Makalah Pemandu FGD yang akan diselenggarakan oleh DKP Kota Malang

REDESAIN PATUNG DUPLIKATIF KEN DEDES PADA TAMAN KOTA DI ARJOSARI DAN TAMAN ALON-ALON BUNDER

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Dasar Pertimbangan

Sesuai dengan TUPOKSI-nya, DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Kota Malang melakukan; (a) perencanaan, (b) pembangunan, serta (e) perawatan taman-taman kota (city parks atau city gardens) di wilayah Kota Malang. Menilik jumlah, persebaran dan kesungguhan dalam penanganan taman kota, cukup alasan untuk mempredikati Kota Malang sebagai ‘Kota Taman’. Sesungguhnya, tanggungjawab terhadap penanganan taman kota bukan semata berada di pundak DKP, namun merupakan tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat sesuai dengan porsi perannya masing-masing. Warga masyarakat seyogyanya turut aktif dalam memelihara kebersihan dan syukur apabila tergerak untuk turut merawatnya. Bukan hanya itu, di satu pihak terbuka kemungkinan bagi warga masyarakat untuk turut mengkritisi kemasan/desain, penataan dan pemfungsian taman kota. Terkait itu, di pihak lain DKP diharapkan terbuka untuk menerima kritik, saran dan solusi bijak terhadap taman-taman kota yang hendak atau yang telah dibangunnya.

Sinergi yang demikian antara lain tergambar di dalam FGD (Focus Group Discusion) yang diselenggarakan pada saat ini, dimana DKP berinisiatif serta berbuat untuk mengundang pakar dan para peduli Taman Kota untuk kemungkinan ‘pengemasan ulang (redesain)’ Taman Ken Dedes dan rencana meredesain pagar Alon-alon Bunder. Pada kesempatan ini, atau pada kesempatan lain, kegiatan serupa tepat pula diarahkan pada taman-taman yang lain. Dengan cara demikian, diharapkan dapat terhindarkan ‘blunder’ dari niatan baik dan upaya sungguh-sungguh yang dilakukan oleh DKP Kota Malang. Tak diragukan bahwa niat baik DKP Kota Malang adalah untuk memperindah maupun membermaknakan taman kota, yakni penyediaan taman kota yang indah dan memiliki ragam manfaat (rekreatif, ekologis, edukatif, ekonomik, dsb.). Namun, tak bisa pula dipungkiri bahwa lantaran kekurangpahaman DKP dalam hal-hal tertentu, penanganan terhadap suatu taman kota bisa mengundang polemik bahkan reaksi dari para kritisi dan peduli taman kota yang juga memiliki niatan baik – bukan sekedar ‘cerewet’, melainkan ‘care’.

Lewat FGD ini, dimana masing-masing pihak ‘saling memberi dan menerima’, niatan baik dan kesungguhan DKP dapat dikomunikasikan dan difahami oleh khalayak. Pada sisi lain, khalayak berkesempatan untuk memahamkan DKP mengenai hal-hal tertentu yang kurang difahami atau mungkin lepas perhatian dalam pendesainan, penataan dan pemfungsian taman kota. Semoga tradisi dialogis demikian bakal berlanjut pada waktu-waktu mendatang, sehingga friksi dapat dihindarkan dan kesefahaman bisa tercipta. Intinya, mari membangun, memelihara dan memanfaatkan taman kota di wlayah Kota Malang secara bersama ‘dari kita, oleh kita, dan untuk kita’.

B. Redesain Taman Ken Dedes di Arjosari

  1. Ibarat ‘Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga’

 Sebutan ‘Taman Ken Dedes’ didasari oleh adanya patung duplikat Ken Dedes dalam ukuran amat besar (± t = 8 m) di sisi timur koridor jalan pada ‘mulut’ Kota Malang, tepatnya di Kelurahan Arjosari. Arca ini bukan arfefak asli sebagai arca perwujudan Ken Dedes sebagai Prajanaparamita. Kendati hanya duplikat, namun keberadaannya di Kota Malang memiliki arti penting: (1) Ken Dedes merupakan ‘ikon tokoh sejarah’ bagi Malang Raya; (2) lantaran arca asli pewujudan Ken Dedes konon berada di Leiden Negeri Belanda dan lantas direlokasikan ke Museum Nasional Jakarta, maka kendatipun hanya duplikat, arca di Taman Ken Dedes Arjosari seakan ‘mewakili’ keberadaannya di Kota Malang, dimana khalayak bisa mengamati dan mempelajari ikonografi Parjanaparamita sebagai arca perwujudan Ken Dedes; (3) lokasinya yang bertetangga dengan Kelurahan Polowijen – menurut susastra gancaran Pararaton, Ken Dedes putri Pu Purwa lahir dan dibesarkan di Panawijen, maka keberadaannya dapat direlasikan dengan studi arkeologi-sejarah berkenaan dengan perjalanan hidup Ken Dedes; (4) walaupun arca buatan (artifiasial) kekinian, namun patung ini telah dibuat pada tahun 1980-an (1980-1981) – semasa Wali Kota “Ebes ” Soegiono, sehingga kini telah mecapai usia sekitar tiga dasawarsa, dan menjadi petanda khusus bagi taman kota di Arjosari tersebut.

02

Sesuai dengan butir-butir urgensi itu, masyarakat Malangraya, khususnya Kota Malang, memiliki perhatian bahkan kepedulian terhadap arca ini. Oleh karena itu dapat difahami ketika khalayak menilai adanya ‘salah’ penanganan terhadapnya, maka timbullah reaksi luas. Seperti ketika DKP merevitalisasi Taman Ken Dedes, dengan antara lain mengecat arca duplikatif Ken Dedes dengan warna putih ‘memplak’, dengan menyatakan arca duplikatif yang ‘menyerupai Dewi Kwan Im’, atau ‘Ken Dedes yang pucat-pasi, mirip kuntilanak’, atau perkataan lain yang lebih ‘sarkasme’. Sebenarnya, revitalisasi taman menjadi jauh lebih baik, lebih terawat, lebih tampil artistik pada malam hari apabila dibanding waktu sebelumnya – yang terkesan sebagai taman kota kurang terawat dan gulita ketika waktu malam. Padahal, lokasinya strategis, yakni pada ‘mulut’ Kota Malang, sehingga menjadi ‘kesan pertama’, bahkan ‘citra pertamanan’ Kota Malang. Sayang sekali, ibarat ‘nila setitik rusak susu sebelanga’, kesalahan dalam pengecatan terhadap arca duplitif Ken Dedes, maka dikesankan niatan baik dan sunguh-sungguh dari DKP untuk merevitalisasikan Taman Ken Dedes menjadi tak bermakna. Sungguh, sayang di sayang.

  1. Lantaran Kekurangfahaman Ikonografi Arca Perwujudan Ken Dedes

03

Arca duplikatif-artifiasial di Taman Ken Dedes adalah arca perwujudan tokoh sejarah, yaitu Ken Dedes. Oleh karena itu, bentuk arca (ikonografi) diupayakan ‘sedekat mungkin’ dengan arca perwujudan Dewi Prajnaparamita, yakni Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi menurut pantheon Mahayana Buddhisme, yang konon diketemukan di Candi Putri pada Desa Pagentan Kec. Singosari Kab. Malang. Kendati tidak persis sama hingga ke tingkat detailnya, namun dirasa ‘cukup’ untuk secara duplikatif menghadirkannya di Malang. Keberadaan di taman kota pada ‘mulut’ Kota Malang pada wilayah Kelurahan Arjosari bukan saja kontributif untuk memperindah taman kota, namun seakan menjadi ‘ikon Malang’ dan dapat dijadikan sebagai ‘media ajar budaya’ terkait dengan kesejarahan Malangraya dan Nusantara. Oleh sebab itu, di kalangan warga Malang ada semacam keinginan untuk menampilkan arca duplikatif ini serupa dengan arca aslinya dalam ‘ukuran yang jauh lebih besar’ – jika dibuat dengan ukuran ‘real size’, maka akan ‘tenggelam’ atau menjadi tak segera tampak pandang di areal taman yang amat luas. Keserupaan yang diharapkan juga adalah hal warna arca. Sebenarnya, arca itu telah beberapa kali mengalami pengubahan pewarnaan, yaitu: (a) mula-mula diberi warna hitam-keabuan menyerupakan warna batu kali (andesit), kemudian (b) coklat-kekuningemasan menyerupakan warna perunggu atau tembaga, dan (c) terakhir warna putih ‘memplak’ – entah menyerupakan apa. Sebenarnya, ketiga pewarnaan itu seluruhnya salah warna. Namun, tidak tahu pasti latarnya, pewarnaannya yang terakhir mengundang polemik, bahkan reaksi luas. Bisa jadi, antara lain lantaran kian maraknya penggunaan media-sosial (medsos), dan bukan disebabkan ‘plintiran politis’, namun pengharapan tulus akan kebenaran warnanya. Pada sekitar setahun terakhir, perihal ‘Ken Dedes yang berwarna pucat pasi, bahkan menyerupai kuntilanak ’ atau ada yang menyatakan “Ken Dedes yang menyerupai warna Dewi Kwan Im’, mewarnai polemik hangat di medsos maupun dalam diskusi-diskusi di Kota Malang. Kini, tibalah saatnya ‘kekurangtepatan dalam pewarnaan arca duplikatif Ken Dedes’ itu dilebihtepatkan. Bagaimana caranya?

Ketidaktepatan pewarnaan arca dulikatif Ken Dedes hingga tiga kali itu nampaknya disebabkan pemberi warna tidak mengetahui atau tidak penah melihat secara langsung arca asli perwujudan Ken Dedes. Padahal, arca itu kini dapat dilihat di Museum Nasional Jakarta, pada ruang khusus bersama benda-benda koleksi dari logam mulai di Lantai II Gedung Utama. Atau setidaknya, fotonya bisa diperiksa di internet dan buku-buku dengan cetak fotografis standart. Kata kunci untuk pewarnaan secara tepat adalah ‘dari bahan apa arca tersebut dibuat?”. Tidak sebagaimana kebanyakan arca dewata Masa Hindu-Buddha yang dibuat dari batu andesit untuk arca ukuran besar atau dari bahan perunggu ataupun logam mulia untuk arca ukuran kecil, arca perwujudan Ken Dedes asal Candi Putri itu dibuat dari batu kapur (lime stone) keras, yang bukan tidak mungkin bahan dasarnya ditambang di areal pengunungan kapur setempat, yaitu Peg. Kapur (Kendeng) Selatan di Kab. Malang. Sebagaimana diketahui, di sejumlah tempat pada areal Kendeng Selatan Malang terdapat batuan kapur keras yang bagus untuk bahan pembuatan kriya batu. Diantaranya adalah di Bantur dan sekitarnya. Boleh jadi, bahan dasarnya konon ditambang dari daerah itu, Bukan hanya arca perwujudan Ken Dedes koleksi Museum Nasional asal Candi Putri yang dibuat dari bahan ini. Kini, di halaman Candi Singhasari masih kedapatan sebuah arca Prajanaparimita dalam kondisi agak aus, namun masih jelas sebagian detailnya, yang juga terbuat dari bahan serupa dengan arca tersebut.

Bertolak dari ‘pemahaman terhadap warna batuan’ tersebut, dapat diplih warna cat yang mendekati warna itu, dengan terlebih dulu melakukan uji pengecatan hingga didapatkan warna terpilih. Solusi demikian kiranya dapat menyelesiakan polemik berkepanjangan mengenai warna arca duplikatif Ken Dedes pada Taman Kota pada lembah selatan Kali Mewek di Arjosari. Silahkan mengujiterapkan warna yang lebih tepat dengan warna arca asli Ken Dedes. Semoga membuahkan hasil dan dapat meredakan polemik.

  1. Penataan dan Revitalisasi Sub-areal Taman Sekitar

Senyampang membicarakan mengenai Taman Ken Dedes di sekitar mulut Kota Malang sisi utara, ada baiknya dibicarakan pula sub-sub area di sekitar pertamanan kota ini, yang dikelompokkan dalam :

(1) taman kota di lembah Kali Mewek di seberang timur jalan dengan luas area sekitar 800 m², dan

(2) taman kota pembelah jalan.

Pada taman kota di lembah Kali Mewek terdapat tiga sub-area, yaitu:

(a) bagian tengah, padamana terdapat arca duplikatif Ken Dedes, selanjutnya disebut ‘sub-taman Ken Dedes’,

(b) bagian utara, padamana terdapat patung rekaan Pejuang Kemerdekaan, serta

(c) bagian selatan, yang merupakan Ruang Terbuka Hijau – dengan sejumlah tanaman keras yang terbilang rimbun.

Sejauh ini penanganan lebih terfokus kepada bagian tengah, seperti tergambar pada:

(a) penataan tanaman hias pengisi halaman taman;

(b) pengecatan dan pencahayaan terhadap patung duplikatif Ken Dedes pada malam hari; dan

(c) penambahan beberapa motif hias topeng (mask) dengan tujuh karakter lengkap dengan jamang tinggi seperti pilar tegak berujung lengkung melancip setinggi 5 meter, yang mendapat pencahayaan bagus pada malam hari.

 04

Gambaran demikian kontras dengan kondisi sub-taman bagian utara, yang terkesan kurang optimal dalam penanganannya. Adapun indikatornya antara lain :

(a) patung pejuang tidak dilakukan pengecatan ulang – padahal, catnya telah kusam,

(b) tanaman-tanaman keras sekitarnya terbilang rimbun dan tidak dilengkapi dengan tanaman hias pada halaman taman, serta

(c) kurang pencahayaan pada malam hari.

Bila kedua sub-taman ini ditangani secara menyeluruh, tentulah diperoleh areal taman yang asri, luas dan terintegrasi sejak pinggir Kali Mewek. Dengan demikian tidak terkesan ‘mban cinde mban siladan (penangan lebih pada salah satu sub-taman, atau pilih kasih)’. Kedua monumen ini sama pentingnya, mengingat Malang juga menyandang predikat ‘Kota Kejuangan’, tidak terkecuali pada Periode Mempertahankan Kemerdekaan RI.

Sub-taman di bagian selatan terbilang luas, membujur utara-selatan sepanjang koridor jalan. Areal ini tampil menyerupai ‘RTH (Ruang Terbuka Hijau)’, dengan tanaman-tanaman keras yang telah cukup rimbun, sehingga dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, penyerap dan penyimpan air hujan. Yang perlu untuk dikelola lebih lanjut adalah aspek artistik dan fungsionalnya, termasuk pencahayaan pada malam hari. Kedepan, Taman Kota di Arjosari perlu untuk diarahkan menjadi ‘ruang publik (public space)’ bagi sub-kawasan Malang Utara, yang sejauh ini belum banyak dimilikinya, padahal permukiman di sub-kawasan ini kian padat.

05

Sub-taman lain, yang walau tidak begitu luas, namun perlu mendapatkan sentuhan adalah ‘pembelah jalan’, antara ujung utara fly over dan jembatan Kali Mewek. Monumen yang telah ada pada penghujung utara pembelah jalan perlu di-redesain, atau malahan digantikan dengan monumen yang lebih monumental dalam hal ukuran, kebermaknaan dan kemenarikan bentuknya. Dengan pertimbangan: (a) Malangraya, termasuk di dalamnya Kota Malang, sebagai basis seni pertunjukan wayang topeng berlakon Panji; dan (b) jasa Mbah Reni dari Polowijen, yakni tetangga kelurahan Arjosari, yang pada permulaan abad XX membidani lahirnya dalang-dalang topeng di penjuru Malangraya, maka layak menjadikan ‘Topeng Malang’ sebagai tema pengisi taman. Monumen besar-artistik berbentuk sepasang penari topeng – dengan tokoh peran: Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji – dapat dipertimbangkan sebagai monumen pengganti terhadap monumen yang ada. Adapun monumen yang telah ada direlokasikan ke sub-taman yang lain. Berderet ke arah selatan di belakang monumen sepasang penari topeng tersebut dipajang figur-figur penari topeng tunggal – atau cukup topeng (maks)-nya saja, yang menggambarkan tokoh-tokoh peran utama dalam wayang topeng Malang berlakon Panji. Monumen-monumen yang berada di ‘mulut; Kota Malang ini dapat diposisikan sebagai ‘Monumen Selamat Datang’.

C. Taman Kota Alon-Alon Bunder

  1. Acuan Penanganan Taman Kota Alon-alon Bunder

06 

Berlainan dengan Taman Kota di Arjosari, secara kultural Taman Kota pada Alon-Alon Bunder berada di kawasan heritage (pusaka) kategori ‘pusaka saujana (integrasi pusaka budaya dan pusaka alam)’. Selain itu, Alon-Alon Bunder merupakan salah satu sub-area yang diposisikan ‘Ikon atau Landmark’ bagi Kota Malang. Oleh karena itu, penanganannya perlu dilakukan dengan lebih hati- hati, dengan sedapat mungkin mempertahankan kelestariannya. Berangkat dari kesadaran itu, penanganan terhadapnya dilaksanakan dengan mengacu butir-butir sebagai berikut :

(a) keaslian bentuk produk budaya material buatan (artefaktual), dengan menelisik sejarah pembentukan lintas waktu,

(b) naturalistik unsur pertamanan non-material, seperti tanaman, air dan tanah, serta

(c) pemberian fungsi yang relevan.

Dengan acuan demikian, maka penanganan terhadapnya sesuai dengan statusnya sebagai ‘taman pusaka (heritage park)’. Kesalahan dalam penanganan, bisa menyebabkan rusaknya bahkan hilangnya sebagian atau seluruh unsur-unsur heritage-nya. Hal ini berarti mengingkari penetapan Kota Malang sebagai salah satu dalam jaringan Kota-Kota Pusaka (Heritage Cities) di Indonesia. Kota Malang dalam predikatnya sebagai bagian integral dari jaringan ‘Kota-Kota Pusaka’ di Indonesia, penanganan yang dilakukan terhadap Alon-Alon Bunder oleh karenanya mendapat pantauan, bukan saja oleh warga Kota Malang dan Malangraya melainkan juga dari para pengamat di penjuru Indonesia, sehingga perlu dilakukan dengan seksama dan mengidahkan kaidah-kaidah kecagarbudayaan.

  1. Kilas Sejarah Alon-Alon Bunder

07

Awal keberadaan Alon-Alon Bunder berada dalam konteks Rancangan Pengembangan (Bouwplan) Kotapraja (Gemeente) Malang tahap ke-2 yang dirancangkan oleh arsitek Thomas Karsten. Bouwplan ke-2 diputuskan tanggal 26 April 1922, dan dikenal dengan ‘Gouvernuer-Generaalbuurt’. Namun, pembangunan baru dapat direalisasikan pada tahun 1922 (Handinoto & Soehargo, 1996:66). Areal terbangunan dinamai ‘Gouverneeur Generaalbuurt – selanjutnya disingkat ‘GG Buurt’, padamana jalan-jalan maupun taman kota yang dikembangkan mendapat unsur nama yang diambil dari nama-nama G.G, VOC. Salah seorang diantaranya adalah Jaan Pieterzoen Coen (21 Mei 1619-31 Januari 1623 dan 30 September 1627-21 September 1629), yang juga dikenal sebagai pendiri Batavia.

Salah sebuah komponen terbangun adalah taman kota berbentuk bundar, yang nantinya di depan Balai Kota Malang. Sebutan terhadapnya adalah ‘Taman Jaan Pieterzoen Coen, yang acap disingkat dan disebut dengan ‘J.P Coen Plein’. Lantaran bangunannya berbangun bundar itulah, maka tanah lapang di pusat kota, yang oleh masyarakat Jawa lazim dinamai ‘alon-alon’ lantas mendapat sebutan ‘Alon-Alon Bunder’ — suatu sebutan yang mendasarkan pada bentuk bangunnya, guna membedakan dengan alon-alon yang berbangun kotak’ di Jl. Merdeka Kota Malang. Alon-Alon Bunder adalah salah satu landmark, bahkan menjadi ‘ikon area’, bagi Kota Malang. Jadi, bukanlah taman kota yang biasa, melainkan diberi makna istimewa.

08

Bangunan awalnya berupa suatu tanah lapang dengan bangun bundar (bunder) lengkap dengan kolam air mancur yang juga berbangun bundar di titik sentrumnya. Ketika memperingati Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1946, ada inisiatif untuk mendirikan tugu inspiratif kejuangan di bagian tengah Taman Jaan Pieterzoen Coen (Alun-alun Bunder). Rencana pembangunan ditandangani Presiden Ir. Soekarno dan A.G. Suroto. Pada bagian tengah Alon-Alon Bunder dibangun pedestal bagi Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI.

09

Ketika Belanda menguasai ulang Kota Malang pada Era Perang Kemerdekaan mulai 22 Juli 1947 lewat ‘Agresi Militer I’, pada tanggal 23 Desember 1948 monumen yang kala itu proses pembangunannya baru mencapai 95 % dihancurkan oleh militer Belanda, dengan alasan kesal terhadap kegigihan arek-arek Malang dalam mempertahankan wilayahnya ketika agresi tersebut. Pasca Perang Kemerdekaan RI, pada tahun 1953 Monumen Tugu yang telah runtuh tersebut dibangun kembali oleh Pemerintah Kota Malang, dengan menghadirkan ‘Tugu Perjuangan Kemerdekaan’ beserta kolam bundar, yang disemai dengan hamparan teratai. Peresmian purnabangun diadakan pada tanggal 20 Mei 1953 oleh Paduka Jang Mulia (PJM) Ir. Seoekarno, yang diberi nama ‘Tugu Nasional’. Terhitung sejak tanggal 14 Juli 1970, Tugu Alon-Alon Bunder dijadikan ‘Lambang Kota Malang’ sebagai pengganti terhadap lambang kota terdahulu yang berbentuk Garuda (Basundoro, 2006:223).

10

Alun-Alun Tugu dibuat dengan memperhatikan beberapa hal. Monumen Tugu Perjuangan yang berada di tengah melambangkan tata cosmik (formula 4+1. yakni axis dan empat penjuru mata angin) atau pusat untuk kelima penjuru arah. Selain arah utama yang menuju ke Gedung Balai Kota, keempat arah lainnya mewakili jalan-jalan yang bertitik pusat pada alun-alun ini. Puncak monumen yang berbentuk bambu tajam yang melambangkan bambu runcing sebagai senjata yang digunakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan RI. Terdapat juga rantai yang menggambarkan persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia, yang tidak dapat dipisahkan oleh penjajah.

11

Makna lainnya tergambarkan pada : (a) tangga yang membentuk 4 (empat) dan 5 (lima) sudut melambangkan tahun kemerdekaan RI, yaitu 45 – lengkapnya tahun 1945, (b) bintang memiliki 8 (delapan) tingkat (undak) dan 17 (tujuh belas) sudut, yang melambangkan tanggal dan bulan kemerdekaan RI, yaitu tanggal 17 Agustus. Dengan demikian, kombinasi simbol angka-angka itu melambangkan tanggal, bulan, dan tahun kemerdekaan RI, yaitu 17 Agustus 1945. Sementara itu, bunga teratai yang berwarna merah dan putih dalam kolam budar sekeliling Tugu melambangkan keberanian dan kesucian, sesuai dengan warna bendera Indonesia.

Pada pedestal budar terdapat gambar: (a) banteng, yang melambangkan warga Malang siap bertarung guna mempertahankan kemerdekaan RI; (b) tepak tangan, melambangkan sikap tangan ‘abhaya’, yang menghentikan penjajahan yang dilancarkan Belanda; (c) peta Indonesia, menggambarkan wilayah RI; (d) Soekarno-Hatta, untuk mengabadikan peran keduanya sebagai ‘founding father’ bagi Kemerdekaan RI; dan (e) teks Proklamasi Kemerdekaam RI. Jelas bahwa pesan-pesan kejuangan menjadi tema sentral dalam penggambaran ini.

12

Konsep taman kota ini adalah ‘taman terbuka (open space park)’, dalam arti tidak dilengkapi dengan pagar keliling permanen di sisi luar. Begitu pula, tak disertai dengan pagar keliling seputar kolam bundar. Dengan demikian, jika kini terdapat pagar sisi luar dan pagar seputar kolam bundar, terang bahwa unsur arsitektural ini merupakan penambahan di waktu yang lebih kemudian (tahun 1980-an dan 1990-an) dengan pertimbangan tertentu di luar konsepnya semula sebagai ‘taman terbuka’. Pada Masa Hindia-Belanda, bentang tanah di dalam areal taman dilengkapi dengan hamparan rumput dan tanaman hias dari tanaman asli. Untuk penerangan pada malam hari, maka Alon-Alon Bunder pun dilengkapi dengan lampu-lampu taman. Sebagaimana gonta-ganti pada tanaman hiasnya, lampu taman pun digonta-gantikan. Yang paling akhir berupa kembang lampu dari plastik warna-wani yang mencolok mata dan ‘sama sekali tidak selaras (maatching)’ dengan hamparan tanaman hias yang dominan, serta lampu sorot yang berwarna-wani pula ke arah kolam serta tugu. Bahkan, pernah pula Tugu Perjuangan beserta pedestal berundaknya diberi lampu seri, namun kemudian dibongkar lagi. Air kolam tak luput dari reka kreatif, dengan ‘dimainkan’ menjadi pancuran air. Bahkan untuk menampilkan ‘spektakularitas’, pada saat-saat tertentu dihembusakan dray ice. Demikianlah, diperoleh gambaran bahwa dari waktu ke waktu Alon-Alon Bunder mengalami pengemasan ulang (redesign). Seakan, tiap-tiap era Wali Kota dimunculkan wajah baru Alon-Alon Bunder.

  1. Penataan Ulang Taman Alon-Alon Bunder

13

Gambaran mengenai konsep, penataan dan bentuk Alon-Alon Bunder sebagaimana dipaparkan di atas dapat dijadikan rujukan untuk ‘mengembalikan ke keaslian’-nya sebagaimana prinsip penanganan terhadap Kawasan Cagar Budaya – dalam hal ini berupa ‘Taman Pusaka’. Jika beranjak dari kebijakan demikian maka ada dua konsekuensi logis yang ‘mau tidak mau’ musti dilakukan, yaitu: (a) walau sayang, musti membongkar pagar sisi luar dan pagar seputar kolam untuk kembali kepada konsep ‘taman terbuka’, dan (b) meniadakan bunga-bunga lampu dari bahan plastik dengan warna mencolok untuk mengembalikan kepada konsep ‘naturalistik’ tanam. Kendati tugu ditengah teras bundar baru dibangun pada tahun1952, namun mempertimbangkan urgensi pada makna simboliknya terkait dengan Perjuangan Kemerdekaan RI maupun usianya yang telah lebih dari 50 tahun – indikator untuk usia ‘Cagar Budaya’, maka tidak perlu dianulir.

Peniadaan bunga-bunga lampu dari bahan plastik tentu bukan merupakan hal yang sulit dilakukan dan karenanya tak perlu untuk ‘ngotot dipertahankan’. Barang berharga mahal ini bukan berarti tak berguna lagi, sebab masih bisa dan berguna ditempatkan di taman-taman lain yang tak berkategori ‘taman pusaka’. Yang perlu untuk dipertimbangkan secara matang adalah peniadaan dua lapis pagar tersebut, mengingat bahwa hingga sejauh ini unsur masyarakat pengguna taman belum seluruhnya memiliki kesadaran internal untuk memelihara taman. Solusinya adalah dengan: (a) menggantikan pagar artifisial-material permanen itu dengan pagar tanaman hias (pagar hidup), (b) menambah jumlah petugas taman, dan (c) memperingatkan serta penyadaran warga pengguna taman dengan beragam media baik secara tertulis, auditif maupun visual sebagai ikhtiar edukasi-ekologis. Semoga upaya solutif itu membuahkan hasil, yaitu keaslian Taman Alon-Alon Bunder dapat dilestarikan dan keterpeliharaannya dapat diwujudkan.

D. P e n u t u p

Demikianlah tulisan singkat ini, dengan maksud penyajikan panduan diskusi untuk forum FGD (Focus Group Discusion) yang diselanggarakan pada tanggal 16 Nopember 2016. Masukan untuk mematangkan secara teknis dari apa yang penulis sampaikan tersebut amat diharapkan dari para peserta FGD. Semoga tradisi ‘silaturrohim’ antara DKP dengan warga Kota Malang melalui forum semacam ini dapat lebih ditradisikan kedepan, sehingga resistensi maupun penentangan kritis dari para peduli Kota Malang dapat diminimalkan. Semoga pula upaya baik dari DKP untuk menata taman-taman kota di Kota Malang tidak justru tergelincir menjadi ‘blunder’ lantaran tersumbatnya aliran komunikasi antara keduanya.

14

Yang perlu pula untuk direncanakan adalah bagaimana memfungsikan taman-taman kota yang telah direvitalisasikan tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Salah sebuah bentuk isian yang penulis ancangkan pada tahun depan (2017) adalah menghelat ‘Festival Taman Kota’, yang berisikan kegiatan: (a) pentas seni-budaya, (b) saresehan, dan (b) jelah situs sekitar taman kota. Kegiatan ini direncanakan untuk dilaksanakan secara bergilir pada taman-taman di penjuru Kota Malang dengan agenda waktu yang terprogram. Kami merencakan bermitra dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta DKP sesuai tugas dan perannya. Semoga dinas terkait maupun warga Kota Malang menyambut untuk turut mendukungnya.
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk memaparkan pokok-pokok pikiran lewat tulisan ringkas ini. Semoga bakal membuahkan makna. Salam eko-budaya, ‘Malangjayati’. Nuwun.

Sengkaling, 8 Nopember 2016


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.