Orasi Budaya “Purnama Seruling Penataran”

CANDI PALAH, PEREDAM UGRA ARDI KAMPUD

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

Pada i saka warsatita 1119 (27 Juni 1197 Masehi),
dengan perantaraan linggoprasasti tinanda ‘Srenggalancana’
Raja Srengga alias Sri Kretajaya alias Dandang Gendis
menetapkan Thani (Desa) Palah sebagai sima (perdikan)
bagi pemujaan kepada Bathara Palah atau Hyang Acalapati.
Semenjak itu, di lereng barat-daya Ardi Kampud (Gunung Kelud)
hadir embrio ‘candi negara’, yang kini bernama “Candi Penataran’.
Sebuah kompleks candi Hindu yang menempuhi ‘tiga zaman’,
sejak Masa Akhir Kadiri, memasuki Masa Singhasari,
bahkan hingga Masa Akhir Majapahit.

Urgensi Candi Palah bukan hanya karena ‘candi negara’ tiga jaman,
namun sekaligus merupakan candi terbesar dan terkolosal di Jawa Timur.
Terlebih lagi lantaran fungsi religio-ekologisnya pada Masa Hindu-Buddha,
sebagai peredam bagi ugra (murka) alam, yakni erupsi Ardhi Kampud.
Kakawin Nagarakretagama (1365 Masehi) oleh karenanya menyatakan
bahwa setiap tahun, seusai musim penghujan, Maharaja Hayam Wuruk
senantiasa menziarahi Candi Palah untuk memuja Hayang Acalapati,
penguasa kekuatan alam yang luar biasa, yaitu vulkan ‘super-aktif’ Kelud.
Candi Palah diziarahi pula oleh rokhaniawan Sunda ‘Bhujangga Manik’,
dan pengelana Jawa ‘Syeh Amongraga’ dalam pemberitaan Serat Centhini.

Kitab Pararaton mencatat setidaknya terjadi sembilan hingga sepuluh kali
peristiwa vulkanik Kampud antara tahun 1385 hingga 1481 Masehi.
Dampaknya mendestruksi wilayah luas pada daerah kekuasaan Majapahit.
Balitar, Ngrowo dan Kalangbrat, Kadiri, Hantang hinga Pujon di Malang,
bahkan Jombang maupun Trawaulan – yang menjadi kadatwan Majapahit
tak luput dari dampak vulkanik dalam periode-periode letusan Kampud.
Oleh sebab itu, warga kerajaan Kadiri, Singhasari maupun Majapahit
berupaya meredam murkanya secara religio-magis lewat pemujaan
terhadap Bathara Palah atau Hyang Acalapati pada Candi Palah.

Relief Ramayana dan Kresnayana teras I dan II Candi Induk, yang ditokohi
Rama dan Kresna sebagai awatara Wisnu sebagai Sang Mesias,
Arca Ganesya dalam fungsinya sebagai ‘vicnesawara’ di garbhagraha
dan arca Parasurama beserta sakti-nya (Sri) di depan Candi Angka Tahun
adalah beberapa wahana bagi upaya meredam murka Hyang Acalapati.
Candi Palah merupakan contoh khusus, satu diantara candi-candi yang memiliki ‘fungsi protektif’ bagi kebencanaan gunung api di Jawa.
Serupa fungsi prasasdha di Himad dan Walandit bagi peredam ugra
Sang Hyang Swayambhuva yang bersemayam di ‘gunung suci’ Brama.
Seperti juga fungsi Situs Arcapada bagi Hyang Pasupati di Mahameru.

Candi Palah alias Candi Penataran adalah tinggalan hsitoris-arkeologis.
Bukan sekedar aset wisata-budaya daerah kepunyaan Kabupaten Blitar.
Namun, lebih dari itu adalah mahakaraya budaya pada jamanya,
merupakan ‘rekaman budaya’ lintas waktu di Masa Hindu-Buddha.
dan referensi penting bagi pembelajaran budaya Nusantara Lama.
Maka, lestarikan keberadaanya sebagai ‘Benda Cagar Budaya’,
petiklah kandungan makna ‘kearifan-ekologis’ dari dalamnya.
Salam budaya ‘Nusantarajayati’.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 17 Oktober 2016

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.