LITERASI SINGHASARI I


Pers Reliase pada Pers Conference, 27 Sept 2016

LITERASI SINGHASARI I
Menyibak Keberjayaan Kerajaan dan Budaya Singhasari

14494620_1120053888030924_8753387029864099966_n

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Litersi dan Budaya Literasi

Literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, bahkan terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang. Oleh karena itu terlebih dahulu perlu diuraikan apa sebenarnya makna dari istilah Literasi itu. Secara harafiah, literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Adapun budaya literasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu melakukan kebiasaan berfikir, yang diikuti oleh proses membaca dan menulis, yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam proses kegiatan tersebut menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca dan menulis tentulah memerlukan proses, utamanya jika dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut belum ada atau belum terbentuk.

Menurut ‘Kamus Online Merriam-Webster’, istilah ‘literasi’ berasal dari Bahasa Latin ‘literature’ yang dalam bahasa Inggris menjadi ‘letter’. Literasi adalah kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara, yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual, artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual, seperti adegan, video dan gambar. National Institute for Literacy mendefinisikan ‘literasi’ sebagai: kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan permasalahan pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat”. Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Terkandung makna bahwasa definisi literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi lebih dari sekedar kemampuan baca-tulis. melainkan kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan ketrampilan yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata, bahkan membaca dunia. Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata – khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, terlepas dari konteks dimana keterampilan itu diperoleh maupun dari siapa memperolehnya. Lebih jauh UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan berliterasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat.

Saat ini, Istilah Literasi digunakan dalam arti yang lebih luas, seperti literasi informasi, literasi komputer, literasi sains, termasuk pula literasi budaya, yang kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih daripada sekedar kemampuan baca-tulis. Hanya saja, memang pemahaman paling umum mengenai literasi yaitu kemampuan membaca dan menulis. Seseorang yang melek huruf atau bisa baca-tulis mampu memahami semua bentuk komunikasi. Implikasi dari kemampuan literasi yang dia miliki ialah pada pikirannya. Literasi melibatkan berbagai dasar-dasar kompleks mengenai bahasa. Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi jika telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas, maka cara yang digunakan untuk memperoleh literasi adalah melalui pendidikan.

Ada banyak cara untuk membentuk budaya literasi, diantaranya adalah: (1) pendekatan akses fasilitas baca (buku dan non buku), (2) kemudahan akses untuk mendapatkan bahan bacaan, (3) murah atau bahkan tanpa biaya (gratis), (4) menyenangkan dengan segala keramahan, dan (5) keberlanjutan. Sebenarnya upaya itu tidak cukup hanya dengan lima langkah itu, karena ada penjabaran yang lebih detail. Tak sekedar ketersediaan fasilitas saja, tapi ada cara bagaimana menjalin hubungan antar manusia sehingga hubungan tersebut akan mempengaruhi bagaimana suatu kelompok masyarakat bisa menerima dengan baik apa yang menjadi tujuan kita melakukan gerakan literasi.

B. Meliterasi Budaya Singhasari

Masa Singhasari (1222-1292 Masehi) masuk dalam ‘Periode Sejarah Nusantara’ Masa Hindu-Buddha. Dimasukkan dalam periode sejarah, karena periode sejarah ditandai oleh telah adanya sumber data tekstual untuk merekonstruksi sejarah. Pada masa ini telah didapat sumber informasi tekstual, baik yang berupa prasasti, susastra maupun catatan asing, yang dapat dijadikan sumber informasi mengenai kesejarahannya. Selain sumber data tekstual tersebut, ada juga sumber data artefaktual, ekofaktual maupun oral yang bisa digunakan sebagai sumber data pelengkap, pembanding atau pemerikasa akurasi data yang diperoleh dari sumber data tekstual. Pendek kata, tradisi literal telah berkembang pada Masa Singhasari.

Pada sisi lain, sejauh ini riset historis dan arkeologi mengenai Kerajaan Tumapel atau Singhasari masih belum memadai, kurang proporsional apabila dibandingkan dengan riset mengenai Kerajaan Majapahit, Mataram, Sriwijaya, dan Balidwipamandala. Menyadari itu, maka Siinghasari baik sebagai suatu lembaga pemerintahan (baca ‘kerajaan’) maupun budaya, yaitu Budaya Singhasari, dipandang perlu untuk diliterasikan. Lewat upaya ini diharapkan bakal terdapat banyak orang yang memiiki kemampuan untuk dapat membaca, menulis, berbicara dan memecahkan permasalahan yang berkenaan dengan Singhasari. Untuk itu perlu digunakan segenap potensi dan ketrampilan untuk bukan saja membaca teks mengenai Singhasari, namun lebih dari itu membaca Singhasari dengan konteks yang mendunia. Dikatakan ‘dalam konteks yang mendunia’, karena pada jamannya Singhasari bukan hanya berada dalam percaturan sejarah Jawa – lewat doktrin politiknya ‘Cakrawalamandala Jawa’, namun juga dalam percaturan sejarah Nusantara – lewat doktrin politiknya ‘Cakrawalamanada Nusantara’, maupun percaturan sejarah regional Asia. Hal itu dapat dilakukan apabila ditopang oleh penelitian akademik, dukungan dari institusi di tingkat lokal (daerah) maupun nasional.

Literasi Singhasari yang dihelat pada tahun ini (2016) diharapkan bukan yang pertama dan terakhir, dengan pertimbangan budaya literasi membutuhkan keberlanjutan (continuity). Oleh karena itu, Literasi Singhasari pada tahun ini tepat untuk disebut ‘Literasi Singhasari I’, yang pada tahun-tahun selanjutnya ditindaklanjuti dengan skala yang lebih luas, kajian yang lebih mendalam, dan lebih banyak melibatkan komponen masyarakat serta ragam media kegiatan. Perlunya menggunakan ragam media dalam literasi selaras dengan pengertian literasi yang tidak saja berkenaan dengan aspek baca-tulis, namun mencakup juga ‘melek visual’, artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual, seperti adegan, video dan gambar.

Sejalan dengan itu, pada Literasi Singhasari I ini kegiatan dikemas ke dalam beragam jenis kegiatan dengan menggunakan ragam bentuk media, yaitu: (1) Seminar Nasional Sejarah Singhasari di Hotel Solaris hari Jumat, tanggal 30 September (fullday, pukul 09.00-14,00 WIB) dan 1 Oktober 2016 (setengah hari, pukul 09.00-12,00 WIB), (2) Jelajah Situs Singhasari, yakni ‘Ajar-Pusaka Budaya’ di Candi Kidal dan Candi Jajaghu (Jago) Sabtu, 1 Oktober 2016, pukul 13.00-17.30 WIB, serta (3) Singhasari Performing Art di Candi Jago dengan tema ‘Kalangwan ri Jajaghu’ Sabtu malam, tanggal 1 0ktober 2016.

Selain itu, dengan menyadari bahwa kerajaan Singhasari menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Nusantara, maka pada tahun ini dijalin sister heritage (mitreka budaya) bertajuk ‘jalin kemitraan dua nagara Singha’, yaitu antara Singhasari dan Singaraja’, dengan menjejaringkan Pemkab Malang dan Buleleng dalam bidang seni-budaya dan pariwisata. Momentum ini diselanggarakan di Pendopo Kabupaten Malang, Kamis malam, tanggal 29 September 2016, bersamaan dengan acara Pembukaan Literasi Singhasari I.

Literasi Singhasari I difasilitasi oleh Pemkab Malang, dengan leading sector Disbudpar Kab. Malang. Kegiatan melibatkan Perguruan Tinggi (UM, UNDIKSA dan UI) dan para peduli budaya di Jawa Timur, Bali dan daerah-daerah lain di Jawa pada sesi Seminar Nasional, pelajar SMA/SMK di Kec. Tumpang, Pakis, Tajinan dan Poncokusumo serta para peduli-pecita buda-yang sebagai peserta Ajar Pusaka-Budaya, dan para pelaku seni di Kota dan Kabupaten Malang dalam acara Singhasari Performin Art. Jalinan pemerintahan melibatkan Pemkab Malang dan Pemkab Buleleng pada sesi ‘Mitreka Budaya’. Tergambar bahwa kegiatan ini melibatkan lintas pihak, yang berskala nasional.

C. P r o s p e k s i

Sebagai kegiatan di tahun pertama atau tahap rintisan, Literasi Singhasari I memliki sejumlah keterbatasan, yang pada perhelatan tindaklanjut di tahun-tahun mendatang bakal lebih ditingkatkan, baik dalam hal: (a) butir-butir telaah mengenai ‘multi-aspek Budaya Singhasari’, dengan lebih banyak lagi melibatkan para pakar yang berkompeten, (b) penulisan Buku Sejarah Singhasari, (c) menggunakan wahana dan memprodusi ragam media pembelajaran Sejarah dan Budaya Singhasari, (d) menjalin kemitraan-budaya (mitreka budaya) dengan daerah-daerah lain di Indonesia (seperti: Kab. Darmasraya di Sumbar, Kab. Kepatang di Kalbar, Kab. Kutai Kartanegara di Kaltim, dsb), dan negara-negara di Regional Asia (seperti: Malaysia, Thailand, Vietnam, Cina, India, dsb), yang pada masa lalu memiliki relasi politik, ekonomi dan budaya dengan Kerajaan Singhasari; serta (e) lebih banyak dan lebih luas lagi melibatkan masyarakat Malang Raya untuk berperan sebagai pelaku dalam Literasi Singhasari. Dengan cara demikian, maka ragam aspek mengenai Sejarah-Budaya Singhasari bakal tercerahkan, dan gaungnya kian ‘mendunia’.

Semoga kegiatan rintisan ini telah dapat membuahkan makna, dan lebih dari itu menjadi picu bagi dilakukannya kegiatan lanjut yang diharapkan akan lebih bermakna. Ada baiknya, kegiatan yang berkenaan dengan salah sebuah kerajaan terbesar di Nusantara ini (Sriwijaya, Mataram, Singhasari dan Majapahit) dijadikan agenda budaya Nasional, yang secara lokal melibatkan pemerintah daerah di Malang Raya. Yang utama adalah pengharapan bahwa ‘Literasi Singhasari I’ bukan seperti pepatah ‘sekali berarti setelah itu mati’, sehingga perlu dijadikan sebagai agenda tahunan yang kian lama kian bermakna.

Salam budaya ‘Singhasarijayati’.

PATEMBAYAN CITRALEKHA,
Sengkaling, 27 September 2016


Like it? Share with your friends!