Connect with us

JAMAN KUNO

Pembelajaran Sejarah Lokal

Avatar

Published

on

Mikro-Histori Nusantara 2

MENEPIS ALIENASI TERHADAP SEJARAH DAERAH SENDIRI :
Pembelajaran Sejarah Lokal Secara Proporsional di Sekolah

01

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Alienasi Historis, Ironi Pembejaran Sejarah

W.S. Rendra dalam ‘Sajak Seonggok Jagung’ yang dimuat pada buku kumpulan puisinya ‘Potret Pembangunan dalam Puisi’, 1975, menembakkan kata-kata sindiran tajam terhadap ironitas pendidikan di negeri ini, yang ironisnya justru menjadikan subyek didik terasing (teralienasi) di lingkungannya sendiri. Berikut kutipan (sitat) beberapa bait sajaknya:

…………………………….
Seonggok jagung dikamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tetapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahka
nnya dari kehidupannya

Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoala
nnya?

Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja?
Ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”

Belajar sejarah dimaksudkan agar seseorang tahu, faham, dan syukur apabila mampu memetik makna atau teladan bijak dari peristiwa-peristiwa masa lampau. Atau dengan perkataan lain, agar ‘melek sejarah’. Bukan hanya melek terhadap sejarah daerah-daerah lain, sejarah negara-negara atau bangsa-bangsa lain yang nota bene jauh darinya, namun lebih utama dari itu adalah melek terhadap sejarahnya sendiri, terhadap sejarah daerahnya sendiri. Apabila tidak, dengan meminjam perkataan Rendra di dalam sajak itu, pembelajaran sejarah di sekolah justru jadikan pembelajar (siswa) terpisah dari kehidupannya (…….,’memisahkannya dari kehidupannya’), atau menyebabkannya‘……… asing ditengah kenyataan persoalannya’, sehingga ‘…………. disini aku merasa asing dan sepi’. Suatu gambaran tentang keterasingan (alienasi) anak bangsa atas pendidikan yang telah diterimanya di sekolah. Tanpa terkecuali, keterasingan demikian bukan tidak mungkin melanda Pendidikan Sejarah di sekolah. Suatu ‘ironitas kesejarahan (historical ironic)’ yang patut dihindari dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Bagaimana cara agar para siswa melek terhadap sejarah daerahnya sendiri?’.

Jawabnya sederhana – meski tak mudah dalam penerapannya, yaitu dengan menyajikan materi Sejarah Daerah atau Sejarah Lokal secara proporsional di sekolah. Sebenarnya, terdapat ‘ruang kurikulum’ untuk itu. yaitu Pembelajaran Sejarah dengan muatan lokal (local contains)’, yang diakronimkan dengan ‘mulok”, berupa kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi suatu daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Istilah ‘muatan’ atau kata jadiannya, yaitu ‘dimuatkan’, dalam prakteknya hanya sekedar dimuatkan, disisipkan atau dititipkan’ ke dalam materi ajar Sejarah Nasional. Mustinya diposisikan sebagai bagian integral dan sama pentingnya dengan materi Sejarah Nasional, serta proporsional bagi khasanah sejarah suatu daerah.

Proporsional dalam arti sesuai dengan luasan dan kedalaman, urgensi peran, dan siratan makna dalam sejarah lokal bersangkutan. Tidak dipungkiri terdapat sejarah lokal di suatu daerah yang lebih historiografis lantaran mempunyai ragam sumber data, lebih luas dan lebih multi-aspek paparannya, maupun lebih besar gambaran perannya dalam konteks sejarah nasional ataupun regional apabila dibandingkan dengan sejarah lokal di daerah lain untuk kurun waktu tertentu. Misalnya, sejarah lokal Masa Hindu-Buddha di Malang – yang pada masa itu menjadi pusat pemerintahan (kadatwan) beberapa kerajaan (Kanjuruhan, Mataram era Isanavamsa, Singhasari dan Sengguruh maupun vasal terbesar di masa Kadiri dan Majapahit) – tentu mempumyai paparan sejarah yang luas dan multi-aspek, lebih besar peran sejarahnya, dan lebih historiografis apabila dibandingkan dengan sejarah lokal pada Masa Hindu-Budda di Pacitan, Bondowoso dan Ngawi. Namun sebaliknya, untuk sejarah lokal pada Zaman Prasejarah, daerah Pacitan, Bondowoso dan Ngawi mempunyai hal-hal lebih apabila dibandingkan dengan Malang.

B. Pembelajaran dan Praktikum Riset Sejarah Lokal

Pembelajaran sejarah dengan ‘mulok’ dalam sejumlah hal menghadapi kesulitan, antara lain :

(a) terbatasnya sumber data masa lalu di suatu daerah;

(b) belum adanya buku ‘Sejarah Daerah’ di daerah bersangkutan – kalaupun ada, tingkat akurasinya rendah;

(c) guru kurang atau bahkan tak banyak mengetahui dan memahami jejak historis-arkelogis di daerahnya,

(d) pihak sekolah kurang memberi keleluasaan kepada guru-siswa untuk melaksanakan studi esploratif terhadap sumber-sumber data sejarah lokal di luar sekolah,

(e) tidak terdapat LKS atau buku penunjang (suplement book) tentang Sejarah Lokal di sekolah, dan

(f) kurangnya pemahaman guru akan konsep dan metodologi penelitian sejarah lokal untuk Praktikum Sejarah bagi siswa.

Padahal, butir-butir itu merupakan prasyarat bagi terlaksananya pembelajaran dam praktikum penelitian Sejarah Lokal dengan baik.

Menyikapi persoalan diatas, berikut beberapa upaya awal yang memungkinkan pembelajaran Sejarah Lokal bisa dilaksanakan dengan baik, yaitu:

(a) inventarisasi dan dokumentasi oleh tim ahli terhadap tinggalan sejarah, arkeologi, paleo-ekologi, dan tradisi lisan yang dapat dijadikan sumber-sumber data bagi penulisan dan pembelajaran sejarah dengan mulok,

(b) penulisan dan penerbitan buku Sejarah Daerah – oleh Tim Ahli, yang kelak dijadikan referensi akurat bagi penulisan buku penunjang dan LKS untuk pembelajaran sejarah dengan mulok,

(c) peningkatan pengetahuan dan pemahaman guru terhadap jejak-jejak historis-arkologis dan relasinya dengan lingkungan sekitarnya,

(d) pemberian kesempatan (keleluasaan) oleh sekolah terhadap guru-siswa untuk melaksanakan pembelajaran dan praktikum peneltian Sejarah Lokal dalam ‘studi eksploratif’ terhadap sumber data sejarah lokal di luar sekolah, yaitu di situs sejarah-arkeologi,

(e) menyusun LKS dan buku penunjang Sejarah Lokal yang tersedia di sekolah,

(f) peningkatan pemahaman konseptual dan ketrampilan metodologis bagi riset Sejarah Lokal dalam Praktikum Sejarah Lokal bagi siswa.

Butir-butir solusi itu mengambarkan bahwa penanganan terhadap persoalan pembelajaran dan riset Sejarah Lokal tak cukup melibatkan guru dan sekolah, namun sebagian merupakan ranah dari Tenaga Ahli dan Pemerintah Daerah.

Upaya-upaya diatas adalah ikhtiar untuk menjadikan pembelajar Sejarah agar tidak teralienasi dari sejarah daerah sendiri. Pada masa sekarang, pembelajaran Sejarah Lokal dipermudah oleh adanya informasi mengenai tidak sedikit peninggalan sejarah, arkeologi maupun tradisi lisan yang telah diunggah di media sosial (medsos) oleh para peduli dan pemerhati sejarah/arkeologi yang dengan inisiatifnya sendiri melakukan pelacakan (blusukan, kluthusan, hunting) ke jejak-jejak budaya masa lampau yang telah dikenal atau bahkan sebelumnya tidak dipublikasi. Selain itu, di sejumlah daerah dilaksanakan berbagai event yang berkenaan dengan ajar budaya dan Sejarah Daerah oleh komunitas pegiat atau peduli sejarah dan budaya. Sayang sekali, sejauh ini tak cukup banyak Guru Sejarah yang telah menjalin akses terhadap peluang baik itu.

Kenyataan lain adalah adanya sejumlah daerah yang telah memfasilitasi penulisan buku Sejarah Daerah. Namun demikian, kenyataan pula bahwa sejauh ini tidak sedikit daerah – yang padahal mempumyai cukup banyak tinggalan sejarah, arkeologi, paleo-ekologi dan tradisi lisan – masih belum tergerak untuk menuliskan dan menerbitkan Buku Sejarah Daerah-nya. Terkait dengan pembelajaran dan praktikum riset Sejarah Lokal bagi siswa, seyogianya Pemerintah Daerah yang belum memiliki buku Sejarah Daerah untuk menuliskan dan menerbitkan buku Sejarah Daerah-nya, dan selanjutnya Dinas Pendidikan (Diknas) atau Dinas Pendidikan-Kebudayaan (Dikbud) menindaklanjutinya dengan menyusun buku penunjang dan KLS dengan mereferensi buku Sejarah Daerah menurut jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA/SMK). Ada baiknya pula, Diknas/Dikbud di daerah via MGMP Sejarah menyelenggarakan workshop Sejarah Lokal bagi para guru sejarah. Materi workshop meliputi:

(a) Penyusunan LKS Sejarah Lokal,

(b) pelatihan praktikum riset Sejarah Lokal, dan

(c) simulasi Pengajaran Sejarah Lokal.

C. Relasional Sejarah Lokal – Sejarah Nasional

Pembelajaran Sejarah Lokal tidak dihadirkan sebagai mata ajar tersendiri, melainkan disajikan dalam kerangka Pembelajaran Sejarah. Oleh karena itu, perlu dicermati di bagian-bagian mana dalam Kurikulum Pembelajaran Sejarah yang berpeluang diberikan mulok. Mengingat bahwa pembelajaran berada di dalam kerangka Pembelajaran Sejarah, maka peristiwa sejarah di ruang lokal tersebut direlasikan dengan peristiwa-peristiwa dalam lingkup Sejarah Nasional, Sejarah Regional atau bahkan Sejarah Dunia. Namun demikian bisa juga terjadi bahwa relasional tidak atau kurang dapat dijelaskan diantaranya.

Minimal penjelasan relasional dibuat terhadap sejarah lokal dari daerah-daerah yang terdekat dengannya. Misalnya, relasi-historis antar situs, antar desa/kampung, atau antar daerah. Hal itu memang tidak mudah dilakukan oleh guru sejarah, terlebih bila tidak memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai sejarah daerahnya atau sejarah wilayahnya. Contoh tentang relasi historis antar areal lokal adalah: Kutaraja (kini ‘Kuthobedah’) –> Singhasari (kini ‘Singosari’) –> Pelabuhan Pasuran dan Hujung Galuh dalam konteks relokasi kadatwan Tumapel terkait dengan doktrin politik-eksternal kerajaan Singhasari yang dinamai “Cakrawalmadala Jawa’ dan ‘Cakrawalamandala Nusantara’ semasa pemerintahan Wisnuwarddhana dan Kretanegara (paro kedua abad XIII Masehi), yang untuk kepentingan dibutuhkan akses ke Jalur Simpang Selat Madura.

Penyajian Sejarah Lokal dalam relasinya dengan Sejarah Nasional diberi penjelasan sebagai berikut. Jordan menyatakan bahwa salah satu karteristik Sejarah Lokal Modern adalah semakin kurang terlokalisasikan. Sejarah Lokal makin bersifat ‘melebar’, menuju ke arah perbandingan-perbandingan yang meluas. Begitu pula dasar-dasar acuannya. Bidang perhatian kian mengarah ke lingkup regional bahkan antar regional. Hal ini berarti sejarah lokal pada dasarnya bukanlah studi sejarah yang terisolasi. Eksistensi Sejarah Lokal disamping Sejarah Nasional dilukiskan dengan: yang kecil kurang dapat dimengerti tanpa memperhatikan keseluruhan yang besar, dan sebaliknya.

Sejalan itu, Teuku Ibrahim Alfian mengidentifikasikan relasi Sejarah Lokal-Sejarah Nasional sebagai berikut:

(a) pertulisan suatu lokaliti, baik besar maupun kecil, tidak dapat dipisahkan dari faktor luar yang turut mempengaruhi;

(b) aspek nasional maupun internasional tercermin dalam dinamika lokal;

(c) peristiwa Sejarah Lokal hanya bisa difahami dengan baik manakala dihubungkan dengan dimensi Sejarah Nasional;

(d) peristiwa lokal-nasional hanya bisa dengan baik dimengerti bila ditarik ke dalam ‘perspektif makro-mikro’-nya;

(e) perkembangan sejarah pada tingkat nasional lebih tampak realitasnya di tingkat lokal.

Wasino (2009:2) memberikan penjelasan tambahan:

(f) Sejarah Lokal adalah sejarah yang posisi kewilayahannya berada di bawah Sejarah Nasional;

(g) Sejarah Nasional ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang ekstra lokal, yaitu oleh perimbangan kekuatan pada tahap nasional dan tekanan dari kekuatan internasional.

Menurut F.A. Soetjipto tingkat keterkaitan Sejarah Nasional dan Sejarah Lokal berbeda-beda. Sejarah Nasional memberi penekanan telaah pada gambaran yang lebih luas dan menyeluruh lingkungan bangsa dengan tidak memberi perhatikan pada detail-detail peristiwa lokal, kecuali apabila hal itu memang diperlukan untuk mendukung gambaran dalam rangkaian Sejarah Nasional. Sedangkan dalam Sejarah Lokal, perhatian utama justru peristiwa-peristiwa di lingkungan sekitar pada suatu lokalitas sebagai suatu kebulatan, dan menempatkan Sejarah Nasional sebagai latar belakang dari peristiwa-peristiwa khusus di lokalitas tersebut. Perbedaan lokal-nasional bukanlah terletak pada tingkat abstraksi dan generalisasinya – semakin nasional semakin kurang detailnya, tetapi pada orientasinya. Bila sejarah nasional menuntut problematik yang menuju integrasi dari berbagai lokalitas, sejarah lokal tidak memerlukan ini.

Masalah lokal adalah ‘masalah lokal’, dan segala soal berkisar pada dirinya. Oleh karena itu, semestinya Sejarah Nasional tidak difahami semata sebagai ‘akumulasi atau gabungan’ dari peristiwa-peristiwa di tingkat lokal atau kepentingan satu dua lokal yang strategis, mengingat bahwa tiap-tiap lokalitas mempumyai realitas kesejarahannya sendiri dan hanya dimengerti dalam rangka lokalitas itu. Selain itu Wasino (2009:2) menyatakan: tak semua Sejarah Lokal mempunyai relasi dengan Sejarah Nasional. Sejarah lokal bisa mencakup peristiwa-peristiwa yang memiliki kaitan dengan Sejarah Nasional maupun peristiwa khas lokal yang tidak berelasi dengan peristiwa-peristiwa yang lebih luas seperti nasional, regional atau internasional.

Sejarah lokal seringkali pula dipahami sebagai bagian sejarah nasional. Hal ini dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa Studi Sejarah Lokal dibutuhkan untuk memperoleh bahan-bahan bagi penyusunan Sejarah Nasional. Namun demikian apabila tidak tepat dilakukan, pada akhirnya hanya menghasilkan Sejarah Nasional versi lokal. Fakta lainnya adalah realitas di daerah bisa berubah-ubah. Terkadang peristiwa nasional yang penting dalam kategori Sejarah Nasional justru tidak mempunyai arti apa-apa pada Sejarah Lokal.

D. Ambiguitas Batas Keluasan ‘Lokal’ dalam Sejarah Lokal

Definisi umum sejarah (history) adalah masa lampau umat manusia. Setiap bangsa memiliki sejarahnya sendiri-sendiri, sesuai perkembangan budaya, sosial, ekonomi dan politik dari bangsa bersangkutan. Sejarah Indonesia adalah Sejarah Nasional Bangsa Indonesia, yang meliputi seluruh jaman atau masa dan seluruh daerah yang bernama ‘Republik Indonesia’. Mengingat cakupan areanya itu, maka selain Sejarah Nasional terdapat pula istilah di dalam Ilmu Sejarah untuk areal lebih kecil, yang dinamai ‘Sejarah Lokal’.

Sejarah mencakup segala peristiwa di masa lampau, yang terjadi dalam ruang dan pada waktu. Waktu (time) dan ruang (space, spatial) adalah dua aspek yang dapat digunakan untuk membuat kategorisasi sejarah. Aspek waktu, tepatnya lapis-lapis masa (time layers), bisa dijadikan parameter untuk memformulasikan periodisasi (pembabakan, pengkerangkaan) sejarah, yakni pengelompokan dan penata urutan peristiwa-peristiwa sejarah dalam kelompok atau kurun waktu menurut kerangka tertentu. Adapun aspek spasial (keruangan) dapat dijadikan parameter untuk mengelompokan peristiwa-peristiwa sejarah menurut keluasan ruang dimana peristiwa masa silam itu berlangsung.

Dalam ‘Arkeologi Keruangan (Spatial Archaeology)’, keberadaan artefak masa lalu di dalam ruang dikelompokkan menjadi:

(a) Arkeologi-keruangan tingkat makro,

(b) Arekologi-keruangan tingkat meso atau semi-makro atau semi-mikro, dan

(c) Arkeologi-keruangan tingkat mikro.

Peringkat makro, meso dan mikro dapat pula diterapkan untuk ketegorisasi sejarah, dengan sebutan :

(a) sejarah-makro (macro-history),

(b) sejarah-meso (meso-history), dan

(c) sejarah-mikro (micro-hitory).

Catatan: dalam kategorisasi Sejarah tak dikenal ‘sejarah-meso’.

Kategorisasi sejarah menurut aspek keruangan menggunakan pula sebutan:

(a) Sejarah Dunia/Internasional (Word/International-History),

(b) Sejarah-Regional (Regional-History),

(c) Sejarah-Nasional (National-History), dan

(d) Sejarah-Lokal (Local-History).

Sejarah Lokal dapat disejajarkan dengan ‘mikro-histori (sejarah-mikro)’. Pada tulisan ini dipakai sebutan ‘Sejarah Lokal’ dalam pengertian kurang-lebih sama dengan ‘sejarah-mikro’. Gambaran Sejarah Lokal sebagai ‘mikro-histori’ itu tidak sedikit kegunaannya untuk melengkapi dan memperjelas gambaran keaktifan kemanusiaan warga bangsa Indonesia seluruhnya dalam Sejarah Indonesia. Yang relatif lebih statis daripada itu adalah kategorisasi secara sosio-kultural.

Lingkup historis dapat dibedakan menjadi yang bersifat meluas disebut ‘dimensi makro’, adapun yang sempit dan terbatas lingkupnya dinamai ‘dimensi mikro’. Melihat peristiwa sejarah dengan mempergunakan dimensi-makro mengandung anggapan yang menjadikan kesatuan lingkungan sejarah sebagai kesatuan studi yang lebih bermakna dan lebih utuh. Sebaliknya sejarawan praktis, yang biasa melakukan kegiatan di lapangan dan tanpa terikat metode spekulatif, terbiasa berhadapan langsung dengan sumber sejarah yang tidak tersusun. Mereka lebih melihat kesatuan lapangan studi sejarah yang dapat dipahami (intelligible) itu sebagai berada dalam lingkungan sejarah-mikro.

Lingkungan sejarah mikro mempunyai dinamika sejarahnya sendiri, yaitu pada realitas-realitas yang bersifat khusus (unik). Pemikiran yang demikian ditegaskan oleh Taufik Abdullah bahwa betapapun tingginya keuniversalan umat manusia, perhatian kepada hal-hal yang partikultural dan khusus akan lebih memperjelas sasaran Ilmu Sejarah, yaitu pergumulan umat manusia dan realitasnya”. Berdasar pemikiran ini tergambar bahwa studi sejarah mikro memiliki dasar-dasar yang kuat untuk dikembangkan menjadi Studi Sejarah yang otonom.

Secara hariah kata ‘lokal (local)’ antara lain berarti setempat, terjadi (berlaku, ada, dst.) di suatu tempat, tidak merata (KBBI, 2002:680). Kata ‘lokal’ bisa juga diartikan sebagai bagian dari lingkungan atau areal yang lebih luas. Kata ‘lokal’ sering disinonimkan dengan ‘daerah’, yang secara harafiah antara lain berarti lingkungan pemerintah, wilayah; tempat sekeliling atau yang termasuk di lingkungann suatu kota; tempat di suatu lingkungan yang sama keadaannya (KBBI, 2002:228). Istilah ini menunjuk pada lingkungan geografis tertentu. Selain itu, istilah ‘daerah’ cenderung dihubungkan dengan pembagian teritorial administratif-politis. Dalam administrasi pemerintahan terdapat dua peringkat daerah, yaitu: (a) propinsi – dahulu disebut ‘Daerah Tingkat I’, dan (b) kota/kabupaten – konon ‘Daerah Tingkat II’. Dari sudut arealnya, lingkup daerah ‘dapat diperluas’ dan ‘dipersempit’, yaitu seluas wilayah propinsi atau bisa juga seluas kota/kabupaten, bahkan penyempitannya bisa diteruskan hingga seluas desa.

Selain itu terdapat pengertian yang ambigu pada penggunaan istilah ‘daerah’ untuk memberikan gambaran sejarah sebuah daerah, yaitu pengertian ‘daerah’ sebagai: (a) kesatuan teritorial atau unit administratif, dan (b) kesatuan etnis-kultural. Daerah sebagai kesatuan unit teritorial atau administratif senantiasa berhubungan dengan aspek politik. Terdapat jenjang-jenjang tertentu atau hirarki untuk bisa disebut ‘daerah’, misalnya kabupaten, propinsi, dst. Dalam pengertian politik, “daerah” merupakan subordinat dari “pusat’ atau ‘nasional”. Sedangkan daerah sebagai unit etnis-kultural berkaitan dengan “kelompok masyarakat” yang dinamis, dalam artian terus mengalami perubahan. Tiap-tiap etnis menjadi satu kesatuan historis tersendiri dan mempunyai konsep mengenai masa lampau yang unik. Demikianlah, batas keluasan areal dari ‘lokal’ dan ‘daerah’ sukar untuk ditentukan secara definitif, sehingga sulit pula untuk dapat merumuskan seberapa luas areal jangkau dari apa yang disebut ‘Sejarah Lokal’.

Sebenarnya, luas-sempitnya daerah atau lokalitas bukan ukuran untuk menyatakan penting atau tidaknya daerah dari sudut sejarah. Bisa saja suatu daerah yang kecil atau sempit lebih penting sejarahnya daripada daerah lain yang berwilayah lebih luas.. Oleh karena kata ‘lokal’ dan ‘daerah’ dipandang bersinomim arti, maka ‘Sejarah Lokal” dan ‘Sejarah Daerah’ difahami sebagai dua perkataan yang bersejajar pengertian. Di Indonesia Sejarah Lokal dikenal juga dengan sebutan ‘Sejarah Daerah’. Kedua istilah itu acap digunakan berganti-ganti tanpa penjelasan secara tegas. Sebaliknya, Taufik Abdulah (1979) tidak setuju ‘lokal’ disamakan dengan ‘daerah’ – Sejarah Lokal disamakan dengan Sejarah Daerah, karena daerah indentik dengan konsep politik. Seyogianya dalam kajian sejarah digunakan istilah ‘lokal’ – yaitu menjadi ‘Sejarah Lokal’, yang lebih netral serta tidak berkonotasi politis.

Sebagai salah sebuah kategori sejarah, Sejarah Lokal mendasarkan pada segi geografis, yaitu lingkungan, wilayah, atau lokalitas. Dengan demikian maka Sejarah Lokal dapat dinyatakan sebagai bentuk penulisan sejarah dalam ‘lingkup yang terbatas’, yang meliputi lokalitas tertentu (Widja, 1989:13). Keterbatasan lingkupnya itu biasanya dikaitkan dengan unsur wilayah (spatial). Menurut Taufik Abdulah (1982), batasan keluasan area untuk apa yang dimaksud dengan ‘tempat, wilayah atau ‘lokalitas’ tersebut ditentukan oleh perjanjian dari penulis Sejarah Lokal bersangkutan terhadap khalayak.

Penekanan Sejarah Lokal adalah pada peristiwa sejarah di lokalitas tertentu, sebagai bagian daripada unit sejarah bangsa, atau lebih tepat adalah negara. Sejalan dengan itu, Wasino (2009:2) mengemukakan bahwa Sejarah Lokal sebagai sejarah yang posisi kewilayahannya berada di bawah Sejarah Nasional. Namun demikian, bukan berarti bahwa semua Sejarah Lokal mempunyai keterkaitan dengan Sejarah Nasional. Sejarah lokal dapat mencakup peristiwa-peristiwa yang memiliki keterkaitan dengan Sejarah Nasional maupun peristiwa-peristiwa khas lokal yang tidak berelasi dengan peristiwa yang lebih luas seperti nasional, regional, atau internasional.

Dalam pengertian obyektif, Sejarah Lokal adalah suatu proses perkembangan aktivitas manusia di daerah tertentu, pada lingkungan geografis tertentu, yang dari sudut arealnya dapat diperluas atau bisa juga dipersempit (Sutjipto, 1970:36). Perspektif ini menekanan pada pengertian letak geografis. Untuk konteks Sejarah Indonesia, Sejarah Lokal adalah sejarah yang terjadi di daerah tertentu dalam wilayah Indonesia. Sedangkan dalam pengertian subyektif, Sejarah Lokal adalah uraian atau cerita mengenai keaktifan kemanusiaan di daerah tertentu. Sejarawan Inggris Jordan mengemukakan bahwa sejarah lokal adalah sejarah tentang asal usul pertumbuhan, kernunduran dan kejatuhan suatu kelompok masyarakat lokal.

Sejauh ini belum terdapat rumusan yang memuaskan tentang ‘apa Sejarah Lokal?’. Sejarawan Inggris H.P.R. Finberg menyatakan ‘…… tidak ditemukakan definisi Sejarah Lokal secara eksplisit’. Menyikapi itu, Taufik Abdullah (1982) definisikan Sejarah Lokal sebagai peristiwa masa lampau yang terjadi di tingkat lokal, yang batasannya dibuat atas kesepakatan atau perjanjian penulis sejarah. Batasan lokal berkenaan dengan aspek geografis, berupa tempat tinggal suku bangsa, kota kecil, atau desa. Luasan suatu ruangan dikatakan ‘lokal’ bila menunjuk pada tempat tertentu atau berwujud lokalitas, yang berupa kampung, desa hingga daerah dan wilayah. Pendek kata, Sejarah Lokal berhubungan dengan unsur wilayah (spatial). Sejarah lokal mengandung arti suatu tempat atau lokasi tertentu serta waktu yang tertentu pula, padamana peristiwa masa lampau terjadi. Sejarah lokal dapat berupa sejarah desa tertentu, kota tertentu, keluarga tertentu, atau organisasi daerah tertentu di suatu komunitas. Ada pula yang mendefinisikan Sejarah Lokal sebagai sejarah daerah tertentu, yang disitilahi dengan ‘Sejarah Daerah’ oleh R. Moh. Ali (2005:155).

Pembabakan Sejarah Lokal tidak musti sama dengan pembabakan pada Sejarah Nasional. P.D. Jordan menyatakan bahwa disamping sebutan ‘Sejarah Lokal (Local History)’, di Negara-negara Barat terdapat sebutan lain, yaitu “Neighborhood History’ atau ‘Community History’, yang diartikan dengan “the entire range of possibilities in a person’s immediate environment”. Sejarah Lokal tidak hanya mendasarkan pada ruang lingkup spasial – seperti desa, kota, kabupaten dan propinsi, melainkan juga pada pranata sosial dan unit budayanya. Sejarah Lokal dengan demikian meliputi seluruh lingkungan, yang dapat berwujud kesatuan wilayah seperti desa, kecamatan, kabupaten dan satuan wilayah lain, atau berupa anasir sosial-budaya yang ada di lingkungan tersebut.

Unsur sosial-budaya dapat berupa keluarga, pola pemukiman, mobilitas sosial, pasar, teknologi pertanian, lembaga pemerintahan setempat, dsb. Pernyataan Jordan tersebut dijadikan bahan oleh I Gde Widja (1989) untuk mendefinisikan Sejarah Lokal sebagai studi mengenai kehidupan masyarakat atau komunitas khusus dari lingkungan tertentu dalam dinamika perkembangan berbagai aspek kehidupan. Jelas bahwa Sejarah Lokal adalah bidang sejarah yang bersifat geografis, yang mendasarkan pada unit kecil seperti daerah, kampung, desa, komunitas atau kelompok masyarakat tertentu (Abdullah, 1994:52).

Aspek kultural yang mencerminkan unit lokalitas, sebagaimana tergambar dalam perkembangan sejarahnya, adalah pula aspek terkaji di dalam Sejarah Lokal. Oleh karena itu cukup alasan untuk menyatakan Sejarah Lokal sebagai studi mengenai kehidupan masyarakat masa lalu, khususnya komunitas pada lingkungan sekitar (neighborhood) tertentu dalam dinamika perkembangan berbagai aspek kehidupan. Terkait itu, Taufik Abdulah mendefiniskan Sejarah Lokal sebagai sejarah daerah-daerah etnis-kultural yang berada di suatu lokalitas dan sebagian wilayah Republik Indonesia.

Dalam pengkajianya, selain menggunakan pendekatan luas areal, waktu dan tema berserta aspek-aspeknya, analisis Sejarah Lokal perlu pula menggunakan pendekatan multidimensional.

Dalam pengertian-pengertian sebagaimana terpapar diatas tergambarlah bahwa Sejarah Lokal berkenaan dengan kisah masa lalu dari kelompok masyarakat tertentu di daerah geografis yang terbatas atau di lokasi yang kecil, yaitu desa hingga kota tertentu. Oleh karenanya, studi Sejarah Lokal memusatkan perhatian kepada kehidupan masyarakat, khususnya komunitas di lingkungan sekitar dalam dinamika berbagai aspek kehidupan manusia di masa lampau.

Sejarah Lokal tidak senantiasa membicarakan tentang sejarah lokal tradisional, semisal babad, hikayat, lontara, tambo, atau lainnya, melainkan sejarah yang mengkisahkan regionalitas, kedaerahan secara batasan-batasan tertentu, misalnya melalui batasan geografis atau keberadaan suku yang mendiami tempat tersebut. Memang, tak dapat dipungkiri bahwa dalam Sejarah Lokal terdapat apa yang disebut ‘‘babad, riwayat, hikayat, lontara, tambo, dsb.’, yang berisi asal usul daerah tertentu. Kebanyakan penulis sejarah lokal jenis ini sekedar menulis untuk memberi informasi mengenai asal-usul daerah, yang dalam penulisannya prinsip penggunaan sumber yang sesuai terkadang diabaikan.

Semoga tulisan bersahaja ini membuahkan kegunaan.
Salam sejarah-mikro, “Jasmerah’.
Sembah nuwun.

Sengkaling, 26 Agustus 2016

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JAMAN KUNO

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA

Avatar

Published

on

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA : Koco Brenggolo Kasus Hukum pada Kisah Pencurian Ken Angrok

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paparan Kisah Pencurian oleh Ken Angrok

Tulisan ini mengangkat beberapa kisah tentang pencurian yang dilakukan oleh atau dituduhkan kepada Ken Angrok. Walau tak semua kisahnya secara eksplisit berkenaan dengan korupsi sebagaimana modus korupsu sekarang. namun terdapat siratan-siratan pesan yang berkenaan dengan “fenomena pencurian”. Kisah-kisah itu dapat dijadikan contoh kasus, mengingat bahwa pada dasarnya korupsi adalah suatu varian dari sikap tdan perilaku “maling (pencurian)”.

Sebagai seorang manusia biasa, “fase pencuri” pernah dilalui oleh Ken Angrok, sebagai suatu “episode gelap” dalam balada (perjanan pajang kehidupannya) — tentu selain “episode terang” yang berisi kebaikan- kebaikannya. Pencurian adalah bagian dari kemanusiaan manusia, yaitu sisi gelap kehidupan manusia Dapat difahami bila Angrok terlibat dalam sejumlah tindakkan pencurian, mengingat bahwa ayah angkatnya yang pertama, yakni Lembong, adalah pencuri ulung. Hingga usia remaja kecil, Ken Angrok dibesarkan d lingkungan keluarga pencuri ini. Dikisahkan oleh Pararaton “… Lambat-laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong …. ” (Marduwarsito, 1965:48-49).

1. Contoh Kasus Pertama

Menurut pengkisahan di dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton, ketika Angrok masih seusia “rare sapangangon (anak gembala)” , ia bekerja pada yang dipertuan (tuha) Desa Lebak sebagai
penggembala sepasang kerbau miliknya. Angrok sempat dituduh — meskipun belum terbukti akan kebenarannya — melakukan penggelapan atas kerbau yang digembalakan. Akibat tuduhan buta itu, Angrok kecil terpaksa meninggalkan rumah, sedangkan ayah angkatnya (Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok) terpaksa menanggung beban baya atas hilangan ternak gembalaa itu.

2. Contoh Kasus Kedua

Kisah pencurian lain yang dilakukan Ken Angrok terbilang “unik”. Kejadiannya ketika Angrok dan tuan Tita — putra tuan Sahaja, kepala desa di Sagenggeng — menjadi murid (sisya) dari guru Jangan di Sagenggeng. Kala itu pohon jambu di halaman rumah Janggan tengah berbuah lebat dan nyaris masak total. Angrok berkeinginan kuat (bahasa Jawa Baru disebut “kemecer”) untuk mencicipi. Namun, Janggan yang disiplin ketat melarang keras mengambil sebelum jambu-jambunya masak benar. Meski kemecer, sebagai murid yangi taat kepada guru, dalam kondisi sadar Angrok menekan keinginannya sedemikian rupa unuk tak memetik barang sebuahpun.

Yang ada dalam kondisi “sadar” dan yang terjadi ketika berada “dibawah sadar’ bisa saja berbeda. Dalam kisah ini, keinginan kuat yang ditekan- tekan menyeruak pada alam bawah sadarnya. Tengah malam ketika Angrok tertidur, keluar amat bsnyak kelelawar-kelelawar (tepatnya codot) dari ubun-ubunnya, yang lantas menyerbu buah jambu milik Janggan. Setelah kenyang menyantap buah jambu, rombongan kelelawar kembali ke diri Angrok juga lewat ubun-ubunnya manakala ia masih tertidur lelap.

Pagi harinya, betapa terkejut hati Janggan demi melihat sisa jambu berserakan — biasanya codot hanya memakan bagian ujung jambu, di bagian yang telah matang dan enak, separo dibawahnya dibuang — pertanda ada pesta pora semalaman. Kejadian yang demikian belum pernah sekalipun berlangsung sebelumnya. Oleh sebab itu muncul syakwasangka bahwa pencuri jambunya adalah murid barunya, yakni Angrok. Tentu saja Angrok tak mengakui tuduhan itu, sebab semalaman ia lelap tidur. Namun Janggan tetap menjatuhkan sangsi kepadanya. Angrok dilarang untuk tidur di dalam pondok — tipe pondok kuni tanpa dinding penutup,. Oleh karena itu, Angrok tidur di atas tumpukan jerami kering untuk pembuatan atap.

Janggan baru menyadari kesalahan tuduhannya di tengah malam berikutnya. Pada tengah malam secara diam-diam guru Janggan ke luar rumah memantau jejadian guna mencari bukti bagi tuduhannya. Janggan heran tatkala melihat sesuatu yang bernyala (bercahaya terang) dari tumpukan jerami kering, yang dukiranya tengah terbakar. Rupa-rupanya, yang bernyala itu adalah sosok Angrok. Lebih heran lagi ketika saksikan kelawar berduyun- duyun keluar dari ubun-ubun Angrok menyerbu buah jambunys. Bukan sosok fisik dari Angrok yang mencuri jambu, namun “keinginannya” yang berwujud codot tatkala berada di alam bawah sadar (tidur)”. Dengan fakta ini, Janggan persilahkan Angrok pada malam berikutnya untuk tidur kembali di dalam pondok, bahkan kelak diizinkan makan jambu sepuas-puasnya ketika telah benar-benar masak.

3. Contoh Kasus Ketiga

Peristiwa pencurian lainnya yang dilakukan oleh Angrok adalah ketika ia dalam persembunyian di Desa Luki guna menghindari kejaran tentara Akuwu Tunggul Ametung. Dalam kondisi amat lapar, terpaksa Angrok mencuri dan menyantap makanan kiriman (dalam istilah kini “ransum”) yang dikirim oleh istri petani dalam tabung bambu kepada suaminya yang tengah bekerja di sawah. Tidak seperti biasa, ketika pak tani hendak menyantap makanan kiriman yang ditaruh di pondok ladang didapati habis isinya. Nampaknya, diam-diam ada yang mencuri dan memakannya. Kejadian berulang di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, pak tani pun melakukan pengawasan untuk bisa menangkap basah pelaku pencurian. Akhirya berhasil, Ken Angrok tertangkap basah sebagai pencurinya. Namun uniknya, pak tani tidak memberi sangsi kepada si pencuri, sebaliknya justru meminta istrinya agar hari berikutnya membawa makan dua porsi dengan maksud yang seporsi diberikan buat Angrok yang memang kelaparan dan terpaksa mencuri makanan milik orang lain.

4. Contoh Kasus Keempat

Pencurian lain dilakukan oleh Ken Angrok di Desa Pamalanten. Lantaran ketahuan, maka Angrok melarikan diri dan dikejar warga. Menyadari dirinya terpepet dan takut tertangkap karena di mukanya mengalir sungai, maka Angrok pun memanjat pohon kelapa. Warga mengetahui dan mengepungnya di bawah pohon .Angrok yang telah berada di penghujung atas pohon kelapa diultimatum untuk turun, bila tidak mau maka pohon kelapa bakal ditebang. Mendengar ada ancaman ini, maka Angrok pun ketakutan, dan memohon Dewata untuk menolongnya. Meski Dewata beri perlindungan dengan meminta warga untuk tidak menangkap Angrok yang diakui sebagai “anakNya”, namun warga tetap bersikeras untuk menebang pohon kelapa. Ken Angrok tak kurang akal, diambilnya dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan semacam “media luncur” agar dapat menyeberangi sungai.

Sebenarnya masih ada kisah-kusah pencurian lain dalam kitab Pararaton, yang agar tak terlalu panjang, maka tidak seluruhnya dipaparkan pada tulisan ini. Misalnya, kisah “pencurian terhadap perempuan” yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung yang “membawa lari Ken Dedes untuk dinikahi” ketika ayahnya (pu Purwa) tengah tak ada di rumah. Lantaran pelakunya adalah “sang Akuwu”, pejabat tinggi di Tumapel, maka tindak pencurian (kawin lari) ini tidak tersentuh hukum.

B. Kasus Hukum Kisah Pencurian dalan Pararaton

Pada contoh kasus pertama, jika pun benar bahwa Angrok menggelapkan (dengan menjual secara diam-diam) sepasang kerbau milik tuha Desa …………. yang digembalakannya, pelaku kejahatan ini masih “dibawah umur”, sebab kala itu Angrok masih seusia “anak gembala”, yaitu remaja kecil. Selain itu, kurang cukup bukti untuk menetapkan bocah Angrok sebagai pelaku. Bisa jadi, lenyapnya sepasang kerbau itu dicuri orang, mengingat penggembalanya adalah anak kecil. Meski demikian, secara sepihak pemilik kerbau menuntut ganti rugi kepada orang tua Angrok, yang dalam hal ini adalah ayah angkatnya (“si pencuri” Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok). Terpaksa kedua orang tuanya beri ganti rugi meski amat berat untuk ukuran ekonomi mereka. Lantaran tuduhan itu, si kecil Angrok yang ketakutan terpaksa lari dari rumah dan menggelandang hingga akhirnya ditemukan dan diambil anak angkat oleh “si penjudi (bobotoh)” Bangosamparan.

Pada contoh kasus kedua tergambar bahwa pangkal tindak kejahatan, termasuk pencurian, adalah “pikiran”. Hal ini tergambar pada kekelawar-kelelawar pencuri jambu yang keluar dari ubun-ubun Ken Angrok. Selain itu, diperoleh ilustrasi bahwa tindak pencurian bisa terjadi manakala ada “iming-iming kuat” untuk mencuri. Pohon jambu yang tengah berbuah lebat dan nyaris matang adalah suatu kondisi yang “menggiurkan” bagi Ken Angrok untuk menyantap buah-buah jambunya. Meski ada keinginan kuat, namun lantaran terdapat aturan ketat dan tegas, dimana posisi seseorang musti patuh, maka keinginan yang tak sesuai dengan aturan itu mustilah ditekan sedemikian rupa hingga tak jadi dilakukan.

Dalam kisah ini, betapa pun Ken Angrok tergiur untuk memakan jambu miilik guru Janggan, lantaran sang Guru melarang keras untuk memetiknya sebelum benar-benar masak, maka dalam “alam sadarnya” Angrok tidak berani mengambil jambu. Namun, ketika ia berada “dibawah sadar (tertidur)”, tindakkan tersebut dilakukannya. Tindak kejahatan pencurian bisa berada dalam “tarik-ulur” antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang. Sebagai anak muda, Angrok bisa kendalikan alam sadarnya, namun alam bawah sadarnya ternya beda sikap dan tindakan.

Pada kasus ini, mulanya Janggan melakukan “syakwasangka”, yakni penuduhan yang kurang cukup bukti terhadap Angrok yang disabgkakan sebagai pelaku pencurian jambu, bahkan dijatuhi sangsi dengan dilarang tidur di dalam pondok. Namun, sebagai orang bijak (guru), Janggan pun mencari bukti untuk tuduhannya yang ia sadari kurang cukup bukti. Setelah melakukan telisik diam-diam pada tengah malam, diketahui sendiri (diperoleh fakta) bahwa pelaku pencurian bukan sosok fisik Angrok, melainkan non-fisiknya, yakni pikirannya, keinginannya. Baginya, pikiran tak bisa dikenai sangsi. Oleh karena itu, Janggan mencabut sangsi yang telah dijatuhkan sehari sebelumnya kepada Angrok, dengan persilahkan muridnya ini kembali boleh bermalam di dalam pondok. Bahkan, ketika jambu-jambuu telah benar-benar masak, Angrok diberi kesempatan untuk memakannya sepuas-puasnya.

Pada contoh kasus ketiga, tindak pencurian bisa dilakukan ketika seseorang di dalam kondisi terpepet, tak ada pilihan. Tindakkan Angrok mencuri ransum milik petani dilakukan karena ia tak kuasa menahan rasa lapar sebagai orang yang dalam persembunyian dari pengejaran. Pencuri makanan tentulah orang lapar. Angrok tertangkap basah ketika tengah mencuri ransum berkat pemantauan cermat dari petani terhadap pelaku tindak kejahatan. Petani yang memahami bahwa pelaku pencurian itu adalah orang yang terpaksa karena kondisi sulit (dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “kesrajat”), maka ia tidak menjatuhkan sangsi kepada Angrok yang menjadi pelaku pencurian terhadap makanannya. Bahkan sebaliknya, pada hari-hari berikutnya Angrok mendapat bantuan makan darinya. Dengan memenuhi kebutan mendesak dari pelaku kejahatan, maka pelaku terhindar dari tindakkan mengulangi kejahatannya.

Pada contoh kasus ke empat tergambar bahwa pada suatu waktu pelaku tindak kejahatan harus melarikan diri agar terhindar dari penangkapan. Namun, ibarat “sepanda-pandainys tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, Angkrok pun terpepet dalam pengejaran, karena pelariannya terhalang alran sungai. Ketika terdesak demikian, kadang pelaku kejahatan melakukan tindakan naif, seperti ketika Angrok memanjat pohon kelapa, yang tindakannya ini ketahuan warga yang mengejarnya. Ketika pengejarnya mengultimatum untuk memotong pohon kelapa yang fipanjati Angrok untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, tak terelakkan bahwa orang pemberani sekaliber Angrok pun ternyata ketakutan juga. Bahkan, Angrok memohon agar Dewata memberi perlindungan keselamatan. Hal lain yang tergambar dalam contoh kasus ini, dalam kondisi paling terpepet, masih saja ada akal pelaku kejahatan untuk dapat lolos dari penangkapan. Langkah cerdik Angrok dalam hal ini adalah segera mengambil dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan media bantu luncur guna menyeberangi sungai untuk terhindar dari pengejaran dan penangkapan.

C. Refleksi Historis atas Tindak Korupsi

Tindak pencurian, yang antara lain berwujud “korupsi” terdapat kapanpun dan dimabapun. Dalam sejarah Nusantara, sebagian etape hidup Angrok oleh Paparaton dikisahkan sebagai ‘pencuri (maling,)”. Berdarkan studi kasus dengan menelaah beberapa penggal mudahnya, diperoleh catatan-catatan sejarah penting untuk direnungi bersama, yaitu sebagai berikut:
1. Tindak kejahatan, termasuk pencurian dalam wujud korupsi berpangkal pada “pikiran yang korup”. Oleh karena itu, pemberantasan terhadap korupsi mencukup pula pemberantasan terhadap pikiran korup, yang perlu dilakukan dengan pembinaan mebtakuta.

2. Kondisi yang menggiurkan, termasuk adanya celah (kesempatan), menyediakan peluang untuk melakukab tindak jejahatan korupsi di waktu yang perhitungkan “aman” oleh pelaku untuk ttidak ketahuan (tertangkap).

3. Tindak kejahatan pencurian, termasuk juga korupsi, bisa terjadi lantaran si pelaku dalam kondisi terpepet, terlebih bila ia merasa tidak ada pilihan lain. Dalam kasus demikian, pemberian “kecukupan” dapat menghindarkan orang dari tindak kejahatan korupsi — meski tak ada jaminan untuk itu.

4. Terhadap tindak pencurian, termasuk juga korupsi, perlu menghindarkan terhadap tuduhan buta, syakwasangja, dan keburu jatuhkan sangsi padahal sesungguhnya kurang cukup bukti. Oleh karena itu, fajta-fakta hukum perlu menjadi unsur pembukti untuk menetapkan seseorang sebagai pencuri ataupun koruptor. Demikian pula tingkat sangsi atas perbuatannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seseorang diposisikan sebagai “salah tuduh” dan “terdera sangsi padahal dirinya bukan pelaku sesungguhnya atas suatu kejahatan”.

5. Walaupun jelas-jelas terbukti sebagai pelaku pencurian ataupun koruptor, sentiasa pelaku berupaya melarikan diri dan terhindar dari penangkapan. Jikalau terdesaj, maka terkadang dilakukan tindakan penyelamatan diri yang terkesan naif. Kalaupun sebelumnya pelaku merasa sebagai orang kuat, pemberani dan nyaris tak tersentuh hukum, namun ketika ada bukti kuat atas pelsku kejahatan dan berada dalam posisi amat terdesak, maka muncul rasa pengakuan atas ketidak berdayaannya untuk bisa lolos dari jerat hukum. Bahkan untuk itu. Ia memohon pertolongan dari pihak lain.

6. Dalam kasus tertentu atas tindak pencurian ataupun korupsi, bisa jadi ada “orang kuat” yang mampu mengkondidokan dirinya sebagai nyaris tak tersentuh oleh hukum meski terbukti jelas tindakkannya.

Demikian beberapa catatan yang disarikan dari contoh-contoh kasus hustoris di atas untuk ditransformasikan guna menelaah fenomena korupsi di masa sekarang. Semoga telaah yang mirip dengan “parodi historis” ini dapat memberi keteladanan untuk terhindar dari tindak kejahatan pencurian, termasuk varian wujudnya yang berupa tindakkan korupsi. Amin. Nuwun.

Continue Reading

JAMAN KUNO

RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Avatar

Published

on

 

Menuju ‘BAHANA BADUT’, 8-9-2017
Bagian ke-2

CENDELA PEMBUKA KABAR EKOLOGI-RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Arca Agastya Berbahan Cendana

Salah sebuah sekte pada Hinduisme yang terbilang dominan pada Sejarah Nusantara Masa Hindu-Buddha (awal hingga abad XVI Masehi) adalah Hindu-Saiwa. Pada sekte ini, meski Agastya bukan dewa – melainkan seorang maharsi, yakni satu diantara tujuh rsi (saptarsi) utama pebhakta Siwa, namun arca-arcanya hampir senantiasa kedapatan pada relung/bilik sisi selatan tubuh candi Hindu-Saiwa. Agastya diposisikan semacam ‘wakil’ dari Dewa Siwa di Dunia. Sejauh telah diketemukan, kebanyakkan arca-arca Agastya dibuat dari batu kali (andesit). Bahan lain yang juga dipergunakan untuk membuatannya adalah perunggu, khususnya untuk arca berukuran kecil hingga sedang, yang karenanya ukuran dan bahannya itu maka arca Agastya dari perunggu bersifat mobile. Selain kedua bahan itu, konon kayu cendana juga dipakai sebagai bahan pembuatan arca Agastya. Bukti tentang itu tidak atau belum diperoleh bentuk artefaktual, namun didapati informasinya dalam sumber data tekstual.

Adalah Prasasti Kanjuruhan (disebut juga dengan ‘prasasti Dinoyo I’) bertarikh 21 Nopember 760, yang menyebut informasi mengenai penggantian arca Agastya dari kayu cendana yang telah rusak dengan arca serupa namun dibuat dari ‘batu hitam’ – kenungkinan menunjuk kepada batu andesit, yang berwarna abuu-abu kehitaman. Penggantian dilakukan atas perintah dari Gajayana, yakni raja ke-2 di kerajaan Kanjuruhan. Menurut prasasti Kanjuruhan, yang didalamnya memuat silsilah atau urutan tiga raja berturut-turut seketurunan, Gajayana adalah putera dari Dewasingha. Sangat boleh jadi, Dewasingha adalah penguasa pertama di Kanuruhan, yang pertama kali bersentuhan dengan pengaruh agama dan budaya India.

Arca Agastya dari cendana tersebut karenanya dibuat semasa dengan pemeritahan Dewasingha, yang ketika memasuki pemerintahan Gajayana kondisinya telah rusak dan karenanya diganti dengan arca serupa dari bahan yang lebih tahan usia, yakni batu hitam (batu andesit). Sayang sekali arca Agastya dari batu andesit yang semestiya konon ditempatkan di relung sisi selatan candi induk Badut tersebut tidak diketemukan, sehingga bagaimana bentuk dan gaya pahatannya tak diketahui. Arca Agastya dari Candi Gasek, yang terletak di dekat (sekitar 400 m di utara lokasi Candi Badut), dapat dijadikan sebagai ‘arca pembanding’ yang relatif sezaman.

Apabila benar arca Agastya dari kayu cendana tersebut berasal dari era pemerintahan Dewasingha, berarti lebih awal dari Candi Badut (baca ‘pra Era Badut’). Candi yang berlatar agama Hindu sekte Saiwa ini rampung dibangun pada era pemerintahan Gajayana, yang momentum purna bangunnya dibadikan secara literal dalam pasasti batu (linggoprasasti) Kanjuruhan (760 Masehi). Terbayang bahwa sebelum dibangun Candi Badut, di tempat yang sama pada DAS kali suci Metro, yang pada areal sekitar Candi Badut arah alirannya berbentuk meander, pernah terdapat bangunan suci (baca ‘candi’) yang secara khusus digunakan sebagai tempat pemujaan Maharsi Agastya (Agastyapuja). Candi yang bisa jadi berukuran lebih kecil dan lebih bersahaja daripada Candi Badut ini kemudian direnovasi oleh Gajayana dengan memperluas areal upacaranya; memperbesar, memperkompleks, dan memperindah arsitekturnya dengan gaya arsitektur dan ikonografi India; serta meningkatkan fungsi religisnya dari Agastyapuja menjadi Siwapuja. Dengan demikian, Candi Badut yang berasal dari era pemerintahan Gajayana itu bukanlah candi tertua di DAS Metro, sebab lebih awal darinya terdapat candi buat Agastyapuja yang berasal dari era pemerintahan Dewasingha. Meski demikian, kedua bangunan suci ini dapat dibilang sebagai candi-candi tertua – bukan hanya tertua di Malang Raya, namun lebih dari itu tertua pula di Jawa Timur.

Selain dalam Prasasti Kanjuruhan, perihal cendana juga diperoleh pemberitaannya dalam sumber data susastra Masa Hindu-Buddha. Kata ‘cendana’ di dalam Bahasa Indonesia diserap dari Bahasa Sanskreta ‘candana’, yang menunjuk kepada: cendana, pohon (berbagai jenis Santalium), kayunya yang kuning dipakai untuk pembuatan dupa dan wangi-wangian (Zoetmulder, 1995:157). Susastra yang menyebutnya antara lain Agastyaparwa (357), Wrehaspatitattwa (33, 38), Ramayana (3.23, 9.16, 21.99), Arjunawiwaha (1.13), Bharayuddha, Tantri Kamandaka (56), Korawasrama (90). Dengan disebutnya candana pada kakawin Ramayana, diperoleh petunjuk bahwa pada abad IX Masehi cendana telah dikenal di Jawa, baik sebagai tanaman ataupun poduk olahan kayunya.

Keterangan di dalam prasasti Kanjuruhan tersebut sangat penting dan menarik karena berapa hal. Pertama, konon di Nusantara pada Masa Hindu-Buddha pernah terdapat arca dewata yang dibuat dari kayu terpilih, yang dalam konteks ini adalah kayu cendana. Kedua, arca Agastya dari cendana yang diberitakan oleh prasasti Kanjuruhan adalah arca dewata Hindu yang amat tua, bahkan cukup alasan untuk menyatakankannya sebagai arca Hindu tertua di Jawa Timur. Tentunya, kala itu juga terdapat arca dewa-dewa lainnya yang dibuat dari bahan kayu. Namun, seiring dengan perjalanan panjang usianya, arca kayu itu mengalami kemusnahan dalam menghadapi pengaruh iklim tropis. Arca dewata dari bahan kayu dengan demikian memiliki akar sejarah panjang di Nusantara. Akar tradisinya diperkuat oleh adanya arca-arca ‘dewa lokal’ dan arca perwujudan arwah nenek moyang dari agama non Hindu-Buddha yang terbukti cukup banyak didapati pada berbagai etnik di penjuru pedalaman Indonesia.

B. Kayu Cendana Lokal Malang

Apabila berbicara tentang daerah produsen kayu cendana di Indonesia, telunjuk orang cenderung tertuju kepada Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor. Meskipun sekarang juga ditemukan di Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara. Jika merujuk keterangan dalam prasasti Kanjuruhan diatas, keberadaan arca Agastya dari kayu cendana itu dapat dijadikan sebagai petunjuk menganai kayu cendana di daerah Malang pada awal abad VIII Masehi. Boleh jadi, kayu cendana yang dijadikan bahan pembuat arca Agastya tersebut tidak didatangkan dari NTT, namun kayu cendana lokal. Kenderaannya di kawasan Malang (baca ‘Malangraya’), khususnya Malang bagian barat pada DAS Metro dan DAS Brantas maupun lembah diantaranya terdukung oleh data tiponimis maupun kebiasaan penggunaan kayu cendana lokal oleh warga masarakat di daerah itu.

Setidaknya, di daerah Batu terdapat dua tempat yang memilii toponimi berunsur nama ‘cendana’, yaitu; (1) Gunung (Bukit) Cendono, yakni satu diantara dua Gunung Sepikul (terdiri atas dua bukit bersebelahan: Gunung Wukir dan Gunung Cendono) pada sub-DAS Hulu Brantas; dan (2) Jurang Cendono, yaitu lembah dalam yang menjadi demarkasi antara Desa Pendem dan Desa Dadaprejo, yang sekaligus merupakan mata air (tuk) Kali Braholo. Pada kedua tenpat itu, sisa kayu cendana masih didapati, meski sangat jarang dan nyaris punah. Menurut informasi warga Desa Dadaprejo, misalnya Suparto (60 tahun asal Dusun Karangmloko Desa Dadaprejo), hingga tahun 1980-an ada kebiasaan membakar serpihan kulit kayu cendana di bawah keranda mayat manakala ada kematian. Konon warga di sekitar Jurang Cendono itu punya kebiasaan untuk mengeringkan serpih-serpihan kulit kayu cendana dan membakarnya sebagai pengharum ruang atau menempatkan akar-akar kayu cendana kering di dalam almari sebagai memberi aroma harum pakaian. Ada pula yang membuat minyak harum dari kayu cendana. Memang, cendana atau cendana wangi khususnya merupakan penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya biasa digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Bahkan, bila kayunya tergolong sebagai baik, bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini dipergunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat itu, cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Kayu cendana wangi (Santalum Album) kini amat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari Mysoram (India Selatan) dianggap paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Pulau Timor sangat dihargai. Sebagai pengantinya, sejumlah pakar aromaterapi dan parfum mulai menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda. Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk tujuan penyembuhan. Ditinjau dari Bahasa Belanda (sandelhout) dan Bahasa Inggris(sandalwood), kayu cendana diyakini berasal dari NTT, khususnya dari Pulau Sumba. Hal ini dapat dilihat dari julukan Pulau Sumba, yakni Sandalwood Island. Julukan ini dibawa turun temurun dari zaman penjajahan Jepang dan Belanda hingga kini.

Pohon cendana (Santalum Albul Linn) mempunyai dua jenis, yaitu: (1) kayu cendana merah, dan (2) kayu cendana putih. Mutu kayu cendana merah tak sebaik kayu cendana putih, namun kurang diminati di pasaran. Kayu cendana merah banyak tumbuh di India dan Funan, adapun cendana putih banyak tumbuh di NTT. Walau tumbuhan parasit, cendana bisa tumbuh dengan ketinggian 11-15 meter, dan termasuk pohon besar dengan diameter batang bisa mencapai 25-30 cm. Pohon cendana memiliki berbagai manfaatm baik dari segi ekonomis maupun kesehatan. Bahkan, ada yang menganggap kayu cendana memiliki tuah. Beberapa manfaat kayu cendana adalah sebagai: (a) batang kayu cendana yang kokoh dan besar dapat dipergunakan sebagai bahan baku furniture dan meubel, dengan kualitas kayu yang sangat baik; (b) bahan baku kerajinan tangan, khususnya hiasan seperti rangka keris, kipas, ukiran, tasbih (aksamala); (c) simbol prestise, lantaran kualitas kayunya tinggi, proses budidayanya sulit, sehingga harganya tinggi; (d) kulit kayu dan minyak cendana bisa dijadikan bahan obat herbal yang berkaisiat anti peradangan, mencegah disentri, dan gangguan pencernaan, serta pembersih ketika menstruasi; (e) bahan parfum dan wangi-wangian, khususnya cendana putih dengan kewangiannya yang baik, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai campuran parfum, bahan pembuatan dupa, aromaterapi, dan balsam; (f) minyak cendana dipercaya dapat mengendalikan stress dan kecemasan, lantaran mempunyai efek alamiah anti depressant; (g) perlancar buang air kecil (ekskresi), lantaran minyak cendana mampu menekan rasa sakit ketika tubuh melakukan ekskresi; (h) minyak cendana bisa digunakan sebagai antiseptik dan antimikroba, sehingga bermanfaat bagi ketahanan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sulit terinfeksi bakteri, mikroba, dan virus berbahaya; (i) salah satu zat pemberi efek kecantikan tubuh, khususnya untuk menghilangkan noda hitam di kulit, mencegah munculnya jerawat, mengatasi dan menghilangkan minyak pada kulit.

Dasar pertimbangan dipergunakannya kayu cendana sebagai bahan pembuat arca Agastya tersebut bukan sekedar karena harum bau kayunya, namun harum kayu cendana diyakini sebagai media yang tepat untuk membawa orang untuk lebih dekat dengan dewata. Menilik bahwa Dewasingha adalah penguasa lokal Malang yang pertama mendapat pengaruh budaya Hindu (awal abad VIII), dimana terdapat indikator adanya pengaruh India Selatan, sangat mungkin arca Agastya berbahan kayu cendana itu didatangkan dari India Selatan. Indikator pengaruh India Selatan itu antara lain tampak pada penggunaan tarikh Saka, aksara Jawa Kuna yang adalah adaptasi dari aksara Pallawa, dan adanya Agastyapuja. Bagi warga India Tengah dan Selatan, Agastya dipandang sebagai ‘the culture hero’, yang berperan besar dalam melakukan siar Hindu ke bagian tengah dan selatan India, Begitu pula bagi warga di Asia Tenggara – termasuk di kepulauan Indonesia, Agastya mendapat tempat istimewa berkat jasanya dalam mendifusikan pengaruh Hindu ke seberang Indiaraya. Peran budayanya itu dapat dibandingkan dengan Ajisaka. Oleh karena itu, dapat difahami bila pada tahap awal (masa pertumbuhan) pengaruh Hindu di Nusantara, terdapat pemujaan khusus pada Agastya (Agastyapuja), sebagaimaa antara lain disiratkan dalam Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi).

Kala itu, bukan hanya arca kayu cendana yang didatangkan ke daerah Malangr, namun boleh jadi bibit kayu cendana juga dibawa untuk disemaikan di daerah ini. Apabila benar demikian, tanaman cendana yang konon banyak tumbuh di bagian barat Malang dan sisa-sisanya masih didapati pada dua tempat yang memiliki unsur toponimis ‘cendana’ tersebut kemungkinan asal tanamannya dari India Selatan. Di luar Malang, hingga tahun 1980-an patung-patung kayu cendana dibuat oleh para pekriya kayu di Pulau Dewata (Bali), khususnya untuk patung dewa-dewi. Di lingkungan Kristiani, patung Bunda Maria pun ada yang dibuat dari kayu cendana. Begitu pula, tak sedikit patung dewata agama Konghucu yang dibuat dari kayu cedana atau kayu harum dan berkualitas lainnya.

C. Reboisasi Khusus Pohon Cendana di Malangraya

Kawasan Malangraya, khususnya Malang Barat di daerah Batu, baik pada sub-DAS Hulu Metro dan Brantas maupun lembah diantaranya konon merupakan habitat pohon cendana. Nama ‘Jurang Cendono” dan “Bukit Cendno’ menjadi petunjuk kuat tentang itu. Demikian juga kesaksian warga Dadaprejo yang mencari kayu cendana di Jurang Cendono dan memanfaatkannya untuk sejumlah keperluan adalah kenyataan menganai keberadaan tanaman cendana di Malangraya pada beberapa dasawarsa lalu. Mengingat kelangkaannya sekarang, beragam manfaat kayu dan minyak cendana, sertaharganya yang terbilang tinggi, cukup alasan bagi daerah-daerah di Malangraya, khususnya Kota Batu untuk menggalang gerakan reboisasi khusus pembudidayaan tanaman cendana. Bukit Cendana dan Jurang Cendana bisa dipilih sebagai lokasi awal untuk pilot projek ini, yang nantinya diperluas ke tenpat-tempat lain.

Kepemilikan sejumlah daerah di Jawa akan pohon cendana menjadi alasan untuk menyatakan bahwa produk rempah-rempah bukan hanya kedapatan di Indonesia Timur, namun terdapat juga di Jawa untuk tanaman khusus seperti kayu cendana, lada, merica, cengkeh, adas-polowaras, dsb. Dengan perkataan lain, Jawa layak dimasukkan ke dalam ‘Jalur Rempah Nusantara’, baik sebagai produsen maupun sebagai pelabuhan transit. Dalam kaitan itu Malangraya memiliki kontribusi kerampahan, khususnya untuk tanaman cendana. Bagi kota Batu, cendana dapat dipertimbangkan sebagai ikon tanaman – selain apel, dan mempertimbangkan pembuatan ikon arca Ganesya – dengan model arca Genesya di Torongrejo – dari bahan kayu cendana untuk ditempatkan pada hall depan Block Office ‘Amongtani’. Bersamaan dengan itu, reboisasi khusus berupa penanaman kembali pohon cendana musti segera dimulai.

Demikianlah, sekilas informasi tentang keberadaan arca Agastya dari kayu cendana dapat dijaikan semacam ‘cendela pembuka berita’ mengenai reliegio-ekologis yang berkenaan dengan tanaman cendana di Malangraya dalam lintas masa. Semaga tulisan ringkas yang bersahaja ini bisa membuahkan kefaedahan. Nuwun.

Sengkaling, 6 Sepetember 2017,
PATEMBAYAN CITRALELHA

 

Continue Reading

JAMAN KUNO

PERBANDINGAN PESAN PERIBAHASA ‘MBURU UCENG KELANGAN DELEG’ DAN RELIEF PEMBURU AMBISIUS DALAM CERITA TANTRI

Avatar

Published

on

 

A. Peribahasa ‘Mburu Uceng Kelangan Deleg’

Peribahasa Jawa ‘mburu uceng kelangan deleg’ bermakna lantaran cenderung mengejar atau mengurusi hal-hal kecil (remeh), maka kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil besar. Kalimat sindiran ini berkenaan dengan sikap dan tindakan bodoh, lantaran tidak didasari kalkulasi strategis atau kurang mampu memperhitungkan urgensi. Orang demikian sulit menjadi orang besar, karena terjebak pada hal-hal sepele, remeh, tidak urgen, dan kurang strtegis. Sementara terhadap hal-hal yang sesunggunya lebih memberi peluang bagi perolehan keuntungan yang lebih besar, justru diabaikan atau ditinggalkannya.

Uceng dan deleg adalah nama-nama ikan air tawar (iwak kali). Sebutan ‘uceng’ diberikan kepada ikan kecil, seukuran jari kelingking atau lebih kecil lagi, mirip anakan belut yang kecil-memanjang dan biasanya hidup di arus deras. Oleh karena kecil dan berada di arus deras, maka tidak mudah ditangkap dengan tangan telanjang. Pada dasawarsa terakhir, ikan uceng menjadi kuliner khas di Kabupaten Blitar, khususya di daeah Wlingi dan sekitarnya, yang digoreng untuk dijadikan lauk dengan kelengkapan sajian sambal uleg dan lalapan. Kuliner khas ini menjadi pesaing bagi ikan sungai wader, yang populer pada sekitar Bendungan Selorejo di Ngantang Kabupaten Malang. Sedangkan ‘deleg’ merupakan sebutan bagi ikan sungai yang cukup besar, yang kurang gesit dalam gerak, sehingga mudah ditangkap. Dalam peribahasa tersebut, uceng digunakan sebagai perumpamaan untuk hal-hal kecil yang cenderung diurusi (ditangani)nya. Adapun deleg adalah perumpamaan untuk kesempatan atau perolehan besar justru lepas perhatian.

Bisa juga uceng-deleg diartikan dengan sumbu (unceng, uceng-uceng) dan lampu minyak kuno (deleg). Dalam arti ini, peribahasa itu bisa dimaknai dengan keinginan yang menyala-nyala (diumpamakan dengan ‘uceng’), namun tanpa disertai dengan fasilitas (diumpakan dengan ‘deleg’) yang memadai. Atau boleh juga dimaknai dengan sarana (diumpamakan dengan ‘uceng’) tanpa prasarana (diumpamakan dengan ‘deleg’). Akibatnya, tidak membuagkan fungsi nyata, sebab keduanya adalah komponen dalam sebuah sistem, yang masing-masing musti ada dan saling mengkontribusikan fungsinya.

Berkebalikkan dengan itu adalah sikap dan tindakkan yang ambisius, terlampau tergiur pada hal-hal besar yang padahal belum tentu bisa diraihnya. Sementara hal kecil yang bisa didapat atau bahkan riil telah diperolehnya dikesampingkan atau diabaikan. Hal demikian acap dihadapi seseorang dalam kehidupan nyata, utamanya ketika dihadapkan pada sesuatu yang menggiurkan minat, sehingga mengundang ambisinya untuk dapat meraihnya. Padahal, yang mempesona itu jauh dari kemungkinan untuk bisa didapat, lantaran kapasitas dirinya terbatas. Akibatnya, hal kecil yang memungkinkan atau bahkan telah diperoleh diabaikan, sementara hal besar yang diidamkan tak mungkin dicapainya, Apabila demikian, maka yang didapatkan hanya ‘cotho (merugi)’ alias tidak memperoleh apa-apa, dan akibatnya cuma bisa ‘deleg-deleg (termnung menyesal)’.

Kedua sikap dan tidakan tersebut disarakan untuk dihindari, kerasa sama-sama tidak menguntungkan. Dalam kalimat peribahasa, tak terkecuali pada paribasan Jawa, binatang acap dijadikan sebagai unsur dalam kalimat peribahasa. Seperti, kalimat ‘gajah di pelupuk mata tidak tampak, kerbau congek, buaya darat, dsb.’. Pilihan untuk menggunakan unsur binatang dalam peribahasa amat boleh jadi karena unik sehingga menggelitik untuk disingkapkan maknanya, familer karena binatang itu berada di lingkungan sekitar, dan karennya diharapkan bakal lebih meresap dalam ingatan. Walaupun binatang dijadikan unsur pembentuk kalimat peribahasa, namun makna yang terkadung di dalamnya ditujukan bagi manusia. Dengan perkataan lain, perilaku spesifik dari binatang atau perlakuan manusia terhadapnya, diharapkan dapat menjadi ‘wahana pendidikan atau petuah’ bagi manusia agar bersikap dan bertindak bijak dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan contoh teladan tersebut.

Hal itu dapat dibandingkan dengan penghadiran binatang-banatang tertentu sebagai ‘tokoh peran’ di dalam cerita binatang (fabel) di penjuru dunia, baik fabel baru maupun fabel kuno. Pada Masa Hindu-Buddha, di Nusantara terdapat fabel asal pengaruh budaya India, yang dikenal dengan cerita ‘Tanti, atau sebutan lengkapnya ‘Tantri Kamandaka’, beserta tradisi dan gubahannya pada masa yang lebih kemudian, semisal cerita ‘Ni Diah Tantri’ di Bali. Pada paparan berikut, hal yang berkebalikan dengan peribahasa itu hendak ditelisik pada salah kisah dalam cerita berbingkai Tantrikamandaka. Telah sejak abad VIII Masehi, sejumlah kisah dalam cerita Tantri visualkan dalam bentuk relief pada candi, partirthan, arca atau media visual lainnya.

B. Deskripsi Relief Pemburu Ambisius dalam Cerita Tantri

Paparan ini hanya menghadirkan dua relief yang memvisulkan kisah dalam Cerita Tantri bertema ‘Pemburu Ambisius’, yang keduanya terdapat di kompleks Candi Penataran, yaitu: (a) yang dipahat pada sisi belakang bagian bawah dari salah sebuah (diantara empat buah) patung dwarapala (penjaga pintu) di depan candi Induk Penataran, dan (b) dinding Patirthan Dalam sisi utara di halaman belakang kompleks Candi Penataran. Relief yang pertama dipahat pada Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi), dan relief yang kedua berasal dari Masa Akhir Majapahit (paro kedua abad XV Masehi). Penghadirnya pada artefak masa lampau itu menjadi pembukti bahwa centa binatang telah dijadikan wahana bagi Pendidikan moral atau petuah bagi perilaku social.

Relief pertama menggambarkan seseorang tengah berjalan dengan tangan kiri membawa tongkat kayu sebagai tangkai pancing (walesan) besar dalam kondisi melengkung menyangga beban berat, karena bagian untuk menggantungkan kura-kura – salah satu kaki belakang kura-kura diikat, dengan kepala ke arah bawah. Tangan kanannya menuding ke depan, ke arah seekor kijang. Kura-kura itu adalah binatang relatif kecil hasil tangkapan riil ynag didapat olehnya, sementara kijang adalah binatang lebih besar yang menggiurkannya untuk bisa ditangkapnya. Apa yang dipahat hanya key schene (kunci adegan), yang bila dipahat dalam beberapa panil, semestinya panil yang berikut mengga,barkan adegan sebagai berikut. Untuk dapat mengejar kijang itu, maka tangkai pancing yang bergantungkan kura-kura hasil tangkapan dilemparkannya. Selanjutnya kura kura terbebas dari tali dan menjebur kembali ke perairan. Sementara, kijang yang diidamkannya tak kuasa untuk didapatkan karena kalah gesit.

Paparan visual yang lebih rinci didapati pada relief kedua, yang dipahatkan ke dalam dua panil. Panil perrama menggambarkan seseorang yang tengah berjalan. Kedua tangannya memegang pangkal tongkat kayu, yang dipikulkan pada pundak kiri. Tongkat dalam kondisi melengkung, karena menahan beban berupa kura-kura hasil tangkapan yang diikatkan di ujung tongkat. Panil kedua menggambarkan sebagai berikut. Orang tersebut berlari mengejar seekor binatang berkaki empat, yang bisa jadi adalag kijang. Tangan kirinya menuding ke depan, ke arah kijang yang juga tengah berlari kencang. Tangan kanannya membawa sesuatu, yang nampaknya digunakan sebagai senjata lempar kepada kijang. Sementara, kura-kura yang telah berhasil ditingkapnya menjebur ke perairan.

C. Kandungan Pesan Moral atau Petuah Sosial

Peribahasa dan relief Cerita Tantri tersebut berasal dari masa yang berlainan. Relief Tantri berasal dari Masa Keemasan dan Akhir Pemerintahan Majapahit, sedangkan peribahasa dari masa sakarang. Begitu pula, binatang yang menjadi unsur penyusun cerita dan kalimat peribahasa berbeda. Pada relief Cerita Tantri binatang yang dihadirkan kura-kura dan kijang, sedangkan pada peribahasa itu adalah ikan uceng dan deleg. Perbedaan lainnya adalah tampilannya, yaitu dalam bentuk relief – sebagai visalisasi dari cerita fabel – dan dalam wujud kalimat peribahasa. Kendatipun keduanya memiliki perbedaan, namun pesan moral dan petuah sosialnya sama, yaitu sikap dan tindakkan yang disarankan untuk tidak dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat..

Tergambar bahwa pesan moral atau nasihat sosial terbuka kemungkinan untuk diekspresikan dengan beragam media. Bisa dengan media visual, namun dapat pula dengan peribahasa. Bisa memperumakan dengan binatang kura-kura dan kijang, dapat pula dengan ikan uceng dan deleg yang beda ukuran (besar dan kecil). Dengan menggunakan media visual, maka esensi pesan lebih mudah ditangkap jika dibandingkan dengan memakai media tekstual/lisan dalam wujud kalimat peribahasa. Kedua media ekspresi yang berlainan itu adalah wahana pemyampai pesan moral atau petuah sosial.

Yang menarik pada media visual tersebut adalah keberadaannya di kompleks bangunan suci. Yang memberi kesan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya diposisikan sebagai ‘hal yang penting’. Demikianlah, komleks Candi Penataran sebagai bangunan suci bukan semata wahana religis untuk berhubungan Dewata, namun pernak-pernik yang terdapat di dalamnya – antara lain relief – juga mengemban fungsi sebagai wahana sosial, yaitu memuat pesan moral atau petuah sosial bagi para peziarah untuk senantiasa bijak dalam berperilaku di masuarakat. Semoga tulisan ini membuahkan kefaedahan. Salam budaya ‘Nusantarajayati’. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 22 Juni 2017

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019