TANAMAN ENDEMIK


A. Hari Pohon dalam Kerangka Hari Lingkungan

Kian lama jumlah ‘hari tematis’ yang diperingati secara periodik sebagai agenda tahunan semakin banyak. Mulanya peringatan hari tematis cenderung sebatas pada hari-hari besar keagamaan; hari-hari pahlawan; dan momentum hari penting bagi daerah, nasional maupun internasional.

Dalam perkembanganya terus bertambah jumlahnya, dengan memperingati hari-hari tematis lainnya. Salah sebuah diantaranya adalah tema ‘hari lingkungan’. Sejauh ini terdapat tidak kurang dari 25 hari-hari lingkungan, baik nasional ataupun internasional, yang setiap tahun diperingati di Indonesia. Dua diantaranya berkenaan dengan pohon, dengan sebutan ‘Hari Pohon (21 Nopember)’ dan ‘Hari Penamaman Pohon (Jumat terakhir di bulan April)’. Amat boleh jadi jumlahnya bakal terus bertambah, mengingat bahwa unsur-unsur lingkungan jauh lebih banyak daripada sekedar 25 hari lingkungan yang telah dan tengah diperingati itu.

Malah, saking banyaknya, bisa jadi kelak setiap hari ada hari peringatan untuk beragam unsur lingkungan. Terhadap yang hari-hari lingkungan ada, lebih khusus lagi dua hari lingkungan yang berkenaan dengan pohon, timbul pertanyaan ‘apa makna peringatan hari pohon’ dan ‘apa yang tepat untuk dilakukan dalam memperingatinya’?

Tanggal 21 Nopember diperingati sebagai ‘Hari Pohon’ se-dunia untuk menghormati jasa Julius Sterling Morton (April 22, 1832 – April 27, 1902), editor Surat Kabar Nebraska sekaligus Presiden ‘Grover Clevelend/s Secretary of Agriculture’. Mroton adalah seorang pecinta alam dari Amerika, yang sangat gigih mengampanyekan gerakan menanam pohon. Mula alasannya sederhana, yakni berharap adanya pohon untuk berteduh, pemecah angin, dan fungsi-fungsi pohon lainnya. Orang mulai menyetujui ajakan Morton untuk peduli pada pohon. Ramai-ramai muncul opini dan kebijakan untuk menanam dan merawat pohon.

Sesungguhnya, jauh sebelum Morton, Asoka penguasa Kekaisaran Gupta (273-232 SM) yang taat menganut Mahayana Buddhisme pada pasca Perang Kalingga memerintahkan menanam tanaman obat, akar-akaran atau buah tertentu yang tak ditemukan di suatu daerah. Dititahkan supaya tumbuhan-tumbuhan tersebut diimpor dan ditanam di sepanjang jalan demi manfaat bagi manusia dan hewan. Penanaman dalam skala yang lebih terbatas juga diberitakan dalam Prasasti Kanjuruhan (935 M), mengenai anugerah Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpah berupa sebidang sawah kepada Sang Bulul untuk ditanami bunga-bungaan. Tindakan bijak serupa itu tersirat dalam perintah Airlangga untuk menanam tujuh pohon beringin (waringin sapta) guna memperkuat tanggul (tamwak) Bangwan Porong sebagaimana diberitakan dalam Prasasti Kamalagyan (1037 M.). Teladan ini dijejaki oleh daerah-daerah lain di sepanjang DAS Brantas, sebagaimana tergambar pada toponimi-toponimi yang bersinonim arti dengan ‘Waringinsapta’, seperti Ringin Pitu, Waringin Tijuh, dsb.

Kini dampak pemanasan global bagi bumi tak dapat dibiarkan begitu saja. Terlebih dengan semakin banyaknya hutan yang digunduli akibat penebangan pohon secara liar. Padahal fungsi pohon sangat penting untuk menyerap CO2, maupun gas beracun lainnya di udara. Selain itu keberadaan pohon mampu menghasilkan oksigen (O2), yang merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk di Bumi. Tujuan peringatan ‘Hari Pohon’ adalah mengingatkan manusia akan pentingnya pohon bagi kehidupan makhluk hidup untuk memerangi pemanasan global, mencegah banjir, tanah longsor, tempat hidup fauna (burung) dan membuat iklim mikro yang baik.

B. Pohon Bermakna dan Memaknai Urgensi Pohon

Salah satu unsur lingkungan kategori ‘lingkungan hayati’ adalah pohon. Kaitan erat pohon dengan pemenuhan kebutuhan pangan bagi eksistensi manusia dan binatang, menjadikan sejumlah tanaman pangan sedemikian dihormati, bahkan dipersonifikasi sebagai dewata. Dewi Sri di Jawa dan Bali atau varian sebutannya di Tatar Sunda sebagai ‘Ni Pohaji Sang Hyang Sri’ adalah contoh representatif mengenai pementingan padi-padian di dalam ritus keagamaan. Pohon tertentu, misalnya bambu (awi, pring, rosan, ), pada sejumlah etnik Nusantara dimitologikan sebagai muasal dari cikal-bakal sesukunya. Tak terkecuali tentunya urgensi pohon beringing (ingin= kalpa, pohon keinginan= kalpataru, kalpawreksa atau kalpadruma), yang juga dimaknai sebagai pohon kehidupan dan sekaligus pohon keabadian.

Bukan hanya di Indonesia yang memiliki pohon-pohon tertentu yang dikeramatkan dan memperoleh makna penting, namun juga pada berbagai tempat di dunia. Diantaranya ada enam pohon yang disebut-sebut sebagai pohon bersejarah, yang menjadi saksi sejarah umat manusia, yaitu: (1) pohon Kalayan di Filipina, (2) pohon Sahabi di Yordania, (3) pohon Jaya Sri Maha Bodhi di Srilangka, (4) Caesarsboom di Belgia, (5) pohon Chankiri di Kamboja, dan (6) Chena Chapelle di Perancis. Ada juga pohon mitologis, yang dalam sejarah agama pada awal keberadaan manusia diposisikan ‘dilematis’, yakni pohon Kuldi.

Adapun dalam religi Hindu atau Buddhis terdapat pohon teratai, yang dimakna sebagai tanaman suci, bahkan dalam mitologi Hindu teratai merah merekah (padma) dimitekan serbagai muasal dari cosmik, sebagaimana tergambar dalam kosep ‘padmamula’. Sebenarnya, bukan hanya pohon atau tanaman-tanaman itu saja yang penting bagi kehidupan manusia, makhluk hidup lain maupun ekosistem, melainkan seluruh pepohonan atau tanaman. Tidaklah berlebihan karenanya untuk mengatakan bahwa pohon memberi keberkahan (waranugraha) kepada manusia. Sebaliknya, pohon/tanaman bisa juga mendatangkan petaka, apabila tidak bijak dalam mengelolanya.

Bagi manusia Jawa, pohon (taru, wreksa, druma, wit) acap dihubungkan dengan awal mula dan pertumbuhan makhluk hidup. Kata ‘wit’ atau kata jadian (awit) maupun kata ulangnya (wi-wit) digunakan untuk menunjuk hal ‘mengawali’, termasuk dalam hal memulai masa tanam, seperti tergambar dalam tradisi ‘wiwit’. Gerakan ‘Indonesia Menanam’ ketika ‘Hari Menanam Pohon’ dengan demikian memiliki akar sejarah panjang, yang dicerminkan oleh tradisi wiwit tersebut.

Kata ‘wiwitan’ ataupun ‘kawitan’ juga dihubungkan dengan konsep ‘mula (permulaan)’, baik mula dalan kaitan dengan silisilah atau pertumbuhan suatu daerah. Di tatar Sunda misalnya, generasi awal dari etnik Sunda disebut dengan ‘Sunda Wiwitan’. Begitu pula, kampung lama di Banyuwangi, yakni Kampung Tumenggungan, yang merupakan titik mula pemerintahan di daerah ini juga dinamai ‘Kampung Kawitan’. Bahkan, tokoh legendaris yang menjadi pejuang dan sekaligus cikal-bakal warga Banyuwangi mengambil nama ‘Sayu Wiwit’.

Erat hubungan antara pohon dan silsilah maupun pohon dan sejarah. Hal ini tergambar pada istilah ‘stamboom (boom = pohon)’ dalam Bahasa Belanda untuk menyebut silsilah. Adapun kata ‘Sajaratun’ dalam Bahasa Arab sama arti dengan ‘sejarah; dalam Bahasa Indonesia. Demikianlah, pohon yang memiliki perjalanan panjang sepanjang perjalanan sejarah kehidupan ini dapat dibilang ‘menyejarah’, sehingga kajian mengenai ‘sejarah pohon’ merupakan hal penting dalam studi khusus pada Ilmu Sejarah. Pada sisi lain, terdapat pohon-pohon tertentu yang mempunyai relasi erat dengan sejarah suatu tempat, sehingga nama dari pohon itu dijadikan nama desa atau kampung. Oleh karena itu, telaah toponimis terhadap desa-desa/dusun-dusun tertentu yang memiliki unusr toponimis ‘pohon’ menyibakan gambaran lama mengenai adanya tanaman tertentu yang endemik di daerah bersangkutan, meski tak jarang pada masa sekarang pohon tersebut telah langka atau bahkan tak lagi didapati di tempat itu. .

C. Revitalisasi Tanaman Endemik

  1. Batasan Istilah ‘Endemik’ dan ‘Asli’

Sebagai daerah tropis dengan tanah yang subur dan curah hujan tinggi, Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang terbilang tinggi. Diantara tanaman-tanaman yang sangat banyak tersebut, terdapat sejumlah tanaman yang masuk dalam kategori ‘tanaman endemik’. Secara harafiah, kata ‘endemis’ berarti secara tetap terdapat di tempat-tempat atau di kalangan orang orang tertentu dan terbatas pada diri mereka saja (KBBI, 2002:301). Sesungguhnya, kategori endemik tak hanya berlaku untuk kesehatan – khususnya penyakit, namun berlaku pula pada ekologi. Endemisme di dalam ekologi merupakan gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik di satu lokasi geografi tertentu seperti pulau, lungkang (niche), negara ataupun zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan ‘endemik’, suatu organisme harus diketemukan hanya di suatu tempat dan tidak didapati di tempat lain. Dalam hal tanaman endemik, sebutan ini menunjuk kepada tumbuhan yang hanya ada pada suatu wilayah atau daerah tertentu saja dan tidak ditemukan wilayah lain. Daerah atau wilayah itu bisa mencakup pulau, negara atau tempat tertentu.

Selain istilah ‘endemik’ dalam kaitan dengan spesies, terdapat dua istilah lainnya, yaitu spesies asli (native species) dan spesies introduksi (introduced species), yang masing-masing berbeda, namun sering orang dibingungkan oleh pengertiannya. Spesies asli atau disebut juga dengan ‘indigenous’ adalah spesies-spesies yang menjadi penduduk suatu wilayah atau pada ekosistem secara alami tanpa campur tangan manusia. Kehadiran spesies ini, baik tanaman (flora) maupun binatang (fauna) melalui proses alami, tanpa intervensi manusia. Spesies endemik menunjuk kepada gejala alami sebuah biota untuk menjadi unik di suatu wilayah geografi tertentu. Sebuah spesies bisa disebut ‘endemik’ apabila merupakan spesies asli yang hanya ditemukan di tempat tertentu dan tak ditemukan di wilayah (pulau, negara atau zona) lain. Adapun spesies introduksi merupakan spesies yang berkembang di luar habitat (wilayah) aslinya akibat campur tangan manusia, baik disengaja ataupun tidak.

Spesies endemik dengan demikian merupakan salah sebuah spesies yang habitatnya terbatas, yaitu hanya terdapat di daerah tertentu. Baik menunjuk pada binatang, tanaman, jamur, atau bahkan mikroorganisme. Spesies kategori ‘endemik’ tersebut berlainan dengan dari “pribumi” atau “asli”. Apa yang disebut terakhir, meskipun terjadi secara alami di daerah, namun juga ditemukan di daerah lain. Keduanya adalah spesies yang terbilang penting di suatu wilayah.

  1. Urgensi Tanaman Endemik

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, endemik merupakan sebuah kata yang dipakai untuk menandai dan memberi nama fauna atau flora yang hanya dapat diketemukan di suatu tempat, dan tidak ditemukan di tempat lain. Mengapa hal ini dapat terjadi? Beberapa ahli menyatakan bahwa hal ini bisa terjadi akibat isolasi geografis. Dalam keterisolasianya itu, flora dan fauna tersebut menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berevolusi mengikuti keadaan lingkungan setempat. Oleh karena spesies endemik bersifat khas, yang didapatkan hanya di suatu wilayah saja, maka flora dan fauna endemik biasanya menjadi simbol dari wilayah tersebut. Selain itu spesies endemik sering terancam punah, sehingga acap dijadikan titik fokus untuk kampanye melindungi keanekaragaman hayati dalam suatu lingkungan tertentu, sehingga terpelihara dan terjaga eksistensinya. Upaya serupa tentu penting pula dilakukan terhadap spesies asli. Perlu untuk disadari bahwa suatu wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi tidak senantiasa merupakan daerah dengan tingkat endemisme tinggi, meski kemungkinan untuk dihuni oleh organisme endemik menjadi meningkat.

Pembalakan liar, kebakaran hutan dan pengembangan pemukiman secara langsung atau tidak langsung menjadi faktor-faktor yang melatari berkurang bahkan punahnya tanaman endemik dan asli. Tak jarang tanaman endemik dan asli itu kini hanya tersimpan dalam cerita masa lalu atau terkadang terabadikan pada nama tempat atau toponimi (kampung, dusun/dukuh, desa atau daerah). Dalam hal terakhir, toponimi dapat digunakan untuk menelisik tanaman tertentu apa yang konon pernah hidup dominan di suatu tempat, meski bisa jadi pada masa sekarang tidak lagi didapati di tempat bersangkutan. Untunglah bahwa tidak sedikit tempat-tempat yang diberi nama menurut nama dari tanaman asli, unik, dan tumbuh dominan di tempat tersebut. Lantaran perubahan ekologis, bolehlah tanamannya tidak lagi riil ada di suatu tempat, namun namanya masih dikenal hingga sekarang bahkan mendatang.

Dikatakan ‘asli’, karena tanaman itu tumbuh dengan sendirinya di tempat itu. Adapun dibilang ‘unik’, lantaran bentuknya, fungsinya, atau makna yang dilekatkan padanya khas untuk daerah itu, sehingga tidak atau kurang didapati di daerah-daerah lain. Sedangkan dikemukakan sebagai ‘dominan’, sebab waktu dulu atau bisa jadi hingga kini banyak tumbuh di suatu tempat, seperti tergambar dalam toponimi ‘Nyudenta atau Ampeldenta/Ampelgading (kelapa berwarna kuning gading), Blimbing atau Balimbiang, Walikukun, Joho, Andeng, Glintung, dsb’. Terkadang pula, tanaman itu memiliki bentuk, posisi, jumlah atau pernah mengalami peristiwa tertentu, sehingga atas itu melekat kuat di dalam memori publik dan dijadikan landmark baginya, misalnya pada toponimi ‘Poh Rubuh (mangga roboh), Waru Doyong (pohon waru yang tumbuh condong), Sawojajar (pohon sawo yang tumbuh berjajar), Waringinpitu atau Ringinsapta (pohon beringin berjumlah tujuh yang ditanam untuk keperluan tertentu), — dalam Prasasti Kamalagyan (1037 M) ditanam atas peritah Airlangga untuk memperkuat tanggul (tamwak) pada bangawan, dsb.

Tanaman-tananam itu, bagi warga masyarakat di suatu tempat dan pada suatu masa diposisikan sebagai tanaman yang penting (urgent), baik karena: (a) kemanfaatannya, (b) fungsinya sebagai petanda (landmark), (c) banyak diminati, ataupun lantaran makna khusus yang dikandungkan. Demikian pentingnya, maka tanaman itu diperlakukan istimewa, seperti: (a) tidak boleh rusak atau ditebang, (b) disakralkan, (c) sengaja ditanam di tempat khusus, berkenaan dengan makna simboliknya – misalnya, ringin kurung (simbol pohon beringin atau kalpataru/kalpawreksa/ kalpadruma dalam pagar melingkar) pada titik sentrum alun-alun sebagai replika cosmos, atau (d) ada pula yang secara khusus ditanam untuk menandai status sosial seseorang/ keluarga – sawo kecik konon hanya boleh ditanam kalangan bangsawan Jawa. Bahkan, pada etnik tradisional terdapat suatu keyakinan tentang hewan atau tanaman tertentu yang diyakini sebagai ‘totem’-nya.

  1. Siratan Informasi pada Toponimi Berunsur Nama Tumbuhan

Tidak jarang nama tanaman memberi petunjuk bahwa asalnya dari daerah lain atau bahkan dari mancanegara. Misalnya nama tanaman hias ‘kembojo atau semboja (kamboja)’ dan ‘cempoko (campaka)’ bisa jadi tanaman yang konon istimewa ini daerah asalnya dari Indocina, yaitu dari Kamboja dan Champa di Vietnam, yang masuk ke Nusantara berkat hubungan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan kerajaan di negeri-negeri jiran. Demikian pula, tanaman jambu dersono, yang konon menjadi jenis pohon jambu yang hanya boleh ditanam oleh kelas sosial menengah ke atas. Tanaman ini juga berasal dari India, mengingat bahawa nama arkhais dari India adalah ‘Jambudwipa’. Selain itu, dalam kosmologi Hindu ataupun Buddhis dikisahkan bahwa pada cosmic axis (pusat jagad raya) terdapat Gunung Meru (sebutan untuk ‘Himalaya), yang menjulang tinggi di Jambudwipa – diberi unsur nama ‘jambu’, sebab di pulau (dwipa) ini banyak tumbuh tanaman jambu darsana.

Memang, tidak semua toponimi itu menyebut nama tanaman secara eksplisit seperti pada nama “Duwet atau Nduwet, Ngasem, Jeruklegi, Ringinanom, Pringsewu, dsn.’, namun cukup sering nama itu dibungkus dengan imbuhan (afix: awalan, akhiran, sisipan,), penyengauan, penasalan, perulangan (repetitif), bahkan penggeseran pelafalan. Misalnya, toponimi ‘Kesemben’ berasal dari ‘Kausambyan’, yakni nama suatu daerah di India. Kata dasarnya adalah ‘sambi’, sebagai nama pohon. Boleh jadi, pohon sambi berasal dari India, yang kemudian menyebar ke beberapa tempat di Nusantara, sehingga dapat difahami jika ada desa-desa yang mempunyai unsur nama ‘sambi’, seperti ‘Sambirobyong, Sambidoplang, Sambikerep, dsb,’. Kadang pula, unsur nama tanaman itu ditempatkan di belakang kata ‘lok’ atau ‘lowok’ yang menunjuk pada sumber air, seperti toponimi ‘Lokandeng, Loksuruh, Lokdowo, Lowok Waru, Lowokjati, dsb.’. Toponimi ini memiliki keserupaan dangan ‘Kedungwaru, Kedungdoro, Kedungmonggo, Kedungasem, Kedungcangkring, dsb.’. Pada toponimi terakhir diperoleh gambaran mengenai arti penting air bagi tumbuhan, atau kecenderungan bagi tanaman untuk tumbuh di sekitar perairan.

Demikianlah, studi toponimis memberi kita informasi ekologis berharga, tak terkecuali perihal tanaman endemik, setidaknya tanaman asli dan tanaman introduksi. Untuk kepentingan masa sekarang, nama suatu tempat/daerah yang mengandung unsur nama ‘tumbuhan’ memberi kita pentunjuk mengenai tanaman-tanaman tertentu yang konon pernah ada bahkan pernah membiak disana. Menjadi lebih berharga lagi manakala tanaman itu telah tidak terdapat di tempat/daerah bersangkutan. Gambaran mengenai pencaharian hidup dalam sektor agraris bisa juga diperoleh dari studi toponimis demikian. Misalnya, walau kini suatu daerah merupakan perkotaan – tanpa adanya sawah dan ladang, namun dengan didapati toponimi yang berkenaan dengan tanaman agraris, maka bisa diinterpretasikan bahwa agraris konon menjadi pencaharian utama warga. Misalnya, di Kota Metropolitan Jakarta masih terdapat kampung atau kelurahan dengan nama ‘Kebon Jeruk, Kebon Nanas, Kebon Kacang, Kebon Duren, Kebon Salak, dsb,’, yang kini tak satupun tanaman itu terdapat disana. Dalam kurun waktu panjang, tanaman jeruk, nanas, salak, durian dan kacang dibudidayakan oleh para peladang di Sundakelapa atau Batavia, yang baru pasca kemerdekaan tanaman itu berangsur-angsur menghilang seiring dengan berakhirnya mata pencaharian agraris warganya.

Memang, tidak mudah untuk dapat melacak ulang ‘kandungan unsur tanaman dalam toponimi’ di kota-kota besar. Bisa jadi nama-nama kuno itu kini telah tidak lagi dipergunakan. Atau jika masih ada, tinggal menjadi nama kampung atau nama lingkungan. Minimal, tersimpan dalam memori sebagian kecil warga berusia tua. Oleh karena itu, senyampang beberapa nama masih tersimpan hingga kini, maka studi toponimis perlu disegerakan. Bukan hanya aspek ekologis yang berupa tanaman yang terekam di dalamnnya. Unsur-unsur ekologi fisis alamiah, seperti rawa, sungai, posisi garis pantai, pulau kecil pada areal sub-marine, dsb. bukan tidak mungkin tersirat di dalam toponimi-toponimi itu. Ada baiknya, sebelum benar-benar dilupa, toponimi arkhais (lama) tersebut diabadikan dengan terus dipakai atau setidaknya dituliskan pada papan petunjuk nama suatu gang, nama jalan, nama RW, nama lingkungan, nama kampung dsb.

  1. Revitalisasi Tanaman Endemik sebagai Konservasi Ekologi

Kemarin (Minggu, 20 Nopember 2016, sehari menjelang “Hari Pohon se-Dunia’), Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM) mengadakan aksi lingkungan dengan menanam tiga puluhan pohon katu di areal bukit yang sejak dulu bernama ‘Gunung (Rabut) Katu’. Nama ini adalah toponimi arkhais, karena diberitakan dalam kitab gancaran Pararaton. Bahkan, hingga satu dasawarsa lalu di puncak bukit ini masih terdapat pohon katu raksasa, yang tampak dari kejauhan – tampak jelas hingga di jalan poros Malang-Kepanjen. Pohon yang menurut Pararaton ukurannya bisa sebesar pohon beringin itu menjadi landmark bagi Bukit Katu. Dengan perkataann lain, pohon katu itu merupakan tanaman endemik, setidaknya tanaman asli di bukit ini. Sekaligus tanaman yang menyejarah. Namun ironinya, pohon katu raksasa itu semenjak satu dasarwarsa lalu telah dipotong, dan di lereng hingga puncak Bukit Katu nyaris tidak terdapat lagi pohon katu.

02

03

04

05

Aksi para peduli budaya yang dimitrai oleh Karang Taruna setempat, Perhutani, insan pers dan para relawan lain itu seolah menghenyakkan kita dari kealpaan untuk menaruh perhatian pada tanaman-tanaman tertentu kategori ‘tanaman endemik’. Apa yang dilakukannya itu merupakan upaya rintisan, yang semogalah dapat dijejaki di tempat lain untuk tanaman endemik lainnya. Manfaat yang terkadung di dalamnya bukan hanya manfaat ekologis, namun sekaligus menjadi pengingat historis mengenai wit katu, manfaat komponen-komponen pohon katu, maupun upaya mempertahankan eksistensinya. Marilah ke depan meski hanya beberapa pohon, tempat/daerah yang memiliki unsur nama pohon ditanami dengan tanaman yang sesuai dengan namanya itu. Upaya rintisan semacam itu juga telah dirintis oleh warga Kampung Kedung Jalin dengan menanan pohon walikukun pada Bukit Walikukun di Tulungagung, Komunitas Ecotone yang menanam pohon beringin di wilayah Desa Wringinanom, dsb. Bahkan, Warga Kampung Glintung seban hari menanam, meski hanya dilakukan pada vas, polybag atau dirambatkan pada gagang sempit kampungnya yang berada di tengah Kota Malang.

D. P e n u t u p

Semoga jejak para pionir tersebut untuk merevitalisi tanaman-tananam endemik ataupun tanaman asli (indigenou trees atau native trees) tersebut menginspirasi warga lain daerah untuk berbuat serupa. Demikian pula, semoga teladan raja Asoka yang telah merevitalisasi tanaman obat dan akar-akaran serta menanam pohon peneduh di sepanjang jalan, upaya Pu Bulul dengan membudidayakan tanaman bunga, upaya raja Airlangga untuk memperkokoh tanggul (tamwak) bangawan dengan menanam tujuh pohon beringin, terlebih gerakan menanam yang diprakarsai oleh Julius Sterling Morton menjadi teladan bijak bagi kita untuk menanam, merawat, melestari serta memanfaatkan secara bijak pepohonan di lingkungan internal kita.

Selamat ‘Hari Pohon’ tahun 2016.
‘Berilah hidup’ bagi pepohonan, sebagaimana kita memberi kehidupan untuk diri sendiri. Semoga tulisan bersahaja ini membuahkan faedah. Nuwun.

06

Sengkaling, 21 Nopember 2016.
PATEMBAYAN CITRALEKHA


Like it? Share with your friends!