Wisata Alternatif Kota Malang


Wisata Alternatif Kota Malang

WARNA-WARNI PINGGIR KALI: Kampung-Wisata ‘BHINEKAVARNA’ nan Unik-Menarik di Ledhok Brantas Wetan

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Kampung Stren Kali Brantas

01Sesuai dengan unsur namanya, yakni ‘ledhok’ dalam ‘Ledhok Brantas’, secara topografis kampung yang masuk dalam wilayah administratif dua kelurahan (Jodipan dan Kesatrian) ini berada di dalam cekungan tanah pada stren (bantaran, tepian) Bangawan Brantas, tepatnya menjelang kelokan aliran Brantas (barat-timur –> utara-selatan). Kampung Ledhok Brantas atau Embong Brantas adalah satu diantara dua tempat di sub-DAS Hulu Brantas yang memiliki unsur nama ‘Brantas’ – kampung/desa lainnya adalah ‘Sumber Brantas’ di Daerah Batu. Kampung Ledhok Brantas merupakan salah sebuah diantara sejumlah ‘kampung stren kali’ di Kota Malang, yang membentang mulai dari Landungsari hingga Kota Lama.

02Bila menilik posisi kampung yang melereng terjal ke aliran sungai, maka dengan sekilas pandang saja timbul kesan bahwa permukiman padat yang merayap turun ke pinggir kali ini merupakan areal ‘rawan bencana’. Terbukti, beberapa kali kampung-kampung stren kali tersebut ditenjang oleh banjir bandang, manakala debit air pada Bangawan Bantas meningkat tajam lantaran hujan amat deras di Daerah Batu. Kian lama semakin banyak rumah tinggal permanen yang menjubeli bantaran Brantas ini. Kebanyakan adalah rumah tinggal berukuran kecil hingga sedang, yang berjajar rapat mengapit lorong-lorong kecil yang berpermukaan datar hingga berkemiringan terjal.

Ditilik dari keletakannya pada sisi timur dan barat jembatan kuno (hetitage) melintasi Brantas terdapat adanya dua buah kampung Ledhok Brantas, yaitu : (1) Ledhok Brantas Wetan di sisi timur (wetan), dan (2) Ledhok Brantas di sisi barat (kulon) jembatan. Masing-masing dapat lagi dirinci berdasarkan lokasinya pada seberang (brang) bengawan, sehingga muncul sebutan kampung : (a) Ledhok Brantas Wetan Brang Lor (utara), (b) Ledhok Brantas Wetan Brang Kidul (selatan), (c) Ledhok Brantas Kulon Brang Lor, dan (d) Ledhok Brantas Kulon Brang Kidul.

Toponimi ‘Ledhok Brantas’ telah lama dipakai. Pada laporan inventarisasi tinggalan pubakala di Jawa dan Madura ‘Rapporten Oudhkundediens Commisie (ROC)’ tahun 1907 untuk wilayah Karesidenan Malang, diberitakan adanya tiinggalan arkeologis berupa sejumlah arca dan reruntuhan candi di Ledhok Brantas yang berlatar agama Hindu sekte Saiwa. Adanya temuan itu memberi petunjuk bahwa tatkala Masa Hindu-Buddha (sekitar abad XIII atau XIV Masehi) di areal ini pernah terdapat suatu bangunan suci beserta perangkat bagi ritus keagamaan.

Ledhok Brantas memiliki ‘geo-strategis’, utamanya setelah sistem pemerintahan Kadipaten Malang diubah menjadi sistem pemerintahan Katumenggungan Malang. Perubahan sistem pemerintahan ini disertai dengan relokasi pusat pemerintahan, yaitu dari pusat pemerintahan Kadipaten Malang pada lereng barat Gunung Malang (kini ‘Bukit Buring’) ke pusat pemerintahan Katumenggungan Malang di seberang selatan Ledhok Brantas. Untuk menopang akses menuju pusat Ketumenggungan sekaligus pusat ekonomi di Pecinan Besar pada sepanjang Boldy Staat, dibangunlah jembatan yang terbilang panjang melintas Brantas, yang di areal ini mengalami pelebaran – lantaran terdapat dua ledhok di seberang utara dan selatan.

03Pada mulanya dibuat jembatan berkonstruksi kayu. Ketika dilintasi kendaraan beroda kayu berlapis ring besi dan karet (cikar, dokar, gledekan) ataupun kendaraan bermotor (truk, bemo, demo, atack, oplet, dsb.) timbul bunyi ‘gluduk-gluduk’, sehingga jembatan (buk) ini pun memperoleh nama yang bersifat onomatopae – suatu penamaaan berdasar bunyi yang dihasilkan, yaitu ‘Buk Gludhug’. Pada masa selanjutnya, konstruksi jembatan kayu ini direvitalisasikan dengan menggunakan konstruksi jembatan beton. Pada tahun 1870-an di sebelah timur Buk Gludhuk dibangun jembatan kereta api yang menghubungkan dua stasiun KA, yaitu Stasiun KA Rampal (kini ‘Stasiun Kota Baru’) dan Stasiun Kota Lama. Kampung Ledhok Brantas Wetan dengan demikian mendapat apitan dua buah jembatan heritage pada bagian atasnya, yaitu Buk Gludhuk di sisi barat dan jembatan KA di sisi timurnya.

B. Magi Warna, Buah Kreatif Mahasiswa

Apabila tidak ditata, kampung-kampung sten kali cenderung hadir sebagai ‘kampung kumuh’ dengan lembah sungai menjadi ajang bagi penumpukan sampah. Berangkat dari dasar pertimbangan itulah maka Mahasiswa Universitas Muhammadiah Malang melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampung ini Dengan antara lain berupaya untuk ‘menyulap’ kesan kumuh pada kampung Ledhok Brantas Wetan Brang Kidul di Kelurahan Jodipan RW 02 menjadi kampung yang ‘unik dan menarik’.

04Suatu ide kreatif dan terbilang ‘berani’ disentuhkan pada eksterior dinding hingga atap rumah tinggal, lorong-lorong sempit, gapura, tebing batu dan tanggul, pilar dan lengkung penyangga Buk Gluduk serta pilar Jembatan KA, dsb., dengan menorehkan cat warna-wani (multy colour) beserta detail ornamentiknya lewat jalinan kemitraan-fasilitasi (CSR) terhadap perusahaan cat tembok ‘Deco Fress’. Walhasil, kampung Ledhok Brantas Wetan Barang Kidul pun hadir sebagai ‘Kampung Warna-Warni’, semuanya ‘serba berwarna’. Ide kreatif ini pun ‘menular’ ke Kampung Ledhok Brantas Wetan Brang Lor di Kelurahan Ksatrian. Bahkan, selain melakukan pengecatan rumah tinggal berwarna-warna, disertai pula dengan pembuatan aneka lukisan tiga dimensional (Tri-D).

05Sontak, warna-warna mencolok dengan beragam warna dari rumah-rumah tinggal yang berada pada posisi gradatif di kelerengan lembah sungai itu mengundang perhatian khalayak. Terlebih panorama unik-menarik ini tergambar demikian jelas dari Buk Gluduk. Pemberitaan yang marak di media masa (koran dan TV) beserta media sosial (medsos) menjadikan Kampung Warna-Warni itu menjadi obyek kunjungan warga luar, utamanya anak muda, sehingga menjema menjadi ‘tempat wisata’, tepatnya ‘wisata-kampung dadakan’.

Dikatakan ‘dadakan’, karena tidak sedari semula para Mahasiswa yang ber-KKN di Kampung Ledhok Brantas Wetan Brang Kidul merencanakan sebagai tempat wisata. Namun tak pelak, bukan hanya para wisatawan serta komunitas-komunitas seni-budaya yang menyinggahinya dan menawarkan kemitraan dengan warga, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang pun tergerak mendatanginya. Bahkan, Wali Kota Malang menjanjikan untuk membangun jembatan penghubung Kampung Ledhok Brantas Wetan di Brang Lor dan Brang Kidul, yang sebelumnya relasi sosial antar kedua kampung itu ‘sedikit kurang harmonis’. Sesungguhnya, tanpa jempatan pun hubungan antar seberang dapat dilakukan dengan menyeberangi aliran Brantas, yang ketika musim kemarau (seperti sekarang ini) hanya sedalam 50 Cm dan lebarnya kurang dari 4 meter.

06Ibarat mutiara kata ‘siapa menebar angin, dialah menuai badai’, Kampung Ledhok Wetan Brang Kidul telah ‘ditebari’ dengan cat warna-warnai, dan akhirnya ‘menuai’ badai berupa ‘wisata dadakan’ yang mengundang perhatian berbagai pihak. Tergambar dalam peristiwa ini, warna memiliki ‘daya magi’ untuk mengubah citra lingkungan secara cepat. Pada sisi lain warna juga mempunyai ‘daya penarik’ terhadap khalayak untuk mengarahkan perhatiannya dan melakukan kunjungan terhadapnya.

Suatu ‘perubahan besar’ telah terjadi di Kampung Ledok Brantas, dan menimbulkan dampak – baik internal (pada masyarakat Ledhok Brantas Wentan) maupun eksternal (terhadap khalayak di luar kampung bersangkutan). Oleh karena itu, meski pada bulan ini (September 2016) masa KKN Mahasiswa UMM di Kampung Ledhok Brantas Wetan Brang Kidul Kelurahan Jodipan berakhir, namun buah perubahan yang terjadi terus bergulir, dan karenanya perlu penanganan lebih lajut secara tepat guna.

C. Menuju Wisata-Kampun Warna-Warni Ledhok Brantas

07Idealnya, penangan terhadap sesuatu mendasarkan kepada konsep dan desain yang diformulasikan terlebih dahulu. Namun, pada Kampung-Wisata di Ledhok Brantas Wetan ini, konsep dan desainnya baru disusulkan belakangan, sebab tidak sebermula kampung ini dirancang sebagai kampung wisata. Obyek wisata dan kunjungan wisata telah hadir di Kampung Warna-Warni, sementara isian wisatanya baru dirumuskan – ibaratnya : wadah telah terbentuk, dan selanjutnya diformulasikan apa yang tepat untuk diisikan ke dalamnya. Isi wisata tersebut berkenaan dengan: (1) ‘menu’ sajian wisata, (2) unsur penunjang wisata, dan (3) atraksi wisata yang tepatguna. Dalam hal ini, tepatguna dengan : (a) tema sentralnya, yaitu warna-warni (multy colour), (b) khalayak wisatawan dominan yang hadir, yaitu anak muda, (c) karakter lingkungan, yaitu kampung pinggir kali, serta (d) potensi dan aspirasi dari warga setempat.

Untuk kepentingan itu, perlu dilakukan studi akademik guna merumuskan konsep dan desain wisata bagi Kampung Warna-Warni di Ledok Brantas Wetan, yang mencakup Brang Kidul maupun Brang Lor. Oleh karena Brang Kidul dan Brang Lor berada di wilayah kelurahan yang bebeda, maka perlu penanganan secara ‘lintas kelurahan’. Dengan cara demikian, maka walaupun kedua sub-area itu (Brang Kidul dan Brang Lor) berada pada area yang sama (Ledhok Brantas Wetan) serta sama pula dalam tema sentralnya (tema: ‘Warna-Warni’), namun diharapkan memiliki detail ‘menu’ sajian, unsur menunjang dan atraksi wisata yang berlainan, sehingga tidak terjadi kompetsi yang kurang sehat – lantaran keduanya persis sama – dan wisatawan termobilisasi mengujungi kedua sub-area.

Koneksitas antar kampung seberang sungai itulah yang justru diharapkan, sebagai impak untuk menguatkan harmonisasi-sosial diantaranya. Koneksi antar seberang itu tidak musti dilakukan dengan membangun jembatan. Namun lebih utama daripada itu adalah mendahulukan rekayasa-sosial, yang diarahkan pada simbiose-mutuaslistis, yakni relasi atas dasar saling pengertian dan saling berkontribusi yang menguntungkan kedua kampung. Pengembangan wisata di areal ini merupakan contoh menarik, karena meski kedua kampung berada di kelurahan berlainan, namun memiliki kedekaran jarak, berada dalam entitas ekologis yang sama, serta memiliki keinginan yang sama pada kewisataan.

08Peresmian Kampung Wisata Warna-Warni pada esok hari (MIinggu, 4 September 2016) bukanlah ‘puncak’ upaya memberdayakan kampung Ledhok Brantas, melainkan justu merupakan ‘tahap awal’ bagi proses panjang untuk secara bertahap dan berkelanjutan mencari dan menemukan fomula wisata kampung dalam kota yang berkarakter, unik, menarik dan bermanfaat bagi warga setempat maupun wisatawan yang menghadirinya. Untuk itulah, penyiapan mentalita warga sesuai dengan kultur kewisataan, pelatihan dan peningkatan daya kreasi berolah seni-kerajinan maupun kuliner, maupun penjejaringan dengan pihak mitra (biro perjalanan, pelaku seni, perusahaan pemberi CSR, institusi pemerintah, dsb) adalah ragam tugas yang menyongsong untuk dilakukan dengan baik.

UMM seyogianya menjadikan Ledhok Brantas Wetan Brang Lor dan Kidul sebagai kampung binaan, yang secara berkelanjutan dijadikan sebagai tempat pelaksanaan KKN dan labiratorium lapangan. Demikian pula Deco Fress hendaknya mengalokasikan CSR-nya untuk kepentingan maintenance bagi torehan cat warna-warni yang tentu memiliki durasi masa pudar. Demikian pula, Pemkab Malang, yang dalam hal ini adalah ‘lintas SKPD’, antara lain Disbudpar, DKP, Disperindag, Badan Penanggulangan Bencana Daerah – lantaran Ledhok Brantas berada pada ‘kawasan rawan bencana’, Tim Penggerak PKK, dsb., turut berkontribusi sesuai dengan kompetensinya masing-masing.

09Yang terpenting adalah segera melakukan ‘Rembug Kampung’ dengan melibatkan: (a) warga Kampung Ledhok Brantas Wetan Brang Utara dan Brang Selatan beserta dua kelurahan yang menaunginya (Jodipan dan Ksatrian), (b) Unv. Muhammdiyah Malang sebagai penggagas, ( c) Deco Fress sebagai mitra-faslitasi utama, (d) Pemkot Malang yang melibatkan SKPD-SKPD terkait, (e) TNI — dalam hal ini adalah PASKAS, yang telah terlihat semenjak awal dalam proses pengecatan, (f) para pakar yang membidangi sektor pariwsata, seni-budaya dan lingkungan, dsb. Adapun agenda utamanya adalah menggalang komitmen untuk menjadikan Kampung Ledhok Brantas sebagai ‘Kampung Wisata Warna-Warni’ yang unik, menarik dan memberi kedayagunaan bagi berbagai pihak, tak terkecuali kampung wisata bernuansa lingkungan khusus, yaitu ‘lingkungan stren kali’. Semoga Rembug Kampung ini bisa menjadi wahana rekonsiliatif dua kampung berseberang sungai di Ledhok Brantas ini sebagai ‘modal sosial’ yang bermakna di Kota Malang.

10Selamat atas kelahiran ‘Kampung-Wista Warna-Warini’ yang unik, bersih, menarik dan bersahabat. Semoga kelak dari waktu ke waktu kian mempesona, sehingga tidak hanya hadir dan diminati sesaat dan setelah itu ditinggalkan. Marilah eksplor habis tema ‘warna-warni’, lantas tuangkan kedalam beragam media ekspresi seni-kerajinan (cendera mata), seni pertunjukan, lukisan dinding (mural), permainan anak, jajanan (kuliner), dan banyak lagi yang tentu senantiasa ber-‘aneka warna’.

Salam ‘Bhinekavarna Nusantara’.
Nuwun.

Sengkaling, 3 September 2016


Like it? Share with your friends!