Sebuah Pengharapan dari Daerah

ANDAI MALANG BISA MEMILIKI KEMBALI ARCA NANDI-NYA YANG AMAT ARTISTIK, YANG KINI KOLEKSI MUSEUM NASIONAL JAKARTA DAN MUSEUM LEIDEN

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

Pada satu sisi, ada ‘rasa bangga’ bahwa arca-arca Masa Singhasari (abad XIII M.) bergaya seni Phalla masuk dalam kategori ‘masterpice’ ikonografi Nusantara untuk Masa Hindu-Buddha — selain arca-arca bergaya seni serupa dari kerajaan Mataram era Sailendravamsa. Namun pada sisi lain, justru lantaran kwalitasnya atau kemasterpisannya itu, maka tak sedikit arca-arca Masa Singhasari asal Malangraya, utamanya dari Kawasan Purbakala Singosari, yang diboyong ke Batavia (Jakarta) — yaitu ke Museum Nasional, dan sebagian lainnya ke berbagai negara manca, utamanya ke Negeri Belanda. Diantaranya adalah arca batu andesit berbentuk Nandi..

02Salah satu arca Nandi berukuran besar, proposional, plastis dan amat artistik itu semenjak Masa Hindia-Belanda telah direlokasi ke Museum Nasional Jakarta. Ditempatkan di halaman berumput bagian tengah. Arca lembu jantan wahana Dewa Siwa ini terbilang raya. Dilengkapi dengan dua rangkaian klinthingan pada lehernya, pelana pada punggung beserta tali-tali pelananya yang ornamentik serta penghias bagian atas kepala.

03Sebuah lainnya, yang memiliki keserupaan dengannya, berada di Museum Leiden. Meski tidak seraya arca Nandi koleksi Museum Nasional Jakarta, namun arca Nandi di Museum Leiden tersebut juga amat artistik. Pada sejumlah hal keduanya perlihatkan keserupaan. Misalnya, sama-sama dilengkapi dengan rangkaian klinthingan — Nandi di Museum Leiden hanya dilengkapi satu rangkai klinthingan, pelana beserta tali pelananya. Menilik kerserupaannya itu, boleh jadi arca Nandi koleksi Museum Leiden juga berasal dari Masa Singhasari, bahkan ada kemungkinan konon berasal dari Kawasan Purbakala Singosari Kab. Malang.

04Kabupaten Malang yang merupakan tempat asalnya kini tidak lagi berketempatan. Sebuah di Jakarta, adapun sebuah lainnya di Negeri Belanda. Kendati kini Kab. Malang telah memiliki Museum Daerah sendiri, dan sejauh ini masih melompong dari benda koleksi, tapi tak mudah untuk dapat menarik keduanya guna dijadikan benda koleksi Museum Singhasari. Warga Malangraya jika bekeinginan melihatnya, dipersilahkan melihat foto-fotonya saja, atau bila berkemampuan finansial bisa melihatnya langsung ke Museum Nasional di Jakarta dan ke Museum Leiden di Negeri Belanda. Bagi Museum Singhasari, paling-paling yang bakal disarankan kepadanya adalah ‘silahkan membuat duplikatnya’.

Ironis memang, justru daerah asal hanya bisa memiliki dupilkatnya.. Sementara benda aslinya malah berada di daerah atau di negara lain. Mustinya sebaliknya, benda asli dikembalikan ke daerah asal, dan museum-musium lain hanya menyajikan duplikatnya. Jika Pemkab Malang tak mampu membuat duplikatnya yang nyaris persis, yang tentu tidak murah biaya pembuatannya, maka warga Malangraya harus puas dengan ‘ngaplo (gigit jarii sambil bengong)’ atau hanya bepuas diri dengan melihat foto-fotonya saja. Namun, bila arca-arca bagus koleksi “museum penampung BCB daerah” tersebut berbondong-bondong ditarik kembali ke daerah-daerah asalnya, maka kondisi melompong benda koleksi bakal menimpai Museum Nasional Jakarta dan Museum Leiden, demikian juga dengan Museum Trowulan, Museum Propinsi — misal Museum Tantular, karena sebagian besar dari benda-benda koleksinya berasal dari daerah-daerah atau negara-negara lain.

Sumonggo dicari dan ditemukan solusi bijaknya mengenai ‘siapa yang sesungguhnya berhak ketempatan artefak aslinya?’. Prinsipnya adalah bahwa artefak berbentuk Nandi yang amat aritistik itu adalah khasanah Budaya Nusantara, yang asalnya dari Kab. Malang. Salam budaya buat arca-arca Nandi tersebut. Kami (warga Malang) merindukan kepulanganmu sembari berseru lirih ‘Singasarijayati’.

Catatan: keinginan pengembalian tujuh buah prasasti Yupa juga dipetisikan oleh warga Muarakaman Kab. Kutaikartanegara, dengan menandatangani kain panjang. Artinya, keinginan demikian adalah asa warga dari daerah-daerah asal pusaka budaya bersangkutan.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 15 Oktober 2016.


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.