KHASANAH BUDAYA SINGHASARI :
Jejak dan Rencana Kemasannya pada Museum Singhasari

01

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. DASAR PERTIMBANGAN

Mutiara kata bilang ‘macan mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading’. Adapun manusia – lebih luas lagi masyarakat – yang telah mati tinggalkan budayanya. Masyarakat yang pernah hidup pada Masa Singhasari (1222-1292 M) tentulah meninggalkan jejak produk budayanya, baik budaya bendawi (tangible) ataupun tak bendawi (intangible), yang sebagian sampai pada kita di masa sekarang. Itulah yang dimaksud dengan ‘khasanah budaya Singhasari’. Sebagai kerajaan besar di Nusantara, pendahulu dan sekaligus peletak dasar bagi Kemaharajaan Majapahit, sudah barang tentu Kemaharajaan Singhasari tak sedikit meninggalkan jejak budayanya, yang bukan saja kaya, namun sekaligus beragam bentuk dan fungsi serta penting bagi pemahaman terhadap dinamika kesejarahan Nusantara Lama.

Sayang sekali, dalam kondisi sekarang tidak semua peninggalan budaya dari masa Singhasari itu berada di situsnya (in situ). Sebaliknya, beberapa diantaranya – yang justru merupakan tinggalan utama – mengalami pemindahan lokasi (transformasi, taphonomy) – ke tempat lain, baik di dalam negeri ataupun ke luar negeri. Atau dengan perkataan lain, jejak budaya Singhasari ‘tercecer’ di banyak tempat. Malangraya yang nota bene adalah ‘historical state (pangung sejarah) utama’ dari Kemaharajaan Singhasari kini hanya menyimpan ‘jejak tersisa’ dari khasanah budayanya. Kondisi yang kurang menguntungkan tersebut menjadikan pemahaman khalayah tentang kompleksitas budaya Singhasari menjadi bersifat ‘parsial dan fragementaris’, dan bahkan mengesankan bahwa kerajaan ini ‘tidak seberapa agung’ apabila dibanding dengan kerajaan Mataram, Sriwijaya maupun Majapahit.

02Gagal faham itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang lewat wahana budayanya yang berupa ‘Museum Singhasari’ untuk dapat menjadikan adhikarana Singhasari (kemashuran Singhasari) sebagai ‘tema sentral’nya – sesuai dengan namanya. Ke depan Museum Singhasari bukan saja dijadikan sebagai: (a) gedung tempat penyajian benda benda koleksi budaya dari masa Singhasari, namun lebih daripada itu diposisikan sebagai (b) Lembaga Kajian Budaya Singhasari, dan sekaligus (c) Media Penjejaring Budaya Singhasari dengan lintas pihak. Disamping itu, (d) areal Museum Singhasari dan sekitarnya terbuka bagi ragam ekpresi seni-budaya yang berhubungan dengan budaya masa Singhasari maupun latar sejarah dan transformasi tradisi budayanya pada masa sekarang.

Dengan ragam fungsi yang demikian, maka Museum Singhasari bukan sekedar dimaknai sebagai ‘bangunan museum’, namun lebih dari itu menjadi ‘agen budaya’, baik untuk kepentingan eksplorasi, konservasi, preservasi dan fungsi-onalisasi budaya Singhasari berserta akar sejarah yang mendahului dan tradisi budaya yang menyertainya. Museum bukan hanya hadir sebagai tempat penyimpanan, wahana pelestarian dan pengkomunikasian benda-benda tinggalan budaya masa lampau (artefak), namun sama penting dengan itu adalah wadah bagi beragam kegiatan sosial-budaya yang selaras dengan visi-misi museum sebagai institisi budaya nirlaba yang konsisten dalam mengeksplorasikan, melestarikan, membina serta mengembangkan, dan selanjutnya mendayagunakan khasanan sosio-budaya setempat bagi beragam keperluan yang bermakna.

B. KONSEP DAN PRA-DESAIN

Bagaimana Museum Singhasari akan didesain? Hal itu tergantung pada konsep mana yang dijadikan ‘pembingkai (frame)’-nya. Sesuai dengan bidang ilmu yang relevan menanganinya, Museum Singhasari dikonsepsikan sebagai ‘Museum Arkeologi-Sejarah’. Oleh karena itu, benda koleksi, rekonstruksi maupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan bidang arkeologis yang bersifat artefaktual maupun bidang historis yang bersifat tekstual dan rekonstruktif serta koleksi virtual.

Kurun masa yang menjadi fokus dari Museum Singhasari – sesuai dengan namanya – adalah: (a) Masa Pemerintahan Kerajaan Singhasari (1222 – 1292 Masehi) berserta peristiwa yang mendahuluinya, yaitu: (b) transisi pada akhir pemerintahan kerajaan Kadiri hingga ber-dirinya kerajaan Tumapel (tahun 1180-an – 1222 Masehi); dan peristiwa yang mengikutinya, yaitu (c) transisi dari masa akhir Singhasari hingga berdirinya kerjaan Majapahit (1292-1293 Masehi). Era Singhasari didekati dengan: (1) pendekatan masa, yaitu lintas masa pemerintahan raja-raja Singhasari, dan (2) pendekatan aspek kehidupan, yaitu multi aspek dalam sosio-budaya Singhasari.

Oleh karena Era Singhasari dijadikan sebagai ‘fokus’, maka selain pada (a) posisi sebagai bangunan museum, yang menyajikan (displaying) benda-benda koleksi arkelogi-sejarah kerajaan Singhasari; Museum Singhasari diposisikan pula sebagai: (b) Lembaga Pengkajian Sejarah dan Budaya Singhasari, (c) Media Penjejaring (networking) Budaya Singhasari dengan lintas pihak, maupun (d) areal bagi ragam ekspresi seni-budaya masa Singhasari serta latar sejarah dan transformasi tradisi budayanya pada masa sekarang. Tinggalan-tinggalan budaya di Kabupaten Malang yang berasal dari Jaman Prasejarah, Masa Kanjuruhan, Mataram, Kadiri-Jenggala, Majapahit, Masa Perkembangan Islam hingga Masa Kolonial diposisikan sebagai peninggalan budaya penting dan disajikan sebagai benda-benda koleksi pelengkap.

03Berdasarkan konsep Museum Singhasari sebagaimana terpapar di atas, maka penataan museum mempertimbangkan: (a) konsep yang dicanangkan, dan penyesuaian terhadap (b) realiitas gedung museum yang telah terlanjur dibangun. Idealnya, suatu gedung museum dibuat menurut konsep dan desain yang ditetapkan lebih dulu, sehingga displai, prosesi dan kegiatan yang dilakukan di dalamnya menjadi berkesesuaian. Berdasarkan komponen-komponen bangunan yang ada, maka ruang displai utama yang menampilkan ‘Era Singhasari’ mengambil empat ruang – yang selanjutnya dinamai dengan : (1) Ruang Ken Angrok, (2) Ruang Anusapati, (3) Ruang Wisnuwarddhana, dan (4) Ruang Kretanegara.

Masing-masing ruang menggambarkan khasanah arkeologi-sejarah dari tiap masa pemerintahan tersebut. Selain itu, rekonstrusi historis Masa Singhasari dihadirkan dalam bentuk diorama, yang terdiri atas delapan ruang. Tiap ruang secara kronologis menggambarkan tentang momentum-momentum historis pada Masa Singhasari: (a) Palagan Ganter, Kemenangan Tumapel atas Kadiri, (b) Kutaraja, Kadatwan Perdana Tumapel, (c) Tragedi Kemangkatan Ken Angrok, (d) Kemangkatan Anusapati, Konflik Internal Tumapel, (e) ‘Dua Naga Satu Lobang’, Pemerintahan Bersama Wisnuwarddhana dan Narasinghamurti, (f) Cakrawalamandala Jawa, (g) Cakrawalamanadala Nusantara, serta (h) Keruntuhan Singhasari. Ruang tambahan lainnya untuk menguatkan sajian mengenai Era Singhasari adalah: (a) Ruang Audio-Visual, dan (b) Maket Kadatwan Singhasari, yang ditempatkan di Pendapa Museum.

C. BENDA KOLEKSI DAN PENYAJIANNYA

Dalam kondisi sekarang tidak semua peninggalan arkeologi dan historis yang berasal dari masa Singhasari berada di Kabupaten Malang. Sebagian daripadanya, yang nota bene adalah tinggalan yang utuh, bagus, unik dan penting justru kedapatan di daerah ataupun di negara lain sejak masa Kolonial dan pada dua dasawarsa lalu. Selain itu, tidak semua lais masa, khususnya pada Periode Awal Singhasari, menyisakan tinggalan artefaktual. Tidak jarang, meski terdapat uraian yang cukup panjang pada susastra Pararaton dan Negarakretagama, namun data di lapangan sedikit atau bahkan tak dijumpai lagi.

Untuk itulah diperlukan strategi untuk pengadaan benda-benda koleksi museum, yang bisa ditempuh dengan menggunakan beberapa upaya: (1) merelokasi BCB tertentu, yakni tinggalan artefaktual maupun tekstual, dari suatu situs atau tempat pengumpulan/penyimpanan BCB ke Museum Singhasari, (2) membuat benda duplikatif real size BCB terpilih, (3) membuat diorama yang merekonstruksi momentum-momentum historis Masa Singhasari, (4) membuat miniatur-rekonstruktif tinggalan arsitektural (candi) Masa Singhasari, (5) membuat maket rekonstruktif kadatwan Singhasari, dan (6) membuat karya audio-visual tentang peninggalan serta gambaran suatu peristiwa pada Masa Singhasari.

BCB tertentu yang direlokasikasi ke Museum Singhasari (upaya 1), benda duplikatif (upaya 2) dan miniatur-relonstruktif candi ditempatkan ke masing-masing ruang sajian utama, sesuai dengan lapis masanya, yaitu Masa Ken Angrok, Anusapati, Wisnuwarddhana dan Kretanegara. Benda koleksi museum merupakan tingggalan historis-arkeologis yang telah tak lagi in situ, telah berubah menjadi temuan lepas. Untuk memberikan pemahaman pengunjung museum mengenai konteks penemuan atau keberadaan asalnya, maka perlu untuk dilengkapi dengan keterangan tertulis singkat serta gambaran visual yang relevan. Sajian diorama, yang menggambarkan delapan momentum historis Masa Singhasari ditempatkan pada ruang diorama, yang ditata ke dalam ruang-ruang diorama menurut ‘urut masa (kronologis)’. Koleksi dan penayangan audio-visual ditempatkan/dilakukan di ruang audio-visual.

04Sedangkankan sajian yang berupa maket rekonstrukstif kadatwan Singhasari ditempatkan di Pendopo Museum. Benda-benda koleksi dari masa lainnya, baik sebelum atau sesudah masa Singhasari diupayakan hanya dengan menggukanan upaya pertama. Khusus untuk kepentingan pertema ini, ada baiknya Pemkab Malang melakukan reinventarisasi dan redokumentasi terhadap semua BCB yang ada di wilayahnya, sehingga bisa diidentifikasikan BCB mana yang patut dipertimbangkan untuk direlokasikan sebagai benda koleksi Museum Singhasari.

Pelengkap penting lainnya adalah panggung seni pertunjukan, Kendati hanya berupa ‘panggung mini’, namun keberadaannya menjadi penting, oleh sebab lewat seni-budaya yang dihelat di panggung ini maka khasanah budaya masa lampau yang mentradisi bakal dapat dikomunikasikan kepada khalayak luas. Kelengkapan lainnya yang penting untuk dihadirkan adalah perpustakaan khusus, yang di dalamnya memuat buku, laporan riset, dokumentasi fotografi-vidiografi dokumenter, kliping berita dalam bidang arkeologi, sejarah maupun etnografi yang secara langsung atau tidak langsung berkait dengan kesejarahan Singhasari. Dalam cakupan luas, perpustakaan ini meliputi juga ruang penayangan media visual, ruang diskusi, dan ruang pengolahan data hasil riset sejarah dan budaya masa Singhasari serta rentang masa lain yang memuat peristiwa sejarah baik yang mendahului atau yang mengikutinya (kesinambungan dan perubahan). Fungsi museum sebagai lembaga kajian, yang berfokus pada kajian sejarah dan budaya Singhasari beserta tradisinya diharapkan dapat ditopang oleh dua kelengkapan ini.

Demikianlah sumbang fikir yang saya kontribusikan kepada Museum Singhasari. Semoga dalam waktu tak berapa lama lagi, kondisi ‘melompong kosong’ museum yang telah hampir dua tahun dibangun ini tampil memadai dan bermanfaat bagi khalayak. Nuwun.

02 Agustus 2016


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.