Orasi Budaya
‘Genderang Purnama Ganesya’ Karangkates

MBAH JONOTO, SANG VICNESWARA

dsc05145

Oleh : M. Dwi Cahyono

Tegak berdiri siaga ‘samabhangga’
tepat di selatan jeram aliran Kali Lawor (Laor)
patung batu andesit, masterpice ikonografi Nusantara
dari masa keemasan kerajaan Singhasari (XIII Masehi).
‘Mbah Jonoto’, demikianlah warga menamainya.

‘Jonoto’ adalah akronim dari dua kata Sanskreta:
‘gaja (gajah)’ dan ‘nata (raja)’ ’–> sang Raja Gajah,
yang tiada lain adalah Dewata Ganesya (Gana+Isa),
bungsu pasangan Dewa Siwa (Isa) dan Dewi Uma.
Dipersonifikasi dalam bentuk antrophomorfis,
setengah wujud manusia, setengah pula binatang.
Berkepala dan bertepak kaki menyerupai gajah (gana),
bertubuh, bertangan dan berkaki selayaknya manusia.

Punden Karangketes, persemayaman dari Mbah Jonoto
adalah tempat tepat bagi Ganesya dalam fungsi khususnya
sebagai vicnesvara: penghalau bahaya, penghancur rintangan.
Dengan keberadaannya, diharapkan petaka pada jeram Kali Lawor
dan ulekan banyu di tempuran Lawor dengan Brantas bisa dihindarkan,
sehingga secara relegius-magis keselamatan dapat diupayakan.
Dalam fungsi ini, Dewa Ganesya adalah ‘Sang Penyelamat’.

Ganesya adalah juga perwujudan Sang Vidyadewa (Dewa Ilmu),
serupa makna dengan Dewi Saraswati dan Dewi Prajnaparamita.
Belalainya menjulur ke kiri, menuju ke mangkok berbentuk kepala,
simbol menyerap otak, atau mencurahkan ilmu ke batok kepala.
Lewat vidya (ilmu) yang dianugerahkannya, dunia dalam kecerahan,
yang secara simbolik digambarkan sebagai surya dan candra
pada sandaran arca (stella) berbentuk akulade, di kanan-kiri kepalanya
yang bermahkotan jathamakuta (sanggul rambu menyerupai mahkota).
Ganesya adalah pula Dewa Perang, wahanakan tikus (binatang perusak).
Sebutan ‘Ganapatya (Gana+pati+a)’ menggambarkan perannya sebagai
pemimpin (pati) para gana, yakni pasukan kedewataan dari Dewa Siwa.
Raja penari pulalah Sang Ganesya, lantaran putera dari Siwa sebagai Dewa Nataraja.

Laksana kedewataan Ganesya tergambar pada benda yang dipegang oleh
kedua tangan belakangnya, yakni aksamala (tasbih) dan parasu (kapak).
Ardhacahrakala (tengkorak diatas bulan sabit) di tengah-muka makuta-nya
sebagai petanda spesifik bahwasanya Ganesya adalah Siwaputra.
Sederet tengkorak pada singgasana (kapalasana)nya dan aksesorisnya
sebagai petunjuk bahwa Tantrayana Saiwa merupakan latar religisnya,
suatu sekte yang tumbuh subur pada masa pemerintahan Kretanegara.
Gambaran serupa dijumpai pada arca Ganesya Boro dari Jimbe-Blitar.

Bersama dengan Ganesya Boro dan Ganesya berdiri dari Semeru Selatan.
Ganesya berdiri Karangkates merupakan arca-arca terindah di Nusantara,
yang perlihatkan pengaruh kesenian Phala dari Jambudwiapa (India).
Penggambaran yang artistik, plastis, proporsional dan berpahatan detail
adalah spesifikasi ikonografi aliran kesenian Phala, yang juga berpengaruh
di Nusantara pada masa Mataram Era Sailendravamasa (abad VIII-IX M.)
Posisinya yang berdiri merupakan sedikit dari arca-arca Ganesya yang ada.
Tak berlebihan untuk menyatakan bahwa Ganesya berdiri di Karangkates
bukanlah Ganesya yang biasa, namun Ganesya yang unik dan luarbiasa
di antero Nusantara Lama, dan sarat akan kandungan makna.

Berbanggalah warga Karangkates yang berketempatan Mbah Jonoto.
Seni-arca langka dan penting, warisan budaya luhur Nusantara Lama.
Ikon budaya Malang, yang sayang Pemkab Malang kurang perhatian kepadanya.
Lestarikan keberadaannya, transformasikan kandungan maknanya.
“Aum … Ganesyanamah, santi-santi Om’.
Rahayu, ‘Nusantarajayati’.

Sengkaling, 16 September 2016.

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.