MARI TELISIK KOMPLEKS KARSYAN GOA PASIR

14955968_1155845171118462_8222636085566975115_n

Oleh : M. Dwi Cahyono

Menarasikan Karsyan utama di kawasan arkeologis Goa Pasir, lereng utara Perbukitan Walikukun sub-area Selatan Tulungagung. Suatu persembahan “Bhakti-Vidya” oleh PATEMBAYAN CITRALEKHA dalam AJAR PUSAKA-BUDAYA, edisi “Walikukun”, hari Minggu 30 Oktober 2016. Goa Pasir adalah sebuah diantara beberapa buah Karsyan atau Mandala Kadewagurwan pada lembah dan lereng Walikukun, yang berada dekat dengan eks areal rawa-rawa purba dan berpagarkan Perbukitan Kapur (Kendeng) Selatan. Suatu paleo-ekologis yang eksotis.

14947453_1153989597970686_1969874542303571493_n

Setidaknya terdapat empat kompleks patapan disini berturut-turut dari barat adalah :

(a) Goa Tritis di Gunung Budheg (Gunung Cikrak),

(b) Goa Sela Mangkleng berelief Arjuna Wiwaha beserta teras monolith-nya,

(c) Goa Banyu Urip lengkap dengan tempat kontemplasi di ketinggian pada pada lereng terjal,

(d) Goa Pasir, yang memiliki dua buah goa patapan — sebuah diantaranya berelief — dan banyak tinggalan ikonografis serta komponen-komponen arsitektural lainnya,

(e) belasan goa patapan lain yang perlu dicermati.

Dalam kurun waktu setengah milenuim, konon komunitas pertapa dan para ajar melakukan pembelajaran — baik ajaran berkehidupan baik (subha) di dunia maupun ajaran kerohanian — manakala menjalani tahapan hidup (srama) (a) Brahmacari dan (b) Wanaprasta di tempat bergunung-berhutan, yang berada di daerah terpencil dan terisolir dengan nuansa alam yang tenang-sunyi seperti di sub-area Selatan Tulungagung.

Dalam tradisi lisan — yang beberapa dasawarsa lalu pernah dipopulerkan oleh ketoprak “Siswo Budoyo”, putra raja Majapahit bernama Lembu Peteng sempat menjadi sisya (murid) di suatu Mandala Kadewagurwan di areal Walikukun. Pertapa lain yang dalam legenda mirip cerita “Malin Kundang”, yakni Joko Budheg, dikisahkan sebagai dikutuk oleh ibunya menjadi batu besar menyerupai bentuk orang dalam posisi duduk di sekitar Goa Tritis. Penyebabnya adalah ia lebih komitmen untuk topo mbudheg bisu-tuli demi janji kasihnya kepada Roro Kembangsore ketimbang sahutan terhadap panggilan bundanya. Sementara dalam rekonstruksi historis tampil Dyah Gayatri atau Rajapadni yang menjalani wanaasrama-nya disini sebagai tapasi (tapini). Beberapa ahli menyatakan bahwa aktifitas tapa dari Neneknda maharaja Hayam Wuruk itu dilakukan di Karsyan Goa Pasir.

Kawasan Walikukun dapat diumpamakan sebagai panggung sejarah peradaban Jawa abad XII-XVI Masehi, yang karenanya mengundang kita untuk menelisiknya dengan lebih seksama. Adapun areal purbakala Goa Pasir meninggalkan jejak Karsyan yang kompleks dan memiliki pola penataan yang relatif tergambar jelas. Suatu contoh adaptasi eko-kultural masa lampau yang harmonis dan inspiratif.

Kekayaan, keragaman dan keunikan tinggalan arkrologis maupun urgensi fungsi religisnya luar biasa, sarat makna, meski baru sebagian yang telah tersingkapkan, lantaran terbalut oleh lapisan tanah karena erosi dan semak belukar. Sayang bila aset kultural luhur ini tidak memperoleh prioritas dalam penanganan. Mohon untuk segera di-cagar budaya-kan untuk melestarikan dan memanfaatkannya secara bijak.

Sumonggo daerah-daerah lain menyusul.
Kami bakal memitrainya.
Salam budaya “Nusantarajsyati”.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Laor 4 Nop 3026


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.