Sumonggo hadiri WORKSHOP
Kamis, 17 Nopember 2016 Pk. 08.00-selesai
di Balai Meeting BLH Tulungagung

DINAMIKA SEJARAH KALI NGROWO,
MELINTAS AREA MELINTAS MASA

15095578_1470303299649789_1409404738619202177_n

Oleh: M. Dwi Cahyono

“Ngrowo” adalah sebutan arkhais untuk ekologi dan pemerintahan lama yang mulai akhir abad ke-19 Masehi hingga kini dinamai “Tulungagung”. Sebagai toponimi untuk suatu daerah, nama “Rawa” dapat dijumpai dalam Kakawin Nagarakretagama untuk menyebut suatu area padamana Kuti Sanggraha (kini “Candi Sanggrahan”) berada, yaitu sub-area selatan Tulungagung. Nama Rawa atau varian sebutannya “Ngrowo” lantas digunakan untuk menamai salah satu Kadipaten dan Katumenggungan di wilayah Tulungagung — selain Kalangbret.

Nama ini sesuai dengan karakter ekologis dari sebagian wilayah Tulungagung masa lalu — khususnya di sub-wilayah selatan, yang berupa rawa-rawa purba. Nama itu pula yang digunakan untuk kali yang melintas kota hingga bermuara di Bangawan Brantas, yaitu “Kali Rawa” atau “Kali Ngrowo”, yang merupakan sungai purba. Suatu sebutan yang ironisnya kini tidak banyak dikenali oleh generasi muda Tulungagung itu sendiri.

Kali inilah yang dalam kurun waktu panjang memberi berkah, dan sebaliknya mendatangkan bencana banjir tahunan. Banjir sebagai dampak luapan air Kali Ngrowo — lantaran meningkatnya debit air di areal Rawa-Rawa Purba — baru berakhir pada medio 1980an, ketika berhasil dibangun Saluran Loda-agung dan Pematusan (Terowongan) Niyama II menembus Pegunungan Kapur Selatan guna mengalirkan air rawa ke Samodra Indonesia. Pada masa sebelumnya, Pemerintah Hindia-Belanda merintis pembangunan Dam Cluwok dan Sumber Gayam untuk mengendalikan glontoran air dari sungai-sungai yang berada di Trenggalek ke Rawa-Rawa Purba. Berikutnya, Pemerintah Pendudukan Jepang membangun Trowongan Niyama I, yang meski untuk membuatnya menelan banyak korban jiwa.

Momentum pada medio 1980an itu berhasil mengakhiri sebutan “Kota Banjir” bagi Tulungagung, yang sebelumnya menjadi daerah langganan banjir masif setiap tahun, yang antara lain dilatari oleh air bah Kali Ngrowo. Oleh karena itu, Kali Ngrowo dapat dibilang sebagai “kali yang menyejarah” di daerah ini, dalam arti turut mengukir sejarah panjangnya. Konon Kali Ngrowo mengkontribusi beragam fungsi, sehingga cukup alasan untuk menyertakannya sebagai pernah memiliki peran penting.

Pasca medio 1980an Kali Ngrowo terkesan kehilangan fungsi dan peran, termasuk ancaman tahunannya. Kini Kali Ngowo hanya menyerupai “selokan amat besar” melintas kota, yang sebagian butir kontribusi lamnya banyak yang telah hilang. Nah, PR kita sekarang adalah merevitalisasi butir-butir fungsinya yang masih ada dan menambahkan fungsi-fungsi baru yang relevan dengan kondisi maupun kebutuhan sekarang dan mendatang.

Semoga Workshop yang bakal digelar oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tulungagung bekerjasama dengan LSP Mangkubumi itu menemukan ide-ide kreatif dan konstruktif untuk memberdayakan Kali Ngrowo ke depan, sembari melestarikan keberadaannya sebagai batang air yang terkendali.

Salam budaya, “Ngrowojayati”.
Nuwun.

PATENBAYAN CITRALEKHA,
15 Nopember 2016


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.