Orasi Sejarah-Kampung

KHASANAH BUDAYA LAMA KAMPUNG ARCA

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

Sebagaimana namamu, yakni “Kampung Arca”,
terang bahwa kau adalah kampung arkhais,
yang ketika Masa Hindu-Buddha pernah
dijadikan ajang sosial-budaya.
Temuan arca dan reruntuhan candi di persawahanmu menjadi saksi akan religiusitas wargamu.
Wajar bila tempat dan perangkat upacara itu
kedapatan di lembah barat Gunung Hyang,
karena konon dikonsepsikan sebagai “gunung suci”.
Memang, areal antara Gunung Hyang-Pantura Jawa
adalah wilayah peradaban lama, lintas masa,
yang terbilang maju pada tiap jamannya.

Kakawin Nagarakretagama (1365 M) beritakan
kunjungan Hayam Wuruk beserta rombongan
ke daerah-daerah penting di antara Paiton-Pajarakan-Tiris
Dilintasi desa-desa kuno Binor, Wawaru (kini aeal PLTU), Kutugan, Kebwan Ageng, dan Kambangrawi menuju ke Pajarakan.
Beberapa lama singgah di Kalayu, padamana terdapat Bajrajinaparamitapura (kini candi Buddhis di Jabung), pendharman bagi Bhra Gundal kerabat raja,
tepat ketika berlangsung ritus mamegatsigi.

Demikian pula kota-benteng di Pajarakan,
yang konon menjadi pertahanan kokoh Nambi,
tak alpa untuk dihampirinya.
Tempat terpencil Mandala Sagara dan Kabuyutan Kalyasem, bahkan bisa jadi Candi Kedaton pun turut diziarahi dalam tour de inspection-nya.
Kala itu, Kampung “kuno” Arca di Desa Bago Kecamatan Besuk berada diantara tempat-tempat penting ini.

Sebagai daerah di eks gunung api purba Argopuro,
Kampung Arca hadirkan areal pertanian subur,
ditunjang pasokan irigasi berlimpah asal Kali Pancaralagas.
Padi, jagung, palawijs dan tebu tumbuh membiak,
Atas pertimbangan itu, seorang partikelir Belanda dirikan pabrik gula di Baqo, yang sayang kini tinggal bekasnya,
Demikianlah, dalam lintas masa,
semenjak Masa Hindu-Buddha,
Masa Kolonial bahkan hingga kini
Kampung Arca tampil sebagai desa pertanian utama.
Temuan sejumlah batu besar tanpa ditarah dan berlobang di sisi atasnya, yang tiada lain adalah lumpang-lumpang batu lama tradisi megalitik,
menjadi pembukti sosio-ekonomimu sebagai petani, menjadi petanda tentang budaya agrarismu,

Setelah delapan abad pasca Masa Majapahit,
alih masa memberimu banyak perubahan.
Kini sebagian arcanya telah raib,
sisa candi terkubur jerangan dan selepan padi,
justru ketika riset seksama belum sempat dilakukan.
Lantaran ketidaktahuanmu, maka
jejak peradaban moyangmu sirna dari memori publik
Semestinya, kebaruan tidak disertai dengan
peniadaan bukti-bukti sejarahmu sendiri.

Lewat “Festival Kampung Bago” perdana (2026) ini,
semoga kesadaran sejarah bisa dibukakan,
sikap dan tindakan bijak lestarikan alam dan sosio-budaya lokal mampu dibenihkan, dan
revitalisasi seni-budaya kampung bakal tergalakan.
Marilah dolor, khasanah budayamu yang pernah ada dan kini masih tersisa bersama
kita lestarikan
kita kembangkan, dan
kita dayagunakan.
Semoga membuahkan makna.
“Bagojayati”, rahayu.

Malang-Probolinggo, 26 Nop. 2016
PATEMBAYAN CITRALEKHA.

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.