SANDYAKALA PINGGIR SUNGAI “ARKHAIS” TENGGARONG, KAWASAN UTAMA PUSAKA-BUDAYA KUTAI

Oleh: M. Dwi Cahyono

01

Masjid Agung Kutai Kartanegara berada di tepi Sungai ‘arkhais;’ Tenggarong, di seberang belakang bangunan Istana Kasultanan (rebuild dari Istana Lama). Kali Tenggarong yang bermuara ke Bangawan Mahakam adalah “jalan air utama” di Tepian Pandan (nama arkhais untuk “Tenggarong”). Sungai inilah yang menjadi penghubung DAS Mahakam dengan areal dalam wilayah Tenggarong. Selain Masjid Agung, terdapat pula Masjid Kasultanan, yang konon berada di areal dalam Istana Kasultanan Kutai.

02

Sebagai Kota Pusaka (Heritage City), semestinya Kab. Kutai Kartanegara lebih peduli (care) akan kelestarian Cagar Budaya-nya. Tidak asal merenovasi heritage-nya, termasuk dengan menambahkan bangunan-bangunan baru yamg permanen dan berukuran besar di zona inti dari kawasan cagar budayanya. Misalnya, pada areal Museum Tenggarong — yang merupalan eks-istana kasultanan terakhir.

Sayang disayang, ada sejumlah bangunan cagar budaya (BCB) di Tenggarong, Sanga-Sanga, Anggana, Muara Kaman, Loa Kulu, dsb. yang kini dalam kondisi kurang lestari. Bahkan, beberapa diantaranya telah musnah. Oleh karena itu, reinventarisasi dan redokumentasi menyeluruh terhadapnya adalah hal utama dan pertama demi menghadapi derap cepat pembangunan di Kukar yang terkadang tak mempedulikan cagar budayanya.

Tiba saatnya dan semestinya Kukar memiliki TACB (Tim Ahli Cagar Budaya), yang diharap dapat berperan sebagai pemberi pertimbangan bijak dalam hal pengelolaan Cagar Budaya (CB)-nya yang kaya, langka, beragam, unik dan bermakna. Tegaknya perundangan (law inforcement) a.l. Perda Cagar Budaya dan Perda lain bekenaan dengan budaya dan adat setempat bakal dikuatkan oleh keberadaan TACB. Apa guna piranti hukum jika tidak ditegakkan dengan sungguh-sungguh.

Salam budaya “Kutaijayati”.

Sengkaling, 4 September 2016