raja Swantipura, yang menantangnya bertarung nemperebutkan Amba, putri tertua, karena ia telah menjalin kasih dengannya. Citramuka takluk dan menyerah. Ketika Bhisma mengangkat senjata dan hendak membunuhnya, Amba pun mencegahnya. Atas permintaan itu, Bhisma urung membunuhnya. Kemudian Bhisma tinggalkan Citramuka, lanjut perjalanan ke Hastinapura bersama ketiga putri Giyantipura untuk dihadiahkan pada adik tirinya. 
Kisah tentang swayambara juga didapati dalam kakawin Sumanasantaka, puisi epik abad XIII Masehu karya pu Monagna di kerajaan Kadiri. Susastra ini adalah gubahan ke dalam bahasa Jawa Kuna terhadap mahākāvya Raghuvaṃśa berbahasa Sanskreta karya Kalidasa mengenai Pangeran Aja dan Putri Indumati. Dikisahkan bahwa Harini dilahirkan di Widarbha sebagai Indumati, puteri raja di Krethakesika. Sang puteri adalah kesayangan seluruh peghuni keraton dan menyenangkan setiap orang. Ketika ia mencapai usia 12 tahun, sang raja jatuh sakit, kemudian meninggal. Sang Ratu mengikuti suaminya ke alam baka. Penggantinya adalah Bhoja, kakak Indumati  Di bawah pemerintahan raja muda ini , negara menikmati kemakmuran besar. 
Beberapa tahun kemudian tiba saat Indumati dinikahkan. Ia diberitahu kakaknya mengenai rencana untuk adakan swayambara. Raja-raja tetangga menerima undangan, tak terkecuali raja Raghu di Ayodhya. Raghu mengijinkan putranya, yakni Aja, untuk ikut swayambara. Aja berangkat dengan iringan besar. Ketika sampai di sungai Narmada, rombongan diserang oleh gajah yang muncul dari dalam air. Aja menyerang dengan panahnya. Seketika ituvpula gajah menjelma menjadi widyadara Priyambada, putera raja Citraratha.  Wujudnya sebagai gajah  akibat kutukan Ki Patangga. ia menerima ramalan bahwa dirinya akan lepas dari kutukan setelah menerima anak panah pangeran Aja. Sebagai tanda terima kasihnya ia memberikan anak panah  sakti Sangmohana. Rombongan lanjut perjalanan, dan akhirnya sampai di Widarbha. Ketika raja Bhoga mendengar bahwa Aja telah datang, meteka disongsong dan diantarkan ke penginapan. Swayambara dilaksanakan pada esok harinya.
Kota penuh dengan orang-orang dalam suasana pesta swayambara. Diantara mereka terdapat raja Magadha, para pemimpin Awangga dan Awanti, Anupa, Susena, Hemanggada, Pandya, serta Aja. Masing masing duduk di balenya sendiri.Rakyat sepanjang jalan mendengar ramalan bahwa kecil kemungkinan yang akan terpilih adalah pangeran Aja. Sang puteri tiba ditengah-tengah tempat pertemuan. Undangan terpesona akan kecantikannya yang luar biasa. Aja pun terkesan, tapi tak ungkap perasaannya. Di muka bale Angganatha, putri Indumati agak menjauh dan tidak mendekat. Ia bersandar pada lengan Jayawaspa. Sang  putri tidak memberi respon pada sang pelamar. Alih-alih Indumati mendekati Aja, dan dalam hati ia menjatuhkan pilihan antaran kekuatan ajaib dimana mereka berdua saling tertarik. Indumati mengambil kalung manikam dari lehernya, dan kemudian meletakkannya pada leher Aja sebagai tanda pilihannya. Bagi para pelamar lainnya inilah bukti terakhir kekelahan mereka, dan meluaplah rasa marah dan dongkopnya.
Kedua kekasih itu meninggalkan pagelaran bersama-sama dalam satu tandu dan segera upacara pernikahan dimulai dengan segala upakaranya. Di sebuah dusun di pegunungan, Aja diberitahu oleh para tetua bahwa raja-raja yang ditolak oleh Indumati akan menculik mereka berdua. Dengan hati-hati rombongan Aja siap bertempur. Satu persatu menyerang Aja, namun seluruhnya dapat dilumpuhkan. Para dewa dan penghuni sorga menyaksikan dari atas. Akan tetapi, ketika Aja hendak memakai anak panahnya yang bernama Rudra, para dewa merasa gelisah. Atas nama mereka, Narada mendekati Aja untuk tidak memakai senjata dasyat itu. Narada menganjurkan agar Aja menggunakan senjata yang baru diterimannya dari Priyambada, yaitu panah Sangmohana. Lalu Aja beserta rombongan meneruskan perjalanan, yang tak terasa telah atu bulan meninggalkan Widarbha. Akhirnya mereka tiba di Ayodhya. Raja Raghu dan permaisurinya sangat senang terhadap dengan Indumati, sang menantu. Tak lama kemudian raja Raghu mengundurkan diri, dan menetapkan agar putrannya naik tahta. Raghu beserta abdinya pergi ke hutan untuk mendirikan patapaan. Beberapa waktu berselang  ia meninggal dunia. Indumati melahirkan putra, yang diberi nama Dasaratha. 


C. Menang- Kalah dalam Swayambara
Kisah-kisah terpapar diatas hanya beberapa dari banyak kisah dalam susastra ltekstual masa lalu perihal swayambara. Tergambar bahwasanya swayambara dilselengkarakan oleh ayah atau bisa juga oleh kakak — yang menjadi penguasa di suatu kerajaan untuk anak atau adik wanitanya. Adapun peserta swayambara adalah para kastria atau pangeran muda, yang kedertaannya untuk mendapatkan calon istri– kecuali Bhisma yang turut swayembara untuk saudara tirinya. Kisah unik didapati dalam kitab Mahabharata, dimana Dropadi yang didapat sebagai buah kemenangan di dalam suatu swatambara tidak dijadikan istri oleh seseorang yang menjadi pemenang suatu swayambara, melainkan dijadikan istri bersama kelima anggota keluarga Pandawa (Pendowo Limo).
Terdapat beragam media uji dalam swayambara. Selain perang tanding, uji kepiawian berperang atau bahkan kesaktian seperti pada swayamhara untuk Amba-Ambika-Ambalika, ada pula media uji berupa merentang busur panah (gandewa) sakti seperti pada swayambara untuk Sita, uji ketepatan mengenai sasaran dalan menanah seperti pada swayambara untuk Dropadi, atau cukup dengan sang putri kalungkan manikam ke leher pria pilihannya seperti pada seayambara untuk Indumati. Pada contoh kasus swayambara untuk Dewi Sita, Dropadi maupun untuk tiga bersaudari Amba-Ambika-Ambalika, uji dalam swayambara itu lebih menyerupa lomba, yakni adu kesaktian, ketangkasan, kepiawian atau kehadalan. Adapun dalam swayambara untuk Indumati, terlihat hak prerogatif sang putri untuk tentukan sendiri salah seorang peserta sebagai proa terpilih untuk dijadikan suami. Meskipun swayambara untuk Dropadi menggunakan uji tepat sasaran dalam memanah, namun Karna yang tampil sebagai pemenang ternyats tidak secara otomatis menjadi pria terpilih sebagai calon suami, sebab ia hanya anak seorang sais.   Alih-alih Dropadi menjatuhkan pilihannys kepada Arjuna, yang baru tampil setelah Karna sebagai seorang pemanah handal yang anak panahnya tepat mengenai sasaran. 
Dalam suatu swayambara, terkadang pihak yang kalah tidak “legowo” menerima kekalahannya. Kakawin Sumanasantaka mengkisahkan bahwa raja-raja yang ditolak oleh Indumati di dalam swayambhawara akan menculik mereka berdua (Aja – Indumati). Satu persatu menyerang Aja, namun seluruhnya dapat dilumpuhkan. Tidak mudah untuk menerima kekalahan. Padahal, menang – kalah merupakan konsekuensi logis  dalam  swayambhara. Sebagaimana arti istilah dari “swayambhara”, yakni memilih sendiri, sang putri (misal Indumati) memiliki hak prerogatif untuk tentukan sendiri pulihannya. Indumati jatuhkan pilihan pada Aja, namun ara pederta lain tak bisa menerima ketdakterpilihannya itu. Demikianlah, swayambhara yang memuat rivalitas terkadang membawa ekses, yaitu tidak legowonya pihak yang kalah.


Sangkaling, 24 Mei 2019Griya Ajar CITRALEKHA

Continue Reading

JAMAN KUNO

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA

Avatar

Published

on

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA : Koco Brenggolo Kasus Hukum pada Kisah Pencurian Ken Angrok

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paparan Kisah Pencurian oleh Ken Angrok

Tulisan ini mengangkat beberapa kisah tentang pencurian yang dilakukan oleh atau dituduhkan kepada Ken Angrok. Walau tak semua kisahnya secara eksplisit berkenaan dengan korupsi sebagaimana modus korupsu sekarang. namun terdapat siratan-siratan pesan yang berkenaan dengan “fenomena pencurian”. Kisah-kisah itu dapat dijadikan contoh kasus, mengingat bahwa pada dasarnya korupsi adalah suatu varian dari sikap tdan perilaku “maling (pencurian)”.

Sebagai seorang manusia biasa, “fase pencuri” pernah dilalui oleh Ken Angrok, sebagai suatu “episode gelap” dalam balada (perjanan pajang kehidupannya) — tentu selain “episode terang” yang berisi kebaikan- kebaikannya. Pencurian adalah bagian dari kemanusiaan manusia, yaitu sisi gelap kehidupan manusia Dapat difahami bila Angrok terlibat dalam sejumlah tindakkan pencurian, mengingat bahwa ayah angkatnya yang pertama, yakni Lembong, adalah pencuri ulung. Hingga usia remaja kecil, Ken Angrok dibesarkan d lingkungan keluarga pencuri ini. Dikisahkan oleh Pararaton “… Lambat-laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong …. ” (Marduwarsito, 1965:48-49).

1. Contoh Kasus Pertama

Menurut pengkisahan di dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton, ketika Angrok masih seusia “rare sapangangon (anak gembala)” , ia bekerja pada yang dipertuan (tuha) Desa Lebak sebagai
penggembala sepasang kerbau miliknya. Angrok sempat dituduh — meskipun belum terbukti akan kebenarannya — melakukan penggelapan atas kerbau yang digembalakan. Akibat tuduhan buta itu, Angrok kecil terpaksa meninggalkan rumah, sedangkan ayah angkatnya (Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok) terpaksa menanggung beban baya atas hilangan ternak gembalaa itu.

2. Contoh Kasus Kedua

Kisah pencurian lain yang dilakukan Ken Angrok terbilang “unik”. Kejadiannya ketika Angrok dan tuan Tita — putra tuan Sahaja, kepala desa di Sagenggeng — menjadi murid (sisya) dari guru Jangan di Sagenggeng. Kala itu pohon jambu di halaman rumah Janggan tengah berbuah lebat dan nyaris masak total. Angrok berkeinginan kuat (bahasa Jawa Baru disebut “kemecer”) untuk mencicipi. Namun, Janggan yang disiplin ketat melarang keras mengambil sebelum jambu-jambunya masak benar. Meski kemecer, sebagai murid yangi taat kepada guru, dalam kondisi sadar Angrok menekan keinginannya sedemikian rupa unuk tak memetik barang sebuahpun.

Yang ada dalam kondisi “sadar” dan yang terjadi ketika berada “dibawah sadar’ bisa saja berbeda. Dalam kisah ini, keinginan kuat yang ditekan- tekan menyeruak pada alam bawah sadarnya. Tengah malam ketika Angrok tertidur, keluar amat bsnyak kelelawar-kelelawar (tepatnya codot) dari ubun-ubunnya, yang lantas menyerbu buah jambu milik Janggan. Setelah kenyang menyantap buah jambu, rombongan kelelawar kembali ke diri Angrok juga lewat ubun-ubunnya manakala ia masih tertidur lelap.

Pagi harinya, betapa terkejut hati Janggan demi melihat sisa jambu berserakan — biasanya codot hanya memakan bagian ujung jambu, di bagian yang telah matang dan enak, separo dibawahnya dibuang — pertanda ada pesta pora semalaman. Kejadian yang demikian belum pernah sekalipun berlangsung sebelumnya. Oleh sebab itu muncul syakwasangka bahwa pencuri jambunya adalah murid barunya, yakni Angrok. Tentu saja Angrok tak mengakui tuduhan itu, sebab semalaman ia lelap tidur. Namun Janggan tetap menjatuhkan sangsi kepadanya. Angrok dilarang untuk tidur di dalam pondok — tipe pondok kuni tanpa dinding penutup,. Oleh karena itu, Angrok tidur di atas tumpukan jerami kering untuk pembuatan atap.

Janggan baru menyadari kesalahan tuduhannya di tengah malam berikutnya. Pada tengah malam secara diam-diam guru Janggan ke luar rumah memantau jejadian guna mencari bukti bagi tuduhannya. Janggan heran tatkala melihat sesuatu yang bernyala (bercahaya terang) dari tumpukan jerami kering, yang dukiranya tengah terbakar. Rupa-rupanya, yang bernyala itu adalah sosok Angrok. Lebih heran lagi ketika saksikan kelawar berduyun- duyun keluar dari ubun-ubun Angrok menyerbu buah jambunys. Bukan sosok fisik dari Angrok yang mencuri jambu, namun “keinginannya” yang berwujud codot tatkala berada di alam bawah sadar (tidur)”. Dengan fakta ini, Janggan persilahkan Angrok pada malam berikutnya untuk tidur kembali di dalam pondok, bahkan kelak diizinkan makan jambu sepuas-puasnya ketika telah benar-benar masak.

3. Contoh Kasus Ketiga

Peristiwa pencurian lainnya yang dilakukan oleh Angrok adalah ketika ia dalam persembunyian di Desa Luki guna menghindari kejaran tentara Akuwu Tunggul Ametung. Dalam kondisi amat lapar, terpaksa Angrok mencuri dan menyantap makanan kiriman (dalam istilah kini “ransum”) yang dikirim oleh istri petani dalam tabung bambu kepada suaminya yang tengah bekerja di sawah. Tidak seperti biasa, ketika pak tani hendak menyantap makanan kiriman yang ditaruh di pondok ladang didapati habis isinya. Nampaknya, diam-diam ada yang mencuri dan memakannya. Kejadian berulang di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, pak tani pun melakukan pengawasan untuk bisa menangkap basah pelaku pencurian. Akhirya berhasil, Ken Angrok tertangkap basah sebagai pencurinya. Namun uniknya, pak tani tidak memberi sangsi kepada si pencuri, sebaliknya justru meminta istrinya agar hari berikutnya membawa makan dua porsi dengan maksud yang seporsi diberikan buat Angrok yang memang kelaparan dan terpaksa mencuri makanan milik orang lain.

4. Contoh Kasus Keempat

Pencurian lain dilakukan oleh Ken Angrok di Desa Pamalanten. Lantaran ketahuan, maka Angrok melarikan diri dan dikejar warga. Menyadari dirinya terpepet dan takut tertangkap karena di mukanya mengalir sungai, maka Angrok pun memanjat pohon kelapa. Warga mengetahui dan mengepungnya di bawah pohon .Angrok yang telah berada di penghujung atas pohon kelapa diultimatum untuk turun, bila tidak mau maka pohon kelapa bakal ditebang. Mendengar ada ancaman ini, maka Angrok pun ketakutan, dan memohon Dewata untuk menolongnya. Meski Dewata beri perlindungan dengan meminta warga untuk tidak menangkap Angrok yang diakui sebagai “anakNya”, namun warga tetap bersikeras untuk menebang pohon kelapa. Ken Angrok tak kurang akal, diambilnya dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan semacam “media luncur” agar dapat menyeberangi sungai.

Sebenarnya masih ada kisah-kusah pencurian lain dalam kitab Pararaton, yang agar tak terlalu panjang, maka tidak seluruhnya dipaparkan pada tulisan ini. Misalnya, kisah “pencurian terhadap perempuan” yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung yang “membawa lari Ken Dedes untuk dinikahi” ketika ayahnya (pu Purwa) tengah tak ada di rumah. Lantaran pelakunya adalah “sang Akuwu”, pejabat tinggi di Tumapel, maka tindak pencurian (kawin lari) ini tidak tersentuh hukum.

B. Kasus Hukum Kisah Pencurian dalan Pararaton

Pada contoh kasus pertama, jika pun benar bahwa Angrok menggelapkan (dengan menjual secara diam-diam) sepasang kerbau milik tuha Desa …………. yang digembalakannya, pelaku kejahatan ini masih “dibawah umur”, sebab kala itu Angrok masih seusia “anak gembala”, yaitu remaja kecil. Selain itu, kurang cukup bukti untuk menetapkan bocah Angrok sebagai pelaku. Bisa jadi, lenyapnya sepasang kerbau itu dicuri orang, mengingat penggembalanya adalah anak kecil. Meski demikian, secara sepihak pemilik kerbau menuntut ganti rugi kepada orang tua Angrok, yang dalam hal ini adalah ayah angkatnya (“si pencuri” Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok). Terpaksa kedua orang tuanya beri ganti rugi meski amat berat untuk ukuran ekonomi mereka. Lantaran tuduhan itu, si kecil Angrok yang ketakutan terpaksa lari dari rumah dan menggelandang hingga akhirnya ditemukan dan diambil anak angkat oleh “si penjudi (bobotoh)” Bangosamparan.

Pada contoh kasus kedua tergambar bahwa pangkal tindak kejahatan, termasuk pencurian, adalah “pikiran”. Hal ini tergambar pada kekelawar-kelelawar pencuri jambu yang keluar dari ubun-ubun Ken Angrok. Selain itu, diperoleh ilustrasi bahwa tindak pencurian bisa terjadi manakala ada “iming-iming kuat” untuk mencuri. Pohon jambu yang tengah berbuah lebat dan nyaris matang adalah suatu kondisi yang “menggiurkan” bagi Ken Angrok untuk menyantap buah-buah jambunya. Meski ada keinginan kuat, namun lantaran terdapat aturan ketat dan tegas, dimana posisi seseorang musti patuh, maka keinginan yang tak sesuai dengan aturan itu mustilah ditekan sedemikian rupa hingga tak jadi dilakukan.

Dalam kisah ini, betapa pun Ken Angrok tergiur untuk memakan jambu miilik guru Janggan, lantaran sang Guru melarang keras untuk memetiknya sebelum benar-benar masak, maka dalam “alam sadarnya” Angrok tidak berani mengambil jambu. Namun, ketika ia berada “dibawah sadar (tertidur)”, tindakkan tersebut dilakukannya. Tindak kejahatan pencurian bisa berada dalam “tarik-ulur” antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang. Sebagai anak muda, Angrok bisa kendalikan alam sadarnya, namun alam bawah sadarnya ternya beda sikap dan tindakan.

Pada kasus ini, mulanya Janggan melakukan “syakwasangka”, yakni penuduhan yang kurang cukup bukti terhadap Angrok yang disabgkakan sebagai pelaku pencurian jambu, bahkan dijatuhi sangsi dengan dilarang tidur di dalam pondok. Namun, sebagai orang bijak (guru), Janggan pun mencari bukti untuk tuduhannya yang ia sadari kurang cukup bukti. Setelah melakukan telisik diam-diam pada tengah malam, diketahui sendiri (diperoleh fakta) bahwa pelaku pencurian bukan sosok fisik Angrok, melainkan non-fisiknya, yakni pikirannya, keinginannya. Baginya, pikiran tak bisa dikenai sangsi. Oleh karena itu, Janggan mencabut sangsi yang telah dijatuhkan sehari sebelumnya kepada Angrok, dengan persilahkan muridnya ini kembali boleh bermalam di dalam pondok. Bahkan, ketika jambu-jambuu telah benar-benar masak, Angrok diberi kesempatan untuk memakannya sepuas-puasnya.

Pada contoh kasus ketiga, tindak pencurian bisa dilakukan ketika seseorang di dalam kondisi terpepet, tak ada pilihan. Tindakkan Angrok mencuri ransum milik petani dilakukan karena ia tak kuasa menahan rasa lapar sebagai orang yang dalam persembunyian dari pengejaran. Pencuri makanan tentulah orang lapar. Angrok tertangkap basah ketika tengah mencuri ransum berkat pemantauan cermat dari petani terhadap pelaku tindak kejahatan. Petani yang memahami bahwa pelaku pencurian itu adalah orang yang terpaksa karena kondisi sulit (dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “kesrajat”), maka ia tidak menjatuhkan sangsi kepada Angrok yang menjadi pelaku pencurian terhadap makanannya. Bahkan sebaliknya, pada hari-hari berikutnya Angrok mendapat bantuan makan darinya. Dengan memenuhi kebutan mendesak dari pelaku kejahatan, maka pelaku terhindar dari tindakkan mengulangi kejahatannya.

Pada contoh kasus ke empat tergambar bahwa pada suatu waktu pelaku tindak kejahatan harus melarikan diri agar terhindar dari penangkapan. Namun, ibarat “sepanda-pandainys tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, Angkrok pun terpepet dalam pengejaran, karena pelariannya terhalang alran sungai. Ketika terdesak demikian, kadang pelaku kejahatan melakukan tindakan naif, seperti ketika Angrok memanjat pohon kelapa, yang tindakannya ini ketahuan warga yang mengejarnya. Ketika pengejarnya mengultimatum untuk memotong pohon kelapa yang fipanjati Angrok untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, tak terelakkan bahwa orang pemberani sekaliber Angrok pun ternyata ketakutan juga. Bahkan, Angrok memohon agar Dewata memberi perlindungan keselamatan. Hal lain yang tergambar dalam contoh kasus ini, dalam kondisi paling terpepet, masih saja ada akal pelaku kejahatan untuk dapat lolos dari penangkapan. Langkah cerdik Angrok dalam hal ini adalah segera mengambil dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan media bantu luncur guna menyeberangi sungai untuk terhindar dari pengejaran dan penangkapan.

C. Refleksi Historis atas Tindak Korupsi

Tindak pencurian, yang antara lain berwujud “korupsi” terdapat kapanpun dan dimabapun. Dalam sejarah Nusantara, sebagian etape hidup Angrok oleh Paparaton dikisahkan sebagai ‘pencuri (maling,)”. Berdarkan studi kasus dengan menelaah beberapa penggal mudahnya, diperoleh catatan-catatan sejarah penting untuk direnungi bersama, yaitu sebagai berikut:
1. Tindak kejahatan, termasuk pencurian dalam wujud korupsi berpangkal pada “pikiran yang korup”. Oleh karena itu, pemberantasan terhadap korupsi mencukup pula pemberantasan terhadap pikiran korup, yang perlu dilakukan dengan pembinaan mebtakuta.

2. Kondisi yang menggiurkan, termasuk adanya celah (kesempatan), menyediakan peluang untuk melakukab tindak jejahatan korupsi di waktu yang perhitungkan “aman” oleh pelaku untuk ttidak ketahuan (tertangkap).

3. Tindak kejahatan pencurian, termasuk juga korupsi, bisa terjadi lantaran si pelaku dalam kondisi terpepet, terlebih bila ia merasa tidak ada pilihan lain. Dalam kasus demikian, pemberian “kecukupan” dapat menghindarkan orang dari tindak kejahatan korupsi — meski tak ada jaminan untuk itu.

4. Terhadap tindak pencurian, termasuk juga korupsi, perlu menghindarkan terhadap tuduhan buta, syakwasangja, dan keburu jatuhkan sangsi padahal sesungguhnya kurang cukup bukti. Oleh karena itu, fajta-fakta hukum perlu menjadi unsur pembukti untuk menetapkan seseorang sebagai pencuri ataupun koruptor. Demikian pula tingkat sangsi atas perbuatannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seseorang diposisikan sebagai “salah tuduh” dan “terdera sangsi padahal dirinya bukan pelaku sesungguhnya atas suatu kejahatan”.

5. Walaupun jelas-jelas terbukti sebagai pelaku pencurian ataupun koruptor, sentiasa pelaku berupaya melarikan diri dan terhindar dari penangkapan. Jikalau terdesaj, maka terkadang dilakukan tindakan penyelamatan diri yang terkesan naif. Kalaupun sebelumnya pelaku merasa sebagai orang kuat, pemberani dan nyaris tak tersentuh hukum, namun ketika ada bukti kuat atas pelsku kejahatan dan berada dalam posisi amat terdesak, maka muncul rasa pengakuan atas ketidak berdayaannya untuk bisa lolos dari jerat hukum. Bahkan untuk itu. Ia memohon pertolongan dari pihak lain.

6. Dalam kasus tertentu atas tindak pencurian ataupun korupsi, bisa jadi ada “orang kuat” yang mampu mengkondidokan dirinya sebagai nyaris tak tersentuh oleh hukum meski terbukti jelas tindakkannya.

Demikian beberapa catatan yang disarikan dari contoh-contoh kasus hustoris di atas untuk ditransformasikan guna menelaah fenomena korupsi di masa sekarang. Semoga telaah yang mirip dengan “parodi historis” ini dapat memberi keteladanan untuk terhindar dari tindak kejahatan pencurian, termasuk varian wujudnya yang berupa tindakkan korupsi. Amin. Nuwun.

Continue Reading

JAMAN KUNO

RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Avatar

Published

on

 

Menuju ‘BAHANA BADUT’, 8-9-2017
Bagian ke-2

CENDELA PEMBUKA KABAR EKOLOGI-RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Arca Agastya Berbahan Cendana

Salah sebuah sekte pada Hinduisme yang terbilang dominan pada Sejarah Nusantara Masa Hindu-Buddha (awal hingga abad XVI Masehi) adalah Hindu-Saiwa. Pada sekte ini, meski Agastya bukan dewa – melainkan seorang maharsi, yakni satu diantara tujuh rsi (saptarsi) utama pebhakta Siwa, namun arca-arcanya hampir senantiasa kedapatan pada relung/bilik sisi selatan tubuh candi Hindu-Saiwa. Agastya diposisikan semacam ‘wakil’ dari Dewa Siwa di Dunia. Sejauh telah diketemukan, kebanyakkan arca-arca Agastya dibuat dari batu kali (andesit). Bahan lain yang juga dipergunakan untuk membuatannya adalah perunggu, khususnya untuk arca berukuran kecil hingga sedang, yang karenanya ukuran dan bahannya itu maka arca Agastya dari perunggu bersifat mobile. Selain kedua bahan itu, konon kayu cendana juga dipakai sebagai bahan pembuatan arca Agastya. Bukti tentang itu tidak atau belum diperoleh bentuk artefaktual, namun didapati informasinya dalam sumber data tekstual.

Adalah Prasasti Kanjuruhan (disebut juga dengan ‘prasasti Dinoyo I’) bertarikh 21 Nopember 760, yang menyebut informasi mengenai penggantian arca Agastya dari kayu cendana yang telah rusak dengan arca serupa namun dibuat dari ‘batu hitam’ – kenungkinan menunjuk kepada batu andesit, yang berwarna abuu-abu kehitaman. Penggantian dilakukan atas perintah dari Gajayana, yakni raja ke-2 di kerajaan Kanjuruhan. Menurut prasasti Kanjuruhan, yang didalamnya memuat silsilah atau urutan tiga raja berturut-turut seketurunan, Gajayana adalah putera dari Dewasingha. Sangat boleh jadi, Dewasingha adalah penguasa pertama di Kanuruhan, yang pertama kali bersentuhan dengan pengaruh agama dan budaya India.

Arca Agastya dari cendana tersebut karenanya dibuat semasa dengan pemeritahan Dewasingha, yang ketika memasuki pemerintahan Gajayana kondisinya telah rusak dan karenanya diganti dengan arca serupa dari bahan yang lebih tahan usia, yakni batu hitam (batu andesit). Sayang sekali arca Agastya dari batu andesit yang semestiya konon ditempatkan di relung sisi selatan candi induk Badut tersebut tidak diketemukan, sehingga bagaimana bentuk dan gaya pahatannya tak diketahui. Arca Agastya dari Candi Gasek, yang terletak di dekat (sekitar 400 m di utara lokasi Candi Badut), dapat dijadikan sebagai ‘arca pembanding’ yang relatif sezaman.

Apabila benar arca Agastya dari kayu cendana tersebut berasal dari era pemerintahan Dewasingha, berarti lebih awal dari Candi Badut (baca ‘pra Era Badut’). Candi yang berlatar agama Hindu sekte Saiwa ini rampung dibangun pada era pemerintahan Gajayana, yang momentum purna bangunnya dibadikan secara literal dalam pasasti batu (linggoprasasti) Kanjuruhan (760 Masehi). Terbayang bahwa sebelum dibangun Candi Badut, di tempat yang sama pada DAS kali suci Metro, yang pada areal sekitar Candi Badut arah alirannya berbentuk meander, pernah terdapat bangunan suci (baca ‘candi’) yang secara khusus digunakan sebagai tempat pemujaan Maharsi Agastya (Agastyapuja). Candi yang bisa jadi berukuran lebih kecil dan lebih bersahaja daripada Candi Badut ini kemudian direnovasi oleh Gajayana dengan memperluas areal upacaranya; memperbesar, memperkompleks, dan memperindah arsitekturnya dengan gaya arsitektur dan ikonografi India; serta meningkatkan fungsi religisnya dari Agastyapuja menjadi Siwapuja. Dengan demikian, Candi Badut yang berasal dari era pemerintahan Gajayana itu bukanlah candi tertua di DAS Metro, sebab lebih awal darinya terdapat candi buat Agastyapuja yang berasal dari era pemerintahan Dewasingha. Meski demikian, kedua bangunan suci ini dapat dibilang sebagai candi-candi tertua – bukan hanya tertua di Malang Raya, namun lebih dari itu tertua pula di Jawa Timur.

Selain dalam Prasasti Kanjuruhan, perihal cendana juga diperoleh pemberitaannya dalam sumber data susastra Masa Hindu-Buddha. Kata ‘cendana’ di dalam Bahasa Indonesia diserap dari Bahasa Sanskreta ‘candana’, yang menunjuk kepada: cendana, pohon (berbagai jenis Santalium), kayunya yang kuning dipakai untuk pembuatan dupa dan wangi-wangian (Zoetmulder, 1995:157). Susastra yang menyebutnya antara lain Agastyaparwa (357), Wrehaspatitattwa (33, 38), Ramayana (3.23, 9.16, 21.99), Arjunawiwaha (1.13), Bharayuddha, Tantri Kamandaka (56), Korawasrama (90). Dengan disebutnya candana pada kakawin Ramayana, diperoleh petunjuk bahwa pada abad IX Masehi cendana telah dikenal di Jawa, baik sebagai tanaman ataupun poduk olahan kayunya.

Keterangan di dalam prasasti Kanjuruhan tersebut sangat penting dan menarik karena berapa hal. Pertama, konon di Nusantara pada Masa Hindu-Buddha pernah terdapat arca dewata yang dibuat dari kayu terpilih, yang dalam konteks ini adalah kayu cendana. Kedua, arca Agastya dari cendana yang diberitakan oleh prasasti Kanjuruhan adalah arca dewata Hindu yang amat tua, bahkan cukup alasan untuk menyatakankannya sebagai arca Hindu tertua di Jawa Timur. Tentunya, kala itu juga terdapat arca dewa-dewa lainnya yang dibuat dari bahan kayu. Namun, seiring dengan perjalanan panjang usianya, arca kayu itu mengalami kemusnahan dalam menghadapi pengaruh iklim tropis. Arca dewata dari bahan kayu dengan demikian memiliki akar sejarah panjang di Nusantara. Akar tradisinya diperkuat oleh adanya arca-arca ‘dewa lokal’ dan arca perwujudan arwah nenek moyang dari agama non Hindu-Buddha yang terbukti cukup banyak didapati pada berbagai etnik di penjuru pedalaman Indonesia.

B. Kayu Cendana Lokal Malang

Apabila berbicara tentang daerah produsen kayu cendana di Indonesia, telunjuk orang cenderung tertuju kepada Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor. Meskipun sekarang juga ditemukan di Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara. Jika merujuk keterangan dalam prasasti Kanjuruhan diatas, keberadaan arca Agastya dari kayu cendana itu dapat dijadikan sebagai petunjuk menganai kayu cendana di daerah Malang pada awal abad VIII Masehi. Boleh jadi, kayu cendana yang dijadikan bahan pembuat arca Agastya tersebut tidak didatangkan dari NTT, namun kayu cendana lokal. Kenderaannya di kawasan Malang (baca ‘Malangraya’), khususnya Malang bagian barat pada DAS Metro dan DAS Brantas maupun lembah diantaranya terdukung oleh data tiponimis maupun kebiasaan penggunaan kayu cendana lokal oleh warga masarakat di daerah itu.

Setidaknya, di daerah Batu terdapat dua tempat yang memilii toponimi berunsur nama ‘cendana’, yaitu; (1) Gunung (Bukit) Cendono, yakni satu diantara dua Gunung Sepikul (terdiri atas dua bukit bersebelahan: Gunung Wukir dan Gunung Cendono) pada sub-DAS Hulu Brantas; dan (2) Jurang Cendono, yaitu lembah dalam yang menjadi demarkasi antara Desa Pendem dan Desa Dadaprejo, yang sekaligus merupakan mata air (tuk) Kali Braholo. Pada kedua tenpat itu, sisa kayu cendana masih didapati, meski sangat jarang dan nyaris punah. Menurut informasi warga Desa Dadaprejo, misalnya Suparto (60 tahun asal Dusun Karangmloko Desa Dadaprejo), hingga tahun 1980-an ada kebiasaan membakar serpihan kulit kayu cendana di bawah keranda mayat manakala ada kematian. Konon warga di sekitar Jurang Cendono itu punya kebiasaan untuk mengeringkan serpih-serpihan kulit kayu cendana dan membakarnya sebagai pengharum ruang atau menempatkan akar-akar kayu cendana kering di dalam almari sebagai memberi aroma harum pakaian. Ada pula yang membuat minyak harum dari kayu cendana. Memang, cendana atau cendana wangi khususnya merupakan penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya biasa digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Bahkan, bila kayunya tergolong sebagai baik, bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini dipergunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat itu, cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Kayu cendana wangi (Santalum Album) kini amat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari Mysoram (India Selatan) dianggap paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Pulau Timor sangat dihargai. Sebagai pengantinya, sejumlah pakar aromaterapi dan parfum mulai menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda. Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk tujuan penyembuhan. Ditinjau dari Bahasa Belanda (sandelhout) dan Bahasa Inggris(sandalwood), kayu cendana diyakini berasal dari NTT, khususnya dari Pulau Sumba. Hal ini dapat dilihat dari julukan Pulau Sumba, yakni Sandalwood Island. Julukan ini dibawa turun temurun dari zaman penjajahan Jepang dan Belanda hingga kini.

Pohon cendana (Santalum Albul Linn) mempunyai dua jenis, yaitu: (1) kayu cendana merah, dan (2) kayu cendana putih. Mutu kayu cendana merah tak sebaik kayu cendana putih, namun kurang diminati di pasaran. Kayu cendana merah banyak tumbuh di India dan Funan, adapun cendana putih banyak tumbuh di NTT. Walau tumbuhan parasit, cendana bisa tumbuh dengan ketinggian 11-15 meter, dan termasuk pohon besar dengan diameter batang bisa mencapai 25-30 cm. Pohon cendana memiliki berbagai manfaatm baik dari segi ekonomis maupun kesehatan. Bahkan, ada yang menganggap kayu cendana memiliki tuah. Beberapa manfaat kayu cendana adalah sebagai: (a) batang kayu cendana yang kokoh dan besar dapat dipergunakan sebagai bahan baku furniture dan meubel, dengan kualitas kayu yang sangat baik; (b) bahan baku kerajinan tangan, khususnya hiasan seperti rangka keris, kipas, ukiran, tasbih (aksamala); (c) simbol prestise, lantaran kualitas kayunya tinggi, proses budidayanya sulit, sehingga harganya tinggi; (d) kulit kayu dan minyak cendana bisa dijadikan bahan obat herbal yang berkaisiat anti peradangan, mencegah disentri, dan gangguan pencernaan, serta pembersih ketika menstruasi; (e) bahan parfum dan wangi-wangian, khususnya cendana putih dengan kewangiannya yang baik, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai campuran parfum, bahan pembuatan dupa, aromaterapi, dan balsam; (f) minyak cendana dipercaya dapat mengendalikan stress dan kecemasan, lantaran mempunyai efek alamiah anti depressant; (g) perlancar buang air kecil (ekskresi), lantaran minyak cendana mampu menekan rasa sakit ketika tubuh melakukan ekskresi; (h) minyak cendana bisa digunakan sebagai antiseptik dan antimikroba, sehingga bermanfaat bagi ketahanan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sulit terinfeksi bakteri, mikroba, dan virus berbahaya; (i) salah satu zat pemberi efek kecantikan tubuh, khususnya untuk menghilangkan noda hitam di kulit, mencegah munculnya jerawat, mengatasi dan menghilangkan minyak pada kulit.

Dasar pertimbangan dipergunakannya kayu cendana sebagai bahan pembuat arca Agastya tersebut bukan sekedar karena harum bau kayunya, namun harum kayu cendana diyakini sebagai media yang tepat untuk membawa orang untuk lebih dekat dengan dewata. Menilik bahwa Dewasingha adalah penguasa lokal Malang yang pertama mendapat pengaruh budaya Hindu (awal abad VIII), dimana terdapat indikator adanya pengaruh India Selatan, sangat mungkin arca Agastya berbahan kayu cendana itu didatangkan dari India Selatan. Indikator pengaruh India Selatan itu antara lain tampak pada penggunaan tarikh Saka, aksara Jawa Kuna yang adalah adaptasi dari aksara Pallawa, dan adanya Agastyapuja. Bagi warga India Tengah dan Selatan, Agastya dipandang sebagai ‘the culture hero’, yang berperan besar dalam melakukan siar Hindu ke bagian tengah dan selatan India, Begitu pula bagi warga di Asia Tenggara – termasuk di kepulauan Indonesia, Agastya mendapat tempat istimewa berkat jasanya dalam mendifusikan pengaruh Hindu ke seberang Indiaraya. Peran budayanya itu dapat dibandingkan dengan Ajisaka. Oleh karena itu, dapat difahami bila pada tahap awal (masa pertumbuhan) pengaruh Hindu di Nusantara, terdapat pemujaan khusus pada Agastya (Agastyapuja), sebagaimaa antara lain disiratkan dalam Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi).

Kala itu, bukan hanya arca kayu cendana yang didatangkan ke daerah Malangr, namun boleh jadi bibit kayu cendana juga dibawa untuk disemaikan di daerah ini. Apabila benar demikian, tanaman cendana yang konon banyak tumbuh di bagian barat Malang dan sisa-sisanya masih didapati pada dua tempat yang memiliki unsur toponimis ‘cendana’ tersebut kemungkinan asal tanamannya dari India Selatan. Di luar Malang, hingga tahun 1980-an patung-patung kayu cendana dibuat oleh para pekriya kayu di Pulau Dewata (Bali), khususnya untuk patung dewa-dewi. Di lingkungan Kristiani, patung Bunda Maria pun ada yang dibuat dari kayu cendana. Begitu pula, tak sedikit patung dewata agama Konghucu yang dibuat dari kayu cedana atau kayu harum dan berkualitas lainnya.

C. Reboisasi Khusus Pohon Cendana di Malangraya

Kawasan Malangraya, khususnya Malang Barat di daerah Batu, baik pada sub-DAS Hulu Metro dan Brantas maupun lembah diantaranya konon merupakan habitat pohon cendana. Nama ‘Jurang Cendono” dan “Bukit Cendno’ menjadi petunjuk kuat tentang itu. Demikian juga kesaksian warga Dadaprejo yang mencari kayu cendana di Jurang Cendono dan memanfaatkannya untuk sejumlah keperluan adalah kenyataan menganai keberadaan tanaman cendana di Malangraya pada beberapa dasawarsa lalu. Mengingat kelangkaannya sekarang, beragam manfaat kayu dan minyak cendana, sertaharganya yang terbilang tinggi, cukup alasan bagi daerah-daerah di Malangraya, khususnya Kota Batu untuk menggalang gerakan reboisasi khusus pembudidayaan tanaman cendana. Bukit Cendana dan Jurang Cendana bisa dipilih sebagai lokasi awal untuk pilot projek ini, yang nantinya diperluas ke tenpat-tempat lain.

Kepemilikan sejumlah daerah di Jawa akan pohon cendana menjadi alasan untuk menyatakan bahwa produk rempah-rempah bukan hanya kedapatan di Indonesia Timur, namun terdapat juga di Jawa untuk tanaman khusus seperti kayu cendana, lada, merica, cengkeh, adas-polowaras, dsb. Dengan perkataan lain, Jawa layak dimasukkan ke dalam ‘Jalur Rempah Nusantara’, baik sebagai produsen maupun sebagai pelabuhan transit. Dalam kaitan itu Malangraya memiliki kontribusi kerampahan, khususnya untuk tanaman cendana. Bagi kota Batu, cendana dapat dipertimbangkan sebagai ikon tanaman – selain apel, dan mempertimbangkan pembuatan ikon arca Ganesya – dengan model arca Genesya di Torongrejo – dari bahan kayu cendana untuk ditempatkan pada hall depan Block Office ‘Amongtani’. Bersamaan dengan itu, reboisasi khusus berupa penanaman kembali pohon cendana musti segera dimulai.

Demikianlah, sekilas informasi tentang keberadaan arca Agastya dari kayu cendana dapat dijaikan semacam ‘cendela pembuka berita’ mengenai reliegio-ekologis yang berkenaan dengan tanaman cendana di Malangraya dalam lintas masa. Semaga tulisan ringkas yang bersahaja ini bisa membuahkan kefaedahan. Nuwun.

Sengkaling, 6 Sepetember 2017,
PATEMBAYAN CITRALELHA

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019