Prasasti dan Candi Sthirangga (Gunung Wukir)


Ajar Pusaka Budaya ‘Edisi Rantau” di Jateng

URGENSI PRASASTI DAN CANDI STHIRANGGA (GUNUNG WUKIR) :

Petanda Momentum Historis Dinamika Awal Kemaharajaan Mataram

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. P e n g a n t a r

02Sesiang pada hari Minggu, 9 Oktober 2016, seusai ‘BWF (Borobudur Writers and Festival V)’, sebagian dari pelaku BWF perpanjang eksplorasi budaya dengan menelisik jejak-jejak historis-arkeologis ‘Pra-Borobudur’ di sekitar Kab. Magelang. Seno Tempo, arkeolog Dwi Cahyono, Abdul Malik dan Yono Ndoyit (Malang), dengan dihantar oleh dua rekan Peduli Budaya Magelang (Nugroho dan Phom Phom) mengunjungi lima situs yang tak sepopuler Borobudur – Medut – Pawon, yaitu candi-candi kecil seperti: (1) Candi Gunung Wukir, (2) Candi Ngawen, (3) Candi Asu, (4) Candi Pendem, dan ‘lokasi boyong’ (5) Candi Lumbung, yang berjarak tidak terlampau jauh dari Borobudur. Sengaja Candi Gunung Wukir diawalkan dalam kunjungan ini, dengan pertimbangan : (a) situs Gunung Wukir berada di suatu puncak bukit kecil (300 m. DPL) pada Dusun Canggal Desa Kadiluwih Kec. Salam. Kab. Magelang, yang untuk menjangkaunya butuh energi lebih, sehingga tepat bila dilakukan pada pagi hari; (b) situs yang tertua – sekitar tahun 732 Masehi – jika dibanding dengan keempat situs lain yang dikunjungi; dan (c) merupakan petanda penting (momentum) mengenai dinamika awal Kerajaan Mataram.

03Bukan hanya melakukan pengamatan cermat terhadap reruntuhan candi, kami dan dua orang Juru Piara Candi terlibat diskusi cukup serius, mirip dengan ‘FGD (Fokus Group Discusion) informal’, mengenai ‘urgensi Prasasti Canggal (732 M,) dan Candi Wukir’ di dalam konteks kesejarahan Mataram. Mengingat urgensinya itu, maka sempat terfikirkan bahwa pada BWF mendatang (tahun 2017) kegiatan ‘ajar budaya’ dengan menjelajahi situs-situs sekitar Candi Borobudur, utamanya Candi Gunung Wukir, perlu dijadikan sebagian agenda kegiatan, yang bisa dipadu dengan pementasan seni di halaman candi (heritage performing art) dan di dalam sungai kecil berbatu yang berair jenih dan dinaungi oleh rimbun pepohonan di kaki Gunung Wukir. Berikut paparan ringkas tentang Prasasti Canggal, Candi Gunung Wukir serta paleo-ekologis dan situs-situs lain di sekitarnya.

B. Informasi Historis ‘Periode Awal Malatam’ dalam Prasasti Canggal

  1. Penemuan dan Sejarah Studi Prasasti Canggal

04Penemuan prasasti batu (linggoprasasti) Canggal atau Prasasti Gunung Wukir terjadi relatif bersamaan waktu dengan penemuan reruntuhan suatu candi di puncak Gunung Wukir pada tahun 1879. Ketika ditemukan, prasasti ini dalam kondisi pecah dua bagian. Pecahan bagian atas yang lebih besar ukurannya didapati di Dusun Canggal pada kaki Gunung Wukir. Lantas diketemukan pecahan bagian bawah prasasti, yang ukurannya lebih kecil, di sekitar reruntuan candi pada puncak Gunung Wukir. Besar kemungkinan bahwa lokasi asal prasasti di halaman candi Gunung Wukir. Oleh karena pecahan prasasti yang lebih besar dan lebih awal dijumpai berada di Dusun Canggal, maka prasasti ini lazim disebut ‘Prasasti Canggal’, atau terkadang dinamai ‘Prasasti Gunung Wukir’.

Berita mengenai penemuan prasasti in kali pertama dilansir tanggal 10 Maret 1884 dalam sesi pertemuan anggota kelompok ilmiah ‘Royal Academy’ di Amsterdam Negeri Belanda. Berkat Publikasi tersebut sontak mengundang perhatian tidak sedikit epigraf untuk mentransliterasi, mentranslasi dan menelaah kandungan informasi darinya. Diantaranyanya adalah H. Kern, dalam tulisannya bertajuk ‘De Sanskrit-inscriptie van Canggal (Kedu) uit 654 Caka’, VG, VII, 1917, hal. 115-128. Pembacaan ulang dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia dikerjakan oleh R.M. Ng. Poerbatjaka dalam bukunya berjudul ‘Riwajat Indonesia I’, 1952, hal.50-60, B.Ch. Chabra (1934:34-37(, J.G. de Casparis (1956), dsb.

Pokok isi Prasasti Canggal ini dijadikan sebagai bahan informasi penting dalam melakukan historiografi Jawa Kuno, antara lain oleh N.J. Krom di dalam bukunya ‘Hindoe-Javaansche Geschedenis’, 1931 maupun ‘buku babon’ ‘Sejarah Nasional Indonesia (SNI)’, jilid II, 1979 serta edisi-berikutnya untuk bagian ‘Kerajaan Mataram Kuno’. Informasi di dalam prasasti Canggal ini pulalah yang menjadi inspirasi bagi munculnya teori yang hingga sekitar satu abad lamanya nyaris establish, yaitu teori “Dua Dinasti di Kerajaan Mataram’, yaitu: (1) Dinsti Sanjaya (Sajayavasa), dan (2) Dinasti Sailendra (Sailendravamsa), yang antara lain dilansir N,J. Krom (1931), R.C. Majumdar (1933), G. Coedes (1934), J. Przyluski (1935), K.A. Nilakanta Sastri (1935), F.H. van Naerssen (1947), J.G. de Casparis (1950 dan 1956), F.D.K. Bosch (1958), dan banyak lagi – sebelum adanya teori ‘Satu Dinasti di Kerajaan Mataram, yaitu Dinasti Sailendra’, yang dilansir oleh R.M. Ng. Poerbatjaraka (1956) serta diperkuat oleh Boechari (1966) dan paparan di dalam buku ‘SNI’ jilid II.

  1. Kategorisasi, Struktur, Bahasa dan Aksara Prasasti Caggal

05Ditilik dari banyaknya baris-baris kalimat, Prasasti Canggal yang hanya terdiri atas 25 baris yang dikelompokkan ke dalam 12 bait (klausa), maka prasasti ini bukan tergolong sebagai ‘prasasti panjang’, tapi bukan pula merupakan ‘prasasti pendek’, sehingga tepat bila dibilang sebagai ‘prasasti sedang (midle inscription)’. Kendatipun demikian, struktur isi prasasti ini dalam beberapa hal menyerupai ‘prasasti lengkap’, yang umumnya mempunyai bagian yang membicarakan tentang: (a) tarilh penulisan, (b) puji-pujian terhadap dewata, (c) raja yang memerintahakan untuk menuliskan prasasti serta raja pendahulunya, dan (d) peristiwa penting yang diberitakannya. Prasasti Canggal (732 Masehi) yang kini menjadi salah satu koleksi epigrafis di Museum Nasional Jakarta ini pokok isinya memberitakan tentang pembangunan candi dan perangkat upacaranya, yaitu pendirian Lingga di puncak bukit Sthirangga. Hal ini menyerupai pokok isi Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi), yang memberitakan tentang penggantian arca Agastya dari kayu cendana dengan arca serupa dari batu hitam (andesit), pendirian bangunan candi, serta asrama bagi para brahmana dan peziarah.

Kendati prasasti Canggal masuk dalam kategori ‘sedang’, namun telah memuat sejumlah komponen pokok dari ‘prasasti lengkap’, antara lain komponen yang membicarakan tentang tarikh, pujian kepada dewata, raja yang memerintahkan mengeluarkan prasasti dan peritiwa penting yang diberitakan. Selain itu, bila dibanding dengan prasasti tertua di Nusantara lainnya, seperti prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai, prasasti dari kerajaan Tarumanagara, Prasasti dari periode awal kerajaan Sriwijaya maupun prasasti Tuk Mas — yang adalah ‘prasasti kategori pendek (short inscription)’ dan dipahatkan pada sebongkah batu yang tidak dibentuk dalam bentuk tertentu, tergambar bahwa Prasasti Canggal tergolong ‘prasasti sedang (sort inscription)’ yang deret aksaranya dipahat satu muka (ekamukha) sisi depan (recto) pada lepeng batu yang dibentuk dengan ditarah dan ujung atasnya berbentuk akulade, seperti pada kebanyakan ‘prasasti panjang’ dari masa yang lebih kemudian. Oleh kerenanya, Prasasti Canggal dapat dikatakan sebagai embrio dari prasasti sedang dan lengkap.

Sebagaimana halnya prasasti dari kerajaan-kerajaan tertua, yaitu prasasti Kerajaan Kutai, Sriwijaya dan, Tarumanagara maupun Prasasti Tuk Mas, Prasasti Canggal juga menggunakan aksara Pallawa. Demikian pula, seperti halnya prasasti Yupa, prasasti dari Tarumanagara, Prasasti Kanjuruhan maupun Prasasti Tuk Mas, Prasasti Canggal juga berbahasa Sanskreta. Menilik bahasanya, boleh dibilang bahwa dialek yang digunakan menurut para ahli dirasa “kurang elegan” bila digunakan pada dokumen kerajaan. Dalam studi komparasi epigrafi disebutkan bahwa bahasa, aksara maupun isi Prasasti Canggal secara umum mempunyai kemiripan dengan Prasasti Han Chei di Kamboja, yang berasal dari medio abad 7 M. Fakta ini menguatkan pendapat para ahli bahwa kedua prasasti itu memang berasal dari periode yang relatif sejaman.

Sebenarnya, Prasasti Canggal bukanlah prasasti terkait dengan kerajaan Mataram yang tertua. Terdapat beberapa prasasti, baik yang berkenaan langsung dengan kerajaan Mataram atau tak langsung bisa dihubungkan dengan Mataram, yang tarikhnya lebih tua dari Prasasti Canggal, antara lain: (1) Prasasti Sojomerto – berasal dari medio abad VII Masehi (SNI, II, 2010:118), dan (2) Prasasti Tuk Mas – menurut analisis paleografis dari N.J. Ktom (1931) dan diperkuat oleh J.G. de Casparis (1975) juga berasal dari medio abad VII Masehi. Selain itu, terdapat berita China tahun 640 dari jaman Dinasti Tang dalam dua versi, yaitu Ch’iu-T’ang shu dan Hsin T’ang shu (618-906 Masehi) berkenanan dengan Kerajaan Ho-Ling, yang terletak di She-p’o (translir Cina untuk ‘Jawa’). Kendati demikian, prasasti ini menempati posisi penting pada periode awal Mataram karena dua hal, yaitu: (a) prasasti bertarikh lengkap yang terawal, yaitu tahun Caka – dalam bentuk candrasangkala lombo ‘cruti – indriya – rasa (645)’, hari Senin, tanggal 13 ‘paro terang’ bulan Krtika (6 Oktober 732), (b) menyebut nama-nama raja, yaitu Sanna dan Sajaya, (c) memberitakan kehidupan keagamaan sejaman, yakni Hindu, lebih khusus lagi Hindu sekte Saiwa, beserta puji-pujian terhadap Dewa Siwa, Brahma dan Wisnu, (d) pembuatan bangunan suci di suatu tempat beserta perangkat ritus keagamaannya.

  1. Pokok Isi Prasasti Canggal

06Prasasti Canggal merupakan sumber data yang terbilang ‘cukup lengkap’ untuk memperoleh gambaran mengenai periode awal Kerajaan Mataram pasca pemerintahan raja yang disebut ‘Dapunta Selendra’ dalam prasasti Sojomerto dan raja Sana yang selain diberitakan di dalam prasasti Canggal juga dikisahkan dalam Carita Parahyangan. Tergambar dalam keterangan Prasasti Canggal (klausa 10-11) tentang ‘reintegrasi Kerajaan Mataram’ yang dilakukan oleh Sanjaya pasca mangkatnya ‘Sang Paman’, yaitu Raja Sanna. Tatkala pemerintahan Sanjaya itulah Kerajaan Mataram menapaki kebesarannya.

Bait (klausa) ke-8 dan ke-9 menginformasikan tentang masa pemerintahan Raja Sanna, yang diibaratkan seperti ‘bulan’. Sanna yang memerintah dengan lemah lembut, bagaikan seorang ayah yang mengasuh anaknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang, dan dengan demikian menjadi termasyhur dimana-mana. Pada pemerintahannya Sanna berhasil menaklukkan raja-raja di sekelilingnya, mampu memerintah dalam waktu yang lama dengan menjunjung tinggi keadilan bagai Manu. Ketika Raja Sanna mangkat, yang diistilahi dengan ‘pulang ke Swarga’ menikmati jasa-jasanya yang amat banyak, maka terjadi perubahan drastis. Prasasti Canggal mengibartkan dengan kalimat ‘dunia ini terpecah dan kebinggungan karena sedih kehilangan perlindungan’.
Tergambar bahwa pada masa pemerintahan Raja Sanna, kerajaan berhasil diperluas dengan melakukan ekspansi kekuasaan lewat penaklukan tehadap kerajaan-kerajaan yang berada di sekelilingnya.

Dengan demikian, kala itu (awal abad VIII Masehi) telah terdapat sejumlah kerajaan di Jawa, yang bukan tidak mungkin salah sebuah diantaranya adalah kerajaan Ho-ling – acap ditranslasikan sebagai ‘Kalinga’ atau ‘Kalingga’. Sanna diberitakan berhasil mengintegrasikan sejumlah kerajaan sekitar di bawah ‘payung’ kerajaannya. Sayang sekali tidak diperoleh informasi mengenai nama kerajaan dan lokasi ibukota kerajaan (kadatwan) yang diperintahnya. Namun demikian, apabila membandingkan dengan sumber data lain yang lebih tua dan sesudahnya, diperoleh gambaran bahwa kerajaan yang diperintahnya adalah apa yang nantinya dikenal dengan nama “Mataram’. Boleh jadi, pusat pemerintahan (kadatwan) masih berada di sekitar Temanggung-Wonosobo, yang menjadi ‘lokasi awal dari kadatwan Mataram’. Ketika Sanna mangkat, maka terjadilah ‘disintegrasi’, yang diibaratkan dengan ‘dunia ini terpecah, ……… kehilangan pelindungnya’. Oleh karena itu, tugas pertama dan utama dari Sanjaya – sebagai raja pengganti Sanna – adalah melalukan ‘reintegrasi’.

Gambaran tentang Sanjaya didapati pada bait ke-10 hingga ke-12. Diberitakan oleh Prasasti Canggal bahwa yang berbangkit menggantikan Sanna menjadi raja adalah Sanjaya. Seseorang yang warna kulitnya dilukiskan sebagai ‘berkilau-kilauan seperti emas’, luhur bagai api yang berkobar-kobar, mempunyai lengan yang kuat seperti perbukitan yang turun (melereng) dari puncak gunung utama, yang mengangkat kepalanya bagaikan Meru (Himalaya) yang menjulang tinggi. Seorang raja yang gagah berani bagai Sri Rama (Raghu), berhasil taklukkan kerajaan-kerajaan di sekelilingnya, masyhur dimana-mana, berhasil ‘meletakkan kakinya jauh di atas kepala raja-raja lain’. Sanjaya digambarkan sebagai ‘matahari’, yang ketika pemerintahannya dunia ini diibaratkan ‘berikatpinggangkan samudra dan berdada gunung-gunung’. Raja Sanna dihormati oleh sekalian para bijaksana, lantaran pengetahuannya akan kitab-kitab yang pelik kandungan maknanya (castra-suksmarthavedi). Semasa pemerintahannya kehidupan kerajaan aman terlindung, sehingga diibaratkan ‘rakyat bisa tidur di tepi jalan tanpa merasa takut akan penyamun dan bahaya lain. Dewi Kali hanya dapat menangis karena tidak dapat berbuat apa-apa’.

Hubungan antara Sanjaya dan Sanna disebutkan dalam baris terakhir dari bait ke-11, bahwa Sanjaya adalah putera dari Sannaha. Adapun Sannaha adalah kakak perempuan dari raja Sanna. Dengan demikian, Sanjaya merupakan keponakan dari raja Sanna. Baik Sanjaya — termasuk juga ibunya, yakni Sannaha, pamannya yakni ‘Sanna’, adalah para keturunan dari Dapunta Selendra, yang menurut keterangan Prasasti Sojomerto cikalbakal (vamsakreta)-nya itu (Dapunta Selendra) adalah penganut agama Hindu. Perubahan agama di lingkungan penguasa Mataram baru terjadi pasca Sanjaya, yaitu pada masa pemerintahan anaknya yang bernama Rakai Panangkaran.

Sayang sekali tak diperoleh keterangan dalam Prasasti Canggal mengenai ‘mengapa raja Sanna tidak digantikan oleh putera kandungnya yang diposisikan sebagai putra mahkota?”. Apakah Sanna tidak berputra, ataulah mungkin putranya itu turut tewas dalam peperangan pada akhir masa pemerintahannya, atau mungkinkah terjadi peristiwa ‘perebutan kekuasaan (kudeta)’ yang dilakukan oleh Sanjaya terhadap pamannya sendiri (Sanna). Tafsir mengenai kudeta oleh Sanjaya terhadap Sanna agaknya sukar diterima, mengingat dalam prasastinya, yaitu Prasasti Canggal, Sanjaya justru melukiskan Sanna sebagai raja ‘ideal’. Kalaupun terjadi kudeta, bisa jadi dilakukan oleh pihak lain, kemungkinan oleh koalisi sejumlah raja bawahan, yang berhasil menewaskan raja Sanna dan mungkin juga putra mahkotanya. Oleh karena itu, tugas pertama dan utama Sanjaya adalah melakukan ‘reintegrasi; dan berhasil diperolehnya dengan menaklukkan ulang kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Dalam posisi demikian, Prasasti Canggal melukiskan Raja Sanjaya berhasil menempatkan ‘kakinya di atas kepala raja-raja lain’, diidentikkkan dengan Sang Raghu, raja yang gagah berani, termasyhur, bijaksana, dihormati, bahkan berhasil memposisikan diri sebagai pelindung bagi rakyatnya, Apabila Raja Sanna diibaratkan sebagai ‘Bulan, maka Raja Sanjaya diibaratkan dengan ‘Matahari’. Hal ini mengingatkan kepada raja Aswawarman di kerajaan Kutai, yang dalam Prasasti Yupa juga ibaratkan dengan ‘Sag Ansuman (Matahari)’.

Disintegrasi yang berlangsung pada masa akhir pemerintahan Raja Sanna dan keberhasilan Raja Sanjaya melakukan reintegrasi ada kemungkinan disertai dengan ‘relokasi kadatwan Mataram’, dari semula di daerah Temanggung-Wonosobo ke daerah Magelang, tak jauh dari Gunung Wukir. Kadatwan semasa Sanna mengalami kehancuran ketika disintegrasi itu, yang boleh jadi bersamaan waktu dengan terjadinya peristiwa vulkanik hebat dari Gunung Sumbing (Sumwing). Oleh karena itu, Sanjaya memandang perlu untuk membangun kadatwan baru di sekitar Gunung Wukir, yang dilengkapi dengan ‘Lingga Kerajaan’ sebagai pusat kekuatan magis dari kerajaan Mataran.

Apabila tafsir sejarah itu, perihal ini diberitakan di dalam Prasasti Canggal, yaitu ‘perintah Raja Sanjaya untuk mendirikan Lingga di puncak bukit Sthirangga’, yakni setelah Raja Sanjaya berhasil membangun kembali kerajaan serta bertahta dengan aman tentram pasca menaklukkan musuh-musuhnya, Lokasi padamana Lingga Kerajaan didirikan sangatlah mungkin kini adalah di areal Candi Gunung Wukir, yang berada di puncak bukit yang konon bernama ‘Sthirangga’. Tarikh kembalinya Sanjaya di atas tahta Mataram terjadi tahun 717 Masehi, atau 15 tahun sebelum dituliskannya Prasasti Canggal. Tarikh 717 Masehi tersebut dihitung berdasarkan ‘tarikh Sanjaya (Sajayawarsa)’ yang dilakukan oleh L.C. Damain (1951) dari tiga prasasti Raja Daksa, yaitu: (1) Prasasti Taji Gunung yang bertarikh Sanjaya 194 (910 Masehi), (2) Prasasti Timbanan Wungkal bertarikh Sanjaya 196 (913 Masehi), Sebuah lainnya ditemukan lebih kemudian, yaitu (3) Prasasti Tihang yang bertarikh Sanjaya 198 (914 Masehi).

Masa pemerintahan Sanjaya adalah salah satu momentum dalam kesejarahan Mataram. Dikatakan demikian karena pada masa pemerintahannya kerajaan ini memiliki sosok intitusi kenegaraan yang lebih terang bila dibandingkan dengan masa pemerintahan beberapa Mataram sebelumnya, antara lain memiliki kadatwan dikonstruksi dan dikukuhkan secara religis-magis; mempunyai birokrasi pemerintahan yang lebih tertata; religi Hindu sekte Saiwa yang dilengkapi dengan tempat peribadatan (candi), pantheon kedewataan, dogma serta mitologi sebagaimana terdapat di India (Jambudwipa), dan kekuatan militer yang tangguh. Dengan demikian cukup alasan untuk menyatakan bahwa Sanjaya adalah seorang reformator di Kerajaan Mataram sekaligus peletak dasar (fondasi kokoh) bagi perkembangan kerajaan Mataram pada masa pemerintahan raja-raja selanjutnya. Bahkan dalam Prasasti Mantyasih (907 M), Sanjaya diposisikan sebagai titik pangkal (vamsakara, vamsakreta) dari raja-raja mataram hingga Balitung. Demikian pula, tahun 717 Masehi, yang diprakirakan sebagai moment waktu penobatan Sanjaya dijadikan sebagai pangkal bagi perhitungan tahun (tarikh, warsa), yang dinamai ‘Tahun Sajaya (Sanjayawarsa), sebagaimana tergambar dalam prasasti-prsasti raja Daksa.

C. Informasi Historis-Arkeologis Candi Sthirangga (Gunung Wukir)

  1. Toponimi Arkhais dan Letak Candi

Secara harafiah, kata ‘wukir’ berarti: gunung. Dengan demikian, toponimi ‘Gunung Wukir’ merupakan kata ulang bersinonim arti, yang menunjuk kepada ‘Gunung X’. Tergambar dalam hal ini bahwa warga sekitar tidak tahu atau telah melupakan nama kuno dari gunung (bukit) di daerahnya. Namun bila menilik teks Prasasti Canggal bait ke-1, diperoleh informasi bahwa nama kuno (toponimi arkhais) dari gunung ini adalah ‘Sthirangga’. Berdasar nama tersebut, maka reruntuhan candi yang berada di puncaknya tepat untuk dinamai ‘Candi Sthirangga’.

07Kata ‘sthi’ yang mempunyai padan kata dengan ‘stha (berdiri) dalam perkataan ‘sthirangga’ membayangkan sesuatu yang didirikan – menurut keterangan dalam prasasti tersebut adalah Lingga, yang didirikan di atas bukit atas perintah raja (rangga) ‘Sanjaya’. Dengan demikian, perkataan ‘sthirangga’ mengabadikan peristiwa religio-magis untuk mengukuhan kadatwan Mataram, yaitu mendirikan ‘Lingga Kerajaan’ di bukit Sthirangga. Oleh karena warga sekitar tidak lagi mengenal nama kuno dari bukit dan desanya, maka ketika dua pecahan prasasti batu bertarikh 732 Masehi ditemukan di Dusun Canggal dan pada puncak Gunung Wukir, maka prasasti itu diberi nama sesuai nama dusun dan bukit padamana diketemukan, yaitu Prasasti Canggal atau Prasasti Gunung Wukir. Demikian pula, reruntuhan candi pada puncak bukit itu dinamai ‘Candi Gunung Wukir’.

08Dusun Canggal adalah salah satu diantara lima dusun (dukuh) di Desa Kadiluwih Kec. Salam Kab. Magelang, pada di lereng barat Gunung Merapi, pada sebelah timur laut Kec. Muntilan. Nama ‘Kadiluwih’ adalah nama baru. Toponimi arkhaisnya sesuai dengan keterangan dalam Prasasti Canggal bait ke-adalah ‘Kunjarakunjadesa’. Disebutkan lebih lanjut dalam prasasti ini bahwa warga Desa Kunjarakunja berjasa dalam mendirikan bangunan suci bagi pemujaan terhadap Dewa Siwa. Candi ini digambarkan sebagai berada di suatu bukit, yang diibaratkan seperti ‘Gunung Meru’, padamana Sungai Gangga bermata air (tuk). Bukit dimaksud sangat boleh jadi adalah Gunung Wukir. Adapun sungai itu adalah sebuah kali yang mengalir di kaki bukit. Jika benar demikian, bangunan suci (candi) bagi Dewa Siwa itu adalah Candi Gunung Wukir, yang menilik tinggalan ikonografisnya jelas merupakan candi Hindu sekte Saiwa.

Letak astronomis Gunung Wukir adalah 7,634° LS, 110,296° BT yang menilik letaknya berada di Pulau Jawa. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Prasasti Canggal bait ke-7 mengenai gambaran terhadap Dwipa Jawa: Tersebutlah sebuah pulau yang indah bernama Yava (Java) // yang tak tertandingi oleh yang lain,// yang memiliki biji-bijian berlimpah seperti padi dan lainnya,// yang terdapat tambang emas yang dimiliki oleh para dewa,// adalah merupakan tempat yang paling indah dan menawan,// Kuil Siva yang mensejahterakan dunia,// yang didirikan oleh sebuah keluarga, // yang berasal dari tanah termahsyur Kunjarakunja.

Bait ke-8 menyebutkan ”Di pulau mahsyur bernama Yava tersebut,// yang kemudian menjadi (rumah) bagi seorang lelaki dengan karakter kuat,//Yang Utama dari seorang Raja, dilahirkan dengan nama Sanna……… “.

Keterangan ini menegaskan bahwa Jawa merupakan pulau yang indah-menawan, subur-makmur, dengan penghasilan utama padi-padian (gandum) dan tambang emas. Pada pulau inilah terdapat Kuil Siwa, yang didirikan oleh sebuah keluarga yang berasal dari tanah masyhur bernama ‘Kunjarakunja’. Kalimat terakhir ini membayangkan bahwa kadatwan padamana raja Sanjaya memerintah berada di Kunjarakunja, yang adalah toponimi arkhalis dari desa-desa di sekitar Gunung Wukir (Sthirangga).

  1. Latar Keagamaan Candi GunungWukir (Sthirangga)

Bait ke-7 Prasasti Canggal menyuratkan bahwa bangunan suci atau candi yang didirikan oleh keluarga yang berasal dari tanah Kunjarakunja tersebut adalah ‘Kuil Siwa’ yang amat indah, yang dikeliling oleh sungai-sungai yang suci, antara lain Sungai Gangga. Bangunan suci ini terletak di wilayah Kunjarakunja. Apabila benar bahwa candi yang dimaksud tersebut adalah Candi Gunung Wukir, maka latar keagamaannya tentulah Hindu sekte Saiwa. Hal ini sesuai dengan keterangan yang terkandung di dalam bait ke-2 hingga ke-6, yang meski berisi puji-pujian yang ditujukan kepada Trimurti (Siwa, Brahma, dan Wisnu), namun tiga diantara lima bait itu merupakan puji-pujian yang ditujukan kepada Dewa Siwa – puji-pujian bagi Brahma dan Wisnu masing-masing hanya satu bait.

Dalam himne ini, tiga kali dalam masing-masing bait Siwa dinyatakan sebagai ‘Yang Bermata Tiga (Trinayana)’. Siwa mempunyai petanda (perhiasan) di sanggul rambutnya sisi depan berbentuk bulan sabit (ardhacandra), kalung (hara) berbentuk ular (bait ke-2). Kukunya berkilau menyerupai kelopak bunga teratai dan daun berwarna tembaga (bait ke-3). Laksana demikian dalam ikonografi dapat diperiksa pada arca Siwa Mahadewa. Dalam bait ke-2 Siwa diibaratkan sebagai ‘matahari bagi dunia yang kelam’, atau ‘Sang Pencerah’. Dewa Siwa diagungkan oleh para penguasa bijak. Mereka menunduk memberi penghormatan demi keselamatan dirinya. Dewa Siwa diyakini oleh para bhakta-nya sebagai penguasa para makhluk, sumber segala keluhuran dan keindahan, maupun pemberi kebesaran bagi mereka yang melakukan ‘pengunduran diri (para Yogi)’.

09Disamping itu, Siwa dinyatakan sebagai ‘memelihara dunia melalui delapan lekuk tubuhnya, Belas kasihan-Nya dan kepedulian-Nya melindungi kita (bait ke-4). Data yang tak terbantahkan bahwa bangunan suci ini berlatarkan Hindu-Saiwa adalah keterangan pada bait ke-, yang menyebut tentang ‘perintah raja Sanjaya untuk mendirikan Lingga di atas bukit Sthirangga. Keterangan epigrafis ini sesuai pula dengan data ikonografis, yang berupa: (1) Yoni dalam bilik utama (garbadrha) candi induk – sayang Lingga yang seharusnya menancap di lobang Yoni telah hilang, dan (2) arca Nandi – wahana Dewa Siwa – dalam bilik candi perwara di bagian tengah.

Semestinya, apabila lengkap, pada relung-relung candi induk semula terdapat arca-arca keluaga Siwa, seperti arca Durgamahisasuramardini di relung sisi utara, Ganesya di relung sisi belakang, Agastya di relung sisi selatan, serta Siwa-Mahakala dan Nandiswara di dua relung sisi depan. Arca-arca ini juga telah raib atau mungkin belum diketemukan. Jelas bahwa secara ikonografis Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu-Siwa, yang memiliki pola ikonografis baku pada masing-masing relung atau biliknya. Garbagrha (bilik utama) tak ditempatkan arca Siwa Mahadewa, namun ‘digantikan’ dengan Lingga-Yoni. Kiranya Lingga tersebutlah yang diberitakan pada bait ke-1 Prasasti Canggal. Pola ikonografinya itu memberi petunjuk bahwa sejauh ini Candi Gunung Wukir adalah candi tertua yang memiliki pola baku ikonografi Hindu-Siwa di Jawa, bahkan di antero Nusantara.

Keterangan dalam Prasasti Canggal mengenai pendirian Lingga diatas bukit Sthirangga dapat dijadikan petunjuk mengenai ‘kultus terhadap Lingga (Lingga Cult atau Linggapuja)’. Hal ini dapat dibandingkan dengan Candi Badut yang relatif sejaman (medio abad ke-7, sekitar tahun 760 Masehi), yang di dalam garbhagrha-nya masih terdapat Lingga berukuran besar. Selain itu, Prasasti Kanjuruhan atau Dinoyo I yang menjadi sumber epigrfis dari Candi Badut juga menyiratkan informasi tentang Linggapuja lewat perkataan ‘api Putikeswara’, yang menurut F.D.K. Bosch (TBG, LXIV, 1924:29-35) menunjuk pada sinar (prabha) Dewa Siwa yang berada di balik Lingga. Linggapuja juga didapati indikasinya pada Candi Sambisari, yang juga memiliki Lingga-Yoni dalam garbhagrha candi induk. Lingga itu bisa diinterpretasikan sebagai ‘Lingga Kerajaan (Lingga-heilingdom)’, yang dikonsepsikan sebagai pusat kekuatan magis bagi Kerajaan Mataram. Suatu konsepsi religis yang mengingatkan kita kepada Lingga Kerajaan pada sejumlah kerajaan di Indo-Cina (Geldern, 1972).

Selain itu, Prasasti Canggal mengindikasikan tentang pemujaan kepada Maharsi Agastya, sebagaimana tampak pada nama ‘Kunjarakunja’. Dalam epik Ramayana dikisahkan kunjungan Rama, Sita dan Laksmana ke pertapaan Agastya di Gunung Kunjara. Perihal ini bisa juga dibandingkan dengan keterangan dalam Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi), yang antara lain memberitakan tentang penggantian arca Agastya dari bahan kayu cendana yang telah rusak dengan arca serupa dari bahan batu hitam (andesit).

  1. Deskripsi dan Pola Arsitektural Candi Gunung Wukir

10Ketika ditemukan pada tahun 1879 hingga keberadaannya sekarang, kompleks Candi Gunung Wukir pada halaman tergali seluas 50 x 50 m dalam kondisi tidak utuh. Komponen arsitektur candi induk tinggal berupa batur candi (saubasment) yang pendek dan kaki candi (basement). Tangga candi yang berada di sisi timur pun tidak utuh. Tubuh candi, atap dan kemuncaknya malahan tidak dijumpai. Kendati demikian, menilik adanya relief kepala kala (tanpa rahang bawah), dorpel (ambang pintu), sejumlah menara sudut dan antefix yang berhasil ditemukan, tidak diragukan bahwa candi ini semula memiliki komponen arsitektur lengkap sebagaimana lazimnya percandian berlanggam Jawa Tengahan yang berkesan bentuk tambun.

11Pada bilik utama candi induk semula ditempatkan Lingga-Yoni, dan yang kini tertinggal hanyalah Yoni besar dengan penyangga cerat berbentuk naga. Kendati relung-relung candi di sisi utara, barat, selatan dan sepasang di sisi depan tidak dijumpai lagi, namun besar – sebagaimana lazimnya percandian yang berlatar agama Hindu-Saiwa – ada kemungkinan semula memiliki relung-relung tersebut, Ukuran candi induk terbilang cukup besar, dengan panjang sisi-sisi batur candi induk sekitar 10 X 10 meter. Bahan pembentuk komponen-komponen arsitekturalnya adalah balok-balok batu kali (andesit), dengan atau tanpa ragam hias dan pelipit (persegi, bulat, dan sisi genta). Selain bahan batu andesit, didapati juga bata-bata kuno sebagai material isian candi.

12Di depan atau berhadapan dengan candi induk terdapat sederet – terdiri atas tiga buah candi perwara yang terpisah satu sama lain dengan ukuran lebih kecil (panjang batur candi sekitar 3 X 3 meter) daripada candi induk. Arsitektur candi juga dibentuk dari balok-balok batu andesit dengan atau tanpa ragam hias dan pelipit. Dua diantaranya kini hanya tinggal batur dan kaki candi. Sedangkan candi perwara di bagian utara masih menyisakan bagian depan tubuh candi dan tangga candi. Dalam garbagrha candi perwara bagian tengah ditempatkan arca Nandi, yakni wahana dewa siswa. Hal ini mengingatkan kepada keberadaan arca Nandi di kompleks Candi Badut, yang juga berada di candi perwara bagian tengah.

Tata letak candi-candi dalam suatu kompleks yang terdiri atas sebuah candi induk dan tiga candi perwara sebagaimana itu merupakan pola baku pada percandian Hindu-Siwa abad ke-8 hingga 10 Masehi, seperti juga didapati pada Candi Badut, Candi Sambisari, dsb. Pada percandian yang lebih tua, seperti di Dataran Tinggi Dieng dan Gedong Songo, lay out demikian belum tampak. Oleh karena itu, sejauh telah ditemukan, Candi Gunung Wukir merupakan ‘pelopor’ lay out percandian yang terdiri atas sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara.

Selain candi induk dan candi perwara, juga dimungkinkan terdapat bangunan-bangunan lain, yang boleh jadi berupa bangunan berpanggung. Hal itu diindikatori oleh adanya temuan artefaktual yang berupa umpak-umpak dari batu andesit, sebagai pelandas tiang kayu atau bambu. Yang menarik perhatian, terdapat sebuah umpak berbentuk silindris– bila lengkap berjumlah empat buah atau kelipatannya, yang dilengkapi dengan tonjolan bulat (pencu) pada bagian atasnya. Artefak ini mengingatkan kepada watu gong – varian sebutannya ‘watu kenong’ atau ‘watu bonang’, yang konon difungsikan sebagai pelandas tiang dari bambu untuk bangunan dengan konstruksi berpanggung. Kurang jelas apa fungsinya, apakah untuk tempat tinggal pemimpin upacara dan rokhaniawan pengelola candi, ataukah sebagai tempat untuk sesajian manakala ritus pemujaan dilangsungkan. Ada kemungkinan kompleks candi ini dilengkapi dengan pagar keliling beserta gapuranya yang berbentuk padhuraksa, yang keberadaannya masih di bawah tanah diluar pagar situs yang belum digali. Prakiraan itu dapat difahami, karena reruntuhan Candi Gunung Gangsir sempat tertimbun materian vulkanik Merapi sedalam 1 hingga 1,5 meter.

13Temuan penting lainnya yang kini berada di halaman candi antara lain berupa: (a) wadah air suci (tirtha) dari batu andesit berbentuk persegi panjang – wadah air (baksteen) serupa itu dijumpai setidaknya sebanyak empat buah di tepi kali dan di permukiman Dusun Canggal, (b) lumpang batu (stone mortar), yang boleh jadi merupakan kalumpang dalam ritus manusuk sima (penetapan tanah atau desa perdikan) – konon ada sebidang tanah di Desa Kunjarakunja yang ditetapkan sebagai ‘tanah sima’ bagi keperluan peribadatan pada Candi Gunung Wukir, (c) artefak menyerupai Yoni dengan cerat bermotif hias kedok dan lobang bulat yang disertai dengan pengunci di keempat sisinya, sebagai tempat mendirikan batu sima yang berbangun silidris, (d) dorpel bagi candi perwara, (e) batu pengunci (key stone) beragam hias ceplok bunga – serupa dengan yang dijumpai di halaman Candi Badut – semula ditempatkan pada ujung langit-langit garbagrha candi induk, (f) kemuncak candi dan menara-menara sudut, (g) antefix pojok dan sisi tengah atap candi, maupun (g) balok-balok batu pembentuk arsitektur candi induk dan candi perwara.

D. P e n u t u p

Prasasti Canggal dan Candi Gunung Wukir (Sthirangga) adalah tinggalan budaya masa lalu yang penting, utamanya pada periode awal Kerajaan Mataram di masa pemerintahan Sanjaya, Sayang sekali urgensinya itu tidak disertai dengan fokus perhatian dari Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda maupun Republik Indonesia untuk menempatkannya sebagai ‘prioritas’ riset arkeologis dan restorasi cagar budaya. Ada baiknya, riset diperluas hingga ke dusun-dusun di Desa Kadiluwih dan sekitarnya, yang boleh jadi merupakan permukiman kuno Kunjarakunja dan bukan tidak mungkin adalah lokasi kadatwan Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan raja Sanjaya hingga awal pemerintahan Rakai Panangkaran. Publikasi yang terbilang ‘kurang’, menjadikan situs penting ini tidak banyak dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa maupun wisatawan.

Tulisan ringkas yang dipublikasikan lewat media sosial (medsos) ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan picu bagi khalayak luas untuk bertandang ke situs Candi Gunung Wukir yang dipercayai dapat mengukuhkan perjodohan ini. Upaya lewat wahana seni-budaya dalam ‘Festival Lima Gunung’, yang salah sebuah diantaranya dihelat di Gunung Wukir adalah bentuk upaya yang berkontribusi ke arah itu. Ada baiknya pula, pada ‘Borobudur Writers and Festival VI” mendatang (tahun 2017), diagendakan jelajah situs, dengan antara lain mengunjungi Candi Gunung Wukir, Candi Gunungsari, Candi Ngawen, Candi Asu, Candi Pendem maupun Candi Lumbung yang berada tidak jauh dari Borobudur-Mendut-Pawon, utamanya untuk mendapat gambaran sejarah-budaya Kerajaan Mataram era ‘Pra-Borobudur’, dan sekaligus untuk lebih mengenalkan candi-candi kecil ini kepada publik. Kendati ukurannya tak lebih besar daripada Candi Borobudur dan Mendut, bukan berarti bahwa candi-candi itu tak lebih penting darinya.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya ‘Nusantarajayati’..
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 12 Oktober 2016.


Like it? Share with your friends!