Connect with us

JAMAN KUNO

Redesain Patung Ken Dedes

Avatar

Published

on

Makalah Pemandu FGD yang akan diselenggarakan oleh DKP Kota Malang

REDESAIN PATUNG DUPLIKATIF KEN DEDES PADA TAMAN KOTA DI ARJOSARI DAN TAMAN ALON-ALON BUNDER

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Dasar Pertimbangan

Sesuai dengan TUPOKSI-nya, DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Kota Malang melakukan; (a) perencanaan, (b) pembangunan, serta (e) perawatan taman-taman kota (city parks atau city gardens) di wilayah Kota Malang. Menilik jumlah, persebaran dan kesungguhan dalam penanganan taman kota, cukup alasan untuk mempredikati Kota Malang sebagai ‘Kota Taman’. Sesungguhnya, tanggungjawab terhadap penanganan taman kota bukan semata berada di pundak DKP, namun merupakan tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat sesuai dengan porsi perannya masing-masing. Warga masyarakat seyogyanya turut aktif dalam memelihara kebersihan dan syukur apabila tergerak untuk turut merawatnya. Bukan hanya itu, di satu pihak terbuka kemungkinan bagi warga masyarakat untuk turut mengkritisi kemasan/desain, penataan dan pemfungsian taman kota. Terkait itu, di pihak lain DKP diharapkan terbuka untuk menerima kritik, saran dan solusi bijak terhadap taman-taman kota yang hendak atau yang telah dibangunnya.

Sinergi yang demikian antara lain tergambar di dalam FGD (Focus Group Discusion) yang diselenggarakan pada saat ini, dimana DKP berinisiatif serta berbuat untuk mengundang pakar dan para peduli Taman Kota untuk kemungkinan ‘pengemasan ulang (redesain)’ Taman Ken Dedes dan rencana meredesain pagar Alon-alon Bunder. Pada kesempatan ini, atau pada kesempatan lain, kegiatan serupa tepat pula diarahkan pada taman-taman yang lain. Dengan cara demikian, diharapkan dapat terhindarkan ‘blunder’ dari niatan baik dan upaya sungguh-sungguh yang dilakukan oleh DKP Kota Malang. Tak diragukan bahwa niat baik DKP Kota Malang adalah untuk memperindah maupun membermaknakan taman kota, yakni penyediaan taman kota yang indah dan memiliki ragam manfaat (rekreatif, ekologis, edukatif, ekonomik, dsb.). Namun, tak bisa pula dipungkiri bahwa lantaran kekurangpahaman DKP dalam hal-hal tertentu, penanganan terhadap suatu taman kota bisa mengundang polemik bahkan reaksi dari para kritisi dan peduli taman kota yang juga memiliki niatan baik – bukan sekedar ‘cerewet’, melainkan ‘care’.

Lewat FGD ini, dimana masing-masing pihak ‘saling memberi dan menerima’, niatan baik dan kesungguhan DKP dapat dikomunikasikan dan difahami oleh khalayak. Pada sisi lain, khalayak berkesempatan untuk memahamkan DKP mengenai hal-hal tertentu yang kurang difahami atau mungkin lepas perhatian dalam pendesainan, penataan dan pemfungsian taman kota. Semoga tradisi dialogis demikian bakal berlanjut pada waktu-waktu mendatang, sehingga friksi dapat dihindarkan dan kesefahaman bisa tercipta. Intinya, mari membangun, memelihara dan memanfaatkan taman kota di wlayah Kota Malang secara bersama ‘dari kita, oleh kita, dan untuk kita’.

B. Redesain Taman Ken Dedes di Arjosari

  1. Ibarat ‘Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga’

 Sebutan ‘Taman Ken Dedes’ didasari oleh adanya patung duplikat Ken Dedes dalam ukuran amat besar (± t = 8 m) di sisi timur koridor jalan pada ‘mulut’ Kota Malang, tepatnya di Kelurahan Arjosari. Arca ini bukan arfefak asli sebagai arca perwujudan Ken Dedes sebagai Prajanaparamita. Kendati hanya duplikat, namun keberadaannya di Kota Malang memiliki arti penting: (1) Ken Dedes merupakan ‘ikon tokoh sejarah’ bagi Malang Raya; (2) lantaran arca asli pewujudan Ken Dedes konon berada di Leiden Negeri Belanda dan lantas direlokasikan ke Museum Nasional Jakarta, maka kendatipun hanya duplikat, arca di Taman Ken Dedes Arjosari seakan ‘mewakili’ keberadaannya di Kota Malang, dimana khalayak bisa mengamati dan mempelajari ikonografi Parjanaparamita sebagai arca perwujudan Ken Dedes; (3) lokasinya yang bertetangga dengan Kelurahan Polowijen – menurut susastra gancaran Pararaton, Ken Dedes putri Pu Purwa lahir dan dibesarkan di Panawijen, maka keberadaannya dapat direlasikan dengan studi arkeologi-sejarah berkenaan dengan perjalanan hidup Ken Dedes; (4) walaupun arca buatan (artifiasial) kekinian, namun patung ini telah dibuat pada tahun 1980-an (1980-1981) – semasa Wali Kota “Ebes ” Soegiono, sehingga kini telah mecapai usia sekitar tiga dasawarsa, dan menjadi petanda khusus bagi taman kota di Arjosari tersebut.

02

Sesuai dengan butir-butir urgensi itu, masyarakat Malangraya, khususnya Kota Malang, memiliki perhatian bahkan kepedulian terhadap arca ini. Oleh karena itu dapat difahami ketika khalayak menilai adanya ‘salah’ penanganan terhadapnya, maka timbullah reaksi luas. Seperti ketika DKP merevitalisasi Taman Ken Dedes, dengan antara lain mengecat arca duplikatif Ken Dedes dengan warna putih ‘memplak’, dengan menyatakan arca duplikatif yang ‘menyerupai Dewi Kwan Im’, atau ‘Ken Dedes yang pucat-pasi, mirip kuntilanak’, atau perkataan lain yang lebih ‘sarkasme’. Sebenarnya, revitalisasi taman menjadi jauh lebih baik, lebih terawat, lebih tampil artistik pada malam hari apabila dibanding waktu sebelumnya – yang terkesan sebagai taman kota kurang terawat dan gulita ketika waktu malam. Padahal, lokasinya strategis, yakni pada ‘mulut’ Kota Malang, sehingga menjadi ‘kesan pertama’, bahkan ‘citra pertamanan’ Kota Malang. Sayang sekali, ibarat ‘nila setitik rusak susu sebelanga’, kesalahan dalam pengecatan terhadap arca duplitif Ken Dedes, maka dikesankan niatan baik dan sunguh-sungguh dari DKP untuk merevitalisasikan Taman Ken Dedes menjadi tak bermakna. Sungguh, sayang di sayang.

  1. Lantaran Kekurangfahaman Ikonografi Arca Perwujudan Ken Dedes

03

Arca duplikatif-artifiasial di Taman Ken Dedes adalah arca perwujudan tokoh sejarah, yaitu Ken Dedes. Oleh karena itu, bentuk arca (ikonografi) diupayakan ‘sedekat mungkin’ dengan arca perwujudan Dewi Prajnaparamita, yakni Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi menurut pantheon Mahayana Buddhisme, yang konon diketemukan di Candi Putri pada Desa Pagentan Kec. Singosari Kab. Malang. Kendati tidak persis sama hingga ke tingkat detailnya, namun dirasa ‘cukup’ untuk secara duplikatif menghadirkannya di Malang. Keberadaan di taman kota pada ‘mulut’ Kota Malang pada wilayah Kelurahan Arjosari bukan saja kontributif untuk memperindah taman kota, namun seakan menjadi ‘ikon Malang’ dan dapat dijadikan sebagai ‘media ajar budaya’ terkait dengan kesejarahan Malangraya dan Nusantara. Oleh sebab itu, di kalangan warga Malang ada semacam keinginan untuk menampilkan arca duplikatif ini serupa dengan arca aslinya dalam ‘ukuran yang jauh lebih besar’ – jika dibuat dengan ukuran ‘real size’, maka akan ‘tenggelam’ atau menjadi tak segera tampak pandang di areal taman yang amat luas. Keserupaan yang diharapkan juga adalah hal warna arca. Sebenarnya, arca itu telah beberapa kali mengalami pengubahan pewarnaan, yaitu: (a) mula-mula diberi warna hitam-keabuan menyerupakan warna batu kali (andesit), kemudian (b) coklat-kekuningemasan menyerupakan warna perunggu atau tembaga, dan (c) terakhir warna putih ‘memplak’ – entah menyerupakan apa. Sebenarnya, ketiga pewarnaan itu seluruhnya salah warna. Namun, tidak tahu pasti latarnya, pewarnaannya yang terakhir mengundang polemik, bahkan reaksi luas. Bisa jadi, antara lain lantaran kian maraknya penggunaan media-sosial (medsos), dan bukan disebabkan ‘plintiran politis’, namun pengharapan tulus akan kebenaran warnanya. Pada sekitar setahun terakhir, perihal ‘Ken Dedes yang berwarna pucat pasi, bahkan menyerupai kuntilanak ’ atau ada yang menyatakan “Ken Dedes yang menyerupai warna Dewi Kwan Im’, mewarnai polemik hangat di medsos maupun dalam diskusi-diskusi di Kota Malang. Kini, tibalah saatnya ‘kekurangtepatan dalam pewarnaan arca duplikatif Ken Dedes’ itu dilebihtepatkan. Bagaimana caranya?

Ketidaktepatan pewarnaan arca dulikatif Ken Dedes hingga tiga kali itu nampaknya disebabkan pemberi warna tidak mengetahui atau tidak penah melihat secara langsung arca asli perwujudan Ken Dedes. Padahal, arca itu kini dapat dilihat di Museum Nasional Jakarta, pada ruang khusus bersama benda-benda koleksi dari logam mulai di Lantai II Gedung Utama. Atau setidaknya, fotonya bisa diperiksa di internet dan buku-buku dengan cetak fotografis standart. Kata kunci untuk pewarnaan secara tepat adalah ‘dari bahan apa arca tersebut dibuat?”. Tidak sebagaimana kebanyakan arca dewata Masa Hindu-Buddha yang dibuat dari batu andesit untuk arca ukuran besar atau dari bahan perunggu ataupun logam mulia untuk arca ukuran kecil, arca perwujudan Ken Dedes asal Candi Putri itu dibuat dari batu kapur (lime stone) keras, yang bukan tidak mungkin bahan dasarnya ditambang di areal pengunungan kapur setempat, yaitu Peg. Kapur (Kendeng) Selatan di Kab. Malang. Sebagaimana diketahui, di sejumlah tempat pada areal Kendeng Selatan Malang terdapat batuan kapur keras yang bagus untuk bahan pembuatan kriya batu. Diantaranya adalah di Bantur dan sekitarnya. Boleh jadi, bahan dasarnya konon ditambang dari daerah itu, Bukan hanya arca perwujudan Ken Dedes koleksi Museum Nasional asal Candi Putri yang dibuat dari bahan ini. Kini, di halaman Candi Singhasari masih kedapatan sebuah arca Prajanaparimita dalam kondisi agak aus, namun masih jelas sebagian detailnya, yang juga terbuat dari bahan serupa dengan arca tersebut.

Bertolak dari ‘pemahaman terhadap warna batuan’ tersebut, dapat diplih warna cat yang mendekati warna itu, dengan terlebih dulu melakukan uji pengecatan hingga didapatkan warna terpilih. Solusi demikian kiranya dapat menyelesiakan polemik berkepanjangan mengenai warna arca duplikatif Ken Dedes pada Taman Kota pada lembah selatan Kali Mewek di Arjosari. Silahkan mengujiterapkan warna yang lebih tepat dengan warna arca asli Ken Dedes. Semoga membuahkan hasil dan dapat meredakan polemik.

  1. Penataan dan Revitalisasi Sub-areal Taman Sekitar

Senyampang membicarakan mengenai Taman Ken Dedes di sekitar mulut Kota Malang sisi utara, ada baiknya dibicarakan pula sub-sub area di sekitar pertamanan kota ini, yang dikelompokkan dalam :

(1) taman kota di lembah Kali Mewek di seberang timur jalan dengan luas area sekitar 800 m², dan

(2) taman kota pembelah jalan.

Pada taman kota di lembah Kali Mewek terdapat tiga sub-area, yaitu:

(a) bagian tengah, padamana terdapat arca duplikatif Ken Dedes, selanjutnya disebut ‘sub-taman Ken Dedes’,

(b) bagian utara, padamana terdapat patung rekaan Pejuang Kemerdekaan, serta

(c) bagian selatan, yang merupakan Ruang Terbuka Hijau – dengan sejumlah tanaman keras yang terbilang rimbun.

Sejauh ini penanganan lebih terfokus kepada bagian tengah, seperti tergambar pada:

(a) penataan tanaman hias pengisi halaman taman;

(b) pengecatan dan pencahayaan terhadap patung duplikatif Ken Dedes pada malam hari; dan

(c) penambahan beberapa motif hias topeng (mask) dengan tujuh karakter lengkap dengan jamang tinggi seperti pilar tegak berujung lengkung melancip setinggi 5 meter, yang mendapat pencahayaan bagus pada malam hari.

 04

Gambaran demikian kontras dengan kondisi sub-taman bagian utara, yang terkesan kurang optimal dalam penanganannya. Adapun indikatornya antara lain :

(a) patung pejuang tidak dilakukan pengecatan ulang – padahal, catnya telah kusam,

(b) tanaman-tanaman keras sekitarnya terbilang rimbun dan tidak dilengkapi dengan tanaman hias pada halaman taman, serta

(c) kurang pencahayaan pada malam hari.

Bila kedua sub-taman ini ditangani secara menyeluruh, tentulah diperoleh areal taman yang asri, luas dan terintegrasi sejak pinggir Kali Mewek. Dengan demikian tidak terkesan ‘mban cinde mban siladan (penangan lebih pada salah satu sub-taman, atau pilih kasih)’. Kedua monumen ini sama pentingnya, mengingat Malang juga menyandang predikat ‘Kota Kejuangan’, tidak terkecuali pada Periode Mempertahankan Kemerdekaan RI.

Sub-taman di bagian selatan terbilang luas, membujur utara-selatan sepanjang koridor jalan. Areal ini tampil menyerupai ‘RTH (Ruang Terbuka Hijau)’, dengan tanaman-tanaman keras yang telah cukup rimbun, sehingga dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, penyerap dan penyimpan air hujan. Yang perlu untuk dikelola lebih lanjut adalah aspek artistik dan fungsionalnya, termasuk pencahayaan pada malam hari. Kedepan, Taman Kota di Arjosari perlu untuk diarahkan menjadi ‘ruang publik (public space)’ bagi sub-kawasan Malang Utara, yang sejauh ini belum banyak dimilikinya, padahal permukiman di sub-kawasan ini kian padat.

05

Sub-taman lain, yang walau tidak begitu luas, namun perlu mendapatkan sentuhan adalah ‘pembelah jalan’, antara ujung utara fly over dan jembatan Kali Mewek. Monumen yang telah ada pada penghujung utara pembelah jalan perlu di-redesain, atau malahan digantikan dengan monumen yang lebih monumental dalam hal ukuran, kebermaknaan dan kemenarikan bentuknya. Dengan pertimbangan: (a) Malangraya, termasuk di dalamnya Kota Malang, sebagai basis seni pertunjukan wayang topeng berlakon Panji; dan (b) jasa Mbah Reni dari Polowijen, yakni tetangga kelurahan Arjosari, yang pada permulaan abad XX membidani lahirnya dalang-dalang topeng di penjuru Malangraya, maka layak menjadikan ‘Topeng Malang’ sebagai tema pengisi taman. Monumen besar-artistik berbentuk sepasang penari topeng – dengan tokoh peran: Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji – dapat dipertimbangkan sebagai monumen pengganti terhadap monumen yang ada. Adapun monumen yang telah ada direlokasikan ke sub-taman yang lain. Berderet ke arah selatan di belakang monumen sepasang penari topeng tersebut dipajang figur-figur penari topeng tunggal – atau cukup topeng (maks)-nya saja, yang menggambarkan tokoh-tokoh peran utama dalam wayang topeng Malang berlakon Panji. Monumen-monumen yang berada di ‘mulut; Kota Malang ini dapat diposisikan sebagai ‘Monumen Selamat Datang’.

C. Taman Kota Alon-Alon Bunder

  1. Acuan Penanganan Taman Kota Alon-alon Bunder

06 

Berlainan dengan Taman Kota di Arjosari, secara kultural Taman Kota pada Alon-Alon Bunder berada di kawasan heritage (pusaka) kategori ‘pusaka saujana (integrasi pusaka budaya dan pusaka alam)’. Selain itu, Alon-Alon Bunder merupakan salah satu sub-area yang diposisikan ‘Ikon atau Landmark’ bagi Kota Malang. Oleh karena itu, penanganannya perlu dilakukan dengan lebih hati- hati, dengan sedapat mungkin mempertahankan kelestariannya. Berangkat dari kesadaran itu, penanganan terhadapnya dilaksanakan dengan mengacu butir-butir sebagai berikut :

(a) keaslian bentuk produk budaya material buatan (artefaktual), dengan menelisik sejarah pembentukan lintas waktu,

(b) naturalistik unsur pertamanan non-material, seperti tanaman, air dan tanah, serta

(c) pemberian fungsi yang relevan.

Dengan acuan demikian, maka penanganan terhadapnya sesuai dengan statusnya sebagai ‘taman pusaka (heritage park)’. Kesalahan dalam penanganan, bisa menyebabkan rusaknya bahkan hilangnya sebagian atau seluruh unsur-unsur heritage-nya. Hal ini berarti mengingkari penetapan Kota Malang sebagai salah satu dalam jaringan Kota-Kota Pusaka (Heritage Cities) di Indonesia. Kota Malang dalam predikatnya sebagai bagian integral dari jaringan ‘Kota-Kota Pusaka’ di Indonesia, penanganan yang dilakukan terhadap Alon-Alon Bunder oleh karenanya mendapat pantauan, bukan saja oleh warga Kota Malang dan Malangraya melainkan juga dari para pengamat di penjuru Indonesia, sehingga perlu dilakukan dengan seksama dan mengidahkan kaidah-kaidah kecagarbudayaan.

  1. Kilas Sejarah Alon-Alon Bunder

07

Awal keberadaan Alon-Alon Bunder berada dalam konteks Rancangan Pengembangan (Bouwplan) Kotapraja (Gemeente) Malang tahap ke-2 yang dirancangkan oleh arsitek Thomas Karsten. Bouwplan ke-2 diputuskan tanggal 26 April 1922, dan dikenal dengan ‘Gouvernuer-Generaalbuurt’. Namun, pembangunan baru dapat direalisasikan pada tahun 1922 (Handinoto & Soehargo, 1996:66). Areal terbangunan dinamai ‘Gouverneeur Generaalbuurt – selanjutnya disingkat ‘GG Buurt’, padamana jalan-jalan maupun taman kota yang dikembangkan mendapat unsur nama yang diambil dari nama-nama G.G, VOC. Salah seorang diantaranya adalah Jaan Pieterzoen Coen (21 Mei 1619-31 Januari 1623 dan 30 September 1627-21 September 1629), yang juga dikenal sebagai pendiri Batavia.

Salah sebuah komponen terbangun adalah taman kota berbentuk bundar, yang nantinya di depan Balai Kota Malang. Sebutan terhadapnya adalah ‘Taman Jaan Pieterzoen Coen, yang acap disingkat dan disebut dengan ‘J.P Coen Plein’. Lantaran bangunannya berbangun bundar itulah, maka tanah lapang di pusat kota, yang oleh masyarakat Jawa lazim dinamai ‘alon-alon’ lantas mendapat sebutan ‘Alon-Alon Bunder’ — suatu sebutan yang mendasarkan pada bentuk bangunnya, guna membedakan dengan alon-alon yang berbangun kotak’ di Jl. Merdeka Kota Malang. Alon-Alon Bunder adalah salah satu landmark, bahkan menjadi ‘ikon area’, bagi Kota Malang. Jadi, bukanlah taman kota yang biasa, melainkan diberi makna istimewa.

08

Bangunan awalnya berupa suatu tanah lapang dengan bangun bundar (bunder) lengkap dengan kolam air mancur yang juga berbangun bundar di titik sentrumnya. Ketika memperingati Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1946, ada inisiatif untuk mendirikan tugu inspiratif kejuangan di bagian tengah Taman Jaan Pieterzoen Coen (Alun-alun Bunder). Rencana pembangunan ditandangani Presiden Ir. Soekarno dan A.G. Suroto. Pada bagian tengah Alon-Alon Bunder dibangun pedestal bagi Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI.

09

Ketika Belanda menguasai ulang Kota Malang pada Era Perang Kemerdekaan mulai 22 Juli 1947 lewat ‘Agresi Militer I’, pada tanggal 23 Desember 1948 monumen yang kala itu proses pembangunannya baru mencapai 95 % dihancurkan oleh militer Belanda, dengan alasan kesal terhadap kegigihan arek-arek Malang dalam mempertahankan wilayahnya ketika agresi tersebut. Pasca Perang Kemerdekaan RI, pada tahun 1953 Monumen Tugu yang telah runtuh tersebut dibangun kembali oleh Pemerintah Kota Malang, dengan menghadirkan ‘Tugu Perjuangan Kemerdekaan’ beserta kolam bundar, yang disemai dengan hamparan teratai. Peresmian purnabangun diadakan pada tanggal 20 Mei 1953 oleh Paduka Jang Mulia (PJM) Ir. Seoekarno, yang diberi nama ‘Tugu Nasional’. Terhitung sejak tanggal 14 Juli 1970, Tugu Alon-Alon Bunder dijadikan ‘Lambang Kota Malang’ sebagai pengganti terhadap lambang kota terdahulu yang berbentuk Garuda (Basundoro, 2006:223).

10

Alun-Alun Tugu dibuat dengan memperhatikan beberapa hal. Monumen Tugu Perjuangan yang berada di tengah melambangkan tata cosmik (formula 4+1. yakni axis dan empat penjuru mata angin) atau pusat untuk kelima penjuru arah. Selain arah utama yang menuju ke Gedung Balai Kota, keempat arah lainnya mewakili jalan-jalan yang bertitik pusat pada alun-alun ini. Puncak monumen yang berbentuk bambu tajam yang melambangkan bambu runcing sebagai senjata yang digunakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan RI. Terdapat juga rantai yang menggambarkan persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia, yang tidak dapat dipisahkan oleh penjajah.

11

Makna lainnya tergambarkan pada : (a) tangga yang membentuk 4 (empat) dan 5 (lima) sudut melambangkan tahun kemerdekaan RI, yaitu 45 – lengkapnya tahun 1945, (b) bintang memiliki 8 (delapan) tingkat (undak) dan 17 (tujuh belas) sudut, yang melambangkan tanggal dan bulan kemerdekaan RI, yaitu tanggal 17 Agustus. Dengan demikian, kombinasi simbol angka-angka itu melambangkan tanggal, bulan, dan tahun kemerdekaan RI, yaitu 17 Agustus 1945. Sementara itu, bunga teratai yang berwarna merah dan putih dalam kolam budar sekeliling Tugu melambangkan keberanian dan kesucian, sesuai dengan warna bendera Indonesia.

Pada pedestal budar terdapat gambar: (a) banteng, yang melambangkan warga Malang siap bertarung guna mempertahankan kemerdekaan RI; (b) tepak tangan, melambangkan sikap tangan ‘abhaya’, yang menghentikan penjajahan yang dilancarkan Belanda; (c) peta Indonesia, menggambarkan wilayah RI; (d) Soekarno-Hatta, untuk mengabadikan peran keduanya sebagai ‘founding father’ bagi Kemerdekaan RI; dan (e) teks Proklamasi Kemerdekaam RI. Jelas bahwa pesan-pesan kejuangan menjadi tema sentral dalam penggambaran ini.

12

Konsep taman kota ini adalah ‘taman terbuka (open space park)’, dalam arti tidak dilengkapi dengan pagar keliling permanen di sisi luar. Begitu pula, tak disertai dengan pagar keliling seputar kolam bundar. Dengan demikian, jika kini terdapat pagar sisi luar dan pagar seputar kolam bundar, terang bahwa unsur arsitektural ini merupakan penambahan di waktu yang lebih kemudian (tahun 1980-an dan 1990-an) dengan pertimbangan tertentu di luar konsepnya semula sebagai ‘taman terbuka’. Pada Masa Hindia-Belanda, bentang tanah di dalam areal taman dilengkapi dengan hamparan rumput dan tanaman hias dari tanaman asli. Untuk penerangan pada malam hari, maka Alon-Alon Bunder pun dilengkapi dengan lampu-lampu taman. Sebagaimana gonta-ganti pada tanaman hiasnya, lampu taman pun digonta-gantikan. Yang paling akhir berupa kembang lampu dari plastik warna-wani yang mencolok mata dan ‘sama sekali tidak selaras (maatching)’ dengan hamparan tanaman hias yang dominan, serta lampu sorot yang berwarna-wani pula ke arah kolam serta tugu. Bahkan, pernah pula Tugu Perjuangan beserta pedestal berundaknya diberi lampu seri, namun kemudian dibongkar lagi. Air kolam tak luput dari reka kreatif, dengan ‘dimainkan’ menjadi pancuran air. Bahkan untuk menampilkan ‘spektakularitas’, pada saat-saat tertentu dihembusakan dray ice. Demikianlah, diperoleh gambaran bahwa dari waktu ke waktu Alon-Alon Bunder mengalami pengemasan ulang (redesign). Seakan, tiap-tiap era Wali Kota dimunculkan wajah baru Alon-Alon Bunder.

  1. Penataan Ulang Taman Alon-Alon Bunder

13

Gambaran mengenai konsep, penataan dan bentuk Alon-Alon Bunder sebagaimana dipaparkan di atas dapat dijadikan rujukan untuk ‘mengembalikan ke keaslian’-nya sebagaimana prinsip penanganan terhadap Kawasan Cagar Budaya – dalam hal ini berupa ‘Taman Pusaka’. Jika beranjak dari kebijakan demikian maka ada dua konsekuensi logis yang ‘mau tidak mau’ musti dilakukan, yaitu: (a) walau sayang, musti membongkar pagar sisi luar dan pagar seputar kolam untuk kembali kepada konsep ‘taman terbuka’, dan (b) meniadakan bunga-bunga lampu dari bahan plastik dengan warna mencolok untuk mengembalikan kepada konsep ‘naturalistik’ tanam. Kendati tugu ditengah teras bundar baru dibangun pada tahun1952, namun mempertimbangkan urgensi pada makna simboliknya terkait dengan Perjuangan Kemerdekaan RI maupun usianya yang telah lebih dari 50 tahun – indikator untuk usia ‘Cagar Budaya’, maka tidak perlu dianulir.

Peniadaan bunga-bunga lampu dari bahan plastik tentu bukan merupakan hal yang sulit dilakukan dan karenanya tak perlu untuk ‘ngotot dipertahankan’. Barang berharga mahal ini bukan berarti tak berguna lagi, sebab masih bisa dan berguna ditempatkan di taman-taman lain yang tak berkategori ‘taman pusaka’. Yang perlu untuk dipertimbangkan secara matang adalah peniadaan dua lapis pagar tersebut, mengingat bahwa hingga sejauh ini unsur masyarakat pengguna taman belum seluruhnya memiliki kesadaran internal untuk memelihara taman. Solusinya adalah dengan: (a) menggantikan pagar artifisial-material permanen itu dengan pagar tanaman hias (pagar hidup), (b) menambah jumlah petugas taman, dan (c) memperingatkan serta penyadaran warga pengguna taman dengan beragam media baik secara tertulis, auditif maupun visual sebagai ikhtiar edukasi-ekologis. Semoga upaya solutif itu membuahkan hasil, yaitu keaslian Taman Alon-Alon Bunder dapat dilestarikan dan keterpeliharaannya dapat diwujudkan.

D. P e n u t u p

Demikianlah tulisan singkat ini, dengan maksud penyajikan panduan diskusi untuk forum FGD (Focus Group Discusion) yang diselanggarakan pada tanggal 16 Nopember 2016. Masukan untuk mematangkan secara teknis dari apa yang penulis sampaikan tersebut amat diharapkan dari para peserta FGD. Semoga tradisi ‘silaturrohim’ antara DKP dengan warga Kota Malang melalui forum semacam ini dapat lebih ditradisikan kedepan, sehingga resistensi maupun penentangan kritis dari para peduli Kota Malang dapat diminimalkan. Semoga pula upaya baik dari DKP untuk menata taman-taman kota di Kota Malang tidak justru tergelincir menjadi ‘blunder’ lantaran tersumbatnya aliran komunikasi antara keduanya.

14

Yang perlu pula untuk direncanakan adalah bagaimana memfungsikan taman-taman kota yang telah direvitalisasikan tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Salah sebuah bentuk isian yang penulis ancangkan pada tahun depan (2017) adalah menghelat ‘Festival Taman Kota’, yang berisikan kegiatan: (a) pentas seni-budaya, (b) saresehan, dan (b) jelah situs sekitar taman kota. Kegiatan ini direncanakan untuk dilaksanakan secara bergilir pada taman-taman di penjuru Kota Malang dengan agenda waktu yang terprogram. Kami merencakan bermitra dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta DKP sesuai tugas dan perannya. Semoga dinas terkait maupun warga Kota Malang menyambut untuk turut mendukungnya.
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk memaparkan pokok-pokok pikiran lewat tulisan ringkas ini. Semoga bakal membuahkan makna. Salam eko-budaya, ‘Malangjayati’. Nuwun.

Sengkaling, 8 Nopember 2016

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JAMAN KUNO

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA

Avatar

Published

on

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA : Koco Brenggolo Kasus Hukum pada Kisah Pencurian Ken Angrok

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paparan Kisah Pencurian oleh Ken Angrok

Tulisan ini mengangkat beberapa kisah tentang pencurian yang dilakukan oleh atau dituduhkan kepada Ken Angrok. Walau tak semua kisahnya secara eksplisit berkenaan dengan korupsi sebagaimana modus korupsu sekarang. namun terdapat siratan-siratan pesan yang berkenaan dengan “fenomena pencurian”. Kisah-kisah itu dapat dijadikan contoh kasus, mengingat bahwa pada dasarnya korupsi adalah suatu varian dari sikap tdan perilaku “maling (pencurian)”.

Sebagai seorang manusia biasa, “fase pencuri” pernah dilalui oleh Ken Angrok, sebagai suatu “episode gelap” dalam balada (perjanan pajang kehidupannya) — tentu selain “episode terang” yang berisi kebaikan- kebaikannya. Pencurian adalah bagian dari kemanusiaan manusia, yaitu sisi gelap kehidupan manusia Dapat difahami bila Angrok terlibat dalam sejumlah tindakkan pencurian, mengingat bahwa ayah angkatnya yang pertama, yakni Lembong, adalah pencuri ulung. Hingga usia remaja kecil, Ken Angrok dibesarkan d lingkungan keluarga pencuri ini. Dikisahkan oleh Pararaton “… Lambat-laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong …. ” (Marduwarsito, 1965:48-49).

1. Contoh Kasus Pertama

Menurut pengkisahan di dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton, ketika Angrok masih seusia “rare sapangangon (anak gembala)” , ia bekerja pada yang dipertuan (tuha) Desa Lebak sebagai
penggembala sepasang kerbau miliknya. Angrok sempat dituduh — meskipun belum terbukti akan kebenarannya — melakukan penggelapan atas kerbau yang digembalakan. Akibat tuduhan buta itu, Angrok kecil terpaksa meninggalkan rumah, sedangkan ayah angkatnya (Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok) terpaksa menanggung beban baya atas hilangan ternak gembalaa itu.

2. Contoh Kasus Kedua

Kisah pencurian lain yang dilakukan Ken Angrok terbilang “unik”. Kejadiannya ketika Angrok dan tuan Tita — putra tuan Sahaja, kepala desa di Sagenggeng — menjadi murid (sisya) dari guru Jangan di Sagenggeng. Kala itu pohon jambu di halaman rumah Janggan tengah berbuah lebat dan nyaris masak total. Angrok berkeinginan kuat (bahasa Jawa Baru disebut “kemecer”) untuk mencicipi. Namun, Janggan yang disiplin ketat melarang keras mengambil sebelum jambu-jambunya masak benar. Meski kemecer, sebagai murid yangi taat kepada guru, dalam kondisi sadar Angrok menekan keinginannya sedemikian rupa unuk tak memetik barang sebuahpun.

Yang ada dalam kondisi “sadar” dan yang terjadi ketika berada “dibawah sadar’ bisa saja berbeda. Dalam kisah ini, keinginan kuat yang ditekan- tekan menyeruak pada alam bawah sadarnya. Tengah malam ketika Angrok tertidur, keluar amat bsnyak kelelawar-kelelawar (tepatnya codot) dari ubun-ubunnya, yang lantas menyerbu buah jambu milik Janggan. Setelah kenyang menyantap buah jambu, rombongan kelelawar kembali ke diri Angrok juga lewat ubun-ubunnya manakala ia masih tertidur lelap.

Pagi harinya, betapa terkejut hati Janggan demi melihat sisa jambu berserakan — biasanya codot hanya memakan bagian ujung jambu, di bagian yang telah matang dan enak, separo dibawahnya dibuang — pertanda ada pesta pora semalaman. Kejadian yang demikian belum pernah sekalipun berlangsung sebelumnya. Oleh sebab itu muncul syakwasangka bahwa pencuri jambunya adalah murid barunya, yakni Angrok. Tentu saja Angrok tak mengakui tuduhan itu, sebab semalaman ia lelap tidur. Namun Janggan tetap menjatuhkan sangsi kepadanya. Angrok dilarang untuk tidur di dalam pondok — tipe pondok kuni tanpa dinding penutup,. Oleh karena itu, Angrok tidur di atas tumpukan jerami kering untuk pembuatan atap.

Janggan baru menyadari kesalahan tuduhannya di tengah malam berikutnya. Pada tengah malam secara diam-diam guru Janggan ke luar rumah memantau jejadian guna mencari bukti bagi tuduhannya. Janggan heran tatkala melihat sesuatu yang bernyala (bercahaya terang) dari tumpukan jerami kering, yang dukiranya tengah terbakar. Rupa-rupanya, yang bernyala itu adalah sosok Angrok. Lebih heran lagi ketika saksikan kelawar berduyun- duyun keluar dari ubun-ubun Angrok menyerbu buah jambunys. Bukan sosok fisik dari Angrok yang mencuri jambu, namun “keinginannya” yang berwujud codot tatkala berada di alam bawah sadar (tidur)”. Dengan fakta ini, Janggan persilahkan Angrok pada malam berikutnya untuk tidur kembali di dalam pondok, bahkan kelak diizinkan makan jambu sepuas-puasnya ketika telah benar-benar masak.

3. Contoh Kasus Ketiga

Peristiwa pencurian lainnya yang dilakukan oleh Angrok adalah ketika ia dalam persembunyian di Desa Luki guna menghindari kejaran tentara Akuwu Tunggul Ametung. Dalam kondisi amat lapar, terpaksa Angrok mencuri dan menyantap makanan kiriman (dalam istilah kini “ransum”) yang dikirim oleh istri petani dalam tabung bambu kepada suaminya yang tengah bekerja di sawah. Tidak seperti biasa, ketika pak tani hendak menyantap makanan kiriman yang ditaruh di pondok ladang didapati habis isinya. Nampaknya, diam-diam ada yang mencuri dan memakannya. Kejadian berulang di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, pak tani pun melakukan pengawasan untuk bisa menangkap basah pelaku pencurian. Akhirya berhasil, Ken Angrok tertangkap basah sebagai pencurinya. Namun uniknya, pak tani tidak memberi sangsi kepada si pencuri, sebaliknya justru meminta istrinya agar hari berikutnya membawa makan dua porsi dengan maksud yang seporsi diberikan buat Angrok yang memang kelaparan dan terpaksa mencuri makanan milik orang lain.

4. Contoh Kasus Keempat

Pencurian lain dilakukan oleh Ken Angrok di Desa Pamalanten. Lantaran ketahuan, maka Angrok melarikan diri dan dikejar warga. Menyadari dirinya terpepet dan takut tertangkap karena di mukanya mengalir sungai, maka Angrok pun memanjat pohon kelapa. Warga mengetahui dan mengepungnya di bawah pohon .Angrok yang telah berada di penghujung atas pohon kelapa diultimatum untuk turun, bila tidak mau maka pohon kelapa bakal ditebang. Mendengar ada ancaman ini, maka Angrok pun ketakutan, dan memohon Dewata untuk menolongnya. Meski Dewata beri perlindungan dengan meminta warga untuk tidak menangkap Angrok yang diakui sebagai “anakNya”, namun warga tetap bersikeras untuk menebang pohon kelapa. Ken Angrok tak kurang akal, diambilnya dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan semacam “media luncur” agar dapat menyeberangi sungai.

Sebenarnya masih ada kisah-kusah pencurian lain dalam kitab Pararaton, yang agar tak terlalu panjang, maka tidak seluruhnya dipaparkan pada tulisan ini. Misalnya, kisah “pencurian terhadap perempuan” yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung yang “membawa lari Ken Dedes untuk dinikahi” ketika ayahnya (pu Purwa) tengah tak ada di rumah. Lantaran pelakunya adalah “sang Akuwu”, pejabat tinggi di Tumapel, maka tindak pencurian (kawin lari) ini tidak tersentuh hukum.

B. Kasus Hukum Kisah Pencurian dalan Pararaton

Pada contoh kasus pertama, jika pun benar bahwa Angrok menggelapkan (dengan menjual secara diam-diam) sepasang kerbau milik tuha Desa …………. yang digembalakannya, pelaku kejahatan ini masih “dibawah umur”, sebab kala itu Angrok masih seusia “anak gembala”, yaitu remaja kecil. Selain itu, kurang cukup bukti untuk menetapkan bocah Angrok sebagai pelaku. Bisa jadi, lenyapnya sepasang kerbau itu dicuri orang, mengingat penggembalanya adalah anak kecil. Meski demikian, secara sepihak pemilik kerbau menuntut ganti rugi kepada orang tua Angrok, yang dalam hal ini adalah ayah angkatnya (“si pencuri” Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok). Terpaksa kedua orang tuanya beri ganti rugi meski amat berat untuk ukuran ekonomi mereka. Lantaran tuduhan itu, si kecil Angrok yang ketakutan terpaksa lari dari rumah dan menggelandang hingga akhirnya ditemukan dan diambil anak angkat oleh “si penjudi (bobotoh)” Bangosamparan.

Pada contoh kasus kedua tergambar bahwa pangkal tindak kejahatan, termasuk pencurian, adalah “pikiran”. Hal ini tergambar pada kekelawar-kelelawar pencuri jambu yang keluar dari ubun-ubun Ken Angrok. Selain itu, diperoleh ilustrasi bahwa tindak pencurian bisa terjadi manakala ada “iming-iming kuat” untuk mencuri. Pohon jambu yang tengah berbuah lebat dan nyaris matang adalah suatu kondisi yang “menggiurkan” bagi Ken Angrok untuk menyantap buah-buah jambunya. Meski ada keinginan kuat, namun lantaran terdapat aturan ketat dan tegas, dimana posisi seseorang musti patuh, maka keinginan yang tak sesuai dengan aturan itu mustilah ditekan sedemikian rupa hingga tak jadi dilakukan.

Dalam kisah ini, betapa pun Ken Angrok tergiur untuk memakan jambu miilik guru Janggan, lantaran sang Guru melarang keras untuk memetiknya sebelum benar-benar masak, maka dalam “alam sadarnya” Angrok tidak berani mengambil jambu. Namun, ketika ia berada “dibawah sadar (tertidur)”, tindakkan tersebut dilakukannya. Tindak kejahatan pencurian bisa berada dalam “tarik-ulur” antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang. Sebagai anak muda, Angrok bisa kendalikan alam sadarnya, namun alam bawah sadarnya ternya beda sikap dan tindakan.

Pada kasus ini, mulanya Janggan melakukan “syakwasangka”, yakni penuduhan yang kurang cukup bukti terhadap Angrok yang disabgkakan sebagai pelaku pencurian jambu, bahkan dijatuhi sangsi dengan dilarang tidur di dalam pondok. Namun, sebagai orang bijak (guru), Janggan pun mencari bukti untuk tuduhannya yang ia sadari kurang cukup bukti. Setelah melakukan telisik diam-diam pada tengah malam, diketahui sendiri (diperoleh fakta) bahwa pelaku pencurian bukan sosok fisik Angrok, melainkan non-fisiknya, yakni pikirannya, keinginannya. Baginya, pikiran tak bisa dikenai sangsi. Oleh karena itu, Janggan mencabut sangsi yang telah dijatuhkan sehari sebelumnya kepada Angrok, dengan persilahkan muridnya ini kembali boleh bermalam di dalam pondok. Bahkan, ketika jambu-jambuu telah benar-benar masak, Angrok diberi kesempatan untuk memakannya sepuas-puasnya.

Pada contoh kasus ketiga, tindak pencurian bisa dilakukan ketika seseorang di dalam kondisi terpepet, tak ada pilihan. Tindakkan Angrok mencuri ransum milik petani dilakukan karena ia tak kuasa menahan rasa lapar sebagai orang yang dalam persembunyian dari pengejaran. Pencuri makanan tentulah orang lapar. Angrok tertangkap basah ketika tengah mencuri ransum berkat pemantauan cermat dari petani terhadap pelaku tindak kejahatan. Petani yang memahami bahwa pelaku pencurian itu adalah orang yang terpaksa karena kondisi sulit (dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “kesrajat”), maka ia tidak menjatuhkan sangsi kepada Angrok yang menjadi pelaku pencurian terhadap makanannya. Bahkan sebaliknya, pada hari-hari berikutnya Angrok mendapat bantuan makan darinya. Dengan memenuhi kebutan mendesak dari pelaku kejahatan, maka pelaku terhindar dari tindakkan mengulangi kejahatannya.

Pada contoh kasus ke empat tergambar bahwa pada suatu waktu pelaku tindak kejahatan harus melarikan diri agar terhindar dari penangkapan. Namun, ibarat “sepanda-pandainys tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, Angkrok pun terpepet dalam pengejaran, karena pelariannya terhalang alran sungai. Ketika terdesak demikian, kadang pelaku kejahatan melakukan tindakan naif, seperti ketika Angrok memanjat pohon kelapa, yang tindakannya ini ketahuan warga yang mengejarnya. Ketika pengejarnya mengultimatum untuk memotong pohon kelapa yang fipanjati Angrok untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, tak terelakkan bahwa orang pemberani sekaliber Angrok pun ternyata ketakutan juga. Bahkan, Angrok memohon agar Dewata memberi perlindungan keselamatan. Hal lain yang tergambar dalam contoh kasus ini, dalam kondisi paling terpepet, masih saja ada akal pelaku kejahatan untuk dapat lolos dari penangkapan. Langkah cerdik Angrok dalam hal ini adalah segera mengambil dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan media bantu luncur guna menyeberangi sungai untuk terhindar dari pengejaran dan penangkapan.

C. Refleksi Historis atas Tindak Korupsi

Tindak pencurian, yang antara lain berwujud “korupsi” terdapat kapanpun dan dimabapun. Dalam sejarah Nusantara, sebagian etape hidup Angrok oleh Paparaton dikisahkan sebagai ‘pencuri (maling,)”. Berdarkan studi kasus dengan menelaah beberapa penggal mudahnya, diperoleh catatan-catatan sejarah penting untuk direnungi bersama, yaitu sebagai berikut:
1. Tindak kejahatan, termasuk pencurian dalam wujud korupsi berpangkal pada “pikiran yang korup”. Oleh karena itu, pemberantasan terhadap korupsi mencukup pula pemberantasan terhadap pikiran korup, yang perlu dilakukan dengan pembinaan mebtakuta.

2. Kondisi yang menggiurkan, termasuk adanya celah (kesempatan), menyediakan peluang untuk melakukab tindak jejahatan korupsi di waktu yang perhitungkan “aman” oleh pelaku untuk ttidak ketahuan (tertangkap).

3. Tindak kejahatan pencurian, termasuk juga korupsi, bisa terjadi lantaran si pelaku dalam kondisi terpepet, terlebih bila ia merasa tidak ada pilihan lain. Dalam kasus demikian, pemberian “kecukupan” dapat menghindarkan orang dari tindak kejahatan korupsi — meski tak ada jaminan untuk itu.

4. Terhadap tindak pencurian, termasuk juga korupsi, perlu menghindarkan terhadap tuduhan buta, syakwasangja, dan keburu jatuhkan sangsi padahal sesungguhnya kurang cukup bukti. Oleh karena itu, fajta-fakta hukum perlu menjadi unsur pembukti untuk menetapkan seseorang sebagai pencuri ataupun koruptor. Demikian pula tingkat sangsi atas perbuatannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seseorang diposisikan sebagai “salah tuduh” dan “terdera sangsi padahal dirinya bukan pelaku sesungguhnya atas suatu kejahatan”.

5. Walaupun jelas-jelas terbukti sebagai pelaku pencurian ataupun koruptor, sentiasa pelaku berupaya melarikan diri dan terhindar dari penangkapan. Jikalau terdesaj, maka terkadang dilakukan tindakan penyelamatan diri yang terkesan naif. Kalaupun sebelumnya pelaku merasa sebagai orang kuat, pemberani dan nyaris tak tersentuh hukum, namun ketika ada bukti kuat atas pelsku kejahatan dan berada dalam posisi amat terdesak, maka muncul rasa pengakuan atas ketidak berdayaannya untuk bisa lolos dari jerat hukum. Bahkan untuk itu. Ia memohon pertolongan dari pihak lain.

6. Dalam kasus tertentu atas tindak pencurian ataupun korupsi, bisa jadi ada “orang kuat” yang mampu mengkondidokan dirinya sebagai nyaris tak tersentuh oleh hukum meski terbukti jelas tindakkannya.

Demikian beberapa catatan yang disarikan dari contoh-contoh kasus hustoris di atas untuk ditransformasikan guna menelaah fenomena korupsi di masa sekarang. Semoga telaah yang mirip dengan “parodi historis” ini dapat memberi keteladanan untuk terhindar dari tindak kejahatan pencurian, termasuk varian wujudnya yang berupa tindakkan korupsi. Amin. Nuwun.

Continue Reading

JAMAN KUNO

RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Avatar

Published

on

 

Menuju ‘BAHANA BADUT’, 8-9-2017
Bagian ke-2

CENDELA PEMBUKA KABAR EKOLOGI-RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Arca Agastya Berbahan Cendana

Salah sebuah sekte pada Hinduisme yang terbilang dominan pada Sejarah Nusantara Masa Hindu-Buddha (awal hingga abad XVI Masehi) adalah Hindu-Saiwa. Pada sekte ini, meski Agastya bukan dewa – melainkan seorang maharsi, yakni satu diantara tujuh rsi (saptarsi) utama pebhakta Siwa, namun arca-arcanya hampir senantiasa kedapatan pada relung/bilik sisi selatan tubuh candi Hindu-Saiwa. Agastya diposisikan semacam ‘wakil’ dari Dewa Siwa di Dunia. Sejauh telah diketemukan, kebanyakkan arca-arca Agastya dibuat dari batu kali (andesit). Bahan lain yang juga dipergunakan untuk membuatannya adalah perunggu, khususnya untuk arca berukuran kecil hingga sedang, yang karenanya ukuran dan bahannya itu maka arca Agastya dari perunggu bersifat mobile. Selain kedua bahan itu, konon kayu cendana juga dipakai sebagai bahan pembuatan arca Agastya. Bukti tentang itu tidak atau belum diperoleh bentuk artefaktual, namun didapati informasinya dalam sumber data tekstual.

Adalah Prasasti Kanjuruhan (disebut juga dengan ‘prasasti Dinoyo I’) bertarikh 21 Nopember 760, yang menyebut informasi mengenai penggantian arca Agastya dari kayu cendana yang telah rusak dengan arca serupa namun dibuat dari ‘batu hitam’ – kenungkinan menunjuk kepada batu andesit, yang berwarna abuu-abu kehitaman. Penggantian dilakukan atas perintah dari Gajayana, yakni raja ke-2 di kerajaan Kanjuruhan. Menurut prasasti Kanjuruhan, yang didalamnya memuat silsilah atau urutan tiga raja berturut-turut seketurunan, Gajayana adalah putera dari Dewasingha. Sangat boleh jadi, Dewasingha adalah penguasa pertama di Kanuruhan, yang pertama kali bersentuhan dengan pengaruh agama dan budaya India.

Arca Agastya dari cendana tersebut karenanya dibuat semasa dengan pemeritahan Dewasingha, yang ketika memasuki pemerintahan Gajayana kondisinya telah rusak dan karenanya diganti dengan arca serupa dari bahan yang lebih tahan usia, yakni batu hitam (batu andesit). Sayang sekali arca Agastya dari batu andesit yang semestiya konon ditempatkan di relung sisi selatan candi induk Badut tersebut tidak diketemukan, sehingga bagaimana bentuk dan gaya pahatannya tak diketahui. Arca Agastya dari Candi Gasek, yang terletak di dekat (sekitar 400 m di utara lokasi Candi Badut), dapat dijadikan sebagai ‘arca pembanding’ yang relatif sezaman.

Apabila benar arca Agastya dari kayu cendana tersebut berasal dari era pemerintahan Dewasingha, berarti lebih awal dari Candi Badut (baca ‘pra Era Badut’). Candi yang berlatar agama Hindu sekte Saiwa ini rampung dibangun pada era pemerintahan Gajayana, yang momentum purna bangunnya dibadikan secara literal dalam pasasti batu (linggoprasasti) Kanjuruhan (760 Masehi). Terbayang bahwa sebelum dibangun Candi Badut, di tempat yang sama pada DAS kali suci Metro, yang pada areal sekitar Candi Badut arah alirannya berbentuk meander, pernah terdapat bangunan suci (baca ‘candi’) yang secara khusus digunakan sebagai tempat pemujaan Maharsi Agastya (Agastyapuja). Candi yang bisa jadi berukuran lebih kecil dan lebih bersahaja daripada Candi Badut ini kemudian direnovasi oleh Gajayana dengan memperluas areal upacaranya; memperbesar, memperkompleks, dan memperindah arsitekturnya dengan gaya arsitektur dan ikonografi India; serta meningkatkan fungsi religisnya dari Agastyapuja menjadi Siwapuja. Dengan demikian, Candi Badut yang berasal dari era pemerintahan Gajayana itu bukanlah candi tertua di DAS Metro, sebab lebih awal darinya terdapat candi buat Agastyapuja yang berasal dari era pemerintahan Dewasingha. Meski demikian, kedua bangunan suci ini dapat dibilang sebagai candi-candi tertua – bukan hanya tertua di Malang Raya, namun lebih dari itu tertua pula di Jawa Timur.

Selain dalam Prasasti Kanjuruhan, perihal cendana juga diperoleh pemberitaannya dalam sumber data susastra Masa Hindu-Buddha. Kata ‘cendana’ di dalam Bahasa Indonesia diserap dari Bahasa Sanskreta ‘candana’, yang menunjuk kepada: cendana, pohon (berbagai jenis Santalium), kayunya yang kuning dipakai untuk pembuatan dupa dan wangi-wangian (Zoetmulder, 1995:157). Susastra yang menyebutnya antara lain Agastyaparwa (357), Wrehaspatitattwa (33, 38), Ramayana (3.23, 9.16, 21.99), Arjunawiwaha (1.13), Bharayuddha, Tantri Kamandaka (56), Korawasrama (90). Dengan disebutnya candana pada kakawin Ramayana, diperoleh petunjuk bahwa pada abad IX Masehi cendana telah dikenal di Jawa, baik sebagai tanaman ataupun poduk olahan kayunya.

Keterangan di dalam prasasti Kanjuruhan tersebut sangat penting dan menarik karena berapa hal. Pertama, konon di Nusantara pada Masa Hindu-Buddha pernah terdapat arca dewata yang dibuat dari kayu terpilih, yang dalam konteks ini adalah kayu cendana. Kedua, arca Agastya dari cendana yang diberitakan oleh prasasti Kanjuruhan adalah arca dewata Hindu yang amat tua, bahkan cukup alasan untuk menyatakankannya sebagai arca Hindu tertua di Jawa Timur. Tentunya, kala itu juga terdapat arca dewa-dewa lainnya yang dibuat dari bahan kayu. Namun, seiring dengan perjalanan panjang usianya, arca kayu itu mengalami kemusnahan dalam menghadapi pengaruh iklim tropis. Arca dewata dari bahan kayu dengan demikian memiliki akar sejarah panjang di Nusantara. Akar tradisinya diperkuat oleh adanya arca-arca ‘dewa lokal’ dan arca perwujudan arwah nenek moyang dari agama non Hindu-Buddha yang terbukti cukup banyak didapati pada berbagai etnik di penjuru pedalaman Indonesia.

B. Kayu Cendana Lokal Malang

Apabila berbicara tentang daerah produsen kayu cendana di Indonesia, telunjuk orang cenderung tertuju kepada Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor. Meskipun sekarang juga ditemukan di Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara. Jika merujuk keterangan dalam prasasti Kanjuruhan diatas, keberadaan arca Agastya dari kayu cendana itu dapat dijadikan sebagai petunjuk menganai kayu cendana di daerah Malang pada awal abad VIII Masehi. Boleh jadi, kayu cendana yang dijadikan bahan pembuat arca Agastya tersebut tidak didatangkan dari NTT, namun kayu cendana lokal. Kenderaannya di kawasan Malang (baca ‘Malangraya’), khususnya Malang bagian barat pada DAS Metro dan DAS Brantas maupun lembah diantaranya terdukung oleh data tiponimis maupun kebiasaan penggunaan kayu cendana lokal oleh warga masarakat di daerah itu.

Setidaknya, di daerah Batu terdapat dua tempat yang memilii toponimi berunsur nama ‘cendana’, yaitu; (1) Gunung (Bukit) Cendono, yakni satu diantara dua Gunung Sepikul (terdiri atas dua bukit bersebelahan: Gunung Wukir dan Gunung Cendono) pada sub-DAS Hulu Brantas; dan (2) Jurang Cendono, yaitu lembah dalam yang menjadi demarkasi antara Desa Pendem dan Desa Dadaprejo, yang sekaligus merupakan mata air (tuk) Kali Braholo. Pada kedua tenpat itu, sisa kayu cendana masih didapati, meski sangat jarang dan nyaris punah. Menurut informasi warga Desa Dadaprejo, misalnya Suparto (60 tahun asal Dusun Karangmloko Desa Dadaprejo), hingga tahun 1980-an ada kebiasaan membakar serpihan kulit kayu cendana di bawah keranda mayat manakala ada kematian. Konon warga di sekitar Jurang Cendono itu punya kebiasaan untuk mengeringkan serpih-serpihan kulit kayu cendana dan membakarnya sebagai pengharum ruang atau menempatkan akar-akar kayu cendana kering di dalam almari sebagai memberi aroma harum pakaian. Ada pula yang membuat minyak harum dari kayu cendana. Memang, cendana atau cendana wangi khususnya merupakan penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya biasa digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Bahkan, bila kayunya tergolong sebagai baik, bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini dipergunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat itu, cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Kayu cendana wangi (Santalum Album) kini amat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari Mysoram (India Selatan) dianggap paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Pulau Timor sangat dihargai. Sebagai pengantinya, sejumlah pakar aromaterapi dan parfum mulai menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda. Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk tujuan penyembuhan. Ditinjau dari Bahasa Belanda (sandelhout) dan Bahasa Inggris(sandalwood), kayu cendana diyakini berasal dari NTT, khususnya dari Pulau Sumba. Hal ini dapat dilihat dari julukan Pulau Sumba, yakni Sandalwood Island. Julukan ini dibawa turun temurun dari zaman penjajahan Jepang dan Belanda hingga kini.

Pohon cendana (Santalum Albul Linn) mempunyai dua jenis, yaitu: (1) kayu cendana merah, dan (2) kayu cendana putih. Mutu kayu cendana merah tak sebaik kayu cendana putih, namun kurang diminati di pasaran. Kayu cendana merah banyak tumbuh di India dan Funan, adapun cendana putih banyak tumbuh di NTT. Walau tumbuhan parasit, cendana bisa tumbuh dengan ketinggian 11-15 meter, dan termasuk pohon besar dengan diameter batang bisa mencapai 25-30 cm. Pohon cendana memiliki berbagai manfaatm baik dari segi ekonomis maupun kesehatan. Bahkan, ada yang menganggap kayu cendana memiliki tuah. Beberapa manfaat kayu cendana adalah sebagai: (a) batang kayu cendana yang kokoh dan besar dapat dipergunakan sebagai bahan baku furniture dan meubel, dengan kualitas kayu yang sangat baik; (b) bahan baku kerajinan tangan, khususnya hiasan seperti rangka keris, kipas, ukiran, tasbih (aksamala); (c) simbol prestise, lantaran kualitas kayunya tinggi, proses budidayanya sulit, sehingga harganya tinggi; (d) kulit kayu dan minyak cendana bisa dijadikan bahan obat herbal yang berkaisiat anti peradangan, mencegah disentri, dan gangguan pencernaan, serta pembersih ketika menstruasi; (e) bahan parfum dan wangi-wangian, khususnya cendana putih dengan kewangiannya yang baik, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai campuran parfum, bahan pembuatan dupa, aromaterapi, dan balsam; (f) minyak cendana dipercaya dapat mengendalikan stress dan kecemasan, lantaran mempunyai efek alamiah anti depressant; (g) perlancar buang air kecil (ekskresi), lantaran minyak cendana mampu menekan rasa sakit ketika tubuh melakukan ekskresi; (h) minyak cendana bisa digunakan sebagai antiseptik dan antimikroba, sehingga bermanfaat bagi ketahanan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sulit terinfeksi bakteri, mikroba, dan virus berbahaya; (i) salah satu zat pemberi efek kecantikan tubuh, khususnya untuk menghilangkan noda hitam di kulit, mencegah munculnya jerawat, mengatasi dan menghilangkan minyak pada kulit.

Dasar pertimbangan dipergunakannya kayu cendana sebagai bahan pembuat arca Agastya tersebut bukan sekedar karena harum bau kayunya, namun harum kayu cendana diyakini sebagai media yang tepat untuk membawa orang untuk lebih dekat dengan dewata. Menilik bahwa Dewasingha adalah penguasa lokal Malang yang pertama mendapat pengaruh budaya Hindu (awal abad VIII), dimana terdapat indikator adanya pengaruh India Selatan, sangat mungkin arca Agastya berbahan kayu cendana itu didatangkan dari India Selatan. Indikator pengaruh India Selatan itu antara lain tampak pada penggunaan tarikh Saka, aksara Jawa Kuna yang adalah adaptasi dari aksara Pallawa, dan adanya Agastyapuja. Bagi warga India Tengah dan Selatan, Agastya dipandang sebagai ‘the culture hero’, yang berperan besar dalam melakukan siar Hindu ke bagian tengah dan selatan India, Begitu pula bagi warga di Asia Tenggara – termasuk di kepulauan Indonesia, Agastya mendapat tempat istimewa berkat jasanya dalam mendifusikan pengaruh Hindu ke seberang Indiaraya. Peran budayanya itu dapat dibandingkan dengan Ajisaka. Oleh karena itu, dapat difahami bila pada tahap awal (masa pertumbuhan) pengaruh Hindu di Nusantara, terdapat pemujaan khusus pada Agastya (Agastyapuja), sebagaimaa antara lain disiratkan dalam Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi).

Kala itu, bukan hanya arca kayu cendana yang didatangkan ke daerah Malangr, namun boleh jadi bibit kayu cendana juga dibawa untuk disemaikan di daerah ini. Apabila benar demikian, tanaman cendana yang konon banyak tumbuh di bagian barat Malang dan sisa-sisanya masih didapati pada dua tempat yang memiliki unsur toponimis ‘cendana’ tersebut kemungkinan asal tanamannya dari India Selatan. Di luar Malang, hingga tahun 1980-an patung-patung kayu cendana dibuat oleh para pekriya kayu di Pulau Dewata (Bali), khususnya untuk patung dewa-dewi. Di lingkungan Kristiani, patung Bunda Maria pun ada yang dibuat dari kayu cendana. Begitu pula, tak sedikit patung dewata agama Konghucu yang dibuat dari kayu cedana atau kayu harum dan berkualitas lainnya.

C. Reboisasi Khusus Pohon Cendana di Malangraya

Kawasan Malangraya, khususnya Malang Barat di daerah Batu, baik pada sub-DAS Hulu Metro dan Brantas maupun lembah diantaranya konon merupakan habitat pohon cendana. Nama ‘Jurang Cendono” dan “Bukit Cendno’ menjadi petunjuk kuat tentang itu. Demikian juga kesaksian warga Dadaprejo yang mencari kayu cendana di Jurang Cendono dan memanfaatkannya untuk sejumlah keperluan adalah kenyataan menganai keberadaan tanaman cendana di Malangraya pada beberapa dasawarsa lalu. Mengingat kelangkaannya sekarang, beragam manfaat kayu dan minyak cendana, sertaharganya yang terbilang tinggi, cukup alasan bagi daerah-daerah di Malangraya, khususnya Kota Batu untuk menggalang gerakan reboisasi khusus pembudidayaan tanaman cendana. Bukit Cendana dan Jurang Cendana bisa dipilih sebagai lokasi awal untuk pilot projek ini, yang nantinya diperluas ke tenpat-tempat lain.

Kepemilikan sejumlah daerah di Jawa akan pohon cendana menjadi alasan untuk menyatakan bahwa produk rempah-rempah bukan hanya kedapatan di Indonesia Timur, namun terdapat juga di Jawa untuk tanaman khusus seperti kayu cendana, lada, merica, cengkeh, adas-polowaras, dsb. Dengan perkataan lain, Jawa layak dimasukkan ke dalam ‘Jalur Rempah Nusantara’, baik sebagai produsen maupun sebagai pelabuhan transit. Dalam kaitan itu Malangraya memiliki kontribusi kerampahan, khususnya untuk tanaman cendana. Bagi kota Batu, cendana dapat dipertimbangkan sebagai ikon tanaman – selain apel, dan mempertimbangkan pembuatan ikon arca Ganesya – dengan model arca Genesya di Torongrejo – dari bahan kayu cendana untuk ditempatkan pada hall depan Block Office ‘Amongtani’. Bersamaan dengan itu, reboisasi khusus berupa penanaman kembali pohon cendana musti segera dimulai.

Demikianlah, sekilas informasi tentang keberadaan arca Agastya dari kayu cendana dapat dijaikan semacam ‘cendela pembuka berita’ mengenai reliegio-ekologis yang berkenaan dengan tanaman cendana di Malangraya dalam lintas masa. Semaga tulisan ringkas yang bersahaja ini bisa membuahkan kefaedahan. Nuwun.

Sengkaling, 6 Sepetember 2017,
PATEMBAYAN CITRALELHA

 

Continue Reading

JAMAN KUNO

PERBANDINGAN PESAN PERIBAHASA ‘MBURU UCENG KELANGAN DELEG’ DAN RELIEF PEMBURU AMBISIUS DALAM CERITA TANTRI

Avatar

Published

on

 

A. Peribahasa ‘Mburu Uceng Kelangan Deleg’

Peribahasa Jawa ‘mburu uceng kelangan deleg’ bermakna lantaran cenderung mengejar atau mengurusi hal-hal kecil (remeh), maka kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil besar. Kalimat sindiran ini berkenaan dengan sikap dan tindakan bodoh, lantaran tidak didasari kalkulasi strategis atau kurang mampu memperhitungkan urgensi. Orang demikian sulit menjadi orang besar, karena terjebak pada hal-hal sepele, remeh, tidak urgen, dan kurang strtegis. Sementara terhadap hal-hal yang sesunggunya lebih memberi peluang bagi perolehan keuntungan yang lebih besar, justru diabaikan atau ditinggalkannya.

Uceng dan deleg adalah nama-nama ikan air tawar (iwak kali). Sebutan ‘uceng’ diberikan kepada ikan kecil, seukuran jari kelingking atau lebih kecil lagi, mirip anakan belut yang kecil-memanjang dan biasanya hidup di arus deras. Oleh karena kecil dan berada di arus deras, maka tidak mudah ditangkap dengan tangan telanjang. Pada dasawarsa terakhir, ikan uceng menjadi kuliner khas di Kabupaten Blitar, khususya di daeah Wlingi dan sekitarnya, yang digoreng untuk dijadikan lauk dengan kelengkapan sajian sambal uleg dan lalapan. Kuliner khas ini menjadi pesaing bagi ikan sungai wader, yang populer pada sekitar Bendungan Selorejo di Ngantang Kabupaten Malang. Sedangkan ‘deleg’ merupakan sebutan bagi ikan sungai yang cukup besar, yang kurang gesit dalam gerak, sehingga mudah ditangkap. Dalam peribahasa tersebut, uceng digunakan sebagai perumpamaan untuk hal-hal kecil yang cenderung diurusi (ditangani)nya. Adapun deleg adalah perumpamaan untuk kesempatan atau perolehan besar justru lepas perhatian.

Bisa juga uceng-deleg diartikan dengan sumbu (unceng, uceng-uceng) dan lampu minyak kuno (deleg). Dalam arti ini, peribahasa itu bisa dimaknai dengan keinginan yang menyala-nyala (diumpamakan dengan ‘uceng’), namun tanpa disertai dengan fasilitas (diumpakan dengan ‘deleg’) yang memadai. Atau boleh juga dimaknai dengan sarana (diumpamakan dengan ‘uceng’) tanpa prasarana (diumpamakan dengan ‘deleg’). Akibatnya, tidak membuagkan fungsi nyata, sebab keduanya adalah komponen dalam sebuah sistem, yang masing-masing musti ada dan saling mengkontribusikan fungsinya.

Berkebalikkan dengan itu adalah sikap dan tindakkan yang ambisius, terlampau tergiur pada hal-hal besar yang padahal belum tentu bisa diraihnya. Sementara hal kecil yang bisa didapat atau bahkan riil telah diperolehnya dikesampingkan atau diabaikan. Hal demikian acap dihadapi seseorang dalam kehidupan nyata, utamanya ketika dihadapkan pada sesuatu yang menggiurkan minat, sehingga mengundang ambisinya untuk dapat meraihnya. Padahal, yang mempesona itu jauh dari kemungkinan untuk bisa didapat, lantaran kapasitas dirinya terbatas. Akibatnya, hal kecil yang memungkinkan atau bahkan telah diperoleh diabaikan, sementara hal besar yang diidamkan tak mungkin dicapainya, Apabila demikian, maka yang didapatkan hanya ‘cotho (merugi)’ alias tidak memperoleh apa-apa, dan akibatnya cuma bisa ‘deleg-deleg (termnung menyesal)’.

Kedua sikap dan tidakan tersebut disarakan untuk dihindari, kerasa sama-sama tidak menguntungkan. Dalam kalimat peribahasa, tak terkecuali pada paribasan Jawa, binatang acap dijadikan sebagai unsur dalam kalimat peribahasa. Seperti, kalimat ‘gajah di pelupuk mata tidak tampak, kerbau congek, buaya darat, dsb.’. Pilihan untuk menggunakan unsur binatang dalam peribahasa amat boleh jadi karena unik sehingga menggelitik untuk disingkapkan maknanya, familer karena binatang itu berada di lingkungan sekitar, dan karennya diharapkan bakal lebih meresap dalam ingatan. Walaupun binatang dijadikan unsur pembentuk kalimat peribahasa, namun makna yang terkadung di dalamnya ditujukan bagi manusia. Dengan perkataan lain, perilaku spesifik dari binatang atau perlakuan manusia terhadapnya, diharapkan dapat menjadi ‘wahana pendidikan atau petuah’ bagi manusia agar bersikap dan bertindak bijak dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan contoh teladan tersebut.

Hal itu dapat dibandingkan dengan penghadiran binatang-banatang tertentu sebagai ‘tokoh peran’ di dalam cerita binatang (fabel) di penjuru dunia, baik fabel baru maupun fabel kuno. Pada Masa Hindu-Buddha, di Nusantara terdapat fabel asal pengaruh budaya India, yang dikenal dengan cerita ‘Tanti, atau sebutan lengkapnya ‘Tantri Kamandaka’, beserta tradisi dan gubahannya pada masa yang lebih kemudian, semisal cerita ‘Ni Diah Tantri’ di Bali. Pada paparan berikut, hal yang berkebalikan dengan peribahasa itu hendak ditelisik pada salah kisah dalam cerita berbingkai Tantrikamandaka. Telah sejak abad VIII Masehi, sejumlah kisah dalam cerita Tantri visualkan dalam bentuk relief pada candi, partirthan, arca atau media visual lainnya.

B. Deskripsi Relief Pemburu Ambisius dalam Cerita Tantri

Paparan ini hanya menghadirkan dua relief yang memvisulkan kisah dalam Cerita Tantri bertema ‘Pemburu Ambisius’, yang keduanya terdapat di kompleks Candi Penataran, yaitu: (a) yang dipahat pada sisi belakang bagian bawah dari salah sebuah (diantara empat buah) patung dwarapala (penjaga pintu) di depan candi Induk Penataran, dan (b) dinding Patirthan Dalam sisi utara di halaman belakang kompleks Candi Penataran. Relief yang pertama dipahat pada Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi), dan relief yang kedua berasal dari Masa Akhir Majapahit (paro kedua abad XV Masehi). Penghadirnya pada artefak masa lampau itu menjadi pembukti bahwa centa binatang telah dijadikan wahana bagi Pendidikan moral atau petuah bagi perilaku social.

Relief pertama menggambarkan seseorang tengah berjalan dengan tangan kiri membawa tongkat kayu sebagai tangkai pancing (walesan) besar dalam kondisi melengkung menyangga beban berat, karena bagian untuk menggantungkan kura-kura – salah satu kaki belakang kura-kura diikat, dengan kepala ke arah bawah. Tangan kanannya menuding ke depan, ke arah seekor kijang. Kura-kura itu adalah binatang relatif kecil hasil tangkapan riil ynag didapat olehnya, sementara kijang adalah binatang lebih besar yang menggiurkannya untuk bisa ditangkapnya. Apa yang dipahat hanya key schene (kunci adegan), yang bila dipahat dalam beberapa panil, semestinya panil yang berikut mengga,barkan adegan sebagai berikut. Untuk dapat mengejar kijang itu, maka tangkai pancing yang bergantungkan kura-kura hasil tangkapan dilemparkannya. Selanjutnya kura kura terbebas dari tali dan menjebur kembali ke perairan. Sementara, kijang yang diidamkannya tak kuasa untuk didapatkan karena kalah gesit.

Paparan visual yang lebih rinci didapati pada relief kedua, yang dipahatkan ke dalam dua panil. Panil perrama menggambarkan seseorang yang tengah berjalan. Kedua tangannya memegang pangkal tongkat kayu, yang dipikulkan pada pundak kiri. Tongkat dalam kondisi melengkung, karena menahan beban berupa kura-kura hasil tangkapan yang diikatkan di ujung tongkat. Panil kedua menggambarkan sebagai berikut. Orang tersebut berlari mengejar seekor binatang berkaki empat, yang bisa jadi adalag kijang. Tangan kirinya menuding ke depan, ke arah kijang yang juga tengah berlari kencang. Tangan kanannya membawa sesuatu, yang nampaknya digunakan sebagai senjata lempar kepada kijang. Sementara, kura-kura yang telah berhasil ditingkapnya menjebur ke perairan.

C. Kandungan Pesan Moral atau Petuah Sosial

Peribahasa dan relief Cerita Tantri tersebut berasal dari masa yang berlainan. Relief Tantri berasal dari Masa Keemasan dan Akhir Pemerintahan Majapahit, sedangkan peribahasa dari masa sakarang. Begitu pula, binatang yang menjadi unsur penyusun cerita dan kalimat peribahasa berbeda. Pada relief Cerita Tantri binatang yang dihadirkan kura-kura dan kijang, sedangkan pada peribahasa itu adalah ikan uceng dan deleg. Perbedaan lainnya adalah tampilannya, yaitu dalam bentuk relief – sebagai visalisasi dari cerita fabel – dan dalam wujud kalimat peribahasa. Kendatipun keduanya memiliki perbedaan, namun pesan moral dan petuah sosialnya sama, yaitu sikap dan tindakkan yang disarankan untuk tidak dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat..

Tergambar bahwa pesan moral atau nasihat sosial terbuka kemungkinan untuk diekspresikan dengan beragam media. Bisa dengan media visual, namun dapat pula dengan peribahasa. Bisa memperumakan dengan binatang kura-kura dan kijang, dapat pula dengan ikan uceng dan deleg yang beda ukuran (besar dan kecil). Dengan menggunakan media visual, maka esensi pesan lebih mudah ditangkap jika dibandingkan dengan memakai media tekstual/lisan dalam wujud kalimat peribahasa. Kedua media ekspresi yang berlainan itu adalah wahana pemyampai pesan moral atau petuah sosial.

Yang menarik pada media visual tersebut adalah keberadaannya di kompleks bangunan suci. Yang memberi kesan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya diposisikan sebagai ‘hal yang penting’. Demikianlah, komleks Candi Penataran sebagai bangunan suci bukan semata wahana religis untuk berhubungan Dewata, namun pernak-pernik yang terdapat di dalamnya – antara lain relief – juga mengemban fungsi sebagai wahana sosial, yaitu memuat pesan moral atau petuah sosial bagi para peziarah untuk senantiasa bijak dalam berperilaku di masuarakat. Semoga tulisan ini membuahkan kefaedahan. Salam budaya ‘Nusantarajayati’. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 22 Juni 2017

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019