MENGELOLA GODAAN: REFLEKSI PESAN RELIGIS DALAM RELIEF ARJUNAWIWAHA PADA DINDING GOA PERTAPAAN PASIR

14639878_1155856104450702_5265225421055189920_n

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Wanita sebagai ‘gambaran’ unsur Penggoda

Kapan saja dan dimana saja, goda senantiasa ada. Siapa pun pernah atau bakal menghadapi goda. Ada yang terbukti ‘tahan godaan (tahan goda)’, namun tak sedikit pula yang ternyata ‘tak tahan goda (ora tahan atau tak kuwoso godo). Goa adalah ujian. Siapa yang tahan goa, maka dialah yang lulus uji. Dalam dunia susastra cerita, tidak terkecuali susastra keagamaan arkhais sekalipun, kisah ujian menghadapi godaan acapkali ditampilkan. Kakawin masa Jawa Kuna ‘Arjunawiwaha’ misalnya, memuat kelompok adegan tentang penggodaan tapa Arjuna oleh tujuh bidadari. Demikian pula, Sang Buddha juga dikisahkan bahwa dalam samadinya mendapat godaan dari Mara, yang digambarkan sebagai wanita. Demikian pula, dalam cerita “Amerthamantama’, untuk dapat merebut air kehidupan/keabadian dari penguasaan oleh para raksasa, maka Dewa Indra menjelma menjadi wanita penari (anggoda) yang turun ke gelanggang ketika para raksasa bermabukan merayakan keberhasilannya mendapatkan Amreta. Mengapa wanita yang ditampilkan sebagai unsur penggoda?

Banyak jenis dan bentuk godaan yang hilir-mudk di sekitaran kita. Ada pendapat menyatakan tentang tiga macam godaan besar yang menghampiri siapapun , kapanpun dan dimanapun, yaitu: (a) tahta.(b) harta, dan (c) wanita. Sasaran goda itu adalah nafsu (kama). Tahta adalah godaan terhadap nafsu untuk berkuasa, yang terkadang dicapai orang dengan menghalalkan segala cara, bahkan dengan tindak kekejaman. Harta adalah goda terhadap nafsu untuk menjadi kaya raya agar dapat mengenyam puncak kesenangan duniawi. Adapun wanita adalah goda terhadap nafsu birahi untuk memperoleh bahkan mengumbar kepuasan hasrat biologis. Pada kisah-kisah itu, wanita — seperti tujuh bidadari dalam kisah Arjuna Wiwaha, Mara dalam kisah Kebuddhaan dan penari wanita dalam kisah Amretamantana — adalah beberapa contoh cerita yang mendisik nurani tentang ujian terhadap hawa nafsu manusia, dengan wahana penggoda berupa wanita.

B. Adegan Penggodaan pada Relief Goa Pasir

Meski cuma berpanil terbatas, dinding sisi kanan, kiri dan belakang Goa Pasir di Dusun Pasir Ds. Junjung Kec. Botolangu Kab. Tulungagung dijadikan bidang pahat (panil) untuk menampilkan adegan kunci (key schane) dari relief cerita.yang menggambarkan godaan terhadap pertapa oleh beberapa wanita. Sejauh ini ada dua pendapat yang mengidentifikasi cerita tersebut, yaitu: (1) Cerita Arjunawiwaha, yaitu adegan Arjuna yang tengah bertapa menghadapi godaan oleh bidadari Suprabha dan Tilotama, atau (2) Cerita Kebuddhaan, yaitu ketika Sang Buddha yang tengah bersamadhi menghadapi godaan dari Mara. Menilik data-data ikonografis di situs Goa Pasir, yang memperlihatkan latar keagamaan Hindu sekte Siwa, maka alternasi pertama patut untuk lebih dipertimbangkan.

Berikut deskripsi ringkas relief yang dipahatkan pada dinding goa, dimulai dari dinding sisi belakang, lalu dinding sisi selatan (kanan), dan kemudian dinding sisi utara (kiri).

a. Relief pada Dinding Goa Sisi Belakang

Menggambarkan Arjuna tengah bertapa, dengan teguh menghadapi godaan dari bidadari, yaitu Suprabha dan Tilotama — yang digambarkan dengan postur tubuh lebih besar adalah Tilotama. Kendati kedua bidadari itu melakukan tindakan erotis untuk menggoda nafsu birahi Arjuna agar batal (badar) dari tapa-nya, namun Arjuna mampu membuktikan dirinya sebagai dapat mengendalikan nafsu birahinya. Walau dalam sejumlah kisah dalam wiracarita Mahabarata diri Arjuna digambarkan sebagai memiliki kecenderungan kepada wanita, namun manakala tengah bertapa, kecenderungan demikian musti diminimalkan bahkan ditiadakannya.

b. Relief pada Dinding Goa Sisi Kanan

Menggambar salah seorang dari dua Punakawan (pengiring) Arjuna tengah menghadapi godaan yang dilancarkan oleh seorang bidadari. Secara erotis, bidadari ini memegangi payudaranya, dan lantas diarahkan kepada Punakawan tersebut. Punakawan digambarkan dengan ekspresi kikuk, dan dengan bengong memandangi ulah wanita pengoda tersebut. namun tanpa melakukan reaksi dalam bentuk tindakan seksual.

c. Relief pada Dinding Goa Sisi Kiri

Menggambarkan seorang bidadari tengah disergap dengan penuh nafsu oleh salah seorang punakawan lainnya. Tangan punakan diarahkan ke payudara bidadari dan meremasnya.

C. Refleksi Religis di Balik Relief Goa Pasir

Relief sebagaimana dipaparkan diatas juga dijumpai pada relief Arjunawiwaha di dinding kaki candi Surawana sisi belakang, termasuk ulah dua punakawan terhadap bidadari penggodanya. Namun, pada relief Arjunawiwaha yang dipahatkan pada dinding Goa Selamangleng Tulungagung, yang berada dekat dengan Goa Pasir, gambaran demikian tak dijumpai — khususnya yang berkenaan dengan punakawan dan bidadari penggodanya. Oleh karena itu, cukup alasan untuk mengidentifikasikan relief yang dipahatkan pada salah satu goa pertapaan di situs Goa Pasir itu sebagai Relief Arjunawiwaha, yang dipahat pada masa Keemasan Majapahit.

Sengaja pemahat membuat ‘kontas penggambaran’ antara adegan pada dinding goa sisi belakang dengan adegan yang dipahatkan pada dinding goa sisi kanan dan kiri. Arjuna sebagai seseorang yang memiliki tataran keimanan yang tinggi digambarkan sebagai teguh dalam menghadapi godaan. Arjuna mampu mengendalikan hawa nafsu manalaka menjalin ritus pertapaan. Nafsu birahi musti diterapkan dengan apa yang dalam bahasa Jawa dinamai ’empan-papan’, artinya diterapkan secara tepat konteks. Dalam konteks pertapaan, dimana segala hawa nafsu musti diminimalkan atau bahkan ditiadakan, dan dalam hal ini Arjuna terbukti berhasil menjalankannya.

Sementara Punakawan, yang digambarkan dengan taraf keiimanan yang belum tinggi — khususnya pada relief di dinding goa sisi kiri, dirinya tak kuasa dalam menghadapi godaan terhadap nafsu birahinya. Mereka gagal dalam mengelola dan mengendalikan nafsu birahinya..Kendatipun telah memakai busana pertapa — tampak pada jatamakuta (sanggul rambut yang besar dan membulat, menyerupai sorban) dan nalkaladara (cawat dari kulit pohon) dan berada di pertapaan. namun tak ada jaminan bahwa yang bersangkutan dapat mengendalikan kamanya yang padahal merupakan prasyarat bagi pertapa.

Dalam apa yang dinamai ‘katuranggan’, seseorang yang tak dapat mengendalikan nafsu dikategorikan sebagai ‘aswa (kuda)’. Ibarat demikian acap dinamai ‘nafsu kuda’, yaitu nafsu birahi yang berkobar-kobar dan tanpa kendali. Sikap dan prilaku demikian dinilai tidak pada tempatnya dalam kehidupan masyarakat yang berperadaban.

D. P e n u t u p

Demikianlah siratan makna pada relief ceita yang dipahatkan pada dinding goa pertapaan Pasir. Tak ada maksud untuk untuk menampilkan ‘pornografi’, sebab adegan erotis yang ditampilkan pada relief tersebut dimaksudkan sebagai wahana edukasi yang mendasarkan pada dharmma (ajaran), khususnya tentang pentingnya pengendalian hawa nafsu, termasuk nafsu birahi.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya ‘Nusantarajayati’.
Mohon maaf bila kurang berkenan.
Nuwun

5 Nopember 2016