WALIKUKUN


ORASI BUDAYA, sekaligus SARI AJAR PUSAKA-BUDAYA edisi ‘Walikukun’

JEJAK ARKHAIS SOSIO-BUDAYA WALIKUKUN

01

Oleh : M. Dwi Cahyono

Adalah perisai alamiah pembenteng hempasan ombak Laut Selatan,
perbukitan Kapur (Kendeng) Selatan mahapanjang, membujur barat-timur.
Terbentang dari Gunung Budheg di penghujung barat hingga Bukit Jimbe di timur.
Warga setempat menamainya dengan ‘Perbukitan Walikukun’.
Dinamai demikian, lantaran pada lereng hingga liuk-lekuk punggungnya
yang kini meranggas, konon tertebar pepohonan bernama ‘walikukun’.
Suatu tanaman endemik yang ambang sirna, bahkan nyaris tinggal nama.
Beruntunglah, ada sebagian warga Kedungjalin yang tampil sebagai pionir.
Berikhtiar melestarikannya, dengan membiakkan dan mereboisasikannya.

Perbukitan Walikukun kenampakan geografis eks gunung api purba.
Indikator vulkanik tampak pada lava beku luar di lereng utara dan barat,
yang kini menjadi batuan breksi-vulkanik, serta palung kali lahar purba.
Tepat di eks lobang kepundan di puncak bukit tertinggi Walikukun,
pada Masa Majapahit ditempatkan mahavedi, yang kini dinamai ‘Candi Dadi’.
Suatu monumen religis besar, seolah memahkotai perbukitan Walikukun,
Candi Dadi dapat pula dijadikan landmark, tampak dari kejauhan pandang.
Lobang bundar di tengah, konon untuk melarung sesajian
guna meredam murka (ugra)-nya, yang kala itu berstatus ‘vulkan mati’.
Menjadi pembukti bahwa lembah, lereng hingga puncak Walikukun
pernah dijadikan ajang peradaban, khususnya aktifitas keagamaan.

Ada beragam jenis, bentuk dan fungsi jejak peradaban di Walikukun.
Prajanaparamitapuri alias Candi Gayatri dan Kuti Sanggraha alias Candi Cungkup yang berlatar Mahayana-Buddhisme,
Candi Mirigambar dan Ampel berlatar Hindu-Saiwa di sebelah timurnya.
Itulah sebagian fakta tentang sentra dan ragam religi di Walikukun.
Keberadaan Goga Tritis, Goa Selamangleng, Goa BayuGoa Pasir
maupun belasan goa pertapaan lain di lereng Walikukun menjadi bukti
bahwa Walikukun tepat dipilih sebagai tempat penyelenggaraan agama Rsi,
dimana tapa menjadi aktifitas religisnya yang utama.

Tersebutkah Dyah Gayatri alias Sri Rajapadni, Neneknda Hayam Wuruk,
menjalani srama wanaprasta, yakni pendalaman rokhani di satu atau lebih karsyan pada kawasan Walikukun.
Memori dan pengalamannya berharga di Walikukun, menjadi pertimbangan
untuk mendharmmakan arwah Gayatri di Candi Bayalango,
dengan arca perwujudan Prajanaparamita, vidyadewi dalam Mahayana-Buddhime.
Sebagai bentuk ekspresi penghormatannya terhadap sang Nenek,
Hayam Wuruk selenggarakan upacara sradha, ritus kategori pitarayajna pada dua belas tahun pasca kemangkatan seseorang,
serta perintahkan membangun Parjanaparamtapuri sebagai pendhaman bagi arwah Gayatri di Bayalango dan Kapulungan.

Walikukun yang berada terpencil di perbukitan kapur dan berhutan,
terisolir secara alamiah oleh aliran Brantas dan rawa-rawa purba,
ditambah dengan nuanasa fisis-alamiahnya yang tenang-sunyi,
adalah tempat cocok bagi mandala kadewagurwan ataupun karsyan.
Kendati terpencil dan terisolir, bukanlah berarti kawasan Walikukun
menjadi areal permukiman yang terbelakang secara sosio-kultural.
Sebaliknya, desa-desa di lembah Walikukun terbilang maju pada jamannya.
Mampu kembangkan adaptasi ekologis tepatguna, sehingga meski berada di areal yang kurang layak huni, namun mampu membangun kehidupan yang menyejahterakan warga dan memberikan jasa bagi pihak lain,
Menurut pemberitaan linggo dan tamraprasasti Akhir Kadiri dan Majapahit
ada belasan desa (thani) menyandang status‘desa perdikan (sima)’.
Indikator bahwa pedesaan di Walikukun kontributif terhadap kerajaan.
Walikukun pula yang pada Masa Perkembangan Islam dipilih sebagai
Pusat Kadipaten dan Katumenggungan Ngrowo, lantas dijadikan sebagai Pusat Distrik Wajak.

Cukup alasan untuk menyatakan
dalam lintas masa Walikukun tampil penting dalam panggung sejarah Jawa.
Bentang geografis dari Bayolangu hingga Rejotangan, di lereng dan lembah utara Walikukun adalah ajang sosio-kultural yang turut membangun kesejarahan Ngrowo (Tukungagung) dari masa ke masa.

Sukses “Festival Walikukun”.
Salam budaya terhadapmu, ‘Ngrowojayati’.
Smoga rahayu, selamanya.

PATEMBAYAN CITRALEKHA,
Tulungagung, 30 Oktober 2016.

 


Like it? Share with your friends!