SIMATHANI KALISANGA


ORASI BUDAYA-KAMPUNG
‘Festival Kampung Cempluk VII’, hari ke-3

 SIMATHANI KALISANGA

  01

Oleh: M. Dwi Cahyono

Konon, pada 818 tahun lampau,
Dyah Limpa yang berkedudukan di Thani Gasek,
yang menjabat sebagai rakyan pada watak Pamotoh,
atas nama Rajarsi Jigjaya (Digwijaya Sastrapabhu) di Kadiri
mendeklarasikan tentang: waranugraha (anugerah)
Sang Raja terhadap sejumlah thani (desa) di sakarida (timur) Ardi Kawi
sebagai sima thani (swatantra thani, desa perdikan) dalam naungan Kerajaan Pangjalu.
Salah sebuah diantaranya adalah thani Palakan,
cikal-bakal dari desa yang kini bernama ‘Kalisoongo’.

Kalisongo dengan demikian merupakan desa yang menyejarah,
setidaknya semenjak lebih dari delapan yang abad lalu.
Desa yang memiliki hak otonomi untuk mengelola rumah tangga desanya sendiri,
desa yang memperoleh kewenangan istimewa, yang tak dimiliki oleh desa biasa.
Sebuah desa yang kontributif terhadap raja dan kerajaan.
Bersama dengan sejumlah thani di DAS Metro dan DAS Brantas
Palakan menjadi ‘tanggul’ Pangjalu terhadap ancaman lawan.
Kalisongo karenanya merupakan ajang sosio-budaya lintas masa,
desa arkhais yang telah meniti sejarah panjang peradaban.

‘Kalisongo’ adalah nama desamu.
‘Sumberejo’ merupakan nama dusun.
Unsur toponimi ‘kali’ dan ‘sumber’ dari namamu,menunjukkan air menjadi komponen alam penting bagi kehidupan wargamu.
Sembilan tuk yang limpahan airnya menjadi sembilan kalen,
menjadi musabab bagimu untuk dinamai ‘Kalisongo’,
menjadi sebab mengapa dusunmu disebut ‘Sumberrejo’.
Sembilan kalen menyatu tubuh membentuk batang air,
yang jadi pemasuk air siginifikan kepada Kali Metro.

Maka, berbanggalah wahai warga Kalisongo
desamu memiliki akar sejarah dan budaya lintas masa.
Tradisi budayamu memuat anasir nilai luhur.
Suatu tradisi-budaya yang adaptif-ekologis,
memiliki basis-religis, terbukti oleh adanya reruntuhann candi.
Oleh karenanya, anasir budaya lokalmu perlu dilestarikan,
direvitalisasikan, dan didayagunakan
bagi beragam keperluan, kini maupun mendatang.

‘Festival Kampung Cempluk’, yang kini memasuki saptawarsa
adalah bukti nyata komitmenmu lestarikan budaya lokal,
budaya Kampung Cempluk.

Sebagaimana nama kampungmu, semoga dapat menjadi suluh (pelita) bagi kampung lain
berada di garda depan berdayakan budaya Nusantara.
Viva Kampung Cempluk, sura diro jaya wijayanti.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA,

Sengkaling 23 September 2016

 


Like it? Share with your friends!