Bedah Krawang Kampung Cempluk


Draf Lakon Kethoprak Ngampung Riayan Kabudayan Kampoeng Tjempluk

BEDAH KRAWANG “KAMPUNG CEMPLUK-KALISONGO”

02

A. Latar Sejarah

Situs Kalisongo berasal dari masa akhir pemerintahan Kerajaan Kadiri (akhir abad XII M). Kala itu, daerah yang kini dinami “Desa Kalisongo” dengan salah satu dusunnya bernama “Sumber Rejo” dan sebuah kampungnya disebut “Kampung Cempluk” di Kec..Dau Kab. Malang beserta desa-desa lain pada lereng timur G. Kawi masuk dalam wilayah kekuasaan Rakryan Pamotoh, seorang pejabat di suatu watak dalam kekuasaan kerajaan Kadiri (Pangjalu) yang terletak di Hulu Brantas dan Metro. Rakryan Pamotoh berkedudukan di Gasek (sekarang Gasek menjadi nama dusun di Ds. Karang Besuki), yang bertetangga dengan Desa Kalisongo.

B. Draf Lakon Ketoprak

Warganya daerah ini terbilang sebagai waga yang secara ekonomik miskin. Mata pencahariannya hanya berburu (hunting) — dimana hutan di timur G. Kawi banyak kedapatan binatang buruan. Di sela-sela berburu, mereka mengumpulkan hasil hutan (food gathering, atau meramu). Hal ini dilakukan lantaran perladang mereka, yang berada di hamparan tanah yang membukit, dalam kondisi kering (huma, tegal). Sebenarnya, di tempat itu cukup banyak terdapat sumber air (tuk, yang nantinya dinamai “Sumber Rejo). Namun, air dari sumber tersebut tak dapat dialirkan langsung ke ladang, sebab terhalang oleh kontur tanah yang bergelombang.

Rakryan Pamotoh pun memberi petunjuk bahwa untuk tingkatkan kesejahteraan warga di daerah itu, prasyaratnya adalah harus membuat saluran air (kalen), yang berpangkal pada sembilan sumber air yang ada. Namun, warga bersangkutan keberatan, sebab pada siang hari mereka musti pergi ke hutan untuk berburu dan meramu. Oleh karena itu, bila mereka membuat kalen pada siang hari, berarti tak bisa ke hutan. Padahal, berburu dan meramu adalah sumber kehidupan satu-satunya selama berabad-abad.

Di tengah polemik itu, ada seorang bijak yang telah berusia tua (tuha) memberi solusi. Pengerjaan kalen seyogianya dilakukan pada malam hari secara kelompok dan bergiliran. Hasil berburu dan meramu oleh mereka yang tak sedang mendapat giliran mengerjakan kalen dikonsumsi bersama untuk seluruh warga meski serba terbatas untuk sementara waktu. Pekerjaan ini terbilang berat dengan peralatan sederhana, tanah yang keras dan berbatu serta berkontur, maupun masih adanya binatang buas. Persoalan lainnya adalah bagaimana bisa melakukan kerja pada malam hari? Disarankan agar warga membuat lampu dengan minyak jarak. Minyak ditaruh dalam wadah minyak yang terbuat dari tanah liat yang cembung bentuknya (cempluk), yang biasanya untuk wadah garam (uyah bleng). Lampu inilah yang digunakan sebagai penerang, yang kemudian dinamai “damar cempluk”.

Akhirnya dengan cara bergotong royong dan kerja keras pantang menyerah selama sekitar setahun lamanya, berhasillah dibuat sembilan buah kalen. Masing-masing kalen dilintaskan ke ladang untuk irigasi. Sembilan kalen itu akhirnya dipertemukan menjadi sebuah kali, yang karenanya disebut dengan “Kali Songo”. Kali ini juga bermanfaat untuk ragam keperluan warga, antara lain untuk mandi, mencuci, ngangsu air bersih, dsb. Aliran kali menuju ke timur, dan akhirnya bermuara di Sungai Metro.

Semenjak itu, pencaharian warga beralih dari berburu dan meramu menjadi petani dan peladang. Buah upayanya adalah kesejahteraan warga mengalami peningkatan. Kampung yang semula berwarga sedikit tahap demi tahap mulai membiak. Ladang-ladang yang semula kering menjelma menjadi lahan pertanian. Kondisi gemah ripah mewarnai kehidupan warga.

Sebagai rasa syukur kepada Dewata, pada tempuran (pertemuan) Kali Songo dan Sungai Metro, maka dibangunlah sebuah Candi Hindu. Peresmian dilakukan oleh Rakryan Pamotoh . Dalam kesempatan itu, Pamotoh berpesan agar warga setempat melestarikan sumber air dan memelihara kali yang telah dengan susah payah mereka buat. Mengingat hidup mati mereka amat bergantung pada sumber air dan instalasi air itu. Nama desa dimana mereka berada oleh Pamotoh dinamai “Kali Songo”, dan dusun padamana terdapat sumber-sumber air itu dinamai “Sumber Rejo“.

Sementara damar cempluk pun dijadikan sebagai alat penerang oleh warga, sehingga kampung mereka juga disebut “Kampung Cempluk”. Adapunn Tuha yang menjadi penemu damar cempluk itu mendapat sebutan “Eyang/Mbah Cempluk”.

C. Penutup

Demikianlah, nama “Kalisongo, Sumber Rejo, dan Kampung Cempluk” diberi kisah berlatar sejarah (babad), yang membawa misi “eko-historis”. Untuk keperluan lakon, maka draf naskah ini perlu didramatisasikan sehingga menjadi lebih menarik dan pesan-pesan yang akan disampaikan menjadi mudah ditangkap oleh khalayak pemirsa.

Mohon masukan untuk penyempurnaan draf lakon ini. Salam budaya. Nuwun

27 Juli 2016

Dwi Cahyono


Like it? Share with your friends!